Actions

Work Header

one night stand

Summary:

hubungannya yang berantakan membuat Zhongli merasa frustasi, berencana untuk melupakannya yang berakhir dengan Zhongli bermalam bersama bosnya.

Work Text:

genshin impact by mihoyo

.

.

.

 

 

"Sudah aku bilang Azhdaha itu tukang selingkuh, kenapa sih kau selalu memafkannya terus-terusan?"

Ucapan Ningguang masih teriang-iang ditelinganya walaupun Ningguang meninggalkannya satu jam yang lalu.

Menatap gelas minumannya dengan sayu, Zhongli kembali memutar ulang bagaimana hubungannya dengan Azhdaha berjalan.

Mereka menjalin hubungan hampir tiga tahun lamanya, tapi selama itu pula hubungannya tidak pernah berjalan dengan lancar.

Seperti saat tahun pertama mereka, Zhongli memergoki Azhdaha yang sedang pergi keluar dengan seseorang. Mereka bertengkar hebat, tidak saling menghubungi satu sama lain selama satu minggu, lalu Azhdaha datang ke rumahnya, berlutut dan memohon pada Zhongli agar untuk memaafkannya.

Dan saat itupula dengan gampangnya Zhongli memaafkan Azhdaha.

Yang kedua kalinya adalah ketika Zhongli akan pergi ke sebuah kedai untuk makan siang bersama Hu Tao. 

Mereka berdua sedang makan bersama siang itu, tidak terlihat romantis tapi tetap saja membuat hati Zhongli sakit. Pada dasarnya Zhongli sering menghubungi Azhdaha untuk makan siang bersama tapi Azhdaha selalu menolaknya dengan berbagai alasan.

Dan ketika melihatnya di sini, Zhongli tahu bahwa Azhdaha kembali bermain di belakangnya.

Zhongli tersentak kaget ketika melihat Hu Tao yang berjalan dengan cepat dan saat sampai di meja Azhdaha, Hu Tao langsung menyambar minuman mereka dan langsung menyiramkannya ke atas kepala Azhdaha.

Dan saat itupula mereka bertengkar lagi, tidak ada kata putus dari mereka berdua.

Ketika minggu kedua pertengkatan mereka Azhdaha kembali padanya memohon maaf padanya dan berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.

Dan Zhongli adalah Zhongli. Mereka kembali menjalin hubungan, kembali pada rutinitas biasa sebagai pasangan kekasih.

Dan teman-teman Zhongli yang sudah lelah untuk menasehati Zhongli, mereka membiarkannya saja.

Dan yang ketiga kalinya Azhdaha mengkhinati hubungan mereka adalah, Ningguang yang memergoki Azhdaha yang pergu ke rumah bordil tiga hari yang lalu.

Sebagai sahabat yang baik dan tidak ingin sahabatnya tersakiti Ningguang langsung menghubungi Zhongli untuk datang ke tempat tersebut.

Mereka berdua menunggu Azhdaha keluar dari rumah bordil tersebut, sampai tengah malam tiba akhirnya Azhdaha keluar tidak sendiran tapi dengan seseorang sambil merangkulnya mesra.

Zhongli yang melihat itu langsung bergegas ke arah Azhdaha dan langsung memukulnya di sana. Memukulnya sampai Azhdaha tidak bisa membalas pukulannya. Setelah puas memukulinya Zhongli langsung pergi, menghiraukan teriakan histeris dari seseorang yang Azhdaha bawa.

.
.
.

Zhongli tidak ingat, sudah berapa gelas yang dia minum. Zhongli benar-benar tidak perduli, yang dia perdulikan adalah mencoba untuk melupakan kebodohannya yang terus-terusan memaafkan kesalahan Azhdaha padanya.

Dalam kepalanya kenapa dia tidak pernah mendengarkan ucapan teman-temannya bahwa Azhdaha bukan seseorang yang baik untuknya.

Mengutuki kebodohannya, Zhongli kembali meneguk cairan pahit tersebut.

"Apa aku boleh duduk di sini?" seseorang duduk di sampingnya tanpa menunggu izinnya.

Zhongli menoleh, mendapatka wajah seseorang yang samar-samar dia ingat dalam kepalanya.

"Tentu, dan kau praktis langsung duduk tanpa persetujianku." Pria itu tertawa pelan, membuat Zhongli sedikit terpana oleh suara tawanya.

"Hei, bukankah kau Zhongli dari bagian pemasaran?" Zhongli mengerutkan keningnya. "Banyak pegawaiku yang membicarakanmu. Kau cukup terkenal karena menurut mereka kau tampan dan manis, serta rambut panjang indahmu ini." ucapnya sambil mengelus rambut Zhongli.

"Ah, maaf. Sepertinya kau tidak mengenalku? Mungkin kau tahu 'Childe'? ya itu aku." Zhongli tersentak kaget dan langsung berdiri kemudian membungkukan badannya.

Zhongli tersipu karena rambutnya dibelai oleh atasannya dan malu karena tidak mengetahui bagaimana wajah atasannya, "maaf, pak. Aku tidak terlalu memerhatikan sekitarku."

Childe tertawa dan menepuk bahu Zhongli pelan, "tidak, tidak. Bukan salahmu juga kau tidak terlalu mengenalku. Aku memang jarang terlihat di kantor dan kau selalu di dalam ruangamu dan sibuk sendiri. Mari tidak membicakan pekerjaan, kita tahu bahwa club adalah tempat untuk bersenang-senang."

Zhongli kembali duduk di tempatnya, dan merasa rileks kembali ketika mendengar kata-kata atasannya.

Childe melambaikan tangannya, memanggil bartender yang sedang berjaga, "Diluc," sapanya sambil memberikan tos salam pada seorang sahabat, saat bartender tersebut berada di depannya Childe mengenalkan padanya bahwa Diluc adalah tekan satu kamupusnya dulu dan ini adalah club milik Diluc sendiri.

Zhongli hanya menganggukan kepalanya dan memberikan senyuman untuk memberi salam pada Diluc.

Diluc memberikan satu gelas pada Childe tanpa Childe memberitahukan apa yang ingin Childe pesan.

Mereka berbincang-bincang tanpa menghiraukan Zhongli di sampingnya. Tentu saja, memangnya siapa dirinya, dia hanya seorang bawahannya yang tidak sengaja duduk di samping bosnya.

Melirik jam tangannya dan sudah hampir tengah malam, Zhongli tidak sadar bahwa dia sudah  tiga jam berada di dalam club. Dengan pelan Zhongli berdiri, berniat untuk segera pulang.

Childe menoleh kearahnya dan memberikan tatapan pertanyaan padanya, "sudah larut waktunya untuk pulang." Zhongli menjelaskan yang langsung membuat Childe cemberut pelan.

"Aku baru di sini beberapa menit yang lalu, tidak bisa kah kau tinggal sebentar dan menemaniku untuk minum?"

Zhongli terdiam, mempertimbangkan ajakan atasannya untuk menemaninya minum bersama.

"Aku yang akan membayar semua tagihanmu hari ini, bagaimana?" tawarnya sambil menyodorkan minumannya pada Zhongli.

Lalu Zhongli menganggukan kepalanya, mengiyakan permintaan atasannya untuk minum bersama.

"Lagipula malam masih panjang bukan?"

"Yah, kau benar, malam masih panjang." ucapnya sambil meminum minumannya.

.
.
.

Zhongli mengerang rendah ketika kedua pantatnya diremas dengan kasar oleh kedua tangan hangat milio Childe.

Tubuhnya yang terjepit oleh tembok dan tubuh panas Childe, Zhongli tidak bisa untuk tidak mengerang kenikmatan.

Bibir mereka bertemu dengan tidak sabar, lidah Childe terjulur keluar untuk menjilat lekukan bibir tipis Zhongli yang menurutnya sangat enak.

Zhongli tidak ingat bagaimana mereka berdua bisa sampai di hotel yang mereka tempati sekarang. Yang Zhongli ingqt adalah, Childe yang memaksanya untuk menceritakan masalah padanya, mau tidak mau Zhongli menceritakan semuanya dari awal.

Sesekali Childe mendecakan lidahnya atau menggerutu tentang kelakuan Azhdahan ketika mendengar dari mulut Zhongli.

Lalu gelas demi gelas mereka teguk bersama. Sampai akhirnya mereka berakhir di dalam ruangan yang sama dan saling melahap bibir dengan tidak sabar.

Kedua tangannya masih asik meremas-remas pantat kenyal Zhongli. Matanya tertbuka, melihat bagaimana mata Zhongli yang tertutup seperti menikmati ciuman yang mereka lakukan.

Tanpa sadar penis Childe perlahan tumbuh dan membuat celananya sesak. Lalu tangannya menarik pantat Zhongli kedepan, menabrakan tubuh bagian depan mereka masing-masing.

Mereka berdua mendesah, mengerang, menikmati bagaimana rasa tubuh mereka.

Melepaskan ciumannya, Childe segera menarik Zhongli ke arah kasur. Dengan tergesa Childe mendorong Zhongli hingga terduduk di atas kasur. Mereka saling menatap satu sama lain, mata Zhongli berkabut nafsu yang telah dibangunkan oleh Childe dengan begitu mudahnya.

Childe menjilat bibir bawahnya, menatap pemandangan yang ada di depannya. Bibir Zhongli yang memerah akibat ciuman yang mereka lakukan tadi.

Childe menarik dasi Zhongli, membuat Zhongli tertarik kedepan, wajah mereka sangat dekat, hembusan napas mereka sangat terasa hangat, dan Childe bersumpah dalam jarak dekat seperti ini dia bisa mencium wangi yang menguar dari tubuh Zhongli.

"Kau menbuatku mabuk," gumam Childe pada bibir Zhongli.

Zhongli hanya bisa memejamkan matanya begitu merasakan bibir Childe yang bergerak untuk menciumnya lagi.

Childe mendorong tubuh Zhongli sampai terbaring di atas kasur, tubuhnya dia tahan dengan kedua  lengannya yang mengurung sisi kepala Zhongli.

Melepaskan ciuman menggairahkan mereka, Childe duduk di atas tubuh Zhongli, ibu jarinya mengelus lembut bibir bawah Zhongli yang semakin memerah.

Childe benar-benar kehilangan kendali dirinya hanya karena mereka mengobrol dengan nyaman dan dengan satu kecupan yang Childe berikan pada Zhongli di club.

Dengan napas yang terengah-engah, Childe meredam nafsunya, mencoba untuk memberikan kesempatan pada Zhongli apakah mau dilanjutkan atau dihentikan sampai sini saja.

Dan ketika tubuh Zhongli terangkat untuk menabrakan penisnya, Childe tahu bahwa dia akan melakukannya sampai Zhongli tidak bisa berjalan sampai keeseokan harinya.

Wajah Zhongli sangat manis ketika warna merah yang memenuhi wajahnya, pegawainya tidak salah menilai kalau Zhongli memang sangat manis.

Tanpa sadar Childe merasakan bahwa dia sangat beruntung bisa memiliki Zhongli malam ini.

Dengan tidak sabar, Childe membuka kemejanya setelah selesai Childe juga membantu Zhongli melepaskan kemeja serta celananya. Childe langsung linglung begitu saja ketika seluruh tubuh Zhongli terbuka dan terekspos padanya.

Indah, benar-benar sangat indah. Putih dan mulus, tidak ada satupun noda yang mencemari tubuhnya.

Malu karena ditatap begitu intens oleh Childe, Zhongli langsung mencoba untuk membuat tubuhnya tertutup, tapi Childe langsunh menahannya, mencoba menyakinkan pada Zhongli bahwa tubuhnya sangat indah.

Zhongli melirik ke arah tubuh Childe yang kini berdiri tegak di atas perutnya, itu besar dan panjang, Zhongli yakin bahwa dia akan terasa penuh dan kenyang nantinya. Dan dia bisa merasakan bagaimana kedua bola Childe yang menempel perutnya benar-benar sangat hangat dan membuat Zhongli tersipu.

Childe hanya tertawa pelan ketika melihat lirikan mata Zhongli yang menatap penisnya saat ini.

Dengan tidak sabar Childe langsung memberikan kecupan dan hisapan pada leher Zhongli sebanyak mungkin. Alam bawah sadarnya mengatakan bahwa dia harus benar-benar mengeklaim bahwa Zhongli adalah miliknya dengan cara memberikan tanda cinta sepenuh mungkin pada tubuh Zhongli.

Desahan merdua yang dikeluarkan dari mulut Zhongli membuat Childe semakin keras di bawah sana. Tidak ingin terburu-buru Childe ingin menikmati tubuh Zhongli yang sangat pas pada tubuhnya.

Setelah menghisap Zhongli dengan puas, Childe menegakan tubuhnya, memandang tubuh Zhongli yang berada di bawahnya. Lehernya penuh dengan tanda cinta yang Childe berikan, tidak hanya leher saja tapi sampai di bagian dada Zhongli juga.

"Tidak ada pelumas dan kondom, apa kau mau melakukannya tanpa mereka?" tanya Childe masih sedikit waras.

Zhongli menarik napasnya pelan, "tidak apa-apa lanjutkan saja." ucapnya dengan penis yang berkedut karena nafsu menyerangnya.

Dengan pelan Childe turun dari tubuh Zhongli, menatap penis Zhongli yang memerah dan mengeluarkan percum pada puncak penisnya, dengan iseng Childe menundukan kepalanya dan menjilat percum tersebut yang membuat Zhongli mendesah. Childe hanya tertawa pelan dengan apa yang dia lakukan pafa Zhongli.

Menurukan tubuhnya sampai di bawah kasur, Childe berjongkok di hadapan kaki Zhongli yang sedikit terbuka, lalu tangannya mengangkat kaki Zhongli, memamerkan lubang hangat yang akan Childe masuki nanti.

Childe memajukan wajahnya, mengecup dan menghisap seluruh paha Zhongli sampai memerah, sampai pada lubang kecil milik Zhongli yang nantinya akan memuaskan Childe.

Menjilat dan memberikan air liurnya pada lubang Zhongli agar mempermuda penisnya untuk masuk kedalam. Childe yakin tanpa adanya pelumas Zhongli akan merasakan sakit ketika penisnya mencobanya untuk masuk. Tapi sudah sangat jauh seperti ini, mereka tidak akan mengehntikannya hanya karena tidak adanya pelumas.

Childe menegakan tubuhnya, mendorong Zhongli sampai di tengah kasur, Childe duduk bersimpuh, mengangkat kaki Zhongli dan meletakannya di atas bahunya.

Mengusap penisnya dengan pelan, mencoba untuk melapiri penisnya dengan cairan percumnya.

"Karena aku tidak sabar, jadi aku tidak melakukan peregangan pada lubang ketatmu itu." Zhongli memerah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Childe.

"Sayang, kau semakin membuatku bernafsu ketika kau memerah seperti itu." Childe memajukan tubuhnya, mengeluskan ujung penisnya pada pintu lubang Zhongli.

Mereka berdua saling mendesah, Zhongli yang merasakan penis basah Childe dan Childe merasakan panasnya lubang Zhongli.

Dengan perlahan Childe memaksakan penisnya masuk, tangan Zhongli langsung mencengkram kedua tangan Childe yang meremas pinggangnya.

Kepala Zhongli menggeleng merasakan kepala penis Childe yang baru masuk sedikit.

"Tahan, sayang." Childe menggerutu merasakan bagaimana ketatnya lubang Zhongli.

Dengan satu dorongan keras akhirnya penis Childe masuk sepenuhnya,  membuat Zhongli berteriak kesakitan.

"Fuck!" gumamnya dengan mata tertutup menikmati hangatnya Zhongli pada penisnya.

Zhongli merintih kesakitan ketika bagaimana lubang pantatnya yang sekarang terasa penuh oleh penis Childe. Mereka berdua diam, Childe memberikan waktu untuk Zhongli yang beradaptasi dengan penisnya.

Childe melihat air mata di sudut mata Zhongli, tangannya terulur untuk mengusapnya. "sssh, apa kau ingin menghentikannya?" tanya Childe dan Zhongli menggelengkan kepalanya.

Matanya menatap lurus mata Childe, "kau bisa bergerak sekarang."

Setelah mendapatkan izin dari Zhongli, Childe langsung bergerak. Yang awalnya hanya gerakan pelan, lama kelamaan menjadi sangat intens dan cepat.

Kamar yang mereka tempati penuh dengan desahan-desahan serak yang dikeluarkan oleh Zhongli. Childe benar-benar mengguncang tubuh Zhongli dengan sangat kasar.

Zhongli lebih dulu keluar lalu di susul Childe lima menit kemudian. Seperti tidak merasa lelah, Childe membalikan tubuh Zhongli menjadi tengkurap, menarik pinggul Zhongli dan membuat pantat Zhongli mengudara dan menghadapnya. Penisnya yang masih tertanam penuh dalam lubang pantat Zhongli semakin membuat Childe panas dan keras di dalam sana.

Sekali lagi Childe mengguncang tubuh Zhongli dengan kasar.

Hingga Childe kehilangan hitungannya dan entah berbagai macam gaya yang dia lakukan, sampai suata Zhongli serah karena terus menerus mendesah, Childe masih bergerak dengan cepat dan kasar.

Tubuh Zhongli membuatnya candu dan tidak bisa membuatnya berhenti sampai sekarang.

memejamkan matanya dengan erat, Childe melepaskan pelepasannya dengan keras, cairannya kembali masuk ke dalam tubuh Zhongli yang meluber keluar karena tidak tertampung lagi karena lubang Zhongli benar-benar sudah penuh dengan cairannya.

Mata Childe terbuka, menatap langsung tubuh Zhongli yang benar-benar pasrah di bawahnya.

Pemandangan yang sangat indah, tubuh yang tadinya putih mulus kini dipenuhi oleh bercak kemerahan tanda cinta yang Childe berikan, pinggangnya memar karena Childe mencengkarmnya dengan erat ketika dia bergerak dengan kasar dan menabrakan tubuh mereka berdua, perut Zhongli yang berceceran sperma Zhongli sendiri dan kemudian lubang pantatnya yang becek karena semburan sperma Childe yang terus menerus.

Satu kata yang ada di dalam kepala Childe, Zhongli seperti korban pemerkosaan.

Merebahkan tubuhnya di samping Zhongli, Childe mengatur napasnya yang terengah-engah. Childe rasanya ingin bergegas tidur tapi melihat Zhongli yang berantakan seperti itu membuatnya tidak tega.

Dengan perlahan Childe bangun dari kasur, bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air serta handuk.

Childe mulai membersihkan seluruh tubuhnya dengan pelan dan lembut. Napas Zhongli sudah kembali tenang dan tertidur dengan sangat kelelahan.

Setelah dirasa semuanya bersih, Childe kembali bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sendiri.

Childe naik ke atas kasur, merebahkan diri lalu menyampingkan tubuhnya dan merengkuh tubuh Zhongli yang kelelahan karena ulahnya.

Tanpa menunggu waktu lama Childe tertidur dengan memeluk tubuh Zhongli dengan erat.

 

 

-end-