Work Text:
Taeyong meregangkan tubuhnya yang sangat lelah karena sudah berjam – jam duduk demi mendengarkan setiap kata dan materi pada rapat kerjasama perusahaan tempatnya bekerja dengan perusahaan rekanan yang bercabang di Jepang. Mau tidak mau, Taeyong harus ikut ke Jepang karena jabatannya merupakan sekretaris satu yang memegang segala berkas dan tatanan rapat sang boss besar.
Tubuh letih Taeyong memasuki kamar hotel tempatnya beristirahat beberapa hari nanti, raga kecil itu melompat kecil pada kasur hotel yang lembut. Matanya terpejam erat, masih enggan untuk melepaskan baju kantorannya atau sekedar membersihkan diri.
Pikirannya tiba – tiba terlintas tentang pemandian air panas atau sauna. Ah, rasanya pasti akan sangat menyegarkan jika sore begini merendam raga lelahnya dengan air panas.
Taeyong segera bangkit dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya hanya dengan bathrobe, tanpa dalaman. Bukankah sauna di Jepang memang harus telanjang?
---
Taeyong sampai pada tempat sauna yang letaknya di lantai dasar hotel, sauna itu sepi dan tidak ada orang sama sekali. Mungkin orang – orang lebih memilih beristrahat di kamar mereka masing – masing. Taeyong dengan perlahan melepas bathrobenya, tubuh putih mulus itu kini telanjang sepenuhnya.
Kakinya melangkah perlahan masuk kedalam kolam, ia menghela nafas panjang ketika seluruh badannya terendam air hangat yang membuat rileks seluruh sendi tubuh. Taeyong tenggelamkan tubuhnya sebatas leher dan menutup mata, menikmati acara berendamnnya sendirian.
Mungkin, jika dilihat dari pinggir kolam, Taeyong tidak terlihat telanjang, tapi jika dilihat dari balkon yang berada tepat di atas kolam, tubuh telanjang Taeyong terlihat sangat jelas.
Entah pikiran kotor dari mana, otak Taeyong justru memutar kilas balik video orang dewasa yang sedang bercinta di kolam sauna. Dahi Taeyong mengkerut sebal sebab penis mungilnya di bawah sana berdiri akibat pikiran kotornya.
Taeyong membuka matanya perlahan sambil menelisik keadaan sekitar yang sepertinya benar – benar sepi, setelah dirasa aman untuk berbuat mesum, tangan kanan Taeyong turun untuk mengocok penis kecilnya yang sudah berdiri maksimal di dalam air.
“Mmmhh.”
Taeyong terus mengocok penisnya hingga air bergulung mengikuti gerakan tangan Taeyong yang semakin liar mendekati orgasme.
“Aaaaaaaaaahh!!!”
Tubuh Taeyong bersandar pada pinggir kolam, kaki – kakinya terasa sangat lemas atas pelepasannya baru saja, matanya tertutup cantik dengan bibir tersenyum tipis. Cairan sperma Taeyong bahkan sudah tercampur dengan hangatnya air kolam.
Saking lemasnya Taeyong, ia tidak sadar jika ada orang diatas balkon yang mengabadikan kegiatan mesumnya secara diam – diam. Orang itu berdecak sambil membenarkan letak penisnya yang menggembung di balik celana boxer hitam yang dipakainya.
“Ck, kalau sudah tegang begini harus segera dimasukkan ke dalam lubang yang hangat.”
Orang itu menjilat bibirnya yang kering, tubuhnya ia bawa turun kearah kolam sambil tangannya melepas bathrobe dan celananya hingga telanjang dan menyusul tubuh telanjang Taeyong.
---
Taeyong tersentak kaget dan membuka mata ketika penisnya digenggam oleh seseorang yang tidak ia kenal sama sekali. Sebelum mulut Taeyong berteriak. Secara sepihak bibirnya dilumat dalam, kasar dan terburu – buru. Kepala Taeyong hendak mundur tapi tengkuknya ditahan oleh tangan kanan kokoh berhias urat – urat menonjol.
Cumbuan pada bibirnya semakin membuat Taeyong mabuk kepayang, ia akhirnya berhenti memberontak. Penis kecilnya terus dikocok dengan sangat handal dan memabukkan, Taeyong terlena begitu saja pada permainan yang diciptakan oleh orang asing itu.
“Aaagghhhh, s-stopp uuhhh nooo.”
Taeyong mendongak dengan mulut terbuka ketika putingnya dipelintir oleh tangan kokoh itu, cuping telinganya dikulum dan lehernya disesap dengan buas. Persetan, batin Taeyong.
“Kamu bilang berhenti tapi kamu justru maju mundurkan bokong sintalmu ini. Kamu suka ‘kan? Kamu suka ketika putingmu aku mainkan begini? Kamu suka ketika penis kecilmu aku kocok cepat begini, hm? Lihat mukamu yang memerah ini, suka hmm?”
“I-iyaahh aahhh aku s-sukaa uuhh aahh.”
Tidak mau kalah oleh orang di depannya, kedua tangan Taeyong naik untuk memberikan usapan dari tengkuk hingga dada bidang si lelaki asing. Mulutnya terbuka lebar menyambut bibir tebal yang menghisap bibirnya buru – buru, lidah mereka beradu perang hingga tetes saliva membasahi ujung bibir Taeyong.
“F-faster! Please, f-faster nghh Cum-cumiiingg!!! Aaaaaaah!”
Orgasme kembali menyapa Taeyong dan mnegotori air disekitar mereka. Orang asing itu tampak acuh dengan Taeyong yang masih lemas pasca orgasme, tangan kanannya digunakan untuk mengangkat satu kaki Taeyong agar ia dapat maju dan menempatkan penis besarnya tepat di depan lubang anal Taeyong yang lapar.
Tatapan mata Taeyong sayu dan memohon, ia mencengkram bahu kokoh lelaki itu ketika dengan perlahan ia rasakan lubang analnya dimasuki benda asing yang ukurannya melebihi koleksi dildonya di rumah.
“Ugghh- pe-pelan~”
“Fuck! Lubang ini pasti bukan luban perawan tapi kenapa rasanya melebihi milik perawan? Jadi jalangku saja kalau begitu, aahh sempit sekali, Sayang.”
“Y-yaa jadikan aku jalangmu, aah penis kamu besar banget, a-aku sukaa nyaaahh.”
Air kolam itu semakin bergelombang seiring dengan kerasnya tumbukan lelaki itu pada lubang anal Taeyong. Rektum Taeyong terus memberi pijatan memabukkan dan menghentak terus menerus titik prostat milik Taeyong di dalam sana.
Bibir tipis Taeyong sesekali akan diraup karena saking berisiknya, lehernya dikecup basah hingga tulang selangka yang menonjol. Kulit putih bersih itu sudah berubah warna menjadi merah kebiruan yang dipastikan tidak akan hilang beberapa hari ke depan.
“I’m close, fuck, f-faster please!!! Aaaaahhh!!”
“Me too. Bareng, Sayang. Aaaah!”
Beberapa saat kemudian Taeyong mencapai orgasmenya yang ketiga sedangkan lelaki dewasa yang memeluknya menumpahkan semua spermanya kedalam anal Taeyong yang terasa sangat penuh. Tangan Taeyong dengan lemas membalas pelukan si lelaki dan mengatur nafas masing – masing dan diakhiri dengan ciuman lembut, sangat lembut hingga Taeyong menutup kedua matanya.
TING!
Suara notifikasi ponsel menghentikan ciuman mereka, lelaki itu memandangi wajah cantik Taeyong yang kemerahan. Sangat menawan dan menggairah, ditambah lagi dengan semburat merah pada pipi dan titik keringat di dahi.
“Sayangnya kita harus berpisah sekarang, aku orang yang cukup sibuk. Maaf telah mengganggu kegiatan solomu, but, damn! Kamu terlihat begitu menggairah, aku tidak tahan. Mungkin kita bisa bertemu lain kali, nice to meet you?”
“Lee Taeyong. Kamu?”
“Jaehyun, Jeong Jaehyun. Nice to meet you, Taeyong.”
Jaehyun mengecup sekali lagi bibir Taeyong yang sedikit terbuka lalu tubuh telanjang itu pergi meninggalkan Taeyong yang tubuhnya masih lemas. Taeyong meraba kebawah, ke arah lubang analnya yang masih penuh oleh sperma panas milik Jaehyun. Kepalanya ia gelengkan untuk menghindari otaknya berpikiran mesum kembali.
Tubuh mungil Taeyong keluar dari kolam dan menyambar bathrobenya. Ia harus membersihkan diri dan lubangnya karena sebentar lagi jam makan malam tiba, boss besar Taeyong tadi bilang jika mereka akan makan malam bersama para petinggi perusahaan dan rekanan.
Taeyong meringis ketika rasa perih mulai menjalar dari lubang analnya ketika dibuat untuk berjalan.
“Duh, kontolnya gede banget, sih! Pantesan perih, huh!”
---
Langkah Taeyong terburu – buru memasuki restoran yang menjadi tempat makan malam mereka. Ia terlambat, salahkan lelaki dewasa yang mengeluarkan banyak sperma ke dalam pantatnya dan membuat banyak bekas kemerahan di lehernya, ia jadi harus lebih lama di dalam kamar mandi untuk bersih – bersih dan berias guna menutup bekas kemerahan dilehernya.
Mata Taeyong menjelajah isi retoran dan menemukan punggung bossnya yang sudah familiar sedang asik berbincang dengan orang sebelahnya yang Taeyong asumsikan orang itu adalah salah satu rekan kerja si boss besar. Taeyong melangkah mendekat dan langsung menunduk ketika si boss menyambut kedatangannya.
“Selamat malam semua, maaf saya sedikit terlambat. Perkenalkan, saya sekretaris Tuan Seo Johnny, Lee Taeyong.”
Nafas Taeyong tertahan sesaat ketika mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan orang yang duduk di samping Johnny. Mampus.
“Taeyong, kenalkan ini Jeong Jaehyun, CEO dari Jung Corporation utama di Korea. Yang di Jepang ini hanya anak cabang perusahaan beliau, saat rapat tadi yang mewakili adalah sekretarisnya jadi kamu belum bertemu dengan beliau.”
Tangan Taeyong pucat pasi dan bergetar ketika bersalaman dengan Jaehyun, ditambah lagi elusan singkat yang ia dapat pada punggung tangannya. Taeyong juga meneguk ludah lebih banyak ketika seringai kecil disudut bibir Jaehyun diberikan untuknya.
“Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Mari kita mulai makan malamnya, Taeyong duduk di sebelah Jaehyun, ya? Cuma disitu bangku yang kosong.”
Taeyong tentu saja menurut atas perintah si boss besar. Keningnya semakin berkeringat ketika parfum mahal milik Jaehyun terhirup indra penciumannya dan otak Taeyong semakin jelas memutar adegan – adegan kotor yang terjadi di kolam sauna tadi.
Taeyong mendongakkan kepalanya yang menunduk ketika pahanya diremas lembut oleh tangan kiri orang disebelahnya. Bulu kuduknya meremang ketika ucapan bisik – bisik tertangkap gendang telinganya.
“Hallo, Lee Taeyong. Jangan tidur dulu ya malam ini, aku akan dengan senang hati mampir ke kamarmu, Sayang.”
Kepala belakang Taeyong semakin berat, berat karena nafsunya dengan kurang ajar bangkit begitu saja. Suara serak basah dan tangan kokoh yang tidak berhenti mengelus paha dalamnya dibawah meja.
“Aaww.”
“Kenapa Taeyong?” Tanya Johnny.
“Emm tidak apa – apa, Tuan Jo. Kaki saya tidak sengaja terantuk kaki meja.”
Johnny hanya mengangguk dan kembali fokus pada makanan dan rekannya yang lain, Taeyong melayangkan tatapan sengit kepada Jaehyun yang hanya tersenyum seolah – olah tangannya tidak meremas penis Taeyong baru saja.
Tangan kanan Taeyong turun ke bawah meja, ia perlahan menurunkan resleting celana bahan Jaehyun dan mengelus penis besar yang mulai mengeras.
Rasakan, memangnya Taeyong hanya akan diam saja?
Penis Jaehyun dikeluarkan melalui resleting yang terbuka dan Taeyong mengurutnya naik turun secara perlahan. Untungnya perbuatan mereka tertutupi alas meja.
Cengkraman pada paha Taeyong semakin kencang seiring dengan cepatnya kocokan tangan Taeyong pada penis Jaehyun. Wajah putih milik Jaehyun bahkan sudah berubah menjadi merah merona hingga telinga.
“Jaehyun! Kita bahkan belum minum wine tapi mukamu sudah seperti orang mabuk hahaha.”
Jaehyun hanya dapat tersenyum kearah rekan – rekannya yang tertawa dan mengangkat gelas wine masing – masing untuk bersulang.
Tatapan Jaehyun jatuh kepada Taeyong yang tangannya masih betah mengocok penisnya tanpa peduli jika Jaehyun harus ikut bersulang.
Jaehyun menahan desahnya ketika lubang penisnya yang basah precum dielus nakal oleh ibu jari Taeyong. Tangan Taeyong dengan cekatan memperbaiki posisi penis Jaehyun agar dapat masuk kembali ke dalam celana.
Tangan Taeyong terangkat menuju bibir, ibu jari yang digunakan mengusap precum Jaehyun tadi dijilat dengan sensual dihadapan Jaehyun yang mukanya semakin memerah.
“Mmhh rasa daging steaknya nikmati sekali, Tuan Jung.”
Peduli jabatan, Taeyong sudah terlanjur sange.
---
“Enak, Sayang?”
Taeyong berkali – kali tersedak air liurnya karena gerakan brutal Jaehyun yang menggempur lubang analnya dari belakang.Taeyong semakin mengeratkan pegangannya pada pembatas balkon dan mendesah sekencang – kencangnya akibat prostatnya terus ditumbuk dengan kencang dan cepat.
Plak!
“Kalau ditanya, dijawab, Sayang.”
“E-enak! Aaaah g-gimana aku bisa jawab, sih? Kontol kamu gak b-berhenti nyodok lubang aku! Ngghh!”
“Kotor banget mulutnya, sini aku cium.”
Taeyong miringkan kepalanya dan menarik kepala Jaehyun untuk mengajaknya berciuman. Dua belah basah itu makin melumat dalam seiring dengan tumbukan yang dberikan Jaehyun.
Ciuman mereka terlepas, Jaehyun meraih dua tangan Taeyong dan ditarik kebelakang dan digenggam menjadi satu. Gerakan pinggulnya semakin kencang, ia mengendarai Taeyong bak kuda pacuan.
“Duuhh, Jaehyuuun!! Kontol kamu enak banget ngentotin akunya~ hhhhh dalem lagii, aahhh enaakk~~”
Kata – kata kotor dan kasar dari bibir Taeyong semakin meningkatkan gairah Jaehyun untuk memacu lebih cepat penisnya pada lubang Taeyong yang menjepit legit.
“Sayaang, aah, mau keluar, mau keluar di dalam atau di luar hmm? Fuck! Sialan, jangan diketatkan aahh.”
“Didalam, Jae. Didalam ahhhh kasih aku sperma kamu uuhhh, hamilin aku, please, please hamilin aku, hiks! Aaaaahhhhhh.”
Jaehyun hentakan semakin kuat pinggulnya, ia menanamkan dengan dalam penis beruratnya dan menyemburkan banyak cairan sperma dalam rektum Taeyong yang masih menghisapnya secara bertempo.
Kaki Taeyong bergetar hebat, orgasmenya keluar dan mengotori dinding balkon, raganya mungkin akan merosot ke bawah jika tangan Jaehyun tidak memeluknya dari belakang.
“Aaaah, Sayang. Kamu hebat banget. Aku suka banget. Aku kecanduan main sama kamu, aahh.”
Bibir Jaehyun mengecupi leher belakang Taeyong untuk menyalurkan rasa terimakasihnya. Ini adalah seks Jaehyun yang paling luar biasa.
“Jaehyun, jangan bilang Tuan Johnny, ya? Aku takut dipecat. Aaaahh jangan digerakin lagi, istirahat dulu~ please.”
“Jadi sugar baby aku aja, kamu gak bakalan dipecat. Setelah istirahat, main lagi ya?”
“Aku bukan sugar baby! Aaaah iyaahh nanti main lagi, tapi berhenti dulu geraknya, capek, pleasee~”
Jaehyun menarik tubuh Taeyong untuk duduk di kursi santai yang terdapat di balkon, kakinya ia atur berada diantara kaki Taeyong sehingga Taeyong kini mengangkang lebar di pangkuan Jaehyun. Udara malam itu tidak terasa dingin pada raga telanjang mereka yang bergairah.
“Jadi suamiku saja kalau begitu, Sayang.”
Belum juga Taeyong mencerna ucapan Jaehyun, pantatnya agak dinaikkan dan Jaehyun kembali menggembur lubang Taeyong tanpa jeda. Taeyong benar- benar pasrah hingga kelopak matanya terpejam, ia mendesah hingga menangis saking banyak nikmat yang tubuhnya terima dari permainan handal Jaehyun.
“Aaaah thankyou, Jaehyun. Berkat kamu aku bisa rasain kontol sebesar ini, uuuuh.”
