Work Text:
Jaemin tak menyangka lacur murah yang ia temukan di pinggir pub malam hari akan seenak ini jika dipakai. Hangat, rapat, dan lembab. Tubuh lacur itu begitu sensitif, bahkan satu usapan pada selangkangannya saja dapat membuahkan lengkingan desah yang begitu manis. Suaranya bagus, poin plusnya ia berisik. Jaemin suka orang yang berisik saat bercinta. Belum lagi paras cantiknya yang Jaemin betah untuk tatap lama-lama. Cantik sekali, belum pernah Jaemin puja-puja seorang lacur yang ia pakai.
Jaemin menemukannya di pinggir pub saat ia baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Sengaja ia datang ke pub kecil di pinggir kota. Pub itu cukup ramai karena tak semahal klub malam yang sedang hits di tengah kota. Ini akhir bulan dan Jaemin cukup stess menghadapi pekerjaannya, jadi ia memutuskan datang kesana, sekadar untuk memuaskan nafsunya. Jaemin ini bukan orang kaya atau orang yang memiliki pengaruh penting di perusahaan tempat ia bekerja. Gajinya bahkan bisa dibilang pas-pasan, UMR naik sedikit lah. Jadi ketika ia sedang pusing di akhir bulan seperti ini, Jaemin memilih untuk memanjakan dirinya dengan hiburan yang murah untuk dirinya sendiri.
Bagian depan pub itu tampak terang dengan banyaknya lampu-lampu yang menyorot dan cahaya dari mana-mana. Tapi Jaemin menemukannya di sebelah parkiran, minim cahaya, namun Jaemin masih dapat melihat betapa indahnya entitas yang sedang berdiri disana walaupun remang-remang. Ia berdiri diatas heelsnya dengan kaki yang sebenarnya cukup jenjang itu. Bawahannya terbalut rok pendek berwarna hitam dan tubuhnya dibalut padding tebal yang ia rapatkan dengan kedua tangannya. Tanpa pikir panjang Jaemin menghampirinya dan berkata, “Dingin ya? Diangetin mau nggak?” Eugh. Jaemin mungkin akan malu mengingat gombalan receh ala om-om cabul yang ia lontarkan malam ini di masa depan. Namun serentet kalimat sederhana itu mampu menarik perhatian entitas itu dan menoleh ke arah Jaemin. Awalnya ia menatap dengan sinis. Beberapa waktu ia memandangi Jaemin dengan pandangan yang menyorot, menilai Jaemin dari atas sampai bawah. Jadi Jaemin yang merasa sudah dapat perhatian itu berusaha meyakinkannya dengan rayuan lagi, “Kenapa? Gue bersih kok. Gue bisa jamin.” Namun ia bergeming, tetap memandangi Jaemin dengan sorot mata yang seolah menilai. Jaemin menghela nafasnya, “Nggak kecil juga kok,” bujuknya lagi. Sontak ia tertawa. Jaemin dibuat semakin menginginkannya ketika dengar suara tertawanya yang begitu indah. Matanya melengkung membentuk senyuman ketika ia tertawa. Cantik, cantik, cantik.
Dari awal Jaemin sudah puja-puja di dalam hatinya. Maka saat ia berhasil melucuti semua pakaian yang menempel di tubuh orang yang ternyata bernama Haechan itu —mereka sempat berkenalan sebelum menyewa kamar, kata “Cantik,” itu refleks Jaemin rapalkan tidak hanya dalam hatinya saja, namun keluar dengan lancar dari belah bibirnya. Haechan dibuat tersipu, pipinya memerah sampai ke telinga. Manis sekali. Jaemin belai pipi yang memerah itu. Lembut sekali. Haechan yang sudah super sensitif sejak sesi ciuman panas mereka, berusaha kuat-kuat untuk tahan desahannya. Apa-apaan, baru dibelai pipinya saja masa ia sudah keluarkan desahan?
Belaian itu turun perlahan, menggerayangi lehernya yang masih bersih dan berlabuh ke salah satu dari dua noktah yang ada di dadanya. Haechan refleks membusungkan dadanya. Mendesah kecil, ia gigit ranumnya.
“Nggak usah ditahan, suara lo cantik,” ucap Jaemin. Haechan semakin memerah malu dibuatnya.
“Inget kan nama gue siapa?” tanya Jaemin seraya pilin bulatan yang mulai menegang itu. Sedang Haechan sudah kelimpungan padahal baru saja dipilin putingnya. Mendesah dengan suara ah, ah! yang terdengar manja dan menggoda.
“Hei, jawab dong. Perlu diingetin lagi nama gue siapa?” tanya Jaemin lagi. Satu tangannya yang lain turun ke pinggang ramping milik Haechan dan meremasnya. Haechan semakin menggeliatkan tubuhnya kegelian.
“Hhh- J-jaemin?”
“Good, sekarang nggak usah ditahan desahannya, desahin nama gue, yang kenceng juuga nggak apa-apa, cuma gue yang bisa denger.”
“Hh— yaahhh! Jaeminn!!” dan benar saja, Haechan langsung teriakkan namanya akibat Jaemin dengan tiba-tiba menyeruput puting satunya yang menganggur, tangannya tak berhenti memilin puting sebelah kiri milik Haechan. Lututnya menekan selangkangan Haechan yang terbuka karena pahanya dilebarkan. Fabrik kasar itu menimbulkan sensasi aneh namun enak di kemaluan Haechan.
Suara kecapan dan desah nyaring memenuhi kamar sewaan yang besarnya hanya 3x4 meter itu. Pria yang bernama Jaemin ini sangat tahu bagaimana cara membuat Haechan keenakan. Ujung matanya berair, baru dimainkan putingnya ia sudah ingin menangis saking enaknya. Ditambah lutut Jaemin yang menggesek-gesek selangkangannya.
“Basah. Celana gue basah. Lo ngompol?” tanya Jaemin cukup frontal membuat Haechan semakin malu. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membantah ucapan Jaemin. Jaemin memandangnya bingung, lalu melihat celananya yang basah dan ke arah selangkangan Haechan secara bergantian.
“Wah, memek lo bocor.” Haechan benar-benar ingin menangis malu. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Melihat itu Jaemin dengan lembut berusaha singkirkan tangan yang menutupi wajah Haechan, “'Jangan ditutup, cantik. Kenapa?” ia lihat wajah Haechan sudah penuh dengan becek dengan air mata.
“Malu,” cicitnya.
Jaemin bingung, “Kenapa malu sih, lo cantik kok. Nggak ada yang harus lo maluin,” ucapnya menenangkan. Sebenarnya bukan hanya sekadar untuk menenangkan, ia mengatakan apa adanya.
Haechan tertegun menatap paras indah Jaemin di atasnya. Dan Jaemin sendiri sibuk mengusapi air mata yang sempat jatuh itu, dikecupnya kedua kelopak mata Haechan lalu ia juga curi kecupan di belah ranumnya yang terbuka. Jaemin terus beri kecupan kupu-kupu di seluruh wajah Haechan, berusaha membuatnya nyaman. Ciuman itu terus turun dan berlabuh di leher Haechan yang masih bersih. Haechan manis, baunya manis sekali. Jaemin hirup dalam-dalam ceruk lehernya. Jaemin bubuhkan bercak merah di lehernya. Tak bisa Haechan hitung atau kira-kira jumlahnya berapa. Dirinya sendiri total pening akibat stimulus yang Jaemin berikan. Sambil menyesap leher Haechan, Jaemin mainkan tangannya di permukaan labia basah Haechan, mengusapnya dengan irama yang tak beraturan menimbulkan suara becek yang sangat jorok. Haechan mendesah tak karuan dibuatnya. Tubuhnya menggelinjang dan pahanya merapat, mengapit tangan Jaemin yang sibuk memanjakan bibir vaginanya.
Ciuman Jaemin perlahan turun, kembali ia kulum bulatan kenyal yang menegang sempurna. Jaemin sesap puting Haechan seolah akan keluar susu dari sana.
“Aahh- ahh, Jaemm— mhh”
“Kenapa, Haechan? Sakit?” tanyanya retoris. Sudah tahu Haechan keenakan sampai menangis begini malah ditanya apa Haechan kesakitan atau tidak.
Haechan menggeleng, air matanya kembali jatuh menuruni pelipisnya. Indah sekali. Jaemin baru kali ini melihat orang mengeluarkan air matanya seindah ini. “Nggakk-hh Jaemm, gatell, memeknya gatel, mau dimasukinn,” Jaemin hampir menganga dibuatnya. Kemana beruang kecil yang tadi menangis karena malu akibat kata-kata kotor yang dilontarkan Jaemin?
“Okay, okay. Sabar ya, cantik.”
Jaemin melepaskan kulumannya pada puting Haechan. Ia lebarkan paha Haechan dan menekuk kaki jenjangnya sampai tumitnya menyentuh pantatnya sendiri. Jaemin arahkan tangan Haechan untuk memegangi kakinya sendiri, “Pegangin disini, ya? Jangan sampai lepas.” titahnya. Haechan mengangguk. “Kalo lepas aku pukul memeknya. Mau dipukul memeknya?” Haechan menggeleng, sedikit merapatkan pahanya sebagai refleks, takut memeknya dipukul.
Jaemin terkekeh melihatnya, “Keep your legs open, doll. Nggak akan dipukul kalau nurut.”
“Hhh—ahh!” Dua jari Jaemin masuk dengan mudah. Vaginanya licin sekali.
Sempit, di dalam sana sempit namun lembab dan hangat. Penis Jaemin berkedut membayangkan rasanya dimanjakan oleh liang sesempit ini. “Perawan, ya?” tanya Jaemin. Haechan kembali memerah. Ia menggeleng, “Udah lama nggak ngeseks,” jawab Haechan dengan suara yang sangat kecil. Jaemin hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia mulai menggerakkan kedua jarinya di dalam sana. Berusaha untuk melebarkan akses masuk untuk penisnya nanti.
Jaemin buat Haechan semakin berantakan. Desahnya tak karuan memenuhi kamar sewa murah itu. Dahinya penuh dengan peluh dan kembali ia tangisi rasa nikmat yang Jaemin berikan kepadanya secara bertubi-tubi. Jaemin obrak-abrik dirinya dari dalam. Haechan merengek, menggeliat, berkali-kali ingin merapatkan pahanya namun rasa takutnya lebih besar hingga ia selalu lebarkan lagi pahanya.
Jaemin tersenyum puas melihat Haechan yang berantakan, memerah, dan banjir. Yang basah-basah selalu Jaemin artikan dengan kenikmatan dan sekarang Haechan total basah. Artinya Haechan sedang dilanda kenikmatan. Jaemin tambahkan satu jarinya lagi memasuki liang Haechan yang sudah licin. Haechan memekik. Pegangan pada pergelangan kakinya terlepas begitu saja. Telapak tangannya dan seluruh kakinya terlalu licin akibat peluh. Haechan refleks merapatkan pahanya, takut dipukul. Lagi-lagi ia menghimpit tangan Jaemin diantara kedua paha sekalnya. Liangnya refleks menyempit karena kaget. Haechan buru-buru letakkan kedua tangannya diatas selangkangannya, menutupi vaginanya.
“Hiks- jangan, jangan dipukul.”
Jaemin tersenyum lembut yang entah mengapa terlihat menyeramkan bagi Haechan. “Nggak dipukul sakit kok, dipukulnya enak. Nurut, ya? Buka lagi kakinya.”
Haechan menurut. Masih sesenggukan, ia kembali lebarkan pahanya dan tekuk kedua kakinya lalu menahannya dengan kedua tangannya. Haechan benar-benar terlihat menggiurkan, siap digagahi. Vaginanya yang memerah dan becek berkedut dan menghisap jari Jaemin di dalamnya. Keburu pening dengan semua pemandangan menggiurkan ini, Jaemin cepat-cepat merojoki memek basah kuyup itu dengan jarinya. Tubuh Haechan terlonjak-lonjak tak kuasa menahan gejolak nikmat yang menggulung perutnya. Pinggulnya sudah naik-naik sampai pantatnya tak menyentuh kasur sama sekali, namun Jaemin masih setia mengocok jarinya didalam sana.
“Jaaemm-hh ahhh— ahh! Berhentii— ahh! Berhenti duluuu hnghh mau pipis ahh! Ahh!”
“Keluarin aja, sayang.”
Begitu mendapat izin, cairannya mengucur deras. Dengan tangan Jaemin yang masih bersarang di liangnya, cairannya mengucur deras dari celah atas membentuk busur seperti air mancur yang keluar sangat deras. Pinggulnya naik tinggi sekali. Haechan klimaks seperti kesurupan. Matanya memutih, bibirnya terbuka dan yang terdengar hanya teriakan serak. Ketika Jaemin keluarkan jari-jarinya dari liang itu, cairannya mengucur semakin deras. Jaemin ayunkan tangannya untuk menampari vagina yang masih mengeluarkan cairan yang mulai menipis itu membuat pinggul Haechan yang awalnya terangkat tinggi-tinggi kini jatuh lagi ke permukaan kasur. Pantatnya yang kenyal bergetar. Semua pemandangan indah itu akan selalu terekam jelas dalam ingatan Jaemin.
“Hhhh— ampunn, ampunn— hiks Jaemin,” suaranya terdengar lemah sekali. Namun bukannya iba, nafsu Jaemin semakin tersulut melihat Haechan tak berdaya dibawahnya seperti ini. Polos, basah kuyup, dan lemas. Tubuhnya sesekali bergetar pasca orgasmenya dan tiap tubuhnya bergetar, vaginanya menyembur kecil. Sementara Haechan sudah seberantakan ini, Jaemin masih mengenakan pakaian lengkapnya.
Jaemin segera melepaskan pakaiannya lalu memeluk Haechan yang masih sesenggukan, ia mengusap wajahnya yang basah dengan lembut lalu memeluk Haechan. Kulitnya yang panas bersentuhan dengan kulit lembab milik Haechan.
“Sakit? Aku keterlaluan, ya? Mau istirahat dulu? Haechan, maaf ya sayang” tanyanya bertubi-tubi.
Haechan menggeleng, “Enggak, nggak sakit. Enak. Tapi enak banget sampe pusing, kuwalahan,” jawabnya jujur.
“Mau lanjut? Atau mau istirahat dulu?” tanya Jaemin lagi.
Haechan menarik nafas dalam-dalam. Menetralkan nafasnya yang tersengal pasca pelepasannya. Haechan genggam tangan Jaemin yang awalnya bertengger di pinggangnya. “Pelan-pelan ya, Jaemin?” Jaemin tersenyum lebar mendengarnya. Mengangguk, lalu ia kecup ranum Haechan.
“Kalo terlalu kasar, bilang aja. Aku kadang suka kelepasan kalau nggak diingetin.”
“Aa-aku suka kok..” cicitnya pelan dengan wajah yang kembali memerah.
Jaemin rasa Jaemin beruntung sekali bertemu Haechan malam ini.
“Aku masuk, ya?”
Haechan bahkan belum sempat melihat bentuk barang milik Jaemin. Jadi begitu Jaemin masukkan ujung penisnya ke dalam vagina sempit milik Haechan, Haechan sontak berteriak heboh. Matanya berputar sampai ke belakang.
“AAAHH!! Jaeminn! Jaeminn!” tubuhnya menggeliat tak nyaman. Jaemin dibuat panik melihatnya, “Haechan, kenapa sayang? Sakit? Mau dikeluarin?”
“Hnghh— nggakk ahh! Nggak sakitt- tapi kepenuhannn uhh p-penuhh!”
Jaemin bingung. Penuh dari mananya? Padahal penisnya baru masuk ujungnya saja dan belum mengisi Haechan secara sempurna. Mungkin maksud Haechan penuh karena diameter Jaemin yang cukup tebal, jadi ia kuwalahan sendiri menerima diameter setebal itu.
“Haechan, aku masukin langsung aja ya? Biar nggak sakit.” izinnya yang dibalas anggukan oleh Haechan. Mendapat lampu hijau dari Haechan, Jaemin masukkan keseluruhan penisnya sampai tak terlihat batangnya sama sekali.
“AAAAHHHHHH! JAEMINNNNN!”
Dada Haechan membusur lalu jatuh lagi. Tubuhnya bergetar sedikit setelah dimasuki. Tangisnya semakin kencang membuat Jaemin kembali panik. “Sakit? Haechan? Hei? Sakit ya?”
“Hiks— penuhh! Penuh banget! Aaaku hamil, hamil kontolnya Jaemin.”
Jaemin ingin tertawa. Baru dimasuki saja omongannya sudah ngelantur. Namun benar saja, ketika Jaemin singkirkan tangan Haechan yang menutupi perut bagian bawahnya, ia lihat sesuatu yang menyembul sedikit di perut rata Haechan. Jaemin mengerjap, memandangnya tak percaya. Masa iya sih, dia masuk sedalam itu? Kalau iya, pantas saja Haechan heboh sekali saat dimasuki.
“Boleh gerak?” tanya Jaemin memastikan keadaan Haechan. Haechan lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan dan setelahnya ia kembali dibuat mengeluarkan desahan merdunya yang sangat Jaemin sukai itu. Jaemin tersenyum, hatinya menghangat melihat Haechan yang terlihat nyaman dan percaya kepadanya. Sekali lagi ia raup ranumnya yang terbuka dan melumatnya dengan lembut. Haechan semakin terbuai dengan permainan yang Jaemin berikan.
“J-jaemm, ahh! Jaeminn, lagi, mau lagi, mau yang banyak.” pinta Haechan ketika pagutan mereka terlepas.
Jaemin menegakkan tubuhnya, meraih pinggang ramping milik Haechan. Menyodoknya sedalam yang ia bisa. Desah Haechan seketika melengking lagi. Jaemin menyodoknya dengan tempo yang teratur, tidak begitu cepat namun sangat dalam. Menyentuh segala sisi di dalam Haechan, memenuhi perutnya sampai-sampai Haechan merasa kembung. Memang sebenarnya tak sebesar itu, namun Haechan sedikit mual dan merasa aneh di perutnya.
“Ahhh! Ahh! Mau lagi, Jaemin. Mau lagi, mau yang keras,” pintanya.
“Kurang?” tanya Jaemin lagi. Haechan tak menjawab. Jaemin cengkram pinggangnya lebih kuat dan ia rojokkan penisnya dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan yang tadi. Tubuh Haechan mengejang dan terhentak-hentak. Ia total berantakan sama seperti sprei putih di bawahnya yang sudah lepas dari ujung kasur dan menggumpal di bawah tubuh Haechan saja.
“Hhhhaahh— penuuhh, penuh bangett!” racaunya.
“Enak, sayang? Kaya gini mau kamu?” tanya Jaemin seraya menghentak dalam. Kali ini lebih dalam. Dalam sekali sampai mata Haechan dibuat menyilang karenanya. Jaemin tertegun melihat ekspresi Haechan kali ini. Ia ulangi hentakannya hingga Haechan mengeluarkan ekspresi yang sama.
“J-jaeminn aahh! Ampunn— udahh! Nggak kuaaatt!”
Haechan gemetaran dari pangkal paha sampai ujung kakinya. Jarinya yang awalnya menekuk keenakan semakin tegang dan mengikuti gerak kakinya.
“Aku ahhh! Aku mau— hhh mau keluarrrr! Ahhh! Ahhhh- Jaeminnnn”
Sama seperti klimaksnya yang pertama, pinggulnya naik namun kali ini Jaemin tahan dengan kedua tangannya. Tubuhnya lagi-lagi bergetar tak kuasa tahan gelombang klimaksnya. Matanya memutih, mulutnya terbuka lebar. Vaginanya menyempit dan kembali semburkan cairan bening yang deras.
Klimaksnya berimbas besar untuk Jaemin. Jaemin sangat menikmati rautnya saat mencapai puncaknya dan juga dinding vaginanya yang menyempit, memijat kuat penisnya yang ada di dalam sana.
Jaemin tak beri Haechan jeda. Tanggung. Ia juga berada di ujung saat ini. Masih dengan cairan Haechan yang mengucur deras, Jaemin tetap menggenjot vaginanya.
“Hhhaahh! Jaeemm— ahh! B-bentarr ahh! Ahh!”
Haechan kelimpungan sendiri. Klimaksnya belum selesai dan Jaemin kembali menggenjotnya. Namun tak butuh waktu lama untuk Jaemin sampai pada putihnya. Ia mengeluarkan maninya tepat saat klimaks Haechan selesai.
“Hnghh— penuhh, penuhh. Keluarin, please? Perut aku sakit...” mohonnya.
Jaemin yang baru sadar dari klimaksnya buru-buru mengeluarkan penisnya. Mengecek keadaan Haechan. “Chan, maaf.. Gue keterlaluan ya? Sakit dimananya? Gue beliin obat ya?”
Haechan menggeleng, napasnya masih tersengal. “Nggak. Hhh- nggak usah. I'm okay,” ucapnya. Namun ia masih terengah, sambil memegangi perutnya.
“Sakit ya? Pasti sakit. Aduh, bentar gue ke apotek dulu aja ya?” Jaemin panik sendiri. Melihat itu Haechan terkekeh kecil.
“Nggak apa-apa hhh- Jaeminn. Gue oke kok. Beneran.”
Namun Jaemin masih memandangnya khawatir. Haechan benar-benar tertawa kali ini. Ekspresi panik Jaemin lucu sekali menurutnya.
“Gue beneran nggak apa-apa, Jaem. Perut gue penuh rasanya. Lo masa tega ninggalin gue habis ngeseks gini.”
“Bukan gitu maksud gue!” sanggahnya panik. Haechan kembali tertawa dibuatnya.
“Bersihin dulu ini. Gue nggak kuat bangunnya.”
Jaemin buru-buru memakai celananya, ia mondar-mandir mencari tissue namun nihil.
“Aduh, Chan. Nggak ada tissue. Gue juga nggak bawa nih, gimana ya?”
Haechan terkekeh lagi, “Kondom aja nggak lo bawa, apa lagi tissue.”
Jaemin melotot. Benar juga ya. Ia lupa memasangkan kondom tadi. Buru-buru ia merogoh sakunya dan ia dapati sebungkus kondom yang masih utuh disana.
“Tenang aja, gue bersih kok.” ujar Haechan seolah mengerti isi pikiran Jaemin. “Gue ada tissue di tas. Ambil aja.”
Jaemin mengambil tas berwarna hitam berukuran tanggung yang Haechan bawa. Seketika ia dibuat menganga melihat isinya yang penuh dengan barang-barang mahal. Belum lagi card holder tipis tanpa penutup yang diisi deretan kartu hitam. Diam-diam ia meneguk ludahnya gugup, kalau barang-barangnya semewah ini, sudah pasti tarifnya mahal. Duh, mana Jaemin tidak bawa banyak uang hari ini. Bodohnya lagi, ia main tarik dan belum sempat menanyakan tarifnya untuk ditiduri semalaman. Jaemin mengerjap, berusaha memfokuskan pikirannya, ia kembali mencari tissue yang Haechan bawa.
“Ini ya? Gue ambil ya?” dibalas anggukan oleh Haechan. Jaemin seka paha dalam Haechan. Ia menyerengit melihat kekacauan yang mereka buat.
“Kenapa gitu? Lo nggak percaya ya gue bersih?” tanya Haechan, rupanya ia salah menafsirkan raut wajah Jaemin.
“Hah? Enggak kok. Gue- ini- aduh, berantakan banget ya kita hahaha,” tawanya canggung. Haechan ikut tertawa.
“Tapi lo peracaya nggak gue bersih?” tanya Haechan sekali lagi.
Jaemin mengangguk seadanya. “Kan tadi lo bilang udah lama nggak ngeseks.”
Haechan mengiyakan. “Udah 2-3 tahun yang lalu kayaknya.”
Jaemin kembali dibuat kaget. Pantas saja rapat sekali. Ia kembali terbenam dalam pikirannya, kalau nggak mangkal selama itu, lantas dari mana ya barang-barang yang ia punya.
“Haechan,” panggilnya dengan suara yang pelan. Dirinya gugup setengah mati. Takut tahu-tahu Haechan minta 10 juta untuk servisnya malam ini. Walaupun masuk akal karena Haechan enak sekali, tapi mana mampu ia bayar dengan nominal sebanyak itu?
“Hmmm?” Haechan balas dengan gumaman, namun matanya fokus menatap Jaemin.
“Itu- tadi- maaf ya gue tiba-tiba narik lo terus kita belum ngomongin soal rate...” jelasnya gugup.
Haechan teregun sejenak. Lalu tawanya menyembur lagi, memenuhi ruang kamar sewa itu. “Hahahaha lucu bangett, lo beneran nganggep gue lacur yang lagi mangkal ya?”
Kini rahang Jaemin terjatuh. “Bukan?” tanyanya seperti orang bodoh.
“Bukan, Jaemin.”
Kepala Jaemin seperti dipukul batu besar sekarang. Bodoh sekali, rutuknya dalam hati. Ia memandangi Haechan dengan penuh perasaan bersalah. Lagi-lagi Haechan terkekeh geli atas tingkah Jaemin yang menurutnya lucu sekali. “Nggak apa-apa. Gue juga mau kok. Buktinya gue mau-mau aja lo ajak sampe kesini.”
Nah, itu yang jadi pertanyaannya. “Lo kok mau sih?”
Haechan mengendikkan bahunya. “Karena gue mau?”
Jaemin semakin bingung dibuatnya. Aneh. Ini semua aneh dan terlalu mengejutkan bagi Jaemin.
“Lo orang kaya ya?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Jaemin.
“Kaya apa? Kaya monyet?” Di situasi yang menurut Jaemin membingungkan ini, Haechan masih sempat-sempatnya bercanda.
“Nggak masuk akal sumpah. Pertama lo bukan pekerja seks, kedua lo orang kaya, ketiga lo bilang lo udah lama nggak ngeseks, keempat lo kenapa mau ngewe sama gue?”
Haechan terkekeh lagi. “Masuk akal aja sih. Karena gue mau.”
“Gue lagi mimpi ini? Jangan-jangan lo dewa keberuntungan mau ngambil hoki setaun gue ya?” Haechan sontak tertawa makin keras.
“Ada-ada aja ah lo.”
“Gue bingung. Please kasih gue alesan yang masuk akal.”
“Apa? Lo cakep? Oh, lo mau diberi validasi kalo lo cakep makanya gue mau ngewe sama lo, gitu?” tanya Haechan diiringi tawa kecilnya.
“Nggak gitu maksud gue. Aduh, gue pusing banget.”
“Nggak usah kebanyakan mikir. Lo mau mandi nggak? Gue udah nggak betah disini lama-lama.”
“Lo mau gue mandiin lo?”
“Menurut lo aja? Lo habis ngewein gue btw.”
Jaemin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Masih bingung dengan semua fakta ini.
“Kalo nggak mau, gue bisa sendiri kayaknya.” ucapnya seraya berusaha bangun dari ranjang yang ia tiduri.
“Eeehh- gue aja, gue bisa mandiin lo- maksud gue, gue mandiin lo, gue mau mandiin lo.”
Tawa kecil itu kembali terdengar. Cantik sekali. Jaemin masih tidak percaya ia menemukan orang seperti ini.
“Sini, cepetan.” Haechan merentangkan tangannya, meminta Jaemin untuk menggendongnya.
Malam itu mereka akhiri setelah keluar dari kamar yang Jaemin sewa. Mereka menuju di tempat parkir pub dengan Jaemin yang masih menggendong Haechan sampai ke mobilnya.
Brengsek, mobil Haechan bahkan berkali-kali lipat lebih mahal daripada mobil berusia kurang lebih delapan tahun yang Jaemin bawa.
“Lo yakin bisa nyetir sendiri?” tanya Jaemin.
“Bisa kok, nyetir doang ini. Gue duluan ya, Jaemin? Thanks for the great night. Lo enak banget btw.” ucap Haechan sebelum kacar mobilnya tertutup dan mobil itu meninggalkan lahan parkiran.
Jaemin menampar pipinya, ia harus cepat-cepat bangun dari mimpi ini.
