Chapter Text
Ada sederet ekspektasi masyarakat begitu tahu lulusan Haravatat, berpredikat egregia cumlaude, tengah mengembalikan buku Al-Shi’r wal Shua’ra ke House of Daena.
Jadi… menurutmu kenapa Layla bisa meninggal begitu saja? Atau, kenapa Majnun memilih menjadi gila ketimbang membawa lari Layla dan hidup bahagia bersama?
Terkadang, teka-teki dari penjaga perpustakaan lebih menantang daripada pertanyaan para penguji tesisnya. Kenapa Layla meninggal begitu saja? Mungkin gangguan depresi yang tidak tertangani jelas punya efek samping yang fatal. Qabbani mungkin tidak ingin mahakaryanya dibelah scalpel dan diteliti dari balik lensa mikroskop.
Untuk kasus pertama, hati menjadi pusat dari tubuh dan jiwa—jika hati menderita dan sudah tentu keduanya pasti ikut menderita juga. Jika Layla pergi, artinya, beban yang dia tanggung melewati kesanggupan jiwa, tubuh, dan tentu hatinya.
Dan untuk kasus kedua, Haitham hanya melemparkan koin saja. Mencoba peruntungan. Majnun punya prinsip hitam putih, tidak ada abu—jika dia tidak bisa memiliki Layla sekaligus dunia, maka dia tidak akan memiliki salah satunya. Jika keluarga dan dunia tidak mengizinkan Layla untuk bersama dengannya, bukankah itu masuk akal kalau dia menjadi gila? Menolak untuk hidup di dunia yang menolaknya memiliki Layla?
Laki-laki itu tersenyum, menepuk-nepuk bahu Haitham.
Aku salah menilaimu. Matamu tidak banyak bicara, tapi jawabanmu memberiku harapan baru tentang orang-orang Akademiya. Semoga bintang kejora segera datang, aku sungguh ingin melihat matamu itu punya cahaya.
.
.
.
Haitham punya rahasia: yang dulu dia lontarkan tidak lebih sekadar alasan diplomatis. Dia hanya ingin melihat lawan bicaranya puas, selesai. Sayangnya, entah anugrah atau kutukan, pertanyaan itu tidak lantas menghilang. Ribuan buku telah dilahap dan penjelasan yang mampu menerjemahkan konsep seabstrak perasaan menjadi persamaan rasional masih belum ditemukan.
Tentang ramalan bintang kejora, dulu dia mengira wujudnya dalam bentuk perhiasan. Atau meteor yang jatuh di hari ulangtahunnya. Mana pernah dia menebak bintang kejora itu berpendar dalam diri seniornya yang kini tertidur pulas di antara gulungan rancangan sekolah anak-anak? Cahayanya menyilaukan. Haitham menyelimuti laki-laki yang tidak segan menukar tulang dan nyawa demi mimpi-mimpinya. Dan akan padam jika Haitham membawanya pulang. Mungkin selamanya Haitham biarkan dia di langit—agar dia dapat terus menjadi pengagum bintang paling benderang.
.
.
.
.
.
.
-:O:-
“Tham, gue ada bakal sering ke Aaru mulai bulan ini.” Di sela-sela bunyi margarin yang meleleh, Kaveh menghela napas. Dia membolak-balik roti dan memastikan bumbu meresap ke serat-serat daging. Haitham pun mengalihkan fokusnya dari buku Handbook of King Deshret Relics pada koki lulusan arsitektur yang sedang beraktraksi. “Harus ngawasin vendor sama tracking progressnya di sana. Gue juga kudu mastiin antara wakil gue sama orang-orang di lapangan nggak miskom soal desainnya.”
“Wah,” Satu kata penuh makna. Sarapan pagi favorit Haitham. Shawarma wrap, jus jeruk, baklava dingin. Penuh protein, mudah dibawa, dan tak perlu ragu soal rasa.
“Wah doang?!”
“Wah, sepertinya ada yang bakal minta diskon bayar kosan.”
Sedikit lagi, Haitham akan jadi percobaan keracunan minuman dengan tersangka oknum inisial K. “Tham, pengen deh ngegusruk hati lo biar lembut dikit sama gue.”
“Boleh-boleh aja kalau bisa.” Perawakan 187 senti dan berat badan 87 kilo, Kaveh tentu butuh bala bantuan bahkan sekadar menyeret Haitham dari ruang tengah ke kamar tidur (bala bantuan mendistraksi pikiran Kaveh yang pasti buyar begitu disodorkan seonggok Haitham yang tidak berdaya).
Sebelum serangan balasan sempat diluncurkan, tiba-tiba bunyi bel menjeda debat mereka berdua.
Dari meja makan, Haitham beranjak, dan duduk kembali di sofa, melanjutkan bacaan paginya. “Tuh, bunyi. Ada yang dateng.”
“Iya, iya gue yang buka, Yang Mulia Alhaitham.” Awas, ya. Rencana detil mengacak-acak urutan dokumentasi buku-buku koleksi Haitham telah terkalkulasi cepat di otak si Tuan Arsitek. Awas, gue buat nangis lo!
“Padahal gue nggak nyuruh. Berarti insting lo udah terlatih.”
Hampir Kaveh menerjang Haitham selayaknya banteng yang berkilat-kilat karena lambaian bendera merah matador, bunyi bel yang terus berdentang pun berhasil mencegah perang sipil di Pardis Dhyai Residence pecah. Kaveh pun berdeham, merapikan penampilan. Tampil cakep dan wangi prioritas utama.
“Oalah, Dee. Sini, masuk. Masih pagi. Chill. Sarapan dulu.”
Rupanya, apartemen kedatangan malaikat penyelamat. Staf logistik Akademiya, Dehya, yang sekarang menjabat asisten projek Kaveh. Senyum manis Dehya langsung berganti penuh heran, “Makasih. Tuan rumahnya mana? Kok lo yang buka pintu?”
Dari pandangan pertama, Dehya langsung dibuat paham perkara gaji Sekretaris Akademiya amat menjanjikan. Pantas Kaveh hanya perlu membayar semua fasilitas nyaman nan indah ini seharga kos-kosan 3x3, sebab Haitham sepertinya tidak perlu lagi pemasukan pasif. Pemandangan Haitham tengah menyelonjorkan kaki, lengkap headset beserta piringan hitam yang memutar lagu klasik menyapa (Oh. Spoiled husband). Ada tumpukan kartu tarot, kanvas besar di sana. Tengok ke kanan, ada Kaveh yang mengenakan apron (Oh. Service husband) berlogo bebek dan bertuliskan Northland Bank. Dehya ingin berpikir apa korelasinya, tapi bebek itu seakan melarangnya untuk berpikir. Ya sudah. Dehya menyerah.
“Beliau sedang meditasi. Liat rambut silvernya? Gejala hipertensi dini.”
“Veh, gue denger.” Reaksi singkat dari Haitham langsung membuat Kaveh merasa di atas angin. Skor 1-1.
Kaveh mengundang Dehya ke ruang makan, menggeser kursi, dan mempersilakan duduk. Dapurnya seperti etalase kepribadian Kaveh: beragam tipe alat masak dan bumbu. Tapi semuanya tersusun rapi dan mudah untuk diambil. Pasti Haitham yang turun tangan. Entah pengaruh latihan sulap atau bagaimana, ta—da, di hadapannya tersaji segelas jus jeruk hangat, shawarma yang mengepul uap, dan sepasang sendok garpu.
“Nggak tahu denger lagu apa tapi kayaknya cuma jadi hiasan. Mau tambah saos atau nggak, Dee?” Dehya mengangguk melihat Kaveh mengacungkan botolan saos. Setelah mengunyah beberapa kali, Dehya agaknya terharu begitu rasa shawarma di mulutnya sudah pantas mewakili Sumeru di ajang masterchef Liyue. Sembari mengamati sekelilingnya, Dehya menyadari kehadiran alkohol Snezhnaya di antara botolan saus, kecap, jus, dan bumbu. Setiap minggu, Dehya bertemu dengan orang-orang pelabuhan. Meski dia bukan peminum, tetap saja Dehya tahu merk mana yang mahal dan tidak, dan botolan di hadapannya ini masuk ke kategori kedua.
“Anjir siapa yang sarapan pakai vodka?”
“Kaveh.” Lebih terdengar seperti komplain personal Haitham.
“Buah-buahan cocktailnya punya siapa?”
“Haitham.” Kaveh mencibir sembari menaruh piringan sarapan di meja sebelah Haitham. Tuan rumahnya mengangsurkan sloki dan Kaveh otomatis menuang jus ke dalam sana. “Katanya biar ada rasa dan bervitamin, justru vodka paling enak nggak diapa-apain. Tapi berharap apa dengan Bapak Sekretaris yang segar-bugar kayak beliau ini.”
Dehya mengangguk mafhum, mungkin niat mereka mengekspos keburukan masing-masing, tapi baginya, si pengamat ahli romansa masyarakat Sumeru dan sekitar, apa yang mereka lakukan hanyalah mempertontonkan betapa hangatnya hubungan mereka. Sempat terpikir untuk merekam dan mengirim ini semua ke majalah gosip Yae Publishing House tapi urung karena Dehya masih ingin hidup tenang dan damai. “Udah siap banget ini tinggal ke kantor sipil buat tandatangan buku nikah nggak sih?”
“Dee? Halo? Gue? Dan Haitham? Yang ada dia depak gue duluan kali?”
Dehya tersenyum, mengelap mulut dengan ibu jarinya. “Masa? Gue harus tahu dong pendapat dari Bapak Sekretarisnya gimana.”
“Produktif ya, dari pagi sudah baca buku yang berat-berat.” Buku yang Haitham pangku memang mengintimidasi. Mungkin tebalnya seribu halaman. “Tapi itu emang keliatan, Pak, poninya panjang begitu?”
“Menurut Bu Dehya kalau tidak kelihatan, saya ngapain dari tadi?”
Ingin menimpal, duh Bapak keliatan kayak majikan dan babunya, tapi urung. Dehya tertawa kecil. “Veh. Buset gue takut.”
“Tham, hadap sini.” Seolah kucing yang diperintah babunya, Haitham menurut. Kaveh menjepit poni Haitham ke belakang dan bukan sulap bukan sihir, wajah Bapak Sekretaris walau masih seperti buku kosong, dia tampak jauh, jauh lebih ramah. Dan tampan. Kaveh menyentil dahi Haitham dan memberi instruksi. “Nah coba ngomong sekali lagi.”
“Saya ngapain dari tadi?” ulang Haitham lagi. Datar.
Kaveh benar-benar pawang sejati dan semakin membuat Dehya curiga mereka menikah dan terdaftar di negara, tapi pestanya dilangsungkan diam-diam dan tidak mengundang khalayak sebab mereka menabung demi membeli rumah yang lebih besar dan sedang berusaha membebaskan Kaveh dari jeratan hutang.
“Nah. Nggak nakutin ‘kan Dee? Anaknya imut gini. Yok, Tham senyum lagi dikit aja. Bisa pasti bisa.”
Dan satu timpukan buku mendarat di kepala Kaveh, dibalas satu gigitan di lengan Haitham.
Dehya jadi penonton bayaran (sarapan enak dan gratis) sitkom berjudul “Hanya Teman Rasa Pacaran” (HTRP) yang dibintangi bapak-bapak pegawai Akademiya Sumeru.
“Iya, iya percaya. Ini Bapak Kaveh kapan berangkatnya? Aku jemput ke sini supaya Bapak nggak telat dan keduluan klien dari Fontaine.”
Alih-alih, Dehya disuguhkan skenario #390 dari sinetron HTRP yang kapan selesai tayangnya hanya Kaveh dan Haitham yang tahu. Tumpukan bantal dirubuhkan. Karpet digulung. Buku ditumpuk. “Tham, lo liat gak tabung gambar gue di mana?”
“Digantung di belakang pintu.” Mungkin ini yang namanya tinggal bersama sampai hafal kebiasaan, sikap, dan lokasi di mana dia menyimpan barang. Kalau ada kuis berhadiah sejauh apa hubungan kalian dengan teman kalian, Haitham bisa meraih skor tertinggi dengan mudah. Atau mencetak rekor baru, malah.
Barang target ditemukan dan siap berfungsi sebagai amunisi tempur Kaveh di Aaru. Dia bergegas menjejali beberapa buku dan baju ke dalam lambung kopernya. Lalu berkacak pinggang sebagai respon atas airmuka Haitham yang kali ini tampak kurang antusias pada masakannya.
“Kebanyakan saos.”
“Gak usah pasang muka gitu. Mana sini.”
Agak membingungkan, sebab bagi Dehya, wajah Haitham—hujan, panas, dingin, kemarau—ya antara mengatakan, apakah saya peduli atau tolong otaknya dipakai dua-duanya punya inti yang sama.
Kaveh membungkukkan sedikit tubuhnya, agar dia bisa melahap si roti isi langsung dari tangan Haitham. Matanya terpejam, meresapi teksturnya, mengusap dagu-dagu, lalu mengaku salah. “Oh iya. Sorry. Sisihin sendiri pake sendok. Jangan manja.”
“Duh, jadi nyamuk nih saya. Mesra banget.”
Kaveh mengedikkan bahu. “Iri, ya?” Dehya bersumpah tidak lagi menjemput Kaveh ke apartemen atau resikonya, dia mungkin termotivasi cuti sebulan khusus bulan madu dengan Nona Dunyazard. Tapi apalah dia dan statusnya sebagai staf—cuti sebulan hanya mimpi dengan segudang pekerjaan yang mesti dia selesaikan.
Sebelum mereka berdua berangkat, Kaveh sempat-sempatnya berpamitan. “Jangan lupa fotosintesis, wahai wujud manusia dari vegetasi Hutan Avidya. Gue nggak suka kalau di sini ada bunga yang layu.” (artinya: Jangan lupa makan. Minum. Jaga kesehatan biar wajahmu jauh dari lesu). Dan Haitham membalas sekenanya, “Nggak ada potongan bayar kosan.” (artinya: semangat kerjanya. Kalau nggak semangat nggak apa, senyum kamu sudah jadi bayarannya).
Pintu pun ditutup.
Haitham melihat roti di tangannya. Tanpa menyisihkan sausnya. Dia melahapnya habis.
.
.
.
Sebagai Sekretaris Umum di Akademiya Sumeru, Haitham punya sederet pekerjaan yang menurutnya cukup menarik. Tapi, tidak semenarik itu sampai dia ikhlas lembur Sabtu dan Minggu.
Selain bertanggung jawab urusan administratif, dia rutin mengasah otaknya agar tetap tajam lewat posisi sebagai filter terakhir apakah suatu proposal layak mendapat pendanaan atau berakhir menjadi angan-angan. Dia menilai, menimbang, dan menguji seberapa kuat logika dan teori menyambungkan hipotesa dan luaran yang diharapkan. Haitham juga dituntut untuk bisa menemukan permata-permata yang menjanjikan dari gagasan inovatif dan membawa semboyan Akademiya: keberlangsungan dan pembaharuan.
Sejauh ini, hanya ada beberapa yang memenuhi kualifikasi ketat tersebut dengan sempurna. Salah satunya, proposal Kaveh Lohefalter dari Kshahrewar. Tentang pembangunan sekolah di desa Aaru—perbatasan antara daerah hutan hujan dan padang pasir di Sumeru. Layak dibilang gila karena tidak pernah ada, sampai sekarang, orang yang mau bersusah-payah ke sana. Cuaca, jarak tempuh, dan medan yang dihadapi menuntut biaya, waktu, tenaga, dan kesabaran yang tidak sedikit.
Apakah Haitham pernah berkhayal tentang masa depan? Pernah, tapi membayangkan dia bekerja selama tiga jam sehari, dua jam beristirahat, dua jam membaca buku, dan dua jam lagi mengikuti kelas-kelas mata kuliah yang asing. Tidak pernah terbersit bayangan semesta yang kini memberinya kesempatan tinggal seatap dengan Kaveh.
Biasanya, dia tidak perlu keluar kantor sering-sering. Bekal masakan Kaveh cukup mengganjal perut sampai makan malam—dan sudah dua hari dia harus meminta Nabil mengantarkannya makan siang. Berhubung Kaveh mengabarinya hari ini pulang setelah membiarkannya tidur seorang diri di apartemen (dasar laki-laki tega), entah sore atau malam berhubung banyak faktor berpartisipasi—Haitham berharap Dewi Keberuntungan masih memberkatinya untuk menjalankan rencana dengan mulus.
Tapi harapan tersebut pupus begitu seseorang masuk ke kantornya.
“Mas Haitham, sudah makan siang?” Dari seluruh manusia di muka bumi, kandidat teratas yang membuat perutnya mual malah masuk tanpa salam. Haitham mengabaikannya dan tetap merapikan dokumen ke dalam map-map yang sesuai. Dia perlahan menyalakan alat rekam dari laptopnya, berpura-pura sedang memilah-milah surat yang masuk. “Saya lihat dua hari ini Masnya lembur dan hari ini izin untuk pulang cepat, ya? Masnya kelelahan, kan?”
“Tidak. Saya ada urusan.”
Orang waras akan berbalik dan paham jika ucapan tersebut adalah bentuk pengusiran yang halus. Tapi apalah yang diharapkan dari orang tidak waras? Pergi? Minta maaf?
“Masnya mau makan dulu kah? Atau kalau pulang cepat, saya tahu restoran bintang lima di sekitar sini. Nanti saya antar pulang sekalian juga.”
“Bapak masih punya dokumen yang perlu diperiksa dari Vahumana. Kurang lebih enam belas permintaan pendanaan doktoral dari Amurta, tujuh acara yang wajib dihadiri, dan beberapa lagi follow-up terkait peresmian kerja sama dengan Imperial Liyue College. Apakah itu tidak cukup menghabiskan waktu dan malah menawari saya makan siang?”
Sisa kesabarannya menipis. Kalau tidak ada hukum yang mengikatnya sebagai Sekretaris, tidak ada moral yang mendefinisikannya sebagai manusia, Haitham sudah lama berniat memanggang tua bangka ini di tengah terik matahari yang membakar Gurun Pasir Hypostyle. Atau mendaftar kesalahannya dan membiarkan Azar disidang seperti para pengkhianat dieksekusi dengan cara paling mengerikan di Fontaine.
“Saya di sini berniat baik, menawari Masnya banyak hal yang mungkin sangat diinginkan orang lain. Reaksi Mas cukup defensif. Apakah saya kurang sopan dalam berkata?”
“Anda menjawab pertanyaan Anda sendiri, Pak Azar.”
“Oh. Saya juga belakangan ini tidak melihat orang Kshahrewar berkeliaran di kantor Anda. Apa itu alasan penyebab Anda menolak saya?”
Ha? Sejauh itu dia mengamati? Ratusan orang tiap hari memadati Akademiya. Puluhan orang keluar-masuk ruangannya untuk tanda tangan, cap, surat izin, dan Azar… menyempitkan analisisnya pada satu orang? Duh, lainkali orang itu tidak usah susah-payah inisiatif menjemputnya lagi.
“Jika tidak ada kepentingan lain, saya permisi.”
“Mas Haitham, saya tahu apa yang Anda lakukan soal proposal itu. Dari awal saya tidak pernah setuju. Tapi saya lihat, proyeknya tetap mendapat pendanaan dan berjalan di bawah nama Akademiya, hmm?”
Oh. Oh, tidak. Tidak. Jangan menyeret bintang kejoranya ke dalam permasalahan konyol ini.
“Begitu? Mungkin karena memang proposal proyeknya unggul dan melampaui syarat?”
Tingkah Azar menandakan dia seakan menemukan achilles’ heel Haitham. Sesungguhnya, Azar menang, tapi dia punya keraguan untuk itu—dan terima kasih, Haitham gesit menghindar dari ranjau yang mengantarkannya pada kehancuran.
“Menarik. Saya kira Anda cukup profesional dengan jabatan Anda, Mas Haitham. Tapi tidak apa, saya mengerti tarik-ulur ini.” Seakan di dunia tidak ada cermin, Azar mencoba tenang dan terus mengirimkan sinyal-sinyal yang mendesak. Agaknya Haitham terkejut, namun dia tanggap membungkus dan menyembunyikan emosinya dari tatapan Azar.
Yang seperti ini, perlu ditanggapi dengan kepala dingin—karena lawannya punya kekuatan untuk mengendalikan narasi serta memanipulasi realita.
“Apa yang Bapak inginkan dari saya?”
Tanpa bertanya, segalanya tertulis dalam huruf yang dicetak tebal, kapital, di kepala Azar. Tipikal yang dibutakan hasrat dan menghalalkan segala cara.
“Mungkin makan siang bersama. Dan sikap yang lebih mutual?”
Nyaris Haitham melepaskan tawa.
“Sepertinya penawaran Bapak terlalu mengada-ada.” Bayaran yang Kaveh berikan tidak ada pembandingnya. Dan orang yang di hadapannya ini menganggap dia punya segalanya? Duh, Haitham mencari-cari semprotan pestisida untuk disemburkan ke muka atasannya. “Saya ada kepentingan yang lebih mendesak daripada ini.”
Azar mengepalkan tangan. Haitham perlu menjatuhkan peringatan yang lebih keras agar tidak ada lagi orang yang sembarangan dan nekat melewati batas.
“Dan satu lagi. Jangan pernah berpikir hanya Bapak saja yang punya kartu As. Apakah Bapak akan instropeksi atau menggali lubang kubur sendiri—semuanya soal waktu. Saya hanya menunggu.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mana mungkin dia ingin mempercepat putaran waktu demi kakak kelasnya? Otaknya berargumen, apartemennya harus kembali punya koki dan tukang sekaligus atau biaya bulanan terus melambung, dan hatinya melancarkan ultimate burst pada argumen lemah itu—uangmu banyak, dan kamu muak dengan keheningan yang mendengung di telingamu.
Haitham masih keras kepala. Ha. Kangen dia? Pingsan, ejeknya pada diri sendiri sembari merapatkan trenchcoat milik yang bersangkutan. Demi menghalau angin, daripada sakit. Hati kecilnya mendecih: atau kamu cuma mau mengendus lagi harum khasnya, bukan?
Setelah melepaskan diri dari Azar, Haitham bergegas menuruni tangga Akademiya, dan lagi-lagi dibuat heran dengan kapabilitas otaknya menciptakan dialog-dialog seperti ini. Hati dan logikanya cukup sering masuk lapangan pertandingan. Seringnya logika menjadi pemenang. Tapi perkara Kaveh… hatinya-lah yang sering berdiri penuh kejayaan di atas logikanya yang terkapar.
Saking tidak terbiasanya dengan kondisi seperti ini, Haitham si laki-laki paling terkalkulasi (self-declaration) hampir jatuh terantuk kerikil.
“Hahaha!” Sebuah tawa renyah familiar. Harusnya masih di Aaru, masih di perjalanan Ribat. Haitham semakin yakin jika hatinya tengah menyusun konspirasi pengkhianatan pada otaknya. Halusinasi apa di tengah hari seperti ini? “Lagi mikir apa, Tuan Alhaitham ini?”
Dua masalah menyergapnya sekaligus: 1) Tidak seharusnya orang ini ada di sini dan mengacaukan rencana Haitham pulang duluan—pergi ke Ormos memesan masakan Liyue paling mahal (demi Tuhan bukan alasan ingin memberi kesan spesial! Ini alasan blackmail!)—dan merayakan pesta kecil-kecilan berspanduk “Welcome Home, Trophy Fucking Husband”, 2) Hatinya (berani-beraninya) kecewa atas pilihan frasa Tuan Alhaitham—bukan Malewifeku yang sering dia umbar di chat, atau Sayangku yang sering dia gunakan di rumah. Antara dua-duanya, Haitham pening. Dia butuh parasetamol satu kilo biar syaraf-syarafnya direset sekalian.
“Hei… lo nggak lupa fotosintesis, kan?” Nadanya penuh kekhawatiran. Asli, murni, tanpa penyulingan. Haitham berupaya sekuat mungkin membentengi harga dirinya, dengan tidak memastikan siapa pun yang sedang memapahnya dari pose semi-terpeleset sebagai Tuan Arsitek dari Kshahrewar. Tapi, tembok tinggi itu luntur seketika begitu harum tubuh Kaveh menyeruak dan menenangkannya. “Haitham, you okay?”
Semenyedihkan inikah, menjadi omega? (Tidak, tidak, hatinya tadi berdelusi konsep fiksi omegaverse) “Uh. Bisa tolong lepas gue?”
Pasalnya, belum cukup kombo serangan element skill (wangi, total crit: 980919), element burst, (“Haitham, you okay?”, total crit: 10367828), dan lengan kuat yang mendekap pinggangnya dari tarikan gravitasi (total crit: layar Haitham rusak) nyaris membuat paru-parunya lupa cara bernapas.
Haitham dipapah selayaknya paket berstiker fragile, ke pinggir balkon setengah lingkaran Akademiya yang penuh kelopak-kelopak besar bunga poppy. Ketika Haitham sibuk memasrahkan takdirnya menjadi bulan-bulanan kakak kelasnya, yang bersangkutan malah tersenyum-senyum kegirangan.
“Orang gila.” Haitham dan mulut ceplas-ceplosnya nampak tidak berefek sama sekali.
Kaveh bersiul riang. Merogoh saku dan mengabadikan Haitham dari kameranya. Wallpaper baru. “Lo beneran pake trenchcoat gue.”
Bendera putih telah dikibarkan dari pihak Tuan Sekretaris. Perjuangan ini di luar kendali siap melangsungkan aksi destruksi mandiri. Apakah ini karena dia lupa fotosintesis? Tapi dia bukan daun… dia manusia… Harga dirinya telah berjuang sebaik-baiknya. “Kemarin kan udah bilang.”
Pemenang perang ini benar-benar menebarkan efek bunga-bunga mawar bercahaya di sekelilingnya. Lengan Haitham otomatis bergerak menjadi tameng menghalau silau yang membutakan. Mereka seperti pasangan yang janjian berkencan. Kaveh dan trenchcoat burgundy. Haitham dan trenchcoat hitamnya. Daripada merayakan kekalahan telak pihak seberang, kekhawatiran tersurat di wajah Kaveh. “Kerjaan lagi banyak banget, Tham?”
“Gak boleh gue pulang duluan?”
“Kalau lo sakit, kita pulang, gue masakin. Tapi kalau lo suntuk, masih kuat, kita makan di luar.”
Otak Haitham korslet sesaat.
“Tham, lo nggak seneng kah gue pulang…”
“Bukan, bukan anjir.” Aduh, Kaveh sampai bengong disentak Haitham panik. “Gue… gue barusan lagi mikir makannya enak di mana.”
“Ke Grand Bazaar aja, yuk. Belanja bentar. Kita masak masala cheeseball sama butter chicken.”
“Nggak jadi makan di luar?”
“Kayaknya…” Punggung tangan Kaveh merasakan hangat menjalar dari pipi Haitham. Niatnya mengecek apakah Haitham demam atau tidak. Diagnosis Kaveh, Haitham gejala demam. Betul, gejala demam karena diperlakukan ala Tuan Putri yang diselamatkan Pangeran Berkuda Putih (Haitham menimbang-nimbang Kaveh itu Pangeran Berkemeja Putih atau Pangeran Bersepatu Putih? Pikiran bodoh).“Kita istirahat. Gue dan lo sama-sama butuh selonjoran.”
.
.
.
“Mon cheri.” Instruksi tangan Kaveh meminta Haitham agar menepi dari arus hilir mudik pengunjung Grand Bazaar yang deras. Pesulap amatir ini rupanya mengamankan sepetak ruang yang cukup bagi mereka berdua bernapas lega. Lengkap beratap dahan pohon palem dan tembok tanaman rambat. “Sini. Nggak bakal ada yang liat.”
Dua kantung belanjaan besar terdampar di kaki Kaveh—orang ini pandai sekali memanfaatkan hak istimewa sebagai pemilik wajah tampan untuk menawar harga dan barang. Poin plus: dia ramah dan punya auranya menyenangkan. Daging fillet, tomat, bubuk harra. Kaveh sempat mentraktirnya pita pocket sebagai isian perut sementara. Apalagi tadi Kaveh sempat menghibur beberapa pedagang dengan trik sulap kartunya—Haitham dapat segelas rainbow aster dan snack khas Inazuma secara cuma-cuma.
“Lumayan kenyang, lah, ya?”
“Masih cukup buat diisi butter chicken lo.”
Kaveh tersenyum sampai matanya menyipit dan muncul lesung pipit. “Lo tuh. Aduh nggak baik buat kesehatan nyawa gue.”
Mata Kaveh selayaknya elang yang tengah mengawasi mangsanya. Haitham mengikuti alur permainan yang tengah disiapkan kakak kelasnya. Trenchcoat Kaveh dilepas, kemudian dipasang seperti kerudung pada Haitham. “Kalau kayak gini, kayaknya aman.”
“Wah. Tuan Arsitek punya niat apa terhadap saya?” Walau bertanya-tanya, Haitham selalu memberikan izin tanpa batas bagi Kaveh untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Apartemen. Buku-bukunya. Barang-barangnya. Apakah Haitham pernah mengunci itu semua? Justru dia membiarkan segalanya tanpa penjagaan karena dia menginginkan Kaveh masuk ke sana dan tinggal di dalamnya. Entah berdasar penasaran atau apapun—Haitham tidak berharap banyak. “Saya ini cuma sekretaris biasa, lemah, dan tak berdaya…”
Apa yang dikatakan Haitham ada benarnya.
Dia sekretaris biasa tanpa kuasa absolut seperti Azar. Seandainya Akademiya dia pimpin, Haitham akan memastikan Kavehlah yang akan membawa kembali Kshahrewar ke tempat semestinya dia berada. Sarapan pagi—trik kartu murahan—bekal makan—diskusi filsafat—panggilan sayang—bunga-bunga kamelia di balkon yang bermekaran—Haitham hanya menemukan kejujuran yang sungguh-sungguh dari mata Kaveh yang sangat indah. Seakan insiden di chat tempo hari hanyalah ilusi. Tham, menurut lo apa kita nggak sekalian pacaran aja? Dan Haitham hanyalah si lemah yang tak berdaya. Tidak seberani itu menghadapi resiko dan konsekuensi yang menunggu. Kita punya waktu. Nggak perlu terburu-buru. Lo punya mimpi, fokus dulu satu-satu. Kalau semuanya selesai, gue nggak kemana-mana, lo akan selalu gue tunggu.
Jarak antara mereka berdua semakin pendek. Hati-hati Kaveh menyampirkan anak rambut Haitham. Dia ingin memahat mata Haitham dalam ingatannya. Serinci-rincinya. Sepuas-puasnya.
“Banyak yang ingin gue sampaikan. Gue nggak pernah main-main soal perasaan.”
Ujung hidung mereka pun bersentuhan. “Alhaitham.”
Tatapan mata Kaveh turun, terkunci pada bibir Haitham. Demi menegaskan segalanya bukan mimpi, ibu jari Kaveh bergerak, menyapu bibir si lelaki bermata hijau, menekannya lembut sampai sedikit terbuka. “Boleh?”
“Hmm. Is consent your new thing?”
“Nope.” Kekehan Kaveh memamerkan gigi taringnya begitu menerima sinyal hijau berupa lengan Haitham yang mengalung pada lehernya. Hiruk-pikuk pasar tidak lagi meriuhkan malam. Yang Haitham dengar hanyalah jantungnya yang bertalu-talu memohon dibebaskan dari kurungan rusuknya. Sesaat sebelum Kaveh memagut bibir Haitham selayaknya kekasih yang saling merindukan dan akhirnya berjumpa setelah sekian lama berpisah, dia berbisik rendah. “It’s important to know you want this as fucking much as I do.”
