Work Text:
“That’s—absolutely fucking not.”
“Gyu, come on.”
“Still a big no.”
“But we—”
“Kwan.” Tubuh yang dijatuhkan dengan dramatis ke atas sofa itu bukannya tanpa alasan. Penekanan yang hendak ia sampaikan, adalah bahwa kata tidak yang baru saja keluar tadi indikasinya datang bersamaan dengan garis bawah. Kesimpulan lainnya; tidak adalah tidak.
“You know by doing this that you’re not helping us at all, right?”
“Lo tahu kalau permintaan tadi itu equivalent dengan menjual gue, kan?”
Alih-alih menjawab, Seungkwan memutar bola matanya sarkastik sekaligus menolehkan kepala untuk bertemu pandang dengan hadirin lain dalam diskusi alot malam itu.
"Dia bilang kita ngejual dia.” Paparnya, lebih kepada intonasi datar penuh rasa bosan dan lelah.
Seokmin—teman satu timnya dalam lomba debat itu, terbahak dengan kepalanya yang terlempar ke belakang. Dan jenis tawanya itu jelas sudah menentukan ada di kubu mana ia berada. “Kalau emang dari awal niat jual, kita bisa lebih dari ini.”
Dan jawaban itu membuat si Mingyu—pria dengan tinggi badan paling menjulang yang ada di dalam ruangan itu kehilangan kemampuan menyerang balik dengan argumen lain. Dirinya hiperbolis, namun kedua temannya mahir melakukan counter attack.
Dipijatlah batang dari hidungnya dengan maksud mengurangi rasa pening dari kepala yang berdenyut. “Seok, acara ini terlalu remeh untuk gue datengin. I’ve been busy enough. Dan kalau weekend gue masih harus diisi dengan datang ke acara ulang tahun klien cuma karena lo pikir gue appealing di mata mereka, that’s kind of exploitation.”
“Nah, itu!”
Pekikan Seokmin tadi membuat Mingyu otomatis menujuk dirinya sendiri dalam kebingungan. “Gue bener…?”
“Ya bener. Lo dateng ke acara itu karena lo appealing dan ini request langsung dari anaknya Oliver. Yang artinya? Persenan kita buat menang tender sekarang nambah lagi. It’s not exploitation, it’s a part of your work.”
Percaya tidak percaya, penjabaran tadi itu sebetulnya tidak sukar untuk dicerna. Mingyu paham kemana kedua partner kerjanya sedang menggiring rasa bersalah, dan tubuhnya sudah lelah bukan main menjerit meminta jeda istirahat. Masalah krusial yang tengah dan masih berada di ujung tanduk, ada karena dirinya yang masih enggan untuk mengalah.
Walaupun pertanyaanya adalah: bagaimana?
“Gue gak sanggup kalau harus nyetir sendiri ke Bandung.”
Seungkwan siap siaga meraih kunci mobil dan melempar, yang ditangkap dengan sempurna oleh Seokmin. “On it. Full service, tangan lo gak akan pernah nyentuh kemudi selama disana.”
Napas lelahnya dihembuskan dengan begitu pasrah. “Gue gak mau ngelakuin apapun yang lebih dari berpresensi. No flirting murahan, no staying late, no for another round yang bikin gue harus nurutin segala keinginan Oliver dan keluarganya. We’re going formal, and this is business.”
Masih Seungkwan, namun sekarang dengan gesture mencatatnya pada buku kecil tak kasat mata. “No whoring around. Duly noted.”
Oh man, the love-hate relationship he’s having with this piece of work and his coworkers, and the way there’s no turning around because he is dedicated. “Oke. Bisa info gue ulang kita udah pernah propose apa aja ke Oliver?”
“No problemo! Jadi gini…”
Inevitable, indeed.
Bandung adalah akhir pekan bersama keluarga, menyusuri lalu lintasnya yang kebanyakan satu arah dan toko kue khas berisikan turis ibukota serta celotehan mama juga jeritan keponakan. Berada disana dengan kemeja rapi beserta jas terasa begitu... janggal.
Seokmin dan Seungkwan tidak main-main tentang memboyong Mingyu ke sebuah acara ulang tahun hanya untuk dijadikan garda depan. Target market potensialnya, begitu menyukai dirinya ditahap ia memperkenalkan kepada kolega lain seakan Mingyu adalah aset sekaligus calon menantu paten.
Dipertengahan acara perutnya sudah serta merta merasakan mual. "Oliver ada gila-gilanya menurut gue."
"Mmm." Seungkwan dengan mulutnya yang penuh dan sibuk mengunyah muffin. "Kayaknya yang naksir lo dia deh bukan anaknya."
"He's a grandpa with a wife and a daughter.”
"Jadi kalau dia engga, lo mau?"
Lirikan mata, seringai, dan nada menggoda rekan kerjanya membawa kesabaran Mingyu meroket ke ujung tanduk. "Gue butuh ngerokok."
"Alright." Seungkwan memberinya gesture hormat seraya memindai Seokmin yang sedang mempertaruhkan nyawa di salah satu pojok ruangan kepada beberapa petinggi dalam nama persuasi. "Suits yourself."
Satu menit setelah meluapkan idenya kepada Seungkwan, ia masih belum tahu hidupnya akan menjadi jungkir balik hanya karena memutuskan untuk membawa satu bungkus rokok beserta koreknya ke halaman belakang gedung. Lima menit setelahnya, Mingyu berdiri di balkon sana dengan asap mengepul dari bibirnya dan menangkap satu sosok pria berdiri di ambang tali jembatan.
Lokasi dan posisi itu bisa wajar dan bisa tidak. Lokasi gedung ini yang berada di Bandung bagian atas dan sebuah kebetulan dimana jembatan itu mengarah langsung ke dasar sungai berjurang, adalah titik kengeriannya. Dan pria itu kebetulan menggelitik Mingyu dalam keberadaanya yang tidak wajar.
Sekarang pilihannya menjadi mengerucut: ikut campur, atau tidak?
"Hey! That's kind of dangerous, no?"
Suaranya kalah bising dari air yang mengalir deras, dan alhasil tak satu inci pun subjeknya menoleh. Mingyu terdiam. Dan berpikir. Dan menghela napas. Dan menghisap dalam-dalam rokoknya. Sang pria disana semakin gencar bersandar pada tali dan mencondongkan tubuhnya maju, Mingyu disini merasakan darahnya terpompa lebih kencang ke seluruh nadi.
"Hey???"
Masih nihil jawaban.
Ujung sepatu pantofel hitam mengkilapnya menginjak puntung rokok pendek untuk memadamkan apinya sebelum berjalan pelan mendekati jembatan. Bulu kuduknya berdiri dari percampuran angin malam dan suara air yang berjatuhan, dan dia mulai banyak mempertanyakan masuk kategori manakah spontanitasnya malam ini.
Namun terlapisi hanya dengan kaos, celana bahan, dan cardigan coklat jaring-jaring tipis—pria itu terlalu terlihat rapuh untuk dapat Mingyu tinggal sendirian.
"Kamu ngapain?"
Finally. Finally, si dia menoleh.
Raut wajah sedihnya adalah yang memicu Mingyu untuk memaparkan kalimat selanjutnya. "Please don't do that."
Sang pria mengerutkan keningnya kemudian. Ekspresi itu, adalah ekspresi seseorang yang tengah kebingungan. "Huh?"
"I know," Dirinya masih berusaha mendekat, sepelan mungkin seakan jembatan itu akan rapuh. "I know it's easier said than done, but please don't jump."
Kelopak mata pria dengan rambut coklat itu mengedip polos. "You thought i was going to jump...?"
"...You're not?"
Kedipan polos itu sekarang berubah menjadi seringai usil. "Kalau gue beneran lompat, lo akan apa?"
Akan apa? Itu skenario kedepan yang belum Mingyu rancang sebelumnya, dan bukan pertanyaan itu yang ia harapkan keluar dari bibir si dia.
"Saya..." Tengkuknya diusap dan digaruk pun tak sedikit merasakan gatal. "Ini kamu beneran lo mau loncat?"
Pertanyaanya, mengundang gelak tawa dari si lawan bicara. "You're funny."
"And this is a very weird situation." Keduanya menyetujui. "Still, though, it's crucial for you to answer."
Seringainya mengembang. "Apa? Pertanyaan yang tadi?"
"Iya."
"Harus banget?"
"I need to decide. Dan lo masih gak tau gue beneran mau loncat atau engga."
"Okay. Uh," Mingyu bersiap menanggapi and God knows apa yang membuat dia vibing with this man's flow. "Saya bakalan... trying to be persuasive? "
"Uhm," Intonasi ledekan lainnya. "Like the classic you jump, i jump? "
Dirinya terkekeh penuh rasa geli. "Not that extreme. I will just try to understand you. To help."
"To boost your masculinity?"
"My—my what?"
"Kidding, romeo." Sang pria mulai menepuk kedua telapak tangannya untuk menyingkirkan debu yang menempel disana, dan mulai menjauh dari pinggir tali sang jembatan. "My sunflower just died. "
"...Gimana?" The uno reverse card, sekarang kedipan polos itu ada pada kelopak mata Mingyu.
"Tadi gue bawa bunga matahari, terus gue kesandung dan bunganya jatuh semua ke bawah."
"But are you okay?"
Senyum tenang itu menghiasi wajah sang pria dengan sempurna. Bagi Mingyu, rasanya masih seperti sedang dicemooh. Karena kalimat selanjutnya yang si dia katakan adalah, "See? To boost your masculinity."
"Ada yang salah kah, dengan menanyakan kamu baik-baik aja atau engga?"
"Nothing." Balas pria itu dengan kedua pundak yang terangkat. "Just questioning lo tipe orang yang bertindak berdasarkan apa."
"Uh, humanity?”
"Well… Then that'll do."
Mingyu menyisir rambutnya frustasi dengan jemari. "You're weird."
Kedua telapak tangan sang pria kini berlindung di balik kantung, dan ia mulai melangkah maju memasuki gedung. "I take that as a compliment."
Mingyu memutar tubuhnya secepat kilat agar dapat berjalan dan mengikuti di belakang pria itu. "Kamu dateng ke acara ini juga?"
"Not exactly, but yes."
Bibirnya mengerucut. "What does that supposed to mean? "
"I don't go here. I just decorated the place.”
My sunflower just died.
"Kamu… tukang bunga?"
“Bingo."
Langkahnya dicepatkan satu kali lipat, dan dari jarak sedekat ini Mingyu dapat mencium aroma lavender. "Jadi gak kenal personally sama yang punya acara?"
"Uh, ini apa ya? Sensus penduduk?"
"It's a filler question yang asal keluar aja karena saya sedang mencoba untuk keep this conversation going."
"For the sake of...?"
"Avoiding the silence."
"Ah." Pria itu akhirnya menoleh, masih dengan senyum tenangnya. "Avoiding the silence."
Untuk pertama kalinya di malam itu, Mingyu menyunggingkan sebuah senyum yang konteksnya adalah rasa lega; bukan sarkasme, bukan basa basi. Hanya murni karena ia ingin tersenyum. Alasannya? Mungkin lempar-melempar konversasi mengasyikan yang sedari tadi ia jalani. Mungkin kebodohan atas dasar salah sangka yang membawanya kepada sosok baru. Atau mungkin, wangi lavender yang menusuk hidungnya memang begitu memabukan.
Apapun itu, wajah putih mungil (dan tampan) yang sedari tadi selalu terlihat meremehkannya adalah apa yang membuat adrenalin Mingyu bangun dari tidur nyenyaknya.
“Do you mind if i assume something about you?”
“Out of the blue? ”
“Kamu gak suka menerima bantuan dari orang lain, ya?”
“Gue belum bilang lo boleh ajuin pertanyaanya.”
“But do you? ”
It’s a hot head multiplied by two.
“No.” Jawab sang pria dengan tegas. “I don’t.”
“Why? ”
“Simply because i don’t need it.”
“And when you do?”
Si dia menyodorkan Mingyu sebuah senyum misterius. “I’ll try not to.”
Dan sekali lagi darahnya terpompa lebih kencang ke seluruh nadi. “Toko bunga kamu ada lokasi offline nya?”
“Oh, oke. Role player kita sekarang ganti jadi si penjual dan pembeli? Not Rose and Jake anymore?”
“Oh, totally. A bucket of flower would be nice. More than the Titanic franchise.”
“Fine.” Gerlingan bola mata komika penuh paksaan itu membuat Mingyu diam-diam berusaha keras menggigit bibir dan menahan senyumnya untuk tak merekah. Pria di depannya—siapapun nama kepunyaanya, lebih peduli pada angka sales penjualan daripada ketakutan pada orang asing yang baru ditemuinya dalam sebuah adegan heroik yang gagal.
And Mingyu’s loving it.
Di depannya kini ada sebuah pemandangan dimana pria itu mengeluarkan telepon selular dari kantungnya, mengetikan sesuatu di layar, dan menyodorkan kepada Mingyu sebuah barcode yang siap untuk di scan.
“Nih.”
Mingyu pun dengan sigap menangkapnya tanpa jeda basa-basi. Di layar telepon selularnya kini pun, terbuka sebuah website yang dipenuhi etalase berisikan bunga-bunga cantik beserta kontak dan alamat yang bisa dihubungi.
But no name. Still.
“Got it. Wonderful.”
“Okay.”
“Thanks, though. I thought it wouldn’t be this easy.”
“No worries. I made this easier karena gue tahu lo gak akan beneran datang kesana.”
“And why is that?”
“Because Jack Dawson is busy?”
Damn it. Damn it. Damn it. “Saya pastiin bisa dateng.’’
Tanpa suara, tanpa kata, tanpa ekspresi yang mampu menjelaskan banyak hal, Mingyu hanya disuguhkan reasurasi lewat dua jempol yang diangkat ke udara; lagi-lagi disepelekan, lagi-lagi dicemooh. And he thinks it’s understandable. This man’s full display of precautions is kinda sexy.
“May google maps helps you.” Katanya, sebelum berbelok ke arah yang bertolak belakang dengan Mingyu.
The google maps did help him. Bandung’s street can mess with his mind all it wants, but in the end (after a countless turn right then turn left and after two something meters) dirinya akhirnya bertemu dengan palang yang sama persis dengan yang ada pada layar telepon selularnya.
(“Lo bilang selama di Bandung gak akan mau megang stir sama sekali.”
“I know. Tapi yang ini gue harus nyetir sendiri, gak bisa sama lo berdua.”
“Seok, this guy is doing something behind our back.”
“Well, as long as he comes back in full pieces…?”
“You guys are a menace.”)
Pemandangan yang sewaktu itu menyambutnya, adalah pria malam itu bersama alat penyiram bunga corak pastelnya. Warna coklat pada cardigan jaring-jaring kini berpindah pada classic overall dengan kantung besar di bagian depannya, dan kaos putih dibaliknya terlalu kebesaran hingga menampakan tulang selangka acap kali si dia menunduk.
Mingyu menelan salivanya begitu perlahan.
Kakinya menuruni mobil, melangkah maju, kepalanya mengkalkulasi kata-kata, jemarinya merapikan lengan kemeja yang kusut, matanya memindai dengan seksama, hidungnya lagi-lagi menangkap aroma lavender.
“Hi.”
And he’s home.
“Hi.”
“Mingyu. Kim Mingyu.”
“Halo, Mingyu. Jeonghan. Yoon Jeonghan.”
***
Kencan (spontan, impulsif) pertamanya dengan Yoon Jeonghan terjadi pada tempat paling mainstream seantero Bandung: Jalan Asia Afrika. Agenda menolak bukannya tak terpikirkan sebelumnya, tapi Mingyu punya kesempatan lebih sedikit dari waktu berdiskusi sebelum ia harus kembali ke Jakarta.
Maka bersamaan dengan ratusan turis lainnya, ada dia dan Jeonghan diantaranya; mengobrol dalam bising dan lalu lalang laju kendaraan.
“Lo takut hantu, gak?”
“Kenapa memangnya?”
“Nanti di depan sana—sebelum terowongan, akan ada beberapa pocong, kuntilanak, dan some kind of Dementor.”
Mingyu dan kedua alisnya yang menukik. “Dementor? Seriously? ”
“I don’t know the exact name! ” Kekeh Jeonghan. “Pokoknya dia pakai jubah hitam dan bawa celurit.”
“Peak horror.”
“Tell me about it.”
“Habis hantu ada apa lagi?”
“Ada surga makanan.” Pria di sebelahnya dan matanya yang berbinar. “Dari ujung ke ujung, dan banyak pilihannya.”
“Kalau kamu sukanya apa?”
"Hmm, let’s see… Spicy food, i think?"
“No way.”
“Why?” Kekehan itu kembali menggema.
“No one can beat me in spicy.”
“There you go again.”
“What? What did i do? ”
“Your ego boosting happened.”
“Really? Over spicy food?”
“It’s just—” Rambutnya yang disisir dengan jemari bukan Jeonghan lakukan sebagai bentuk kefrustasian, raut wajahnya itu seperti sedang tidak sabaran. Yang adalah kepada dirinya sendiri. “On a scale one to ten, kita mau coba kripik yang level berapa?”
“Ini lagi nantangin?”
“Yep.”
Mingyu menggosokan kedua tangannya penuh semangat. “The max.”
“The max? ”
Jeonghan yang terbahak dalam keterkejutan membuat tawanya pun juga ikut mengembang. “Kenapa? Takut?”
“You wish.”
“On it.”
Impulsivitasnya yang naik level membawa Mingyu untuk menautkan jemarinya dengan Jeonghan sebelum menariknya untuk berjalan melewati kerumunan dua kali lebih cepat. Pun begitu, ia pastikan sang pria dari menabrak atau ditabrak oleh sembarang orang.
Telinganya sempat berubah memerah ketika menoleh ke belakang dan mendapati Jeonghan tengah menunduk dan memandang seksama kaitan jemari mereka. Dirinya selalu siap dengan penolakan; namun nyatanya, sejauh ini belum ada satupun dari itu yang didapatnya.
Mingyu juga punya beberapa prediksi tentang bagaimana dirinya akan jatuh cinta. Kebanyakan kandidat tertuju kepada klien ataupun kolega karena satu-satunya appeal untuk sosok dengan ruang lingkup sepertinya adalah seseorang ber passion menggebu-gebu ketika tengah menyampaikan deck presentasi. Atau tempat klise papasan yang diisi dengan lift, gerai Starbucks di lobi bawah kantor, basement tempatnya memarkir mobil, atau pada outing kantor.
Anak dari tamu arisan mama juga punya banyak potensi pada skenario pandangan pertama dalam rancangannya. Atau jemaat gereja akhir pekan tempatnya beriba-dah. Atau pilihan terakhir, jatuh pada gym langganannya berolahraga.
Yang tidak pernah disangka-sangka, atau masuk dalam kategori konsiderasi, atau bahkan ada di dalam bayangan, adalah jatuh cinta kepada seseorang dalam sebuah kompetisi memakan keripik level pedas yang mereka adakan sendiri. Tanpa hadiah medali, plakat, piagam, piala—hasil akhirnya adalah memberi makan ego.
Namun disinilah Kim Mingyu; memandang satu sosok dari meja seberang, memantapkan tekad berusaha untuk menang, dengan satu porsi kripik kentang merah membara tersuguh untuk mereka lahap.
“Whenever you’re ready, Jack Dawson.”
“Stop calling me that!” Kekeh Mingyu bersamaan dengan matanya yang tertutup lengan. Namun protesnya tak begitu dipedulikan karena Jeonghan mulai melayangkan tangannya untuk mengambil satu buah kripik.
“Yang minum duluan artinya kalah.”
“Yes yes, i get it. ”
“Go! ”
Dirinya paham ini kekanak-kanakan. Seorang pria berumur tiga puluh dan satu lagi yang kemungkinan tak kurang atau lebih dari itu melakukan sebuah lomba untuk membuktikan sebuah validitas atas hal remeh. Namun dalam setiap sensasi pedas yang menyentil lidah, menggelitik tenggorokan, mengoyak perut, juga pada raut wajah Jeonghan yang komikal menahan banyak rasa dalam satu waktu, keduanya bersenang-senang.
Lima menit mengunyah dan menelan, keringatnya mulai bercucuran dari ujung pelipis. Toleransinya terhadap rasa pedas memang tinggi, namun indera perasanya bukannya kebal. Pun begitu ia simpan baik-baik momen ini dengan memperpanjangnya. Karena di depan sana, ada Yoon Jeonghan dan presensinya yang hadir dan menemani.
Mingyu paham bahwa prinsip Jeonghan bukan lagi mampu atau tidaknya pedas itu ia tahan. Determinasinya, adalah mengalahkan Mingyu. Masalah matanya berair dan hidungnya mulai kembang kempis itu urusan nanti. Dan lagi-lagi Mingyu menarik-ulurnya.
Beberapa detik sebelum mereka sama-sama meledak di tempat, dirinya mengundurkan diri dan meneguk sekotak susu full cream hingga tetes terakhir.
Yoon Jeonghan melempar seringainya.
"Ha! See?"
Pandangannya pada saat itu masih buram. Fokusnya adalah menyingkirkan keringat yang menempel di seluruh wajah dengan tisu, juga menghilangkan rasa pedas yang menyetrum lidah juga tenggorokan. Pun dengan penglihatan abu-abu itupun Mingyu masih dapat melihat Jeonghan bersama letupan kembang api tak kasat mata yang seakan selalu ada disana, bertugas membuat sang pria terus menjadi terang benderang.
Jeonghan hari ini dibalut oleh baggy jeans dan kemeja putih yang lagi-lagi jauh lebih besar daripada ukuran tubuhnya. Dua kancing teratasnya terbuka dan memberi napas pada tulang selangka, namun fokus Mingyu akan selalu dan lagi pada bibir ranumnya yang sekarang lebih merah muda ulah cabai-cabai nakal.
Kedai makan sederhana pinggir jalan dengan bangku plastik sore itu terisi dengan bahana tawa Yoon Jeonghan yang tengah berada dalam selebrasi kemenangannya. Matanya menyipit segaris, kepalanya terlempar ke belakang, tubuhnya bergetar dalam tawa. Namun daya tarik terbesarnya: masih, akan, dan selalu, bagaimana radiasi senyum lembutnya mengimplikasi keinginan siapapun untuk pulang ke rumah yang nyaman dan berlindung di balik selimut hangat.
Dan ini adalah perasaan jatuh cinta.
"Han."
"Hm?"
"Tell me something about you."
"Hmm.. wow, okay." Yang ditanya mencondongkan tubuhnya ke depan meja, membuat tautan jemarinya menjadi sandaran pada pipi. "I'm a fulltime florist, i lived with gramps, i have two employees of my own, and i love waking up in the morning."
"Jadi kamu gak punya pekerjaan selain itu?"
"Ah," Jeonghan dengan matanya yang memicing tajam. "Jadi lo tipe orang yang menganggap pekerjaan resmi adalah duduk di depan meja kantor."
"Ya gak gitu maksudnya," Kekehnya. "Itu kan saya gak tau makanya nanya dan bermaksud mengkonfirmasi."
"I had a lot of savings." Papar si dia bersamaan dengan bibirnya yang meneguk air mineral. "Dan penghasilan dari bunga bisa diputar sampai gue gak harus repot-repot joining the bandwagon untuk jadi budak korporat. My pace in life is slow, and i'm loving it."
And you make it sounds so easy to love you. "Jadi gak ada ambisi?"
"Gak ada ambisi."
"Tapi kamu terlihat seperti orang yang gampang terpicu sama tantangan."
"Depends on the scale." Jeonghan membalas dengan tenang. "If it's for teasing someone like you, then i'm down."
"Someone like me?"
"Yes, so full of superior masculinity."
"I beg you pardon?" Alih-alih terdengar marah, serangan tersebut lebih ia anggap sebagai guyonan. "Kamu gak bisa terus-terusan nuduh tanpa punya keinginan buat kenalan sama saya, Han."
"How would you introduce yourself, then? "
"Kamu mau taunya apa?"
"Lo mau overshare nya apa?"
"Saya cuma mau kamu tau, to clarify," Kedua telapak tangannya diangkat ke udara bagaikan tersangka yang sedang ditodong pistol. "That i'm trying to help you last night itu bukan karena saya berpikir kamu lemah."
"Okay." Jeonghan melipat lengannya di depan dada, rahangnya kini dipertegas. "Understandable."
"So are we agree to let this judgement pass, for now?"
"I'm going to ask my next question."
Mingyu mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar seringainya tak bermunculan. "Hit me."
"You're here for work? "
"Yep. I'm a fulltime Jakartans and the so-called corporate slave yang harus on the way pulang dalam..." Mingyu mengecek jam di tangannya. "Tiga jam kedepan."
"Hah? Terus lo ngapain masih disini sama gue?"
"Tiga jam lagi itu lama, Jeonghan."
"Ya i know , tapi kayak— you haven't bought any flowers."
"Maksudnya?"
"Lo belom beli satupun jualan gue."
Si pria yang lebih tinggi terbahak. "Iya, nanti ya beli pas nganterin kamu balik."
"Okay."
"Mau nanya sesuatu, tapi lagi nyari wording yang decent."
"Wording yang biasa aja emang gak decent?"
"Engga, soalnya kedengeran kayak buaya mangap. And i swear on Jesus, i'm not. I'm genuinely asking."
"Try me."
"Ini saya ngajak pergi, gak ada yang marah kan?"
Jeonghan, pada saat kalimat itu berhenti pada tanda tanya, tak hanya sekedar terkekeh. Ia juga tak tersenyum seadanya. Juga tak menanggapi atas dasar formalitas. Jeonghan, menyemburkan tawanya begitu kencang sampai keningnya harus menubruk permukaan meja berulang kali. Gelak tawa itu awalnya tanpa suara. Disusul dengan tubuh yang bergetar. Kemudian suara-suara diluar nalar. Dan akhirnya sebuah tawa murni, lengkap dengan matanya yang tertutup rapat menahan geli.
"You do sound like buaya mangap."
"Udahlah, Han." Mau tak mau, Mingyu pun rela ikut tertawa. "Kalau gak ada yang marah, yaudah next diajak pergi lagi ya."
"Boleh." Balasnya lembut.
"Atau kamu yang mau ikut main ke Jakarta?"
Pada pertanyaan yang baru saja terlayangkan, senyum Jeonghan sedikit demi sedikit memudar. Perlahan. Berangsur-angsur. Dan ia berusaha menutupinya dengan pengalihan topik dan tubuh yang bersiap-siap untuk bangkit.
"Kita balik sekarang aja gak sih biar lo sempet nganterin, milih-milih bunga, terus pulang on time?"
Kening Mingyu berkerut penuh rasa bingung. "Kita gak mau coba makanan yang lain dulu? Sumpah, masih banyak waktu kok."
"Bisa nanti pas next pergi?"
Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya yang berkeinginan untuk menolak. Bahwa ia masih ingin berada disini dan ada di momen ini. Bahwa sebuah pemikiran memotong dan mengakhiri waktunya bersama Jeonghan, terasa seperti akhir jaman. Namun apa mau dikata, memaksa seseorang yang belum benar-benar dikenalnya terdengar seperti sebuah perilaku tak etis.
Jadi ia putuskan dan tekankan sebagai jawaban pada saat itu, "Iya, bisa nanti-nanti lagi next pergi."
Perpisahannya dengan Jeonghan bukan sebuah perpisahan yang dramatis. Jarak antara Asia Afrika dan rumah si dia masih sesekali mereka isi dengan mengobrol dan mengomentari sesuatu tentang sang kota, bersama lantunan beberapa lagu dari radio yang beralgoritma dengan rintik hujan diluar. Bandung malam itu, dinginnya menusuk ke dalam tulang.
Mingyu tak ingkar janjinya untuk turun sejenak dan memilih beberapa bucket bunga untuk dibeli. Kebanyakan transaksi pilih-memilih ia lakukan bersama karyawan Jeonghan, sedangkan si empunya sibuk melakukan sesuatu di belakang kasir. Dirinya paham ada sedikit kejanggalan dari semenjak senyumnya menghilang tadi, namun yang sulit adalah mencoba menggali.
Karena belum waktunya. Karena belum saatnya.
Untuk sekarang, ia harus puas hanya dengan memboyong pulang satu bucket bunga cantik sebagai jaminan bagi otaknya untuk terus menstimulus bahwa Yoon Jeonghan adalah nyata.
"These flowers are beautiful. Saya pulang dulu, ya. See you when i see you."
Dirinya tidak berakhir menghubungi nomor Jeonghan sekalipun dalam rentang waktu dua minggu walaupun kontak itu terdiam disana, tak terjamah. Alasannya karena Mingyu paham diumurnya dan Jeonghan yang sekarang batas dan waktu sifatnya adalah esensial, dan tolak ukur kemajuan tak hanya harus lewat komuni-kasi yang menggebu-gebu.
Mingyu juga paham bahwa Jeonghan bukan tipe orang yang membutuhkan pertanyaan kamu lagi apa beberapa kali dalam sehari, atau basa basi menanyakan bagaimana hari, atau spontanitas lain dalam bentuk sambungan telepon dini hari.
Dan Mingyu pun bukan si pemaksa. Kalau diwaktu itu ia pernah menyebabkan Jeonghan dan senyumnya memudar, maka mundurnya adalah menunggu si dia untuk sukarela maju kembali.
Hal itu terjadi tepat pada satu bulan sejak pertemuan terakhir mereka. Mingyu dengan waktunya yang banyak terkikis di kantor, dan segala diantaranya yang akhirnya terlupakan. Menyaksikan sebuah nama yang berangsur bergeser tempat ke belakang kepalanya namun akhirnya muncul kembali, adalah sebuah aliran listrik bagi tubuhnya yang tengah luar biasa lelah.
“Han?”
“Kalau ada waktu lowong, kapan kira-kira bisa main ke Bandung lagi?”
Mingyu ingat yang menjadi saksi perjalanannya malam itu dalam mengarungi tol Cipularang adalah satu cangkir kopi Iced Americano dan sayup suara radio yang terabaikan. Bajunya bahkan masih apa yang dikenakannya saat berangkat dari rumah tadi pagi, dan auranya memancarkan kacung kampret yang telah lelah menatap layar laptopnya.
Namun hari itu adalah hari Jumat. Dan besok adalah akhir pekan. Dan sensasi pompa jantung di dadanya belum juga hilang. Dan malam ini Mingyu ingin mengumandangkan lagu bertemakan cinta.
Jika dapat menggambarkan situasinya segera setelah mengarungi tiga puluh hari kemudian untuk bertemu lagi dengan sang pria, Mingyu akan menggunakan kata naik kelas. Karena Yoon Jeonghan yang pada kala itu kembali menyambutnya dengan tangan terbuka bersenandung dengan sesak beban di dada yang kini sudah tidak lagi mengintervensi.
Malam itu Jeonghan mendongengkannya sebuah cerita.
“I’m so sorry for acting like that the other day.”
“You’re sorry for…? ”
“Waktu lo ngajak gue main ke Jakarta.”
“Oke.” Mingyu mencoba menarik napas dengan tenang. “Ada alasan spesifik kenapa omongan saya offend kamu?”
"You’re not— ” Yoon Jeonghan tengah kesusahan merangkai dan menjahit kata-katanya. “Lo masih inget waktu gue bilang kalau gue cuma tinggal sama gramps aja? Di rumah yang bagian depannya disulap jadi toko bunga, and that’s it.”
“Iya, saya inget. Kenapa Han, sama hal itu?”
“Let’s just wrap it with i was supposedly died along with my parents if i happened to get into that car a few years ago. Tapi kebetulan ada suatu yang mendadak di kampus hari itu, so i never had. Still, ini rasanya kayak gue lagi hutang sesuatu. Because it’s almost. Almost. But here i am.”
Mingyu menangkap segalanya dengan cepat. “Dan itu kejadiannya sewaktu mereka menuju ke Jakarta?”
“…Yeah.” Dan Jeonghan mengkonfirmasinya secepat kilat.
“I see.” Napas yang tertahan itu akhirnya ia lepaskan. “Saya paham.”
“I know it’s a silly trauma but i can’t. I could though, cuma gue gak mau. I wouldn’t try because it’s my choice to not to. I set it as an off-limits. I would never… ”
“Han.” Mingyu mencegah sang pria dari kalimatnya yang semakin menyesakkan. “Iya, saya paham.”
“Well,” Sang pria mencoba mengembalikan senyum mataharinya. “Now you know i’ll be stuck here forever. I can’t leave gramps anyway, so i can use it as another excuse . Gue juga gak tahu kenapa gue harus ceritain ini ke lo segala, but i guess i owe you an apology. Buat selanjutnya gimana, i guess gak gimana-gimana juga sih. Right?”
Isi kepala Mingyu mulai berkalkulasi dengan liar dan penuh kekacauan because what the fuck? No, it’s not right. It made him feels batshit insane. Karena setelah mengingat-ingat betapa absurd segala situasi mereka dari semenjak awal di pesta ulang tahun sana, tidak ada yang sepenuhnya benar.
Tidak ada yang pernah lebih buru-buru dari jatuh cinta kilat noraknya pada segala yang hangat dan sederhana tentang Yoon Jeonghan.
Sekarang dari manik matanya, memancar sebuah keinginan menggebu-gebu super gila yang meledak ingin diungkapkan. Dan Mingyu berada di ambang antara berhasil mengatakannya atau terkubur dalam-dalam bersama keinginan dan hasrat.
Karena dirinya tahu bahwa ia bersungguh-sungguh, namun meyakinkan orang lain akan itu adalah tantangannya.
“Han.”
“Hm?”
“I wanna marry you. ”
“…Haha.”
“Marry me.”
“You’re joking.”
“No i’m not.”
“Mingyu—”
“No, listen. I’m drop dead serious.”
“And i just told you i’m stuck in here. Gak ada yang bisa lo lakuin tentang itu. Apapun solusi lo terhadap ide gila lo barusan, i can’t leave this city. And it’s only been a month! Tahapannya udah salah. We barely knew each other.”
“And that’s the excitement. Kita pakai hari-hari baru itu buat ngenalin diri ke satu sama lain. We will fill the day with something new, you and me.”
“Oh my God.” Tawa Yoon Jeonghan kala itu, jika dilihat oleh siapapun yang awam, mungkin akan terlihat bagaikan kehilangan kewarasannya. Percaya atau tidak, jauh di lubuk hati ia memang tengah merasa seperti itu. Karena kalau keos yang sehari-hari ia deskripsikan adalah tentang orderan beruntun yang datang secara bersamaan, kali ini adalah tentang Kim Mingyu.
Dan pria itu sedang melamarnya.
“It’ll be hard, Gyu… What about your work? ”
“Itu gak usah jadi pikiran kamu. No worries. Kamu cukup ada disini, nanti saya yang datang. Saya akan selalu datang. Saya gak akan maksa apapun atas hal-hal yang gak kamu mampu lakuin. I just—i have to keep you. You gotta say yes.”
“That sounds like an order.”
“God, i wish it wasn’t but you are a piece of something and i’m in my death line here. Saya bisa gila kalau pergi dari sini dengan jawaban selain iya. I know this is risky but i swear on my word. I’ll treat you as you deserve.”
“Mingyu…”
“Please, Han… Hm?”
***
Kim Mingyu adalah individu yang luar biasa gila ketika ia mengatakan kepada Yoon Jeonghan beberapa bulan lalu bahwa ia akan memperlakukannya sesuai dengan apa yang pantas suami barunya itu dapatkan. Bersamaan dengan hari-harinya menyandang sebuah cincin cantik pada jari manis, Yoon Jeonghan adalah segala-galanya atas nama sosok paling bahagia, setidaknya di dalam dunia kecil yang ia ciptakan bersama Kim Mingyu.
Awal mula kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Dengan jadwal Mingyu yang padat juga jarak yang menghalang, Jeonghan tahu bahwa gilirannya untuk bertemu wajah dengan sang suami sangatlah sedikit. Belum lagi rasa lelah yang setidaknya akan menjadi batu kerikil krusial suatu saat nanti. Kepalanya itu tidak pernah beristirahat dari berpikir: tembok kokoh macam apa yang harus ia bangun untuk membuat hubungan ini bertahan selama mungkin?
Namun tidak pernah. Tidak pernah satu kalipun, kedatangan suaminya ke Bandung adalah bersamaan dengan lelahnya yang ia ikut bawa. Kim Mingyu bagaikan si dia yang bangun di pagi hari dengan istirahat yang cukup dan energi penuh, menyambangi kota Bandung dengan tangannya yang terbuka lebar.
Dan Yoon Jeonghan menyambutnya.
"Lampu merah situ tuh emang selalu biasanya lama, ya?"
"Hm? Lampu merah mana?"
"Lampu merah yang selalu kita lewatin kalau mau ke rumah kamu, yang perempatan besar."
"Ooh... Lampu merah Samsat?"
"Kurang tau juga saya apa namanya. Pokoknya rada lumayan lama."
"Itu tuh terkenal tau, kamu memang gak pernah denger orang-orang ngomongin? Katanya sambil nunggu lampu merah Samsat kita bisa nyeduh kopi sama rebus Indomie dulu."
"Hah?" Mingyu dengan kekehnya.
"Iya, seriusan. Waktu itu pernah—" Jeonghan yang sedang mengiris bahan makanan di salah satu sudut meja dapur itu menoleh ke belakang untuk mencari suaminya. "Kamu lagi ngapain?"
Mingyu balas memandang dengan wajah kebingungan dan tangan menggantung di udara penuh busa. "Cuci piring...?"
"Nooo, let me." Dari menggengam pisau, Jeonghan berjalan menuju suaminya dan menyeretnya pergi dari depan wastafel. "Kamu tuh baru nyetir Jakarta - Bandung. Bisa gak duduk dan nunggu makanannya mateng aja?"
"Saya gak capek, Jeonghan."
"Still, aku gak mau kamu disini. Hush, hush, nonton TV aja sana."
Protes itu Mingyu abaikan dengan lanjut membilas beberapa alat makan. "Kamu tahu gak, kalau di Jakarta perjalanan saya dari kantor ke rumah di jam pulang kantor sama aja kayak durasi ke Bandung? Gak cuma pas pulang sih, pas nyamperin beberapa klien pun gitu. Belum lagi waktu yang harus dihabisin buat cari parkir. Bulak-balik ke Bandung tuh buat saya... sesuatu yang biasa aja."
"That's... " Jeonghan dengan matanya yang membulat sempurna. "Why are you doing that?"
Tawa si dia yang lebih tinggi terjadi bersamaan dengan bibir yang ia sempatkan untuk mampir di kening sang suami. "Karena saya butuh uang buat bikin kamu senang?"
Respon Jenghan datang lewat gerlingan mata. "Tapi bukan artinya kamu immune sama rasa capek juga, kan."
"Kalau saya, datang kesini cuma untuk nonton televisi," Tuturnya perlahan. "Itu sih tinggal saya lakuin aja di rumah. Saya kesini karena saya cari kesempatan dimana saya bisa deket-deket sama kamu terus. Dan kalau kamu lagi nyiapin makanan di dapur terus kebetulan cucian piringnya numpuk ya kenapa gak saya kerjain?"
"Okay." Jeonghan menjatuhkan dagunya di bahu Mingyu, menggelendoti seraya sang suami menyelesaikan tugasnya. "How's work, though?"
"Gitu-gitu aja sih. Meeting lagi, ketemu klien lagi, briefing lagi, evaluasi lagi. Seungkwan sama Seokmin titip salam buat kamu, ngomong-ngomong."
"Oh really? Kapan mereka mau main kesini lagi... Ketemunya cuma baru sekali pas wedding day."
"Nanti deh ya. Mereka udah ada beberapa kali diskusi sih, mau jadi turis Braga katanya."
"Astaga." Kekeh Jeonghan. "Apa sih disana, paling kopi gula aren yang viral itu."
"Ya apalagi saya, atuh. Mana tau..."
"Terlalu anak muda banget ah, Braga. Gak cocok kita."
"Jadi kemana?" Mingyu nyengir.
"Kemana apanya?" Jeonghan membalasnya dengan cengiran lain.
"Rencana honeymoon nya." Si pria yang lebih tinggi kini sudah mencuci bersih semua yang bertumpuk di wastafel, mengeringkan tangannya dengan lap, lalu membalikan badannya untuk berhadapan dengan sang suami. Kedua telapak tangannya yang masih menyisakan beberapa titik air ditempelkan di pipi sana.
"Mau kemana kita?"
"Cari tahu susu di Lembang."
Si Mingyu itu serta merta tertawa seraya mengigit kecil ujung hidung Jeonghan. "Itu sih jalan-jalan sore sayang, bukan honeymoon."
"Tapi kalau request nya gitu boleh, gak? Kayak... yang ngga macem-macem aja. Piknik ke taman, booking capsule hotel , datang ke festival jajanan, apapun yang gak perlu persiapan yang grand. Dan gak ngabisin tabungan. Just us, talking to each other."
Tangan si pria yang lebih tinggi berpindah dan menggengam lekuk pinggang sang suami dengan erat. Ucapnya dengan pandangan yang menusuk langsung ke manik mata Yoon Jeonghan, "Saya selalu akan ikut apa maunya kamu."
"Okay." Tangannya kini dikalungkan di leher sang pria, mengambil kesempatan dalam jinjitnya untuk mendekatkan bibir mereka sampai akhirnya bertaut.
Kilas baliknya, kembali pada suatu hari bahagia di gereja sana dimana mereka saling mengikat janji. Acara itu bukanlah sebuah acara megah. Jumlah tamu yang datang pun, menggambarkan betapa keduanya ingin hari itu menjadi tentang intimasi dan silaturahmi.
Beberapa bulan lalu, kekhawatiran Jeonghan adalah tentang bagaimana ia nantinya akan kurang mampu mengimbangi Mingyu dengan pertemanan juga koneksinya yang luas. Atau gaya hidup mereka yang mungkin saling timpang. Atau prinsip-prinsip yang berbanding terbalik. Semakin saling mengenal, semakin dirinya paham bahwa Mingyu merupakan seorang pria sederhana yang terjebak dalam banyak kewajiban dalam hidupnya.
Ketika berada di dalam okasi dimana hanya ada mereka disana, Mingyu dan Jeonghan hanyalah dua insan yang tidak berkemampuan untuk berhenti saling menyayangi, memahami, dan melengkapi.
And then that’s it. Kedua orang tua Mingyu memperlakukan Jeonghan dengan sangat baik, gramps selalu gembira ketika Mingyu menginap di akhir pekan, semua teman-teman mereka hadir dengan dukungan penuh juga sambutan hangat, long distance relationship tidak pernah menjadi aspek masalah utama, they made a fairytale of their own.
Beberapa pekan kemudian mereka berdua benar-benar mengkategorikan kegiatan bertamasya ke salah satu tempat wisata di Lembang sebagai bulan madu. Isinya lagi-lagi hanya mereka yang berkemah dan mengobrol, namun satu cangkir susu hangat adalah apa yang membuka Mingyu dan Jeonghan kepada satu sama lain dalam rangka membayar waktu pendekatan mereka yang begitu singkat.
Terkadang pada suatu Sabtu nan malas, mereka sama-sama bersebelahan di sofa dengan semangkuk sereal di tangan dan tayangan Netflix di layar televisi. Lalu kencan pagi itu dibumbui oleh sentuhan-sentuhan kecil. Lalu kecupan di bahu dan leher. Lalu pakaian yang tersingkir hingga buku-buku jari itu dapat berjumpa temu dengan kulit. Lalu lenguhan dan rintihan yang mengikuti.
“Geli kah?”
“Mhm.” Jeonghan memiringkan kepalanya agar Mingyu punya akses yang lebih luas untuk bisa menjamah setiap titik di ceruk lehernya. “Keep going.”
“Kalau jadinya merah-merah saya bakalan kena marah, gak?”
Yang ditanya terkekeh. “Guess i’ll have to ngubek-ngubek lemari to find some turtleneck.”
“Saya punya.” Satu kecupan lembut. Satu kecupan dalam. “Pakai punya saya.”
“Ngh…”
“Gramps…” Jemari si pria yang lebih tinggi mulai mahir bermultitasking dalam melucuti kancing piyama sang suami satu-persatu. “Beneran udah berangkat ke acara yang di gereja, kan?”
“He…” Yoon Jeonghan menggeliat di tempat sewaktu putingnya disentuh dan dipelintir pelan. “Yes, he is.”
“Okay.” Dan dalam sekejap mata Kim Mingyu mengganti jemari yang memelin-tir itu dengan lumatan bibirnya. “Okay, baby.”
Tubuh Jeonghan mengejang dan melengkung. “GOD, that feels…”
“...Like heavens?”
“Like heavens.” Anggukan di kepala sang suami terjadi dengan begitu membabi buta. “Can you…”
“Apa, Han? Kamu mau saya ngapain?”
“Do the other one.”
Mingyu mencabut bibirnya dari puting kiri Jeonghan lalu terkikik pelan. “Siap.”
Dan dia melakukannya. Menghisap dan menjilat disana bagaikan tak akan ada hari esok, seraya tangannya yang lain menahan pinggang Jeonghan agar bisa tetap berada di tempat. Lalu sesekali sikunya bertabrakan dengan sesuatu yang menonjol diantara selangkangan sana.
Dan Yoon Jeonghan menjerit. “Mingyu…”
“Iya, Jeonghan?”
“Ngilu banget…”
“Cuma kesenggol aja?”
“Jadi pusing…”
Bibirnya yang tadi bekerja keras itu mengambil waktu beristirahat, kini wajahnya kembali mendongak untuk saling bertatap mata dengan si dia yang sekarang adalah salah satu hal paling ia sayangi. Tatapan itu terus-menerus merekam, mengambil, menyimpan memori, meraupnya untuk dikonversi menjadi perasaan cinta. Bahwa ada penciptaan rasa bahagia dari hanya berada di sana dan bersama satu sama lain.
“Kenapa?” Yang terus-menerus ditatap mulai menyunggingkan senyum karena grogi, jemarinya menyingkirkan beberapa helai rambut menutupi mata Mingyu.
“Gak apa, seneng aja liat kamu.”
“Awas nanti bosen.”
“Why would you say that? ”
Alih-alih langsung merespon, Jeonghan menggunakan satu ibu jarinya untuk mengusap pelan alis Mingyu yang berkerut. “Jangan cemberut, jelek.”
“Saya gak akan penah mau ngerasa bosen sama kamu.”
“Me too, honey…” Tubuhnya mencondong maju, mengecup tulus kening itu hingga hilang kerutannya. “Do you ever like… embarrassed of saying i love you out loud?”
“Hmm…” Mingyu menaruh dagunya pada bahu Jeonghan. “Konteks malunya karena apa?”
“I don’t know… I guess i feel like it’ll be too fast , atau kedengeranya jadi gak tulus aja. But I do. Feel the love, i mean.”
“Buat saya kah ini?”
“Everything about us is happening so fast.” Sang pria yang lebih kecil mendekap Mingyu lebih erat, menaruh telapak tangan di belakang kepala sang suami dan mengusapnya bagaikan tengah menina bobo. “Is this even real? Or are we just sugarcoating ourselves? ”
“You wanna know how real it is? Our love? ”
“How? ” Bisik Jeonghan lirih, untaian jemarinya meremas raupan helai rambut Mingyu seakan pegangan paling kokoh.
“I’ll, ” Mingyu mengangkat tubuh Jeonghan dengan menggengam kedua sisi pinggangnya, memutar mereka sehingga kini posisi mereka menjadi bergantian; yang lebih tinggi duduk bersandar di sofa sana, lalu Jeonghan menempati singasana di pangkuan. “Make love to you.”
Jeonghan jatuh ke dalam keadaan dimana kepalanya berada di atas awan. Pakaian yang sepenuhnya terlucuti, setiap inci tubuh yang pasti terjamahi, bibir yang sibuk terlumat dan dilumati, lenguhan yang nyaring dan mengisi.
Mingyu bukan orang yang sepenuhnya langsung paham apa inginnya Jeonghan. Terkadang ambisinya menghantar kesalahpahaman tak terduga, yang membawa hal-hal baru diantara mereka. Namun pada setiap gigitan pada tulang selangkanya (segini gak apa?), atau tamparan pada bokongnya (kalau terlalu kasar sayanya dikasih tau ya Han), atau remasan pada penisnya (kalau gini kamunya enak?) pria itu selalu berkonsiderasi.
Dan mungkin, sudah saatnya kali ini ia memberikan sebuah kepercayaan penuh.
“Yes, please.”
Mingyu menata lajunya dengan mandiri setelahnya. Telunjuknya mulai bermain usil dalam meraba-raba satu lubang dibawah sana. Pembukannya masih sulit dan resikonya masih tinggi, namun bagaimana Jeonghan memahat ekspresi wajahnya ketika jemari sang suami ada disana adalah target mutlaknya.
“Waduh,” Protes si dia yang memangku seraya membetulkan letak duduknya. Penis mereka tak sengaja bergesekan, dan Jeonghan harus mengambil beberapa waktu untuk meringis dan menutup mata. “Pelumas sama pengamannya jauh sayang, di kamar.”
“I’ll go get it? ”
“Will you? ”
“Yeah…”
Memformulasikan sebuah adegan dimana Yoon Jeonghan akan berjalan dari ruang tengah ke kamar mereka dengan tubuh yang sepenuhnya telanjang adalah apa yang membuat sendi dan vena di tubuhnya menjerit ngilu. Kepalanya seakan dihantam palu hingga penglihatannya buram, dan libidonya naik satu tingkat membuat ujung penisnya kini basah kuyup.
“Saya tunggu disini, ya.”
Bersamaan dengan tubuhnya yang dibangkitkan dari pangkuan sang suami, Jeonghan mencuri kecup. “Mhm.”
It was a whole torture to wait bahkan untuk ukuran sepersekon dan lebih. Mingyu yang saat itu masih mengenakan celana pendek karetnya buru-bubu melucuti agar kepunyaanya bebas berdiri dan mengacung tegak, dan itu mengundang jemarinya untuk melingkar disana dan bergerak naik lalu turun. Sensasi itu adalah morfin baginya seraya menunggu kedatangan si dia yang ditunggu.
And by the time his husband walking back with the stuffs on his grips, Mingu dan bola matanya sedang berputar penuh ekstasi.
“Enjoying yourself? ”
“Cuma— shit —cuma dikocok biasa aja.”
Jeonghan dan senyum jahilnya. “Yang gak biasa, memang ada?”
“Ada dong.”
“Mind to share? ”
“Come here first.” Dan maka dengan sukarela si Yoon Jeonghan itu perlahan berjalan, kembali ke pangkuan, merasakan hangat kulit dan sentuhan, membiarkan dirinya didekap agar Kim Mingyu dapat membisikan, “Yang gak biasa, kocoknya pakai mulut kamu.”
Dulu—sekitar sebulan setelah menikah, Mingyu sulit mempercayai bahwa pria yang dipinangnya itu bisa menjadi sosok yang penurut pada okasi tertentu. Impresi pertama Jeonghan pada pertemuan mereka di pesta sana selalu menggam-barkan kepala yang keras dan pendirian yang sulit untuk dibantah.
Namun pada suatu malam ia menyaksikan bahwa suaminya itu berkemampuan dalam membuatnya dimabuk kepayang hanya lewat tingkah manisnya. Yoon Jeonghan, adalah si dia yang meringkuk manja di dada Kim Mingyu seraya men-ceritakan harinya.
“Hari ini aku bodoh banget, kesel.”
“Kenapa kamu?”
“Aku siapin pesanan orang tanpa DP, dan ternyata dia hit and run.”
“Bunganya udah kamu rangkai?”
“Makanya itu, udah...”
“Aduh, kasihan... Saya bisa bantu apa?”
“Bantu bikin gak sedih lagi, boleh?”
“Boleh. Maunya gimana?”
“Maunya disayang-sayang...”
Sisi submissive kala itu, lalu muncul kembali disaat-saat krusial setelah bisikan barusan tersampaikan dengan sempurna. Bahwa ada sesuatu yang haus untuk di-puaskan. Bahwa sesuatu itu butuh bantuan spesifik namun erotis.
Jeonghan memberi Mingyu senyum paling penurutnya, membawa aliran darahnya berlomba-lomba untuk lari ke puncak kepala. Dan Jeonghan tak main-main tentang itu. Karena segera setelah tubuhnya merosot turun dan wajahnya berada sejajar dengan kepunyaan Mingyu, bibir itu melahapnya dari ujung sampai hampir ke bagian tengah.
“Han, Han.” Mingyu mengangkat pinggangnya penuh keterkejutan. “Pelan aja, nanti kamunya keselek.”
Mhm yang diberikan Jeonghan menjalar dan menyentil Mingyu hingga ke tulang.
“Astaga, Han…” Matanya kini ditutupi oleh lengan, pasrah dalam desah. Yang dipanggil masih terfokus dalam usaha terbaiknya. Dalam permainannya.
Mingyu menggunakan kesempatan tersebut dengan ikut membuka tutup botol lalu melumuri tangannya. Kegiatan itu ia lakukan bagaikan hal tersulit di dunia karena stimulus yang Jeonghan ciptakan, namun akhirnya sepuluh jemarinya kini penuh berlumuran pelumas.
Lalu tanpa aba-aba dan koordinasi, Jeonghan mengepalkan tangannya atas efek dari lubangnya yang ditusukan perlahan. “Mmmngh…”
“You’re doing good, baby. Aku tambah pelan-pelan, ya.”
Lagi-lagi Jeonghan mengangguk tak karuan. “Okay.”
Di sana, di dalam tempat dimana Mingyu tengah mengeksplorasi dan melakukan gerakan keluar dan masuk dengan jemari, bukaanya mulai melebar dan melunak. Kesempatan itu Mingyu gunakan untuk menambah kecepatan. Lebih cepat. Lebih kilat. Lebih padat…
“I can’t—” Satu bulir air mata mengalir di pipi Jeonghan tanpa permisi. “—so. good. Feels so good…"
“That’s really nice to hear, baby. ”
Mingyu paham dari bagaimana Jeonghan menopang dirinya sendiri bahwa suami-nya itu sudah tidak berkemampuan untuk berfungsi. Penisnya yang berdiri tegap menepuk-nepuk wajah Jeonghan yang terpejam lemas, dan pada jemari ketiga yang kini masih ada di dalam sana mempreparasi, ia mengambil sebuah tindakan.
“Sekarang?” Tanyanya, menggebu-gebu, berapi-api. “Sekarang ya, sayang?”
“God, please,” Respon Jeonghan berdeterminasi, setengah mati. “Please put it in. Please , Mingyu...”
“I’m going in. I’m going in, i’m going in, i’m going in…”
Ada jemari Mingyu yang lagi-lagi bertarung hidup dan mati dalam memasang pengaman disana. Diantara seluruh keburu-buruannya, bersama isi kepala yang tidak lagi sepenuhnya dapat berpikir jernih. And then he is in; Jeonghan di atas pangkuan, menampung setiap inci dari Mingyu, melengkungkan tubuh dengan indah atas dasar rasa nikmat yang mengguyur, dan telapak tangan yang menopang bokong sang suami dengan erat agar dapat ia gerakan tubuhnya.
Awalnya stimulus itu dilakukannya secara perlahan. Naik dan turun… Naik dan turun… Terkadang ia biarkan naiknya begitu tinggi dan turunnya begitu dalam, lalu ia lakukan lagi begitu membuat kesimpulan bahwa Jeonghan menyukainya sebanyak ia menyukainya. Karena rasa nikmat itu kini ada di ujung kerongkongan. Dan keduanya siap untuk muntah gila-gilaan.
“Shit, shit, shit… Han…”
“Aku suka banget… Enak…”
“Harder? Can i? ”
“Harder. You may. ”
And harder it is.
“Fu—Mingyu!”
“You’re doing good, baby. Holy—you’re so damn doing good… ”
“I am good .” Anggukan, anggukan, anggukan. Telapak tangan Jeonghan bagai orang kesetanan menangkup pipi Mingyu dan melumat bibirnya seakan tidak akan ada lagi hari esok. “I am good… Yours, right? ”
“Mine.” Si pria yang lebih tinggi meremas paha Jeonghan begitu keras hingga bercak kemerahan terlukis disana. “Saya keluar ya, sayang? Ini udah sedikit lagi.”
“Mhm—ah!—Oh my God… ” Jeonghan melingkarkan tangannya di leher Mingyu dan menjambak rambutnya sekencang yang ia mampu
“Fuck i love you. ” Untuk pertama kalinya pada pagi hari itu, Mingyu akhirnya mendapatkan waktu untuk mengatur napasnya dengan tenang dan perlahan.
“Thank you…” Bisik Jeonghan dengan wajahnya yang kini bersembunyi di ceruk leher. Ucapan itu, entah kenapa memicu Mingyu untuk tertawa.
“Makasih buat apa? Jadi kayak transaksional deh nih.”
“Ih, bukan gitu.” Rengeknya seraya mencubit pinggang sang suami gemas. “Thank you for saying that i am yours.”
“Loh, gak perlu dimakasihin yang itu. Malah kalau saya gak bilang gitu kamu yang perlu ngamuk.”
“Still .” Jeonghan kembali menegakkan tubuhnya, menyeka beberapa titik keringat yang jatuh di pelipis si dia, dan mengecup keningnya dalam-dalam.
“Mine? ”
“Yours.”
***
Realita yang senyata-nyatanya waktu itu memukul Jeonghan, terjadi tepat menuju satu tahun peringatan pernikahan mereka. Lagi, bukanlah sebuah rencana yang dimaksudkan untuk disusun secara matang-matang, namun lebih kepada selebrasi tentang mereka yang berhasil tiba di titik ini.
Tentang jarak yang tak pernah sekalipun mengkhianati, dan tentang rasa saling percaya yang masih sama kuatnya seperti di hari pertama.
Kecuali, mungkin, di hari itu—sebuah waktu krusial dimana kehadiran Mingyu di pintu rumah kecil mereka begitu ditunggu dan dinantikan. Namun denting jam yang menunjukan lewat tengah malam itu adalah sebuah bukti bahwa yang ditunggu tak kunjung datang, dan bahwa rasa khawatir yang tengah berkecamuk di kepala tak kunjung menemukan obatnya.
“Tidak angkat telepon, Mingyu mu?”
“Engga, gramps.” Cardigan cokelat jaring-jaring yang dikenakannya malam itu, ironisnya adalah yang ia kenakan sewaktu pertama kali bertemu dengan sang suami. Dan sekarang ulu hatinya merasakan nyeri. “Tumben banget.”
“Pasti penting urusannya.” Gramps di kursi goyangnya, menyeruput teh dari gelas khas hijaunya. “Biasanya gak begitu.”
“Han tau, gramps … Tapi masalahnya aku kepingin tau kenapa, gitu.”
“Ini sekarang kamu tidur dulu, nak.” Sang kakek berusaha meraih tangan Jeonghan dan mendistraksinya dari memandang layar handphone. “Sudah malam. Kalau sempat kabari, suamimu pasti kabari. Gramps tahu Mingyu, dia gak mungkin ada hati bikin kamu kepikiran begini.”
“Okay.” Dirinya pasrah, dan akhirnya memeluk kakeknya erat. Jeonghan harus tidur. Atau setidaknya, ia harus mengkhawatirkan segalanya diam-diam dari dalam kamar. Karena kalau ia terus berada di sini, menggengam korek agar lilin yang ditancapkan pada kue itu dapat segera dinyalakan nantinya, Gramps pun tidak akan merelakan dirinya untuk masuk kamar dan meninggalkan cucunya seorang diri.
Jadi malam itu, setelah menghantarkan kakeknya ke dalam kamar dan berada aman juga nyaman di balik selimut, Jeonghan pun melakukan hal yang sama.
Keesokan paginya adalah sepenuhnya neraka. Kabar yang tak kunjung datang itu mengharuskan Jeonghan untuk rela meninggalkan toko bunganya untuk sepenuh-nya diambil alih para karyawan karena konsentrasinya yang buyar kesana-kemari. Jeonghan masih ingin berusaha menggengam rasa percaya dengan menunggu setidaknya sepucuk pesan, namun tak satupun kunjung datang menuju tengah hari.
Bendera tanda menyerahnya akhirnya ia kibarkan ketika ibu jarinya dengan ragu mencari kontak Seokmin dan mengubungi nomornya dengan seluruh perasaan berat di dada. Jantungnya itu kalau boleh jujur, sedang berdegup begitu kencang.
“Han?”
“Hai, Seok, morning … Sori, ganggu gak ya?”
“ No, no santai. Cuma gue gak enak nih sama lo baru bangun.”
“Oh… lo gak lagi ada urusan kantor?”
“Engga sih kebetulan, semalem tuh gue suruh anak-anak pulang cepet karena target juga udah archived dan besoknya weekend juga. Mingyu sampai Bandung jam berapa?”
“Mingyu gak… Seok, semalem dia bilangnya mau kesini?”
“Loh, emangnya dia gak ada disana?”
Han, lo tunggu ya, gue check ke rumahnya. Tante sama om seinget gue lagi liburan ke Singapore jadi kemungkinan Mingyu di rumah sendirian adalah hal yang Jeonghan dengar sebelum Seokmin menutup teleponnya. Tentu ia tahu bahwa kedua mertuanya sedang tidak ada di tanah air. Tentu ia sadar bahwa dirinya butuh bantuan Seokmin sebagai kaki tangannya untuk bergerak.
Ia bisa menunggu. Ia bisa bersabar. Ia bisa menanti. Yang tidak bisa Yoon Jeonghan lakukan pada kala itu adalah: 1) menyesali jarak 2) menyalahkan dirinya sendiri atas segala ketidakmampuan yang ada disana karena traumanya.
Karena dalam panggilan masuk pertama setelah Seokmin memegang kunci jawaban atas segala kegundahannya, kata-kata yang keluar dari rekan kerja suaminya berbunyi seperti Han, sori baru ngabarin. Ini Mingyu demamnya tinggi banget gue tadi langsung buru-buru cabut ke rumah sakit dulu. Tapi lo tenang aja ya, anaknya aman sama gue.
Kata aman yang Seokmin sebutkan, memang tidak pernah mengundang ragu. Jeonghan percaya itu, dan ia hanya bisa tinggal melanjutkan semua sebagaimana mestinya sampai nanti ada kabar selanjutnya.
Namun konsep rasa khawatir itu jenaka dan membingungkan. Salah satu jalan keluarnya, hanyalah dengan melupakan atau meluapkan. Namun untuk dirinya mengambil tindakan dimana segala prinsipilnya akan diuji, itulah satu pertanyaan yang saat ini butuh ia putuskan.
“Gramps, i really don’t know what to do…” Di atas pangkuan sang kakek sore hari itu Yoon Jeonghan menangis tersedu-sedu, mempertanyakan antara tekat dan keberanian. “Aku harus samper ke Jakarta gak ya? Tapi gramps kan tahu aku—”
Belakang kepalanya dielus dengan begitu lembut. Dikatakan kakek sebagaimana ayahnya dulu seringkali menasehati, “Selalu ada kali pertama dalam segalanya, nak. Ketika kita sakit lalu sembuh, kita memulai rutinitas yang dulu pernah dilakukan sedari awal. Kamu pun seperti itu. Sekarang ini, Han harus berani mengambil satu kali kesempatan untuk menjadikannya yang pertama.”
Kata-kata itu terus menempel di kepalanya sampai pada saat Jeonghan duduk termenung dengan kunci mobil dalam genggaman di kamarnya yang gelap. Mingyu beberapa saat lalu sudah sempat mengiriminya sederet pesan berisi permintaan maaf dan reasurasi bahwa segalanya akan baik-baik saja. Namun itu tidak cukup. Itu tidak akan pernah cukup.
Dan karena Jeonghan kenal betul keadaanya seperti itu, kontemplasinya menjadi lebih berat dari batu beton yang seakan tengah bertengger di pundak.
Lalu kemudian termenunglah dirinya pada satu baris kalimat yang ikut dikirim Mingyu kala itu. Satu baris yang adalah cambuknya, satu baris yang menyentil seluruh sendi di dalam dirinya agar bergegas tegap berdiri.
Diselipkan Kim Mingyu kala itu dalam kata: tunggu saya, ya. i’ll always coming back to you. Pertanyaanya adalah: kenapa harus selalu dia? Kenapa kali ini bukan gilirannya?
Dalam satu kedipan mata, Yoon Jeonghan sudah menempatkan diri di belakang kemudi.
Jika ada metafora terbaik yang dapat menggambarkan situasinya saat ini, ia akan mengajukan sebuah adegan film Tangled dimana setelah belasan tahun lamanya Rapunzel akhirnya berkesempatan untuk keluar dari menara tingginya. Satu detik ia tersenyum, satu detik ia merasakan panik. Satu detik kakinya menari-nari diatas rumput, satu detik penyesalan mengguyurnya hingga ke tulang. Satu detik ia berharap telah melakukan hal ini sejak lama, satu detik ia berharap semua ini tidak pernah terjadi.
Jeonghan pun pada saat itu tak ada bedanya. Hanya saja, kalutnya menjadi sebuah pengingat bahwa menjadi yakin dan pemberani itu penting, dan ia melakukan ini untuk Mingyu.
Dan segalanya tentang Jakarta membantunya dalam mempermudahnya tiba di rumah sang suami yang sebelumnya belum pernah ia jamah, sampai dengan beberapa jam lalu tidak juga pernah ia sangka akan sambangi.
Namun tidak ada. Tidak ada yang lebih membahagiakan, dari mengabadikan potret wajah Kim Mingyu dengan kamera tak kasat mata ketika mendapati Yoon Jeonghan berpresensi dengan nyata tepat di depannya.
“Han—"
Belum rampung kalimat itu diucapkan, Jeonghan sudah mengintervensi dengan memeluk Mingyu begitu erat. “ You scared me to death.”
“Kamu yang gak balas pesan saya...”
“I was…” Matanya babak belur dan sembab. “There’s a lot of things going on my mind.”
“Which leads you here.”
“And here i am.”
“God, you’re here .” Pelukan itu semakin erat seakan-akan disana masih banyak ruang, padahal nyatanya jarak itu begitu sulit untuk ditembus.
“Kamu gimana… Sekarang yang dirasa apa?”
“Yang dirasa? Kaget.”
“Ih bukan itu… Sehabis dari IGD dibilanginnya apa aja?”
“Gejala tipes sayang, sayanya harus bedrest.”
“Oh, poor you.” Rengekannya itu seraya dengan kening mereka yang saling menempel. “I’ll take care of you.”
“Will you? ”
“Mhm. Kamu udah makan? What should we do right now? ”
“Saya…” Jemari Mingyu menyisir pelan beberapa helai rambut suaminya yang mencuat kesana-kemari. “Saya mau mandi. Bisa tolong temenin?”
Jeonghan membentuk senyumnya dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat. Ucapnya dengan mantap dan penuh rasa lega, “Well then let’s go.”
“Hey, are you okay? ” Adalah pertanyaan sensitif pertama yang berani ditanyakan oleh Mingyu ketika mereka sudah berada di dalam kamar mandi, dan Jeonghan tengah mempersiapkan air di bathub.
Yang ditanya menoleh sepenuhnya tanpa ekspektasi. “Apanya, babe?”
“Kamu baru… nyetir ke Jakarta sendirian?”
“Ooh…” Sulit bagi Mingyu untuk mengartikan kekehan yang dilontarkan oleh si dia ketika Jeonghan terus menghindari matanya. “Nah i’m okay.”
“Maaf ya, gara-gara saya…”
Jeonghan yang pada saat itu tengah terduduk di pinggir bathub menarik Mingyu mendekat, mulai sibuk perlahan melucuti pakaian sang suami satu-persatu. Matanya masih betah memindai kemanapun asal bukan pada Mingyu.
“It’ll be too sad kalau aku udah disini, terus akunya denger kamu nyalahin diri sendiri karena itu.”
“ Okay. Okay i’m sorry .” Mingyu bergegas menarik kepala Jeonghan hingga kini beristirahat di dada sebelum mengecup puncak kepalanya begitu dalam. “God, i miss you like crazy.”
“Me too… I’m so worried i couldn’t even sleep.”
“Habis ini ya, hm? Kita sama-sama istirahat.”
“Okay.” Persetujuan itu muncul dalam bisikan atas tenaganya yang sudah sepenuhnya terkuras dan rasa lega yang akhirnya datang.
Mingyu tak membiarkan dirinya untuk masuk ke bathub seorang diri. Ia lucuti pula pakaian sang suami satu persatu, dan keduanya masuk ke dalam dengan posisi punggung Jeonghan bersandar padanya; saling mengusap, saling memijit, saling mendengar deru napas satu sama lain, saling menautkan jemari, saling mengapresiasi rasa damai yang menyelimuti.
“I need you to…” Kalimatnya dituntun bersamaan dengan Mingyu yang tengah berusaha melingkarkan jemarinya pada kepunyaan Jeonghan yang menegak diantara selangkangan.“ Relax . Badanmu tegang semua, sayang.”
“Aah… ” Desahannya menggema dan memantul ke seluruh kamar mandi.
Alih-alih menunggu respon Jeonghan yang Mingyu tahu tidak akan pernah datang karena suaminya terlalu tenggelam dalam rasa nikmat, dirinya hanya tertawa dan terus mengocok hingga cairan putih termuntahkan dari ujungnya.
Dan mereka saling berpelukan setelahnya.
Ketika mengatakan akan memandikan, ternyata Yoon Jeonghan tidak hanya menjadikannya sebuah konteks agar mereka ada di dalam kamar mandi dan menjadi liar karena hasrat. Ia menggunakan ketelatenannya dalam memastikan seluruh tubuh Mingyu terbasuh oleh sabun dan air.
Bagian favorit nya adalah ketika menuangkan shampoo pada telapak tangan dan membasuhnya pada seluruh kepala sang suami. Rambut hitam legam itu kini penuh dengan busa-busa putih, licin, dan harum.
“Rambut kamu udah gondrong, Gyu.”
“Masa sih?”
“Kayaknya selama aku kenal kamu… potongan rambut paling pendek itu sewaktu kita ketemu di jembatan gak sih?”
“Ah.” Angguknya menyutujui. “ I had my undercut.”
“Yeah… it made you looks younger. Actually dulu itu aku kira kamu cuma dedek-dedek remaja pakai jas yang sok mau ngedeketin aku aja.”
“I look like what…? ” Tawanya meledak.
"It’s because of the haircut!”
“Baik… Jadi enak dibilang muda.”
“Well you are…” Ucapnya seraya menyalakan shower dan mulai membilas rambut. “But i like this one’s best.”
“Yang agak gondrong gini?”
“Mhm. Lebih asik untuk dijambak.”
“That’s— ” Mingyu buru-buru menoleh dan menyosor bibir Jeonghan asal agar dapat ia kecup. “Kamu ya…”
“Aku tuh jadi mikir sesuatu.” Rambut itu kini telah bersih, dan Jeonghan berpindah menyabuni dada sang pria.
“Hm? Mikir apa tuh.”
“Kejadian ini, apa kata gramps, terus sama raguku dari beberapa bulan lalu.”
“Sayang…” Mingyu merengek manja. “Dijabarin dong, sayanya mana ngerti.”
“Do you remember our conversation a few months ago tentang aku yang masih suka asing tiap mau bilang i love you? Aku ngerasa begitu karena i don’t wanna do it to a stranger. Terus aku juga suka mikir aja what in the head of mine yang berani-beraninya ngeiyain ajakan kamu untuk menikah dulu. Karena pasti orang menikah karena cinta, kan? Kita… we definitely didn’t have that di awal kita sama-sama memutuskan untuk berkomitmen. Am i right? ”
Mau tak mau, Mingyu mengiyakan. “Yeah. It’s all us and bravery.”
Jeonghan membalasnya dengan kekeh dan gelengan.
“Does it bother you? ” Mulai Mingyu lagi, memancing pembicaraan.
“Well i mean… what i’m trying to say is: i know that i love you more than anything now, kalau sampai hal-hal prinsipil dalam diri bisa aku terobos hanya demi kamu. And gramps said there’s always a first time in everything. I’ll take that chance on loving you, i guess? ”
“Wow.” Telapak tangan Mingyu kini ditangkupkan pada kedua sisi pipi dari si dia yang ada di depannya. Bibirnya lagi-lagi maju, dan lumatan yang kali ini ia lakukan lebih dalam dan lembut. “I love you so much, baby.”
“Okay, champs.” Jeonghan kembali terkekeh ketika ciuman yang Mingyu berikan mulai berubah ganas atas rasa gemas, dan tubuhnya hampir terbaring juga tenggelam ke dalam air. “Time to get up sebelum kulit kita mengkerut semua.”
“Gak mau…”
“Get uuup, Mingyu! Nanti kamu tambah sakit main air gini. Makan, minum obat, habis itu bobo, ya?”
“Oke.”
Walaupun bibirnya mengatakan oke, Jeonghan masih harus berusaha untuk menggeret sang bayi besar untuk keluar dari bathub dan mengeringkan tubuh dengan handuk. Sebuah adegan jenaka mengingat ia jauh lebih kecil dan tak mempunyai kekuatan sebesar itu untuk menopang Mingyu, namun pada akhirnya mereka sama-sama tertawa ketika tak sengaja terpeleset ke atas tempat tidur.
Sore hari itu setelah menyantap bubur yang sudah Jeonghan buat dan meminum obat, keduanya tertidur dalam pelukan masing-masing begitu lelap dan damai.
Jeonghan sempat dibuat panik oleh panas badan Mingyu yang kembali naik di malam hari. Kerjanya kala itu adalah mengompres dan berdoa, seraya tautan jemarinya yang tidak pernah lepas dari Mingyu.
Kesendirian di pagi hari ia gunakan untuk berkeliling di dalam rumah keluarga Mingyu. Sebuah tempat minimalis dengan banyak kaca juga ruang terbuka, namun taman yang mengelilingi menjadikan suasana disana serta merta sejuk.
Dan itu sedikit mengingatkannya akan Bandung.
Jeonghan menyempatkan untuk menelepon gramps setelahnya. Dirinya sudah tak mengingat kapan terakhir kali pernah meninggalkan kakeknya itu seorang diri di rumah, hingga sampai segera setelah wajah itu muncul di layar yang dapat ia lakukan hanyalah menitihkan air mata dan isak tanpa suara.
“I’m happy that i did it, gramps.”
“And you deserved all the happiness, my child.”
Mingyu dibangunkan lewat pelukan hangat dan kecupan di pelipis kala itu. Yang dibangunkan masih nyenyak dibawah pengaruh obatnya, namun Jeonghan selalu telaten tentang waktu minum obat selanjutnya dan kapan estimasi sang suami harus makan sebelumnya.
Usilnya karena Mingyu tak kunjung bangun datang dalam bentuk Jeonghan yang menggigiti rambutnya dengan gemas. “Sayang, ngapain sih…”
Siapapun akan tahu kalau suara serak yang baru saja Mingyu keluarkan adalah penanda bahwa ia sedang sakit. “Panasnya udah turun nih. Tenggorokannya gak enak ya? Mau aku potongin buah biar gak pahit? Tapi bangun terus minum air putih dulu yuk…”
“Mmm, nanti…”
“Sekarang…”
“Nanti aja boleh gak…”
“Nanti lanjut lagi istirahatnya, sekarang minum obat.”
“Hhhh…” Protesnya, membuat Jeonghan di sebelah menyunggingkan senyum.
“Yuk?”
“Sikat gigi dulu, boleh?”
“Boleh dong, baby … Sini aku bantu.”
Ada satu hal aneh yang menyentilnya ketika baru tiba di depan kaca sana, dengan rak wastafel berisikan sikat gigi, odol, dan keperluan esensial lainnya. Bahwa ada pantulan antara dirinya dan Mingyu—berdiri bersebelahan dengan piyama dan rambut yang mencuat, perbedaan tinggi mereka yang membuatnya jauh beberapa senti lebih pendek, keserasian yang belum pernah Jeonghan jadikan konsiderasi sebelumnya, dan betapa adegan yang biasanya hanya ada di dalam film ini begitu terasa domestik dan akan ia reka ulang.
Dan itu membuatnya terserang kebahagiaan yang begitu banyak sampai-sampai sumringahnya muncul tanpa pernah bilang permisi.
“Kenapa, Han?” Suaminya yang bertanya itu juga bersama dengan senyumnya yang merekah.
“Just… this is nice . Waking up, then brushes our teeth together.”
“Yeah?”
Jeonghan mengulum senyum malu-malunya dan segera meraih sikat gigi dan menaruh odol diatasnya. “Yeah.”
Jenaka bagaimana komunikasi yang mereka lakukan setelahnya semua asalnya dari pandangan. Seperti Jeonghan yang mengadah lalu melirik, sikut Mingyu yang bersinggungan kecil dengan si dia di sebelah lalu mengatakan maaf lewat manik mata, odol yang terkadang berjatuhan karena mereka yang tertawa tanpa sebab, dan usilnya Mingyu yang mencuri cium pada pipi Jeonghan masih dengan bibirnya yang penuh busa.
“Hey!”
Suara protes itu ditanggapi Mingyu dengan kecupan lainnya. “Maaf, saya gemes.”
“My cheek… ”
Tanpa aba-aba, Mingyu kembali mengecup di sisi pipi satunya. “There you go.”
Jeonghan yang pasrah itu hanya bisa terkekeh. “Alright, do what you want.”
Ciuman lainnya terjadi lagi ketika mereka telah membilas dan berkumur-kumur hingga bersih. Genggaman itu kini Mingyu mantapkan di lekuk pinggang sang suami, dan Jeonghan pun dalam mode otomatisnya mengalungkan tangan di ceruk leher agar dapat mengimbangi lumatan demi lumatan.
Satu menit terus bertarung lidah, Jeonghan kini bahkan sudah bergantung koala di tubuh Mingyu dengan si dia yang lebih tinggi menopangnya dengan kokoh.
“I think you need to shave.” Ucapnya seraya memencet lembut ujung hidung Mingyu dengan usil.
“Wah masa?”
“Ih ini kan aku yang ngerasain.”
“Oh gitu… jadi geli, ya?”
“Kinda …”
“Tapi enak?”
Lekuk pinggang itu terkena cubitan. “Mingyu.”
“Okay, okay, let’s shave.”
“May i do it?”
“You want to?”
“Yes.” Jeonghan mulai membuka salah satu kabinet dan mengeluarkan alat pencukur. Bagaimana bisa dengan natural ia tahu bahwa alat itu akan berada di sana ketika ini adalah kali pertamanya adalah yang membuat Mingyu begitu terenyuh dan menginginkan momen ini untuk ada selamanya.
Jadi dalam sepanjang sesi mencukur yang Yoon Jeonghan lakukan dengan penuh kehati-hatian, Kim Mingyu tidak pernah melepas pandangannya sedikitpun dari si dia yang terkasih.
“Saya udah pernah bilang belum ya, kalau being a florist really suits you?”
Yang ditanya tertawa seadanya. “Kenapa? Because it looks easy dan gak harus hustle kayak orang-orang pekerja kantoran, ya?”
“Loh engga,” Ibu jari Mingyu yang pada saat itu masih bertengger di lekuk pinggang Jeonghan setelah sebuah paksaan untuknya setengah duduk di meja wastafel mengusap-usap lembut. “Bukan kesitu saya mau nyambunginnya.”
“Terus… kemana dong?”
“Being a florist suits you because you belong there. Amongst the flower.”
Jeonghan memutar bola matanya sarkastik. “Nice try, big guy.”
“Too cheesy?”
“No.” Dirinya menggeleng. Sekali, dua kali, lalu Beberapa kali. Untuk pertama semenjak matanya itu hanya berfokus kepada alat pencukur yang tengah dipegangnya, Jeonghan memberanikan diri bertatapan dengan Mingyu. “No. i like it. Thank you… ”
“Saya Han, yang makasih. Untuk apapun itu, tanpa spesifikasi.”
Ucapan itu dibalasnya lewat sebuah senyum tulus, lalu jemari yang lagi-lagi ditautkan. Erat. Mengunci. And it’s like all it takes to make this ship goes stronger.
“ With good faith?”
“ With good faith.”
—FIN
