Work Text:
genshin impact by mihoyo
tartali
tartaglia x zhongli
.
.
.
Dari tempatnya berdiri Zhongli bisa merasakan tatapan seseorang. Dia memang merasakan tatapan semua orang yang menatapnya, tapi satu orang ini yang benar-benat intens menatapnya dari jam awal pelajaran di mulai sampai jam pelajaran akan berakhir.
Ini benar-benar membuat Zhongli benar-benar tidak nyaman, sedari dia memulai pelajaranannya sudah tidak bisa memfokuskan dirinya dalam mengajar kali ini.
Tapi Zhongli berusaha sekuat mungkin untuk bertahan selama tiga jam, dan ketika jam pelajaran akan berakhir Zhongli benar-benar akan bersorak karena terbebas dari tatapan tajam yang diberikan padanya.
Menghembuskan napas dengan berat, Zhongli berbalik dan langsung mendapatkan mata biru cerah yang menatapnya dengan tajam.
Jantung Zhongli berdetak dengan cepat, Zhongli terdiam selama beberapa detik dengan menatap mata biru yang menatapnya. Lalu dia menggelengkan kepalanya pelan dan mulai kembali menjelaskan materi yang dia ajarkan hari ini.
Lalu selama satu jam kemudian, Zhongli benar-benar mengabaikannya kembali, fokusnya benar-benar sangat berantakan ketika seseorang menatapnya dengan kebencian seperti itu.
Setelah mengucapkan terima kasih pada mahasiswanya, Zhongli segera membubarkan mereka dan akhirnya satu persatu dari mereka keluar dari dalam kelasnya.
Dan tentu saja Zhongli dengan kecepatan seperti kilat dia langsung membereskan semua perlaratannya dan memasukannya kedalam tas yang dia bawa, lalu dia langsung berbaur dengan mahasiswanya dan berusaha mungkin untuk kembali kedalam kantornya.
Setelah menghabiskan beberapa menit untuk sampai di kantornya, ketika dia sudah ada di dalamnya Zhongli langsung meletakan semua barang bawaannya dan dia menghembuskan napasnya yang dia tahan beberapa menit yang lalu.
Kenapa Ajax memandangnya seperti itu?
Gerutu Zhongli yang benar-benar masih tidak nyaman dengan tatapan mata Ajax.
Lagipula Zhongli merasa tidak melakukan kesalahan apapun pada Ajax, dan faktanya hampir satu minggu Zhongli memang tidak pernah menyapa Ajax.
Oke, oke. Zhongli akui bahwa dia sedikit mengabaikan Ajax selama satu minggu terakhir ini. Dan semua itu ada alasannya kenapa Zhongli mengabaikan Ajax begitu saja.
Zhongli akhir-akhir ini mendengar bahwa Ajax dekat dengan seseorang, salah satu mahasiswa hukum. Jadi Zhongli yang awalnya memang sudah dekat dengan Ajax, Zhongli perlahan-lahan menjauh dsri Ajax dan menghormati apa yang akan Ajax dapatkan dan Zhongli tidak mau menghalanginya.
Seperti ketika jam makan siang yang biasa mereka habiskan bersama, kini Zhongli menolaknya dengan alasan bahwa dia sudah ada janji dengan teman-temannya, ketika sore yang Zhongli biasa habiskan di dalam perpustakaan kini Zhongli mulai menghindari perpustakaan tersebut.
Atau ketika waktunya pulang Zhongli selalu beralasan bahwa dia akan berkunjung dan mengerjakan sesuatu di rumah temannya.
Menghela napasnya pelan Zhongli benar-benar merasakan beban berat yang ada dipundaknya. Jujur saja setelah mendengar bahwa Ajax sedang menjalankan pendekatan pada seseorang, Zhongli merasa sedikit kecewa dan patah hati.
Ya benar, Zhongli bena-benar sangat menyukai mahasiswanya yang super aktif itu. Tidak, dia bukan hanya menyukainya lebih tepatnya mencintainya.
Persetan dengan hal-hal tabu seperti ini, Zhongli benar-benar tidak bisa membohongi dirinya tentang ketertarikannya pada mahasiswanya pada satu tahun yang lalu.
Sungguh rasanya sesak ketika membayangkan bagaimana kalau Ajax memang menjalin hubungan dengan seseorang itu? Apakah dia harus jujur saja pada Ajax atau hanya berdiam diri dan menguburkan perasaannya? Tapi Zhongli tidak mau merasakan pahit yang akan dia habiskan selama sisa hidupnya.
Menelungkupkan wajahnya di atas meja, Zhongli merenung kembali dengan perasaannya. Apakah dia harus jujur pada Ajax atau melupakannya begitu saja?
Archon, Zhongli hampir tiga puluh dan dia merasakan rasa seperti remaja-remaja belasan tahun yang baru merasakan jatuh cinta? Apalagi orang yang dia sukai adalah mahasiswanya sendiri.
Lalu Zhongli bertanya-tanya, apakah Ajax mendekatinya hanyak untuk sebuah nilai? Apalagi Zhongli tidak keberatan ketika Ajax menciumnya, atau mereba-raba tubuhnya. Zhongli benar-benar pasrah ketika Ajax mulai mendominasi tubuhnya. Katakanlah bahwa Zhongli seperti wanita rendahan dan murahan yang mau saja disentuh oleh mahasiswanya, tapi sumpah Zhongli merasakan begitu senang ketika Ajax sudah mulai mencium dan menyentuhnya.
Tapi kalau untuk nilai sepertinya itu tidak mungkin, atau apa jangan-jangan Zhongli adalah tempat pelampiasan napsunya?
Mereka hanya melakukan seperti itu, tidak pernah sekalipun mereka kebablasan untuk melakukan hal-hal intim lainnya. Dan kadang ketika Zhongli yang berada dalam pangkuan Ajax, dia bisa merasakan kemaluan Ajax yang dengan perlahan-lahan tumbuh yang menyentuh pantatnya. Dan ketika kemaluannya tumbuh, Ajax dengan perlahan melepaskan Zhongli dari pangkuannya dan mendudukan Zhongli ketempat semulanya lagi.
Zhongli tahu itu bukanlah penolakan, pasti ada satu alasan yang tidak bisa membuat mereka untuk berbuat lebih dari sekedar berciuman dan meraba-raba.
Lamunan Zhongli terbuyar ketika mendengar ketukan pelan pada pintunya, Zhongli hanya mengabaikannya begitu saja dan Zhongli ingat bahwa hari ini dia tidak membuat janji kepada siapapun untuk sebuah pertemuan atau bimbingan untuk mahasiswa.
Hanya diamkan saja nanti juga akan pergi. Pikir Zhongli yang masih dalam posisinya.
Dan tidak berselang lama ketekukan tersebut terdengan kembali. Apakah orang yang mengetuk pintunya tidak mengerti apa? Kalau tidak di bukan harusnya dia mengerti bahwa tidak ada seseorang di dalam sini.
Tapi semakin Zhongli mengabaikan, suara ketukan itu semakin cepat dan keras yang membuat Zhongli terganggu. Dengan malas Zhongli beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintunya.
Ketika dia baru membuka kunci, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan Zhongli terdorong kebelakang. Pintu tertutup dan langsung dia kunci.
Zhongli tersadar dari rasa kagetnya dan memandang Ajax yang kini ada di depannya dengan raut marahnya. Zhongli dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain, tidak ingin memandang wajah Ajax yang sudah sangat dia rindukan satu minggu ini.
"Lǎoshī," panggilnya yang Zhongli abaikan.
Sial, aroma Ajax selalu membuatnya mabuk. Zhongli menahan dirinya untuk tidak membenamkan wajahnya pada lekukan leher Ajax yang sangat menggoda dirinya.
Kepalanya masih menyamping, masih menghindari tatapn Ajax yang diberikan padanya, masih tidak berani untuk menatap mata birunya yang menatapnya dengan tajam.
Telapak tangannya terangkat, menyentuh dagunya dan membuatnya menghadap ke arahnya. Mata Zhongli sebisa mungkin untuk menghindari tatapan Ajax.
"Zhongli-Lǎoshī," panggilnya lagi yang membuat jantung Zhongli berdetak sedikit kencang.
"A-Ajax," jawabnya gugup yang membuat Ajax tertawa pelan.
"Kenapa kau tidak mau menatapku?" tanyanya dan Zhongli langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah cukup bersabar selama satu minggu ini, dan hari ini adalah puncak dari kesabaranku." Tangan Ajax kini mengelus pipinya yang sedikit panas, lalu merambat ke belakang telinganya kemudian mengelus rambutnya dengan lembut.
"Ada apa dengan stylemu hari ini, Lǎoshī?" ucapnya lagi, tangannya yang kini turun kebawah, mengelus punggungnya dengan elusan lembut yang membuat Zhongli mengigil pelan.
Tangan kiri Ajax menarik tubuh Zhongli semakin dekat demgan tubuhnya dan Zhongli kini benar-benar menempel pada tubuh Ajax.
Napas yang Zhongli tahan sedari tadi kini dia lepaskan dan tanpa sadar kepalanya dia senderkan pada bahu Ajax dan menghirup aroma tubuh Ajax yang menguar dengan sangat alami.
"Archon, kau begitu gampang sekali, Lǎoshī," ucapnya yang tidak Zhongli perdulikan.
Ini hangat dan Zhongli sangat menyukainya.
Kedua tangan Ajax yang awalnya hanya mengelus-elus punggungnya, kini turun meraba-raba pantatnya dan sesekali meremasnya dengan kuat membuat bibir Zhongli terbuka, meloloskan desahan pelannya.
"Jadi apakah kau ingin menggodaku dengan menggunakan rok span ketat selutut dengan kemeja putih yang tidak kalah ketatnya? Apa kau berpikir mengundangku untuk meremas pantat kenyal dan membenamkan wajaku pada payudaramu yang besar ini?" Ajax mendorongnya yang membuatnya semakin terpojokkan oleh tembok dan tubuh Ajax yang ada di depannya yang membuat Zhongli benar-benar terjebak.
"A-Ajax," panggilnya dengan suara desahannya.
"Hmm? kau mau aku panggil Lǎoshī atau Jie Jie?" tanyanya sambil mengigit-gigit telinga Zhongli.
"Terserah." jawabnya sambil memeluk tubuh Ajax dengan erat.
Ajax tertawa pelan, "kau belum menjawabku, apa yang membuatmu berpakaian seperti ini?" tanyanya lagi masih dengan meremas pantat Zhongli dengan keras dan kuat yang membuat Zhongli semakin merapatkan tubuhnya pada Ajax.
"Kau sengaja menggodaku, bukan?" Zhongli menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu hampir semua dosen laki-laki kampus ini menatapmu dengan mata lapar mereka dan mengharapakan tangan mereka untuk meremas pantatmu ini."
"Ah, ah, Ajax," rengek Zhongli di dekat telinga Ajax.
"Ssst, Lǎoshī, jangan membuat suara gaduh, kau tidak ingin salah satu staff sini mendenger suara desahanmu, kan?" Zhongli mengigit bibirnya, menahan suara erangan yang mungkin sewaktu-waktu keluar.
"Katakan kau merindukanku," ucapnya sambil mengenhentikan remasan pada pantatnya.
Zhongli menggelengkan kepalanya, tidak mengakui bahwa dia memang merindukan pemuda yang sekarang sedang merengkuh tubuhnya.
"Kau merindukan mulut dan kedua tanganku ini untuk meremas pantat dan payudaramu, bukan?" Zhongli tidak bisa membalas pertanyaan Ajax, tapi perasaan berdebar ketika tangan Ajax menyentuh tubuhnya tidak membohonginya. Dan ya benar selama seminggu ini Zhongli seperti merasa kosong, ketika bibir Ajax yang menciumnya dan tangannya sambil meremas tubuhnya, lalu Zhongli sengaja menghindarinya dia benar-benar merasakan kehilangannya.
Tangan Ajax yang tadi meremas pantatnya kini berhenti, membuat Zhongli merengek untuk diremas kembali ileh tangan hangat milik Ajax.
"Katakan kau merindukanku dan aku akan melakukannya dengan benar." ucapnya lagi.
"Aku merindukanmu, aku merindukan tanganmu untuk membelai seluruh tubuhku, Ajax." jawab Zhongli sambil membenamkan kembali wajahnya pada leher Ajax, mencium dan menghirup aroma maskulin dari tubuhn Ajax.
"Gadis baik." lalu tangan Ajax kembali meremas pantat Zhongli kembali, sesekali memukulnya dengan keras yang membuat Zhongli mendesah.
Ajax mengangkat tubuh Zhongli pada pelukannya, bibirnya langsung melahap bibir Zhongli dengan cepat dan kasar. Mereka saling memberikan ciuman lapar mereka, menebus satu minggu yang mereka abaikan.
Lidah Ajax terjulur keluar yang langsung dihisap oleh Zhongli. Sungguh semua sentuhan yang Ajax berikan padanya benar-benar membuatnya mabuk seperti ini.
Zhongli biarkan lidah Ajax yang menjelajahi isi mulutnya, tangannya meremas rambut jahe Ajax guna untuk menahan desahan-desahannya.
Menekan tubuh bagian depannya pada pangkal paha Ajax, Zhongli benar-benar kegirangan ketika kemaluan Ajax yang kini sudah bertumbuh keras.
Archon, Zhongli benar-benar kelaparan akan belaian dari Ajax dan Zhongli ingin sekali merasakan rasa kemaluan Ajax pada mulutnya.
Ya, Zhongli memang beberapa kali memiliki fantasi tentang bagaimana Ajax menyetubuhi mulutnya dengan kasar dan menyemburkab semua spermanya pada wajahnya. Tapi dia tahan-tahan karena itu tidak senonoh.
Ajax melepaskan ciumannya, dahi mereka saling menempel dan mereka saling tersenyum satu sama lain.
"Kau basah,"
"Dan aku merasakan kekerasanmu," lalu Zhongli dengan sengaja menekankan intinya pada kemaluan Ajax yang membuat Ajax meremas pahanya dengan keras.
"Kau tahu butuh pertahanan diri untuk tidak memperkosamu ketika kami hanya berdua, seperti di perpustakaan atau ketika aku meminta bimbingan padamu." ujarnya yang membuat Zhongli tersenyum, napasnya masih tersengal-sengal akibat ciuman tadi.
"Kenapa kau tidak memperkosaku saja? Aku pasti akan pasrah ketika kau menyetubuhiku." jawabnya yang membuat Ajax semakin berkedut dibawah sana.
"Fuck! aku tidak akan berhenti ketika aku mencabulimu dengan kasar!"
Lalu Ajax membawa Zhongli kearah sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, membantingnya dengan sedikit kasar dan Ajax dengan tergesa membuka zip serta kancing celananya, lalu segera menurunkan celaba serna boxernya yang membuat kemaluannya keluar dan memantul.
Zhongli yang melihatnya sambil terbaring diatas sofanya hanya bisa menahan napas beratnya. Lalu Zhongli perlahan duduk, menghadap Ajax dan menatap penis Ajax yang sudah berdiri tegak dengan ujuk penis berwarna merah serta mengkilap akibat cairan percumnya keluar sedikit.
Tanpa sadar Zhongli menjilat bibirnya yang membuat Ajax tertawa pelan saat melihatnya, "astaga, Laoshi. Kau benar-benar cabul, memandang kemaluan muridmu dan seakan-akan kau akan melahapanya sampai habis."
"Aku memang membayangkan untuk melahap penismu sampai habis." ucapnya yang membuat tawa Ajax semakin keras.
"Kalau begitu lakukan."
Dengan gugup Zhongli mengulurkan tangannya, menangkupan penis Ajax pada telapak tangannya. Rasanya penisnya hangat tidak halus karena beberapa ototnya terlihat. Apakah Ajax begitu sangat terangsang sampai begitu keras seperti ini?
Dengan perlahan Zhongli mengelus puncak penis yang mengeluarkan percumnya. Itu lengket dan terasa sangat menyenangkan pada telapak tangannya. Zhongli memaju mundurkan tangannya, mencoba untuk mengeluarkab percumnya lebih banyak.
Archon, ini sangat menyenangkan bermain dengan penis seseorang yang kau sukai.
Dengan perlahan Zhongli bergeser dari duduknya dan turun kebawah, berjongkok ke arah Ajax untuk melahap penisnya.
Mulutnya terbuka, tangangannya membimbing penis tersebut untuk masuk kedalam mulutnya. Zhongli Menciumi puncak kepala penis Ajax dengan pelan, sesekali dia mengoleskan cairan percum yang keluar pada bibirnya seperti dia memakai lipblam.
Ah, aroma penis Ajax membuat intinya semakin basah.
Mendongakan kepalanya, Zhongli menatap Ajax yang sedang menutup matanya dengan erat, tangannya mencengkram erat rambut yang dia ikat.
"Ajax," panggilnya dengan nada menggoda, mata Ajax terbuka dan mentapnya. Zhongli benar-benar ingin Ajax menatapnya ketika dia memakan penisnya nanti.
"Iya, sayang?" jawabnya pelan.
"Aku tidak ingin kau menutup matamu ketika aku akan memakan penismu nanti."
"Nghhh, kalau begitu lakukan."
Lalu Zhongli langsung melahap penis Ajax.
"Ah, Fuck! Zhongli! aku sudah membayangkan bagaimana hangatnya mulutmu ketika kau melahap penisku seperti pelacur yang kehausan!" ucapnya semakin mencengkram kasar rambutnya.
Zhongli tidak menyangka bahwa Ajax membayangkan bagaimana mulutnya pada penisnya. Tapi kalau boleh jujur Zhongli juga terkadang membayangkan bagaimana rasa penis Ajax ketuka dia memakannya.
Ini benar-benar hangat, rasanya tidak bisa Zhongli jelaskan, tapi sungguh rasa Ajax benar-benar sangat enak dan nikmat pada mulutnya.
Zhongli masih menatap Ajax yang kini sudah memejamkan matanya. Dengan perlahan Zhongli membuka mulut dan memundurkan kepalanya lalu memajukannya, terus berulang kali, dari yang pelan sampai gerakan cepat yang membuat Ajax semakin mendesah.
Ketika Zhongli menikmati bagaimana dia memakan penis Ajax, tiba-tiba Ajax menghentikan gerakannya.
Ajax tersenyum lalu tubuhnya mundur kebelakang dan mendorongnya dengan keras yang seketika membuat Zhongli tersedak.
Kedua tangan Zhongli dengan segera menahan pahan Ajax yang bergerak maju mundur, matanya terpejam dan air matanya keluar karena penis Ajax yang keluar masuk dalam mulutnya dengan gerakan kasara.
"Fuck, fuck, brengsek Zhongli! Ah, ah, ah," desahnya semakin keras dan Zhongli terus menahan paha Ajax agar bisa memelankan gerakannya.
Lalu dengan gerakan dan dorongan terakhir yang sangat kejam, Ajax semakin mencengkram rambut Zhongli dengan kasar, menahan kepala Zhongli agar tidak melepaskan penisnya dalam mulutnya dan akhirnya Ajax menyemburkan spermanya di dalam mulut Zhongli.
Menyeritkan hidunhnya Zhongli menelan semua sperma Ajax, rasanya aneh, tidak bisa dia jelaskan bagaimana. Tapi hangat dan sedikit menyenangkan ketika sperma Ajax menyembur kedalam mulutnya.
Ibu jari Ajax mengusap sperma yang keluar dari dalam mulut Zhongli. Ah, itu adalah pelepasan yang sangat luar biasa bagi Ajax, apalagi semua spermanya yang keluar kini habis ditelan oleh Zhongli.
Ajax tersenyum menatap Zhongli yang masih dengan wajahnya yang bingung, dia pasti berpikir aneh tentang rasa sperma yang baru saja dia telan.
"Harusnya itu enak." ujarnya yang membuat Zhongli mendongakan kepalanya.
"Aneh," jawabnya yang semakin membuat Ajax tertawa.
Dengan lembut Ajax membantu Zhongli beranjak dari duduknya, Ajax langsumg memeluk tubuh Zhongli yang sangat Ajax rindukan satu minggu ini.
Menghirup aroma bunga yang menguar kuat dari tubuhnya secara alami. Archon, Ajax tidak akan pernah bosan berdoa pada Archon agar Zhongli yang menjadi pasangannya.
"Zhongli aku merindukanmu," ucapnya sambil meremas pantat sintal dosennya.
Zhongli memejamkan matanya menikmati remasaan tangan Ajax pada pantatnya.
Ajax mendorong Zhongli, mendudukannya kembali di atas sofa, tangannya dengan perlahan melepaskan kancing kemeja Zhongli satu per satu. Ketika semuanya terbuka, terpampang payudara sintal Zhongli.
Menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering, keinginan Ajax yang untuk membenamkan wajahnya ditengah-tengah payudaranya semakin kuat.
Dengan perlahan tangan Ajax mengelus kulit payudara Zhongli, itu kenyal dan hangat. Benar-benar seperti yang dia bayangkan selama ini.
Setelah mengelus, tangan Ajax menelusuri bagian punggung Zhongli, melepaskan kait bra yang Zhongli pakai. Setelah terlepas Ajax menurunkan bra Zhongli yang membuat payudaranya tumpah.
Bibir Ajax semakin kering melihat bagaimana payudaranya yang benar-benar telanjang di depan matanya. Ajax membantu Zhongli merebahkan tubuhnya, lalu Ajax beranjak ke atas tubuh Zhongli menindihnya.
Roknya yang sudah tersingkap sampai bagian paha memperlihatkan bagaimana underwearnya yang sudah basah kuyup.
Ajax tersenyum melihat bagaimana Zhongli yang sudah terangsang seperti ini. Kemaluannya kembali keras, Ajax menekan penis pada pangkal paha Zhongli yang membuay Zhongli memejamkan matanya dan mengeluarkan suara desahan lembut dari mulutnya.
Ah, suara merdua desahan Zhongli memang membuatnya sangat candu.
"Katakan padaku, apa yang kau inginkan?" tanya Ajax sambil meremas kedua payudara Zhongli. Sesekali dia mencubit kedua putingnya yang tegang.
Zhongli mendesah, nafasnya terengah-engah karena rasa hangat penis Ajax yang pada inti tubuhnya.
"Masukan penismu dan lakukan dengan kasar!" jawabnya dengan wajah yang memerah.
Ajax kembali tersenyum dan menampar payudara kiri Zhongli dengan pelan, "nakal," ucapnya.
Tidak ingin terlalu menyiksa kekasih masa depannya, Ajax mengangkat tubuhnya, tangannya melepaskan underwear putih yang dikenakan Zhongli.
Setelah terlepas tangan Ajax mengelus rambut tipis-tipis yang ada dibagian intim kekasihnya, itu terasa lembut seperti rambut kepala Zhongli. Ajax benar-bebar kagum, segala apapun yang Zhongli punya, itu terasa sangat lembut, sangat terawat dan membuat Ajax kagum.
"Tapi aku ingin menyicipmu." ucap Ajax sambil membelah bibir vagina Zhongli dengan kedua jarinya.
Zhongli hanya bisa memejamkan matanya ketika merasakan jari-jari Ajax yang mulai mengelus-elus vaginanya.
"Aku ingin kau memasukan penismu dan membuatku kenyang," jawab Zhongli sambil menggeliatkan tubuhnya, tidak sabar untuk merasakan penis panjang dan besar milik Ajax yang memenuhi rongga vaginanya.
"Tidak sabar sekali." Lalu Ajax mengangkat kedua kaki Zhongli, meletakan kakinya di atas bahunya.
Penisnya dia kocok sebentar dan ketika sudah siap dia perlahan menuntunya untuk masuk kedalam lubang hangat vagina Zhongli.
Ajax memejamkan matanya ketika merasakan ketatnya vagina Zhongli, itu benar-benar seperti yang Ajax bayangkan selama ini. Vagina ketat dan hangat milik Zhongli.
Zhongli hanya bisa mencengkram tangan Ajax yang memegang pahanya ketika penis Ajax yang perlahan-lahan memasuki vaginanya.
Dengan tidak sabar Ajax mendorong kasar disela terakhirnya yang membuat Zhongli membuka mata dan desahannya lolos.
Ajax tertawa dan bangga karena akhirnya dia bisa menyetubuhi dosen yang dia incar selama beberapa tahun ini. Dia memandang bagaimana bagian tubuhnya yang kini sudah menjadi satu. Itu terlihat sangat erotis ketika penisnya yang tertelan dalam vaginanya dan terasa hangat ketika vagina Zhongli berkedut meremas penisnya.
"Fuck, Zhongli. Vagina cantikmu meremas penisku, menelan semua panjang penisku ini." ujarnya sambil menarik lalu mendorong penisnya dengan tabrakan kasar yang membuat Zhongli mendesah.
Mereka berdua memejamkan matanya, Ajax yang menikmati penisnya yang keluar masuk dan Zhongli menikmati ketika dia tertusuk dan merasa penuh oleh penis Ajax yang terus-terusan menabraknya dengan kasar.
Suara tabrakan daging bagian paha mereka terdengar keras, suara tabrakan daging paha mereka berdua serta suara desahan Zhongli yang dari awal sudah keras semakin menggema di dalam ruangan tersebut.
"Ah, ah, ah, Ajax..." tangisnya sambil memiringkan tubuhnya, tidak tahan dengan gerakan kasarnya Ajax.
Ketika Zhongli memiringkan tubuhnya, semakin terasa dengan panjang penis Ajax yang keluar masuk secara terus-terusan.
Gerakannya semakin lama semakin cepat, tangan Zhongli sudah bingung harus mencari pegangan agar dia tidak jatuh dari atas sofa karena goncangan kasar yang Ajax berikan padanya.
"Zhongli, Zhongli, fuck, fuck, ah, sial!" umpatnya masih dengan gerakannya, Zhongli yang mendengarkan umpatan Ajax vaginanya langsung merespon dengan meremas penisnya.
Ajax yang merasakan penisnya diremas, langsung tertawa pelan.
"Ah, kau ingin aku membicarakan hal-hal kotor agar kau merasa panas?" tanya Ajax sambil membanting tubuhnya pada tubuh Zhongli, mereka berdua kembali mendesah.
Zhongli tidak sanggup menjawab, hanya menganggukan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan Ajax.
"Pelacur!"
Dengan satu kata itu Zhongli melepaskan ketegangan yang dia rasakan tadi dan Ajax yang merasakan Zhongli keluar karena kata-katanya hanya bisa tertawa semakin keras dan gerakan untuk menggoncang Zhongli semakin kasar dan membabi buta.
"Sial, Zhongli kau pelacur yang butuh penis seseorang untuk mengenyangkanmu!" ujarnya sambil menurunkan kakinya.
Zhongli yang masih lemas karena pelpasannya, lalu hanya bisa pasrah ketika Ajax membalikan tubuhnya dan mengangkat pinggangnya sampai pantatnya mengudara di depan Ajax.
Zhongli bergetar ketika pantat ditampar berkali-kali oleh Ajax. Ah sungguh tangan Ajax adalah tangan yang menurutnya paling bagus. Zhongli sudah membayangkan ketika mereka hanya berdua di perpustakaan, ketika jari-jari Ajax memegang pena, ketika meyibak lembaran buku yang dia baca, Zhongli selalu membayangkan bagaimana jari-jari panjang itu keluar masuk dari dalam vaginanya.
Zhongli memejamkan matanya lagi ketika benda panjang nan tumpul milik Ajax masuk kedalam vaginanya. Sial, dalam posisi seperti ini seluru panjang Ajax bisa masuk seluruhnya.
Ajax terdiam sesaat setelah penisnya tertanam penuh dalam vagina Zhongli, lalu setelah merasakan kembali hangatnya rongga vagina Zhongli, Ajax kembali menabrakan tubuhnya pada tubuh Zhongli dengan keras dan kasar.
Ah, kalau seperti ini, dia tidak tahu kapan akan berakhirnya.
.
.
.
.
Zhongli mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya, dalam pelukan Ajax yang hangat, Zhongli memejamkan matanya untuk menikmati hangat dan aroma tubub Ajax.
Tangan Ajax sesekali mengelus lembut punggungnya yang telanjang, mereka baru saja selesai bercinta beberapa menit yang lalu dan Zhongli benar-benar kehilangan hitunga berapa kali dia keluar karena dorongan penis Ajax pada vaginanya.
Mengingat bagaimana dia keluar berkali-kali membuat Zhongli tersipu malu dan tanpa sadar membenamkan wajahnya pada dada Ajax yang masih terengah-engah.
"Kenapa?" tanya Ajax yang merasakan Zhongli yang tiba-tiba bersikap aneh.
"Um, tidak. Hanya saja aku mengingat kembali bagaimana aku keluar sangat keras karena guncanganmu." jawab Zhongli jujur yang membuat Ajax tertawa pelan.
"Yah, maaf. Aku hanya sudah tidak bisa menahannya lagi, selama ini aku sudah menahan diriku agar tidak membuatmu membungkuk di atas meja yang ada di perpustakaan," ucapnya lagi secara gamblang yang membuat Zhongli semakin memerah.
Menundukan kepalanya, Ajax tersenyun geli melihat wanita yang sudah dia cintai dari lama kini memerah malu karena ucapannya. Tangan kirinya menyentuh pipi Zhongli yang membuat wanita itu mendongak menatap langsung ke matanya.
"Sebenarnya aku tidak masalah kau memaksaku untuk bercinta di mana. Kadang aku juga menggodamu ketika kita hanya berdua dan berharap kau memperkosaku seperti tadi."
Ajax menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh Zhongli.
"Astaga, aku tidak tahu bahwa kau mesum juga."
Zhongli memerah, "kau terlalu menggoda dan tentu aku terangsang dan basah ketika kita hanya berdua."
Ajax masih menggelengkan kepalanya masih tidak menyangka bahwa Zhongli juga bisa mesum seperti ini, lalu dia menunduk dan mengecup bibir ranum Zhongli, "ngomong-ngomong, aku masih tidak mengerti kenapa kau menjauhiku selama seminggu ini." tanya Ajax yang meminta penjelasan dari Zhongli.
Zhongli yang tidak menyangka mendapatkan pertanyaan itu dari Ajax, Zhonglk langsung mengalihkan tatapannya dan berpura-pura tidak mendengarkannya.
"Ayo, katakan padaku."
Zhongli berdeham pelan, "begini, beberapa mahasiswa menggosipkanmu bahwa kau dekat dengan seseorang dari fakultas hukum, jadi karena aku tidak ingin mengganggu pendekatanmu aku berusaha untuk mengurangi pertemuan kita yang seperti biasanya."
Ajax langsung tertawa mendengar pengakuan Zhongli, "Kau cemburu?" tanya Ajax yang membuat Zhongli cemberut.
"Tentu aku cemburu, kau selalu menghabiskan waktu denganku dan tiba-tiba saja aku mendengar gosip seperti itu, tentu aku yang menjadi dosenmu harus mundur secara teratur dan aku mengerti bahwa hubungan dosen dengan murid itu sangat tabu sekali."
Ajax kembali mengecup bibir Zhongli, tidak tahan dengan kegemasan yang Zhongli lihatkan.
"Dengar, kau tahu Scara sahabatku? Dia sedang melakukan penelitian dan mereka sedang bertengkar jadi kadang Scara menitipkan sesuatu padaku untuk dia berikan pada kekasihnya, nah aku di sini hanya seorang perantara antara mereka saja, tapi wajar sih orang-orang menganggap bahwa aku sedang melakukan pendekatan, hampir setiap hari juga aku pergi menemuinya dan membawakan sebuah hadiah untuknya." jelasnya panjang lebar agar semua kesalahpahaman ini berakhir.
Mereka berdua terdiam, menikmati kehangatan tubuh yang mereka rasakan. Zhongli semakin merapatkan tubuhnya pada Ajax untuk mendapatkan kehangatan lebih dari tubuh Ajax.
Tanpa disangka perut Zhongli bergetar dan berbunyi, membuat Ajax yang sedang mengelus punggung kekasihnya kini berhenti, "kau lapar?" tanya Ajax yang dijawab anggukan oleh Zhongli.
"Aku lupa makan malam kemarin, pagi aku hanya minum teh dan siang aku juga lupa untuk makan." Ujarnya yang membuat Ajax menatap matanya tidak suka.
"Astagaaa, begini nih kalau kita tidak selalu bersama. Kau pasti tanpa sadar akan melupakan waktu makanmu." ucapnya sambil bangun dari tidurnya, dengan menahan Zhongli agar tidak terjatuh kebawah.
"Wanmin atau Liuli Pavillion?" tanya Ajax memberikan pilihan pada Zhongli.
"Wanmin saja, aku merindukan masakan Xiangling."
"Oke, kalau begitu aku akan membantu membersihkan badamu." ucapnya sambil membawa Zhongli kedalam pelukannya.
-end-
