Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-08-23
Words:
1,531
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
6
Hits:
57

Your Birthday

Summary:

Yoongi tak tahu kemana perginya sang kekasih saat semestinya mereka bertemu dan merayakan hari ulang tahunnya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bahagia.

Harusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan. Yoongi hari ini ulang tahun. Dan sudah sewajarnya jika dia ingin menghabiskan harinya bersama yang tersayang.

Tetapi, kekasihnya menghilang.

Hoseok mendadak hilang ditelan bumi sejak kemarin. Yoongi sudah mencoba menghubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan sang kekasih. Namun, hasilnya nihil.

Yoongi gelisah. Rencana kencan berdua yang sudah dirancangnya seminggu yang lalu terancam batal. Dan rasanya, dia sudah tak menginginkannya lagi. Mencari keberadaan Hoseok menjadi prioritasnya kini.

Jujur, sebelum menghilang, Hoseok masih seperti biasa. Dengan senyum manisnya. Dengan guyonan khas-nya. Bahkan saat perayaan ulang tahunnya bulan lalu, dia terlihat senang sekali. Pelukan erat dan ucapan terimakasih terus dia ucapkan kala memeluk erat Yoongi. Tidak ada yang janggal. Hanya Hoseok menjadi dirinya sendiri. Oh, mungkin lebih tepatnya Hoseok yang dikenal Yoongi.

Bodoh, kenapa baru sadar sekarang?

Selama 6 bulan merajut kasih, tak pernah ada raut sedih yang terpasang di rupa tampan Hoseok. Cerita sedih pun tidak. Murni kebahagiaan yang terpancar dari Hoseok tiap kali bertemu.

Lalu, dimana Hoseok-nya sekarang?

Yoongi bergegas kembali mencari kekasihnya. Kali ini dia melajukan mobil hitam kesayangannya, mengelilingi Kota Seoul. Berharap setidaknya mendapat petunjuk keberadaan sang kekasih.

__________________________

Sudah 1 jam Yoongi mencari. Hoseok-nya masih belum menampakkan diri. Di kafe langganan, taman dekat Sungai Han, perpustakaan kota, semua tempat yang Hoseok suka datangi, tak sedikit terlihat wujud sang kekasih.

Frustrasi. Kepala Yoongi mulai terasa pusing. Rasa cemas, takut, khawatir, marah, dan rindu bercampur menjadi satu. Menyesakkan isi kepalanya dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk tentang kondisi Hoseok-nya saat ini. Dan kini, dia tak tahu kemana harus mencari kekasihnya.

Kemana lagi aku harus mencari?

Pantai? Iya, pantai!

Terbesit satu ingatan yang muncul dalam kepalanya, pantai. Hoseok pernah satu kali bercerita bahwa pemandangan laut membuatnya tenang. Mengingatkan Hoseok akan ketenangan dan kesejukan dari peluk sang ibunda. Hoseok juga mengungkapkan keinginannya untuk pergi ke Pantai Gwangalli. Katanya, saat malam, cahaya lampu dari Jembatan Gwangan terlihat sangat cantik.

Tanpa pikir panjang, Yoongi kembali melajukan mobilnya ke Busan. Yoongi sampai di tujuan setelah kurang lebih 3 jam perjalanan. Langit sudah gelap. Dan lampu dari Jembatan Gwangan sudah menyala.

Dalam kegelapan itu, Yoongi menyusuri pantai. Doa-nya terus dia panjatkan, berharap bahwa sang kekasih benar ada di pantai ini. Cukup banyak orang berlalu lalang, langit yang gelap dan penerangan yang remang-remang, menyulitkan Yoongi untuk mengenali perawakan sang kekasih.

Nafasnya mulai terasa berat. Rasa khawatir dan takut mendominasi kinerja tubuhnya. Mengambil banyak energi dalam diri Yoongi. Langkahnya melambat dan pandangannya mulai buram.

Itu dia, Hoseok-nya.

Sedang terduduk tanpa alas yang melindunginya dari pasir. Kakinya juga tidak beralas. Tubuhnya hanya dibaluti kaos putih tipis dan celana pendek warna hitam. Wajahnya terlihat kosong dan lelah.

Yoongi lega. Hoseok tidak dalam keadaan yang buruk seperti dalam pikiran kalutnya. Dia lantas mempercepat langkahnya. Ingin segera memeluk sang kekasih. Bertanya mengapa dia menghilang dan memastikan kondisinya benar-benar baik.

Berhenti.

Langkah Yoongi terhenti saat melihat air mata mengalir dari kedua mata kesayangannya itu. Hati Yoongi terasa nyeri. Untuk pertama kalinya dia melihat Hoseok menangis. Sejenak dia kebingungan. Hoseok yang sedih merupakan sesuatu yang asing dalam hidupnya.

Yoongi menarik nafasnya dalam dan menghembuskan secara perlahan. Menenangkan diri agar mampu bersikap lebih baik saat berhadapan dengan kekasihnya.

______________________

"Seokie……"

Hoseok menoleh ke arah suara itu. Suara kekasihnya. Sosok yang berusaha dia hindari sejak kemarin. Raut wajahnya terlihat lelah. Nafasnya terlihat berat. Namun, tak lantas membuat sang kekasih duduk disampingnya. Hoseok lekas menghapus jejak air mata di pipinya dan berdiri, mendekat pada sang kekasih.

"Hai kak.."

Senyum itu lagi. Hoseok masih berusaha menyembunyikan rasa sedihnya sendiri. Yoongi langsung memeluk Hoseok dengan erat. Takut jika Hoseok-nya akan kembali menghilang didetik pelukannya terlepas.

"Kak sesak.."

Pelukan itu seketika lepas. Hoseok menarik nafas cukup dalam untuk mengembalikan fungsi organ nafas yang sempat terhimpit pelukan tadi. Yoongi panik melihat Hoseok yang lemas selepas pelukan dengannya.

"Kamu gak papa? Gak ada yang luka? Mana yang sakit?"

Yoongi mengecek seluruh badan Hoseok yang terlihat. Dahi, lutut, siku tangan. Mengecek bahwa kekasihnya baik-baik saja.

"Gapapa kak." Balas Hoseok.

"Beneran?"

"Iya. Yuk pulang. Udah malem nih. Mulai sepi pantainya." Hoseok menarik tangan Yoongi dan beranjak menjauh dari tempatnya duduk sendirian tadi. Baru dua langkah, Hoseok merasakan tarikan dari tangan satunya. Tangan kirinya ditarik mendekat ke arah Yoongi yang masih tetap diam berdiri tanpa ada niat untuk pergi dari sana.

"Jung Hoseok."

Deg.

Baru kali ini Yoongi memanggil nama lengkapnya. Suaranya rendah, tatapan mata yang tajam dan tegas. Hoseok seketika merasa dia tak bisa lari lagi.

"I-Iya kak?"

Hoseok mendekat dengan langkah kecil dan perlahan. Kepalanya menunduk takut akan apa yang akan Yoongi katakan. Dia paham dia telah melakukan kesalahan dengan menghilang di hari spesial Yoongi, tapi rasanya tetap takut karena Yoongi tak pernah menatapnya setajam ini. Yoongi sepertinya marah dengannya.

Melihat Hoseok yang mendekatinya dengan menundukkan kepalanya, tatapan Yoongi melemah. Sedikit merasa bersalah karena seakan memojokkan Hoseok. Tapi dirinya hanya ingin Hoseok-nya jujur. Dia gak masalah dengan berbagai sisi Hoseok. Yoongi ingin mencintai sisi gelap sebagaimana sisi terang yang selalu Hoseok tampilkan.

"Kalau lagi sedih, nangis aja. Kakak temenin disini." Ucap Yoongi

Hoseok mendongakkan kepalanya. Dia melihat senyum hangat yang selalu jadi alasannya untuk jatuh cinta lagi dan lagi pada Yoongi. Kini senyum itu hadir juga di saat terlemahnya. Menjadi pengobat lara atas duka yang masih belum usai. Menguatkannya untuk menyampaikan apa yang telah disembunyikan.

"Aku tadi habis ke makam ibu"

Yoongi cukup terkejut. Tak menyangka akan mendengar kata ini dari ratusan kemungkinan yang ada. Matanya sedikit membola, lalu dalam sepersekian detik kembali normal. Yoongi berusaha tidak bereaksi berlebihan. Dia ingin mendengar semua yang kekasihnya ceritakan.

"Aku disana 2 jam. Aku cerita sama ibu, aku bilang aku kangen ibu. Rasanya aneh pas dirumah gak lihat ibu. Gak makan masakan ibu, gak denger suara ibu bangunin aku tidur. Aneh kak"

Hoseok berhenti sejenak untuk mengambil nafas lebih dalam. Rasanya mulai berat. Lukanya seakan kembali terbuka saat menceritakan tentang sang mendiang ibu tercinta.

"Sejak ketemu kamu 7 bulan lalu, aku perlahan bisa kembali menikmati hidup kak. Emang aku diluar anaknya penuh canda tawa. Tapi sesaat pintu kamarku tertutup, aku hanyalah manusia lemah yang mudah menangis."

Mata Hoseok berkaca-kaca. Tak lama, turun satu tetes air mata di sisi kanan pipinya.

"Maaf, aku cengeng banget ya?"

Hoseok ingin mengusap air matanya. Tetapi didahului oleh tangan Yoongi yang mengusap pipinya. Menghilangkan jejak air mata yang jatuh.

"Gapapa, kamu enggak cengeng kok. Kamu sedang sedih karena kehilangan. Akan sangat wajar kalau kamu menangis karena itu." Kata Yoongi sambil mengusap-usap pipi Hoseok. Berusaha memberinya dukungan secara emosional. Memberikan kenyamanan ditengah duka yang sedang dia hadapi.

"Dan alasan sebenarnya aku menghilang hari ini, karena ulang tahunmu dan tanggal kematian ibu ku adalah tanggal yang sama. Aku bingung kak. Aku harus bahagia karena ini hari spesialmu, atau aku harus sedih karena hari ini ibu pergi ninggalin aku. Dua-duanya orang yang penting dalam hidupku. Aku stress berat hingga akhirnya aku memilih menghilang karena gak tau cara menyikapinya. Aku takut menyakiti kamu dengan tidak sepenuhnya bahagia, dan aku juga tidak mau melupakan ibu. Maaf ya kak, pasti kamu kerepotan ya karena aku menghilang? Maaf ya kak" Hoseok memeluk erat Yoongi sambil terus-menerus meminta maaf atas perilakunya yang menyakiti Yoongi.

"Iya sayang, gapapa. Aku paham ini sulit buat kamu. Aku bisa memaklumi. Tapi, jangan diulangi ya. Kita bisa kok tetep rayain ulang tahun aku dan gak melupakan ibu. Pagi kita ke makam, malemnya kita rayain sederhana aja di rumahku, atau mana aja deh. Ya?"

Yoongi mengecup pucuk kepala kesayangannya itu. Kembali menepuk-neluk tangannya di punggu Hoseok. Memberinya kehangatan dan kenyamanan agar leluasa mengeluarkan seluruh tangisannya.

"Oke" sahut Hoseok dengan suaranya yang mulai serak karena terlalu lama menangis dalam pelukan Yoongi.

Mereka berdua berpelukan cukup lama. Hoseok yang masih menangis, dan tangan Yoongi yang memberikan tepukan lembut penuh kasih sayang di punggung Hoseok sambil sesekali mengecup pucuk kepalanya.

"Udah? Yuk pulang!" Ajak Yoongi

Hoseok melepaskan pelukan itu dengan perasaan setengah tidak rela. Pelukan kekasihnya terlalu nyaman. Hoseok masih ingin lebih lama lagi.

"Kok cemberut?"
"Masih mau peluk"
"Nanti aku nginep kosanmu deh, lanjutin pelukannya sampe kamu tidur. Gimana?" Tawar Yoongi

"Okee. Tapi disini dulu sebentar lagi ya. Aku mau lihat jembatannya. Cantik banget kalau malem. Kesukaan ibu." Hoseok kemudian menghadap ke arah jembatan. Melihat bagaimana lampu yang menerangi jalanan itu terlihat indah. Mengobati sedikit kerinduannya pada sang ibunda.

Yoongi menghadap kearah yang sama. Ikut menikmati bagaimana semilir angin malam yang melewati tubuhnya, juga sesekali melihat kekasihnya yang tersenyum kala melihat jembatan itu.

"Udah kak. Ayok pulang" ucap Hoseok kala merasa cukup puas melihat pemandangan jembatan itu. Menarik tangan Yoongi untuk berjalan bersama ke jalan keluar.

"Yuk, Kamu kesini naik mobil?" Tanya Yoongi

"Enggak. Aku naik kendaraan umum. Biar gak terdeteksi. Hehe" Hoseok tersenyum canggung, sesekali menggosokkan tangan ke rambutnya. Salah tingkah.

Yoongi tersenyum memaklumi "Langsung ke kosanmu berarti ya?"

"Yap. Eh, mampir ke minimarket dulu. Mau beli roti sama lilin kecil. Mau rayain ulang tahun kamu walaupun telat, boleh?" Hoseok menghentikan langkahnya secara mendadak. Menghadap ke Yoongi memohon agar permintaan nya dituruti.

"Boleh kok, yuk?" Tangan Yoongi terulur mengusap-usap kepala Hoseok dengan lembut.

"Let's go!" Hoseok kembali menggandeng tangan Yoongi ke arah jalan keluar. Kali ini langkah mereka lebih cepat karena Hoseok tidak sabar untuk segera merayakan ulang tahun Yoongi di kamar kos nya. Sederhana, tetapi setidaknya Hoseok berusaha agar memberi kekasihnya itu kebahagiaan yang semestinya dia dapatkan hari ini.

Notes:

Halo, ini Ari. Makasih banget buat yang udah baca sampai akhir. Jujur ini cerita yang aku bikin cukup lama. Dan aku sendiri masih ngerasa kurang. Tapi aku pengen upload hari ini sebagai pengingat kalau aku masih punya ibu walau sudah beda dunia. Hehe. Mohon maaf jika ada ketidaknyamanan saat membaca ceritanya. Sekali lagi, Terimakasih!