Chapter Text
Prolog
"Gila."
"Net price. No nego."
"Lebih banyak ruginya di gue." Renjun masih tidak habis pikir dengan penawarannya.
Jeno mengedikkan bahu, "Ini kan emang buat kepentingan lo. Nggak ada yang gratis di dunia ini Huang Renjun."
“Untungnya apa buat gue?”
Jeno menampilkan senyum paling menyebalkan sedunia, menurut Renjun. “ You get me. A whole package of your boyfriend. Everyone will believe, we’re lovers.”
“Nggak mungkin.”
Renjun lupa, dia tidak boleh menantang pria taurus yang sedang memasang wajah paling menyebalkan.
Satu
“Jadi, lo udah punya pacar buat dibawa ke nikahan Hendery?”
Renjun menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan tidak penting tapi mengganggu yang dilontarkan oleh adiknya, Chenle. Renjun meliriknya sinis dari balik laptop. Lagi, ia mau mendengar pertanyaan itu berapa kali, sih? Serius, dia sudah bosan sekali diberi pertanyaan seperti itu sejak undangan Hendery sampai di tangannya.
“Nggak ada pacar, sibuk.” jawab Renjun sinis. Ia melanjutkan lagi pekerjaannya yang tertunda karena pertanyaan tidak penting.
“Lo lupa apa yang bakal terjadi kalo lo nggak bawa pacar? Lupa pas nikahan Kak Winwin tahun lalu? Gue tiap kali ingat ikutan stress, padahal itu bukan gue.” ucap Chenle bergidik ngeri.
Renjun ikut merinding mengingatnya. Renjun ingat, acara pernikahan Kak Winwin setahun yang lalu. Renjun diseret seharian ke semua tamu Kak Winwin. Diperkenalkan oleh ibunya ke tiap orang yang datang sebagai ‘Pria matang yang sudah punya segalanya kecuali pasangan’. Renjun harus menahan malu dan berjabat tangan dengan wajah semerah bunga mawar di dekor pernikahan Kak Winwin.
“Nanti gue cari di Tinder, gampang..” jawab Renjun asal.
Lalu, suara tawa Chenle terdengar memenuhi ruang kerjanya. Renjun menatapnya sebal, sudah gila apa tertawa sebegitu kerasnya?
“Lo kayaknya makin tua makin pelupa, ya? Mami mana bakal percaya. Mami kan tau lo kerja mulu, nggak ada interest sama sekali soal pacar. Sekalinya bawa pulang cowok, cuma tidur doang dan ketahuan lagi.”
“Itu lo ngerti gue nggak interest . Terus ngapain nanya lagi?”
“Gue itu peduli sama lo. Nggak mau lo jadi korban Mami lagi.” Renjun menatapnya dengan tidak percaya. “Gue dateng bukan cuma bawa masalah. Gue bawa solusi juga buat lo.” Renjun melihat Chenle menaik-naikkan alisnya, sangat mencurigakan.
“Apa?”
“Gue tahu siapa yang bisa lo bawa ke nikahan Hendery dan semua orang bakal percaya kalo kalian beneran pacaran.
Renjun memutar bola matanya malas mendengar perkataan adiknya, tapi tetap bertanya, “Siapa?”
“Jeno.”
“Sinting.” sambar Renjun cepat.
Chenle tertawa lagi. “Coba deh lo pikir, Mami tuh ngerti lo banget. Menurut gue ya, satu-satunya orang yang bisa lo bawa kesana dan pasti dipercaya cuma dia.”
“Nggak mungkin. Mami kenal Jeno.”
“Justru itu. Lo tahu sendiri dia kesukaan Mami. Mami pasti bakal percaya.” ucap Chenle lagi meyakinkan.
“Nggak.”
Chenle bangkit dari tempatnya, “Yaudah terserah. Gue udah ngasih solusi. Kalo lo nggak mau yaudah.” ia pergi tinggalkan Renjun dengan renungan pengganggu pekerjaan.
Dua
Renjun rasa, Chenle sudah gila beneran. Bisa-bisanya menyarankan untuk mengenalkan Jeno pada seluruh keluarga besar mereka sebagai pacarnya?
Konyol sekali.
Renjun dan Jeno itu teman seumur hidup. Orang tua nereka sudah mengenal sejak dahulu dan mereka sudah bertetangga sejak kecil hingga sekarang. Mereka sudah saksikan berbagai momentum penting dan dosa-dosa sepanjang hidup. Semua orang di sekelilingnya juga tahu, Jeno adalah teman sepanjang hidupnya. Mana mungkin ada yang percaya sih, kalau Jeno pacarnya?
Tapi, perkataan Chenle tentang Ibu mereka yang sangat mengenal dirinya, benar sekali.
Renjun itu sangat ambisius soal pendidikan dan pekerjaan. Sejak kecil, Renjun akan mengurung diri di kamar untuk mempelajari semua pelajarannya. Ia hanya akan keluar kamar jika diseret ibunya untuk makan. Hal ini juga berlanjut hingga saat ini. Renjun benar-benar workaholic . Ia tidak sempat untuk menghabiskan waktu hanya untuk hal remeh seperti pacaran. Karena sifat dan kebiasaannya itu, ia tidak punya banyak teman.
Setahun yang lalu, saat ia membawa pulang seseorang untuk tidur bersama, ibunya senang sekali. Ibunya sampai memasak banyak untuk sarapan mereka, ingin menjamu orang yang berhasil merampas hati anaknya. Tapi, perasaan senangnya tidak bertahan lama saat mengetahui bahwa seseorang itu hanya teman tidurnya malam itu. Pagi itu, mereka sarapan dengan keadaan mencekam karena Ibu Renjun yang menahan rasa kecewanya sendiri.
Ibunya juga sadar bahwa Renjun tidak akan membiarkan orang asing berada di sekitarnya lama-lama. Terbukti, ia hanya punya segelintir teman dan tidak pernah berteman dengan klien. Semua kenalan dari ibunya juga tidak pernah ada yang ia tanggapi karena dirinya yang memang malas berurusan dengan orang baru.
Benar. Chenle benar. Hanya Jeno satu-satunya orang yang bisa dipercaya untuk jadi kekasihnya.
Tapi, apa Jeno mau?
Tapi, yang lebih penting lagi, apa Renjun bisa pura-pura menjadi pacar Jeno?
Tiga
Sebetulnya, kedatangan Renjun ke rumahnya sore ini sangat bisa terprediksi oleh Jeno.
Biasanya, ia hanya akan datang tanpa mengabari. Berbincang dengan kakak perempuannya jika bosan, atau bahkan ikut berkebun dengan ayah Jeno di taman belakang. Hampir tidak pernah Renjun datang ke rumah sebelah dengan pesan, “Di rumah nggak?”
Kecuali, saat mereka sedang bertengkar. Atau, dulu. Saat satu kejadian yang ingin keduanya hapus dari ingatan.
Jeno bisa lihat betapa gelisahnya Renjun yang duduk di atas sofa bed di kamar Jeno. Matanya berkeliling di kamar Jeno yang harusnya sudah ia hapal betul. Sogokan lima pint es krim matcha favorit Jeno juga sudah ia letakkan di kulkas mini di kamarnya.
Tapi, setelah lima menit berada disana, Renjun masih belum buka mulut. Jeno anteng saja ikut diam sambil membuka satu es krim kesukaannya itu.
“Enak, nggak?” pertanyaan basa-basi itu keluar dari mulut Renjun setelah Jeno menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya.
Jeno mengangguk kecil, menawarkan es krim tersebut pada Renjun. Renjun berjalan mendekat ke arahnya. Menunduk untuk mendapatkan suapan es krim dari Jeno.
Mata mereka bertemu ketika sendok berada di tengah-tengah hidung meeka. Jeno yang jail, mengarahkan sendok dingin ke pipi Renjun dulu lalu ke menyuapkannya ke mulut Renjun. Ia dapat tatapan mematikan dari Renjun.
“Basi Jun pertanyaan lo. Bilang, lo butuh apa.” Jeno langsung mencecarnya.
Renjun sepertinya lupa kalau Jeno bisa membaca dirinya seperti buku terbuka.
“Inget acaranya Kak Winwin tahun lalu?” Jeno melanjutkan kegiatannya memakan es krim. Membiarkan pertanyaan Renjun. “Gue nggak mau jadi korbannya Mami lagi.”
“Terus?”
Renjun makin terlihat gelisah mendengar tanggapan Jeno yang begitu santai, “Gue butuh pacar.”
“Oke?”
“Kata Chenle, cuma lo yang bisa.” Renjun tidak berani menatapnya. Ia memilih untuk menghadap jendela memandangi kebun belakang mereka yang saling berhubungan dengan rumahnya.
Jeno tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menggoda Renjun lebih jauh. “ Please elaborate.”
Mata Renjun menyipit kesal padanya, Jeno masih dengan senyum miring yang menyebalkan menatap balik.
“Jeno Lee, teman baikku sepanjang masa, boleh tolongin aku buat jadi pacarku, nggak? Sampe acara Hendery beres.” ucap Renjun memohon. Suaranya menahan marah tidak bisa ia sembunyikan, tapi ia berusaha untuk mengucapkannya selembut mungkin.
Jeno berusaha menahan tawa, mempertahankan sikap menyebalkan dirinya, sambil masih menikmati es krim, “ What will i get in return?”
Renjun menghembuskan napas perlahan-lahan, ia harus bisa menahan emosinya dalam menegosiasikan hal ini. “ Room with the best view?”
Jeno melepaskan tawa meremehkannya pada Renjun, “Gue juga VIP guest disana, Huang Renjun. Tawaran lo nggak berarti.”
Renjun belum pernah berpikir bahwa ia harus memutuskan pertemanannya dengan Jeno, tapi sikap Jeno hari ini benar-benar mengundangnya untuk menghapus Jeno dari ingatan.
Walaupun tidak mungkin.
“Terus lo mau apa? Lo udah punya segalanya.”
Betul. Jeno sudah punya segalanya. Cuma satu hal yang nggak Jeno punya. Jeno yakin pula Jeno Renjun tidak bisa mewujudkan permintaannya yang itu. Tapi, sebagai orang yang selalu mencetuskan ide brilian di kantor dan seseorang yang sangat oportunis, Jeno bisa meminta sesuatu yang akan sangat menguntungkan dirinya dan bisa diwujudkan oleh Renjun.
Jeno letakkan es krim dan sendoknya di meja. Ia duduk menghadap Renjun dengan senyum miring. Ia katakan keinginannya dengan nada santai, “Masakin makan malam buat gue. Sebulan penuh.”
Renjun melotot, “Gila.”
"Net price. No nego."
"Lebih banyak ruginya di gue. Gue bahkan nggak masak makan malam buat diri gue sendiri. Ngapain gue masak buat lo?" Renjun masih tidak habis pikir dengan penawarannya.
Jeno mengedikkan bahu, "Ini kan emang buat kepentingan lo. Nggak ada yang gratis di dunia ini Huang Renjun."
“Untungnya apa buat gue?”
Jeno menampilkan senyum paling menyebalkan sedunia, menurut Renjun. “ You get me. A whole package of your boyfriend. Everyone will believe, we’re lovers.”
“Nggak mungkin bisa.”
“Lo yang butuh gue, Renjun. Terserah mau percaya atau nggak.” Jeno putar kursinya kembali ke depan komputer, membelakangi Renjun yang duduk lemas di atas sofa bed miliknya.
Renjun memijat pelipisnya pelan, kepalanya tiba-tiba berdenyut mendengar penawaran Jeno. Namun, seperti yang Jeno bilang, dirinya lah yang membutuhkan bantuan.
Ia tidak punya pilihan lagi.
“Seminggu deh.” ujar Renjun menawar.
“No Nego.”
Renjun rasanya mau nangis saja. Ia tidak pernah selemah ini ketika bernegosiasi. Ia berpikir lagi. Mencari di berbagai tempat di otaknya, hal-hal yang bisa menjadikan dirinya punya bargain power yang sama dengan Jeno.
Tapi, Jeno terlalu sempurna. Sedang Renjun, tidak pernah begitu peduli pada dosa-dosa yang Jeno perbuat.
Di tengah pikirannya, Jeno menawarkan lagi, “Sebulan. Lo tinggal masak aja, bahannya dari gue. Sebelum itu juga, gue bisa kasih lo trial, buat bikin lo yakin kalo gue bisa jadi pacar lo. ”
“Terus kalo pas trial, lo gagal gimana?”
Jeno membalikkan kursinya lagi menghadap Renjun, “Yaudah, kita pacaran beneran aja.”
“Sinting.”
