Actions

Work Header

What we’re not supposed to tell

Summary:

To everyone’s knowledge, Wonwoo and Soonyoung despise each other so badly.

Fun fact: they don’t.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

No, I mean what the fuck were you thin—fuck, fuck, yeah, just like that… ngh, oh my God. Feeling so good,” racau Soonyoung saat merasakan ujung penisnya bergesekan dengan telapak tangan Wonwoo dalam tempo yang berantakan.

Nikmat yang menjalar ke sekujur tubuhnya membuatnya tanpa sadar melebarkan kedua tungkainya, seolah nalurinya menginginkan Wonwoo untuk terus memanjakan penisnya seperti yang sudah ia lakukan selama sepuluh menit belakangan.

What is it this time?” tanya Wonwoo, sebal. “You’ve been such a bitch ever since we got back into your room, so you better have some good explanation for it or else I’m going back to mine right now.

Then go, asshole. I can please myself just fine without your help.

Sure you can, but you don’t want to.” Wonwoo menggoda kepala penis Soonyoung dengan bantalan ibu jarinya—gestur tersebut membuat tubuh lawan mainnya gemetar hebat. Cairan praejakulasi Soonyoung lantas merembes keluar melumuri jemari kurusnya yang masih bergerak naik turun memijat penis dalam genggamannya. “You want me to please you, Soonyoung.

I so hate you and your conceited ass.

No, you don’t,” sahut Wonwoo. Ibu jarinya yang masih berlumuran putih milik Soonyoung kini bergerak mengusap bibir yang sedari tadi mengeluarkan umpat yang ditujukan kepadanya. “You just hate that I’m always right.

Shut the fuck up for once, goddamit Jeon,” ujar Soonyoung sebelum meraih kerah kaus putih yang Wonwoo kenakan, kemudian menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang terkesan tergesa-gesa dan ceroboh; tautan bibir tersebut sempat terputus selama sepersekian sekon saat Wonwoo melepaskan kacamatanya yang dirasa mengganggu.

Lanang dengan figur yang lebih mungil lantas mengalungkan kedua tangannya di leher Wonwoo, sementara jemarinya meremas pelan surai milik si lawan main dalam upaya menyalurkan hasrat yang kian membuncah di dalam dirinya. Manis bibir Wonwoo ia sesap dan kulum secara bergantian, seolah bibir itu adalah permen dengan cita rasa paling menyenangkan yang pernah ia cicipi.

Wonwoo, di sisi lain, masih konsisten memanjakan selatan Soonyoung. Tempo kocokan tangannya ia percepat seraya dirinya mengambil alih dominasi atas ciuman yang dirinya dan Soonyoung bagi.

Wanna tell me what’s been pissing you off yet?” tanya Wonwoo sesaat setelah memutus tautan bibir mereka berdua, kemudian menyeringai tatkala merasakan pinggul Soonyoung beberapa kali terangkat dalam usahanya mengejar pelepasan; hendak memastikan agar penisnya mendapatkan friksi lebih banyak dari Wonwoo.

You.” Kedua lengan Soonyoung masih setia menjaga figur prianya agar tetap melekat pada dirinya. “Why did you even say that during our group dinner earlier?

Say what? Tell me precisely.

That I have eight pack abs? No one needed to know such ridicu—fuck, mmmnh, Wonu… can’t.” Soonyoung kembali meracau saat Wonwoo meningkatkan intensitas godaannya. “Wanna come… please… please, Wonu.

What about it? I didn’t lie though, did I? You do have them.” Wonwoo meraba abdomen Soonyoung dengan telapak tangannya, menelusuri garis-garis tegas di sana dengan ujung jemarinya. “See,” imbuhnya, dengan sadar dan sengaja mengabaikan permohonan Soonyoung barusan.

Need to come first… close…

Yeah? Beg again, then.

Please! Please, pretty please… Wonu! Please…” mohon Soonyoung sesuai instruksi, dan ego Wonwoo melunak.

Cairan pelumas buatan sekali lagi Wonwoo teteskan tepat di ujung penis Soonyoung yang kini merah padam. Wira yang lebih muda dapat merasakan celananya semakin menyempit saat netranya menyaksikan bagaimana cairan bening tersebut perlahan meleleh mengikuti gravitasi, seolah menjilat setiap inci kepunyaan Soonyoung—beberapa tetes bahkan sudah menodai seprai.

Selatan Soonyoung kini kembali berada dalam genggaman tangan besar Wonwoo, dan tidak butuh waktu lama hingga Soonyoung lagi-lagi dibuat mendesah tak karuan oleh ulahnya.

So beautiful, only for me,” bisik Wonwoo di telinga si manis. “Only I get to see you in this state.

Yes, yes! Only you, Wonu. God.

Dengan stimulasi di beberapa titik nikmatnya—Wonwoo menghujani leher dan bahu Soonyoung yang tidak tertutup kaus dengan ciuman seraya menjaga tempo kocokannya di bawah sana—dan suara Wonwoo yang entah mengapa terdengar lebih sensual dari biasanya, Soonyoung pada akhirnya mencapai putihnya.

Dada Soonyoung masih naik turun—dirinya hendak memasok sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya—saat Wonwoo menggulir ujung sweter kuning yang ia kenakan, kemudian menginstruksikan si pemilik untuk menggigit kain tersebut agar tubuh bagian atasnya tetap terekspos.

Why are you so ashamed of these anyway?” tanya Wonwoo—merujuk pada otot perut Soonyoung—seraya menjilat bersih cairan putih yang melekat pada setiap ruas jemarinya.

It’s not that,” jawab Soonyoung dengan terengah. “You’re just not supposed to say such thing about me, dumbass. Everyone in this dormitory knows we despise each other so fucking badly.

So?

So it doesn’t make sense that you know I own eight pack abs when we never even hit the gym together,” gumam Soonyoung, masih berupaya mengatur kembali napasnya. “It’s just not the kind of information you’re supposed to know about your enemy, let alone share it to others.

You think so?

Soonyoung memutar kedua bola matanya jengah. “Quit playing dumb, will ya?

Alright, let me get this straight. So I’m not allowed to tell our friends that you own these,” tutur Wonwoo seraya mengusap bagian abdomen laki-laki di hadapannya, kemudian kembali merunduk untuk menyejajarkan bibirnya dengan telinga si lawan bicara. “But you’re allowed to tell Junhui and Jihoon that my voice is nice to listen to, especially at night?

Of cou—wait, what?

You heard me, smartass.

Dengan wajah yang memerah, Soonyoung sekuat tenaga berupaya mendorong figur Wonwoo yang hingga beberapa detik lalu masih ia rengkuh. “I did not say tha—God, Jeon. Stop laughing and get off me!

But you can listen to my voice better in this position though?

 Jeon insufferable Wonwoo, I swear to God!

Notes:

this story has been uploaded on medium (and twitter). feel free to send feedbacks through tellonym: 615studio 🖤