Work Text:
“That’s all for tonight! Now I have to go to prepare for the concert even though I still miss you, Rabbits. See you all very soon! Don’t forget to take care of your health and eat delicious food! Good night!”
Pip!
Seungcheol tetap melambaikan tangannya ke kamera meskipun siarannya sudah dimatikan oleh staff . Pria yang sudah berkepala dua akhir itu bangkit dari duduknya dan membungkuk kepada staff yang telah mengawasinya selama satu jam berbincang dengan Rabbits. Nama penggemarnya.
Layar ponselnya menyala, memunculkan dua notifikasi baru dari manajernya agar dirinya segera pergi ke ruang latihan untuk berlatih koreografi baru yang akan ditampilkannya nanti pada konser solonya.
Jarak antara ruang tempatnya melakukan live dengan ruang latihan bisa dikatakan tidak terlalu jauh, namun rasanya kaki Seungcheol terlalu berat untuk digerakkan supaya dirinya cepat sampai di ruang latihan. Tempat para penari latar dan koreografernya menunggu.
Seungcheol, atau lebih lengkapnya Choi Seungcheol, adalah seorang selebriti papan atas asal Korea Selatan yang telah mengukir namanya selama bertahun-tahun berkarya dan memiliki ratusan ribu penggemar yang tersebar di seluruh belahan dunia. Seperti janji yang dia ikrarkan pada fanmeeting pertamanya sepuluh tahun yang lalu, Seungcheol hanya ingin fokus membangun karirnya dan berinteraksi dengan para penggemar sembari tumbuh bersama. Makanan sehari-hari Seungcheol tidak jauh-jauh dari rehearsals, workouts, interviews, recordings, dan yang sekarang sedang berputar-putar di kepalanya, konser tunggal.
Kali pertamanya menginjak benua Amerika Utara adalah dengan menggelar konser di sebuah venue di Los Angeles yang berkapasitas tujuh belas ribu kursi. Seungcheol ingat dia tidak bisa berhenti terkekeh waktu menghadiri rapat bersama petinggi agensi perihal negara dan kota yang akan dikunjunginya tahun ini.
Bukan ratusan, melainkan belasan ribu kursi yang mungkin nantinya akan terisi oleh para penggemar yang selama ini hanya berkesempatan berinteraksi dengannya lewat fancall . Bukankah agensi terlalu berlebihan? Kenapa mereka memilih venue yang besar sebagai konser perdananya di Amerika Utara? Bukankah akan menyakitkan jika tidak banyak penggemar yang hadir?
Berlimpah rasa tidak percaya tertanam di dalam benak Seungcheol bahwa karirnya sekarang sudah sebesar ini . Langkah yang dia ambil, keputusan-keputusan yang kadang dia ragukan, keringat yang dia seka, malam yang dia relakan tanpa terlelap, semuanya terbayarkan.
Tidak tidur semalam bukan masalah yang besar bagi Seungcheol. Dia sudah terbiasa, dari zaman masih menjadi seorang trainee , begadang adalah kata yang selalu disandingkan dengan malam hari. Namun, kasusnya sekarang bukan karena banyak latihan yang harus dia lakukan seperti dulu, melainkan rasa berdebar-debar tidak karuan yang memenuhi dadanya.
Bagaimana tidak, tiket konsernya di The Kia Forum, Los Angeles, ludes dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Coups selamat ya!
Congrats, Coups!
Fantastic! Kerja keras kamu terbayar ya Cheol!
Seminggu penuh cuma frasa pujian yang didengar Seungcheol. Bahkan staff yang sudah mengenalnya sejak lama mengusulkan Seungcheol untuk membuat pesta selebrasi setelah konser di Los Angeles. It’s a little bit too much, he thought.
“Coups, saya ingin mengusulkan bagaimana jika saat konser nanti kamu menggoda fans dengan menyalakan instrumen lagu terbarumu? Menarik bukan?”
“Untuk apa?”
Seungcheol menelan tegukan besar air mineral lalu membuang dengan satu tangan botol yang sudah kosong ke tempat sampah. Dia melangkah mendekati sang manajer, meminta penjelasan lebih lanjut mengenai ‘sebuah usul’ yang terlalu tiba-tiba.
“Penggemarmu pasti sudah sangat menantikan kamu merilis lagu baru. Saya sih tidak memaksa kamu harus rutin comeback atau membuat konten seperti song cover di youtube, tapi sesekali melakukan spoiler tidak apa, bukan?”
“Nanti saya pikirkan.”
“Sekarang saja memangnya tidak bisa?”
“Saya capek mikir hari ini.” Datar dan suram.
Dua kata itulah yang sanggup mendeskripsikan bagaimana tegangnya ruang latihan dan panasnya tensi di antara dua orang yang tadi sedang berbincang.
Seungcheol akui mood -nya memang sedang tidak bagus. Rasa lelahnya hari itu belum terbayarkan meski sudah bercengkrama dengan Rabbits dan kini dia harus mengambil keputusan konyol yang dilontarkan manajernya.
“Agensi yang menyuruh, Coups."
“Saya tahu,” ucap pria itu dengan kekehan yang dipaksakan, berharap mengurangi kesuraman ruang latihan meski kenyataannya tingkahnya barusan hanya menambah lama bulu kuduk para dancer -nya. “Tapi saya selalu punya opsi untuk menolak. Don’t forget that. ”
“Senang ya sudah bisa menyisipkan beberapa kata dalam bahasa Inggris saat bicara,” sindir sang manajer. Seungcheol terlalu bodo amat untuk menanggapi lebih lanjut.
“S.coups lihat ke sini!”
“S.coups buat hati dong!”
“S.coups!”
Seungcheol cuma mengangguk dan melambaikan tangannya beberapa kali. Mau tersenyum pun rasanya sia-sia karena area hidung dan mulutnya tertutup masker sementara matanya mengenakan kacamata hitam.
Bandara Incheon telah padat oleh wartawan dan penggemar yang menunggu kehadirannya meski hari masih gelap, belum muncul tanda-tanda terbitnya matahari. Dia sedikit jengkel sebenarnya. Sengaja dia meminta manajernya untuk melakukan penerbangan sepagi mungkin untuk menghindari kerumunan di bandara, namun realitanya tetap saja orang-orang berkumpul demi dirinya dan menimbulkan kebisingan.
“Coups apakah benar kau akan melakukan comeback dalam waktu dekat?”
“Bagaimana perasaanmu saat melihat berita tiket konser pertamamu di Amerika habis terjual?”
“Coups apakah benar kau akan menunda wamil?”
Fuck.
Seungcheol can’t take it anymore.
“It’s not your business. Please excuse me.”
Perjalanan di atas awan selama sebelas jam lebih ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan baginya. Seungcheol tetap terbangun dari tidur lelapnya dengan badan yang lemas, tidak bersemangat meskipun para kru yang akan mendampinginya selama di kota asing itu tampak sumringah.
Mungkin karena selama beberapa minggu ini jadwalnya sangat padat dan tidak memungkinkannya untuk istirahat dalam waktu yang panjang, rasa lelah Seungcheol tidak dapat dihilangkan dengan mudah.
Satu-satunya harapan Seungcheol mendapatkan rasa semangat adalah dengan bertemu Rabbits. Semoga ya, konsernya akan berjalan lancar .
Sayangnya, doanya tidak terkabulkan.
Bangsat.
Sialan.
Orang-orang memang brengsek.
Sebentar sebentar, memang boleh sebagai seorang idol yang dijadikan role model oleh banyak orang mengucapkan sumpah serapah?
Seungcheol tidak bisa berhenti menautkan alis tebalnya itu dan menetralkan napasnya karena pada detik ini, amarahnya tengah menguasai dirinya.
Selepasnya dia turun dari panggung dan diberikan perlakuan berupa penyekaan keringat dan diangin-anginkan dengan portable fan oleh staff , Seungcheol secara tidak sabaran menggedor ruang tunggu manajernya. Dia ingin meminta penjelasan mengenai unreleased song yang tiba-tiba (entah itu sengaja atau tidak) diputar saat dirinya sedang memberi ment .
Seungcheol memang juara satu jika mengikuti kompetisi siapa orang yang tidak bisa mengontrol raut wajahnya karena saat kejadian tidak menyenangkan itu terjadi dan membuatnya kaget setengah mati, Seungcheol tidak bisa melanjutkan konsernya seperti di awal.
“Ada apa ini?”
Kepalan Seungcheol ditahan mati-matian meski sudah memutih. Seungcheol tidak bisa dengan mudah menonjok pria di hadapannya yang kini menunjukkan wajah tidak bersalah.
“Anda tahu kan saya gak pernah bilang setuju untuk melakukan spoiler? ”
Manajernya mengangguk. Seungcheol makin jengkel.
“Lalu kenapa saat segmen ment lagu itu diputar?!”
“Kesalahan kecil, Coups. Lagian kan penggemarmu menyukainya.”
“Saya gak peduli Rabbits suka atau tidak, poin saya adalah kalian tidak meminta persetujuan saya!”
“Ini kesalahan kecil, Coups!”
“Kesalahan siapa hah?! Seluruh staff audio yang saya setujui untuk ikut tur adalah staff senior! Mustahil kalau mereka melakukan kesalahan! Apalagi kesalahan fatal macam ini!”
Seungcheol hampir meraih kerah manajernya saking kesalnya dia. Bisa-bisanya berkata bahwa ini adalah kesalahan kecil?
“Saya sudah bilang itu cuma kekhilafan staff! Kamu mau marah sama mereka? Silahkan! Tapi jangan lupa kalau setiap gerak-gerikmu dipantau oleh semua orang.”
Bajingan ini selalu mengeluarkan kartu AS supaya Seungcheol tidak bisa memberontak .
“Itu bukan kesalahan staff . Saya yakin pihak agensi yang menyuruh mereka. Ck, awalnya sok mengusulkan dan meminta pendapat, ujung-ujungnya selalu melakukan hal tanpa persetujuan saya selaku pemilik lagu,” Seungcheol berdecih. “Kalian pasti gak kepikiran kan, bagaimana perasaan fans saya di negara lain? Yang di Korea? Yang tidak kebagian tiket? Gak heran, soalnya kalian cuma mikirin kepuasan diri sendiri. Orang-orang tamak.”
Seungcheol pergi begitu saja tanpa memperdulikan wajah sang manajer yang memerah sebal akibat sindirannya.
Ingin rasanya pria yang sekarang sedang luntang lantung tidak tahu arah mau kemana melempar ponselnya ke laut.
Lelah, Seungcheol terlampau lelah untuk melihat fotonya mejeng di headline semua portal berita. Dia tidak sanggup jika harus membaca komentar buruk karena sudah “pilih kasih” kepada penggemarnya.
Seungcheol terus melangkahkan kaki entah kemana, sampai akhirnya dia memutuskan berhenti dan mendorong pintu kaca sebuah kafe yang menyita atensinya. Ketika masuk, telinganya langsung disambut oleh suara tepukan tangan yang meriah.
Langkah kedua, petikan gitar bergema menyelimuti seisi kafe.
Langkah ketiga, matanya bertemu dengan sosok yang seukuran kelingkingnya. Kecil, karena jarak mereka yang terlalu besar hingga Seungcheol hanya bisa melihatnya samar-samar.
Bibir yang sejajar dengan mikrofon di depannya mulai bergerak, mengucapkan kata demi kata diiringi melodi gitar yang mampu membangkitkan kembali gemuruh tepuk tangan.
That may be all I need
In darkness she is all I see
Seperti terhipnotis, Seungcheol tidak mampu bergerak. Tubuhnya kaku dan dia tidak mengindahkan orang-orang yang sedang berlalu lalang menabraknya. Mencari spot yang bagus untuk menikmati live music dari seseorang yang kini mendapat atensi penuh dari seorang S.coups.
So… is it what Rabbits feel like whenever they see him in real life? Got starstruck?
Seungcheol bahkan tidak ikut bersenang-senang, sing along or whatever, pria itu hanya berdiri tegak di tempatnya dengan jantung yang berdegup kencang.
Sampai sosok itu menyelesaikan lagunya, Seungcheol masih di sana. Menyaksikan bagaimana si penyanyi berinteraksi dengan pengunjung kafe yang dari awal setia berdiri dan bertepuk untuknya. Seungcheol merasa malu. Harusnya dia pandai melakukan hal tersebut juga kan? Sudah sepuluh tahun dia mengamati Rabbits yang selalu bersorak untuknya, tapi kenapa untuk memberi energi yang sama pada seseorang yang suaranya dia kagumi terasa susah?
Bak pengecut, Seungcheol berbalik badan dan meninggalkan kafe tersebut. Tanpa adanya keberanian untuk berkenalan dengan sang bintang kafe.
Seungcheol hampir tidak diberi izin keluar oleh manajernya akibat perlakuan “tidak sopannya” di malam sebelumnya. Dia bahkan rela menggiring opini penggemarnya agar manajernya itu membiarkannya menghabiskan waktu sendiri sebelum kembali ke tanah kelahiran mereka.
Seungcheol sudah siap dengan penyamarannya. Masker serta kacamata hitam yang tidak memudahkan seseorang mengenalinya di jalan berhasil menutupi hampir keseluruhan wajahnya. Dia melangkah dengan tempo yang cepat supaya bisa segera sampai di kafe yang kemarin dia datangi.
Hampir dia meraih gagang pintu, hendak dia dorong ke dalam, sebuah tangan yang ukurannya lebih kecil darinya datang menginterupsi.
“O-oh! Sorry! You can go first.” Dia meragakan tubuhnya untuk mempersilahkan Seungcheol masuk terlebih dahulu. Senyum manis yang terpatri di sana membuat Seungcheol termenung sesaat.
Itu si penyanyi yang dilihatnya kemarin .
“ Excuse me… ”
Terlalu lama melamun mengakibatkan Seungcheol kehilangan kesempatannya untuk berinteraksi dengan seseorang yang telah membuatnya terjaga semalaman.
Seungcheol baru masuk ke dalam kafe setelah si pria dengan senyum manis menghilang di tengah kerumunan, mengharuskan dia (lagi-lagi) bersabar karena untuk menyapanya selayaknya orang normal pun sulit sekali rasanya .
Kafe tidak seramai kemarin. Mungkin, efek malam weekdays jadi tidak banyak orang yang datang. Pertunjukan live music masih berlangsung. Penyanyi wanita yang baru saja menyelesaikan lagunya dan pamit dari panggung sudah mengemas alat musiknya dan pria yang tadi berpapasan dengan Seungcheol menaklukkan panggung.
“Good evening everyone!”
Seungcheol suka dengan cara pria itu berinteraksi dengan para pengunjung meski tidak semua dari mereka yang memberi atensi. Namun, Seungcheol patut acungi jempol untuk kefasihan public speaking -nya.
Sebuah meja yang jaraknya tidak jauh dari tempat sang penyanyi berdiri dengan strap gitar di pundaknya kosong, dan tanpa berpikir panjang Seungcheol langsung menggunakan kesempatan itu untuk duduk di sana.
Ketika senar gitar bergetar, menghasilkan bunyi pertama sebagai pembuka dari penampilan pria idamannya, Seungcheol tidak mengedip untuk waktu yang lama.
He feels himself trapped in folklore.
Penampilan live music di malam itu resmi berakhir setelah tiga lagu selesai dinyanyikan. Merasa tidak ada lagi yang bisa dia saksikan atau nikmati–karena satu-satunya tujuannya kesini adalah untuk bertemu dengan si penyanyi kafe–Seungcheol melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
What a fucking surprise, setelah dirinya masuk, ternyata ada seseorang yang sedang mengeringkan tangan, dan lebih hebatnya lagi itu adalah si penyanyi kafe.
“H-hello?”
Sosok itu menolehkan kepalanya, memasang senyum di wajahnya dan menampilkan lesung pipi yang menjadi objek yang paling lama dilihat Seungcheol selama dia menguasai panggung.
So beautiful.
“Hey! What’s up?”
Mulut Seungcheol seolah kaku. Dia bahkan lupa ingin mengatakan apa setelah penyanyi kafe itu menyapanya balik.
“May I have your name?”
“Joshua. Joshua Hong.” Senyumnya semakin lebar. “And what’s yours—wait! You look familiar,” tatapannya berubah menjadi tampak sedang mencari sesuatu. “Are you from here?”
“No, I’m from South Korea. Choi Seungcheol.”
“Oh kamu artis yang kemarin konser di sini kan?” Seungcheol mengangguk kecil. “Pantas wajah kamu gak asing di saya.”
“You can speak Korean, too?”
“Saya lahir dan asli Korea, tapi sejak junior high school mutusin pindah ke sini. Masih lancar karena ibu saya selalu ngajak saya ngomong pakai bahasa Korea.”
“Oohh wow…”
“Gak usah tegang gitu pak sama saya.” Joshua tanpa aba-aba menepuk pundak tegang Seungcheol. “Kita kayaknya seumuran tau.”
“Tapi kamu keliatan jauh lebih muda dari saya.”
“Muka saya berarti awet muda,” candanya. “Kesini sendiri? Tanpa bodyguard atau manajer?”
“Iya.”
“Pemberani ya.” Puji Joshua.
“Saya udah kesini kemarin, liat kamu nyanyi.”
“Oh? Terus kesini lagi demi liat saya nyanyi? Kidding .”
“Iya.”
“Loh, padahal saya bercanda, ternyata beneran.” Pria yang lebih pendek dari Seungcheol itu tergelak. “Kebetulan kerjaan saya udah selesai, mau coba jalan-jalan? Tenang aja, saya bukan orang jahat.”
Bingo .
“Boleh?”
“Ya kenapa enggak? Anggep aja saya tour guide, bedanya yang ini gak dipungut biaya.”
Seungcheol melukis senyumnya.
Belum genap sepuluh menit saling tahu nama masing-masing, tetapi Seungcheol merasa sudah mengenal Joshua lebih lama dari orang-orang di agensinya.
Parkiran di mana Joshua meninggalkan mobilnya itu lumayan jauh, mengharuskan mereka berjalan beberapa menit sebelum akhirnya Joshua mempersilahkan Seungcheol masuk terlebih dahulu.
“Kalau masih belum percaya sama saya, jendelanya dibuka aja biar kalau saya apa-apain bisa langsung teriak.”
Seungcheol menanggapinya dengan kekehan pelan.
Joshua menjanjikan Seungcheol untuk membawanya ke pantai yang lumayan dekat dari tempat mereka sekarang. Seungcheol setuju saja, toh dia tidak punya tujuan lain selain menemui Joshua.
Pasir putih yang terbentang luas menjadi objek pertama yang memanjakan mata Seungcheol. Joshua mengajaknya berjalan tanpa alas kaki supaya Seungcheol bisa merasakan langsung kelembutan pasir pantai di California.
Hamparan pasir dibuat sebagai alas mereka duduk. Joshua pandai mencari spot supaya mereka bisa menikmati pemandangan yang menarik selagi mereka bercakap.
Menit demi menit bergulir tidak terasa lama maupun membosankan. Keduanya sama-sama pandai membuat topik dan mengembangkannya hingga mengalir dengan natural.
“ Okay, truth or truth, what do you really want to do right now? ”
“Hmmmm. Apa ya?” Seungcheol tampak berpikir. Joshua setia menunggu jawabannya. “ To kiss you? ”
“ Go ahead then. ”
What a silly answer . Seungcheol menggigit bibir bawahnya menyaksikan kepala Joshua yang bergerak mendekat ke arahnya. Seolah sedang menantang Seungcheol yang sekarang malah membeku.
“ Okay, bonus questio— ”
“Bentar, bentar, apa-apaan? Emang ada di rules truth or truth boleh ngasih pertanyaan tambahan?”
“Ada. Saya yang buat rules -nya. It’s a follow up question. ”
“ Dummy, you’re just making that shit up. ”
Keduanya beriringan melepaskan gelak, berkompetisi dengan suara debur ombak Playa Del Rey yang ternyata harmonis bila dipadukan. Baik Seungcheol maupun Joshua sejenak melupakan agenda bermain mereka malam itu, hanya sibuk tertawa sampai pipi pria yang lebih tua sakit karena terus-terusan terangkat.
“Jadi, apa pertanyaannya?”
Kepala Joshua ditolehkan ke samping, kemudian menatap lurus bola mata Seungcheol yang mungkin jika ditelusuri lebih dalam, akan banyak kerlipan yang redup dan menyala di sana saking terkesimanya dia dengan paras Joshua detik ini.
Selain punya vokal yang indah, Joshua juga memiliki mata yang tidak kalah indah bentuknya. Besar, bulat, serta pupilnya legam seperti kelereng hitam. Ketika tertawa, matanya terpejam dan ujungnya melengkung ke atas, menambah kesan manis dan lucu karena dua gigi depannya agak menyembul di antara sederetan gigi atasnya.
“ Are you sure you want to hear it? ”
“Haha emang kenapa? Pertanyaan offensive? Like, was that my first kiss or something related to it? ”
“ No… it’s just… kamu serius mau denger? Saya gak mau bikin kamu nyesel soalnya.”
“Kalo gitu, harusnya kamu gak usah tes ombak ke saya,” balas Seungcheol dengan nada seakan-akan dia tengah melayangkan sindiran.
“ Fine. ” Pria yang menarik perhatian Seungcheol selama dua hari ini mengangkat kedua tangannya, tanda enggan melanjutkan perseturuan kecil mereka. “ Can I have more? ”
“Apa?”
“You.”
Seungcheol mengerjapkan matanya dua kali. “Maksudnya?”
“Kamu terlalu tua buat nggak paham sama apa yang saya bilang barusan.”
Rasanya Seungcheol ingin meraih ponselnya dan menelepon tukang urut langganan manajernya untuk menghilangkan rasa pusing setelah kurang lebih dua jam mengenal Joshua.
Tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa Joshua akan menjadi seseorang yang menaikkan atmosfer di antara mereka.
“Boleh gak, saya ambil satu malam kamu di Los Angeles untuk dihabiskan berdua sama saya?”
Dan siapalah Seungcheol yang berhak menolak?
“Boleh.”
Dua puluh menit terasa dua jam lamanya untuk sampai ke tujuan. Seungcheol tidak bisa berhenti mendesis, tidak saat tangan Joshua dengan jari-jarinya yang lihai meremas penis Seungcheol yang masih terbungkus celana.
Bak seorang bajingan, Joshua memelankan laju mobilnya ketika mata mereka menangkap objek di depan sana berupa gedung tinggi menjulang dengan ratusan jendela yang bercahaya. Kepala Seungcheol sudah tidak bisa berpikir secara rasional. Dampak yang diberikan oleh pijatan nikmat Joshua membuatnya sulit untuk berhenti membayangkan penisnya berada di dalam mulut pria yang sedang menyetir dengan satu tangan.
Ketika Joshua selesai memarkirkan mobil, tanpa ada titah, Seungcheol meraup rakus bibir Joshua. Menghisap dan menjilat kedua bilah tersebut, menerobos masuk demi menjilat deretan gigi Joshua dan mengadukan benda tak bertulang miliknya dengan milik Joshua.
Seungcheol merasa belum puas meskipun wajah Joshua sudah berubah merah akibat kurang oksigen. Namun, Seungcheol tampak tidak menaruh iba. Malah, pria yang sudah dikuasai nafsu itu membuka paksa kemeja tipis Joshua yang tidak jarang mengekspos bentuk putingnya yang mencuat di tengah konversasi mereka. Merobek paksa fabrik yang membaluti badan Joshua hingga satu persatu kancingnya jatuh berhamburan.
“Cheol! Kenapa dirobe–”
“Ssshhh… you will like it when I play with your upper body, deer.”
Joshua tidak bisa melayangkan protes. Mulutnya kini penuh dengan dua jari Seungcheol yang kini basah oleh air liurnya. Selagi Seungcheol membuka celananya sampai tidak tersisa bahan untuk menutupi kemaluannya, kepala Joshua ditarik hingga mencium sekitaran selangkangan Seungcheol.
“You want this right? Then, put my cock into your mouth. Do your job.”
Menurut, Joshua mulai menyentuh penis Seungcheol yang sudah dari tadi terbangun. Dielus dan digoda supaya Seungcheol merasa ingin cepat-cepat melakukan yang lebih dari ini. Sentuhan sensual Joshua membuat Seungcheol membawa mulut Joshua ke depan penisnya, menyuruhnya membuka kedua bibir merah mudanya itu dan memasukkan setengah batang kemaluan Seungcheol ke dalam mulutnya.
Joshua mengerang, hampir memundurkan kepalanya lagi karena belum siap menampung penis besar Seungcheol di dalam mulutnya tetapi terpaksa harus dia biarkan di sana karena Seungcheol tidak memberinya izin.
Lidah Joshua mulai bermain. Menjilati seluruh batang kemaluan Seungcheol, menghisap dan mengulumnya sampai benda tidak bertulang itu banjir oleh air liurnya sendiri. Seungcheol meloloskan desahannya, membiarkan seisi mobil ternodai oleh suara kotornya menikmati mulut pria manis yang baru dikenalnya.
Joshua tidak melepaskan kontak mata dengan Seungcheol. Sengaja, biar pria terkenal itu tidak melupakan momen di mana keduanya sama-sama dikejar nafsu dan tidak peduli tempat. Yang Joshua pikirkan saat ini hanyalah bagaimana caranya dia membuat Seungcheol keluar dalam waktu sesingkat mungkin.
“Aahhh fuck Josh!”
“Enak banget mulut kamu…”
Seungcheol reflek mengangkat pinggulnya kala lubang kencingnya yang sudah penuh oleh precum dijilat dan dimainkan oleh lidah Joshua secara berputar-putar. Pria malang yang susah payah menopang berat badannya di atas paha Seungcheol tersedak karena kini ujung penis Seungcheol mengenai pangkal tenggorokannya.
“You look pretty when you cry.”
Jari-jari Seungcheol yang tadinya sibuk meremas surai hitam Joshua dipakai untuk mengelap air mata yang menghiasi pelupuk mata submisifnya.
“Mau berhenti?” Gelengan kepala Joshua membuat Seungcheol tersenyum lalu mengelus pipinya. “Saya harus keluar di mana?”
“Di mulut.”
“Serius, ya?”
“Hm…”
Joshua kembali menyelimuti penis Seungcheol dengan mulutnya. Kembali memanjakan organ tubuh itu dengan lebih intens dan lebih cepat dari sebelumnya. Tubuh Seungcheol tersentak, dadanya membusung ketika merasakan klimaksnya sudah dekat.
“Fuck, fuck, Joshua!”
Batang kemaluannya itu dilahap sempurna oleh pria yang lebih muda beberapa bulan darinya. Saliva pria itu sendiri membuatnya hampir tersedak. Milik Seungcheol memenuhi rongga mulut Joshua, berkuasa di sana berkat ukurannya yang besar. Suara erotis Seungcheol menghantuinya, membuatnya ikut merasa panas dan gatal di bawah sana. Ingin segera dipuaskan seperti dirinya memuaskan sang artis.
Tidak butuh waktu yang lama, Seungcheol menembakkan spermanya di dalam mulut Joshua. Cukup banyak sampai beberapa tetes keluar dari ujung bibir pria itu.
“ Shit I’m sorry… ”
“Am I that good?” tanyanya sambil membenarkan posisi duduk seperti semula.
Sisa sperma di sekitar bibir Joshua dielap oleh empunya menggunakan tisu. Napas yang terdengar menyedihkan itu menggerakkan hati nurani Seungcheol untuk meminta maaf lagi.
“Iya. You’re perfect . Maaf ya tadi kasar, kasihan kamu sampai bengek gini.”
Joshua tertawa geli mendengarnya. “Ya gapapa. Kan enak.”
“Kamu ini suka dikasarin? Atau preferensi seks kamu memang into rough sex? BDSM?”
“Enggak, enggak.”
“Lalu?”
“Saya cari yang penisnya besar. Dan kebetulan aja itu kamu.”
“Excuse me?”
“You heard me, Choi Seungcheol.”
“Iya dengar tapi maksudnya bercanda kan?” Seungcheol mengedipkan matanya dua kali.
“Who doesn’t like big fat cock, Cheol?” yang ditanya mengangkat bahu. “Sekarang kamu mau kemana? Pulang? Udah dua setengah jam loh sejak kita ngobrol dan kamu matiin ponsel kamu. Your manager must be worried.”
“Kamu bilang kamu mau habisin satu malam dengan saya, kan? Kenapa juga saya malah balik dan menghubungi manajer saya sedang di mana?”
“ Who knows? ” Joshua terkekeh. “Kirain kamu nyesel saya sepong.”
“Can we have another round?”
Joshua terlihat sedang menimang-nimang.
“Hmm… boleh… tapi jangan saya yang bayar kamar hotelnya, ya?”
Begitu saja, mobil tua Joshua seketika penuh oleh suara tawa Seungcheol. Begitu saja, kepala Seungcheol terdorong ke belakang saking tergelitiknya dia dengan permintaan Joshua barusan.
“Kok ketawa? Emangnya lucu?”
“Cara kamu bertanya lucu, Josh.” Seungcheol menyeka bulir air matanya. “ Of course saya yang bayar.”
“Makasih… saya udah kepikiran harus potong uang makan untuk seminggu ke depan.”
“Iya jangan ya?”
Tangan Seungcheol bebas mengusap rambut Joshua. Membuahkan degup jantung yang iramanya tidak seperti biasanya. Kok lebih keras ya, batin Joshua.
Dengan atasan yang sudah tidak berbentuk akibat dirobek pria satunya, Joshua mati-matian menutupi bagian dadanya supaya tidak terekspos saat mereka berjalan menuju kamar hotel yang dipesan Seungcheol. Tentu, dengan identitas Joshua tetapi sumber dana berasal dari dompet tebal si artis.
Mereka berciuman seperti orang kesetanan. Seungcheol tidak berhenti mengecup, menghisap, menerobos masuk ke dalam mulut Joshua untuk bermain dengan lidahnya sampai bibir si submisif bengkak. Joshua sendiri menikmati permainan mereka. Mulutnya tidak berhenti berdesah disela-sela ciuman panasnya dengan Seungcheol. Bokongnya yang mendarat di atas paha pria yang lebih tua ikut menambah ketegangan milik Seungcheol yang merespon kelakuan bejat Joshua.
Ciuman Seungcheol lama-lama turun menjelajahi leher serta dada Joshua. Meninggalkan beberapa spot merah di sana meskipun tidak terlalu kentara. Sementara itu, kerjaan Joshua selanjutnya adalah menelanjangi tubuh bawah Seungcheol dan melempar celana training–yang Joshua tahu harganya mahal–ke atas lantai.
Dengan bagian selatan yang sama-sama sudah tidak tertutupi sehelai benang, Seungcheol membuka sebungkus pelumas dan membalurkannya ke dua jarinya.
Sensasi dingin dari cairan yang mengenai permukaan kulitnya membuat Joshua memejamkan mata and Seungcheol found it cute .
“Ah ah S-seungcheol!”
“Josh, are you clean?”
“Of course.”
“Okay.”
Jari-jari Seungcheol senang bermain di sana, membiarkan pemilik lubang merengek karena jemari Seungcheol semakin lama tertanam semakin dalam.
Tidak ingin terlalu lama, Seungcheol memutuskan untuk mengoles sisa pelumas ke penisnya. Joshua yang belum bersiap teriak ketika kepala kemaluan Seungcheol menyentuh mulut analnya.
“ Fuckkk Seungcheol! Ngomong dulu bisa kan?!”
Seungcheol tidak menggubrisnya, malah pria itu tersenyum melihat wajah Joshua yang merah sampai telinga.
“Boleh mulai?”
“Boleh.”
“Saya cium, ya?”
Joshua hanya mengangguk dan mencengkram bahu Seungcheol saat benda kenyal menyentuh putingnya. Seungcheol menciumnya, menjilat, menghisap, menyedot, bak bayi yang minta diberikan susu oleh ibunya.
“Sshhhh S-seungcheol…”
Joshua belum pernah disentuh sedemikian rupa. Baru Seungcheol, satu-satunya teman tidur yang berani meminta round lebih. Biasanya, pria maupun wanita yang berakhir di kasur bersama Joshua hanya melakukan penetrasi sekali setelah itu mereka akan pergi.
Kabar angin berkata, Joshua punya aura yang kuat. Aura yang memabukkan bagi siapapun. Dan Seungcheol, oh pria malang itu sudah jatuh sempurna.
Penis Seungcheol bergerak di dalam Joshua, menumbuk prostatnya berkali-kali dan menambah kecepatan saat dirasa dinding otot lubang yang sedang digempurnya itu mengetat dan meremasnya.
“ Aahhh aaahh! Goddamnit you’re so big!”
Joshua membusungkan dada dan meremas kencang surai hitam Seungcheol yang kini sudah tidak berbentuk. Joshua menelusuri lengan Seungcheol yang sempat membuatnya ingin tahu how does it feel like to touch them . Dia meraba otot bisep Seungcheol yang menonjol serta bahu pria itu yang lebar. He could break me in two if he wants, pikirnya.
“Suka?”
Nada Seungcheol menggoda, and Joshua loved to play along.
“I like everything about you, big guy.”
“ Bukan cuma penis saya?”
“Cheol!” Okay, he didn’t see that coming.
“Saya boleh keluar di dalam?”
“Boleh.”
Seungcheol meraup bibir Joshua, mengecupnya beberapa kali demi meredakan lenguhan Joshua yang tidak terkontrol akibat hentakkan Seungcheol semakin kuat seiring dengan semakin dekatnya dia menjemput putih.
“Hnggghhh S-seungcheol!”
And after a few more trusts, Seungcheol came inside Joshua’s hole and stuffing the younger with his seeds.
Baik Seungcheol maupun Joshua sama-sama tidak ada yang bergerak maupun mengucapkan sepatah kata. Mereka sibuk menangkap oksigen, terbukti dari kedua dada yang telanjang itu naik turun dengan cepat.
“ Hey? Are you okay? ” Seungcheol menyibak poni Joshua yang basah oleh keringat. Pinggang ramping pria yang sedang dipangkunya disentuh dan dibawa mendekat sampai tubuh Joshua jatuh ke atas tubuh Seungcheol.
“Cheol…”
“Tidurnya kayak gini boleh? Atau kamu gak nyaman?”
“ I’m fine with it. Boleh cium sekali?”
Joshua memejamkan matanya kala bibir Seungcheol kembali menyentuh miliknya, menciptakan semburat hangat yang dia rasakan pada sekitaran pipinya sebelum akhirnya dia kehilangan kesadaran dan terlelap.
Mimpi yang mewarnai tidur Joshua malam itu terlalu indah. Berkat pelukan Seungcheol dia terlelap pulas dan tidak sadar saat sinar matahari menembus kaca, menghangatkan kulit pahanya yang tidak terbungkus selimut, tubuhnya sudah berbaring nyaman di atas kasur.
Sendiri .
Tangannya meraba dan tidak menemukan hal lain selain selimut dan bantal di atas kasurnya.
Joshua buru-buru menyibak selimut, mendapati bagian bawah tubuhnya sudah memakai boxer dan terdapat setelan (entah milik siapa) yang menggantung di lemari. Matanya menelusuri secara detail di mana letak ponselnya berada.
Ketika menemui benda persegi panjang tersebut, Joshua dengan sigap meraihnya dan melihat puluhan notifikasi baru yang tertera di layar. Namun, ada satu yang reflek membuatnya mematung.
Transferan uang dari rekening Choi Seungcheol.
Joshua hampir mengumpat, tetapi tubuhnya lebih dahulu gemetar dan jatuh ke atas lantai.
Jadi, dirinya hanya sebatas itu di mata Seungcheol?
“Joshua saya mau meluruskan sesuatu” “Boleh saya minta alamat rumah kamu? Saya gak bermaksud bayar dan ninggalin kamu sendiri, saya tahu saya salah” “Joshua saya datang ke kafe tempat kamu kerja, ya?” “Joshua saya benar-benar salah tapi saya gak punya pilihan”
Joshua tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya karena setiap detik pesan baru muncul dari nomor yang tidak dia kenali. Dirinya tahu betul siapa pemilik nomor tersebut karena cuma ada satu orang yang semalam meminta nomor ponselnya, menghabiskan waktu berdua dengannya, dan berakhir meninggalkannya seorang diri di kamar hotel.
Joshua hampir mematikan alat komunikasinya jika saja tidak ada telepon masuk dan seseorang yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam kafenya yang masih tutup.
“Joshua ayo kita bicara.”
Seungcheol datang tanpa penyamaran sama sekali. Mengagetkan Joshua karena pria itu tidak menutupi wajahnya dengan masker ataupun kacamata hitam.
“Gak ada yang perlu diomongin.”
“Saya perlu jelasin semuanya ke kamu!”
“Loh, buat apa, pak?” Joshua terkekeh. “Kita udah selesai. Kamu udah bayar saya dengan seribu dollar. Saya cuma sebatas pelacur kan bagi kamu?”
“Joshua…”
“Ya saya bisa berharap apa sih sama kamu? A big star, sementara saya bukan siapa-siapa, entah orang keberapa yang terlihat menarik di mata kamu.”
“Saya minta maaf…” Seungcheol berusaha menyentuh Joshua, namun langsung ditepis. “Manajer saya berhasil melacak ponsel saya, mereka memaksa saya untuk menutup mulut kamu dan menyuruh kamu ngelupain semuanya—”
“Don’t worry. I will.”
“Gak boleh.”
Untunglah kafe masih tutup, hanya Joshua sendiri yang sudah datang untuk beres-beres karena hari ini adalah jadwal piketnya.
Joshua membeku saat Seungcheol memeluknya, membawa kepalanya jatuh ke atas pundak lebar pria itu dan mengelus rambutnya.
“Jangan. Jangan lupain saya. You said you are Korean, right? Then, come with me. Ayo tinggal sama saya, Joshua.”
“Saya masih punya orang tua, Seungcheol. Hidup saya ada di sini,” jelas Joshua. “Kita terlalu beda, saya bukan orang yang bisa punya segalanya, saya kerja untuk bertahan hidup, bukan seperti kamu yang gak perlu mikir apakah gaji bulan ini cukup atau enggak untuk pengeluaran sehari-hari. Manajer kamu bener, lupain aja saya, di luar sana banyak yang lebih baik daripada saya.”
Andai Joshua tahu, seberapa besar tekad Seungcheol untuk mengatakan “tapi saya maunya sama kamu”.
Adakalanya terbesit di benak Seungcheol, tentang bagaimana otaknya memutar kembali saat saat dirinya menghirup udara segar Los Angeles. Singkat, namun meski delapan bulan telah berlalu, harapan Seungcheol untuk bertemu kembali dengan seseorang yang hanya butuh waktu satu malam mencuri hatinya dan belum sempat dia kembalikan selalu bertambah besar. Seungcheol tersiksa di belahan Bumi lainnya menunggu kabar dari sang pujaan hati yang memiliki zona waktu berbeda. Namun, hal itu yang selalu membuatnya berdegup lebih kencang dan warna pada hari-harinya terlukis sempurna.
Seungcheol akan selalu menunggu waktu untuk kembali menginjak kaki di tempat di mana mereka bertemu. Begitu pula dengan Joshua, yang selalu menanti sang bintang pulang ke rengkuhannya.
