Actions

Work Header

Beg For Me

Summary:

Joshua Hong bisa menjadi iblis sekaligus malaikat di atas ranjang.

(Part of FK BF & Teksin BF namun bisa dibaca terpisah)

Notes:

Commission fiction.

Work Text:

“H-hhnnghh… p-lease p-pelan…”

Dokyeom mendorong kepalanya sedikit dari Joshua supaya dia bisa menerima asupan oksigen lebih banyak. Dadanya yang sudah enggak lagi pakai sehelai kain naik turun di hadapan Joshua.

“Baru ciuman, Seok. Payah banget?” 

Penghinaan.

Dokyeom sehari-hari enggak suka dianggap remeh. Dia siap melayangkan tinju untuk siapa saja yang berani merendahkannya, tetapi jika kasusnya sedang di bawah kungkungan Joshua Hong, Dokyeom ikhlas lahir batin dicaci maki. 

“Mana yang tadi ngerengek minta dipuasin?”

Ada suatu hal yang bisa mengubah manusia seratus delapan puluh derajat dalam sepersekian menit. Namun, Dokyeom tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas, manusia tersebut salah satunya adalah Joshua, pujaan hatinya yang sudah menghabiskan dua tahun bersama dengannya.

Joshua itu pemuda terbaik dan tersabar yang pernah Dokyeom temui di muka Bumi. Joshua merupakan seorang pria yang populer berkat sikap sopan santunnya kepada semua orang yang dia kenal. Banyak sifat-sifat baik yang tentu, tidak bisa Dokyeom sebutkan satu persatu untuk mendeskripsikan betapa sempurnanya Joshua. Namun, kalau dirinya sedang sengaja dibuat tunduk seperti sekarang, yang kira-kira ingin Dokyeom racaukan adalah Joshua adalah seorang bajingan.

“Untung yang angkat teleponnya aku, Seok. Coba kalau orang lain? Kamu seneng pas orang asing denger suara kamu ngedesah minta dienakin? Iya?”

Dokyeom menggeleng kencang. Joshua memintanya untuk duduk bersimpuh di hadapannya dan memerintahkannya untuk melucuti resleting celananya. “Pake gigi, Seok. Yang nyuruh pake tangan siapa?”

Joshua sudah membuka kancing celananya, tinggal menunggu Dokyeom selesai melakukan apa yang dia perintahkan. 

Dengan hati-hati Dokyeom menggigit ujung kepala resleting. Hidungnya secara enggak sengaja menyentuh gundukan benda yang dia tebak sudah mengeras di balik bahan jeans yang tebal. Dokyeom menatap puas celana Joshua yang sudah ambruk ke lantai. Seolah menunggu untuk dipuji, Dokyeom mendongakkan wajahnya demi mencari kedua bola mata Joshua. 

“Pinter, sayang.”

Pipi serta rahang Dokyeom dielus lembut. Joshua menurunkan celana dalamnya, mengeluarkan batang kemaluannya yang sudah mengacung ke depan mulut Dokyeom. “Mau ini? Selama tadi nonton bokep udah kebayang ya mulutnya diewe kontol aku?”

Dokyeom mengangguk dengan malu-malu. Cairan precumnya membuatnya gak nyaman di bagian selangkangan. Kedua pahanya otomatis saling gesek meskipun sudah mati-matian ditahan.

Perkara menonton film porno saat kumpul-kumpul di kost teman kelasnya, Dokyeom terpaksa pulang dengan kondisi penis tegang. Dia menyesal karena gak langsung cabut secepatnya setelah tuan rumah menyalakan layar televisi yang sudah terhubung situs pornografi. Dokyeom malah ikut menonton untuk beberapa adegan pertama dan menganggap remeh tonjolan yang bangun dari balik celananya. Memang dasar manusia, kadang rasa penasarannya timbul bukan di waktu yang tepat.

“Ngomong, Seok. Gimana aku bisa tahu kamu maunya apa kalau kamu cuma ngangguk sama geleng? Mulutnya belom diisi kontol aja udah gak bisa ngomong, apalagi nanti pas udah dimasukin? Berarti gak usah aja ya?”

“M-mau! P-please Shu!”

“Mau apa? Mau stop aja? Udah tengah malem sih, kita tidur aja yuk?”

Tangan nakal Joshua meraih jeansnya, hendak dipasangkan kembali sebelum akhirnya ada sebuah tangan lain yang menghalanginya.

“Jangan! Please jangan berhenti!”

Dokyeom meminta dengan penuh desperasi. Mudah sebenarnya jika dia bermain sendiri untuk menjemput putihnya, tetapi apa gunanya punya pacar kalau mereka gak saling bantu demi kebutuhan biologis? 

“Beg for it, Seok. Beg for me.”

Kalau sudah sejauh ini, maka Dokyeom pun rela harga dirinya diinjak sampai gak ada harganya demi dipuasin Joshua.

Kepala penis Joshua diusap ke bibir dan pipi Dokyeom. Senang menggodanya walaupun mulut Dokyeom sudah terbuka, ingin cepat-cepat menyambut penis Joshua di dalam mulutnya.

Tawa Joshua pecah kala dia mendapati air liur di sudut-sudut bibir Dokyeom. Rambut pemuda yang posisinya lebih rendah itu digapai, kemudian ditarik ke belakang sampai Dokyeom harus berpegangan pada paha kokoh Joshua. 

“No, I won’t give it to you that easy, Darling.” Joshua menjilat sedikit daun telinga Dokyeom.

Dokyeom meringis merasakan sesak di bagian selatannya. Dia berharap Joshua menangkap sinyalnya dan membebaskan penisnya dari rasa sakit akibat tertahan celana.

“Kalau gak bisa minta yang bener, jangan harap bakal aku kasih. Aku gak peduli udah berapa lama kamu ngaceng kayak gini tapi gak ada yang bisa bantuin.”

Please... aku mau… mau kontol kakak, mau nyepongin kakak, mau nelen peju kakak sampe gak ada sisa. Pake aja, akunya dipake sampe kakak puas, fuck me like I’m one of your sextoys. Mau bikin kakak puas, tapi aku mau juga dipuasin kakak sampe tolol. Bantuin… bantuin aku keluar please…

Gak ada yang bisa membuat Joshua lebih terangsang daripada rengekan Dokyeom yang terdengar mubazir untuk dilewatkan. 

Kakak.

Joshua sebelumnya belum pernah memfantasikan Dokyeom yang memanggilnya dengan sebutan kakak. Buat apa pula, pikirnya selama ini. Toh, usia mereka hanya berjarak dua bulan. Namun, setelah berdetik-detik Dokyeom menyelesaikan kalimatnya, Joshua mendapatkan pelajaran. Enggak ada salahnya mencoba hal baru.

Karena, dengan kedua manik Dokyeom yang menatapnya layu serta mulut yang sudah siap memanjakan penisnya, Joshua hanya bisa berharap dirinya pada malam ini enggak keluar kurang dari lima menit. 

Secara naluriah mulut Dokyeom terbuka, menerima kepala dan batang penis Joshua ke dalam rongga mulutnya setelah diajukan oleh pemiliknya. 

Erangan Dokyeom mengalun secara erotis di telinga. Joshua ingin segera bergerak, tetapi hatinya luluh begitu melihat Dokyeom yang tengah kesulitan membiasakan ukuran penisnya di mulut pemuda itu. Dokyeom nampak seperti anak kecil yang ingin melahap lolipop besar dalam sekali suap.

Joshua mendesahkan nama Dokyeom berulang kali ketika sang kekasih mengambil langkah selanjutnya. Dokyeom memaju mundurkan mulutnya untuk mengoral kemaluan Joshua. Lidahnya gak berhenti menjilat sementara tangannya mengurut batang serta buah zakar Joshua. 

A-ahh, pinter. Pinter banget, sayang.” Joshua meremas surai hitam Dokyeom. “Fuck, jangan ngeliatin aku kayak gitu.”

Joshua ingin mempercepat temponya kala dia menergoki Dokyeom dengan mata yang berkaca-kaca terpaku padanya. Mulutnya melengkung ke dalam, berusaha menambahkan nikmat hanya untuk Joshua seorang.

“Seok mulutnya enak banget sayang. Pinter banget kamu puasin kakak.” Secara gak sadar, Joshua jadi lupa untuk memperhatikan Dokyeom. Dia terlalu terlena sehingga saat dia ingin mencapai klimaks, suara lirih Dokyeom menginterupsinya.

Dia tersedak karena penis Joshua tahu-tahu menyerang pangkal tenggorokannya. Terlalu dalam, Dokyeom yakin dia enggak bisa memasukkan penis Joshua secara utuh ke dalam mulutnya. Beruntung, Joshua segera mencabut penisnya dan mengecek kondisi Dokyeom. “Sayang, sakit ya? Maaf, maaf ya sayang.”

Dokyeom menutup mata ketika merasakan tangan lembut Joshua menyeka air matanya yang sudah setengah mengering di pinggir matanya.

“Gak apa… lanjutin aja…” ucapnya dengan rona pipi yang berubah. “Mau bantuin kakak keluar.”

Dokyeom merasakan jantungnya berdetak kencang saat Joshua membelai rambutnya. “Such a good boy.  You deserve a reward, Baby.”

Penis Joshua kembali dikulum. Kali ini, dengan irama yang pelan. Lidah Dokyeom begitu lihai memanjakannya, membuat yang lebih tua mendesah keenakan tanpa jeda.

“Ah! Anjingg!” Joshua tiba di puncaknya. Cairannya dimuntahkan tanpa permisi di dalam mulut Dokyeom. Pemuda malang itu protes, air mani Joshua berceceran di area bibir dan beberapa menetes menuruni dagu serta lehernya. “Telen. Semuanya.”

Dokyeom mengangguk patuh. Jari-jari lentiknya kini mengelap sisa sperma yang masih mengotori wajahnya. Mengecapnya sampai habis gak bersisa. Joshua sedikit kecewa karena gak bisa mengabadikan momen tadi lebih lama lagi.

In his opinion, Dokyeom’s face looks more beautiful with his cum on it.

 

“Kakak…”

“Iya, sayang?”

“Adek belom keluar…” Dokyeom menunjuk celananya yang sudah basah menggunakan matanya.

Joshua tertawa dengan maksud mengejek. “Kasihan… udah sampe becek gini tapi belom bisa keluar, ya?”

Enggak ingin membuat Dokyeom makin merajuk, dalam sekali geraknya, Joshua memindahkan tubuh Dokyeom ke atas ranjang. Badannya dibiarkan terlentang dengan kedua paha yang terbuka lebar. Joshua sudah berhasil meloloskan penis Dokyeom dari jeratan celana empunya, dan maka, saat ini, Dokyeom sudah telanjang dalam artian yang sebenar-benarnya.

Dokyeom ingin menyembunyikan wajahnya ketika Joshua tanpa permisi menaikkan pinggulnya dan menyangganya dengan bantal. Lubang yang tengah sensitif itu berkedut karena ditatap lama oleh Joshua. Seakan-akan lagi ada sebuah pertimbangan di dalam kepala Joshua, mengenai gaya apa yang mampu membuat Dokyeom hancur di bawah kuasanya.

“Kakak bantuin ya sayang.”

Dokyeom refleks memejamkan kelopak matanya saat ada benda tak bertulang bergerak di sekitar anusnya. Tubuhnya menggelinjang hebat sebagai respon dari stimulus yang dibuat oleh kekasihnya. “A-aahh!” Kedua tangannya yang menganggur dipakai untuk meremas sprei ranjang Joshua. Rasanya cukup aneh mengetahui adanya sebuah lidah sedang bermain di analnya. Dijilat dan dibasahi dinding rektumnya demi mempersiapkan lubangnya untuk digagahi. 

“Hnngghhh!!! K-kakakk!” Paha Dokyeom menyempit, mengakibatkan kepala Joshua terjepit di dalamnya dan semakin membuat lidahnya berkuasa di dalam lubang Dokyeom. “M-mau keluar… kak—ah!”

Dokyeom merengek ketika Joshua selesai bermain di lubangnya menggunakan lidah. Dia sudah hampir sampai dan rasanya sangat menyiksa karena harus menahannya lagi. “Kenapa berhenti… adek belom keluar…”

Be patient, tadi ditelfon mintanya dienakin sama aku, kan? Jadi sabar ya, I’ll make it good to you.”

Sebotol pelumas dikeluarkan dari laci. Isinya digunakan untuk mengolesi dua jarinya, telunjuk dan tengah.

“Tell me if I’m too rough, okay?”

Suara desisan menjadi respon pertama Dokyeom ketika kedua jari Joshua menerobos masuk ke dalam anusnya. Ada sensasi dingin dari pelumas, tetapi hal itu enggak manjur dalam membuat Dokyeom lupa akan rasa perih yang menyerang.

“Sshhh, sempit banget lubangnya adek…”

Jari-jari Joshua asyik menggempur lubang submisifnya. Bergerak dengan gaya melebar seolah sedang menggunting sembari mencari letak prostat Dokyeom agar desahannya semakin gak terkontrol. “Enak?”

A-ahhh e-enak! J-jari kakak panjang b-banget…” 

Diam-diam, Dokyeom sering berkhayal jari-jari panjang dan tebal milik Joshua bergeriliya di dalam lubangnya. Menekan-nekan prostatnya sampai puncaknya tiba dan mengotori badannya sendiri. Sayang, imajinasinya itu sulit dia realisasikan karena jari-jarinya enggak seperti punya Joshua.

“Cantik… adek cantik banget. Kakak gak akan pernah sudi muka sange adek diliat orang lain.” Poni yang sudah panjang itu disibak, dielap keringat sebesar biji jagung yang merembes di kening supaya enggak jatuh mengenai mata. “I love you, I love you so much. You’re taking my fingers so well.”

“K-kakak… m-mau hngghh m-mau k-keluar…”

“Keluarin sayang. Keluarin yang banyak biar kakak tau sepuas apa kamu dimasukin jari.”

“Aahhh!!! Kakk!!” Bola mata Dokyeom berguling hingga yang tersisa cuma bagian putihnya. Lubangnya refleks mengetat ketika jari manis Joshua menerobos masuk. Sekarang, ada tiga jari yang menumbuk prostatnya dengan kecepatan yang terus bertambah. Gesekkan jari-jari Joshua beradu dengan suara kecipak dari pelumas yang sudah menyebar di lubang Dokyeom.

Tanpa butuh waktu yang lama, penantian Dokyeom tiba. Dokyeom mencapai klimaksnya dan menyemburkan spermanya ke dada serta perut Joshua.

“Pretty,” pujinya. “Cantiknya Joshua. Aku gak akan pernah bosen bilang kalau kamu manusia tercantik, dalam keadaan apapun.”

Dokyeom tersipu malu. Kepalanya dibenamkan pada bahu Joshua, mengendus bau daun aromatik tumbuhan mint yang keluar dari badan pemuda itu.

“Mau dilanjut?”

Dokyeom mengangguk. Dalam hati dia bersorak girang karena Joshua tanpa mengulur waktu segera mengubah posisi ke belakang punggungnya, mengocok sebentar penisnya yang sudah dibasahi dengan pelumas sebelum menempatkannya ke depan bibir anal Dokyeom. “Siap?”

“T-tapi sambil disayang-sayang ya…”

Permintaan kecil Dokyeom tentu akan Joshua kabulkan. Senyumnya merekah sewaktu kepala penisnya mulai memasuki liang hangat kekasihnya. “Whatever my baby wants.”

Dokyeom memekik setelah keseluruhan penis Joshua terbenam di dalamnya. Meskipun tadi dia sudah dipersiapkan, tetapi rasanya jelas berbeda jauh.

Penis Joshua terasa begitu besar, membuat lubangnya sesak dan sedikit terbakar karena menggaruk dinding rektumnya. Joshua senantiasa menunggu Dokyeom menyesuaikan diri dengan penisnya yang terbilang gemuk.

“You took my whole cock in one trust, Darling. Ahhh—so good, you’re so perfect for me.”

Joshua mulai menggenjot lubangnya, membuat Dokyeom berdesau keenakan karena setiap dia berkedip, Dokyeom membayangkan gerbang nirwana terbuka untuknya seorang. Mulutnya gak berhenti mengucap sumpah serapah, terus mengumandangkan nama Joshua bersamaan dengan frasa “cepet… please lebih cepet lagi…”

“Adek, gak ada yang bisa sesempurna adek. Cuma kamu yang bisa bikin kakak gila karena pijatan lubang adek. I’m so lucky to have you, Baby. I’ll serve you, breed you, and fill you with my seeds.”

Tingkat sensitivitas Dokyeom meningkat. Kedua putingnya yang mengeras berkat komplimen dari Joshua dicubit, dipelintir sampai tubuhnya mengejang dan menempel di dada Joshua. “K-kakak p-please! F-faster!

Ujung penis Joshua gak berhenti menusuk prostat Dokyeom. Secara berulang kali dia berkutat di titik sana, berharap pelepasannya akan datang karena akal sehatnya kini sudah setipis tisu yang dibagi dua. Kondisi Dokyeom lebih memprihatinkan. Mulutnya basah oleh air liurnya sendiri, tangannya telaten mengurut penisnya yang keras. Dia bahkan sudah gak mampu lagi untuk mendesah, suaranya hilang, otaknya malfungsi karena rangsangan penis Joshua begitu memengaruhinya.

Ketika kesadarannya kian menipis, Dokyeom terpaksa melenguh karena dua jari Joshua menembus masuk ke lubangnya. “Bisa sayang, muat kok.”

“N-nggak… hiks, g-gak muat…” air mata Dokyeom tumpah. Badannya gak kuat menerima rasa nikmat dan sakit dalam satu waktu.

Dokyeom menjerit, muatannya tumpah sangat banyak mengenai kasur. Joshua menciumi leher dan tulang selangkanya, jemari di tangan kanannya ditautkan dengan milik Dokyeom. “Kuat, pacar aku kuat. Bentar lagi aku keluar kok.”

Ini yang pertama bagi Dokyeom. Sebelumnya Joshua gak pernah ngide menyeludupkan jari saat sedang menyetubuhnya. Namun, lama kelamaan rasanya gak terlalu buruk, walaupun lubangnya dipaksa terbuka lebih lebar.

“A-ahh di sana ya sayang? Pinter, pinter banget kamu bikin kakak keenakan.”

“K-kakak… please k-keluar di dalem…”

“Aahhhh…” Joshua mengisi lubang Dokyeom dengan benihnya. Terlalu banyak hingga sebagian meruah keluar.

Dokyeom menyeka air matanya. Perlahan, Joshua mengeluarkan dua jarinya dan menarik penisnya dari lubang Dokyeom, membiarkannya menganga karena kehilangan kehadiran penis di dalamnya.

Joshua buru-buru memeluk Dokyeom, kedua tangannya melingkar di perut yang lebih muda. Dagunya beristirahat di pundak Dokyeom. Joshua menarik selimut sampai setengah menutupi badan mereka, diucapkannya kata maaf beribu kali karena sudah menyakiti Dokyeom alih-alih bercinta dengan penuh kasih sayang seperti yang dipinta Dokyeom.

“Baby I’m so sorry…sorry I lost my control. I was mad because I slightly imagined you but with someone else instead of me. Maaf… maaf aku bikin kamu sakit…”

Kepala Dokyeom masih pening, rasanya pusing seperti baru selesai menaiki wahana ontang anting di Dufan dan permintaan maaf Joshua enggak membantu mengurangi rasa gak mengenakan itu. “Doki marah ya?”

“Hhhh kepala aku muter-muter…”

“Haus sayang? Aku ambilin minum anget ya?”

Dokyeom mengangguk lemah sebagai jawaban. Dengan siaga, Joshua bangkit dari kasurnya, memakai kembali celananya sebelum pergi ke dapur untuk mengambilkan Dokyeom minum.

Setelah kembali dari dapur dengan segelas penuh air hangat yang uapnya membumbung ke atas, Joshua membantu Dokyeom meneguk minumnya. “Ahh… enak…”

“Udah mendingan?”

“Iya udah. Makasih kakak.” Dokyeom memberi Joshua satu kecupan kecil di pipi.

“Aduh jangan panggil aku kakak dong sayang…”

“Ihhh emangnya kenapa?” 

“Bisa-bisa kita main sampe pagi,” goda Joshua. Kedua pipi Dokyeom bersemu setelah mendengarnya.

“Jorok! Aku mau tidur!”

Tawa renyah Joshua menggelegar di setiap sudut kamar. “Oke, oke. Goodnight sayang, aku izin bersihin badan kamu ya.”

Hanya dengan satu deheman, Joshua mampu mengartikan kalau Dokyeom sudah memberinya izin.

"Makasih udah mau aku gangguin malem-malem." Wajah Joshua yang tinggal sejengkal darinya itu ditangkup, dipertemukan bibirnya dengan bibir bengkaknya, sebuah mahakarya sang kekasih yang selama bermain tadi menghisapnya terlalu kencang. "You praised me so much. Sakitnya sebentar doang kok, santai aja."

"I love you."

"Gaje lo tiba-tiba ngomong I love you."

"Ya kan emang beneran, sayangg."

"Pikirin aja tuh tugas lo katanya deadline male—ASTAGA SHU INI UDAH JAM SATU PAGI?"

Joshua melirik jam dinding yang letaknya bersebrangan dengan kasur. Mulutnya ditutup oleh tangannya, dia dengan ceroboh melupakan tugas salah satu mata kuliahnya yang tenggat waktunya hari ini, pukul kosong kosong titik kosong kosong.