Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-03-13
Words:
2,166
Chapters:
1/1
Kudos:
298
Bookmarks:
18
Hits:
35,329

DIANTARA LORONG BUKU - JAEMREN

Summary:

Jaemin mengenal Renjun itu sudah agak lama sejak ia memilih magang jadi librarian di perpustakaan kampusnya.

 

An explicit JaemRen fiction © meiyoursme

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Kak Renjun masih disini?"

Suara berat dan dalam itu mengejutkan Renjun yang masih tenggelam dalam tumpukan buku yang ada di hadapannya.

Mata Renjun mengerjap pelan, menghalau rasa lelah yang terasa, "Eh.. udah jam berapa ini, Na?"

Cowok berambut hitam gondrong itu melirik jam tangannya, "Udah jam 7 malem kak."

Jam 7 malem?
Itu artinya Renjun udah disini lebih dari 4 jam gitu?

"Aduh maaf.." Renjun segera membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja, "Perpus pasti udah mau tutup ya? Maaf banget gue gak inget waktu."

Jaemin tertawa saat mendengar suara Renjun yang seperti tak enak hati karena lupa waktu saking terlalu fokus pada tugasnya sejak tadi siang.

"Santai aja kali kak, perpus tutup jam 8.30 ini. Masih ada sejam setengah lagi."

"Ya.. tapi tetep aja kan Lo harus beres-beres dulu sebelum balik."

Mata Renjun mengedar ke seluruh penjuru hall perpus tempat kursi dan meja berada untuk mahasiswa-mahasiswa bisa leluasa membaca atau belajar disini, kosong. Sudah tidak ada orang kecuali dirinya disini.

Renjun meringis sambil menumpuk buku-buku yang siang tadi diambilnya, ia akan mengembalikannya ke rak kemudian segera pulang.

"Udah kak biarin aja. Nanti biar gue yang beresin."

Jaemin yang melihatnya jadi tak enak tentu saja, maksudnya tadi menyapa Renjun yang sedang fokus bukan untuk mengusirnya. Ia hanya penasaran karena seniornya itu terlihat tak beranjak pergi dari perpustakaan kampus.

"Gak usah Jaemin. Biar gue bantu Lo juga ya.."

Tangan Jaemin jadi ikut merapikan buku-buku yang masih berantakan bekas mahasiswa lain di atas meja yang tak jauh dari Renjun berada.

"Emang tugas apa kak sampe bikin lupa waktu gini?" Ini ungkapan basa-basi tentu saja.

Melihat banyaknya buku sejarah Inggris Raya yang diambil Renjun tentu saja Jaemin tau kalau tugasnya pasti berkaitan soal itu.

"Presentasi soal sejarah Inggris dari Pak Siwon."

"Wah panjang banget itu pastinya."

Kekehan pelan itu tak mampu menutupi raut wajah Renjun yang kelelahan, "Emang, sampai gue bingung mau rangkumnya gimana."

Jaemin mengenal Renjun itu sudah agak lama sejak ia memilih magang jadi librarian di perpustakaan kampusnya. Dirinya yang dari jurusan Sastra Inggris jadi banyak berinteraksi dengan mahasiswa baik senior ataupun junior dan membuatnya dengan cepat punya banyak teman dari berbagai jurusan.

Termasuk Renjun, seniornya dari jurusan Hubungan Internasional.

"Jaemin.."

"Iya kak?"

Buku-buku sudah selesai ditumpuk, siap untuk disusun kembali ke rak-rak sesuai dengan alamatnya masing-masing.

"Lo emang biasa stay di perpus?"

"Kalau lagi gak ada jadwal kuliah sih gue selalu disini kak."

Renjun menganggukkan kepalanya. Mulai mengikuti langkah Jaemin menuju lorong rak buku.

Perpustakaan kampusnya ini bisa dibilang cukup besar dengan ribuan koleksi buku yang tersedia. Dan tentu saja menjadi seorang librarian bukanlah pekerjaan yang mudah, ia harus hapal semua alamat buku disini.

"Keren banget deh Lo." Celetuk Renjun karena merasa bangga pada juniornya ini.

Mereka berdua mulai memasuki lorong rak dan menaruh beberapa buku disana. Lalu melanjutkan langkah mereka ke lorong berikutnya, begitu seterusnya.

"Keren gimana kak?"

Renjun tak bisa melihat ekspresi Jaemin karena cowok itu berdiri di depannya. Ia hanya mengekorinya dengan membawa buku-buku di kedua tangannya.

"Iya keren soalnya Lo bisa hapal semua letak buku-buku ini."

Cowok itu berbalik menghadapnya saat akan mengambil sebagian buku dari Renjun. Ia jadi bisa lihat wajah tampan Jaemin yang selalu jadi gosip di kampusnya.

"Pas awal-awal gitu gue stres sendiri tau kak, tapi gue seneng sih."

Melihat Jaemin yang sedang fokus sambil membolak-balikkan buku di tangannya entah mengapa malah membuat Renjun berdebar. Apalagi dengan penampilan Jaemin yang menggunakan jaket jeans yang menambah visualisasinya hari ini.

Langkah mereka kembali berlanjut menuju lorong-lorong agak dalam. Sesekali percakapan menghiasi kegiatan mengembalikan buku yang mereka lakukan.

Kepribadian Renjun dan juga Jaemin yang sama-sama cepat akrab membuat obrolan keduanya mengalir begitu saja.

"Na!"

Jaemin yang sedang fokus memasukkan buku ke rak tengah segera menoleh ke arah Renjun yang sepertinya kesulitan di rak paling ujung lorong.

"Kenapa kak?"

"Buku ini rak nya tuh diatas, gue gak nyampe."

Sambil tersenyum, Jaemin menghampiri Renjun kesana. Merasa gemas sekali dengan tingkah seniornya ini.

Tangannya mengambil tangga lipat yang terselip di antara rak dan dinding dan menatanya tepat di depan Renjun.

"Lo bisa naik ini kak, nanti gue pegangin."

Kaki Renjun mulai melangkah menaiki tangga lipat itu. Dengan segera mulai memasukkan beberapa buku yang sedari tadi dipegangnya. Sementara Jaemin berdiri di belakangnya sambil menahan pijakannya.

"Kak Ren.."

Selesai.
Semua buku sudah masuk sesuai alamatnya masing-masing.

Renjun berbalik menghadap Jaemin dibawahnya. Namun yang di dapatinya adalah Jaemin yang menatap pinggangnya yang mengintip dari balik kaos pendek dan outernya.

"Kenapa Na?"

Suasana di sekitar mereka mendadak terasa aneh dan berat.

"Pernah gak.." Kepala Jaemin tiba-tiba balas menghadapnya, "Lo kepikiran buat doing nasty things di perpus?"

"Hah? Apa?"

Mata Jaemin kini menatapnya dengan senyum tambah yang mengembang, namun Renjun seperti melihat kabut disana.

Jaemin berjalan mendekat kearahnya, kedua tangannya kini berada di kedua sisi pinggang Renjun yang masih mengintip.

Cup!

Mata Renjun melebar saat melihat bibir Jaemin memberi kecupan pada kulit pinggangnya yang telanjang.

"Jaemin.."

Suaranya terdengar pelan, tubuhnya mendadak kaku sementara cowok itu masih memberikan kecupan-kecupan di pinggangnya yang kini ditahan.

"Kak.. Gue udah lama merhatiin Lo."

Renjun terdiam, bingung dengan apa yang harus dia katakan.

"Gue selalu nungguin waktu yang pas buat ngajak ngobrol Lo berdua aja."

Tangannya meremat rambut hitam Jaemin dengan pelan saat merasakan hisapan di kulit pinggangnya. Matanya menutup. "Sshh.."

"Lo juga alasan gue buat gabung jadi librarian, karena gue tau Lo suka banget dateng kesini."

"Jaemin.." Remasan tangannya makin kencang saat bibir di pinggangnya memberikan gigitan kecil disana.

"Kak.." Jaemin mengembalikan kesadarannya, membuatnya menatap wajah Jaemin yang lucu dan memelas, seperti anak kecil.

Mana ada anak kecil melakukan hal ini?

"Hmm?"

"Boleh gak gue lakuin hal lebih sama Lo?"

Oh?

Apa Jaemin sedang meminta izin padanya?

Renjun berdehem, "Lakuin apa?"

"I wanna touch you so bad."

"Disini?"

"Gue udah gak tahan kak. Gue takut Lo lari kalau gak sekarang juga."

Oh dasar buaya!

Renjun sebetulnya bukan orang yang polos soal seks, ia beberapa kali pernah 'doing it' sama pacar atau someone-nya sepanjang masa kuliah. Tapi melakukan hal itu di tempat umum terutama perpustakaan merupakan hal baru untuknya.

Dan saat mengetahui kalau Jaemin sudah memperhatikannya dari lama, entah itu benar atau hanya bualan semata, ternyata cukup membuat rasa senang membuncah didadanya.

Siapa sih yang gak melting saat dikasih kalimat seperti itu sama seorang Na Jaemin?
Salah satu cowok most wanted di kampusnya.

Tangan Renjun membelai wajah Jaemin yang halus, "Tapi gimana kalau ada orang yang liat, Na?"

"Gak akan kak, gue jamin. Orang-orang udah males dateng ke perpus jam segini."

Oh apa mereka ini sedang bernegosiasi?

"Kita quickie aja, ya kak? Nanti lanjut lebih proper di apart gue."

Renjun tertawa mendengarnya.
Se-desperate itukah Jaemin ingin menyetubuhinya?

Tangannya melepaskan semua sentuhan Jaemin ditubuhnya. Lalu memilih duduk di atas pijakan tangga lipat paling tinggi disana. Sejajar dengan tinggi cowok itu.

"Should i undress myself here?"

Jaemin menyeringai mendengar lampu hijau dari cowok manis didepannya ini. Dengan segera ia menghampirinya dan merapatkan tubuh keduanya.

"Gak usah kak. I'll prepare you."

Bibir mereka akhirnya bertaut. Saling mencium dengan hasrat yang begitu terasa, lebih tepatnya Jaemin yang menciumnya dengan penuh nafsu.

Jaemin mengarahkan tangan Renjun untuk menuju kedua kancing celana jeans yang dipakainya. Renjun yang paham segera membukanya, dan menurunkan resleting celananya.

Telapak tangannya tak sengaja menyentuh batang keras yang besar dibaliknya. Ciuman mereka Renjun lepaskan dengan paksa.

"Na.. Lo ereksi hanya karena berduaan sama gue?"

"Kak serius gue udah mendam ini dari lama."

Renjun lagi-lagi tertawa mendengarnya. Dengan tergesa tangannya membuka celana Jaemin dan dalamannya untuk membebaskan penis besar yang sudah ereksi itu.

Jaemin itu.. gede banget!

Belum pernah dia ngeliat penis segede ini.

"Gue yakin Lo bakal puas, kak.."

Jaemin dan rasa percaya dirinya haha

Batang keras itu mulai ia goda dengan menaik-turunkan tangannya disana, sesekali jempolnya mengusap lubang penisnya yang terasa panas.

Desahan-desahan halus mulai dikeluarkan Jaemin, begitu menikmati tangan Renjun yang halus memanjakan penisnya.

Kedua tangan Jaemin menghampiri pinggangnya lagi. Maju ke depan tepat ke arah kancing celananya dan dengan secepat kilat kini sudah terbuka.

"Kak turun sini.."

Renjun menurut, pasrah membiarkan Jaemin melakukan apa yang ingin dia lakukan pada tubuhnya ini.

Kakinya menapak lantai dan Jaemin mengarahkannya untuk memunggunginya. Menurunkan celana beserta dalamannya yang sedikit basah sebatas paha.

"Buka kaki Lo ya kak, terus agak nunduk dikit.."

Jaemin memposisikan tubuhnya sesuai apa yang dia mau. Mengambil tempat tepat di belakangnya.

Mata Jaemin melihat vagina Renjun yang sedikit basah. Belum cukup untuk ia masuki dan ini bakal menyakiti si manis ketika penetrasi nanti.

Dengan inisiatif Jaemin menempatkan penisnya di antara kedua paha Renjun yang terbuka, tepat mengenaik tengah lipatan vagina Renjun yang tembam.

"Emh~"

Desahan Renjun tak bisa ditahan ketika merasakan batang berat nan panjang mengganjal diantara kedua kakinya.

Pinggul Jaemin mulai maju-mundur menggesekkan penisnya untuk menggoda vagina Renjun yang hangat. Sesekali ujung penisnya tepat mengenai klitoris yang perlahan membengkak itu.

Jaemin mendekapnya dari belakang sembari terus menggerakkan pinggulnya, "Kak.. ahh~"

Friksi yang tercipta dari perbuatan kotor mereka begitu nikmat. Renjun begitu nikmat seperti bayangannya selama ini.

Jujur saja.. Renjun adalah objek fantasi seksualnya selama ini.
Diam-diam selalu membayangkan bagaimana penisnya yang besar menginvasi lubang kawin Renjun yang kecil.

Tangan Jaemin menyapa lipatan vagina itu. Memberi tambahan godaan untuk Renjun rasakan.

"Jaemh.. eungh.."

"Basah banget kak.."

Vagina Renjun sangat basah sekarang. Efek dari semakin banyaknya cairan vagina yang di produksinya karena terangsang, juga cairan precum Jaemin yang ia keluarkan.

"Kak, gue masuk ya.."

Kepala Renjun mengangguk. Ia pun sudah tidak tahan dan penasaran bagaimana rasanya dimasuki oleh penis besar itu.

Jaemin mulai mengarahkan penisnya untuk memasuki lubang kawin Renjun. Ujungnya mulai merasakan remasan halus dari cincin sekelilingnya.

Akhirnya!
Jaemin akan menyetubuhi kakak tingkatnya yang menggoda ini.

"Angh.. Jaemin~"

Penis itu mulai mendorong masuk ke dalam tubuhnya. Nafas putus-putus mulai memenuhi udara di sekeliling mereka.

"Kak.. aduh sempit banget!"

"Ahh.. Mmh.."

Jaemin tak tahan.
Begitu penisnya sudah masuk sempurna memenuhi Renjun, tak menunggu ia langsung menggenjotnya dengan maksimal.

Memberikan hentakan keras dan dalam, memaksa Renjun untuk menerimanya tanpa ampun.

Tepukan keras Jaemin berikan pada pantat yang bergerak mengikuti hentakannya itu.

"Ah!"

"Lo enak banget kak.."

Sementara Renjun hanya bisa mendesah kenikmatan karena hentakan Jaemin yang keras.

Jaemin semakin memojokkan tubuh ramping itu pada lorong buku. Memperdalam gerakannya untuk semakin memasuki bagian tubuh Renjun.

"Eungh.. sshh.."

Beberapa buku terjatuh dari rak karena gerakan mereka yang cukup heboh. Namun keduanya tak pedul. Yang mereka pedulikan hanya kepuasan yang harus dinikmati saat ini juga.

Hentakan pinggul Jaemin terasa semakin kencang. Keluar-masuk di lubangnya yang terasa semakin licin karena semakin terangsang.

"Mmph.."

Pijatan di vaginanya terasa semakin kencang karena nikmat. Menggoda Jaemin untuk semakin menggenjotnya dengan keras.

"Hah.. ah!"

"Ren.. ngh~"

Mendengar Jaemin mendesahkan namanya cukup membuat tubuhnya meremang. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengitarinya dan membuatnya geli.

Tangan Renjun meremas tangan Jaemin yang mendekapnya. Menyalurkan hasrat yang terasa menguasai dirinya.

"Mmh.." Kepala Jaemin berada di pundaknya, sengaja mendesah tepat dibawah telinganya.

Genjotannya terasa semakin dalam.

"Ah! Angh~"

Renjun sudah tak tahan. Tak bisa menahannya lagi.

"Kak.. ngh.. Jangan diketatin.."

"Mmh.. ngh.."

"Gue bisa keluar sekarang kalau terus diketatin."

Ciuman-ciuman kecil mampir di pipinya yang sudah basah karena keringat.

"Na-hh.. Gue.. ngh.. udah gak tahan ah!"

Geraman Jaemin yang tertahan terdengar saat vagina Renjun lagi-lagi memijat penisnya dengan kencang. Memberi tanda kalau ia sudah tidak bisa menahan orgasmenya.

"Kak.."

"Iyah ahh?"

"Gue-mmh.. boleh keluar di dalem kan, shh?"

Kepalanya mengangguk. Memperbolehkan Cowok itu untuk keluar di dalamnya.

Renjun tak masalah dengan itu.

Tangan Jaemin semakin mendesaknya untuk semakin merapat pada rak buku. Memberikan hujaman yang kuat dan cepat pada vaginanya yang sudah sangat memerah.

"Ah, Jaem! Angh!!"

Teriakan dan lengkingan Renjun tak Jaemin pedulikan.

Ia hanya mau segera mengeluarkan seluruh spermanya.

Gerakan keluar-masuk penisnya semakin tidak terkendali. Dan Renjun tak bisa lagi menahannya.

"Angh! AH!!"

Ditengah hentakan Jaemin yang menggila, Renjun sampai pada orgasmenya.

Jaemin tak peduli.

Cowok itu terus saja menggenjot pinggulnya untuk mengejar pelepasannya. Membiarkan Renjun dengan tubuh sensitifnya menerima semua paksaan dari persetubuhan ini.

"Ah Jaem.. Oh my!"

Dengusan-dengusan Jaemin semakin kencang terdengar saat rasa pelepasannya semakin dekat.

Giginya yang rapi menghampiri telinga Renjun yang berada tepat di hadapannya untuk mencari pelampiasan.

"Ssh.. Kak!"

"Argh Jaem!!"

Gigitan keras dirasakan telinga Renjun berbarengan dengan hentakan Jaemin yang keras dan dalam. Semprotan panas terasa di dalamnya memenuhi seluruh bagian dalam vaginanya.

Jaemin datang dengan sangat keras di dalamnya.

Hentakan pelan masih dilakukan Jaemin agar spermanya bisa keluar tanpa sisa.

"Gila.."

Gumam Renjun pelan. Kepalanya menoleh ke belakang, melihat Jaemin yang masih 'high' pada pelepasannya.

"Kenapa hmm?"

"Lo beneran ngajak gue doing narty things di perpus."

Jaemin tertawa. Fantasi liarnya selama ini akhirnya tercapai juga.

"Jangan-jangan Lo sering lakuin ini sama orang lain ya?"

Mata Jaemin melotot mendengar tuduhan itu, "Mana ada kak? Gue cuman lakuin ini sama Lo aja!"

Ia tak terima tentu saja..

Renjun tertawa mendengar protesan dari juniornya ini.

"Udah? Yuk beres-beres.."

Jaemin mengangguk kemudian melepaskan penisnya dari vagina Renjun yang sudah basah karena sperma dan cairannya sendiri. Ia mendesah berat melihatnya, penisnya terasa keras kembali.

Renjun membalikkan tubuhnya dengan senyuman, tangannya menggapai wajah Jaemin dengan lembut.

"Nanti lanjut di apart Lo aja ya sampai puas.."

Senyum Jaemin terbit saat mendengar ucapan dari seniornya ini.

Oh.. Tentu saja ia akan memakan habis Renjun dengan khidmat..

 

© mai

Notes:

Sebenernya sebelum nulis cerita Jaemren yang ini aku udah nulis cerita yg lain gara2 ga sengaja denger lagu Ariana, tapi belum pd buat di posting 😅
Nanti aku post kalo udah pas waktunya yaaa~

 

Btw aku sebetulnya lagi nulis Noren yg On The Way part 2, tapi mood ku hancur gara2 something.. mungkin kalo kalian ada yg follow akun twt ku bakal paham~ kemaren juga sempet rame bgt temen2 pada DM aku.. aku jadi terharu 😭

Oiya.. maaf kalo ada typo yaaa 🙏

Dan kalian juga bisa reach me @meiyoursme (twt) kalo punya ide 🤭