Work Text:
Kaya Raya, dua frasa itu menjadi pembuka obrolan antara dua pemuda awal dua puluhan. Ditemani dua cangkir kopi hitam dan rokok satu bungkus. Dibawah naugan purmana, didepan teras rumah sengketa.
“Pik, kalo lu kaya raya mendadak gimana? Misal lu dapet dua milyar! Lu mau apa?” Pemuda dengan surai hitam lurus menengok pada si kacamata.
Si lawan bicara tak terlalu ambil pikir pada pertanyaan sang sahabat. Ia menyesap kuat putung rokok yang terapit pada belah bibirnya. “Hmm.” Gumam si Kacamata, Piko Subiakto disela asap rokok yang membumbung.”Mau nikah kali.”
Mendengar jawaban tersebut hampir membuat si penanya tersedak kopi.”Anjir lu, dari sekian banyak hal yang bisa lu lakuin dengan banyak uang, tapi lu milih nikah?”
Piko mngernyitkan alisnya, memang jawabannya salah? Pemuda ikal itu mandang Yusuf Hamdan, heran.”Lha terus salahnya dimana?”
“Y-ya nggak salah sih. Cuma nggak ada yang lain gitu? Rumah kek, mobil kek, jalan-jalan ke luar negeri kek. Apa gitu kek?”
Temannya menghela nafas geli. Dibuangnya putung rokok yang sudah memendek.”Lagian ya Cup, uangnya aja baru hayalan masa’ udah mikir jauh-jauh.”
Yusuf-Ucup memukul pelan belakang kepala rekannya.”Kan seumpama gimana sih? Halu dulu lah. Halu ‘kan nggak dosa.”
“Emang lu mau ngapain kalo punya dua Milyar?” Ucup mengusap dagunya pelan. Kepalanya sedikit tengadah, otaknya mulai membuat skenario ‘seandainya-punya-uang-dua-em’.
”Gua mau beli rumah Pik. Rumah gede, halamannya luas, lantai tiga. Beli Mobil, beli saham.” Pemuda itu tersenyum bangga.
“Habis itu nikah?” timpal Piko jenaka.
“Nikah mulu perasaan dah!” Piko tertawa.
"Kebelet nikah lu? Ayo ke KUA aman gua." sebuah bogem pelan mendarat pada bahu Ucup.
"Apaan sih ga jelas!"
”Emang kalo udah kaya apalagi sih Cup yang mau dikejar kalo nggak nikah? Punya keluarga kecil gitu. Itu kan manusiawi.”
Ucup bersiap untuk protes, mulutnya sudah terbuka namun kembali terbungkam saat Piko hendak melanjutkan kalimatnya. “Kebayang nggak sih Cup, lu pulang kerja terus ada yang nunggu lu di rumah.” Mata Piko menatap jauh. Sementara Ucup diam, mendengarkan tanpa menyela.”_Lu punya anak nih, capek kerja tapi mereka minta gendong jadi ilang capek lu.” Piko masih melanjutkan, terselip tertawa kecil dibalik ceritanya.
Yusuf hanya mengangguk. Namun dibalik diamnya pemuda itu ada hal kecil yang mencubit hatinya. Sakit. Terlalu lama hidup sendiri membuatnya lupa akan yang namanya ‘Keluarga’. Kapan terakhir kali dia melihat orangtuanya? Nama mereka pun sudah tak ingin ia ingat. Karna hanya akan ada sakit pada hatinya. Hidupnya keras, namun ia tak ingin merasa paling menderita. Orang disampingnya inilah yang layak untuk dikasihani. Jika Yusuf bisa, dia ingin selalu berada disamping Piko. Piko adalah keluarganya, satu-satunya. Piko tidak akan meninggalkan Ucup ‘kan? Ucup takut jika suatu hari dia kembali sendiri tanpa tujuan.
“_Cup…. Cup!” sebuah suara membuatnya tersentak.
“A-apa?” pemuda itu kaget. Lawan bicaranya kesal karena merasa tidak diperhatikan. Piko masih menatap Ucup.
”Lu mikir apa sih? Kok kayak mau nangis gitu muka lu.”
“Nggak mikir apa-apa.” Mata Ucup terasa penuh dan berkabut. Sejak kapan?
Piko membereskan cangkir kopi miliknya dan Ucup yang sudah kosong.”Masuk yuk, dingin.” Ia berdiri dan beranjak dari duduknya.
Baru beberapa langkah memasuki rumah, badannya serasa ditubruk dari belakang. Ada tangan yang melingkar pada perutnya. “Pik, janji jangan tinggalin gue.” Pemuda yang lebih pendek merasa heran.
”Lu kenapa sih?”
Ucup menggeleng, dia tidak kenapa-kenapa, hanya ingin memeluk Piko dan menghilangkan rasa sesak di dadanya. Ucup takut sendiri. Pelukannya semakin erat.”Tinggal bilang ‘Iya Cup janji’ lama amat Pik.” Protesnya kesal.
Piko menghembuskan nafasnya.”Iya janji.” menanggapi sekenanya.
“Kalo lu bohong gua seret ke KUA.” Masih mendekap rekannya dan menenggelamkan wajahnya pada leher Piko.
“Gimana?” Piko terkekeh tak paham.
“Pokoknya gitu!” Malam itu berakhir dengan Yusuf Hamdan yang menempel pada Piko Subiakto. Piko tak mengerti namun ia tak mempertanyakannya. Karena dengan Ucup disisinya pun dia sudah merasa cukup.
End
