Chapter Text
Chapter 1
“Oh, kau sudah akan pulang?”
Lee Donghyuck, mahasiswa Seni Musik yang baru saja mengganti pakaian dari seragam kasir ke kaus menoleh pada sang pemilik minimarket. Sekarang sudah pukul 10 malam, pekerjaan paruh waktunya sebagai penjaga kasir telah selesai. “Kapan kau sampai bos?”
“Baru saja.” Lelaki paruh baya itu keluar tanpa menunggu Donghyuck merespon, mungkin bersiap menjaga kasir hingga pagi. Sudah terlalu mengenal membuatnya terbiasa pada sikap si bos yang irit bicara dan kaku, setidaknya dia selalu baik pada Donghyuck dengan membelikan makanan.
Dering telepon menghentikannya mengambil tas, nama ‘Han Jisung’ nampak jelas di layar yang memberi petunjuk bagi Donghyuck alasannya menelpon. Diangkatnya bersamaan dengan keluar dari ruang ganti, lebih efektif mengobrol sambil jalan daripada diam di tempat. Jujur, ia sudah mengantuk.
“Halo…”
“Halo Donghyuck! Di mana dirimu sekarang? Masih di minimarket?”
“Baru saja keluar –bos aku pulang dulu!– Jadi… ada apa dengan Renjun?” Tidak ada alasan lain bagi Han Jisung, mahasiswa teknik sipil untuk mencarinya (walau mereka saling kenal) jika bukan karena Hwang Renjun.
“Teman sekamarmu mabuk berat. Mana berisik pula memanggil namamu terus.”
Ia tersenyum, terbiasa dengan kelakuan sang teman yang selalu out of character setiap mabuk. “Kalian di tempat biasa?”
“Yep, yep, kutunggu.”
Akhirnya Donghyuck harus mampir demi membawa pulang Renjun yang mungkin sudah jatuh tertidur atas kesulitannya menahan alkohol. Hwang Renjun, seorang teman yang menjadi sangat akrab ketika masih duduk di bangku SMA. Mereka bahkan masuk di universitas yang sama sampai posko wajib militer pun. Maka dari situ lah dirinya mengajak Renjun untuk tinggal bersama. Sebut saja… Donghyuck ketergantungan.
Helaan napas yang amat berat keluar setiap mengingat perasaan yang entah kapan bertumbuh di hati. Semua tentang sang sahabat menyakiti hatinya yang meraung ingin memiliki, merengkuh tanpa beban, dan mencintai secara terbuka. Sungguh mengerikan jika berpikir bagaimana Donghyuck harus bertahan dengan pikiran jika mereka sebatas sahabat.
“Oi Donghyuck! Di sini!”
Ia menoleh ke arah meja panjang yang dipenuhi oleh orang-orang dikenalnya, teman sekelas Renjun. Kedatangan Donghyuck dipenuhi oleh sapaan, mengajaknya bergabung barang sebentar di perkumpulan tersebut yang ditolak olehnya. Sebagai orang yang dikenal social butterfly dan mudah akrab, tercetuslah anggapan ‘jika teman Renjun adalah teman Donghyuck, tapi belum tentu teman Donghyuck berteman dengan Renjun’ mengingat perbedaan kepribadian mereka berdua.
Renjun yang telah tertidur dengan pipi kiri menempel di meja kelihatan sangat menonjol. Tidak bisa dipastikan telah habis berapa botol sampai membuatnya terkapar tak berdaya di tempat umum. “Berapa banyak yang dia minum sampai seperti ini?”
“Dua atau tiga botol, aku lupa. Renjun minum sangat cepat seperti orang yang sedang banyak pikiran.”
Jawaban Jisung membuatnya penasaran, karena selama ini tidak pernah menemukan tanda-tanda frustasi di wajah lelaki itu. Atau mungkin Renjun saja yang pintar menyembunyikannya. Donghyuck berjongkok sambil menggoyang-goyangkan badan Renjun, membangunkannya dari tidur di tempat yang amat tidak nyaman. Tapi lelaki itu malah menggerutu seakan menolak membuka mata.
Mau tidak mau pilihan menggendong hingga halte bis menjadi satu-satunya jalan. Donghyuck tarik kedua tangan Renjun dan menyandarkan tubuh itu ke punggungnya, dan dalam hitungan ketiga pantat yang lebih kecil diangkat dengan cukup kesusahan. Mau sekurus apapun Renjun, dirinya tetap lah seorang pria dengan tinggi lebih dari 170 yang jelas berat. “Aku bawa Renjun, kami pulang dulu!” Pamitnya pada teman-teman sekelas Renjun sebelum melangkah keluar dari restoran itu.
“Setelah ini kau harus mentraktirku ayam goreng demi membawamu pulang,” gerutunya main-main karena paham Renjun tidak bakal mendengar sama sekali. Si mungil itu telah tertidur sangat lelap, bisa terdengar dengkuran halusnya di telinga Donghyuck.
“… Harum.”
Tanpa diduga Renjun mengigau yang berhasil mengejutkan Donghyuck. Tapi yang membuatnya sampai berhenti hingga bulu kuduk merinding adalah endusan Renjun tepat di lehernya. Hidung mancung lelaki itu menggesek leher seakan mencari aroma yang membangunkannya. Bisa Donghyuck rasakan bibir kecil itu mencium pipinya dan menyebabkan seluruh sistem tubuh luluh lantak begitu cepat.
Berubah menjadi robot, kepalanya begitu kaku hanya untuk menoleh pada lelaki yang digendongnya. Tersenyum lebar sampai matanya hilang, seperti anak kecil yang kegirangan. “Donghyuck harum sekali!”
Sial, Hwang Renjun terlalu lucu.
/././.
Karena Renjun sudah bangun dan bisa digotong saja, Donghyuck memakai metode tersebut mengingat lantai kamar sewa mereka berada di lantai dua. Tapi tetap saja mengurusi orang mabuk sungguh amat merepotkan, berdiri tegak saja tak mampu apalagi berjalan dengan benar. Makanya Donghyuck langsung melempar (secara lembut tentunya) Renjun ke atas ranjang. Badannya mulai sakit harus menopang tubuh yang walau kurus tetap berat dibawa pulang.
“Kau benar-benar berhutang padaku, Hwang Renjun!” Kali ini ia bersungguh-sungguh mengatakan kalimat tersebut sambil menunjuk-nunjuk pada orang teler di atas ranjang.
Donghyuck memutuskan segera mandi, tubuhnya dirasa lengket dengan aktivitas seharian ini dan mungkin air hangat bisa menetralkan otot-otot yang tegang. Baru juga mengambil satu langkah keluar dari kamar Renjun, tangannya ditarik hingga seluruh tubuh jatuh ke ranjang. Belum sempat mencerna situasi yang terjadi, ia kembali terkena serangan jantung melihat Renjun sudah berada di atas tubuhnya.
“Re-Renjun…”
“Tidur di sini.” Suara pria itu serak setelah meminta hal yang cukup di luar nalar. Bahkan dibanding permintaan lebih terdengar seperti perintah.
“Bisa turun dulu dari perutku?” Sejujurnya Donghyuck sudah panas dingin sekarang. Posisi ini terlalu provokatif baginya, apalagi ia bisa melihat jelas wajah si manis yang memerah karena efek alkohol dan mata sayunya yang sungguh menggoda.
Seperti anak anjing yang baru dimarahi, Renjun menunduk dengan mulut melengkung ke bawah. “Tidak mau! Nanti Donghyuck pergi.”
Sungguh jantung Donghyuck butuh diselamatkan! Kebiasaan bersikap lucu setiap mabuk ini adalah tindakan berbahaya! Renjun harus menghilangkannya sebelum ia melakukan yang tidak-tidak. “Biarkan aku mandi dulu, ya?”
Tanpa diduga, Renjun menangkup wajah Donghyuck dan mencium pipi kiri dan kanan lelaki itu. Tidak peduli yang diciumi telah membeku dengan degup jantung berdebar dua kali lipat. “Masih harum.” Yang lebih pendek tanpa berlama-lama menaruh seluruh tubuhnya di atas tubuh Donghyuck lalu memeluknya seperti boneka.
Jelas yang ditindih sedang menahan rasa frustasi sampai menutup mata dengan lengan tangan. Pantat Renjun tepat di atas selangkangan yang bereaksi sangat cepat, begitu sensitif sampai sekujur tubuh panas dingin. Isi kepala berusaha tidak fokus dan bersabar menunggu Renjun tertidur agar bisa dipindahkan dari atas tubuhnya. Urusan nafsu bisa dijinakkan nanti.
Tapi tidak ada rencana yang selalu seratus persen berhasil. Karena baru juga berhasil menenangkan debar jantung, ia kembali terkejut oleh tingkah tak terduga Renjun. Teman sekamarnya itu meremas selangkangan Donghyuck hingga bereaksi pada rintihan yang tak bisa ditahannya.
Matanya makin melotot ketika tangan itu makin memainkan area sana yang buru-buru di tahannya. Tidak baik, ini sungguh tidak baik! “Renjun jangan!”
Mereka berubah posisi dengan Renjun berada di bawah, strategi Donghyuck agar tangan itu tidak merambat kemana-mana. Ia kembali merengut melihat tangannya ditahan sangat erat. “Kenapa jangan?” Seperti anak-anak yang dilarang membeli mainan kesukaannya, Renjun menggerutu kesal.
“Kau tidak sedang dalam keadaan sadar, oke? Tidak ada teman yang saling menyentuh selangkangannya.”
Wajah manis itu kebingungan, ia melirik ke selangkangan Donghyuck dan selangkangannya dan kembali menatap sang sahabat. “Penismu bangun.”
Ingin sekali ia berteriak dengan makian yang pasti kasar sekali. Karena kelakuan siapa miliknya bangun seperti ini? “Aku ke kamar dulu!”
Renjun tidak membiarkan Donghyuck kabur sama sekali, kedua tangannya mengalung erat dan mengurung lelaki itu. “Aku juga tegang.” Dengan mata anak kucing yang membulat sempurna, tatapan penuh menyakinkan, dan wajah yang masih memerah efek alkohol, Hwang Renjun menghipnotis Lee Donghyuck sangat parah yang tidak mampu mengeluarkan satu atau dua patah kata.
Ia jatuh pada hasrat yang mulai tak terbendung.
/././.
“Shit!”
“Donghyuck pelan-pelan! Uh…”
Sebagai satu-satunya yang masih mampu berpikir, Donghyuck kalah tanpa mau memberontak. Setiap remasan tangan Renjun di bahunya dianggap sebagai kenikmatan atas godaan Donghyuck di alat kemaluan keduanya. Ia memangku yang paling mungil dengan tangan kiri terus mengocok dua penis yang saling menempel. Menuntaskan nafsu yang membelenggu satu sama lain.
Sebagai yang menggoda duluan, Renjun kelihatan sekali kewalahan. Tangannya yang melingkar di leher Donghyuck sangat erat setiap gerakan naik turun di area sensitifnya menambah adrenalin. Ditambah lagi hembusan napas teman sekamarnya menggelitik sekali, menaikkan debaran yang tak kunjung normal.
Tidak ada yang peduli sejak detik pertama Lee Donghyuck menarik Renjun di pangkuan dan sama-sama saling membantu melepaskan kancing celana demi membebaskan dua alat kelamin yang membesar. Renjun membiarkan sahabatnya mengontrol masturbasi mereka, menjadi submisif yang baik karena kepala terlalu sakit untuk bersikap dominan.
Demi mencari pengalihan, Donghyuck mengulum telinga Renjun yang paling dekat dengan pandangannya. Menggigit kecil dan menjilat layaknya permen favorit. Hal tersebut mengakibatkan ransangan yang Renjun alami, baru menyadari jika area telinga juga merupakan titik sensitive di tubuhnya.
“Donghyuck… Donghyuck… ugh, jangan digigit! Akh!”
Lelaki itu mendadak tuli, puncak kenikmatan akan diraih tak lama lagi. Dipercepatnya kocokan demi mendengar rintihan Renjun yang tak kunjung habis. Lelaki itu tidak lagi menyembunyikan wajah di bahu Donghyuck, menampilkan raut kenikmatan yang sepertinya sudah tak mampu dibendung. Mata rubahnya mulai berair dan sayu, mulut kecil itu mengeluarkan suara seksi yang memancing siapapun ikut teransang, pipi merona merah tak lagi karena alkohol tapi rasa enak atas permainan Donghyuck di penisnya.
“AKH, DONGHYUCK!”
Kepala yang mendongak ke atas, teriakan memanggil namanya, dan tubuh yang bergetar setelah kenikmatan diraih telah terekam di memori Lee Donghyuck. Hwang Renjun ketika orgasme adalah pemandangan terindah yang ditemuinya. Dan begitulah dirinya ketika kenikmatan ikut datang, menambah kotor di tangan akibat onani yang tidak pernah direncanakan sama sekali.
Napasnya masih memburu hingga dada naik turun tapi Renjun kembali jatuh di bahu dan tertidur. Dilihat tangan yang penuh dengan sperma mereka berdua, memberi kesadaran atas tindakan tidak senonohnya. Sial, bagaimana ia harus berhadapan dengan Renjun atas kejadian hari ini?
/././.
Cara terbaik yang bisa Donghyuck pikirkan adalah menghindar.
Seperti pengecut, ia membeli bubur untuk menghilangkan pengar yang dialami Renjun sebelum pergi. Tidak lupa meninggalkan pesan jika Donghyuck akan pulang malam. Dan beruntung teman sekamarnya belum bangun sampai ia pergi ke kampus. Ini menyebalkan harus main kabur-kaburan seperti ini, tapi bayangan kejadian semalam terus menghantui.
DUK!
Suara bantingan di meja mengejutkan teman sebangkunya dan refleks menoleh pada Donghyuck yang menjatuhkan kepala di benda tersebut. Walau wajahnya tersembunyi Sanha, teman sebangku Donghyuck hari ini menyadari perasaan frustasi yang menguar dari tubuh lelaki itu.
“Hei, kelas belum dimulai untuk stres duluan.”
Donghyuck hanya menggerakkan kepala ke kiri tanpa melepaskan tempelan di meja, terlalu malas bergerak di kala otak berisik memutar kembali memori semalam. “Kau tidak akan memahaminya.”
Kerutan di dahi Sanha makin berlipat dengan pernyataan ambigu yang temannya keluarkan. Ia baru akan balik bertanya sebelum melihat notifikasi telepon di ponsel Donghyuck, nama Hwang Renjun terpampang jelas di layar. “Hei, Renjun menelponmu!”
Tapi lelaki itu tidak bergerak atau membiarkan getarannya mati, masih bersikap melankolis dengan memindahkan sisi kepala ke arah lain. “Biarkan saja,” pintanya pasrah. Tidak peduli Sanha berpikir jika dirinya dan Renjun tengah bertengkar sampai tak mau mengangkat telepon dari teman sekamarnya.
Mendadak sebuah ide tercetus di kepalanya sampai bangun dari posisi tidur, mengeluarkan dari kerumitan yang tak berkesudahan. Donghyuck mendapat cahaya untuk kabur ke Renjun malam ini. Ia kembali menoleh pada Sanha yang memasang wajah terkejut untuk kedua kalinya, seperti tidak menyangka ekspresi berbeda dalam hitungan detik bisa keluar dari wajah lelaki ini.
“Sanha!”
“Apa?!” Ia ikut berteriak ketika namanya disebutkan seperti itu oleh Donghyuck, masih bingung dengan situasi yang mendadak ini.
“Biarkan aku menginap di rumahmu malam ini!” Mata Donghyuck penuh permohonan, menganggap ini adalah keputusan terbaik sampai dirinya berani berhadapan langsung dengan Renjun. Ia masih menyimpan rasa malu yang besar atas sikapnya yang kurang ajar, dan Donghyuck terlalu pengecut untuk menghadapi realita.
Sangat amat pengecut.
/././.
Tiga hari berlalu dan Lee Donghyuck masih menghindari Hwang Renjun.
Terima kasih pada Sanha yang tidak masalah ditumpangi tidur, malah senang karena punya teman sekamar satu jurusan. Memang beberapa kali mereka mengerjakan tugas bersama dan Donghyuck hanya pulang untuk mandi atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Tentunya ketika Renjun tidak berada di rumah.
Beberapa kali sahabatnya itu bertanya kapan Donghyuck pulang atau dimana dirinya lewat pesan instan tanpa sempat berpapasan sekalipun. Sesungguhnya hal ini cukup membuat frustasi untuk dirinya sendiri. Ia ingin bertemu Renjun tapi juga takut bayangan kejadian mereka bermartubasi memenuhi kepalanya. Donghyuck merasa malu bertingkah tidak senonoh pada seseorang yang ia sukai. Bagaimana jika setelah ini Renjun tidak mau berteman lagi dengannya? Atau bahkan membencinya? Sungguh frustasi sekali pikiran negatif tidak mau berhenti membayangi.
“Sial, aku lupa membawa tugas makalah!” Ia mengeluh melihat isi tasnya sesampai di rumah Sanha, padahal semua keperluan untuk besok sudah dibawa kecuali tugas tersebut.
“Man, mata kuliah profesor Nam dimulai jam 8. Kau tidak akan sempat mengambil jika tidak malam ini.” Sanha mengingatkan pada Donghyuck yang makin pusing. Temannya itu benar, tidak ada waktu mengambil besok pagi. Tapi jika nekat mengambil sekarang, kemungkinan terbesar Renjun ada di rumah.
Dilihatnya lagi jam dinding yang menunjukkan pukul 9 malam, dia seperti bertaruh pada kemungkinan antara Renjun sudah tidur atau sedang di luar bersama teman-temannya. Pilihan sekarang tinggal tidak sengaja bertemu Renjun atau nilai D karena tidak mengerjakan tugas.
Terserah lah, dia akan pulang ke rumah dan mengambil tugas yang dibuatnya dengan penuh sakit kepala dan capek yang luar biasa. Diambilnya jaket dan tak lupa berpamitan pada Sanha untuk pergi sebentar. Semoga Renjun ada di luar agar tidak ada kecanggungan untuk pamit pergi kembali.
Perasaannya sudah tidak enak setelah memasuki gedung tempatnya tinggal. Seperti mendapat sugesti jika ada hal buruk yang menanti saat membuka pintu apartemennya. Dan setelah bunyi ‘bip’ terdengar, Donghyuck harus menarik napas terlebih dahulu sebelum masuk. Pelan-pelan ia dorong pintu tersebut, memasukkan kepala terlebih dahulu untuk melihat sekitar, lampu ruang utama mati total. Sungguh dirinya bersyukur, Renjun belum pulang!
Walau sudah yakin kehadiran Renjun tidak ada, ia tetap melangkah hati-hati memasuki rumah menuju kamarnya. Berbeda dengan sebelumnya, tanpa ragu Donghyuck buka pintu kamar sangat cepat. Dan siapa yang berekspektasi dalam hitungan satu sebuah bantal terlempar tepat di wajahnya, sangat keras dan menyakitkan sampai terjatuh ke lantai. Ia akan mengaduh sebelum mendengar bentakan dari suara yang tiga hari ini tidak terdengar lagi di telinganya.
“MAU SAMPAI KAPAN MAU MENGHINDARIKU, HAH?!”
Hwang Renjun berada di kamarnya, tengah berkacak pinggang, dan memasang ekspresi marah luar biasa. Si kecil itu berubah menjadi monster yang amat menakutkan bagi Lee Donghyuck yang tidak mampu berkata apa-apa untuk membela diri.
Dia sungguh ingin kabur sekarang!
To be continued.
