Actions

Work Header

Because of horror stories, my camping experience is different from usual

Summary:

Hari ini merupakan hari terakhir Aether dan Lumine di sekolah sebelum liburan musim panas tiba, sekolah memutuskan untuk mengadakan camping selama semalam di sekolah.

Dimulai dari rumor yang beredar mengenai hantu kamar mandi wanita di lantai satu, membuat Lumine dan teman-temannya tidak berani mendekat kesana.

Hingga Lumine yang harus memaksa Aether menemaninya kesana. Ternyata bukanlah pengalaman seram dan hantu wanita yang ia temui, justru Lumine menemukan pengalaman lain yang mendebarkan.

Work Text:

Pagi itu Aether dan Lumine sudah sibuk menyiapkan barang-barang mereka untuk camping. Karena hari ini merupakan hari terakhir mereka di sekolah sebelum liburan musim panas tiba, sekolah memutuskan untuk mengadakan camping selama semalam di sekolah.

"Lumine, jangan sampai lupa membawa jaket. Perkiraan cuaca nanti malam turun hujan loh." Ucap Ibu mereka yang sedang menyajikan sarapan di meja.

"Iya bu. Lihat Lumine bahkan bawa satu set dengan celananya. Sekalian jadi baju tidur." Jawab Lumine sambil memamerkan satu set hoodie dengan celana berwarna merah.

"Tinggal pake kaos sama celana pendek aja dibalik baju sekolah, biar gak ribet gantinya." Timpal Aether sambil mengejek selera fashion adik kembarnya itu.

"Loh? Kakak gak bawa jaket? Kalo kedinginan gimana?" Tanya Lumine yang tidak melihat satu jaket pun di tas Aether.

"Tinggal pake selimut. Gak usah ribet deh, berat tau bawa barang banyak-banyak." Jawab Aether memasukkan selimut coklat ke dalam tas campingnya.

"Sudah, sudah. Ayo sarapan dulu, lihat sudah jam berapa? Kalian nanti terlambat masuk kelas loh." Lerai Ibu mereka yang mengingatkan Aether dan Lumine bahwa mereka masih harus mengikuti pelajaran terakhir di kelas sebelum libur panjang tiba.

Menuruti perkataan ibunya kakak beradik kembar itu langsung duduk di kursi masing-masing.

Usai sarapan Aether dan Lumine bergegas ke sekolah dengan membawa keperluan camping mereka nanti malam. Sesampainya di sekolah mereka menuju kelas masing-masing yang berada di lantai dua.

.
.
.

Saat ini adalah jam istirahat sekolah. Tidak melihat keberadaan teman-temannya Lumine membuka ponselnya dan menanyakan keberadaan Keqing, Ayaka, dan Barbara di grup chat yang mereka buat. Setelah tau bahwa Keqing dan Ayaka sedang berada di ruang osis, sedangkan Barbara berada di kantin membuat Lumine semangat menghabiskan bekal yang dibawakan Noelle. Teman-temannya tidak menghiraukan panggilannya tadi saat Noelle menawarkan bekal yang dibawanya, karena Noelle membawa cukup banyak ia memilih berbagi dengan teman-temannya. Tetapi karena ketiga temannya yang lain tidak berada di kelas, bukankah ini kesempatan Lumine untuk menghabiskan bekal enak buatan Noelle.

Awalnya percakapan berjalan seru saat Keqing yang kesal dengan rapat osis yang menyita waktu istirahatnya dan Lumine yang memamerkan tempat makan kosong di grup chat, tetapi saat Barbara memberi tau tentang rumor yang ia dengar dari Amber membuat suasana menjadi sedikit tegang.

Barbara bilang bahwa di kamar mandi wanita di lantai satu ada penunggunya. Seorang wanita berpakaian putih pernah terlihat sedang mondar-mandir sambil menangis di sekitar kamar mandi itu tahun lalu. Seorang kakak kelas yang kebetulan bertugas keliling pada malam itu yang melihat penampakan itu. Barbara menambahkan kejadian itu tidak hanya terjadi tahun lalu, kata Amber yang berada di sebelah Barbara, petugas sekolah dan teman-teman mereka yang masih berada di sekolah sampai malam hari pernah melihat wanita menangis di sekitar sana.

Keqing yang mencoba berpikir rasional mengatakan bahwa rumor seperti itu tidak sekali dua kali muncul di setiap sekolah, Keqing mencoba menenangkan mereka yang mulai khawatir karena camping malam ini mereka diwajibkan tidur di ruangan yang berada di lantai satu.

Khawatir karena Lumine merupakan tipe orang yang mudah kedinginan sehingga sering bolak-balik kamar mandi membuat Lumine meminta teman-temannya untuk menemaninya nanti saat dia ingin ke kamar mandi.

Jam istirahat berakhir dan jam pelajaran terakhir sebelum liburan musim panas tiba. Lima jam lagi sekolah mereka akan berakhir dan enam jam lagi mereka akan memulai acara camping di sekolah mereka. Kegiatan camping ini merupakan kegiatan wajib bagi murid kelas sebelas sebelum memasuki libur panjang musim panas. Katanya sih untuk membuat kenangan indah bagi para murid sebelum mereka berpisah untuk liburan bersama keluarga masing-masing. Lumine berdoa dalam hati semoga tidak ada kejadian mistis apapun yang menimpanya nanti selama camping, dia tidak ingin liburannya diganggu dengan ingatan tentang kenangan horor yang mungkin akan ia alami.

Lima jam telah berlalu dan sekolah mulai sepi. Murid kelas sepuluh dan dua belas pulang ke rumah mereka masing-masing, sedangkan murid kelas sebelas mulai sibuk membereskan barang yang akan mereka pakai untuk acara camping nanti. Beruntung kelas Lumine mendapatkan jatah untuk tidur di ruang seni yang cukup jauh dari kamar mandi wanita yang dirumorkan.

Setelah selesai membereskan barang-barangnya Lumine bergegas untuk mandi dan berganti pakaian di kamar mandi lantai dua. Walaupun cukup jauh tetapi Lumine tidak ingin mengambil resiko karena langit yang sudah semakin gelap menambah aura seram pada kamar mandi angker itu.

Dengan memakai tanktop hitam yang ditutupi dengan hoodie merah yang ia kancing sampai leher dan celana merah satu set dengan hoodienya, Lumine berjalan menuju lapangan tempat acara utama berlangsung. Lumine dan Keqing yang baru saja mandi mencari keberadaan ketiga temannya yang lain. Ternyata mereka sedang bersama dengan Amber dan Hutao, murid kelas sebelah.

“Benarkah? Sampai dihantui ke kelas?” Terdengar suara Ayaka yang bertanya kepada Hutao saat Lumine dan Keqing sampai di tempat mereka.

“Ada apa? Siapa yang dihantui?” tanya Keqing yang penasaran dengan percakapan kelima gadis itu.

“Keqing, itu…,” Noelle yang ingin menjawab pertanyaan Keqing segera dipotong Hutao yang menarik kedua tangan Keqing sambil menunjukkan wajah seramnya.

“Hantu wanita berpakaian putih di kamar mandi lantai satu akan mendatangimu, huuu~” Hutao yang mencoba menakut-nakuti Keqing segera dipukul oleh Keqing.

“Aduh, iya ampun. Keqing astaga, acara belum mulai masa sudah ada kejadian berdarah disini.” Heboh Hutao yang mencoba menenangkan Keqing yang semakin gemas memukuli Hutao.

“Salah sendiri. Lagipula kalaupun hantu itu ada, kalau kita gak ganggu mereka, mereka juga gak bakal ganggu kita kok.” ucap Keqing sambil menarik kedua pipi Hutao gemas.

“Ih, kata siapa. Itu Kak Itto pernah tuh.” jawab Hutao yang mencoba melepas terkaman Keqing kepada dirinya.

“Halah, itu paling cerita karangan Kak Itto aja. Tau kan Kak Itto kaya gimana kalo udah cerita.” Kali ini Lumine yang menyahuti Hutao, dia tidak ingin mempercayai rumor itu.

“Amber, cepat cerita. Kasih tau Lumine apa yang kamu ceritakan tadi. Keqing, plis stop. Ayakaaa, tolong ini Keqing lagi mode sangar.” Hutao yang semakin heboh, memilih bersembunyi di belakang Ayaka. Rupanya Keqing masih belum puas melampiaskan kekesalannya pada Hutao dan mencoba menggapai Hutao yang terhalang oleh Ayaka yang berada di tengah-tengah.

“Gini Lumine, biar aku ceritakan lagi apa yang Kak Itto pernah bilang ke aku.” Tanpa memperdulikan Hutao dan Keqing, Amber memilih menceritakan kembali cerita Kak Itto yang ia dengar.

“Katanya pas camping tahun lalu, Kak Itto pernah dapat hukuman dari Kak Sara yang waktu itu masih menjabat jadi ketua osis. Kak Itto disuruh mindahin kursi-kursi dari ruangan musik ke gudang dekat kamar mandi itu.” Amber mengulang lagi ceritanya tadi kepada Lumine.

“Terus pas selesai Kak Itto kan mau cuci tangan, nah dia pergi ke kamar mandi wanita itu karena memang sepi dan gak bakal ada yang lihat kalau Kak Itto masuk ke kamar mandi wanita. Eh, pas lagi cuci tangan ada suara perempuan nangis dari salah satu bilik disana. Tau kan ya gimana Kak Itto, dia malah datengin itu suara.” lanjut Amber semakin heboh.

“Terus gimana?” Lumine yang penasaran meminta Amber untuk cepat melanjutkan ceritanya.

“Terus kan didatengin tuh. Eh, pas dibuka pintunya ternyata kosong dong dan suaranya juga hilang gitu aja. Kak Itto mengira kalau itu cewek iseng aja jadi dia kembali lanjutin cuci tangannya. Terusss, tau gak. Pas Kak Itto balik natap kaca di depannya ternyata ada perempuan baju putih di belakangnya.”

“Kak Itto langsung balik badan soalnya yang dia ingat dia sendiri aja di kamar mandi itu. Pas balik ternyata kosong dong, gak ada siapa-siapa disana. Terus Kak Itto balik buat matiin keran kan, eh ternyata di kaca yang muncul bukan wajah Kak Itto, yang muncul wajah perempuan tadi. Terus karena takut Kak Itto langsung kabur. Pas keluar dari kamar mandi Kak Itto dengar suara perempuan nangis yang tadi ia dengar. Terus karena takut Kak Itto milih kembali ke kelasnya.”

“Eh, pas nutup pintu kelas Kak Itto malah dengar suara perempuan dari belakangnya. ‘Kenapa malah kabur?’ Gituuuuuu. Terus karena takut Kak Itto teriak kan, teman-temannya kebangun tuh. Eh, pas dinyalain lampunya ternyata gak ada perempuan satupun di ruangan itu. Gila gak sih? Aduh aku jadi merinding nih.” Amber mengakhiri ceritanya dengan tatapan takut sambil mengusap-usap tangannya.

“Aduh Amber, kok kamu percaya aja sih sama cerita Kak Itto?” tanya Keqing yang ternyata ikut mendengarkan cerita Amber.

“Awalnya aku juga gak percaya, tapi ternyata Kak Kaeya juga dengar suara tangisan perempuan sama suara teriakan Kak Itto pas keliling lewat situ. Karena takut Kak Kaeya juga milih kabur. Kamu tau kan, omongan Kak Kaeya pasti gak pernah bohong.” jawab Amber yang memang mengagumi Kaeya yang merupakan ketua di ekskul yang diikutinya.

“Tuh dengar kan? Jangan keluar malam-malam. Pokoknya kalau ke daerah dekat-dekat situ jangan sendirian aja. Apalagi kalau udah dengar suara wanita, mending tidur aja, gak usah dihiraukan” ucap Hutao yang muncul tiba-tiba di depan Lumine. Sepertinya ia sudah lepas dari cengkraman Keqing.

“Aduh, terus aku kalau mau pipis gimana?” keluh Lumine.

“Ya pipis sekarang aja. Pokoknya kalau udah lewat jam sebelas jangan coba-coba keluar kelas deh.” jawab Hutao.

“Lumine, mau aku temani ke kamar mandi sekarang? Ini masih jam sembilan, nanti selesai acara kita langsung ke kelas aja. Gak usah kemana-mana.” ucap Ayaka mencoba menenangkan Lumine.

“Yaudah deh, ayo.” balas Lumine menggandeng tangan Ayaka dan pergi menuju kamar mandi di lantai dua. Rupanya karena terlalu asik bercerita mereka tidak sadar bahwa acara utama sudah mulai sejak tadi. Tetapi dapat terlihat ada beberapa murid yang lebih memilih menepi dan bercerita sendiri, seperti mereka ini.

Selesai menuntaskan keperluannya Lumine dan Ayaka langsung kembali ke kelas tempat mereka akan tidur malam ini.

Dua jam telah berlalu dan Lumine masih saja belum bisa tidur. Teman-temannya yang lain sudah pulas tertidur dan hanya Lumine yang gelisah karena ia merasa kantung kemihnya sudah kembali penuh dan ia perlu ke kamar mandi lagi.

Melihat Keqing di sebelahnya, Lumine mencoba membangunkan Keqing dengan menggoyang-goyangkan pundaknya. Tetapi bukannya bangun, Keqing justru berbalik dan memunggungi Lumine. Sepertinya Keqing tidak ingin tidurnya diganggu.

Memilih untuk tidak kembali mengganggu Keqing, Lumine mengambil ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada Aether, kakak kembarnya. Sambil berdoa dalam hati semoga Aether belum tidur, Lumine menunggu dengan menatap sekitar kelasnya yang gelap.

“Tring”

Ternyata kakak kembarnya juga belum tidur. Bernapas lega Lumine langsung meminta Aether untuk menemaninya ke kamar mandi untuk kencing. Aether yang kesal karena tidurnya terganggu menolak ajakan Lumine dan memilih mematikan ponsel dan lanjut bergelung di dalam selimut.

Kesal karena kakaknya tidak mau menemaninya, Lumine memberanikan diri keluar kelas dan berjalan mengendap-ngendap menuju kelas Aether yang berjarak tiga ruangan darinya.

“Kak Ae. Kak, psst psst.” bisik Lumine berusaha memanggil Aether dari luar kelas.

Aether yang memang tidur dekat dengan pintu mendengar suara bisikan adiknya itu. Mencoba memastikan bahwa yang memanggilnya memang Lumine, Aether bertanya melalui pesan kepada Lumine.

Setelah mendapat jawaban bahwa adiknyalah yang memanggilnya dengan bermalas-malasan Aether keluar kelas.

“Ada apa sih, Lumi? Ini udah malem loh, ngapain keluyuran di kelasku?” Sampai di hadapan Lumine, Aether justru memborongi Lumine dengan pertanyaan.

“Ih kak, kan udah Lumi bilang kalau Lumi kebelet banget. Temenin ke kamar mandi.” jawab Lumine yang gemas dengan kakak kembarnya yang justru berbalik badan ingin kembali ke kelasnya.

“Eh, mau kemana? Temenin Lumi dulu.” Lumine mencoba menahan Aether yang sudah melangkah kembali memasuki kelasnya.

“Bentar, serak nih. Haus.” jawab Aether yang memang mengambil botol minumnya yang tidak jauh dari pintu kelas. Mencoba membuka tutup botol minumnya, Lumine justru menarik Aether untuk kembali keluar kelas dan berjalan menuju kamar mandi wanita di lantai satu.

“Eh, bentar. Lumi, pelan-pelan. Aku mau minum dulu.” Aether mencoba menahan Lumine, tapi entah kekuatan dari mana Lumine berhasil menyeretnya menjauh dari kelasnya.

“Uuhhh, udah gak tahan tau. Ayo cepetan, keburu aku kencing di celana.” Lumine menambah kekuatan pada tarikannya saat sadar Aether kembali mencoba berhenti untuk membuka botol minumnya.

Setelah keduanya sampai di pintu kamar mandi wanita yang tidak jauh dari kelas Aether, Lumine menghentikan tarikan dan langkahnya. Berhasil lepas dari cengkraman sang adik, Aether buru-buru membuka tutup botol minumnya dan menenggak isinya.

“Kak.” panggil Lumine yang ragu-ragu membuka pintu kamar mandi.

“Em.” jawab Aether singkat yang masih menenggak minumannya.

“Kerasa hawa-hawa dingin gitu gak sih? Aduh kok Lumi jadi merinding ya?” tanya Lumine sambil menatap kakak satu-satunya itu.

“Mau hujan kali, jadi dingin. Tuh lihat gelap banget gini, pasti sebentar lagi hujan turun. Buruan sana pipis.” ucap Aether sambil melihat langit gelap diatasnya.

“Uuhh, gak jadi deh. Lumi gak jadi pipis.” ucap Lumine sambil melangkah mundur dan menjauh dari kamar mandi itu.

“Loh? Tadi katanya udah kebelet. Ayo, aku jaga di luar.” tanya Aether yang heran dengan tingkah adiknya ini.

“Gak jadi deh kak. Lumi takut, ayo pergi aja dari sini. Perasaan Lumi gak enak.” Lumine kembali menarik Aether menjauh dari kamar mandi wanita itu. Merasa sudah cukup jauh Lumine melepas tarikannya dan memilih duduk di salah satu kursi yang ada disana.

“Uuhh.” Keluhan Lumine terdengar oleh sang kakak. Sambil memegangi kedua pahanya, Lumine terlihat seperti sedang menahan sesuatu.

Tidak tega melihat keadaan adik satu-satunya ini, Aether menarik tangan Lumine dan menyuruhnya mengikutinya. Dengan perasaan bingung Lumine mengikuti Aether.

Ternyata kakaknya mengajaknya pergi ke arah berlawanan dari kamar mandi tadi. Masih dengan menggenggam tangannya, Aether rupanya menariknya sampai ke ujung lorong yang sangat jauh dan sepi. Setelah sampai di salah satu ruang kelas kosong di lantai itu, Aether langsung membuka pintu ruang kelas itu.

“Kak Ae? Kita mau ngapain disini?” tanya Lumine yang ditarik Aether untuk masuk.

“Katanya udah kebelet kan? Yaudah pipis disini aja, gak bakal ada yang lihat kok. Ruangan ini paling jauh dan udah lama kosong.” jawab Aether santai sambil menutup pintu kelas dihadapannya.

“Eh? Tapi Lumi udah gak mau pipis kok.” ucap Lumine yang sedikit tersentuh dengan perbuatan kakaknya yang rela menemaninya sampai sejauh ini.

“Lumi, pipis itu gak boleh ditahan-tahan. Daripada jadi penyakit mending kamu keluarin aja. Ini ada air buat basuh nanti.” ucap Aether sambil menunjukkan botol minum yang masih berisi setengah yang sejak tadi dibawanya.

“Tapi kak, Lumi beneran udah gak mau pipis. Lumi udah gak kebelet lagi.” kembali Lumine mencoba mengajak Aether kembali ke kelas mereka semula. Karena rasa takut tadi, Lumine sudah tidak merasa ingin pipis lagi.

“Haah, yaudah aku buat kamu biar pipis. Naik ke atas meja dan tiduran disana.” lelah berdebat dengan adiknya, Aether menyuruh Lumine untuk tiduran di atas salah satu meja. Ia mengelilingi ruang kelas kosong itu untuk mencari sesuatu.

“Kak? Kakak nyari apa?” tanya Lumine yang ternyata hanya duduk di atas meja sambil memperhatikan kakaknya yang mondar-mandir.

“Udah tiduran aja sana.” perintah Aether yang langsung dituruti Lumine. Menemukan beberapa kain di ujung ruangan, Aether memilih dua kain paling bersih dan membawanya.

Meletakkan salah satu kain di bawah Lumine, Aether melepaskan sepatu dan kaos kaki adiknya. Saat Aether mencoba melepaskan celana merah adiknya, Lumine buru-buru menahannya.

“Kak, kakak ngapain? Kenapa celana Lumi dilepas?”

“Lumi, adikku. Mana ada orang waras yang pipis dengan celana masih dia pakai. Nah, sekarang ayo lepas. Gak usah malu, waktu kecil kita pernah mandi bareng.”

Aether kembali mencoba melepas celana merah itu, tapi Lumine masih menahan tangannya dengan wajah memerah. Memang mereka pernah melihat tubuh masing-masing, tapi itu saat mereka masih sangat kecil.

“Lumi, percaya sama kakak.” ucap Aether meyakinkan Lumine. Melihat tatapan kakaknya, Lumine melepaskan tangan Aether dan membiarkan kakak kembarnya itu menarik lepas celana yang ia pakai. Malu menatap kakaknya, Lumine memilih melihat dinding kelas di sebelahnya.

Keadaan Aether tidak jauh berbeda, ia sebenarnya juga cukup gugup dan malu saat membuka celana adik perempuannya itu. Tapi perasaan itu langsung lenyap saat melihat celana dalam hitam yang adiknya pakai. Perasaan gugup dan malu yang semula muncul tergantikan dengan perasaan lain.

Kembali menatap adiknya yang justru mengalihkan pandangan, Aether memegang kedua paha Lumine dan melebarkan kakinya. Siapapun yang melihat pasti akan terkejut jika pemandangan seorang adik perempuan yang hanya berpakaian dalam membuka lebar-lebar kakinya dengan kakak laki-lakinya berada diantara kaki itu.

Kembali membenarkan posisi kain yang ada di bawah Lumine agar berada tepat di bawah bokong bulat adiknya, Aether melanjutkan aksinya. Satu tangannya ia gunakan untuk menahan paha Lumine agar terus terbuka untuknya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menyentuh vagina Lumine yang masih tertutup kain.

“Emmh, nnhh, kak.” Desahan Lumine lolos dari mulut kecilnya saat jari Aether menggesek-gesek vaginanya dari balik celana dalamnya. Berhasil menemukan gundukan kecil dari balik celana dalam Lumine, Aether menekan-nekan klitoris yang semakin membengkak itu.

“Ah, ahh. Kak Ae, Lumi mau pipis.” Perasaan ingin pipis itu kembali muncul dan tanpa menunggu jawaban dari sang kakak, Lumine mengeluarkan air seninya dengan tangan Aether yang masih setia membelainya di bawah sana.

“Hah, hah. Kakak~”

“Lumi, keluarkan semuanya. Keluarkan semua pipismu.” ucap Aether yang semakin liar menyentuh adiknya. Dengan kelima jarinya Aether berusaha membuat Lumine terkencing-kencing.

“Kak, stop. Enhhh, Kak Ae. Ahhh” Lumine kembali mengeluarkan air seninya ditangan Aether. Untung saja kain dibawah Lumine berhasil menampung air seni Lumine, jika tidak lantai kelas ini akan basah.

“Ahnn, Kak. Stophh, kalau enggak Lumi bakal pipis lagi. Auhhh.” Kali ini Lumine memberanikan diri menatap Aether yang justru fokus menjamah bagian tubuh bawah Lumine.

“Keluarin Lumi, keluarin semuanya. Tenang, ada kakak disini.” jawab Aether sambil menatap mata Lumine.

Mendengar itu Lumine kembali mengencingi tangan Aether. Puas karena ia berhasil mengosongkan kandung kemihnya, Lumine tidak sadar Aether sudah menarik lepas celana dalam hitamnya. Kini vagina adiknya terpampang jelas di hadapannya. Tanpa mau berlama-lama, Aether membuka botol minumnya dan menuangkan isinya untuk membasuh Lumine.

Terkejut dengan perasaan dingin dibawahnya, Lumine akhirnya sadar bahwa celana dalam yang tadi menempel di tubuhnya sudah tidak ada dan ia kini setengah telanjang di hadapan sang kakak.

“Kak? Kakak ngapain? Kemana celana dalamku?” Dengan panik Lumine bertanya kepada Aether.

“Kamu gak mau kan kemana-mana masih dengan bau pesing. Ini aku lagi bersihin pipis kamu.” jawab Aether yang tidak peduli dengan wajah panik adiknya.

“Kak, tapi ini salah. Kakak harusnya gak boleh lihat punya Lumi.”

“Lumi, aku kakakmu. Aku pernah lihat punya kamu waktu kecil, jadi gak ada yang salah kalau aku lihat lagi sekarang kan?”

Mendengar jawaban sang kakak, Lumine mencoba untuk lepas dan turun dari meja. Dia pikir ini semua salah. Apa yang kakaknya lakukan sekarang salah. Mereka seharusnya tidak boleh melakukan ini, mereka masih saudara kandung.

Melihat adiknya yang ingin melepaskan diri darinya, Aether menahannya dengan menarik salah satu paha Lumine. Membuang botol ditangannya dan mengambil kain bersih yang lain, Aether lanjut mengeringkan pantat Lumine.

Lumine masih berusaha melepaskan diri dari genggaman kakaknya, dia tidak ingin sampai menendang kakak tersayangnya itu.

Merasa tubuh Lumine sudah kering Aether membuang kain ditangan dan dibawah bokong Lumine ke sembarang arah. Dengan kedua tangan besarnya Aether memegang kedua paha mulus Lumine dan menariknya mendekat.

“KAK, LEPAS.” Mencoba melepaskan diri dari genggaman sang kakak, Lumine berusaha meronta dengan menggoyang-goyangnya tubuhnya ke kanan dan ke kiri.

Tidak tahan, Aether memasukkan jari telunjuknya ke lubang vagina Lumine.

“Ekhh, kak. Lepasin Lumi. Itu apa yang kakak masukin?” Lumine menatap horor saat Aether menambah jari tengahnya dan mulai bergerak maju mundur. Merasakan kedua jari Aether yang memompa tubuhnya membuat Lumine bergerak gelisah. Ini harus segera dihentikan, Lumine tidak ingin mereka berbuat lebih jauh lagi.

Berhasil menemukan klitoris Lumine lagi, Aether menyentil klitoris itu dan menekan-nekannya. Perlakuan Aether justru membuat Lumine berteriak dan tubuhnya bergetar hebat.

Merasakan cairan Lumine yang keluar dari lubang vaginanya semakin mempermudah gerakan jarinya, Aether semakin mempercepat gerakan kedua jarinya sambil mencoba melebarkan lubang vagina Lumine.

“Akh, akh. Kak, Kak Ae.” Teriakan Lumine semakin terdengar keras dengan lubang vaginanya juga yang mulai semakin menyempit. Sepertinya adiknya ini akan orgasme sebentar lagi. Tanpa membuang-buang waktu Aether semakin mempercepat gerakan jarinya, tangan satunya ia gunakan untuk menjepit klitoris Lumine. Sepertinya Lumine tidak sadar bahwa ia tidak lagi memberontak dan justru membuka lebar kakinya untuk Aether.

“Akh, akh, akh, uhhh, hah”

“KAK AEEEEEEEEHH”

Pertama kalinya Lumine merasakan orgasme ia tidak tau harus berbuat apa, sehingga ia hanya bisa meneriakkan nama kakak laki-lakinya. Masih merasakan sisa-sisa orgasme yang menurutnya sangat memabukkan, tubuh Lumine bergetar dengan lubang vagina yang sangat basah yang membuka mengatup seolah mencari sesuatu.

Melihat adiknya yang seakan lupa akan keberadaannya, Aether segera membuka celananya. Celananya sudah sesak sejak tadi dan penisnya minta untuk segera dikeluarkan. Menurunkan celana tidurnya, penisnya akhirnya bebas dan sudah berdiri tegak dengan cairan precum terlihat di ujungnya.

Tanpa berlama-lama Aether kembali menarik adiknya mendekat dan mengusap-usapkan kepala penisnya ke lipatan labia Lumine. Aether ingin membuatnya menjadi sangat basah agar penisnya mudah untuk masuk ke vagina adiknya nanti.

Merasakan benda keras dan panas menyentuh vaginanya, kesadaran Lumine kembali. Diam tidak bergerak, Lumine bingung melihat kakaknya mengeluarkan penisnya yang cukup besar dan berurat itu dan menggesek-gesekkan benda itu ke lipatan vagina Lumine.

“Ekhh, Lumi.” desah Aether mencoba menahan diri untuk tidak langsung memasuki adiknya.

Merasakan kepala penis Aether menyenggol klitorisnya membuat tubuhnya terasa panas dan perutnya mengejang.

“Ah, enhh. Kak, panas.”

Seakan lupa bahwa kakaknya sedang menggesek-gesekkan alat kelamin mereka, Lumine justru mengeluh panas.

“Buka saja jaketmu. Jangan banyak bergerak atau tubuhmu akan terasa semakin panas.” perintah Aether yang dituruti Lumine. Menurunkan resleting hoodienya dan mencoba untuk tidak membuat gerakan, Lumine seolah lupa bahwa mereka tidak seharusnya melakukan ini.

Bingung dengan keadaan yang baru saja dialaminya, Lumine hanya bisa mendesah kenikmatan menerima perlakukan Aether. Mencoba mencari pegangan agar ia tidak jatuh, Lumine memilih memegang kedua pinggiran meja.

“Huh, huh. Kak Ae, pipis. Anh, aku mau pipis lagi.” Perasaan pipis itu kembali datang, bingung karena seharusnya ia sudah mengosongkan kandung kemihnya Lumine memutuskan melapor kepada Aether.

“Keluarkan, Lumi. Ukhh, basahi penis kakakmu. Akhh.” balas Aether semakin mempercepat gerakan penisnya.

“Enh, enh, enghhhh.” Tidak tahan lagi, Lumine orgasme untuk kedua kalinya.

“AAKKHHHHHHH”

Tidak mau membuang kesempatan, Aether buru-buru memasukkan kepala penisnya kedalam lubang vagina Lumine. Karena licin dengan cairan Lumine dan Aether, penis besarnya berhasil masuk dengan mudah.

Kali ini orgasme yang dialami Lumine lebih hebat dari sebelumnya. Lihat saja walau sudah diganjal dengan kepala penis Aether, cairan yang Lumine keluarkan masih ada yang merembes keluar.

Mencoba memasukkan setengah bagian penisnya kedalam vagina Lumine, Aether menyentil klitoris Lumine untuk mengembalikkan kesadaran Lumine. Berhasil membuat Lumine kembali menatapnya, Aether menangkup bokong bulat Lumine dan menarik pelan penisnya hingga hanya kepala penisnya yang berada di dalam vagina adiknya.

Penis besar Aether tidak berhasil Lumine cegah masuk ke dalam tubuhnya. Kini ia bisa melihat kakaknya tersenyum menantang kepadanya sambil mengangkat tubuh bawahnya seolah memamerkan penisnya yang berhasil masuk ke dalam tubuh adiknya. Pusing dengan euforia kenikmatan saat orgasme tadi dan kenyataan bahwa Aether sedang memerkosanya membuat Lumine hanya menatap ngeri ke tempat dimana penyatuan mereka terjadi.

Senang melihat ekspresi adiknya, Aether mencari posisi enak untuk memasuki adiknya. Sambil bersiap-siap Aether kembali menatap mata Lumine yang kini balas menatapnya, membuka lebar-lebar kaki adiknya Aether dengan cepat memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Lumine. Tubuh Lumine yang tersentak hanya melenguh ke depan. Kaget dengan gerakan cepat Aether, Lumine hanya bisa berteriak kesakitan karena ini merupakan pengalaman pertamanya dalam bercinta dan yang berhasil memerawaninya pertama kali justru kakak kembarnya.

“AKHHH. KAK, SAKITTT.”

“Sstt, tenang adikku. Ini hanya sebentar, kakakmu akan membuatmu keenakan.” tenang Aether sambil mulai menggerakkan penisnya di dalam vagina Lumine. Gerakannya tidak terlalu sulit karena lubang vagina Lumine sudah cukup basah dengan cairan mereka.

Mengetahui kenyataan bahwa kakaknya sedang memerkosanya dan bergerak di dalam tubuhnya membuat air mata Lumine menetes. Lumine tidak menyangka kakak yang sangat ia sayangi justru melakukan ini kepadanya.

Masih berteriak kesakitan sambil menangis, Aether mencoba menyentil klitoris Lumine dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk meremas bokong bulat Lumine, mencoba memberi kenikmatan pada Lumine sambil terus memompa penisnya di dalam tubuh Lumine.

Semakin lama Aether bergerak, semakin banyak cairan Lumine yang membasahi penyatuan mereka. Suara teriakan kesakitan Lumine juga semakin lama justru berganti menjadi teriakan keenakan. Sepertinya tubuh Lumine semakin terbiasa dengan keberadaan penisnya. Menyadari itu Aether semakin menambah kecepatan gerakan memompanya.

“Ukhh, Lumi. Lubangmu sangat sempit dan hangat.” desah Aether merasakan penisnya dipijat-pijat oleh dinding vagina Lumine.

“Ah, ah, ah. Kakak, Kak Ae. Auuhhhh, nhhh, hah.” kini desahan Lumine berhasil keluar dengan jelas. Lumine seakan lupa siapa yang sedang memerkosanya sekarang dan justru ikut menggerakkan pinggulnya mencoba mencari pelepasan.

“Kakak. Ah, ah. Kak Ae, hah hah.” Mencoba mendapatkan kembali perhatian Aether, Lumine menjulurkan kedua tangannya saat Aether melihatnya. Tersenyum dengan lembut dan semakin melebarkan kakinya, Lumine mencoba meraih Aether.

Sudah lupa akan batasan yang ia sebutkan tadi, saat ini Lumine hanya ingin Aether bergerak di bawah sana sambil menggenggam kedua tangannya. Insting anak kembar, Aether langsung tau keinginan adiknya itu. Menautkan kedua jari-jari tangan mereka, Aether semakin bergerak cepat dan Lumine semakin melebarkan kakinya.

Desahan mereka terdengar di lorong sepi itu dan udara panas semakin memenuhi ruang kelas kosong itu. Seolah lupa bahwa mereka sedang berada di sekolah, Lumine dan Aether saling berteriak menyebutkan nama pasangannya. Suara tamparan daging semakin menambah suasana panas di ruangan itu. Terlena dengan nikmat dunia, Aether dan Lumine hanya fokus menatap satu sama lain.

Merasakan pelepasan yang akan segera datang, Aether semakin cepat menggerakkan penisnya di dalam Lumine seolah ingin menghamili adiknya itu. Suara desahan sang kakak dan tamparan daging yang semakin cepat di bawah sana membuat perut Lumine kembali mengejang. Merasakan pelepasannya akan kembali datang, tanpa sadar Lumine menarik Aether mendekat seakan tidak ingin lepas sedetik pun darinya.

“Ah, ah, kakak. Aku, aku keluar lagihhh.”

“KAAKKAAAAAAAAKKKK”

Berhasil melakukan pelepasan ketiga kalinya, Lumine mencondongkan tubuhnya sampai kepalanya memutar kebelakang.

Merasakan cairan hangat adiknya, Aether merasakan pelepasannya akan datang. Mencoba untuk menjauh dari tubuh adiknya, Aether justru tertarik jatuh kedalam pelukan sang adik karena Lumine menariknya kencang saat menerima pelepasan.

“Lumi? Tunggu, ukkhhhhhh.”

“LUUMMIIIINNEEEEEEEE”

Berhasil mencapai pelepasan, Aether menyemprotkan spermanya ke dalam perut Lumine. Merasakan cairan hangat memenuhi perutnya, Lumine tanpa sadar menggerakkan pinggulnya seolah meminta dipenuhi dengan cairan sperma kakaknya.

Setelah merasakan isi kantong spermanya telah berpindah semua ke dalam rahim sang adik, Aether mengangkat sedikit tubuhnya dan menatap Lumine di bawahnya.

Mengelus pipi Lumine yang dibasahi air mata, perasaan bersalah muncul di hati Aether. Melihat langsung ke dalam mata adiknya, Aether menatap Lumine dengan perasaan bersalah.

“Lumi, adikku sayang.” ucap Aether kembali membelai pipi putih Lumine.

Merasakan sentuhan lembut sang kakak di pipinya mau tidak mau Lumine tersenyum.

“Kakak.” Suara serak Lumine terdengar, Aether tertegun melihat adiknya yang masih bisa tersenyum dengan sangat cantik. Melihat bibir ranum adiknya yang tersenyum indah hanya untuknya membuat Aether ingin melahapnya. Mengelus bibir bawah adiknya dengan ibu jarinya, Aether mulai mendekatkan wajahnya.

Mengecup pelan bibir ranum itu justru membuat Aether kecanduan. Mengulangi kecupan-kecupan singkat di bibir sang adik, Aether merasa tidak puas. Dengan hati-hati dilumatnya bibir lembut Lumine, tidak ingin membuat bibir adiknya terluka karena gigitannya.

Bukannya mendorong atau menampar Aether, Lumine justru mengalungkan kedua tangannya di leher sang kakak. Mencoba membalas ciuman sang kakak, Lumine ikut melumat bibir Aether dan menariknya semakin dekat. Menempelkan tubuh mereka, Aether menjilat bibir bawah Lumine meminta izin untuk masuk. Membuka mulut kecilnya, Lumine membiarkan Aether menjelajahi rongga mulutnya dan mengajak lidahnya menari.

“Ummh, ennhh, ahh.”

Mencoba memperdalam ciuman mereka, Lumine melilitkan kedua kakinya di pinggang Aether. Menyadari adiknya yang ikut membalas ciumannya membuat penis Aether yang masih berada di dalam liang vagina Lumine kembali membesar.

Melepaskan ciuman mereka, Aether mengecupi leher jenjang Lumine dan memberikan tanda merah disana sambil mulai menggerakkan pelan pinggulnya.

“Enghh, kakak?”

“Sekali lagi, Lumine. Satu ronde lagi.” ucap Aether dengan tangannya yang mulai merambat menyentuh dada Lumine yang masih tertutup. Menarik tanktop hitam itu keatas, Aether membebaskan payudara bulat Lumine yang sudah menegang.

“Ternyata kebiasaan tidur tanpa mengenakan bra masih kau lakukan disini ya?” tanya Aether menjepit puting kanan Lumine dengan tangan kirinya. Puting itu sudah mengeras sejak perlakuan Aether diawal.

“Auuhh. Bagaimana, bagaimana kakak tau aku tidur tanpa bra?” tanya Lumine merasakan kini dadanya yang menjadi incaran Aether.

“Haahh, saat di rumah kau selalu memakai pakaian ketat tau. Apalagi saat malam, kau selalu mampir ke kamarku sebelum tidur tanpa memakai bra dan itu terlihat jelas Lumi.” jawab Aether menarik puting merah muda Lumine gemas.

“Uuhhhh, kak. Nnhh, ah.” Tidak tau harus menjawab apa Lumine hanya bisa mendesah saat dirasakan lidah hangat Aether berada di dada kirinya. Aether menggigit pelan puting kiri Lumine dan kembali mengulum puting itu ingin mengurangi rasa sakit bekas gigitannya.

“Akhhh, ah, ah. Unnhhh, anghh.”

Merasakan mulut Aether kini berpindah ke payudara kanan Lumine dan menghisapnya seperti bayi kelaparan membuat tubuh Lumine menggelinjang hebat. Apalagi dengan tangan kanan Aether yang menjepit dan menarik-narik puting kirinya, lalu penis kakaknya yang tidak berhenti bergerak di bawah sana membuat Lumine bingung harus fokus dengan kenikmatan yang mana.

Pasrah dengan kenikmatan yang diberikan kakaknya, Lumine hanya bisa menjambak rambut Aether untuk menyalurkan kenikmatan.

“Lumi, Lumine. Adikku yang cantik.” Melepaskan puting Lumine dari mulutnya, Aether berganti fokus untuk menggerakkan penisnya pelan tapi dalam. Kepala penisnya berhasil menyentuh rahim Lumine dan membuat adiknya itu berteriak kenikmatan. Mungkin besok pagi ini akan membekas kesakitan, adiknya tidak akan bisa berjalan dengan benar. Tapi biarlah, yang menjadi fokus Aether saat ini adalah membuat Lumine berteriak kenikmatan dengan penisnya lalu memenuhi perut adiknya itu dengan cairan spermanya.

Tidak sabar ingin cepat-cepat memenuhi adiknya, tangan Aether berganti menaikkan kaki kiri Lumine ke pundaknya dan menahannya disana. Bergerak lebih cepat dan brutal dari sebelumnya, Aether ingin cepat-cepat menyemprotkan spermanya.

Tangan kiri Aether sibuk meremas dada kanan Lumine dan tangan kanannya menahan kaki Lumine agar terbuka lebar untuknya.

“Bagaimana Lumi? Bukankah posisi ini membuatku bisa menyentuhmu semakin dalam?” tanya Aether kepada Lumine yang hanya dibalas anggukan dan desahan keras Lumine.

Ya, Lumine dapat merasakan kepala penis Aether menyentuh rahimnya. Ini sangat nikmat, Lumine tidak peduli lagi bahwa mereka masih saudara sedarah yang sedang melakukan perbuatan tabu. Lumine hanya peduli bahwa sebentar lagi pelepasannya akan datang.

“Lumi, adikku. Bagaimana jika aku menghamilimu? Kau mau mengandung anakku bukan? Aku akan memenuhi rahimmu dengan spermaku sampai kau hamil. Perutmu akan penuh dengan spermaku dan anak kita.” tanya Aether sambil mengelus perut rata Lumine, membayangkan bagaimana jika perut adiknya ini mengandung anaknya nanti.

Lumine yang sudah tidak bisa berpikir jernih hanya menganggukkan kepalanya. Ia ingin Aether kembali memenuhinya dengan cairan hangat itu, ia ingin Aether terus menggenjotnya. Lumine ingin merasakan penis Aether terus bergerak di dalam dirinya. Dirinya tidak lagi peduli jika ia hamil anak Aether, bukankah Aether harus terus memenuhi rahimnya dengan spermanya jika ia ingin menghamili Lumine? Lumine justru senang membayangkan ia dengan perut bulat bergerak di bawah Aether yang terus menumpahkan cairan spermanya kedalam vaginanya.

Pemikiran Lumine sudah rusak, ia sudah tidak peduli dengan norma-norma yang berlaku.

“Kak Ae, uh, uh. Cepathh, lebih cepat kak. Enghhh.” pinta Lumine yang merasakan perutnya yang mengejang menandakan sebentar lagi pelepasan Lumine akan tiba.

Mengamini permintaan adik kembarnya, Aether mempercepat gerakan penisnya. Ia juga ingin cepat-cepat melakukan pelepasan, dapat ia rasakan penisnya yang berkedut membesar.

“Lumine, adikku. Aku akan memenuhimu. Kau akan mengandung anak-anakku.” racau Aether semakin mempercepat gerakannya.

Lumine hanya bisa membalas ucapan Aether dengan tidak jelas. Suaranya tertahan dengan desah kenikmatan yang ia rasakan.

“Iyaahhh. Emmhhh. Penuhi aku kak, hamili aku. Kak Aether. Ah, ahnn~”

Merasakan pelepasannya, Aether mendorong dalam-dalam penisnya kedalam vagina Lumine dan menyemprotkan cairannya disana. Lumine yang merasakan kembali cairan hangat di perutnya menjadi terangsang. Tidak lama setelah pelepasan Aether, Lumine kembali orgasme. Dengan menyebutkan nama masing-masing pasangan, kedua saudara kembar itu saling memeluk tubuh pasangannya.

Sepasang kembar itu hanya diam dalam posisi itu selama beberapa saat sambil mencoba mengatur nafas.

Melepaskan dirinya dari tubuh sang adik, Aether menatap vagina Lumine yang kacau akibat perbuatannya. Cairannya dan adiknya bercampur disana. Ditambah karena tidak muat menampung cairan sang kakak, lubang vagina Lumine mengeluarkan cairan putih yang merembes keluar. Bagi Aether pemandangan itu sangatlah seksi.

Menggendong Lumine yang lemas kedalam pelukannya, Aether merapikan diri mereka. Menaruh banyak kain di lantai yang lebih bersih, Aether meletakkan Lumine disana. Ia ingin adik satu-satunya ini bisa tidur nyaman setelah aktivitas melelahkan mereka barusan.

Sisa malam mereka habiskan dengan tidur pulas sambil berpelukan di ruang kelas yang jauh dari halaman utama.

.
.
.

“Uukh, tidurku nyenyak sekali. Rasanya aku bahkan bermimpi indah.” ucap Barbara sambil meregangkan tangan.

“Benar, semalam sangat dingin. Jadi cocok untuk tidur bersama begini.” jawab Ayaka menyahuti ucapan Barbara.

“Keqing, Lumine dimana?” tanya Noelle menyadari salah satu temannya tidak ada disana.

“Eh? Dia ada disebelahku kok. Loh? Lumine mana?” tanya Keqing balik saat menoleh dan tidak menemukan Lumine di sampingnya.

“Hm? Kalian mencariku?” Lumine muncul dari luar kelas dengan wajah yang basah dan handuk di pundaknya.

“Lumine? Kenapa? Kau tidak tidur nyenyak ya?” tanya Noelle khawatir saat melihat wajah lelah Lumine.

“Ehm, yaah. Aku sulit tidur, jadi pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan membasuh diri.” jawab Lumine sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Aah, kalau begitu ayo kita sarapan. Jatah pudingku untukmu saja.” ucap Barbara sambil menggandeng Lumine dan berjalan keluar kelas.

“Eh? Kenapa cara jalan Lumine aneh sekali? Apa dia habis terpeleset dan jatuh?” tanya Ayaka saat melihat Lumine dan Barbara berjalan menjauh.

“Emm, entahlah. Mungkin disisa kegiatan kita harus meminta kepada Bu Jean agar Lumine dibiarkan duduk saja sampai pulang.” jawab Noelle yang ikut menyusul Lumine dan Barbara.

Melihat Amber dan Hutao yang berjalan tidak jauh dari tempat mereka, Ayaka segera memanggil kedua gadis itu.

“Morning, wanita-wanitaku.” sapa Hutao heboh.

“Selamat pagi.” kini Amber gantian memberi salam pagi kepada mereka. Belum sempat membalas salam, Hutao langsung memotong.

“Eh, eh, tau gak. Tadi aku dengar gosip terbaru. Tau kan Bennett dari kelas sebelah? Katanya semalam waktu dia mau ke kamar mandi, dia dengar suara teriakan. Saking kerasnya Bennett gak jadi pergi ke kamar mandi. Terus katanya bukan cuma sekali, tapi berkali-kali. Bahkan Bennett gak cuma dengar satu suara aja.” Gosip pagi Hutao pun dimulai. Sepertinya sumber informasi Hutao ada dimana-mana. Bahkan kabar Bennett yang mendengar suara aneh saja sudah sampai ke telinganya.

“Terus katanya suaranya bukan berasal dari arah kamar mandi, tapi dari ruang kelas kosong yang ada di ujung lorong. Tau kan kelasnya Bennett dapat jatah tidur di dekat lorong gelap itu. Hiii, apa jangan-jangan sekolah kita ini memang banyak penunggunya ya?” gidik Hutao ngeri sambil menakuti teman-temannya.

“Hush. Kalau hantunya dengar, yang didatangi pertama kali nanti kamu loh.” jawab Ayaka memotong Hutao yang sudah mulai memperagakan zombie yang sedang meloncat.

“Wah, kalau begitu hati-hati Hutao. Awas nanti kamu malah ketempelan hantu sekolah.” timpal Amber.

“Hihi, tapi kasihan juga ya Bennett. Selain terkenal sering kena sial di sekolah, hantu juga sepertinya ingin menjahilinya.” ucap Noelle yang tertawa melihat tingkah Hutao.

Melihat Keqing yang diam tanpa menanggapi mereka, Noelle menyentuh pundak Keqing dan memanggil namanya. Menyadari namanya dipanggil, Keqing menoleh ke arah Noelle.

“Keqing, ada apa? Apa kau merasa tidak enak badan?” tanya Noelle khawatir.

“Eh? Uh, tidak. Aku baik-baik saja. Oh iya, apa memang rambut Lumine sependek itu?” tanya Keqing yang ternyata sejak tadi memperhatikan punggung Lumine yang menjauh.

“Hm? Memang iya. Kan Lumine baru saja potong rambut sebulan lalu.” kali ini Amber yang menjawab.

“Keqing? Ada apa?” tanya Ayaka yang ikut khawatir.

“Eh? Enggak, soalnya kemarin aku juga dengar teriakan wanita entah darimana.” jawab Keqing sambil menoleh kepada teman-temannya.

“Hah? Terus? Kamu datengin?” tanya Hutao yang kembali heboh.

“Em, tadinya mau aku datengin. Tapi Lumine langsung menarik tanganku, dia juga bilang ‘Udah, gak usah pedulikan suara-suara itu. Kamu kembali tidur saja.’ Begituuu.” jawab Keqing kembali mengingat kejadian semalam.

Semalam ia mendengar suara-suara aneh dan juga hawa dingin yang menusuk kulit. Mencoba bangun untuk menghampiri suara itu, tangan Keqing ditarik Lumine yang ada di sampingnya. Karena gelap Keqing yakin bahwa yang menariknya Lumine, karena hanya dia yang ada di sebelahnya malam itu. Tapi dapat Keqing rasakan, rambut Lumine menyentuh telapak tangannya. Tidak mungkin kan rambut pendek Lumine bisa menyentuh telapak tangannya.

Mencoba berpikir jernih Keqing mengesampingkan ingatan itu. Mungkin bukan rambut yang menyentuh telapak tangannya, mungkin saja baju atau selimut mereka yang ia genggam. Malam itu gelap jadi bisa saja Keqing salah lihat.

Tanpa mau lanjut memikirkan hal itu, Keqing menarik tangan Hutao untuk bergegas sarapan bersama.

“Udah, bukan apa-apa kok. Kita sarapan aja. Hutao, gak usah cerita aneh-aneh deh. Kalau kamu didatangi hantu beneran nanti gimana?” tanya Keqing menghentikan percakapan mistis mereka. Ia tidak ingin hal-hal mistis mengganggu hidup tenangnya, ia hanya ingin mereka semua bisa menikmati sisa kegiatan camping sebelum liburan musim panas tiba dan mereka berpisah untuk berlibur bersama keluarga masing-masing.