Actions

Work Header

Break up?

Summary:

Jungwoo mulai sadar kalau selama ini ia dan Jaehyun berada di hubungan yang tidak sehat. Namun, Jaehyun dan sifat manipulatifnya bisa membalikkan keadaan untuk bisa membuat Jungwoo menjadi milik Jaehyun seutuhnya.

Notes:

PLEASE READ TAGS BEFORE CONTINUE READ MY WORKS!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Jae, aku mau putus.”

Suara Jungwoo memecah keheningan di dalam mobil yang sedari tadi hanya ada atmosfir canggung diantara mereka berdua. Sejak pertama kali masuk ke dalam mobil, Jaehyun hanya terdiam dan begitu juga Jungwoo yang tak seperti biasanya layaknya Jungwoo yang ceria; memeluk dan bermanja pada sang kekasih, Jung Jaehyun, seperti apa yang selalu ia lakukan setiap mereka bertemu.

Namun malam ini berbeda, Jungwoo datang dengan wajah datar dan mulut terkunci, dengan otak yang berisik dipenuhi berbagai macam pertanyaan tentang hubungan ia dan sang kekasih.

Jungwoo malam ini akhirnya menyadari, bahwa hubungan diantara keduanya; ia dan Jaehyun sudah tidak sehat.

 

Jung Jaehyun itu licik.

Jung Jaehyun itu manipulatif.

Jung Jaehyun itu, toxic.

Jung Jaehyun itu toxic.

 

Sifat obsesif-posesif Jaehyun membutakan mata dan hati Jungwoo selama ini. Kalimat sayang dan cinta yang selalu dirapalkan bak mantra kepada Jungwoo, hanya membuat ia terjerat pada hubungan tak sehat ini, membuat ia tuli pada semua nasehat sahabatnya. Menurut Jungwoo, itulah cara Jaehyun mencintainya. Jaehyun mencintainya. Apakah Jaehyun mencintainya?

Tapi malam ini, Jungwoo menyadari ia hampir kehilangan banyak hal; kehidupan sosial, privasi, dan kebebasan yang dulu ia punya sebelum dengan Jaehyun. Setelah berpacaran denga Jaehyun, otaknya seperti disetel agar ia hanya bisa bergantung pada Jaehyun, hanya Jehyun yang peduli padanya, dan hanya Jaehyun yang mencintainya.

Tapi ini tak akan terjadi lagi, kalimat yang dilontarkan Jungwoo di keheningan malam ini pasti akan membuat ia bisa mengembalikan kebebasannya. Benar kan, Jungwoo?

“Why?”

Akhirnya satu kata dari Jaehyun kembali memecah keheningan, membuat Jungwoo menoleh ke arah sang kekasih.

Why?

‘Kamu itu merenggut kebebasanku, kamu membatasi semua hubungan sosialku, bahkan kamu mengetahui semua kegiatanku. Apakah itu wajar dilakukan seorang pasangan? hanya psikopat obsesif yang melakukannya!’

Berkecamuk pikiran Jungwoo, ia ingin meluapkan semuanya kepada Jaehyun, agar ia bisa pergi dari jerat yang dibuat oleh Jaehyun. Tapi, logika pun belum bisa mengalahkan perasaan bahwa ia tak ingin menyakiti Jaehyun; yang keluar dari mulut Jungwoo tak selaras dengan apa yang ia pikirkan.

“I just want to.” Jawab Jungwoo.

“Why, Jungwoo? You’re not love me again?”

“Not that.. I-”

“But I really love you, Jungwoo. You’re my everything, I’m nothing without you. I’m sorry if I can’t make you happy. I know you’ll said that, I’m a mess, right?”

Lagi. Ini adalah cara manipulatif Jaehyun untuk tetap menjerat sang kekasih; meminta maaf, dan membuat Jungwoo merasa bersalah atas apa yang diucapkannya. Hey, seharusnya Jungwoo yang menjadi korban dalam hubungan toxic ini. Tapi dengan lihai Jaehyun memutar balikan keaadan, membuat seolah Jungwoo adalah dunianya, seolah Jungwoo adalah segalanya baginya. Padahal dibalik kalimat licik itu, Jaehyun hanya ingin Jungwoo tetap berada disisinya, mengontrol kehidupannya semau Jaehyun, dan membuat Jungwoo terobsesi padanya, sebagaimana ia terobsesi pada Jungwoo.

“Tapi- Jaehyun..”

“Ya, sayang?”

“Aku mau put-”

 

Cup.

 

Jaehyun mencium bibir Jungwoo sebelum kalimatnya selesai, membuat Jungwoo terdiam. Sekilas mata si obsesif menunjukkan kesedihan, Jaehyun terlihat berkaca-kaca; untuk menunjukkan pada Jungwoo tentunya, bahwa ia tak ingin hubungan ini berakhir. Jungwoo adalah miliknya.

Dan Jungwoo.. Luluh dengan perangkap racun Jaehyun.

Perlahan tangan Jungwoo mengusap pipi yang lebih tua, hatinya sesak bukan main. Ia bahkan tak tahu dengan apa yang sebenarnya ia rasakan saat kembali menatap kedua netra Jaehyun.

 

“Maaf, Jaehyun. Maaf aku ngomong kaya gitu..”

 

Jaehyun mencintainya, kan?

 

“Its okay, baby. You know that I love you, right?”

 

Ya, Jaehyun mencintainya.

 

Jungwoo mengangguk, dan tersenyum tipis. Sesaat kemudian bisa ia rasakan bibir lembut Jaehyun menyapa bibirnya, yang tentu tidak ia tolak. Sejak awal, Ciuman Jaehyun selalu menjadi candu.

Kenyataannya, Jungwoo bukan hanya terjerat ucapan manis Jaehyun, namun juga tubuhnya yang dibuat Jaehyun tidak bisa lepas dari sentuhan dan buaian kekasihnya itu. Begitu pula si obsesif Jaehyun yang selalu bisa meluluhkan hati Jungwoo; untuk merelakan tubuhnya dipakai oleh Jaehyun.

Jungwoo adalah milik Jaehyun seorang, begitu juga tubuh molek Jungwoo.

Sesi ciuman lembut kini menjadi sesi ciuman basah dimana tubuh Jungwoo kini sudah pindah ke pangkuan Jaehyun; dengan kancing kemeja Jungwoo yang sudah tanggal, dan pengait celana Jungwoo yang sudah terlepas.

Permainan lidah yang tak diberi jeda oleh Jaehyun membuat saliva kian menetes dari sudut bibir sang submisif, Jungwoo sudah berantakan sedangkan Jaehyun belum membuka satu kancing pun. Jaehyun ingin membuat Jungwoo semakin terjerat, semakin bergantung padanya dan bukan pada siapapun.

Pinggang ramping Jungwoo tak luput dari sentuhan Jaehyun, tiap inci kulit Jungwoo terasa bagai sutera, halus dan bersih dari luka; karena hanya Jaehyun yang boleh meninggalkan luka. Dicium dan dihirup aroma tubuh Jungwoo oleh sang kekasih, disesapi lehernya dengan hidung mancung Jaehyun. Geli, juga menggoda. Jaehyun mulai memainkan lidahnya disana, menciumi ceruk leher Jungwoo juga tulang selangkanya yang tercetak jelas.

“Ahh- Jaehyun..”

Desahan merdu Jungwoo adalah adiksi bagi Jaehyun, ia ingin selalu memberikan Jungwoo kenikmatan dunia yang hanya bisa diberikan olehnya, bukan oleh orang lain. Karena itu, Jaehyun mulai meninggalkan jejak teritorinya di kulit mulus Jungwoo. Bercak-bercak merah di leher Jungwoo itu tak akan hilang dalam beberapa hari. Kalau hilang? Jaehyun akan membuatnya lagi.

Nafas Jungwoo memburu, ia tatap Jaehyun dengan sayu. Jaehyun tak pernah bosan menatap raut wajah Jungwoo yang sudah tak dibalut ragu. Jungwoo, anak anjingnya yang dulu pemalu; kini mudah terhipnotis dengan nafsu.

“Jaehyun, Jaehyun..”

“Yes, baby?”

“Please fuck me.”

Dulu Jaehyun bilang, kalau ia sangat mencintai Jungwoo dan tak akan meninggalkan Jungwoo. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan bukan untuk memberikan segalanya untuk Jaehyun? Termasuk seluruh tubuhnya, agar bisa dipakai Jaehyun seenaknya.

 

Dengan deklarasinya itu, Jaehyun mulai menanggalkan satu persatu kain di tubuh Jungwoo. Agak kesulitan memang karena posisi mereka saat ini berada didalam mobil di parkiran basement sebuah pusat perbelanjaan. Namun sepertinya dua insan ini tak begitu peduli. Publik seks bukan hal yang baru bagi mereka.

Jaehyun menyisakan kemeja putih yang tak dikancing di tubuh Jungwoo, menurutnya ini membuat Jungwoo terlihat lebih manis. Masih di pangkuannya, ini membuat Jaehyun leluasa menggerayangi tubuh kekasihnya. Ia menyentuh tiap inci tubuh Jungwoo mulai dari punggung lalu turun ke bongkahan bulat yang kini Jaehyun remas. Membuat si empunya mendesah lebih merdu. Jaehyun? Penisnya sudah terlampau tegang dibalik celananya; membuat sebuah tonjolan besar yang kini Jungwoo duduki dengan senang hati, menggesekan penis telanjangnya ke gundukan keras Jaehyun, merasakan bagaimana kain kasar itu melecehkan penisnya yang menyedihkan meneteskan sejumlan cairan bening.

“Puppy, you dirtying my clothes. Sange banget ya sayang?”

Ditanya begitu, Jungwoo semakin merengek, meminta lebih.

“Rubs yourself on me, puppy.” Jaehyun mendikte apa yang harus dilakukan oleh Jungwoo. Pribadi Jungwoo yang sekarang, yang tak sungkan dilecehkan di dalam mobil seperti ini adalah hasil setelah sekian lama mereka berhubungan; hasil Jaehyun dan kata-kata manisnya, bahwa semua ini adalah sebuah bentuk cinta dan kasih sayang yang wajar dilakukan oleh setiap pasangan. Terbentuk seorang Jungwoo yang binal.

Jungwoo menuruti kata-kata Jaehyun, walaupun ini adalah hal baru baginya.

“hhaa- ahh.. Jaehyun!” Pahanya bergetar,

“So pretty for me, Jungwoo. Look at you.” Jaehyun mengusap pipi Jungwoo dengan ibu jarinya, berakhir dengan memasukkan jarinya ke dalam mulut Jungwoo; untuk dihisap dengan suka rela. Tangan Jaehyun yang lain melepas kaitan celananya dan membebaskan penis tegangnya yang langsung menyentuh milik Jungwoo; jika dibandingkan seperti ini, ukuran penis Jungwoo terlihan jauh berbeda dengan Jaehyun, it’s humiliating for Jungwoo.

“So small, how can you fucked someone with this?”

“They won’t find any pleasure by your small clit, Jungwoo.”

“You were born to be fucked, by me.”

Jungwoo melihat ke arah bawah, dimana penis mereka berada. Apakah ini halusinasinya atau memang penis Jaehyun memang sebesar itu? baru membayangkannya saja sudah mampu membuat lutut Jungwoo lemas, memikirkan bagaimana penis Jaehyun dapat dengan telak menyentuh prostatnya. Jungwoo pun berhenti bergerak.

“Kenapa berhenti, sayang?” Tanya Jaehyun dengan lembut, ibu jarinya yang tadi dikulum oleh Jungwoo kini basah oleh saliva. Ia membawa jarinya untuk menyentuh pucuk dada sang sumbisif; yang terlampau sensitif. Buktinya hanya dengan sekali sentuh, Jungwoo tiba-tiba menghentakkan tubuhnya karena rasanya sangat aneh. Putingnya lalu Jaehyun mainkan dengan cara ditekan dan diputar berulang kali, sampai puting Jungwoo mecuat memerah, tegang.

Dada Jungwoo sangat rata, namun dengan putingnya yang sudah dimainkan oleh sang kekasih, dada Jungwoo sempurna bagi Jaehyun. Apalagi ketika kini Jaehyun sudah mulai memainkan puting itu dengan mulutnya, memutar lidahnya di sekitar aerola, dan kembali menekan puting Jungwoo dengan lidahnya. Permainan lidah Jaehyun pada puting Jungwoo sukses membuat sang submisif melepaskan desahan indah, juga meloloskan sperma pertamanya malam itu; tanpa sentuhan Jaehyun sama sekali.

“What a slut, coming untouched.” Jaehyun menghentikan permainannya di puting Jungwoo, memandangi wajah Jungwoo yang masih menikmati pelepasannya. “Enak, hm? Keluar cuma dari dimainin pentilnya?”

Jungwoo mengangguk.

“Emang saya kasih izin kamu boleh keluar?”

Deg.

Mata Jungwoo menatap nanar pada Jaehyun, rasanya ingin sekali ia menangis. Di dalam dirinya, ia mengetahui bahwa ini semua salah, mengapa Jaehyun mempunyai semua kontrol dalam dirinya? dan mengapa- ia malah lebih terangsang akan hal itu. Pikirannya berhenti berproses, terlalu banyak emosi yang ia rasakan, terlalu tolol untuk memikirkan hal yang realistis; bahwa Jaehyun hanya membawanya jatuh jauh ke dalam jurang. Jungwoo sudah terjebak, Jungwoo sudah tak perlu berpikir lagi sekarang..

Ia memang membutuhkan Jaehyun.

“M- maaf, Jaehyun..” Bergulir air mata Jungwoo membuat sebuah jejak basah di pipinya, kini Jungwoo sudah benar-benar dibawah kontrol kekasihnya; Ia hanya akan mendengarkan apa yang Jaehyun katakan.

Melihat kekasihnya menangis dan meminta maaf, Jaehyun mengusap air mata di pipi Jungwoo dengan lidahnya; menikmati setiap rasa dari air mata kekasihnya yang sudah tunduk padanya. Sudut bibir Jaehyun naik, ia tersenyum akan kesuksesannya.

“It’s okay baby, next time you just need to ask me first and listen to me.” Bisik Jaehyun kepada Jungwoo yang masih terisak. Jungwoo bahkan semakin cantik jika sedang menangis, batin Jaehyun.

Anggukan kepala Jungwoo bisa ia rasakan, Jaehyun kembali memundurkan wajahnya agar bisa melihat Jungwoo dengan lebih jelas.Tangannya menggapai pengatur kursi untuk memndurkan jok mobil yang ia duduki, meciptakan ruang yang cukup luas di bawah setir; untuk Jungwoo.

“On you knees, and you know what should you do, right?”

“Yes, Jaehyun.”

Jungwoo menurunkan tubuhnya, berlutut di hadapan Jaehyun. Tepatnya berhadapan dengan penis Jaehyun yang sudah tegang dan panjang, yang selalu membuatnya kesulitan jika harus memasukan seluruhnya di dalam mulutnya.

“I already trained your mouth often, don’t dissappoint me today.” Ucap Jaehyun saat kekasihnya sudah berlutut dihadapannya, perlahan ibu jarinya menyentuh bibir bawah Jugnwoo untuk membuat mulut itu terbuka. Mulut kecil Jungwoo; hal sempurna yang ingin ia setubuhi setiap hari.

Jungwoo menggenggam penis Jaehyun dengan tangannya, lalu mulutnya mulai mendekat ke ujung penis kekasihnya untuk ia kulum, ia mainkan lidahnya disana. Membuat Jaehyun menggeram akan sensasinya. Setelah puas bermain disana, Jungwoo kini mencoba memasukan penis Jaehyun ke dalam mulutnya, dan berusaha untuk tidak mengenai giginya.

Baru setengah, Jugnwoo mengeluarkan penis Jaehyun dari mulutnya. Terlihat benang saliva menggantung antara bibir dan penis sang dominan. Lagi, Jungwoo kembali mencoba memasukan seluruh benda panjang itu ke dalam mulutnya. Jungwoo tersedak, namun ia masih berusaha memasukannya.

Jaehyun memperhatikan setiap gerakan Jungwoo, ia pun tahu bahwa Jungwoo tersedak. Ia tak berbicara apapun namun menarik rambut kekasihnya itu agar kembali menatapnya; yang dengan otomatis membuat kegiatan Jungwoo terhenti.

“You never learn, don’t you?”

Tangan Jaehyun yang lain dipakai untuk menepuk-nepuk pipi Jungwoo, lalu membuat kekasihnya untuk membuka mulut lebar-lebar, agar Jaehyun bisa mengarahkan penisnya ke sana. Kepala Jungwoo masih dalam kuasa sang kekasih, maka disaat Jungwoo memulai kembali memasukan penis Jaehyun ke dalam mulutnya. Jaehyun dengan sengaja menekan kepala Jungwoo ke bawah; untuk menelan penis itu seluruhnya, tak peduli dengan Jungwoo yang terus tersedak. Jungwoo harus mendapatkan pelajaran.

“You should learn how to take my cock.”

Beberapa detik kepala Jungwoo ditekan untuk menelan seluruh penis kekasihnya, sampai pucuk hidungnya bertemu pelvis sang kekasih, membuat Jungwoo kembali berderai air mata. Tangnnya menggenggam erat paha Jaehyun tapi nyatanya sang dominan tak peduli. Jaehyun menikmati tiap rongga mulut dan tenggorokan Jungwoo yang hangat di sekitar penisnya. Mungkin jika leher Jungwoo diraba, akan terasa penis Jaehyun tercetak cantik disana.

Jaehyun melonggarkan pegangannya pada kepala Jungwoo, membuat Jungwoo bisa sedikit mengambil nafas. Wajahnya berantakan, saliva bercucuran dari sudut bibir Jungwoo hingga ke leher. Tapi tak berlangsung lama. Jaehyun kembali melesakkan penisnya ke mulut hangat Jungwoo, kali ini tubuh Jaehyun ikut bergerak. Menggerakkan pinggulnya; menyetubuhi mulut Jungwoo sesuka hati.

“When I told you to learn, you better understand it.”

“When I told you to not to hanging with other guys, you should listen to me.”

“Who do you think you are want to break up with me?”

Gerakan Jaehyun semakin cepat menyodok mulut Jungwoo di setiap kalimatnya, nafsu dan emosi menjadi satu, membuat Jungwoo kewalahan.

“But you never listen to me, don’t you?” Jaehyun akhirnya menarik rambut Jungwoo, menyudahi kegiatan melecehkan mulut kekasihnya. Otomatis wajahnya menghadap ke arah sang dominan, menunjukkan bibirnya yang memerah basah berantakan dengan saliva. Jungwoo is fucking sexy, batin Jaehyun.

“Shh- so.. rry. Sorry, Jaehyun.” Kembali air mata Jungwoo bercucuran, mulutnya nyeri, lututnya perih sedari tadi berlutut dan bergesekan dengan karpet di dasar kursi; tapi, jauh di dalam dirinya, Jungwoo menikmati semua ini, yang ia rasakan membuat penisnya menegang bi bawah sana dan mengucur semakin banyak lendir bening dari ujungnya. Sangat berbeda dengan apa yang otaknya pikirkan, bahwa ini semua salah, tak seharusnya Jungwoo menikmati semua perlakuan kasar ini.

Tapi mau apalagi? Jaehyun sudah merusak akal sehatnya, merusak tiap sel kewarasannya. Kini ia hanya bisa bergantung kepada Jaehyun.

“Puh- please..”

“Please what?”

“Fuck me, Jaehyun.”

“Why should I?”

Jungwoo semakin terisak, penolakan dari Jaehyun membuat Jungwoo berpikiri bahwa Jaehyun sudah tidak mencintainya. Melihat Jungwoo kembali menangis, segurat senyum licik terpatri di sudut bibir Jaehyun.

Jaehyun berhasil.

Saat Jungwoo ingin berdiri; untuk mendekati Jaehyun. Jaehyun dengan cepat menahan tubuh Jungwoo untuk kembali berlutut dengan menginjak paha Jaehyun dengan kakinya. “Ngapain berdiri?” Jungwoo tak menjawab, hanya isakan yang terdengar.

 

“Cantik, I will fuck you later. Tapi anjing nakal harus dihukum dulu.”

Dihukum.

Dihukum.

Dihukum.

Jungwoo tak pernah dihukum Jaehyun selama ini; tepatnya disaat mereka berhubungan seks. Mendengar kata dihukum sukses membuat darah Jungwoo berdesir.

Sesaat kemudian bisa ia rasakan kaki Jaehyun berada diantara pahanya, yang otomatis kain dari celana Jaehyun langsung bergesekan dengan penis Jungwoo. Tak hanya itu, Jaehyun menekan kakinya lebih dalam; Jungwoo yang tak bisa mundur kemanapun hanya bisa mendesah dan berusaha menahan kaki sang dominan.

“Kenapa? suka kan kontolnya digesek-gesek begini?”

“Jae- Akh! Sakit..” Jungwoo tak bisa berdiri, kakinya terlalu lemas namun berlutut terus seperti ini pun membuat lututnya lecet dan berdarah. Dengan Jaehyun yang masih setia mempermainkan penis nya di bawah sana, perlahan pikiran Jungwoo mulai terlaihkan pada kenikmatan yang kaki Jaehyun berikan. Pre-cum nya semakin deras, walaupun sudah sekali keluar tapi penisnya masih mengacung tegang.

“Gerak, gesek-gesekin terus biar kayak anjing lagi birahi”

Air mata Jungwoo sudah tak keluar, ia sudah terlanjur tolol dan mengikuti semua perintah Jaehyun. Jika ia ingin dimaafkan, ia harus menuruti kemauan Jaehyun. Jadilah ia sekarang menggerakkan pinggulnya bak menyetubuhi kaki Jaehyun, tak lepas pandangan Jaehyun dari kekasihnya itu, sungguh cantik, Kim Jungwoo.

“Nghh J-jae.. Mau keluar.” Jungwoo menatap Jaehyun memohon, namun tak menghentikan kegiatannya. Spermanya sudah diujung, namun ia ingat kalau ia tak boleh keluar sebelum ada izin dari kekasihnya.

“Udah mau keluar lagi? Ckck. Dasar lonte. Pake kaki aja udah keenakan, ngga butuh kontol lagi?”

Jungwoo menggeleng cepat; ia butuh, ia butuh Jaehyun memasukinya malam ini.

“Tahan.”

Jungwoo menggigit bibir bawahnya, ia sungguh tak bisa menahannya jika harus terus seperti ini, maka kini Jungwoo memperlambat gerakannya dan berusaha memikirkan hal lain. Tapi pemuda bernama Jaehyun itu ternyata tak tinggal diam, ia terus menekan dan menggesek penis Jungwoo dengan cepat; ia menahan pundak Jungwoo agar tak beranjak atau pergi kemanapun, bahkan sepatu Jaehyun ikut terasa menekan buah zakar kekasihnya. Jungwoo amat tersiksa, tubuhnya terlonjak senada dengan gerakan kaki Jaehyun; dan seperti yang diduga, “J-jae! AHHHH!”

Meleleh sperma Jungwoo dari ujung penisnya setelah Jungwoo dengan susah payah menahannya, diikuti dengan tubuhnya yang ikut bergetar seraya dengan klimaksnya yang kedua, yang menyakitkan.

Jaehyun yang tahu kalau kekasihnya itu keluar lagi, menarik kasar rambut Jungwoo agar kekasihnya itu beranjak dari posisi berlututnya; untuk kembali berada di pangkuan Jaehyun. Kondisi Jungwoo sangat menyedihkan, juga menggairahkan bagi Jaehyun. Lututnya yang berdarah karena lecet, penis kecilnya yang terus melelehkan cairan putih, dan wajah cantik Jungwoo yang terus menangis.

“Cantik, tapi baru disuruh tahan aja nggak becus. Kamu bisanya apa sih, sayang? Hm?” Tanya Jaehyun sambil menepuk-nepuk pipi Jungwoo dengan tangannya yang lain. “Bisanya jadi lonte doang kan?”

Jungwoo terisak, ia mengangguk kecil.

“Kalo ditanya, jawab pake mulut. Jawab yang bener. Mau kan lubangnya dipake malem ini?” Tanya Jaehyun lagi, kini tangannya turun ke bawah untuk menemukan lubang Jungwoo; memainkannya dari luar.

Jungwoo mendesah, ia mengangguk kembali. “Ngh- Akh! Bisa.. Bisa jadi lontenya Jae!”

Jaehyun ternyesum penuh kemenangan mendengar jawaban yang keluar dari bibir kekasihnya, Jungwoo sudah sepenuhnya miliknya, sepenuhnya dalam kuasanya.

Tanpa merespon pernyataan Jungwoo, Jaehyun langsung membalikkan tubuh jungwoo dengan mudah; membuat kekasihnya itu kini membelakanginya dan menghadap ke arah depan, Jungwoo yang sudah hampir kehabisan tenaga hanya bisa menahan tubuhnya dengan berpegangan ke setir di hadapannya.

Jaehyun mengambil sisa sperma Jungwoo dan membuatnya sebagai lube untuk permainan mereka; tak ada waktu untuk mengambil lube asli yang ia taruh di tasnya yang berada di kursi belakang. Jaehyun juga ingin segera memasuki Jungwoo. Malam ini kenyang sudah seluruh egonya dengan melihat keadaan Jungwoo saat ini.

Perlahan namun pasti, penis Jaehyun mulai membuka jalan ke lubang sempit Jungwoo dengan sperma Jungwoo sendiri sebagai lube. Sang submisif mendesah kuat merasakan penis kekasihnya yang cukup besar itu mulai mencoba memasukinya, tangannya berpegangan kuat pada apapun yang bisa ia gapai.

 

“Jae! AHH! S-sakit..”

“Masih sempit terus aja sih, apa perlu kita ngewe-nya tiap hari biar jadi longgar?”

 

Jungwoo tak menjawab, ia bisa merasakan penis Jaehyun yang sudah masuk setengahnya, ditambah dengan tangan Jaehyun yang terus menahan pinggangnya agar tak berontak kemanapun. Jaehyun menekan terus, terus hingga penis besar Jaehyun masuk seluruhnya; membuat Jungwoo gelagapan, mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan desahan.

Tangan Jaehyun masih mendekap pinggang ramping Jungwoo, ia menggeram merasakan lubang sempit kekasihnya memijat-mijat penisnya di dalam sana, tak ada yang lebih sempurna dari tubuh sang submisif. Kim Jungwoo adalah adiksinya.

“Fuck, baby. So tight.” Jaehyun mulai menggerakkan pinggangnya, merasakan lubang Jungwoo yang hangat memompa penisnya.

“Jae- Jaehyun!” Jungwoo terus merapalkan nama kekasihnya tiap titik manisnya disentuh oleh ujung penis kekasihnya telak. Juga tangannya yang ia letakkan di perutnya tak sengaja merasakan bagaimana penis Jaehyun bergerak; semua ini membuat Jungwoo hilang akal.

“Enak, sayang?” Jaehyun yang mengetahui itu; karena ia juga langsung mengusap bagian perut bawah Jungwoo dan ikut menekan tangan Jungwoo untuk semakin merasakannya.

“Enak, akh- ampun nghhh.” Otaknya tak berproses lagi, hanya kenikmatan yang dirasakan oleh Jungwoo, semua dikalahkan oleh nafsu. Mulutnya memohon ampun, tapi tubuhnya sangat menunjukkan bagaimana Jungwoo menikmatinya. Penis kecilnya yang tak disentuh sejak tadi terus melelehkan cairan bening; seolah sudah tak ada sperma yang sanggup keluar, dikuras habis oleh perbuatan Jaehyun sejak tadi.

Beberapa menit tubuh Jungwoo dikuasai Jaehyun, terlonjak mengikuti irama sodokan sang dominan; dengan kakinya yang menggantung, kini Jungwoo benar-benar tak punya kuasa lagi, ia dipakai bak boneka seks untuk memuaskan penis Jaehyun.

Jaehyun tak peduli kondisi kekasihnya, ia hanya fokus mencari pelepasan. Sodokan Jaehyun semakin cepat, menandakan klimaks yang akan segera tercapai. Jungwoo hanya bisa menyandar pada tubuh bagian depan kekasihnya, masih dengan tangannya yang terus merasakan tonjolan penis Jaehyun di bawah perutnya, sesekali ikut menekannya untuk membuat Jaehyun semakin bersemangat merusak lubangnya.

Sang dominan menggeram, menekan kuat pinggang Jungwoo ke bawah untuk menelan penisnya seutuhnya. Jungwoo bisa merasakan hangat sperma Jaehyun mengisi lubangnya; penuh. Kakinya yang menggantung terus gemetar merasakan bagaimana Jaehyun terus mengisinya diikuti dengan sebagian dari cairan kental itu lolos ke sela-sela lubang Jungwoo.

“Jaehyun, penuh..”

“Shh, enak kan sayang perutnya diisi?”

Jungwoo mengangguk lemah. Sudah tolol rupanya, kekasih Jung Jaehyun ini.

“Mau diisi lagi?” Jaehyun mengusap pelan perut Jungwoo yang kini masih bersarang penisnya disana. Jawaban dari sang kekasih hanya gelengan kepala lemah, “Capek, Jae. Penuh..”

“Hhh, dikit lagi, ya. Masih ada yang mau dikeluarin.” Ucap Jaehyun sambil meninggalkan beberapa kecupan di pundak Jungwoo.

Mereka terdiam di posisi itu beberapa saat, Jungwoo dengan mata yang setengah tertutup menoleh ke arah Jaehyun bertanya-tanya karena Jaehyun hanya diam.

Jaehyun yang mengetahui itu, malah memasukan dua jarinya untuk Jungwoo kulum; yang dengan senang hati Jungwoo mengulumnya bagaikan ia melahap penis Jaehyun.

Sang dominan lalu mendesah, dan Jungwoo; tersedak dengan desahan yang ingin ia keluarkan namun tertahan karena kulumannya di jari Jaehyun. Ia kembali merasakan sesuatu mengisinya; deras.

 

 

“St- STOP AKH! JAEH-”

 

 

Jungwoo meremat paha kekasihnya, berusaha bangkit. Namun tak ada tenaga dibandingkan dengan kekasihnya yang bertubuh kekar, Jaehyun menahan pinggang Jungwoo agar diam ditempat; selagi Jaehyun mengencingi lubang kekasihnya dari dalam.

Jaehyun ikut menggeram puas, si dominan sinting itu terpana bagaimana Jungwoo sangat sempurna; baginya Jungwoo tak kekurangan sesuatu apapun, dan bagaimanapun Jungwoo adalah miliknya, dan ia menandai apa yang menjadi miliknya.

Rematan tangan Jungwoo semakin melemah, hanya nafas sang submisif yang terdengar oleh Jaehyun. Jungwoo sudah tak bisa melawan, atau menolak. Tak ada yang bisa dilakukan Jungwoo untuk melawan.

Ia sepenuhnya milik Jaehyun.

Jaehyun dengan mudah memindahkan tubuh Jungwoo kembali ke kursi disebelahnya saat aktifitas mereka sudah selesai. Tubuh Jungwoo meringkuk dan terisak pelan hampir tak terdengar, dari lubangnya mengalir sisa sperma dan cairan kencing Jaehyun. Pemandangan yang Jaehyun tak akan pernah mau ia tukar dengan apapun.

“Jungwoo, let's clean up, hm?” Suara lembut Jaehyun kembali terdengar bagai tak pernah mengeluarkan kata-kata kotor sedikitpun. Jaehyun mengusap rambut Jungwoo perlahan, memperlihatkan wajah Jungwoo yang kini sudah terlelap.

Sudut bibir Jaehyun naik, usaha Jungwoo mengakhiri hubungan mereka begitu membuat Jaehyun marah. namun ia yakin sekarang; bagaimanapun, Jungwoo tak pernah akan pergi darinya.

Jaehyun mengeluarkan ponselnya, menyalakan kamera dan diarahkan ke tubuh polos Jungwoo yang kini sudah berantakan.

 

Click.

Click.

Click.

 

“So pretty, my Jungwoo.” Jaehyun tersenyum puas dengan hasil jepretannya, kemudian memindahkan foto-foto Jungwoo tadi ke dalam folder khusus favoritnya, yang berisi foto-foto serupa.

 

 

 

[ Preparing to move.. ]

███████▒▒▒ 70%

 

 

[ File saved to : ]

[ Jungwoo❤️ ] [256 photos]

Notes:

Thank you for reading my works! I hope you enjoy it, hehe😝

Oh, now I'm on twt too ( @sinsbeforsleeps ), don't hesitate to reach me to be mutuals and maybe give me suggestions for my next work! Hehe don't worry I'm not bite.

You can gimme tip to appreciate my works :


https://trakteer.id/sinsbeforesleeps/tip?quantity=1

 

Thank you!💕