Actions

Work Header

Online Class

Summary:

What's the cure to the damages caused by the torturous college life? Wonwoo and Mingyu know for sure the answer will be sex (with much more damages as the consequence).

Notes:

I am aware of just how unhinged this is. This was actually written for someone, but this was written while I was feeling down and needed to let my emotions out so this would most likely be garbage. Well, nonetheless, I still hope that this is consumable.

And if you're underage and reading this, I have tracked your IP address to send to your guardian.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kelas yang akan Wonwoo ajar dimulai sekitar satu jam lagi, Wonwoo masih punya waktu untuk menyusun soal dan jawaban kuis untuk pertemuan berikutnya. Malam kemarin, dosen mata kuliah yang bersangkutan sudah menghubunginya untuk menggantikan beliau mengajar hari ini. Wonwoo hanya bisa menyanggupi permintaan sang dosen.

Seperti hari kerja lainnya, Wonwoo disibukkan dengan tugas, kelas yang ia ikuti, dan juga kelas yang ia bimbing sebagai asisten dosen. Sebetulnya, kalau bukan demi poin dan honor yang diterimanya, Wonwoo tidak begitu ingin repot-repot mengerjakan tugas-tugas asisten dosen yang rupanya tidak sedikit. Dalam hatinya, ia akhirnya memahami kenapa dosen terkadang begitu sulit dihubungi.

Dirinya mendesah lelah tanpa disadari. Kalau ia mengambil waktu rehat, yang ada ia hanya akan kebablasan. Jadi Wonwoo memaksa dirinya untuk kembali fokus pada pekerjaan yang tengah ia lakukan sembari beberapa kali menyesap kopinya.

“Lah, Kak??” Sebuah suara membuat Wonwoo terlonjak di kursinya, efek kafein yang membuat ia jadi lebih gelisah dan waspada.

Tanpa menoleh, Wonwoo sudah tahu siapa pemilik suara itu. Rekan sekamar indekosnya sekaligus pacarnya—Mingyu.
“Buset.. dari aku berangkat sampai udah pulang lagi masih begitu posisinya. Belum makan pasti, ya?” Komentar si pacar, secara beruntun.

“Makan dulu, Kak. Udah tau punya maag, nanti kambuh. Bandel banget kalau dibilangin, nanti kalau perutnya sakit ngeluh ke aku.” Lelaki yang kini telah menyimpan tasnya itu kemudian mulai menggeledah isi lemari mereka, mencari makanan yang bisa dengan cepat disiapkan untuk Wonwoo makan.

Jujur saja, Wonwoo pusing dan sedikit kesal mendengar pacarnya yang cerewet itu. Sebetulnya, lebih kesal karena perkataan Mingyu adalah benar. Wonwoo pasti akan mengeluh pada pacarnya itu kalau perutnya sudah mulai terasa sakit. Dan Wonwoo merasa sedikit kesal karena kelalaiannya harus disebutkan di tengah-tengah situasi seperti ini.

“Bentar dulu, Mingyu. Aku pusing..” ujar Wonwoo, berhenti sejenak dari kegiatannya lalu melihat pada Mingyu dengan tatapan kesal. Ia melepaskan kacamatanya dan mengurut pangkal hidungnya sekilas.

“Kaaan! Itu pasti karena belum makan! Makan dulu, nih. Ada roti.” Mingyu memberikan sebungkus roti isi yang sudah ia bukakan pada Wonwoo.

Wonwoo menerimanya sambil menggumamkan terima kasih dengan pelan. Ia mulai melahap roti itu dengan muka masam, yang jelas tidak luput dari penglihatan Mingyu. Lelaki yang lebih muda itu kemudian mengangkat tubuh Wonwoo.

DUG!

“Ah!” seru Wonwoo saat merasakan lututnya terbentur meja. Ia melihat pada Mingyu dengan tatapan kesal.

“Ngapain, sih?” tanyanya, tapi tidak berusaha turun dari gendongan Mingyu. Mingyu hanya tersenyum bersalah pada Wonwoo, lalu kemudian duduk di bangku tempat Wonwoo duduk tadi. “Aku, tuh, mau pangku kamuu,” jawab Mingyu kemudian.

Tangan si lelaki jangkung terulur untuk mengerut kening Wonwoo dengan ibu jarinya. “Ini, daritadi mengkerut terus. Kamu pasti enggak sadar, kan, Kak?” Mingyu bertanya dengan lembut.

Wonwoo yang masih mengunyah rotinya pelan-pelan tampak lebih rileks, menyadari bawhwa mugkin itu pula salah satu penyebab kepalanya terasa sangat pusing. Ia ganti memandang Mingyu dengan memelas. Mingyu langsung memahami maksud Wonwoo dan memeluknya erat. “Capek, ya, kamu?” tanya Mingyu lagi.

Kalau harus jujur, Wonwoo merasa egois karena iapun tahu kegiatan Mingyu juga tidak sedikit. Pasti ada waktu-waktu lelaki itu merasa lelah. Mungkin juga si lelaki merasa demikian saat ini. Ia balas memeluk Mingyu lalu mengusap punggung lelaki itu dengan lembut. Wajahnya ia sembunyikan pada ceruk leher Mingyu sambil ia mengangguk beberapa kali.

“Hari ini izin dulu enggak bisa?” tanya Mingyu.

Wonwoo kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat pada Mingyu dan menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan si lelaki. “Enggak bisa, aku udah bilang bisa ke dosennya kemarin.”

Paham dengan jawaban Wonwoo, Mingyu menganggukkan kepalanya lalu gantian menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang pacar. Menciumi tulang selangka lelaki itu dengan lembut.

“Mingyu, udah.. nanti aku horny..” ujar Wonwoo sambil berusaha menahan kepala Mingyu.

“Kenapa kalau horny?” tanya Mingyu, berpura-pura tidak paham. Ia masih sibuk menciumi leher Wonwoo, malah kini mengisap beberapa bagian untuk meninggalkan bekas ciuman di atas kulit leher Wonwoo.

“Mingyu..” Wonwoo mulai merengek, merasa tidak punya energi untuk marah. “Please, aku harus ngajar..”

Mingyu malah semakin iseng. Ia gemas dengan tingkah pacarnya. Ia kemudian menggenggam wajah Wonwoo dengan satu tangannya kemudian mencium bibir Wonwoo. Ciumannya lembut, tapi jelas dirinya jadi malah bernafsu karena Wonwoo yang tadi mengutarakan apa yang dirinya rasa.

Dipagutnya lembut bibir tipis kekasihnya itu lalu beberapa kali ia lumat. Dirinya tersenyum tipis saat Wonwoo merespons ciumannya.

Satu tangannya yang tadinya berada di punggung Wonwoo kini turun ke pinggang lelaki itu. Telapaknya menelusup ke balik kaus yang Wonwoo gunakan dan mulai mengusap pinggang kekasihnya itu dengan ibu jarinya. Wonwoo terlonjak, merasa sensitif pada sentuhan Mingyu. “Nghh..” lengkuhnya di tengah ciuman mereka.

“Kenapa, Kak? Tadi katanya mau ngajar?” tanya Mingyu, masih kepengin iseng.

Wonwoo melepas ciuman mereka. Ia menggelengkan kepalanya dengan putus asa. “Enggak bisa..” jawabnya dengan lirih.

Karena masing-masing dari mereka yang tengah begitu sibuk beberapa waktu belakangan ini, mereka tidak memiliki waktu untuk berhubungan seks. Wonwoo sebetulnya bukan tipe yang maniak terhadap seks, tapi dengan Mingyu yang menggodanya seperti ini, mana bisa dirinya melawan?

“Kak, mukanya jangan gitu.. bikin sange banget, asli..” Mingyu berujar saat bertukar tatap dengan Wonwoo yang menatapnya dengan pandangan sayu.

Wonwoo kini melingkarkan lengannya pada leher Mingyu sebelum yang lebih muda kembali memagut bibirnya. Dirinya bisa merasakan Wonwoo menggerakan pinggulnya tanpa sadar, menggesekkan dua kelamin mereka yang masih berbalut kain. Sementara itu, dirinya masih sibuk mencumbu bibir Wonwoo, meneroboskan lidahnya masuk ke dalam mulut Wonwoo.

“Eungh—” lagi, Wonwoo melengkuh. Dua tangannya meremas kaos yang dikenakan Mingyu dengan erat.

Mingyu memutus pagutannya lalu membalikkan tubuh Wonwoo sambil menarik turun celana si lelaki yang lebih tua. Ia menciumi tengkuk kekasihnya sambil tangannya meraba pada perut Wonwoo. Pelan-pelan merayap menuju selangkangannya. Ia mengusap kunci paha lelaki itu sembari menggigiti cuping telinga Wonwoo.

“Kalau sambil liat laptop gini masih bisa ngajar, kan?” tanya Mingyu. Seolah baru saja memberi solusi brilian, yang jelas tidak bisa disebut ide yang baik.

Namun begitu, Wonwoo hanya menganggukan kepalanya berkali-kali sembari menahan desahan yang mendesak untuk lolos dari mulutnya dengan punggung tangannya. Telapak tangan Mingyu kini mengusap gundukan di antara selangkangannya, tanda libidonya telah pasang.

“Mmh—mingyu..” rengek Wonwoo.

“Enak, Kak?” tanya Mingyu. “Kamu, tuh, lucu, deh.. sensitif banget..” Dirinya terkekeh kemudian.

Jemari Mingyu menarik karet celana dalam Wonwoo turun, tangannya meraih pada penis Wonwoo dan meratakan luberan cairan precum yang keluar dari lubang di ujung penis kekasihnya itu. “Basah banget baru ciuman doang?” ujar Mingyu dengan takjub, masih dengan kekehan.

“Uhh—unghh—” Wonwoo terentak merasakan telapak tangan Mingyu yang menyentuh penisnya. Ia berusaha berpegangan pada sisi paha Mingyu sebagai topangan.

Tangan Mingyu menarik turun celana dalam Wonwoo, berikut dengan celananya sampai terlepas semua. Ia kemudian kembali mengurut penis Wonwoo naik dan turun sambil tangannya yang lain meraih ke laci untuk mengambil pelumas dan kondom.

“Kok—nyimpen.. di situ..?” tanya Wonwoo.

Mingyu hanya tersenyum. “Hehe. Buat emergency kayak sekarang ini.” Tangannya kemudian bergerak meremas testis Wonwoo dengan lembut, mengusapkan ibu jarinya di sepanjang perineum si lelaki, lalu tiba di bukaan anal kekasihnya itu. “Ngangkang dikit, Kak,” titahnya pada Wonwoo.

Wonwoo mengangguk dan melebarkan pahanya, memberikan Mingyu akses yang lebih leluasa pada lubangnya.

Lelaki yang lebih muda itu kini disibukkan dengan menuangkan pelumas ke atas jemarinya yang telah berbalut kondom sebelum ia arahkan ke depan lubang Wonwoo. Pelan-pelan, ia mendorong masuk satu jarinya ke dalam lubang Wonwoo, melonggarkannya sebelum mendorong satu lagi jemarinya untuk masuk.

“Sempit banget, Kak.. udah lumayan lama, ya, kita enggak ngeseks?” tanya Mingyu sambil menggerakkan jemarinya maju dan mundur perlahan.

Dengan gerakan seolah menggunting, dirinya juga turut meregangkan lubang anal Wonwoo. “Nghh—” lengkuh Wonwoo.

Ting!

Sebuah notifikasi tampaknya masuk ke laptop Wonwoo. Mingyu mengecup tengkuk Wonwoo kemudian berujar, “Itu mau dicek enggak notifikasinya?”

Wonwoo mengangguk, lalu ia menjulurkan tangannya untuk membuka notifikasi itu. Rupa-rupanya merupakan pesan dari salah satu mahasiswa kelasnya yang menanyakan apakah hari ini diadakan kelas atau tidak. Wonwoo lantas panik, ia mempersiapkan tautan untuk kelas daringnya dengan tangan Mingyu yang masih mengerjai lubangnya.

“Kak Wonwoo gimana, sih?” goda Mingyu, jemarinya ia lengkungkan untuk menyodok-nyodok pada prostat Wonwoo.

“Nggh—Gyu—!” seru Wonwoo, ia bersusah payah mengetik balasan untuk dikirimkan pada mahasiswanya.

Namun Mingyu tampaknya tidak ingin berbelas kasih pada Wonwoo jadi dirinya masih gencar menstimulasi lubang lelaki yang lebih tua, sambil dirinya kini meraih pada puting kekasihnya itu. Dirabanya pelan dari luar kaus lalu kemudian ia pilin sambil dirinya menggesek putting itu dengan ujung kukunya.

“Min—gyu.. ahh—bentar dulu—” mohon Wonwoo dengan memelas.

“Kan, enak katanya tadi? Kalau mau udahan, boleh aja, sih. Aku juga mau nugas abis ini.” Mingyu makin gencar menggoda, sambil menggigit cuping telinga Wonwoo.

“Uunghh—” lengkuh Wonwoo sambil menggigit bibirnya setelah berhasil mengirimkan pesan itu. Beriringan dengan itu, ia menggelengkan kepalanya. Ia sudah nyaris terisak karena Mingyu yang jahil bukan kepalang. “Mingyu—hh.. Mingyu, please..”

Mingyu menyeringai melihat Wonwoo yang kepayahan. “Please apa? Please stop atau please give you my cock?”

“Hnngg—” Wonwo berusaha menolehkan kepalanya pada Mingyu, tapi bukannya membuat Mingyu berubah pikiran, ia malah semakin dibuat berahi karena ekspresi wajah Wonwoo yang tidak keru-keruan.

“Gila.. gini, nih, asdos? Katanya mau ngajar tapi kelasnya belum mulai aja udah ancur-ancuran begini gara-gara difingering,” Mingyu berujar dengan nada bangga yang kentara, ia menciumi pelipis Wonwoo sambil menurunkan tempo gerakannya pada lubang Wonwoo.

Dirinya kemudian menunjuk pada layar laptop Wonwoo dengan dagunya. “Gih, mulai dulu kelasnya. Aku pelan-pelan.”

Wonwoo menganggukkan kepalanya dengan cepat beberapa kali. Ia dengan segera melihat pada layar laptopnya dan jemarinya bergerak (dengan gemetar) menerima peserta kelas daring kali itu. “Se—selamat siang..” sapanya usai memastikan kameranya mati, berusaha agar tidak terdengar aneh.

“Siang, Kak Wonwoo~” bisik Mingyu di telinga Wonwoo, mengundang gemetar pada tubuh Wonwoo kian hebat.

Jemari Mingyu masih begerak pelan di dalam lubangnya, namun kini dirinya sembari mengusap perut sang asisten dosen. Wonwoo berusaha terfokus pada kelasnya, meski dengan bersusah payah menahan desahannya.

“Hhh—hari ini.. presentasi, ya.. urutannya—ngghh!” Mingyu, dengan iseng, menekan prostat Wonwoo di tengah lelaki itu membuka kelasnya.

Wonwoo menyikut Mingyu sebagai teguran, meski Mingyu tak merasa bersalah karena hal itu, malah terkekek puas melihat reaksi Wonwoo. “Urutannya—dari kelompok satu.. boleh—hh—silakan mulai..” Wonwoo melanjutkan.

Wonwoo kembali mematikan mikrofonnya saat mahasiswa kelasnya memulai presentasi mereka. Mingyu mengambil kesempatan itu untuk mempercepat gerakannya di dalam lubang Wonwoo.

“Kak Wonwoo bisa, kan, keluar cuma difingering gini aja?” tanya Mingyu menantang, retoris sebetulnya. Karena dirinya bukan kali pertama ini membuat Wonwoo keluar hanya dari stimulasi di analnya.

“Eunghh—nanti.. nanti dulu..” ujarnya pada Mingyu. Meski begitu, pinggulnya bergerak seirama dengan gerakan jemari Mingyu di dalam lubangnya.

“Kan, gemes banget. Bilangnya apa, yang dilakuin apa.” Mingyu membalas, ia meraih pada wajah Wonwoo untuk mencumbu bibir sang kekasih.

“Gimana kalau kamu diginiin di depan kelas beneran, ya? Bukan kelas online gini?”

Mingyu brengsek. Sialnya, Wonwoo malah melonjak karena pemikiran tentang itu. Penisnya berdenyut dengan nyeri. Belum lagi Mingyu yang tidak henti-henti menyodok biji prostatnya, membuat Wonwoo terengah-engah pada napasnya, dan mulai kehilangan fokusnya.

“Kak, itu dengerin mahasiswanya presentasi apa,” titah Mingyu. “Oh, iya lupa, lagi keenakan dimainin analnya, ya?”

“Nghh—ahh—di situ! Di situ!” seru Wonwoo, yang tampaknya kini sudah tidak peduli lagi, dibabat habis oleh nafsunya yang membubung.

Dirasanya abdomen bawahnya mengencang dan seolah melilit, penisnya berkedut-kedut tanda dirinya sudah dekat dengan pelepasannya. “Mingyuuu—nnghh—ahhh—!!” Desahnya seiring dengan sperma yang mengalir keluar dari lubang di ujung penisnya.

“Anak baik,” puji Mingyu, lalu mengecup pipi Wonwoo.

Jemarinya ia keluarkan dari lubang Wonwoo lalu ia melempar kondom yang membungkus jarinya ke sembarang arah. Tangannya kini membalut penis Wonwoo, mengocoknya pelan, membuat Wonwoo melengkuh sambil menyandarkan punggungnya pada tubuh Mingyu. Ia merasa sangat sensitif karena pelepasannya yang pertama.

“Banyak banget pejunya, Kak.”

Wonwoo hanya merespons dengan lengkuhan, sambil dirinya menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Mingyu.

“… Sekian presentasi dari kelompok kami, barangkali Kak Wonwoo dan teman-teman ada sesuatu yang ingin ditanyakan?” Suara dari laptopnya membuat Wonwoo dengan segera duduk tegak, meski lemas karena orgasmenya.

Mingyu yang memperhatikan itu hanya tertawa. Dirinya merasa lucu melihat Wonwoo yang tampak seolah selalu hilang akal sesaat dirinya diberikan stimulasi seksual, lebih-lebih yang macam tadi.

“Presentasinya baik,” Bohong, Wonwoo sama sekali tidak mendengar apa yang dibicarakan sepanjang presentasi. “Boleh lanjut kelompok selanjutnya..”

Mingyu terkekek sambil meraih tangan Wonwoo dengan tangannya yang bersih, menggenggamnya dengan lembut. “Kak asdos pinter bohong, ternyata?” ujarnya pada Wonwoo, menggoda.

Wonwoo tidak membalas sekatapun, ia melepaskan genggamannya dari tangan Mingyu lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap selangkangan Mingyu yang sedari tadi terasa menyembul sepanjang Mingyu menstimulasi analnya.

“Stop teasing me,” Wonwoo berujar, lalu menyelipkan jari-jemarinya ke dalam celana Mingyu dan mengeluarkan penis kekasihnya.

Tangannya membungkus panjang penis Mingyu, lalu begerak dengan gerakan memutar di kepala penisnya. Ia melihat pada penis Mingyu dengan penuh nafsu. Dirinya kemudian turun dari pangkuan Mingyu dan berlutut di depan Mingyu. Ibu jarinya bergerak memutar di ujung kepala penis Mingyu sebelum ia mendekatkan wajahnya pada kejantanan yang jelas sudah tegang itu.

Pelan-pelan dijulurkannya lidahnya untuk menjilat lubang itu. Ia mendesah pelan saat mengecap rasanya. “I really miss your cock..” dirinya berujar.

Ia kemudian menjilat sepanjang bagian bawah penis Mingyu sampai ke testisnya. Tangannya meremas buah zakar itu dengan lembut sembari mulutnya bergerak dengan lihai di sekeliling penis Mingyu. Naik, turun, memutar, begitu berulang-ulang kali.

Dirinya akhirnya memasukkan kepala penis itu ke dalam mulutnya, mengisapnya perlahan sembari matanya menatap pada Mingyu. Sayu karena dirinya diobrak-abrik nafsu. Lalu Wonwoo bergerak mengisap penis itu kian dalam ke mulutnya. Lidahnya bergerak menggoda pada bagian yang sanggup dijangkau. Sementara telapak tangannya memompa pada bagian yang tidak sanggup dirinya lahap.

“Anjing, Kak—ngh—seksi banget..” ujar Mingyu, ia meraih pada rambut Wonwoo dan mendorong kepala Wonwoo agar penisnya makin dalam di rongga mulut Wonwoo.

Mulut hangat itu membuat Mingyu menggila. Ditambah ini yang pertama setelah sekian lama, ia tidak bisa bilang kalau ia tidak rindu Wonwoo yang mengisap penisnya dengan amat pandai seperti sekarang ini.

Ia melihat Wonwoo yang terfokus menstimulasi penisnya seolah hanya itu yang Wonwoo ketahui, dan hanya itu yang Wonwoo harus perbuat pada Mingyu.

“Kak, coba lo bisa liat muka lo..” ujar Mingyu. “Bikin sange banget, anjir!”

Isapan Wonwoo membuat pahanya gemetar, ia mendorong bahu lelaki itu dengan pelan. “Udah, Kak.”

Wonwoo menatap Mingyu dengan bingung, tapi Mingyu kemudian berdiri. “Bend on the desk.”

Mendengar itu, Wonwoo lantas paham. Turut berdiri dan perlahan-lahan membungkuk dengan meja sebagai tumpuannya. Bokongnya mengarah pada Mingyu, dengan lubangnya yang becek karena pelumas. Mingyu menampar pipi pantat kekasihnya itu, mengundang desahan dari Wonwoo.

“My slut,” ujar Mingyu.

Mingyu dengan cepat merobek kondom baru, lalu membungkus penisnya dengan kondom itu. Tak lupa pula ia menuangkan pelumas ke atas penisnya dan mengocoknya beberapa kali. Kemudian, dirinya menggesek-gesekkan ujung penisnya pada cincin bukaan anal kekasihnya itu, menggoda Wonwoo. Wonwoo yang tidak tahan, menggerakan pinggulnya ke arah Mingyu. “Sabar, Sayang.”

“You really are my cockslut when you’re horny, huh?” tanya Mingyu.

Wonwoo hanya merengek. “Quick—miss your cock inside me—”

“Hell yeah, Baby,” Mingyu lantas mendorong penisnya masuk ke dalam lubang Wonwoo. Ia mengangkat satu kaki pacarnya itu, menyodok pada yang dikenalinya betul sebagai prostat Wonwoo.

“Nghh—! Mingyu—hh.. ahh… Mingyu.. enak..” desah Wonwoo.

Telapaknya berpegang erat pada sisi meja, meremasnya sebagai topangan karena kepalanya terasa pengar. Mingyu makin berhasrat mendengar kekasihnya mendesahkan namanya. Ia menggempur lubang Wonwoo tanpa ampun.

“Asdos apa yang minta diewe sambil ngajar, hm?” Tanya Mingyu, ia mengentak pinggulnya dengan cepat dan kuat, seperti yang Wonwoo suka.

“Whose. Slut. Are. You?” Mingyu bertanya di sela-sela gempurannya pada lubang Wonwoo.

Wonwoo merengek, air mata terbit di pelupuk matanya. “Your slut! Ngahh—Min.. Mingyu’s slut—uungh—"

Puas dengan jawaban itu, Mingyu menggempur lubang Wonwoo kian cepat. Menghantam prostat itu bersamaan dengan dirinya mengikis habis sisa-sisa kesadaran dan akal sehat Wonwoo. Wonwoo merengek tak henti-henti sebagai balasan, desahnya kini sudah tidak ia tahan.

“Mingyu—Mingyu cum inside..” ujar Wonwoo pada Mingyu, menolehkan kepalanya pada Mingyu dengan wajah yang dengan mudah dikenali Mingyu, wajah yang Wonwoo buat saat kalah dengan nafsunya.

“Yeah, Baby? Want me to fill you up?” tanya Mingyu.

Ia kemudian menarik penisnya keluar, melepaskan kondomnya, dan melemparnya entah ke mana. Dirinya kembali menyejajarkan penis itu di depan lubang Wonwoo dan kembali menyodokkan kejantannya di dalam lubang Wonwoo.

Wonwoo bisa merasakan tiap inci dari penis Mingyu di dalam lubangnya. Ia bisa merasakan pula lubangnya yang berkedut melahap penis Mingyu dan pahanya yang gemetar setiap ujung penis besar kekasihnya itu menyentuh prostatnya.

“Aanghh—Mingyuu—close..” adunya.

Mingyu meraih pada penis Wonwoo kemudian menyalut pangkal penisnya dengan ibu jari dan telunjukknya. “Together, Sayang.”

Wonwoo hanya mengangguk dengan patuh, kembali mendesahkan nama Mingyu yang tak jua menurunkan temponya. Tapi dari gerakannya yang patah-patah itu, Wonwoo dapat tahu Mingyu pun telah dekat.

Telapak tangan Mingyu memompa penisnya beriringan dengan sodokan penisnya di dalam lubang Wonwoo. Dan tak lama, Wonwoo bisa merasakan hangat mengisi lubangnya. Mingyu mengisinya dengan penuh. Kemudian disusul dengan dirinya yang menyemburkan spermanya ke atas tangan Mingyu.

“Ahh..” desah Wonwoo.

Mingyu menarik penisnya keluar, lalu ibu jarinya menggoda lubang Wonwoo. Dirinya terkekek saat melihat lubang itu berkedut, berlumur dengan spermanya. “Damn sexy.”

Wonwoo dengan lunglai bersandar pada meja, menarik napas dalam-dalam karena rasa-rasanya ia sangat lemas. Tapi selang beberapa detik kemudian wajahnya terlihat panik.

“Kelasnya!” serunya.

 

To: Kak Wonwoo (asdos)
Selamat siang, Kak Wonwoo. Mohon maaf mengganggu waktunya. Saya ketua kelas dari kelas yang Kakak ajar tadi. Mohon maaf sebelumnya kalau lancang, tapi tadi sepertinya Kakak lupa mematikan mikrofon.
Tapi saya sudah imbau teman-teman untuk leave meetnya Kak.
Sekali lagi mohon maaf, Kak. Untuk kelasnya apakah akan ada kelas pengganti atau diliburkan ya Kak?
Terima kasih sebelumnya, Kak Wonwoo.

Wonwoo membaca pesan itu dengan pucat pasi. Mati dia!

Notes:

That's all. Bye.