Work Text:
Hari ini, tepat hari ketiga sejak heat bulanan Haechan berlangsung. Tubuhnya yang terasa lebih ringan menandakan heat-nya hampir usai.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Sepertinya, besok pagi heat-nya akan benar-benar selesai.
Haechan turun dari tempat tidurnya tanpa sehelai benang pun.
Sejak perceraian dengan suaminya yang gemar selingkuh satu tahun silam, Haechan tinggal seorang diri di perumahan sederhana di tengah kota, bekerja untuk menghidupi dirinya dan orang tua yang tinggal di kampung halaman.
Hidup sendirian di rumah sederhana membuat Haechan terbiasa menghabiskan masa heat-nya tanpa mengenakan pakaian. Toh, pakaiannya akan berakhir basah. Entah akibat keringat dari tubuhnya yang memanas sepanjang heat berlangsung atau akibat dari cairan alami yang terus dikeluarkan vaginanya.
Saat ini, Haechan hanya ingin mandi. Membersihkan tubuhnya kemudian tidur, bersiap menyambut hari esok dengan tubuh yang lebih segar.
Haechan bergegas menuju kamar mandi yang sialnya, ketika menekan saklar, lampu tidak kunjung menyala. Dengan kesal ia bolak-balik menekan saklar.
"Ck."
Sepertinya lampu kamar mandi miliknya perlu diganti. Disaat-saat seperti inilah dirinya menyesal telah memutuskan untuk tinggal sendiri. Ia tidak bisa mengganti lampu.
Di hari biasa, Haechan akan meminta bantuan tetangganya atau satpam perumahan untuk menggantikan lampu miliknya. Tapi tidak mungkin ia membangunkan tetangga di tengah malam seperti ini.
Haechan menghela napas pasrah. Sepertinya ia harus menahan diri tidak mandi hingga besok pagi.
Tapi, Haechan mendengar suara penjual nasi goreng di depan rumahnya yang sepertinya sedang membuatkan pesanan.
Beberapa minggu belakangan ini memang ada tukang nasi goreng yang berjualan tepat di depan rumahnya. Haechan kerap kali membeli nasi goreng tersebut ketika sedang lapar di malam hari dan dirinya terlalu malas untuk membuat mie instan. Atau ketika dirinya merasa butuh teman mengobrol di malam hari.
Haechan bisa dibilang lumayan akrab dengan tukang nasi goreng di depan rumahnya itu. Haechan juga merasa lebih tenang ketika tidur di malam hari, tanpa takut rumahnya diserang maling sejak ada penjual nasi goreng itu. Lagipula, penjualnya tampan. Dengan kulit yang putih bersih, tidak seperti tukang nasi goreng pada umumnya. Bahunya juga lebar dan posturnya sangat tegap. Kadang Haechan berpikir bahwa tukang nasi goreng ini lebih cocok jika menjadi anggota boygroup korea. Sejujurnya, nasi goreng yang dibuat penjual satu ini juga kurang sedap. Haechan merasa nasi goreng buatannya masih jauh lebih enak dibanding penjual tampan ini.
Kembali pada masalah Haechan malam itu. Haechan saat ini mengenakan kemeja oversize yang menutupi hingga setengah pahanya. Haechan yang ingin segera mandi ini terlalu malas untuk mengenakan pakaian lengkap. Bahkan di balik kemeja yang dikenakannya, ia tidak mengenakan pakaian dalam karena ia pikir kemeja yang digunakannya sudah cukup tebal untuk menutupi tubuhnya.
Haechan menutup rapat kamar tidur yang dipenuhi feromon manisnya. Kemudian, ia semprotkan pengharum ruangan di sekeliling rumahnya untuk menutup sisa feromon yang tersebar sebelum ia keluar untuk memanggil penjual nasi goreng di depan rumahnya.
"Malam, Mas Mark." Sapa Haechan pada penjual nasi goreng.
"Malam, Kak Haechan. Mau pesan nasi?"
Mark tidak begitu terkejut melihat pakaian yang dikenakan Haechan, mengingat Haechan memang sering mengenakan pakaian super pendek ketika membeli nasi goreng miliknya.
"Engga dulu, Mas. Ini saya mau minta tolong. Mas Mark bisa betulin lampu gak ya? Lampu di kamar mandi saya kebetulan mati."
"Ohh iya bisa, Kak. Lampunya udah ada? Apa perlu saya belikan dulu?"
"Udah ada, Mas. Langsung masuk aja, mari"
Mark yang merupakan alpha masih bisa mencium feromon sisa heat Haechan ketika memasuki rumah Haechan meski sang pemilik rumah telah menutupinya dengan pengharum ruangan.
Berusaha mengabaikan feromon manis Haechan, Mark langsung berjalan menuju kamar mandi, mengikuti arahan pemilik rumah.
Tanpa Mark sadari, insting alpha-nya telah secara alami mengeluarkan feromon dominan ketika mencium aroma dari omega yang baru saja selesai heat.
Feromon yang dikeluarkan oleh Mark bereaksi langsung pada tubuh Haechan. Hormonnya yang masih belum stabil pasca heat ditambah dengan fakta bahwa dirinya tidak pernah lagi dimanjakan oleh sentuhan alpha sejak bercerai dengan suaminya membuat tubuhnya secara alami menginginkan sentuhan dari alpha di dekatnya.
Haechan sadar dengan reaksi di tubuhnya. Ia bisa merasakan suhu yang perlahan memanas di kulitnya. Kedua pahanya ia rapatkan ketika merasa cairan pelumas alami mulai mengalir di bawah sana. Sial. Menyesal sekali Haechan tidak mengenakan pakaian dalam sehingga cairan alami itu dengan bebas mengalir membasahi paha dalamnya.
Haechan mati-matian menahan gejolak di tubuhnya. Ia tidak mungkin menunjukan dirinya yang terangsang hanya dari feromon alpha milik Mark, penjual nasi goreng di depan rumahnya.
"Hhhnggh."
Haechan menaikkan pandangannya. Berusaha melihat pekerjaan Mark dengan harapan agar pemuda itu bisa segera menyelesaikan prosesi pemasangan lampu di kamar mandi miliknya.
Shit.
Sialnya Haechan malah melihat Mark yang tangannya terangkat berusaha memasang lampu baru dan menampilkan bisepnya yang terlihat kuat. Mark yang kepalanya mendongak menampilkan leher jenjangnya yang sialnya lagi, sangat seksi.
"Ahhng"
Haechan kembali melepaskan desahan tertahan ketika dirasa lubang vaginanya mulai berkedut.
Dan, ketika Mark telah menyelesaikan pemasangan lampu, Haechan rasakan gelombang heat kembali menyerang dirinya.
"AAhhhnggg"
Haechan terjatuh, terduduk sambil berusaha merapatkan kedua pahanya ketika ia merasakan lubang vaginanya mulai membuat gerakan mencengkram, berusaha mengapit knot alpha. Kondisi ini sama sekali tidak menyenangkan untuk Haechan karena ketika tidak ada knot yang memenuhinya, hanya akan ada rasa sakit yang merayapi perut bagian bawahnya.
Mark yang sudah selesai memasangkan lampu segera menghampiri Haechan yang terjatuh.
Pusing. Mark sesungguhnya pusing ketika secara tiba-tiba feromon manis milik Haechan memenuhi indra penciumannya. Mati-matian ia berusaha menahan hasrat seksual yang perlahan memenuhi dirinya.
Mark sadar. Ia paham betul apa yang sedang dialami Haechan. Tapi, Mark tidak akan menyentuh Haechan jika bukan Haechan yang meminta.
Dan ternyata, Haechan pun sudah kepalang tidak tahan ingin disentuh oleh Mark,
"M-Mass Markhh.. boleh bantuin lagi enggak?"
Masa bodo dengan rasa malu. Saat ini Haechan benar-benar butuh sentuhan alpha.
Heat rutin yang dialaminya setiap bulan berbeda dengan yang saat ini ia alami.
Ketika insting omega merasakan kehadiran alpha yang menyambut dirinya, heat dapat timbul dengan tubuh yang bersiap menerima knot dari alpha. Bermain dengan dildo saja tidak akan cukup memuaskan hasrat seksual, bahkan rasa sakit akan terus ia rasakan jika knot dari alpha tidak kunjung diterima.
Feromon yang dikeluarkan oleh Mark sejak awal telah dianggap sebagai undangan, tanda bahwa sang alpha menerima kehadiran sang omega.
Maka, Haechan membutuhkan Mark saat ini. Haechan butuh knot dari Mark untuk memenuhi dirinya.
"M-Mass tolongghh"
"Bantu apa Kak Haechan?"
Haechan meraih tangan kiri Mark kemudian ia arahkan ke vagina beceknya.
"Bantuin di sini, Mas. Bantu penuhin. Minta knot-nya Mas Mark buat penuhin ini"
Haechan yang membuang jauh-jauh tata krama dan rasa malunya itu sukses membuat Mark pening. Tidak lagi menahan diri ketika sang omega memberikan akses lebar untuk dirinya, Mark menggerakkan jarinya di bibir luar vagina Haechan.
"Kak Haechan ternyata nakal ya, bawa masuk alpha ke rumah gak pakai dalaman"
"Aahhh! Eunggghhahh, Mass Maarrkkhhh" Haechan hanya bisa membalas perkataan Mark dengan desahan ribut.
"Gatel banget ya? Belum di apa-apain udah becek banget nih."
Haechan duduk bersandar dinding, membuka lebar kedua kakinya, menampakkan vagina bersih dengan rona kemerahan cantik kepada Mark yang semakin gencar menggesekkan jarinya pada vagina Haechan.
"Hhahhh.. Mas Mark, enakk, hnggghhaah aaahng"
Kedua tangan Haechan mencengkram kuat ujung kemeja yang dikenakannya, melampiaskan nikmat ketika satu-persatu jari tangan Mark memasuki dirinya.
"Aaahhhh! Ahhh.. eunggghhn!! Hhngghh"
Haechan mendongakkan kepalanya, badannya terangkat dengan kedua mata yang terpejam erat ketika Mark dengan cepat menggerakkan tiga jarinya di bawah sana.
"Ahhh ahhhng Masshh Mark! Mass mau aahh keluaarhh"
Haechan menggenggam lengan Mark yang asik mengerjai lubangnya, berusaha menghentikan sejenak gerakannya ketika dirinya merasakan stimulasi yang berlebihan.
Mark yang melihat Haechan hampir mendapatkan pelepasannya semakin mempercepat gerakan tangannya hingga badan Haechan ikut bergetar dan suara becek dari pergerakan jarinya menemani desahan Haechan.
"Keluarin. Kasih liat gimana janda kalo orgasme" perkataan Mark diakhiri dengan ibu jarinya yang menekan kuat klitoris bengkak Haechan dan mengantarkan sang empunya pada surga dunia.
"AAAHHHHH"
Haechan sampai pada pelepasannya. Cairan putih kental mengalir keluar dari vaginanya. Tubuhnya bergetar merasakan kenikmatan dunia yang sudah lama ia rindukan.
Mark menjilati jarinya yang dilumuri cairan manis Haechan sambil menatap pemiliknya yang masih sibuk mengatur napas,
"Baru dikobelin pake jari aja udah kelojotan, gimana dipenuhin pake knot? Yakin mau dikasih knot?"
Haechan mengangguk cepat, "Mau! Mau dipenuhin pake knot alpha"
Mark terkekeh melihat reaksi Haechan,
"Pindah ke kamar kamu aja ya"
Mark mengalungkan tangan Haechan pada lehernya dan mengaitkan kaki Haechan pada pinggulnya.
"Eungghh" Haechan melenguh ketika merasakan vagina sensitifnya bersentuhan dengan penis tegang milik Mark yang masih tertutup pakaian.
Dengan mengandalkan indra penciumannya, Mark bisa tau di mana letak kamar tidur Haechan, ruangan yang paling kuat menguarkan aroma manis omega di dalam gendongannya.
Mark membuka pintu kamar Haechan dan langsung disambut oleh aroma manis madu dan bunga-bunga segar yang juga sensual. Feromon Haechan yang memenuhi kamar tidurnya bereaksi langsung pada ereksinya yang berdenyut menyakitkan, meminta dibebaskan dari kurungan celananya.
Mark terdiam sejenak untuk mengontrol dirinya. Kemudian, ia langkahkan kakinya menuju ranjang queen size milik Haechan. Ia baringkan Haechan dengan lembut di atas kasurnya.
"Ini yang biasa kamu pakai?" ujar Mark ketika melihat dildo berwarna ungu dengan taburan glitter berukuran sedang milik Haechan.
Haechan hanya menganggukkan kepalanya dengan rona merah menghiasi wajahnya.
Mark mengecup gemas pipi Haechan, "Lucu banget sih kamu"
"Eunggh Mas Markk hhh aaahhh" Haechan mendesah ketika ia rasakan Mark memasukkan dildo miliknya ke dalam lubang senggamanya.
"Mass aaahhh gak mau.. hngghh mau punya Mas Mark aja, gak mau dildo hnggghhh" Haechan merengek, merasa tidak puas hanya dengan dildo miliknya.
"Ssstt.. pakai ini dulu biar gak sakit." Mark sadar bahwa ukuran penisnya jauh lebih besar dari penis imitasi milik Haechan. Ia harus mempersiapkan vagina Haechan yang sudah lama tidak mendapat knot dari alpha sebelum ia gempur dengan penisnya.
Mark kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Haechan sebelum sang omega kembali melayangkan keluhannya.
Mark menggigit bibir bawah Haechan, saling melumat, dan beradu lidah hingga Haechan tidak menyadari kancing kemejanya telah terlepas semua.
Ciuman mereka terlepas dengan napas terengah. Mark memandangi Haechan yang berada di bawahnya. Kancing kemeja yang telah terlepas menampilkan pemandangan tubuh bagian depan Haechan yang berisi dan terlihat lembut. Mark menatap kagum pada buah dada Haechan yang besar dan tampak mengundang untuk ia genggam. Tidak lupa vagina bengkak pasca permainan jarinya yang saat ini tersumpal sebuah dildo berwarna ungu.
"Kamu cowok tapi susunya besar ya?" Mark membisikan kata-kata tak senonoh di telinga Haechan,
"Gak– ahhh aaanggghh" Haechan baru ingin menjawab, tapi perkataannya terputus ketika Mark melayangkan mulutnya pada payudara kiri Haechan dan memainkan payudaranya yang lain dengan tangannya.
Tidak tahu. Haechan ingin menjawab demikian. Dirinya hanya mendengar dokter mengatakan bahwa hormon omeganya sangat kuat sehingga payudaranya tumbuh sejak ia mendapatkan heat pertamanya. Awalnya membentuk gundukan kecil, kemudian terus tumbuh membesar hingga menghasilkan bulatan payudara cantik dengan puting merah merekah yang menghiasi dadanya meskipun ia masih seorang pria.
"AAAHHH HAHHH EUNGGHH"
Haechan mendesah lebih keras ketika Mark mulai menggerakan dildo yang sejak tadi diam menyumpal vaginanya. Dengan mulut dan sebelah tangan masih asik memainkan buah dada lembut Haechan, Mark gerakan dildo keluar masuk di lubang kenikmatan Haechan.
Tangan Haechan mencengkram kuat rambut Mark. Menahan pemiliknya untuk terus memanjakan payudaranya.
"Ahhhh aaahhh!!" Haechan mendongakkan kepalanya. Matanya terpejam merasakan sensasi nikmat di seluruh titik sensitifnya.
Mark yang merasakan Haechan mulai menikmati permainannya, membuat gerakan memutar, berusaha melemaskan otot-otot vagina Haechan dengan dildo yang dikendalikan tangannya.
"Ngggaahhhh aahhh ahhh Mas Markkh"
Pinggul Haechan terangkat. Kakinya melebar, merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan padahal Mark menggunakan dildo yang sama dengan yang setiap bulan ia gunakan untuk menuntaskan heat-nya.
"Aaahh ahhh Mas Mark aahhh akuhh m-mau aaahhh"
Mark mempercepat gerakan tangannya pada dildo milik Haechan ketika merasakan sang omega akan mencapai pelepasan keduanya malam itu.
Mark melepas pagutannya pada payudara Haechan, memberikan kecupan pada dada dan leher Haechan, meninggalkan bercak keunguan yang akan sulit dihilangkan. Kemudian, Mark mengangkat pandangannya, menatap Haechan yang saat ini tengah kewalahan, berusaha mencapai klimaksnya.
"aaahh ahh aahhhhn– AAAHHHH"
Mark memperhatikan semuanya. Melihat dengan tatapan takjub ketika pemandangan indah tersaji di hadapan matanga. Haechan yang mengangkat tubuhnya, membusungkan dada, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, jari-jari tangannya meremas kuat sprei di bawahnya. Lubang kenikmatan di selangkangannya yang bersih dan memerah perlahan mengalirkan cairan putih beraroma manis, semanis feromon miliknya.
Tidak tahan dengan godaan di hadapannya, Mark menarik keluar dildo milik Haechan kemudian dengan cepat menjilati cairan orgasme beraroma manis yang keluar dari vagina sang omega. Mark menjilati dengan nikmat vagina Haechan, puas merasakan manisnya cairan yang terus dikeluarkan dari sana, sedangkan sang omega hanya bisa terus mengeluarkan desahannya.
Masih dengan sisa cairan manis Haechan di bibirnya, Mark mencium bibir Haechan, membiarkan sang omega merasakan rasa manis yang dihasilkannya.
"Cantik, Kak Haechan malam ini cantik sekali" ungkap Mark ketika selesai berbagi rasa manis dengan bibir Haechan.
Mark kemudian bangkit dan melepaskan pakaian yang dikenakannya. Menampilkan dada bidangnya dengan bahu lebar dan otot perutnya yang terlihat jelas. Mark kemudian menurunkan celana beserta dalamannya, membebaskan penisnya yang sudah berdenyut sejak ia pertama kali melangkahkan kaki memasuki rumah Haechan yang dipenuhi feromon manis malam itu.
Vagina Haechan kembali berkedut ketika melihat penis besar milik Mark terpampang di hadapannya. Tubuhnya semakin memanas, perut bawahnya kembali bereaksi menghasilkan dinding vaginanya yang membuat gerakan meremas.
"Mas Mark hngghh"
Mark menangkup wajah Haechan, mencium bibirnya sambil menggesekkan penisnya di lipatan selangkangan Haechan.
Perlahan memasukkan kepala penisnya yang membuat dirinya dan Haechan terkejut. Haechan terkejut merasakan besarnya penis Mark yang baru kepalanya saja sudah terasa memenuhinya. Sedangkan Mark terkejut merasakan rapatnya dinding vagina Haechan meskipun omega itu sudah tidak lagi perawan.
"Maaf ya, kayaknya bakal sakit"
Mark kemudian mencium bibir Haechan, melumatnya dalam-dalam sebelum mendorong penisnya sekali hentak hingga menyentuh pintu rahim Haechan.
"HHHAAAHH"
Desahan Haechan membuat ciumannya dengan Mark terlepas. Tubuhnya kembali melengkung merasakan vaginanya penuh. Seluruh titik manisnya tersentuh oleh penis besar berurat milik Mark. Penuh, sangat penuh Haechan rasakan di area lubang kenikmatannya.
Mata Haechan berair. Dadanya naik turun, berusaha mengatur napas ketika merasakan rasa sakit sekaligus nikmat di dalam vaginanya.
Mark mendekap Haechan. Ia tenggelamkan kepalanya dalam ceruk leher Haechan. Membuat lukisan indah di sana sambil melepaskan feromonnya untuk menenangkan sang omega.
Berusaha mengabaikan penisnya yang berdenyut merasakan pijatan dinding vagina Haechan, ia biarkan sang omega membiasakan diri dengan kehadiran sebuah penis yang memenuhi vaginanya.
"Eummh Mas Mark?"
"Yaa?" Mark mengangkat wajahnya dari leher Haechan. Menatap dalam sang omega sambil tanganya membelai wajah omega cantik di hadapannya, menyingkirkan poni lepek yang menempel di dahinya.
"B-boleh gerak sekarang, Mas."
Mark tersenyum dan mengecup sekilas bibir Haechan. Kemudian, ia raih kedua tangan Haechan dan ia genggam masing-masingnya di samping telinga sang omega. Posisi Mark saat ini seperti memenjarakan Haechan dengan lengannya. Dengan posisi ini pula, Mark bisa menatap dengan jelas wajah Haechan selama penetrasi mereka berlangsung.
Mark menarik perlahan penisnya, menyisakan hanya kepalanya saja di dalam vagina Haechan, kemudian mendorongnya kuat hingga kembali memenuhi sang omega.
"Hahh ahh ahhhhng"
Haechan sudah hanya bisa menerima. Dirinya yang masih lelah pasca heat bulanannya serta orgasme yang dua kali berturut-turut ia dapatkan malam itu membuat ia tidak sanggup membalas perbuatan Mark. Hanya pasrah menerima.
Mark melanjutkan gerakannya. Diawali dengan dorongan-dorongan kuat dan berirama, hingga menjadi dorongan yang tidak beraturan, membuat omega di bawah kukungannya hanya bisa melepaskan desahan erotisnya.
Genggaman tangan Haechan pada tangan Mark menguat setiap kali titik termanisnya di bawah sana disentuh kepala penis milik Mark. Lehernya mendongak ketika Mark memberikannya ciuman-ciuman sensual di sekitar rahang hingga lehernya. Tubuhnya lemas. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kenikmatan dimanja oleh sentuhan alpha seperti saat ini.
Mark menggeram rendah ketika merasakan knot di penisnya mulai terbentuk. Sebentar lagi dirinya akan sampai. Dan ia yakin Haechan juga rasakan hal yang sama karena vaginanya semakin kuat mencengkram penisnya.
Mark mengangkat kepalanya dari leher Haechan, mendapati omega itu terpejam menikmati tusukannya di bawah sana.
"Buka matanya" perintah Mark kepada sang omega.
Haechan perlahan membuka matanya. Pandangannya yang sayu langsung bertemu dengan tatapan dalam alpha di atasnya. Wajahnya merona, malu ketika harus berhadapan langsung dengan seorang alpha di tengah kondisi terlemahnya.
"Aaahhh ahhh ahhh nggghh"
Desahan Haechan menjadi tidak terkendali ketika Mark mempercepat tusukannya.
Mark fokus, berusaha mengejar pelepasannya dengan Haechan. Ia menggeram rendah sambil menatap Haechan yang sesekali terpejam, tidak kuat menahan kenikmatan dari gerakannya.
"Ahhh hhh aaaahh"
Gerakan pinggul Mark semakin kuat, cepat, dan dalam ketika ia rasakan penisnya membesar di dalam vagina Haechan.
Kemudian, dua dorongan terakhir dari sang alpha membawa dirinya dan sang omega menuju pemandangan putih surga dunia.
Penis sang alpha menyemburkan banyak tembakan sperma, bercampur dengan cairan putih sang omega. Knot besar sang alpha menyumpal bibir vagina omeganya, hingga tidak ada setetespun cairan kenikmatan yang terbuang sia-sia.
Mark menatap wajah cantik omega di bawahnya. Menyaksikan sang omega yang matanya kembali terpejam ketika mencapai pelepasannya sambil berusaha mengatur napas dengan bibir penuhnya yang terbuka.
Masih dengan dada yang naik turun, Haechan membuka kelopak matanya dan dihadapkan dengan Mark yang tersenyum lembut menatapnya. Wajahnya memerah hebat. Tidak menyangka dirinya baru saja menggoda penjual nasi goreng di depan rumahnya hingga menghabiskan malam panas berdua dengannya.
"Lho? Gerobak kamu?" Haechan bertanya panik ketika mengingat gerobak nasi goreng Mark yang masih terparkir di depan rumahnya.
"Ssstt.. gak usah dipikirin. Ini masih gak bisa digerakin juga, kan?" balas Mark sambil kepalanya merunduk menunjuk ke arah penyatuan mereka yang masih terikat knot besar milik Mark.
Haechan kembali bersemu mengingat penyatuan mereka, membuat Mark terkekeh.
"Kamu istirahat aja dulu" ucap Mark diikuti dirinya yang sedikit mengangkat tubuh Haechan dan membuat keduanya berbaring menyamping, saling berhadapan dan masih menyatu.
Mark mengecup lembut dahi Haechan dan menarik selimut dengan kakinya. Haechan dengan cepat memejamkan matanya dan jatuh terlelap, melemaskan tubuh lelahnya yang bertubi-tubi ditimpa kenikmatan surga dunia.
