Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of Ushijima Wakatoshi The Boyfriend Material
Stats:
Published:
2022-12-25
Words:
553
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
24
Hits:
781

Big Boy with a Sweet Heart

Summary:

Ketika seorang Ushijima Wakatoshi cemburu.

Work Text:

Timnas voli Jepang berhasil memenangkan pertandingan sengit melawan timnas Argentina. Aku pun pergi menuju ruangan timnas Jepang saat di tengah jalan aku dihampiri oleh seorang pria asing.  

“Excuse me,” ternyata pria tersebut menanyakan lokasi sebuah lokasi wisata yang terkenal di Tokyo. Untungnya aku fasih berbahasa inggris, sehingga aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.

“Hei, um, can I get your number or maybe your instagram account? Just in case you want to join us while I’m here?” pertanyaan pria asing itu sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Sekarang aku bingung harus menjawab seperti apa.

“Just instagram account, is that alright?” pria asing itu mengangguk dengan antusias, senyumnya lebar sekali sampai-sampai aku bisa melihat kilauan gigi-giginya. Aku pun memberikannya username instagramku yang degan segera ia follow.

“Thank you so much! I’ll dm you later, have a good day!” pria itu pergi dan melambaikan tangannya kepadaku.

Tanpa kusadari, dari belakang sudah ada sepasang mata yang sedari tadi menatapku dengan tajam.

“Toshi? Sejak kapan disini?”

“Siapa tadi?”

Raut wajah Wakatoshi terlihat menyeramkan. Alisnya berkerut, dan tatapan matanya terlampau tajam. Aku merasa sedang diinterogasi oleh FBI.

“Ah, tadi dia tanya jalan sih, terus minta insta account ku.”

Wajah Wakatoshi semakin masam. Sepertinya aku sudah menekan tombol yang salah.

“Block aja kalo dia ganggu.”

“Toshi, dia cuma tanya jalan aja kok.”

Bukannya menimpali perkataanku, Wakatoshi malah berjalan meninggalkanku sendirian. Sudah pasti si bayi besar itu pasti ngambek.

“Toshi, tadi kamu menang kan? Mau minta apa, nanti aku kasih. Mumpung aku baik nih.” Tawarku mencoba menaikkan mood Wakatoshi. Sayang, Wakatoshi masih mendiamkanku. Ia berjalan menuju parkiran bus tempat dimana mereka akan dijemput menuju hotel.

“Toshi, jangan marah dong. Beneran deh dia tadi nggak ngapa-ngapain. Kalo dia macem-macem nanti langsung aku block, beneran deh.”

Wakatoshi yang berjalan di depanku tiba-tiba berhenti, membuatku menabrak punggungnya, keras.

“Aku ngga suka, dia genit banget sama kamu.”

Aku menepuk jidatku pelan. Harusnya aku sudah bisa menduga akan terjadi hal seperti ini kalau Wakatoshi sudah melihat kami. Dari luar dia memang terlihat pendiam dan cuek, tapi aslinya ia bisa membuat semua orang geleng-geleng dengan tingkah lakunya. Ushijima Wakatoshi adalah seorang pria yang clingy dan mudah cemburu. Entah aku harus bersyukur atau heran, tapi Wakatoshi tidak pernah cemburu dengan para idol dan aktor favoritku. Ia hanya cemburu kalau aku berinteraksi langsung dengan pria lain.

“Toshi, beneran deh dia tanya aku karena tadi aku sempet telfonan sama temen aku pake bahasa inggris. Kebetulan mungkin dia denger, makanya dia tanya aku. Tau sendiri kan orang-orang Jepang itu jarang yang bisa bahasa inggris.”

Wakatoshi masih diam sambil menatapku dengan datar. Seolah meminta penjelasan lebih panjang.

“Oke-oke, I’ll give kisses and hugs for today.”

Wajah datar itu tergantikan dengan Wakatoshi yang senyum dengan sumringah. Hm, sudah kuduga.

Tangan Wakatoshi terjulur, mengusap-usap kepalaku.

“Tapi aku cuma bisa sebentar, soalnya harus briefing juga sama yang lain.”

“Iya, ngga papa.”

Wakatoshi menatapku dalam.

“Spit it out, ‘Toshi.”

“Habis ini selesai, mau cuddle seharian, eh mau seminggu cuddle terus sama kamu.”

Muncul juga sifat clingynya itu. Aku hanya bisa mendesah pasrah dengan tingkah laku Wakatoshi.

Tanpa diduga, Wakatoshi menarik tubuhku dan memeluknya. Tangannya kemudian menangkup wajahku dan membelainya pelan sebelum ia menciumku dengan lembut. Big boy with such a soft heart memang.

Mengakhiri ciuman kami, Wakatoshi pun segera pergi menuju bus tempat rekan-rekannya yang lain sudah menunggu. Aku mengelus dadaku untuk menetralkan degupan jantungku yang sangat kencang.

Series this work belongs to: