Chapter Text
Collei sangat senang bisa pindah dan belajar di SMA Sumeru. Waktu di SMP Mondstadt memang dia sangat bersyukur Amber sudah mau menemaninya ketika dia dibully habis-habisan. Tapi tetap saja, rasanya dia tidak mau lagi bersekolah di kota itu. Kakaknya, Tighnari, yang tinggal di kota Sumeru sudah berbaik hati karena mau menampungnya.
Tidak seperti di SMP-nya yang dulu. Di sini dia berhasil menemukan teman yang memiliki satu hobi yang sama dengannya. Sudah dari dulu Collei memiliki hobi yang berhubungan dengan komik, games, atau light novel yang berasal dari jepang. Mungkin karena itu juga dia memiliki banyak teman di sini. Selain itu, di sekolah ini juga ada klub khusus untuk pecinta manga. Keren ‘kan?
Tapi di komunitas itu terpecah lagi menjadi kubu-kubu yang menyukai….sesuatu yang lebih spesifik. Awalnya Collei tidak tahu mengenai komunitas kecil ini. Komunitas yang mayoritasnya berisi perempuan. Di sini Collei mengetahui istilah seperti fanfiction, canon, Headcanon, dan sebagainya.
Ya, Collei dan beberapa temannya adalah shipper.
Hal yang dilakukan mereka adalah memasangkan dua karakter fiksi yang terkadang tidak memiliki hubungan romantis di cerita canonnya. Bermodalkan interaksi sedikit saja, mereka bisa membuat karya hasil imajinasi mereka. Dari fanart, fandoujin, sampai yang paling banyak Collei temui, Fanfiction.
Dari teman-teman barunya inilah dia jadi mengetahui banyak hal. Dan dari sini hobi baru Collei muncul. Menulis. Sejak kelas 2 SMA akhirnya dia memberanikan diri dan mencoba mem-publish ceritanya sendiri di akun ao3 nya yang sebelumnya hanya dia pakai untuk mem-bookmark cerita favoritnya. Oh, apa dia sudah bilang kalau dia juga me-ship dua karakter laki-laki?
Collei juga menyukai MxM. Male x Male. Kedua laki-laki fiksi yang dia pasangkan demi asupan dirinya dan teman-temannya. Selain teman-temannya, tidak ada yang tahu mengenai hobinya yang satu ini dan dia siap menyimpan rahasianya sampai ke liang lahat.
“Wahh…gemes deh, headcanon lu emang mantep, Collei. Lu kok bisa kepikiran cerita kaya gini sih? Sini gua cium otak lu.” Temannya memang paling hebat dalam memuji. Collei tertawa kecil.
“Dari mana ya, dari bersemedi pas boker keknya. Hahaha!”
Bohong. Sumber inspirasinya adalah dari tetangganya sendiri.
Collei punya tetangga. Mereka berdua laki-laki. Masing-masing tidak memiliki pasangan. Kalau tidak salah mereka tinggal bersama karena salah satu di antara mereka ditipu sampai bangkrut. Bagaimana Collei bisa tahu? Karena teman tetangganya adalah teman kakaknya. Kak Cyno adalah teman dari tetangganya itu dan dia juga adalah teman Kak Tighnari. Yang lebih mengejutkannya lagi mereka semua alumni dari universitas yang sama. Dunia memang sebesar daun kelor.
Dari situlah tetangganya sering diajak berkunjung oleh Kak Tighnari dan Kak Cyno. Semenjak saat itu Collei merasakan matanya seperti dibukakan. Dia menemukan tropes favoritnya di dunia nyata. Love-hate relationship.
Kak Al-Haitham dan Kak Kaveh adalah tetangganya yang dia maksud. Hampir setiap hari mereka cekcok dan membuat keributan. Semua tetangga di sekitar mereka memaklumi. Walaupun beberapa ada yang merasa terganggu juga sih.
Orang-orang hanya melihat mereka sebagai teman satu rumah. Tapi di kacamata shippernya dia bisa melihat bagaimana Kak Al-Haitham senantiasa menggoda temannya itu. Kak Al-Haitham keliatan misterius dan jarang berekspresi banyak dari luar, tapi ternyata dia sering sekali menggoda Kak Kaveh sampai orangnya mengamuk tidak karuan. Samar-samar Collei menangkap bagaimana bibirnya melengkung puas. Dalam hati dia mencatat itu dalam pikirannya. ‘Seme stoic dan agak sadis.’ Batinnya. Hm, Menarik.
Dia juga suka memperhatikan bagaimana Kak Kaveh mengeluh tentang tabiat temannya itu kepada Kak Tighnari dan Kak Cyno. Kebalikan dari Kak Al-Haitham, dia justru sangat punya beragam emosi yang ditunjukkannya ketika menceritakan teman serumahnya itu. Kalau marah Kak Kaveh akan cemberut dan mendengus. Terkadang ada nada khawatir ketika dia menceritakan tentang kebiasaan buruk Kak Al-Haitham. Diam-diam ternyata dia peduli. ‘Uke tsundere.’ Yang ini juga ia simpan di catatan mentalnya. Sangat menarik.
Selain hobinya sebagai shipper, hal ini adalah rahasia keduanya yang akan dia jaga sampai ke liang lahat. Tidak ada yang boleh tau soal ini.
Hari itu dia sedang pulang bersama teman-temannya ketika dia berpapasan dengan kedua tetangganya. Kak Kaveh menyapanya seperti biasa. Disampingnya ada Kak Al-Haitham sedang memegang kantong belanjaan. Collei menyapa mereka seperti biasa. Setelah itu mereka pergi ke arah yang berlawanan dengan Collei. Tidak ada yang special, hanya interaksi biasa antara tetangga pada umumnya.
(Sebelum itu, dari ujung matanya dia melihat siluet dua orang tetangganya itu berdekatan di sebuah gang sepi. Tapi sedetik kemudian siluet itu hilang. Kak Kaveh dan Kak Al-Haitham keluar dari gang itu kemudian menyapa Collei seperti biasa. Apa mereka-tidak, tidak, tidak mungkinkan?).
Collei berbalik ke belakang untuk melihat kembali kedua tetangganya itu.
Kemudian berbalik lagi ke depan.
(Dia pura-pura tidak melihat bagaimana kak Al-Haitham merangkul pinggang Kak Kaveh).
Ah.
Satu lagi rahasia yang akan dia simpan sampai liang lahat.
=Fin=
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Extra:
Kaveh menendang kaki Al-Haitham kencang. "Apa-apaan sih lu?! hampir aja diliat Collei tadi! Ga ada pegang-pegang kalo di umum."
Wajah Al-Haitham tidak bergerak satu centi pun. "iye, iye. serah lu dah."
.
.
.
.
.
"Berarti kalo cium boleh?"
"AL-HAITHAM!!!!"
