Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-05-20
Words:
6,223
Chapters:
1/1
Comments:
10
Kudos:
376
Bookmarks:
22
Hits:
28,881

Mating Season Curse; Markhyuck

Summary:

“Sheriff! Kami menemukan harta besar! KAMI MENEMUKAN PUTRA DUYUNG DI TELUK!”

Maka tanpa basa-basi, Mark bergegas pergi ke Teluk sana, menjemput harta karunnya, menjemput jalan cerita barunya.

Notes:

Fanfiksi ini adalah hasil komisi. Terima kasih sudah mempercayakan aku untuk menulis <3

Work Text:

“Sheriff! Kami menemukan harta besar!” 

 

Dua orang lelaki belia, tampak kotor dan kusam–sangat jelas habis berkubang di medan berat–berlari masuk ke dalam ruang Sheriff desa yang mewah, megah, terasa hangat diselubungi kayu bakar yang membara di perapian.

 

Di sana, di kursi lembut berbahan bulu bison, seorang Sheriff desa berseragam rapi–tak lupa lambang kehormatan bintang 6 berbahan emasnya–sedang duduk santai. Cerutunya mengepul, desis bara cerutunya mendesis pelan di ruangan hangat itu. Tak seperti dua anak buah rendahannya yang tampak tergesa-gesa, terengah-engah, bak endrofin ada di seluruh tubuh mereka–Sheriff muda itu tampak sama sekali tak tertarik. Matanya menatap malas. 

 

“Apa lagi?” tanyanya. 

 

Kedua anak buah rendahan itu saling bertatapan melihat reaksi sang Sheriff. Tampaknya Sheriff itu masih sebal sebab dua bulan yang lalu sebuah lahan berisi tembaga ditemukan tak jauh dari desa mereka. Sang Sheriff matanya langsung mengkilat memikirkan semua keuntungan yang bisa mereka dapatkan dari tambang kecil itu. Tapi sayang apa harap, tembaga yang dihasilkan rupanya tak berkualitas, jangankan dijadikan perak, untuk dijadikan peralatan saja pun tak bisa. Pada akhirnya, penemuan ‘harta karun terbesar di desa’ itu berakhir tak menjadi apa-apa. Bahkan Sheriff pun tampaknya malas mengharapkan apapun lagi–tapi kali ini berbeda! Mereka berlari 30 menit lamanya dari teluk di luar desa. Tembaga tak ada apa-apanya, perak tak ada apa-apanya, bahkan emas pun kalah telak! Harta karun ini berbeda. Harta karun ini begitu besar, begitu berharga, begitu mahal, begitu langka–

 

“KAMI MENEMUKAN PUTRA DUYUNG DI TELUK!” 

 

Begitu seru salah satu pemuda belia itu.

 

Seruannya begitu besar, begitu menggelegar sampai-sampai sang Sheriff terlonjak kaget, terbangun, cerutunya mati seketika. Kalimat tersebut tak perlu diulang dua kali, sang Sheriff sudah duluan dengan cepat meraih rompi kebangaannya, tampak lencana bintang emas bertulis ‘Mark Lee’ di rompi itu bersinar benderang, sama benderangnya dengan sorot mata si Sheriff Mark itu. “Aku akan pergi sendiri. Kalian istirahatlah,” katanya penuh nafsu.

 


 

Teluk itu jauh. Letaknya hampir satu jam perjalan menggunakan kereta kuda dari pusat desa. Mark tak tau bagaimana ceritanya kedua anak buahnya ini bisa berlari begitu cepat hingga hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke desa–tapi Mark mengerti, ia pun akan berlaku sama. Ia akan berlari sekencang mungkin untuk ikan duyung itu, ia pun akan menggila. Pun sekarang ia sudah cukup gila. Ia pergi sendiri, anak buahnya tak ia perbolehkan ikut. Persetan dengan seramnya duyung, persetan dengan legenda tentang kutukan duyung–ia akan pergi sendiri mengambil harta mewah itu hanya untuk dirinya. 

 

Menyuruh anak buahnya istirahat hanyalah alasan–Mark itu rakus. Ia ingin duyung itu hanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin semuanya untuk dirinya sendiri–kulit duyung itu, sisik ekornya, organnya, rambutnya, tulangnya, bahkan jari jemarinya yang dikeringkan akan sangat laku di pasaran. Mark akan kaya! Ia kaya raya!

 

Oh, Mark sebenarnya tak berharap banyak. Setelah tragedi tembaga itu, Mark sama sekali tak berharap untuk menjadi kaya di desa mereka yang miskin ini. Tak ada emas, tak ada permata, bahkan pohon pun enggan tumbuh di gurun terik ini. Desa mereka benar-benar bak dikutuk, bahkan suburnya tanah dekat teluk ini–yang bisa dicapai hanya dengan satu jam jalan kaki–enggan untuk hadir di desa kering mereka. Kebalikan dari desa mereka, semua yang ada di sini subur, rimbun, berwarna hijau, pun lembab. Oh Mark tak mengerti bagaimana bisa para leluhur mereka memilih lokasi desa mereka yang sekarang untuk menjadi tempat tinggal daripada tinggal di daerah teluk ini. Tapi berterima kasihlah para leluhur, sebab Mark, sang Sheriff muda kebanggan para warga desa, akan merubah semuanya. Ia akan menjadi orang pertama di desa yang benar benar–sangat sangat kaya raya. 

 

Mark sudah terlalu lelah. Ia kehausan, benar-benar kehausan walaupun ia berkendara dengan kereta kuda. Oh, berjalan jauh dengan membawa banyak pikiran penuh ambisi di kepanya benar-benar melelahkan. Bodohnya lagi, ia hanya membawa satu botol perbekalan air minum. Jadi tak salah bukan jika senyumnya langsung merekah saat melihat sebuah sumber mata air terhampar di depannya. Matanya berbinar, ia pun langsung turun dari kereta kudanya, dengan cepat ia berlari menuju sumber air itu. 

 

Tapi tunggu! Mark melihat sesuatu!

 

Apa itu?

 

Sebuah kandang? Di pinggir telaga teluk itu ada kandang? Ada yang berburu di dekat sini?

 

Mark mengerut kebingungan, tapi tak butuh waktu lama matanya langsung membelalak lebar, berbinar benderang saat tau apa yang ada di dalam kandang itu. Itu dia …! Itu dia harta besarnya! Itu dia sumber duitnya! Itu dia putra duyungnya!

 

Pantat Mark rasanya telah mati rasa sedari 30 menit yang lalu–tapi lihat lah dia sekarang! Oh, Mark tak pernah berlari secepat ini, rasanya Mark tak pernah bergerak segesit ini sampai-sampai jantungnya berdetak keras terpacu adrenalin. Tak butuh waktu lama baginya untuk berdiri di depan kandang di pinggir telaga itu. Anak buahnya benar-benar menyiapkan banyak hal rupanya. Mereka bahkan sudah mengandang duyung ini, mereka juga bahkan sudah menutupi badan polos duyung ini dengan sehelai kain putih pendek yang hanya menutupi sampai ke paha atas–TUNGGU! Paha atas? Paha? Paha bagian dari kaki? Kaki? Duyung ini punya kaki?! Bagaimana dia bisa punya kaki? Dia kan duyung, dimana ekornya?! Apa anak buahnya sedang bermain-main dengannya?!

 

“Kau duyung! Dimana ekormu?!” Mark menghardik duyung itu. Jari telunjuknya teracung menunjuk duyung yang sedang tertunduk itu kasar. Helaan nafas cepat tanda gembiranya tadi sekarang telah berganti dengan dengusan nafas penuh emosi. Dia tak percaya … mana mungkin ini duyung. Ini adalah manusia. Walaupun Mark tau bahwa duyung tak memiliki bentuk yang terlalu berbeda dengan manusia, tapi Mark juga lebih dari tau bahwa duyung tak berkaki. Mereka berekor! Memang katanya jikalau tidak terkena air, mereka bisa berubah mempunyai kaki–tapi duyung ini terendam setengah badannya di dalam air! Seharusnya ia masih berekor jikalau ia benar-benar seorang duyung. Lelaki ini adalah manusia! Mark tak percaya … anak buahnya menipunya, mereka menangkap dan menelanjangi lelaki muda sembarangan kemudian menyuruhnya untuk datang ke tempat entah berantah ini di saat hari sudah mulai gelap-–mereka ingin membunuhnya, mengganti posisinya!

 

“Lepaskan Haechan! Haechan tak akan mengeluarkan ekor untukmu!”

 

Dan tepat saat itu pula dengusan nafas kencang Mark seketika memelan. Muka mengerut marahnya seketika tertegun saat lelaki yang sedari tadi menunduk di dalam kandang itu mendongak, menatap Mark dengan mata biru mudanya. 

 

Oh Mark ingat, selain ekor, duyung juga terkenal dengan mata biru muda jernihnya. 

 

Jadi dia benar-benar duyung?

 

“Jadi kau benar-benar duyung?” Mark begitu takjub, bahkan bibirnya tanpa sadar bertanya penuh kagum sendiri. Mata melotot marahnya kini rileks kembali, matanya malah berbinar, lebih berbinar lagi dari sorot matanya yang tadi. 

 

Ia mengitari kandang kecil itu, persetan sepatu kulitnya basah, dia hanya ingin memastikan bahwa lelaki berkaki dan bermata biru jernih itu adalah duyung yang dicarinya. Tapi mata biru yang menatapnya garang itu terlalu jernih, terlalu duyung untuk menjadi manusia. Walaupun semua yang ada pada lelaki muda ini tampak seperti manusia, tapi dia duyung, Benar kan dia duyung?

 

“Benar! Lepaskan Haechan!” 

 

Haechan? Namanya Haechan?

 

“Kau Haechan?”

 

“Iya! Haechan adalah Haechan! Lepaskan Haechan!” 

 

Mark berhenti mengitari kandang itu, ia terkekeh mendengar geraman marah nan sayu itu. Suaranya manis, jika Mark bisa mendeskripsikannya dengan lebih baik lagi, sura duyung Haechan ini semanis madu. Bahkan geramannya sama sekali tak seram, geraman itu terdengar mendayu, begitu indah, begitu lembut bak nyanyian seorang duyung.

 

Lelaki Haechan ini benar-benar seorang putra duyung rupanya.

 

Mark menjilat bibirnya yang kering. Ia selipkan tangannya ke dalam kandang besi. Dengan satu cakupan besar tangannya, Mark raih wajah kecil sang duyung, ia tangkup, ia elus penuh nafsu. 

 

“Jadi kau yang kucari-cari?” tanyanya. Pipi itu ia jepit kuat sampai hidung dan bibir Haechan terhimpit naik. Di bawah jari jemarinya, Mark bisa merasakan lembutnya pipi duyung ini. Ah, Mark sudah bisa membayangkan berapa banyak untung yang bisa ia dapatkan dari hasil kulit lembut ini. Bahkan satu senti kulit ini saja sudah bisa membiayai seluruh hidup mewah Mark untuk 20 tahun mendatang, jadi bayangkan berapa banyak kekayaan yang bisa ia dapatkan dari satu buah duyung ini. Mark jadi tak sabar untuk mengulitinya.

 

Tapi, sebelum bisa mengulitinya, duyung ini harus lebih dulu berubah bentuk. Mark tak mungkin menjualnya dalam bentuk manusia begini, dia tak akan laku. Tak ada cara lain, Mark harus memaksa duyung ini agar berubah bentuk. 

 

Ada begitu banyak cara untuk memaksa–tersirat, tersurat; halus, kasar. Mark yang memang sehari-harinya bekerja memaksa orang untuk membayar restibrusi ke dirinya, sudah lebih dari hafal semua teknik dari memaksa. 

 

“Keluarkan ekormu!” jadi kali ini Mark memilih untuk memaksa Haechan secara kasar. Muka kecil itu ia hentak lepas kuat, membuat sang duyung meringis, meringkuk sakit memegang mukanya.

 

Lalu saat Haechan kembali mengangkat wajahnya, ia berteriak,  “tak mau!”sergahnya marah. “Lepaskan Haechan! Haechan tak ingin berubah karenamu!” mata biru itu menatap Mark marah, super duper marah. Suara sehalus madunya pun terdengar menderu bergetar –duyung ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama rupanya.

 

Jadi karena hari sudah mau gelap, pun karena Mark juga sudah lelah, Sheriff muda itu pun mendekat ke kandang, berkata kepada Haechan “Kau ikut ke rumahku. Akan ku simpan kau di sana dulu,” lalu dengan susah payah Mark menaikkan kandang besi yang bergetar hebat sebab tangisan duyung itu ke kereta kudanya, membawa tangisan dan umpatan duyung itu pulang bersamanya. 

 


 

Bunyi air dan umpatan-umpatan marah minta dilepas mengisi kamar Mark malam ini. 

 

Ia sudah sampai di rumah sedari 30 menit yang lalu. Dan sedari 30 menit yang lalu itu pula sang duyung mengerang marah, menangis mengucak-ucak air di bathub Mark.

 

Oh, benar, sekarang Haechan sudah dengan aman Mark kurung di dalam kamar mandinya. Walaupun sebenarnya Mark sama sekali tidak mengurungnya. Pintu kamar mandinya terbuka lebar, ya walaupun tangan kanannya Mark borgol tapi setidaknya Haechan tak terkurung di kandang sempit seperti tadi. 

 

Bunyi rengekan “lepaskan Haechan … lepaskan Haechan ….” bergema sama kerasnya dengan bunyi kran air yang dengan deras mengisi bak mandi. Air dari kran itu mengucuri badan polos Haechan, sampai-sampai kain putih yang menutup badannya tampak layu basah kuyup membentuk bentuk badannya. Air itu deras memang, tapi tak serta merta bisa merendam badan Haechan sepenuhnya. Haechan akan lebih dulu memberontak, menggerakkan badannya hebat sampai-sampai air di bathub itu melimpah ruah jatuh ke lantai. 

 

Jikalau tidak untuk Haechan, Mark juga tak akan mau mengeluarkan air sebanyak ini.

 

“Diamlah. Kau tau air di sini langka. Sekarang tenangkan dirimu dan berubahlah menjadi duyung secepatnya,” kata Mark. 

 

Sorot mata tajam dari mata bulat itu langsung menyapa Mark. Mata biru jernih itu mengkilat, mengkilat tajam, mengkilat bahaya kepada Mark. Mukanya memerah, memerah hebat, memerah marah. Haechan marah. Semua bagian tubuhnya tampak memerah marah. 

 

Di titik ini seharusnya Mark takut. Tak ada yang lebih menyeramkan daripada kemarahan makhluk mitologi, begitu katanya. Katanya hidupmu bisa uring-uringan hanya dengan melihat mata marahnya, oh, bahkan lebih kejamnya, dongeng anak-anak menyebutkan bahwa kau bisa mati hanya dengan mendengarkan kidung suaranya. Menyeramkan–seharusnya begitu, tapi Mark sama sekali tak takut! Malah ia mengerut lucu melihat wajah sembab, memerah basah Haechan.

 

Apa duyung ada juga yang mukanya lucu seperti ini?

 

Selama ini duyung selalu digambarkan jelek, mirip manusia tapi lebih jelek, lebih seram. Makanya hanya sedikit orang pemberani yang berani mengincar duyung, hanya ada sedikit duyung yang dijual di pasaran saat ada sejuta orang yang membutuhkan duyung untuk bahan-bahan pengobatan, tak heran duyung jadi super duper mahal dan langka. Tapi sekarang Mark mengerti, cerita seram, legenda seram yang menyelubungi duyung itu hanya ada untuk mencegah orang-orang dari mengeksploitasi duyung, pun legenda itu ada agar para orang kaya penjual duyung tak kehilangan bisnis mewahnya. Coba bayangkan jika semua orang tau bahwa duyung sebenarnya tak semengerikan itu, bahwa duyung sebenarnya selucu dan selemah ini–oh, semua orang akan tiba-tiba menjadi peternak duyung, harga duyung akan anjlok, semua orang bisa membeli duyung, duyung bahkan bisa dikonsumsi oleh orang miskin sekalipun. 

 

Mark tidak akan kaya kalau begitu. Oh … memikirkannya saja sudah membuat Mark merinding. 

 

“Jangan marah-marah kepadaku. Aku hanya meminta satu hal, keluarkan ekormu,” begitu ucap Mark sembari keluar dari kamar mandinya. 

 

Hari sudah begitu malam bagi Mark jadi saatnya makan malam. Hanya satu buah telor ceplok dengan dua lembar roti gandum yang menjadi menunya malam ini. Kau tau sebenarnya Mark itu berlagak kaya saja, dia sebenarnya semiskin ini. Makanya saat ia sedang makan pun, matanya tak lepas dari melihat Haechan yang ada di dalam bathub sana, melihat hartanya dengan tatapan lapar–bahkan lebih lapar tatapan Mark ke Haechan daripada ke telor ceploknya. Mark begitu fokus melihat Haechan sampai dia bisa menerka-nerka arti tiap geraknya. Kali ini tampaknya duyung itu pun akhirnya lelah, karena kini gejolak air itu telah berhenti, tak ada lagi pemberontakan, tak ada lagi rengekan, Haechan jauh lebih diam sekarang. Bukannya rengekan penuh geraman marah, bibir memerah bentuk hati itu kini mengeluarkan rintihan, nafasnya terdengar terengah-engah, isakan tangis kecilnya bersambut dengan sesak nafasnya begitu tajam terdengar di dalam rumah Mark yang sepi ini.

 

Tapi tunggu, Mark rasanya tak bisa mengunyah telurnya dengan baik sebab nafas Haechan yang semakin lama semakin memberat, tangisnya semakin lama semakin terdengar menyiksa. Mark bisa melihat muka Haechan sudah memerah hebat, nafasnya sudah tertatih-tatih terengah bak nyawanya hendak diangkat.

 

Astaga! Haechan kenapa?!

 

Oh astaga Haechan tak mungkin mati sekarang!

 

Membuang makan malamnya sembarangan, Mark belari panik menuju Haechan, “KAU KENAPA?!” keringat dingin telah mengucur deras dari badannya.

 

“Lepaskan … Haechan sakit … Haechan tidak boleh stres ….” Haechan merintih, suaranya bergetar melirih. 

 

Mukanya benar-benar kesakitan. Bukan … bukan seperti muka memerah marah penuh kekesalan seperti tadi, muka Haechan kali ini benar-benar tampak seperti ia sangat kesakitan. Wajahnya pun memerah–sangat-sangat memerah. Sampai urat-uratnya pun menonjol, menegang di dahinya.

 

Mark memang gila–dia gila harta, dia gila Haechan. Tapi Mark masih cukup waras untuk tak kehilangan Haechan. Duyung ini tak boleh mati, dia tak boleh menjadi bangkai yang sama sekali tak bisa diolah. Jadi dengan kewarasannya, dengan perasaan kalutnya, Mark dengan cepat membuka gembok tangan Haechan. 

 

“Kau tak apa-apa? Kau masih hidup kan?!” Mark bertanya panik, begitu panik sampai nada suaranya seakan hendak menangis. Kini Haechan sudah bebas dari borgol, kedua tangannya sudah terbebas. Menurut perkiraan orang waras, Haechan pasti akan menyerang Mark, membunuh Mark, lalu melarikan diri. Tapi rupanya baik Mark dan Haechan sama-sama sudah tidak waras. Duyung itu bukannya mencekik Mark, menyilet leher Mark dengan kuku duyungnya, atau membogem Mark dengan kekuatan magisnya–ia malah mencipak-cipakkan air di bathub itu dengan kedua tangannya. Gestur tangannya bergerak di sisi badannya seakan ia sebal.

 

“Haechan kesal …! Haechan marah …!” begitu serunya. Bibir hatinya maju, tangannya menghantam sebal air di dalam bathub itu sekali lagi. “Haechan stres!” serunya memicing tajam kepada Mark. 

 

Mark masih terlalu terbengong untuk bisa membalas rajukan Haechan. Bahkan ia sama sekali tak marah saat bajunya telah basah kuyup sebab cipratan air bathub. Dia masih memakai rompinya, lencana kebanggaannya pun masih terpasang sempurna di rompinya itu–seharusnya dia marah, tapi Mark terlalu bengong, terlalu tak bisa mencerna apa saja yang barusan terjadi untuk bisa marah. Dia pikir Haechan akan mati … dia pikir Haechan tak bisa ia jual … ia pikir hartanya akan pergi … oh nyawanya baru saja melayang.

 

“Nyawa Haechan hampir saja pergi!” bukan, ini bukan Mark–ini Haechan yang berseru sebal. Picingan matanya masih menatap Mark, kain di badannya naik turun bersamaan dengan nafasnya yang tersengal entah itu menahan kesal entah itu sebab rengekan sesak nafasnya tadi. Air di bathub itu untungnya tak ia ganggu gugat lagi, tangannya kini berpegang pada pinggiran bathub kayu itu, kukunya menancap tajam di bathub kayu oak itu. 

 

“Kau … hidup …?” Mark akhirnya mengeluarkan suaranya; lirih, tak percaya, bingung–semua nada ada pada satu pertanyaan itu. Matanya tak lepas dari menatap Haechan yang memicing marah, bibir tebal nan basah duyung itu pun masih maju mencibir melihat ke arahnya.

 

Sama sekali tak menjawab pertanyaan Mark, Haechan kini duduk tegak di dalam bathtub itu. Pandangnya lurus, punggungnya pun ikut lurus. “Haechan harus hidup ….” begitu katanya sebelum kemudian ia buka lebar kakinya, kini kaki itu menggantikan posisi jari jemari Haechan yang sedari tadi bertengger di pinggir bathtub itu. Ia mengangkang lebar, begitu lebar sampai Mark tercekat air ludahnya sendiri. 

 

“K-kau sedang apa …?!” Mark bertanya panik, sama paniknya seperti tadi. Ya bagaimana dia tidak panik, selangkangan Haechan terbuka lebar di depannya. Oh, entah karena terlalu banyak air yang terbuang sehingga bathub itu tampak dangkal atau karena air dari oasis kecil di desa padang pasir mereka ini terlalu jernih sampai-sampai Mark bisa dengan jelas melihat kemaluan Haechan, kemaluannya yang memerah, tampak mengkilat basah di bawah air. Haechan memiliki lubang–merah, basah, dan tembam. Di balik air bathub yang jernih itu juga Mark bisa melihat ada belalai kecil di antara pintu lubang memek Haechan. Kontol kecil Haechan sama memerahnya dengan lubang Haechan, pun sama mengkilatnya dengan lubang itu. Mark … melongo. Mungkin benar adanya sihir makhluk mitologi itu, mungkin sihir itu benar-benar ada karena astaga–Mark melongo, terdiam, matanya membulat seakan penuh candu menatap kemaluan Haechan yang terbuka lebar, basah mengkilap bernafas di dalam air bathtub yang jernih. 

 

“Haechan harus bertahan hidup ….” suara Haechan terdengar melenguh, nafasnya memberat kembali. Setelahnya, bak benar-benar sudah dipengaruhi sihir sepenuhnya, Mark melotot tak bisa mengelak satu pun adegan di depannya saat Haechan mulai mengelus-elus pintu lubangnya, menyentil-nyetil halus penis kecilnya dengan jari jemari lentiknya. Mark sama sekali tak bisa bernafas dengan benar saat dengan keempat jarinya yang disatukan, Haechan mulai mengucek-ngucek memeknya. Suara basah lantang terdengar, air di bak mandi Mark mulai beriak lagi. Mark tak bisa memisahkan mana satu suara air, mana satu suara becek memek Haechan–maksud Mark, lihat lah itu, lihatlah memek memerah itu, lihatlah burung kecil yang menegang itu–semuanya basah, semuanya becek, semuanya dimainkan Haechan hingga berlendir. Walaupun di dalam air, Mark bisa melihat dengan jelas lendir-lendir putih mulai perlahan menggenang di sekitar selangkangan Haechan. 

 

 “K-kawin … Haechan harus kawin ….” 

 

Mark tampaknya terlalu fokus menatap memek Haechan sampai-sampai ia sama sekali tak melihat muka Haechan, tak sadar dia bahwa di atas sana Haechan jauh lebih memerah. Keringat telah mengucur deras, matanya terpejam, bibir hatinya terbuka penuh lenguhan. Lirih-lirihan kecil berbunyi, “kawin … kawin … Haechan harus kawin ….” terus terdengar. 

 

Sama melongonya dengan melihat memek Haechan, Mark jauh lebih melongo saat akhirnya ia melihat muka Haechan. Ingat saat dia bilang Haechan cukup manis untuk kategori duyung? Kini Mark telah berubah pikiran. Haechan, dia … dia seksi. Haechan menggoda, Haechan begitu indah dengan air mata yang berlinang di pipinya, ia begitu menggugah mata Mark hingga Mark pun tak sadar ia telah menelan ludah beberapa kali. 

 

Seindah memeknya, semanis bentuk burungnya–muka Haechan jauh lebih indah.

 

Mark tak mungkin tak ereksi. 

 

Oh, bahkan burungnya pun tak tahan dengan permainan solo seekor duyung. 

 

Mark menengok ke bawah, sudah ia duga, ada gembungan di celana kain krimnya. Mark kecil sudah terbangun begitu lapar. 

 

“A-akh! Akh …~! H-haechan suka … akh!~” 

 

Mark tak tau apa yang terjadi tapi saat ia kembali menoleh untuk menyaksikan kembali adegan permainan Haechan, lenguhan itu lah hal yang dapat ia dengar setelahnya. Kemudian Haechan bergetar, air di dalam bathub itu pun ikut beriak seiring dengan getaran pinggul Haechan. 

 

Mark dapat melihat Haechan terpejam, lidahnya menjulur, mukanya memerah mengkerut. Oh Mark pun dapat melihat memek Haechan berkedut, mengeluarkan gelembung-gelembung kecil di dalam air bersamaan dengan lelehan lendir bening di lipatan lubangnya. Jangan lupakan kontol kecil Haechan–dia tampak lemah, lemas ternyenyak tidur di pintu lubang Haechan. Kepala kontolnya tampak memerah, tampak basah berlendir juga. Haechan ejakulasi. Ini baru 3 menit dan Haechan sudah ejakulasi.

 

Haechan sangat sensitif rupanya, sangat sangat sensitif sampai-sampai sudah hampir semenit semenjak ia ejakulasi, pinggulnya masih saja bergetar. Tapi hey, tunggu! Aneh. Pinggul Haechan bergetar semakin kuat, begitu kuat hingga entah halusinasi Mark saja–bathub nya berguncang. Mark tak harus sampai berpegang pada sesuatu memang, tapi ia merasakan guncangannya! Lalu setelah guncangan itu, bathub Mark tiba-tiba seakan bercahaya. Cahayanya memang hanya sekejap, tapi mata Mark sakit karena menatap cahaya itu secara langsung. Oh … terlalu terang, terlalu silau, padahal Mark cuma hanya ingin melihat memek Haechan.

 

T-TUNGGU!

 

Dimana memeknya Haechan?!

 

Dengan matanya yang masih berbayang-bayang silau itu, Mark mencoba melihat kembali ke arah selangkangan Haechan dan betapa sedihnya ia saat sama sekali tak bisa melihat satu pun memek merekah merah di sana–daripada itu, ia malah melihat sebuah ekor, sisiknya berwarna hijau berkilau.

 

Oh bagus. Haechan akhirnya berubah menjadi duyung sesungguhnya di saat Mark sedang ingin melihat kemaluannya.

 

Memang ini yang daritadi Mark incar, memang ekor ini yang daritadi ia inginkan. Tapi hey, dimana memeknya Haechan?

 

“H-hey ….” Tenggorokan Mark rasanya tercekat saat ia menatap ke arah wajah Echan dan menemukan dua buah payudara montok dengan puting merah jambu mencuat sedang dijilat-jilat Haechan dengan lidahnya. Mata Mark melotot gila, rasanya matanya mau keluar dari rongganya sekarang. Mark tak tau sejak kapan Haechan punya nenen sebesar itu, tapi hey, nenen Haechan seksi. 

 

Mark bisa saja berkata, berseru panik ‘apa yang sedang kau lakukan?’ atau menutup matanya, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya melihat adegan tak senonoh Haechan, tapi daripada itu semua, Mark memilih untuk berjalan mendekati Haechan, berdiri di sampingnya, memelototi nenen Haechan yang sedang dijilat-jilat mandiri.

 

Haechan sama sekali tak peduli. Ia masih menopang nenennya dengan kedua tangannya, menjulurkan lidahnya menjilat-jilat putingnya yang kini bulat basah menegang. Haechan bahkan baru sadar keberadaan Mark saat lelaki itu mencolek nenennya.

 

Haechan melirik Mark sedikit, sama sekali tak berkata apapun lalu kemudian lanjut menghisap-hisap putingnya mandiri. 

 

Haechan benar-benar tak peduli. Ia benar-benar menjilat putingnya seakan hanya ada dia dan putingnya di dunia ini. Bahkan saat tangan Mark dengan nakal mulai meremas nenennya yang sedang tak dihisap, Haechan hanya bisa melenguh, melirik Mark, memberikan Mark tatapan tajam dari mata biru lautnya.

 

“Hey, aku tidak mengganggu,” senyum Mark sambil meremas nenen Haechan. Tangkupan tangannya penuh dengan nenen Haechan. Perlahan ia remas nenen lembut itu, ujung jari jemarinya meremas-remas nenen itu begitu lembut. Puting menegang Haechan ia taruh di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, ia jepit, ia mainkan naik turun, ia putar-putar dengan jarinya. Mark dapat melihat picingan mata tajam Haechan perlahan melembut, menyayu, matanya tertutup rapat menikmati remasan Haechan. Bahkan Haechan sama sekali tak menjilat nenennya lagi, ia benar-benar terbuai nikmat pada remasan Mark.

 

Dan Mark pun lebih dari fokus untuk menikmati mainan barunya. 

 

Mark menatap nenen Haechan, menatap kagum dan takjub pada nenen yang super lembut ini. Nenen Haechan begitu indah, begitu lembut, begitu pas di tangannya. Apalagi putingnya–oh merah jambu … rona merah jambu warnanya, tegang nan lembut saat dipegang. Mark tak tau bahwa Haechan mempunyai payudara, dia sama sekali tak menyadarinya tadi. Tau begitu sudah sedari tadi Mark sibak saja kain putih yang melindungi badan polos Haechan. 

 

“Kok … bisa berubah?” Tanya Mark menatap badan Haechan dari nenennya sampai ujung ekornya seksama. Mark masih penasaran bagaimana Haechan bisa berubah begitu cepat di saat dia sudah sedari tadi memohon-mohon Haechan untuk berubah.

 

Haechan yang nenennya sedang diremas perlahan membuka matanya. Ia menatap Mark, menjawab, “karena Haechan stres!” rengutnya. “Haechan ingin kawin, Haechan harus kawin! Haechan ke pinggiran untuk kawin tapi Haechan malah dikurung! Haechan tidak boleh dikurung untuk kawin!” Haechan menjawab menggebu-gebu. Sorot matanya sedih menatap Mark, raut wajahnya kecewa di hadapan Mark. Bibir hatinya maju, keningnya mengkerut dalam.

 

Ah, Haechan sedih. Harta berharganya mana boleh sedih. Ya kan?

 

Jadi untuk menyenangkan hati Haechan, agar Haechan tak sedih, Mark pun menyeringai, “aku bisa kawin denganmu,” tawarnya. 

 


 

Haechan harus kawin. Dia harus kawin.

 

Haechan pergi ke perairan darat demi mencari pasangan kawin. Ini musim kawin, jadi Haechan harus kawin. Tapi bukannya pasangan kawin, Haechan malah ditangkap oleh manusia, dimasukkan ke dalam kandang, lalu berakhir lah ia tergenang di dalam bathub ini tak dikawini. 

 

Haechan frustasi. Ia sebal! Ia harus kawin atau tidak dia akan mati! Haechan harus kawin karena badannya sudah sakit-sakit. Oh sakitnya benar-benar seperti Haechan akan mati. Lihat tadi bagaimana Haechan kehabisan nafas, hampir mati sangking berdenyutnya lubang rahimnya karena tak ada yang memasuki. Sakitnya tak tertahankan! Jadi setelah merintih meminta tangannya agar dilepaskan, akhirnya Haechan pun bisa bermain dengan lubangnya, walaupun tetap saja rasanya kurang! Haechan ingin benar-benar dikawini!

 

Maka saat mendengar kata ‘kawin’ keluar dari mulut Mark, Haechan tak bisa untuk tak mengences. Ia mengangguk semangat, ia mengangguk gembira. Ia mengangguk tak sabaran sampai-sampai rambut ikal bulatnya bergoyang-goyang, sampai-sampai kedua nenen besarnya yang sedang ditangkup Mark memantul-mantul memercikkan air. 

 

“Mau … mau … Haechan mau kawin …!” Haechan berseru. Matanya membulat menatap Mark penuh binar. Tak hanya mata, mulutnya pun terbuka membulat, menampakkan seintip gigi depan kelincinya di balik bibir hati penuhnya. Alis matanya pun naik tinggi–Haechan tampak benar-benar semangat menanti tuntutannya. 

 

Haechan langsung mengerjap-ngerjap senang saat Mark mengelus rambutnya, berbisik, “kalau begitu rubah bentukmu kembali menjadi manusia. Lubangnya mau dikawini, kan?”

 

Tak ada yang mendebarkan bagi Haechan selain kawin. Dia sudah menantikan ini, dia ada untuk ini, dia terlahir untuk dikawini. Haechan harus kawin. Haechan sudah terlalu siap untuk diisi benih. Oh, memikirkannya saja sudah membuat Haechan pusing. Ia benar-benar mau dikawini, ia benar-benar mau dimasuki, diisi penuh, lalu tertidur lelap dengan benih yang berkembang di rahimnya

 

Haechan tak sabaran kau tau. Jadi mau tak mau, dengan berat hati, Mark harus menerima fakta bahwa tangannya digeser dari nenen Haechan. Tak hanya tangan sebenarnya, badannya juga didorong mundur oleh Haechan!

 

Mark baru saja ingin maju kembali mendekati Haechan memprotes “kenapa kau mendorongku?”, tapi cahaya terang benderang secepat kilat itu kembali muncul. Tiba-tiba saja muncul sampai-sampai pandangan Mark berbayang karena sinarnya.

 

Mark seharusnya komplain lagi. Dia hampir buta! Cahaya itu begitu terang lewat di depan mata telanjangnya sampai-sampai ia bisa buta. Tapi hey! Jikalau balasan dari kebutaan adalah pemandangan Haechan yang sudah berubah bentuk kembali menjadi manusia, telanjang terendam di dalam bathub–oh maka Mark lebih dari siap untuk buta sekarang–atau NANTI! Setelah dia bercinta dengan Haechan. 

 

Mata Mark yang masih berbayang-bayang bekas cahaya kini mau tak mau kembali melotot saat melihat Haechan mengangkang, memamerkan memek tembam warna merah jambunya, menangkup nenennya sendiri, lalu dengan pipi yang merah ia lirik-lirik Mark. “mau kawin,” begitu gumam-gumamnya.

 

Mark tak ingin melewatkan kesempatan. Dia sudah diundang, sudah berjanji pula untuk memberikan apa yang Haechan inginkan, jadi tanpa babibu, Mark langsung merayapkan jari jemarinya di lubang Haechan. Hangat, lembut, dan basah–jari jemarinya sampai bergetar mencoba menyingkap memek tembam Haechan demi mencari klitoris Haechan. Butuh kangkangan lebar dan sedikit korekan dengan jari Mark agar klitoris pink itu bisa tampak di depan matanya. Ah, begitu indah. Mark semakin lebih dekat melihat lubang Haechan dan lihatlah … lihatlah bagaimana lubang Haechan berkedut, menyambut kedatangan jarinya dengan begitu gembira.

 

Tak hanya lubangnya saja, Haechan di atas sana juga sudah melenguh-lenguh hebat. Bunyi-bunyi seperti “ah~” “eungghh …~” dan lenguhan gumaman kecil lainnya sudah terdengar sedari tadi bahkan saat Mark baru saja mengelus pelan memek Haechan. Maksudnya, ini baru jari, belum kebanggan Mark. Apa jadinya jika Haechan bertemu dengan kontolnya, menerima tiap sodokan kontolnya, dimanja oleh kontolnya? Oh, tangisannya pasti keras terdengar sampai-sampai sepenjuru desa bisa mendengarnya. Para warga desa yang sedang beristirahat menyantap makan malamnya akan menangis, akan berlutut haru mendengar nyanyian indah duyung bergema. Tentu tangisan Haechan yang sedang dibuahi akan terdengar indah, bukan?

 

Mark jadi tak sabar. Ia tak sabar ingin menyodok Haechan hingga ia menangis. Ia tak sabar melihat bagaimana lubang berkedut Haechan menerima dirinya, memeluk kontolnya, terisi penuh oleh spermanya. Kontolnya luar biasa sudah tak sabar. 

 

Jadi di depan Haechan yang sedang melenguh-lenguh memohon untuk disetubuhi, Mark pun menarik celana kainnya turun. Sangking sudah tak sabarannya ia, bahkan celana dalamnya pun juga ikut tertarik. 

 

“Mau~” 

 

Haechan sudah menggumamkan kata itu sedari tadi tapi kali ini kata-kata ‘mau’ penuh desah itu terdengar berbeda. Jika tadi kata ‘mau’ dan segala macam bentuk tuntutan untuk dibuahi itu terdengar hanya seperti gumaman desahan lalu saja, maka sekarang kata ‘mau’ itu terdengar seperti tuntutan mutlak, terdengar keras namun juga lapar. Oh, bahkan Haechan sampai duduk berdiri di dalam bathub-nya, air liurnya pun sampai menetes ngiler melihat burung besar Mark mencuat.

 

Lagian duyung yang sedang masuk masa kawin mana yang tidak akan ngiler jika disuguhi kontol basah seperti ini?

 

Badan Haechan rasanya merinding tak tertahankan saat Mark mengocok kontolnya, menurun naikkan tangannya di burung besar beruratnya. Oh Haechan tak berdaya–ia mau, ia mau itu! Ia mau memegang kontol itu, membungkusnya di tangannya, mengocoknya, merasakan ujung basahnya di dalam lubangnya. Berikan Haechan kontol itu!

 

“Kau mau ini?”

 

Mark menggoyang-goyangkan kontol kerasnya, menyodorkan burung itu kepada Haechan seakan itu mainan. 

 

Tanpa menjawab apapun, Haechan dengan cepat keluar dari bathub. Lantai kamar mandi seketika basah dari tetesan air bathub di badan Haechan, tepat di atas lantai yang basah itu lah Haechan berlutut, tepat di depan Mark itu lah Haechan genggam kontol Mark, ia remas pelan lalu perlahan ia kocok. 

 

Kini giliran Mark yang bergumam-gumam penuh desahan. Matanya terpejam, kepalanya bahkan mendongak sampai ke belakang. 

 

Haechan tentu tak puas hanya dengan kocokan. Maka ia gesek-gesekkan kepala kontol Mark ke puting menegangnya. Haechan menggerak-gerakkan dadanya membantu menggesek putingnya pada kontol Mark. Tak hanya satu puting, Haechan pun mengarahkan kontol Mark untuk bersapa dengan puting satunya. Ia gesekkan kontol itu ganti-gantian di nenennya sampai-sampai nenen montoknya itu becek dibasahi sperma.

 

Mark sedari tadi melihatnya–kau tau, matanya sudah tak terpejam saat sadar kontolnya sudah tak berada di dalam genggaman tangan Haechan–ia lihat bagaimana Haechan menyundul-nyundul nenen lembutnya dengan kepala kontolnya. Nenen Haechan begitu lembut sampai-sampai kontolnya tenggelam di belahan besar itu. Nikmatnya beda, kocokan dan gesekan puting Haechan pada kepala kontolnya nikmatnya terasa beda. Oh tapi tentu saja kepala kontolnya yang dimainkan lah yang paling nikmat menurut Mark—rasanya geli, rasanya kepala Mark pening. Bahkan kini Haechan telah menjepit burung Mark di belahan nenennya. Menaik turunkan nenennya perlahan, memantul-mantulkan nenennya seiring semakin cepatnya kocokannya. Di dalam kocokan Haechan itu pun kepala kontol tegang Mark menyembul-nyembul keluar, mengetuk-ngetuk dagu Haechan. Kontol Mark yang menyembul itu pun disambut baik oleh Haechan, ia membuka mulutnya, mengemut kontol itu di mulut hangatnya. 

 

Haechan sudah terlalu lapar, dia sedari tadi sudah ngiler, air liurnya sudah mentes-netes daritadi karena kontol Mark. Jadi tak salah jika ia dengan lahap menghisap pucuk burung Mark. Menyedotnya kuat hingga pipi tembamnya cekung, memainkan lidah basahanya di pucuk yang tak kalah basah itu. 

 

Haechan begitu menikmati santapannya sampai-sampai kocokan nenennya terhenti, ia benar-benar hanya fokus mengemut kontol Mark. “Umm …~” gumam-gumaman riang tersumpal kontol Mark pun terdengar. Kepalanya bahkan bergerak riang menikmati tiap rasa Mark di mulutnya–Haechan sangat sangat menikmati permainannya. 

 

Mark pun juga menikmatinya sampai-sampai rasanya ia hendak gila, ia hendak menengang, keluar memenuhi mulut Haechan.

 

Tapi bukan itu janji Mark pada Haechan. Ia berjanji untuk membuahi Haechan—bukan mulut, Haechan harus diisi tepat di lubangnya. 

 

Diiringi dengan tangis tak terima Haechan, Mark pun menarik keperjakaannya dari mulut Haechan, dari belahan dada Haechan. Ia mendorong Haechan hingga terbaring di atas lantai kamar mandi yang basah. “Kau harus dikawini,” begitu kata Mark menggoyang-goyangkan penis tegang memerah basahnya di dekat paha Haechan.

 

 Haechan yang baru saja ingin menangis kencang sebab dipisahkan oleh mainan barunya kini malah berbinar bahagia. Ia secara sukarela mengangkang lebar, memberikan Mark akses penuh ke memek tembamnya, membiarkan tangan kekar Mark mengocok-ngocok penis kecil sensitifnya. 

 

“Mau … kawin … masuk ….” 

 

Haechan sudah tak berdaya, bahkan baru burung kecilnya saja yang dimainkan oleh Mark tapi untuk berkata satu kalimat dengan benar pun ia sudah tak bisa. Bahkan kontol Mark baru menyenggol-nyenggol lubangnya pelan, tapi rasanya untuk membuka mata pun dia sudah tak bisa. Oh, Haechan hanya mau kawin, dia harus kawin, dia ingin kawin. Mark harus mengawininya sekarang juga.

 

“Akh!”

 

Lantas Haechan mendapatkan apa yang diinginkannya. Dadanya membujur, pinggulnya tersentak naik terkejut. Mark akhirnya memasukinya, membuka lebar lubangnya hingga rasanya Haechan pun tercekat. Haechan tampaknya sudah begitu basah jadi tanpa banyak usaha, Mark pun menggeram masuk sepenuhnya ke dalam lubang Haechan.

 

Dengan berpegang pada penis Haechan yang sudah menegang, Mark pun perlahan mengeluarkan penis besarnya. Kemudian saat akhirnya hanya sisa kepala kontolnya yang masih terbenam di lipatan tembam memek Haechan, Mark pun dengan kuat menghantam lubang Haechan, memasukkan seluruh kontolnya kembali hingga mentok. 

 

Bunyi basah kulit yang beradu terdengar terus-terusan setelahnya. Mark terus menggenjot Haechan, membuat Haechan tersentak-sentak tak berdaya bahkan hanya untuk mendesah. Oh salah rupanya perkiraan Mark—duyung itu tak menangis kencang seperti harapannya, ya dia menangis, tapi tak ada satu pun suara yang keluar–Haechan sama sekali sudah tak sanggup untuk bersuara.

 

Yang Haechan lakukan hanya mengerut, terpejam, menggelinjang saat rasanya tubrukan Mark pada dinding rahimnya terasa begitu nikmat, melenguh pelan saat rasanya remasan Mark pada penis kecilnya terlalu erat. 

 

Dinginnya lantai basah di bawah punggungnya bukan sesuatu yang mengganggu untuk Haechan. Dia suka basah, dia suka dibasahi. Jadi dadanya terbujur maju gembira saat lidah basah Mark menyapa putingnya, menjilati putingnya seakan tak ada aba-aba. 

 

Bunyi hisapan keras bergaung terus-terusan dengan bunyi sodokan Mark yang perlahan terdengar acak. Mark sampai di titik dimana gerakannya mulai terasa acak, di titik dimana kontolnya mulai keluar-keluar sudah tak terarah lagi jalan masuknya di mana. Bak tak peduli dengan lubang berkedut Haechan yang merekah sempurna menunggu kontolnya masuk kembali, Mark masih saja terus fokus menjilati nenen besar Haechan. Lidahnya melingkar-lingkar di puting lembut bulat Haechan, menyenggol-nyenggol puting itu, menggelitiknya sampai Haechan yang tadi lemah tak berdaya menggeram tak tahan.

 

“Masuk … masuk ….” dengan sisa-sisa tenaganya, Haechan meronta di bawah Mark, ia meminta sambil berusaha menjangkau lubangnya, membuka lebar lubangnya lalu menggesek-gesekkan lubang terbuka itu dengan kemaluan Mark. 

 

Mark mengangkat kepalanya dari isapan nenennya. Ia terkekeh melihat Haechan yang meringis minta disodok. Jadi demi menghilangkan wajah meringis harta berharganya, Mark pun menuruti apa kehendak Haechan. Dia ingin dimasuki? Oh, tak sampai sedetik kemudian penis Mark sudah masuk sempurna ke dalam lubang beceknya. Haechan mau digenjot lagi? Jangan khawatir, bahkan lebih kuat daritadi, Mark kembali keluar-masuk memek Haechan, mengumandangkan bunyi basah lagi di kamar mandi ini. Haechan juga ingin dihisap-hisap lagi nenennya? Tentu, siapa yang bisa menolak sodoran nenen Haechan? Mark dengan senang hati kembali membungkuk menjilati nenen Haechan, lidahnya kembali bertemu dengan puting Haechan, kembali bermain-main melingkar-lingkar di sana. Haechan ingin diisi penuh rahimnya? Disemproti peju di sepenjuru lubangnya? Ah, tenang saja, semakin mengetat lubang Haechan menggenggam kontol Mark maka semakin cepat pula Haechan akan dikawini.

 

Maka tak tanggung-tanggung, lubang Haechan mengetat, begitu mengetat sampai-sampai Mark seakan terhenti nafasnya. Hanya butuh beberapa kali tubrukan lagi … hanya butuh beberapa remasan lagi sebelum akhirnya ia akan keluar, sebelum akhirnya Haechan menggelinjang. 

 

Tak tau saja Mark bahwa Haechan entah berapa kali keluar sedari tadi. Ia keluar berkali-kali sampai tak kuat bersuara lagi. Haechan hanya bisa menutup mata, terkulai lemas menerima tiap sodokan Mark. 

 

Mark rasanya sudah sedari tadi menahan pelepasannya, rasanya sudah sedari tadi ia hampir tercekat lemah diremas-remas Haechan. Jadi bergerak kuat di sodokan terakhirnya, Mark pun akhirnya menggeram.

 

“Ah! Haechan!” 

 

Haechan yang sudah berkali-kali keluar akhirnya bisa melenguh riang saat merasakan rahimnya hangat, rahimnya basah diisi penuh oleh benih-benih Mark.

 

Oh Haechan telah kawin. Ia dikiwini, ia akhirnya dibuahi!

 

Haechan menangis, kali ini tangisan senang, tangisan haru. Ia bisa melihat di bawah sana Mark masih berkutat dengan lubangnya. Mark keluarkan kontolnya dari memek Echan, mendatangkan lenguhan Haechan berkumdang di kamar mandi hangat ini. Lalu kemudian ia tepuk memek tembam basah Haechan dengan kontolnya, ia pastikan memek itu menelan seluruh pejunya lalu sesaat kemudian Mark menjatuhkan dirinya, terkulai di atas nenen lembut Haechan.

 

Tak ada yang bisa Haechan dengar setelahnya selain dengkuran Sheriff muda kelelahan ini. Haechan pun mengecup pucuk kepala Mark, menghembuskan nyanyi-nyanyian duyung kepada lelaki yang terlelap itu.


 

Sheriff mereka telah menjadi gila!

 

Pagi kemarin dia membuat keributan di sepenjuru desa. Dia meraung-raung keras berkeliling desa, “Dimana … dimana … dimana ….” begitu raungan yang ia ulangi terus menerus. Matanya terpejam, jalannya tertatih-tatih, ia berjalan seakan ia tak tau arah, ia berjalan sambil mengulurkan tangan mencoba meraba-raba—ia berjalan seakan ia buta! Oh bahkan sekumpulan anak kecil yang bermain di tengah desa langsung berlari ketakutan saat Sheriff Mark lewat, anak-anak kecil itu masuk ke dalam rumah lalu mengadu ke ibu mereka “Mata Sheriff berdarah!” 

 

Para orangtua secepat kilat keluar dari rumah hendak memeriksa, tapi Sheriff mereka itu sudah duluan menghilang. Padahal sedari tadi dia ada berkeliling di sini, suara rintihannya pun keras terdengar–bahkan sedari tadi orang-orang banyak berkumpul di luar dan satu pun tak ada yang menyadari kemana Sheriff mereka pergi.

 

Seluruh desa khawatir, mereka berlari-lari memencar mencari sang Sheriff–tapi nihil! Lalu saat dua orang anak buah sang Sheriff akhirnya keluar dari rumah mereka, para warga desa pun langsung mengerubungi dua lelaki muda yang kebingungan itu. “Sheriff Mark hilang! Kau tau ke mana dia?” Namun pertanyaan itu sama sekali tak terjawab, kedua pemuda itu malah semakin kebingungan. 

 

“Sheriff Mark sepertinya buta … dia meraung-raung begitu kencang–bahkan dari tadi malam! Oh, lebih seramnya lagi, kemarin malam aku mendengar ada suara seperti nyanyian duyung … apa Sheriff kita dikutuk duyung …?”

 

Dua orang anak remaja terdengar sedang menggosip di belakang kerumunan, namun sayang, suara mereka terlalu keras sampai-sampai seluruh kerumunan dapat mendengar. Semua orang dewasa sontak menoleh kepada remaj-remaja itu, menegur mereka, memberikan remaja itu pandangan tajam.

 

Tapi berbeda untuk kedua anak buah Mark, mereka panik … mereka melotot takut.

 

Sama seperti bos mereka yang tiba-tiba saja menghilang, kedua buah anak Mark itu langsung saja berlari menjauh dari kerumunan. Hal pertama yang mereka lakukan adalah mendobrak rumah Mark, dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan rumah Sheriff itu dalam keadaan berantakan, lendir dimana-mana, dan yang paling mengganggu adalah bau amis–rumah Mark sepenuhnya berbau amis.

 

Menahan nafas, kedua anak buah Mark itu masuk ke dalam rumah Mark. Tak perlu jauh-jauh memeriksa rumah hingga masuk ke setiap sudut, hanya melangkahkan satu kaki ke dalam rumah itu saja, kedua anak buah Mark itu langsung melotot, berlari cepat saat melihat sesuatu teronggok di tengah-tengah ruang rumah Mark.



Itu adalah sebuah kandang. Kandang duyung. Kandang duyung kemarin itu ada di sana dan kosong. 

 

Duyung itu telah menghilang! Duyung itu memantrai Mark, membuat Mark pergi sendiri seakan ia orang gila. Mark telah hilang dibawa sang duyung!

 

Lebih cepat dari lari mereka yang semalam, kedua anak buah Mark itu pun pergi, pergi menuju tempat dimana semuanya bermula.

 

Secepat apapun berlari, mereka tetap telah terlambat. 

 

Di teluk perairan sana, tepat dimana semuanya bermula, tepat dimana mereka menarik paksa sang putra duyung–di sana lah Sheriff mereka ditemukan mengambang, terbujur kaku, sama sekali tak bernyawa.

 

Sheriff mereka dikutuk. Benar-benar dikutuk. Duyung itu benar-benar membawanya, membawanya ke lautan, tenggelam hilang jiwanya di samudra sana. Ah, rupanya begini akhir kisah hidup Sheriff mereka.