Actions

Work Header

does he love you?

Summary:

"Tentu. Kami saling mencintai, tapi tidak selamanya cinta harus saling memiliki, Ning."

a tartali fanfiction by vyeee

Work Text:

genshin impact by mihoyo

top!tartaglia x bottom!zhongli/fem!zhongli

.
.
.
.

Sebenarnya Zhongli sadar dengan tatapan mencemooh Ningguang tapi dia mengabaikannya dan tetap mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Menurut Zhongli tatapan Ning adalah tatapan wajar terhadapnya. Dia hanya menunggu Ning membuka suaranya dan memberikan kata-kata umpatan untuk dirinya.

Dan Zhongli tidak akan protes ataupun marah dengan umpatan yang Ning keluarkan nanti.

Tentu dengan bukti yang ada di depan mata Ning, apalagi yang membuat wanita itu menatapnya dengan tatapan marahnya.

Leher putih bersihnya terdapat beberapa bercak kemerahan, terutama pada perpotongan lehernya yang terdapat bekas gigitan tajam yang terlihat sangat jelas.

Dan apakah Zhongli malu dengan semua hal-hal tak senonoh pada lehernya? Tentu saja tidak, Zhongli bahkan bangga untuk memamerkannya pada orang-orang yang nanti akan menatap pada lehernya.

"Zhongli!"

Zhongli diam, masih sibuk menulis tugas-tugasnya. Tidak mengindahkan panggilan Ning pada namanya.

Lalu dalam sekejap pena yang dia gunakan untuk menulis hilang atau direbut paksa oleh Ning yang membuat dia mendongakan kepalanya.

Zhongli bisa melihat bagaimana raut wajah Ning yang tampak memerah karena menahan amarahnya, matanya melotot tajam dan napasnya terlihat terengah-engah.

"Brengsek Zhongli!" umpatnya yang membuat Zhongli mengendurkan bahunya dan kemudian menyenderkan tubuhnya pada sofa empuk milik Ning yang dia duduki sekarang.

"Berapa kali aku memperingatkanmu tentang untuk memutuskan hubungan tabumu dengan dosen muda kampus kita?"

Zhongli menghela napasnya, "dan berapa kali aku katakan padamu bahwa aku tidak akan memutuskan hubunganku dengannya?"

Zhongli bisa mendengarkan geraman kemarahan Ning.

"Brengsek, dia sudah bertunangan dan dia akan menikah dalam waktu dekat! Kau hanya menyakiti diri sendiri!"

Zhongli tahu, sebagai teman Ning hanya memperingatkan dan mencoba menjauhkan temannya dari hal-hal yang akan menyakakiti dirinya sendiri.

Tapi dengan semua perasaan yang sudah sangat dalam, Zhongli benar-benar tidak bisa menerima saran dari sahabatnya.

"Lalu apa? Tidak akan ada yang berubah. Dia tetap bertunangan dan hubunganku dengannya tetap berjalan seperti biasanya." Jawabnya yang membuat wajah Ning semakin memerah karena menahan amarahnya.

"Kau tahu? Kalau kau bukan sahabatku mungkin kau sudah aku tampar atau menonjokmu dari lama!" Zhongli tertawa dan merebut kembali penanya dari tangan Ning.

"Sebenarnya kau boleh saja menampar atau menonjokku, tapi itu tidak akan menyadarkanku tentang hubunganku dengannya."

"Ingat Zhongli, ini adalah peringatan terakhirku. Aku tidak akan membantumu ketika kau akhirnya disakiti olehnya untuk waktu yang akan datang."

"Tentu Ning, aku sudah mempersiapkan segala konsekuensi yang akan datang ketika aku menjalin hubungan dengannya."

.
.
.

Dalam perjalanan menuju flat miliknya, Zhongli hanya melamun, memikirkan apa yang akan terjadi ketika kekasihnya menikah nanti. Apakah dia akan memutuskannya atau menjalankan hubungan seperti biasanya.

Sungguh, Zhongli tidak perduli bahwa Profesor Ajax nantinya menikah. Dia akan selalu menganggap bahwa Ajax hanya seorang Dosen dan kekasihnya, dia ridak perduli dengan status pernikahan dosennya.

Pintu lift terbuka membuat lamunannya terbuyar. Dia melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu flatnya. Ketika dia sampai di depan pintunya, hidungnya sedikit menghirup aroma wangi masakan dari dalam flatnya.

Pasti Ajax, siapa lagi orang yang mempunyai kunci flatnya selain dia dan Ajax. Dengan semangat Zhongli merogoh tasnya dan menemukan kucinya, lalu dia segera membuka pintunya dan benar saja ketika dia membuka pintunya dia di sambut aroma wangi masakan kesukaanya.

Dengan senyum bahagia dan melupakan pikiran yang membebankannya beberapa saat yang lalu. Dia menaruh tas dan beberapa buku yang dia bawa di atas meja dan segera melangkah ke arah dapur, mendapatkan Ajax yang sekarang menghadap ke arah panci dan sedang mengaduk sesuatu yang dia masak.

Zhongli pelan-pelan melangkah dan segera memeluk Ajax dari belakang dengan erat. Membenamkan wajahnya pada punggung lebar nan hangat milih Ajax. Menghirup aroma tubuh Ajax yang membuatnya begitu harum dan membuatnya betah untuk menghirupnya dalam jangka waktu yang lama.

"Lily," panggilnya dengan panggilan kesayangannya.

"Profesor," jawab Zhongli dengan gumaman karena wajahnya masih dia benamkan. Tubuhnya semakin dia eratkan pada tubuh Ajax dan karena terlena oleh aroma tubuh Ajax, Zhongli sesekali menggesekan payudara kenyalnya pada punggung profesornya.

Zhongli bisa merasakan gemuruh tawa pelan dari punggung yang dia peluk sekarang.

"Hmmm, apakah quick di kantorku masih belum memuaskanmu, sayang?" tanyanya masih dengan mengaduk masakannya.

"Kau tahu, seberapa kau menghancurkanku itu akan membuatku semakin ketagihan," jawabnya sambil menyelipkan kepalanya di bawah ketiak Ajax, lalu memberikan senyum manis pada laki-laki tersebut.

"Sup rebungnya sebentar lagi selesai,"

"Sepertinya Profesor semakin ahli memasak sup rebung kesukaanku."

"Tentu saja sayang, aku belajar dengan giat agar kau bisa memakan makanan favoritmu yang aku masak."

"Terima kasih, sayang."

Ajax menundukan kepalanya dan mengecup cepat bibir Zhongli.

"Bersihkan dirimu atau kalau tidak kau bisa duduk dan menungguku untuk menyiapkan semuanya. Sebentar lagi akan selesai." Ujarnya, tangannya kembali mengaduk sup rebungnya.

Zhongli menganggukan kepalanya dan melepaskan pelukannya lalu dia berjalan ke arah meja makan.

Dan Zhongli tersenyum ketika melihat sudah ada beberapa lauk yang ada di atas meja.

Sungguh, bagaimana Zhongli bisa melepaskan Ajax begitu saja ketika laki-laki tersebut begitu manis padanya. Yang ada Zhongli akan semakin mempererat hubungannya dengan Ajax walaupun dia tahu hubungannya sangat terlarang.

"Karena hari ini kau begitu sibuk, aku tahu kau pasti akan melupakan waktu makanmu." Zhongli mendongakan kepalanya ketika suara Ajax membuyarkan lamunannya.

Kedua tanganya penuh dengan dua mangkuk yang mengepul panas. Sup rebungnya telah selesai dan begitu harum membuat perutnya bergemuruh.

Ajax meletakan mangkuk yang penuh dengan sup rebung dan potongan daging babi di atasnya. Dan benar saja, sup rebung yang dibuat Ajax semakin terlihat seperti yang selalu dia masak.

"Hmm, Ning sempat membeli Pizza tapi aku hanya mengigit setengah slicenya."

"Sayang, berapa kali aku memperingatkanmu untuk mengisi perutmu?" ujarnya sambil memberi satu suapan sup yang sudah ditiup Ajax agar tidak terlalu panas. Dan Zhongli membuka mulutnya untuk menerima suapannya.

Ketika kehangatan sup yang mengalir dalam tenggorokannya, Zhongli tersenyum, benar supnya semakin terasa sama seperti yang dia masak.

"Ini enak," pujinya dan mulai menyuap untuk dirinya sendiri.

Lalu mereka berdua menghabiskan makanannya dalam diam.

Setelah membersihkan peralatan makan yang mereka pakai, mereka kini bersantai di sofa nyaman mereka, dengan Zhongli yang ada didekapan Ajax sambil menonton acara televisi.

Posisi ini adalah posisi yang Zhongli nikmati ketika mereka selesai makan, mereka hanya diam dengan menikmati kehangatan tubuh mereka masing-masing serta merasakan detak jantung Ajax yang berdetak begitu merdu.

"Zhongli aku akan menikah," ucapan tiba-tiba Ajax membuat tubuh Zhongli menegang.

"Lalu apa?"

"Tidak tahu,"

"Apa itu? Kau tidak memberikanku sebuah saran ataupun membuat pilihan."

"Aku sendiri bingung."

"Kau harus memilih sebenarnya."

"Bagaimana kalau aku tidak bisa memilih?"

"Apakah kau orang yang rakus, sayang?"

"Bisa dikatakan seperti itu. Aku takut menyakiti kalian."

"Sebenarnya kau sudah menyakiti, sih. Tapi itu bukan salahmu, ini salahku."

"Sayang," panggil Ajax pelan.

"Benar. Harusnya aku tidak menggodamu satu tahun yang lalu. Maaf untuk tidak menahan hormonku ketika aku melihatmu." Ungkapnya sedikit menyesal. Pelukan Ajax semakin erat, wajahnya dia benamkan pada rambutnya.

Ajax membalikan tubuh Zhongli lalu mencium bibir Zhongli dengan rakus. Zhongli membalas ciumannya tidak kalah rakusnya.

Zhongli melepaskan ciumannya, menaiki tubuh dosennya dan tersenyum ketika pantatnya bisa merasakan kekerasan penisnya.

Zhongli membuka kancing serta zip celana bahan yang dikenakan oleh Ajax, menurukan celana serta boxer yang dia pakai yang membuat penis keras tersebut keluar dan berdiri tegak.

Napas Zhongli terengah-engah ketika penis dosennya terpampang di depan matanya. Tangannya mengelusnya, melumuri batang penis dengan percum yang keluar dari kepala penisnya.

Zhongli mengangkat dirinya, menyibakan rok summer dress yang dia kenakan dengan satu tangannya (Zhongli telah melepaskan celana dalamnya beberapa saat yang lalu), sedangkan tangan satunya memegang penis dosennya untuk membimbingnya masuk kedalam vaginanya.

"Kau tahu? Aku tidak perduli dengan kau memilih siapa, Profesor." ucapnya sambil memasukan penis Ajax kedalam vaginanya.

"Karena aku sudah sangat mencintaimu, sampai-sampai aku begitu buta." gumamnya sambil menggerakan tubuhnya sendiri.

.
.
.
.

Ningguang berdiam membeku ketika memandang Zhongli dari cermin. Zhongli balik menatapnya dengan tatapan datarnya dan tidak menghiraukan raut wajah Ning yang mulai memerah menahan amarah yang sewaktu-waktu akan meledak nanti.

Zhongli mengabaikannya dan mulai membuka kran, membersihkan mulutnya dari air liur yang dia keluarkan beberapa menit yang lali karena mual yang tak tertahankan.

"Sudah berapa lama?" tanya Ning dengan suara pelan menahan diri untuk tidak berteriak padanya.

Zhongli mengambil tisu untuk mengelap bibirnya, "Aku pikir dua bulan? atau tiga bulan?" jawabnya sambil membuang tisu tersebut ke tempat sampah.

"Apa kau memberitahukannya?"

Zhongli tertawa mendengar pertanyaan konyol Ning. Dia berbalik, berjalan melewati Ning untuk menuju kedapur berniat untuk menyeduh teh agar meredakan rasa mualnya.

"Jangan tertawa Zhongli!" Ning mengikutinya dan menarik Zhongli dengan kuat untuk menghadap ke arahnya.

Zhongli menghela napasnya pelan, dia sebenarnya lelah karena hari ini dia melewati rangkaian upacara wisudanya serta menahan mual yang dia alami sekarang.

"Dia tidak bisa memilih dan jelas-jelas dia akan melaksanakan pernikahannya dua hari lagi, apa yang harus aku katakan padanya?"

"Beritahu dia bahwa kau mengandung anaknya, brengsek! Batalkan pernikahannya dan rebut Ajax brengsek itu!"

Zhongli menggelengkan kepalanya, "aku tahu aku brengsek, tapi aku tidak akan merusak pernikahannya."

Ning memejamkan matanya, napasnya naik turun dengan sangat cepat yang Zhongli yakini itu pasti terasa sakit, "Ning, aku pikir kau tidak akan perduli dengan percintaanku yang tabu ini?"

"Tapi kau mengandung anaknya, brengsek!"

Lagi-lagi Zhongli menghela napasnya, "tidak akan merubah apapun, Ning. Biarkan dia menikah, aku hanya orang luar yang berani hadir dalam kehidupannya satu tahun setengah ini. Jangan khawatir, aku bisa mengurus semua konsekuensi yang aku perbuat ini."

Ning menggertakan giginya, tangannya terkepal guna menahan agar dirinya tidak memukul apapun untuk melampiaskan amarahnya.

"Apakah dia mencintaimu seperti kau mencintainya?" tanya Ning pelan, masih ada rasa kemarahan di dalam suaranya.

"Tentu. Kami saling mencintai, tapi tidak selamanya cinta harus saling memiliki, Ning."

Ningguang terdiam mendengar jawaban dari sahabatnya. Dia terlihat lelah karena sifat sahabtnya yang begitu padat seperti batu.

"Baik. Terserah."

Zhongli menganggukan kepalanya lalu tersenyum, "tapi, apa kau mau membantu untuk kepindahanku?"

.
.
.

Ajax mengerem mobilnya dengan pelan ketika maps yang terpampang dilayar tablet tersebut memperlihatkan tepat di mana alamat yang dia tuliskan.

Dia membuka kaca mobilnya dan mendapatkan sebuah rumah sederhana dengan pagar yang mengahalinya.

Daerahnya begitu asri dan bersih, sangat sesuai dengan kesukaannya yang dia beritahakuan padanya di masa lalu.

Dengan jantung yang berdegup dengan cepat Ajax memantapkan dirinya untuk bertemu dengan kekasih masa lalunya, dia cukup menyesal karena meninggalkannya begitu saja saat itu.

Dan dia sedikit marah ketika dia tahu bahwa kekasihnya membawa mereka tanpa memberitahukannya. Benar, Zhongli tidak memberitahukannya bahwa dia mengandung anaknya, mengandung dua sekaligus.

Dia bahkan tahu baru-baru ini karena Ningguang membeitahukannya padanya, memberikan beberapa foto anak kembarnya padanya.

Jadi setelah Ningguang memberikan semua informasi padanya, Ajax tanpa pikir panjang untuk segera mengunjungi Zhongli secepatnya.

Dan sekaranglah dia di sini. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri dia akhirnya berdiri di depan pintu pagar tersebut.

Menenanhkan detak jantungnya dengan pelan Ajax mengetuk pintu pagar tersebut. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, dia bisa mendengar suara yang dia rindukan selama delapan tahun ini dari dalam rumah.

Ajax kembali gugup, dia tidak tahu apa yang akan dia katakan pada Zhongli ketika wanita itu keluar. Lalu Ajax mendongakan kepalanya ketika mendengar suara pintu terbuka dari kejauhan dan muncullah Zhongli.

Rasanya dunia seperti berhenti berputar ketika dia kembali melihat rupanya lagi, Zhongli terdiam dari ambang pintu rumahnya, menatap dirinya yang kini berdiri di depan pintu gerbang.

Hanya beberapa saat mereka saling terdiam satu sama lain, dan Zhongli kembali melangkah ke arahnya untuk membuka gerbang pintunya.

"Ayo, masuk." Ajaknya dan Ajax mengekorinya.

Zhongli tidak berubah sama sekali, dia seperti delapan tahun yang lalu seperti tidak pernah mengandung ataupun melahirkan kedua anaknya.

Tubuhnya masih sesintal yang dia ingat. ah, tidak dari belakang Ajax bisa melihat bahwa pantat Zhongli lebih montok dari yang dia ingay dulu.

Ajax menggelengkan kepalanya, membuang pikiran joronh yang tiba-tiba melintas di dalam otaknya. Sial, padahal ini adalah pertama kalinya dia melihat Zhongli lagi dalam delapan tahun terakhir ini, tapi kenapa pikirannya sudah kotor saja.

"Ajax, kau tidak apa-apa?" Ajax mendongak dan mendapatkan Zhongli sedang menatapnya dengan tatapan khawatirnya.

Ajax tersenyum, "tidak apa-apa."

"Kau bisa duduk di sini, aku akan menyeduh teh untukmu." Zhongli pergi meninggalkannya sendirian di ruang tengah rumahnya.

Ajax menatap sekililingnya, dinding-dinding rumahnya terdapat beberapa figura foto yang menampilkan gambar-gambar anak kembar mereka. Seperti dari Zhongli yang hamil besar, Zhongli melahirkan, lalu kedua bayinya yang sedang tertidur sampai terakhir yang menampilkan keduanya saling cemberut dengan menatap ke kamera.

Melihat itu semua Ajax tersadar dan menyesal karena dia tidak hadir dalam setiap momen-momen pertumbuhan anaknya dengan Zhongli. Tidak bisa membantu meringkan beban Zhongli mengurus kedua anaknya, tidak bisa merasakan bagaimana lelahnya Zhongli mengurus keduanya.

"Foto yang terakhir itu di ambil beberapa hari yang lalu. Anak-anak tidak mau di foto karena aku tidak membelikan barang-barang remeh yang mereka mau."

Ajax menoleh dan sedikit malu karena terciduk sedang memperhatikan foto-foto yang tersebar di dinding.

Zhongli meletakan nampan yang dia bawa dengan satu set tehnya, "terkadang kemauan anak-anak tidak harus selalu dikabulkan, apalagi yang mereka mau terlalu awal untuk usia mereka." ucapnya sambil menuangkan tehnya ke dalam cangkir teh dan memberikannya pada Ajax.

"Apa yang anak-anak mau?" tanya Ajax penasaran.

"Smartphone.  A-Yuè yang merajuk untuk membeli tapi A-Xīng menggertaknya untuk tidak membelinya. Kau tahu mereka kembar tapi kemauan mereka tidak pernah sama. A-Yuè sangat terlihat sepertimu dan A-Xīng sepertiku, itu untuk secara sifat tapi kalau untuk secara penampilan dan fisik semuanya benar-benar seperti duplikatmu semua. Tapi walaupun sifat mereka bertolak belaka seperti itu mereka saling menyayangi satu sama lain."

Ajax menganggukan kepalanya mendengar ucapan Zhongli. Dia bisa membayangkan seberapa pusing Zhongli untuk mengurus kedua anaknya, apalagi salah satu dari mereka sangat mirip sepertinya. Itu pasti sangat melelahkan.

Ajax meletakan cangkir tehnya, lalu menarik tangan Zhongli dan menggenggamnya, "Zhongli maafkan aku."  ucapnya sambil mengelus telapak tangan Zhongli.

"Kau tidak salah, harusnya aku yang meminta maaf padamu karena menjauhkan mereka darimu." jawabnya sambil membalas genggaman tangan Ajax.

Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain, Ajax bersyukur Zhongli adalah tipe orang tidak pernah menaruh dendam atau apapun.

"Zhongli apakah aku boleh memelukmu?"

Zhongli tertawa pelan dan dia menganggukan kepalanya, "tentu Ajax kau boleh memelukku."

Lalu Ajax langsung menarik Zhongli kedalam pelukannya. Mendekap erat tubuh kekasih lamanya, dia membenamkan wajahnya pada lekukan leher Zhongli dan menghirup aroma yang mulai pudar dari indera penciumannya.

"Aku merindukanmu," bisik Ajax sambil mendesah karena menikmati bagaimana aroma Zhongli yang semakin wangi pada usianya yang sekarang.

Dan Zhongli mengeratkan pelukannya Ajax sama membenamkan wajahnya pada bahu lebar Ajax, dan dia menganggukan kepalanya menandakan bahwa dia sama merindukannya.

Lalu tiba-tiba pintu terbanting keras dan terdengar teriak dari luar, "mama, mobil siapa yang ada di depan rumah kita?"

"A-Yuè, berapa kali aku katakan padamu untuk tidak membanting pintu?"

Ajax dan Zhongli segera melepaskan pelukan mereka dan Zhongli segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri anaknya yang ada di ruang depan. Ajax mengikutinya dan dia merasa gugup untuk melihat kedua anaknya secara langsung untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba Zhongli menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arahnya, dia langsung menarik tangannya untuk berjalan beriringan. Lalu terlihatlah kedua anak kembarnua yang kini sedang melepaskan tas serta sepatu mereka masing-masing.

"Jangan gugup," bisik Zhongli yang membuat Ajax semakin gugup.

Salah satu dari mereka menoleh, "mama, aku--eh siapa?" dari suaranya Ajax bisa menebak bahwa ini adalah A-Xīng, suaranya tidak terlalu keras dan terkesan dalam. Dan ketika sarunya ikut menoleh, Ajax menyetujui apa yang di katakan oleh Zhongli.

Mereka berdua benar-benar duplikatnya. hanya bibir mereka yang seperti Zhongli sisanya terlihat seperti Ajax semua.

"Anak-anak, sapa papa kalian."

Mata kedua anak tersebut melebar dan seketika mereka berdua berlari dan langsung menerjang Ajax untuk memeluknya. Ajax tidak menyangka bahwa kesan pertama yang di berikan oleh kedua anaknya adalah pelukan hangat seperti ini. Dia sudah membayangkan bahwa kedua anaknya pasti akan membencinya karena dia tidak hadir dalam kehidupan mereka.

Ajax mensejajarkan tubuhnya, memeluk balik kedua anaknya sana eratnya. Lalu matanya terbuka dan menatap Zhongli dengan tatapan rasa terima kasih sebesar-besarnya karena sudah merawat dan membesarkan mereka dengan sangat baik walaupun tanpa kehadirannya selama ini.

"Anak-anak kenapa kita tidak membawa mama untuk bergabung dengan kita?"

Kedua anaknya mengangguk mereka segera berbalik ke arah ibunya untuk memeluknya dan Ajax mengikuti anak-anaknya.

Mereka bertiga memeluk Zhongli dan Ajax berbisik, "terima kasih, Lily."


end