Actions

Work Header

tidur dan jatuh di antara bunga-bunga; tentang jimin dan mimpi-mimpinya

Summary:

Jimin harap, Jungkook bisa berhenti muncul di mimpinya.

Notes:

Diambil dari mimpi-mimpiku sendiri.
Ditulis karena ingin nulis aja.
Diposting tanpa beta read, jadi maafkan kalau ada typo atau error lainnya.

Enjoy reading!

Work Text:

Bisa tidak, kamu berhenti datang ke mimpiku?

 

 


2023

Bagaimana, sih, caranya mengintip alam bawah sadar? Kalau pembaca tahu, barangkali mau berbaik hati membisiki Jimin. Sebab ini sudah keempat kalinya sepanjang sepuluh tahun perpisahan (yang tentu saja tidak singkat) Jimin memimpikan Jungkook.

Kalau ditanya kenapa, Jimin sendiri tidak bisa menjawab. Awalnya, Jimin pikir alam bawah sadarnya secara tidak sengaja memikirkan Jungkook. Semua berawal dari persahabatan yang terjalin antara dirinya dan Min Yoongi — sahabat karib Jungkook sejak SMP — di bangku kuliah. Percakapan mereka entah bagaimana kerap kali bersilangan dengan nama mantan pacar Jimin yang sulit dia lupakan itu, lalu berakhir pada munculnya Jungkook di mimpi Jimin malam harinya. Normal saja, Jimin sendiri belum sepenuhnya move on , kok, waktu itu. Mungkin perasaannya yang masih membekas bermanifestasi pada bentuk Jungkook di dalam bunga tidur.

Tapi apa benar karena itu? Jimin tidak lagi merasa yakin.

.

mimpi pertama; ingatan yang hampir hilang

2017

Setelah sepanjang sore berbincang dengan Yoongi di kedai kopi pasaran di dekat kampus, Jimin pulang ke kamar sewanya dengan perasaan yang sedikit gamang. Sepertinya keputusan untuk berteman dengan sahabat dari mantan pacar adalah hal yang salah; atau setidaknya begitulah bagi Jimin. Rasanya tidak pernah satu kali pun Yoongi melewatkan menyebut Jungkook dalam sesi curahan hati mereka yang kadang bisa berlangsung berjam-jam lamanya. Dan sekalipun Jimin dengan keras berkata bahwa dia tidak peduli pada Jungkook dan kehidupannya sekarang, Jimin merasa hatinya tidak pernah berhenti menunggu laki-laki itu.

Aneh, ya? Padahal mereka sudah berpisah hampir empat tahun lamanya. Entah apakah Jungkook yang sampai tahun lalu masih menanggapi pesan rindu yang Jimin kirim dengan canda tawa adalah Jungkook yang dia cintai empat tahun yang lalu? Jimin ingin sekali percaya bahwa Jungkook akan selalu sama. Tapi bukankah manusia berubah dengan cepat? Lantas atas dasar apa Jimin pikir Jungkook berbeda dari manusia lainnya?

Malam itu, Jungkook datang ke mimpinya dalam tubuh anak SMA. Seragam sekolahnya basah diguyur hujan, dan jaket yang selalu dia bawa setiap hari dipinjamkan pada Jimin. Mereka berteduh di sebuah kedai reparasi alat elektronik yang sudah tutup. Sepatu Jimin pasti basah, tapi entah kenapa yang Jimin rasakan saat itu hanya panas tubuh Jungkook dan wangi apel yang datang dari pelembut pakaiannya.

“Udah kubilang kamu enggak perlu jemput, Jungkook. Padahal harusnya kamu udah sampai rumah dan istirahat,” keluh Jimin, sedikit merasa tak enak.

“Aku ‘kan mau antar kamu pulang biar bisa pastiin kamu selamat sampai depan rumah.” Jungkook membalas, terdengar merajuk. “Lagi pula ini belum terlalu malam, kok. Belakangan kamu sibuk paruh waktu jadi aku kangen terus.”

Wah, siapa orang ini? Jungkook tidak mungkin secara langsung (dan terang-terangan) mengaku kalau dia rindu pada Jimin. Jungkook yang Jimin sukai dari tingkat dua sekolah menegah atas tidak mungkin melakukan itu di luar pesan pribadi. Laki-laki yang tidak pernah bisa membahasakan perasaan secara verba itu pasti habis kerasukan.

Andai saja hal ini terjadi di dunia nyata, mungkin Jimin akan langsung memeriksa kalau-kalau Jungkook ditempeli hantu perempuan yang diam di toilet sekolah (meski besar kemungkinan Jimin untuk kabur kalau memang benar Jungkook kerasukan). Tapi ini mimpi (meski Jimin belum sadar), dan segala kejanggalan dalam sifat Jungkook mendadak menjadi hal lazim yang Jimin terima begitu saja.

“Kalau begitu malam lusa, aku yang antar kamu pulang biar adil.”

Jungkook tidak menjawab. Dia hanya tertawa. Jimin merasa hatinya mendadak sakit melihat tawa yang jarang sekali laki-laki itu tunjukkan. Tawa Jungkook adalah hal kedua yang paling Jimin suka selain ayah dan ibunya. Sewaktu mata laki-laki itu menyipit, hidungnya mengerut, dan gigi-giginya tampak semua, Jimin merasa lengkap.

Lalu mimpi itu berakhir.

.

Bangun dari mimpi itu, Jimin tidak bisa berhenti memikirkan Jungkook. Sewaktu bangun, dia merasa kosong; seolah ada bagian hilang dari hidupnya yang tidak bisa Jimin jelaskan apa. Dia hanya berbaring di atas ranjang, memandang pada langit-langit kamar yang warnanya tidak menarik, dan memikirkan Jungkook.

Biasanya, Jimin akan dengan mudah melupakan mimpi. Tapi entah kenapa mimpinya semalam bercokol dengan keras kepala di dalam memori. Dia ingat malam itu, empat tahun silam, sewaktu Jungkook mengantarnya pulang selepas les dan mereka berakhir terjebak bersama di depan sebuah toko reparasi elektronik yang sudah tutup. Jungkook tidak banyak berkata manis, dia memang bukan orang yang pandai bicara. Tapi perhatian-perhatian kecil yang datang dari laki-laki itu tidak pernah gagal membuat Jimin jatuh cinta.

Di minggu-minggu terakhir sekolah, sewaktu mereka harus tetap hadir untuk persiapan CSAT, Jungkook rela menjemput Jimin yang kena cacar air ke rumah dan membawakan minuman hangat buatan sendiri. Jungkook juga kerap datang ke kafe internet kecil tempat Jimin bekerja paruh waktu dan memberinya bekal makan siang. Jungkook menemani Jimin yang kesulitan tidur karena ditinggal sendirian di rumah sewaktu listrik padam. Jungkook juga ada bersama Jimin sewaktu mereka berdua harap-harap cemas menunggu hasil CSAT.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memberi kesan sehebat Jungkook di hidup Jimin.

Untuk beberapa menit yang singkat, setelah berkontemplasi dengan diri sendiri, Jimin berpikir barangkali ini adalah pertanda dari semesta. Mungkin dunia sedang memberinya sinyal bahwa kesempatan untuk bersama dengan Jungkook lagi bukannya betul-betul kandas. Jimin mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan dramatis di balik mimpi semalam; sebelum akhirnya menyadarkan diri sendiri bahwa mimpi datang dari alam bawah sadar. Sepertinya bicara dengan Yoongi kemarin membuat otak Jimin secara tidak sengaja terus-terusan berpikir soal Jungkook.

Jimin memutuskan untuk berhenti memikirkan mimpi. Tugas akhirnya menunggu diselesaikan, dan Jimin tidak punya cukup waktu luang untuk mencari kejelasan perihal apakah Jungkook masih berharap padanya juga atau tidak. Dia memutuskan akan lupa, meski jauh di dalam hatinya Jimin tahu dia berharap Jungkook punya mimpi yang sama.

.

mimpi kedua; melodi ingatan

2019

Mimpi kedua datang sewaktu Jimin mengunjungi sebuah kedai makanan yang secara tidak sengaja berada dekat rumah Jungkook. Taehyung menyeretnya dengan paksa, dan sepanjang jalan Jimin berdoa dengan khusuk di dalam hati agar semesta tidak usil dan mempertemukannya dengan Jungkook.

“Bukannya kamu seneng, ya, kalau ketemu dia?” Taehyung mengejek, menyendok besar-besar es krim stoberi miliknya yang dipenuhi taburan cokelat putih parut. “Kamu ‘kan sudah enggak ketemu dia bertahun-tahun. Memangnya enggak kepingin tahu dia sekarang kayak apa?”

“Gemukan dikit, aku lihat di Facebook.”

Taehyung mendengus. “Kurang-kurangin deh kebiasaanmu stalking mantan itu. Makanya sampai sekarang gagal terus tiap mau move on .”

“Sembarangan,” maki Jimin sembari melotot. “Aku udah pacaran sama Jeongyeon kurang move on apa?”

Lagi, Taehyung mendengus. “Pacaran sama orang lain tapi tetep suka keinget mantan emang dihitung move on, ya?”

“Denger ya, Taehyung.” Jimin menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Masih keinget mantan tuh bukan berarti belum move on, kali. Aku tuh udah sampai di fase di mana aku enggak menampik kalau punya masa lalu sama dia. Dan bahwa aku pernah suka sama orang sedalam itu sampai apa pun yang dia lakuin ke aku rasanya kayak manis dan bahagia aja. But that’s it. Aku udah enggak ngarep dia bakal balik ke aku, atau semacamnya.”

“Ya, ya, ya. Terserah kamu, deh, mau nyebut itu apa,” kata Taehyung, malas berdebat sekalipun masih berbeda pendapat.

Mereka pulang setelah duduk selama dua jam.

.

Kalau boleh jujur, Jimin jarang bermimpi. Dia sering kali bangga pada betapa berkualitas tidur malamnya sampai-sampai Jimin tidak pernah terganggu oleh mimpi. Bermimpi pun kebanyakan hanya diisi hal-hal sederhana. Berbeda dengan Taehyung dan mimpi-mimpi anehnya (kadang Taehyung bermimpi jadi benda mati seperti flash disk atau meja kantor), mimpi Jimin yang jarang mampir selalu damai dan mudah dilupakan.

Malam itu, Jungkook tidak mampir ke mimpinya terlalu lama. Yang Jimin lihat hanya punggung seseorang, dan dua orang lelaki yang duduk di hadapannya. Yoongi duduk di atas sofa memangku sebuah gitar, dan Jimin bisa melihat keseluruhan adegan seolah dia sedang melayang di luar jendela. Jemari Yoongi memetik senar dengan syahdu, sesekali dia akan menutup mata. Punggungnya disirami cahaya matahari, entah apakah itu pagi atau siang sebab Jimin tidak begitu memperhatikan waktu.

Jimin tidak ingat lagu apa yang Yoongi bawakan, atau pada fakta bahwa lelaki itu tidak begitu gemar bernyanyi (biasanya dia hanya senang mengiringi saja dengan gitar). Yang dia ingat hanyalah senyum bahagia Jungkook dan tawa Yoongi setiap kali lagu-lagu yang mereka bawakan mencapai klimaks. Rasanya hangat, dan Jimin berharap ia bisa tinggal di dalam mimpi itu lebih lama alih-alih bangun beberapa detik kemudian.

.

mimpi ketiga; hujan dan tawa

2022

Jimin berani sumpah dia tidak sedang memikirkan Jungkook saat mimpi ketiga datang tanpa diduga. Entah bagaimana dimulainya, Jimin tiba-tiba berada di luar kedai makanan di bawah guyuran gerimis. Ayahnya sedang memesan seporsi tteokbokki pedas ukuran besar, sundae , dan beberapa gorengan sewaktu Jungkook datang — lagi-lagi dengan senyuman lebar yang tampak asing.

Sepanjang hubungan mereka yang singkat (yang meski berlangsung sebentar, berhasil membuat Jimin gagal move on bertahun-tahun), Jungkook dan ayah Jimin tidak pernah satu kali pun bertatap muka. Ayah Jimin bekerja di luar kota dan pulang setiap satu kali per dua minggu, dan Jimin biasanya akan dengan gesit menghindar setiap kali orang-orang di rumahnya bertanya soal apakah dia punya pacar atau tidak (sebab malas disoraki). Jadi kemunculan Jungkook di mimpinya malam itu, bersama keramah tamahan yang tidak familier, juga keakraban yang mendadak terjalin dengan ayahnya membuat Jimin merasa bingung.

“Paman gimana kabarnya? Kemarin saya dengar Paman sakit, ya?” Jungkook berbasa-basi, sesekali melirik Jimin dengan senyuman di wajah yang tak jua luntur.

Ayah tertawa. “Baik-baik aja kok, Jung. Cuma kecapekan sedikit, kemarin. Kelamaan mancing sama teman-teman kerja,” kelakar lelaki tua itu. “Kak, kamu tungguin gorengannya mateng, ya? Ayah mau ajak Jungkook ngobrol dulu di kedai minum sebelah sana,” sambung ayahnya, menunjuk sebuah kedai minuman di ujung jalan.

Jimin belum sempat memberi jawaban sewaktu Jungkook diseret ayah dengan sedikit memaksa. Dia menatap Jimin sambil tersenyum kikuk sebelum mengikuti langkah ayah dengan patuh. Jimin tidak punya cukup waktu untuk memproses segalanya saat adegan berganti dengan cepat.

Dia duduk di depan Jungkook sambil memegang plastik berisi makanan yang ayah pesan tadi. Ayah bertanya banyak hal pada Jungkook seolah mereka berdua adalah kawan lama yang tidak bertukar kabar bertahun-tahun. Dan laki-laki yang berstatus mantan pacar Jimin itu menjawab dengan sabar satu demi satu pertanyaan ayah yang kadang Jimin rasa terlalu personal.

Lewat percakapan itu, Jimin jadi tahu Jungkook bekerja untuk sebuah balai penelitian air tanah di Daejeon. Kulitnya sudah sedikit menggelap sejak terakhir kali mereka bertemu sejak Jungkook banyak mengambil pekerjaan lapangan. Ayahnya sudah pensiun dan kakak laki-lakinya bekerja dengan baik sebagai pegawai swasta di Seoul. Ayah Jimin bahkan memberikan ucapan belasungkawa atas kepergian ibu Jungkook, berkata ia ingin melayat tapi tak sempat. Jimin bahkan tidak yakin dia pernah bercerita pada ayah soal kematian ibu Jungkook, tapi toh Jimin tidak lagi ambil pusing.

“Kamu harus liat muka Jimin sewaktu tulis surat buat kamu. Panik banget, kayak enggak ada hari esok aja. Paman waktu itu yakin betul dia enggak akan berani kasih suratnya ke kamu. Eh, rupanya anak ini punya nyali juga.”

Jimin mencebik. “Bisa gak, Ayah berhenti umbar-umbar aibku ke orang lain?”

“Bukan orang lain , Jimin. Tapi mantan calon menantu , yang benar,” kata ayah penuh canda. “Kapan-kapan main ke rumah. Ibu Jimin masakannya makin enak, kamu harus coba. Ikutlah sama Yoongi dan Taehyung kalau mereka mampir. Aku lebih cocok ngobrol bola sama kamu dibanding mereka.”

Jungkook tergelak. “Oke, Paman. Lain kali aku usahakan mampir.”

Ayah bangkit dari duduk, berpamitan pada Jungkook sambil berkali-kali meminta lelaki itu untuk datang ke rumah (membuat Jimin merasa malu). Lelaki paruh baya itu lalu menepuk bahu Jimin dua kali sebelum meninggalkan Jimin tanpa menoleh lagi, membiarkan anaknya dan mantan pacar anaknya terjebak atmosfer canggung luar biasa.

“Ayah kamu kayaknya suka aku, deh,” kata Jungkook dengan senyuman miringnya yang khas. “Kamu masih suka, gak?”

Jimin termangu, lalu mimpi itu berhenti sebelum dia sempat menjawab apa pun.

.

Beberapa Jam Sebelumnya….

Jimin selesai menulis. Dia memandang laman blognya selama beberapa menit sebelum menutup jendela aplikasi. Rasanya aneh menulis surat untuk orang yang tidak ada. Tapi setidaknya Jimin sedikit merasa lega. Dia harus menulis untuk menyalurkan emosi, dan meski cara itu tidak melulu berhasil, Jimin tidak pernah menyesali hasil karyanya sama sekali.

Jimin suka menulis surat. Dia suka membaca laman blog orang lain yang tampak seperti sebuah surat. Dia suka memainkan kata, membuat hal-hal sederhana menjadi kepingan-kepingan romantis dengan sedikit bumbu drama. Dia senang membuat orang lain hanyut dalam perasaannya yang kerap sulit Jimin terjemahkan, untuk kemudian mengajak pembacanya sampai pada kesimpulan bersama-sama. Jimin suka menulis surat, dan meski surat-surat yang kini Jimin tulis diperuntukkan bagi orang yang tidak ada, tulisan-tulisannya pernah punya pemilik. Pemilik yang tidak pernah membaca mereka.

Ah, surat cinta yang aku tulis buat Jungkook masih disimpan tidak, ya?

.

mimpi terakhir; jejak yang tidak pernah hilang

2023

“Jongin reach out ke aku lagi,” kata Jimin, memulai percakapan dengan Taehyung di depan dua gelas kopi susu. “Tanya-tanya kabar, biasa. Meski akhirnya dia cuma mau flexing kalau sudah jadi koreografer paling populer di Korea Selatan.”

“Kenapa sih mantan pacar kamu yang satu itu cuma banggain diri sendiri. Aneh banget. Aku malah lebih salut sama kamu karena sabar ngadepin dia.”

Jimin mendengus. “Gak mau keliatan sinis aja, aku tuh. Aslinya udah males.”

Taehyung terkekeh. “Udah, deketin lagi aja. Pas banget ayahmu nanya-nanya terus kapan kamu punya pacar lagi, kan? Ibumu juga tanya-tanya terus kalau nikahan yang legal bisa di negara mana sama aku, padahal aku bukan gay .”

“Enak aja, aku gak mau kalau sama dia.” Jimin keras menampik. “Maaf, ya. Ibu tanya-tanya terus juga ke aku, mungkin karena pengin lihat aku nikah. Awal-awal ‘kan agak sulit buat ibu nerima kalau dia gak akan dapet cucu dari aku.”

“Gak masalah, kok. Sejak kamu came out ke aku, aku juga jadi iseng-iseng cari tahu masalah pernikahan gay dan aturan hukumnya,” aku Taehyung. “Aku juga kasian sih, sama kamu, kalau kamu sama Jongin. Sifat kalian beda banget.” Dia menambahkan.

“Makanya. Mungkin karena latar belakang kita berdua bukan dari keluarga yang berkecukupan, deh? Makanya Jongin pengin aku sebagai orang yang dulu tau keadaan keluarganya untuk mengakui kalau dia sekarang udah financially stable .”

Taehyung mengangguk-angguk setuju. “Kalau sama Jongin, kamu gak mau. Kalau sama Jungkook, gimana?”

“Mending aku sama Jungkook, lah, dari pada sama Jongin,” jawab Jimin langsung.

Mereka berdua tertawa.

.

Malam itu, Jungkook datang lagi ke dalam mimpi. Rambutnya panjang sebahu, diikat menjadi man bun kecil menyisakan beberapa helai menutupi leher. Dia memakai kemeja hitam polos berlengan pendek, dengan celana kargo warna senada. Jumlah tindikannya bertambah di telinga kanan, dan Jimin penasaran bagaimana rasanya memegang anting-anting yang memenuhi daun telinga itu.

Mereka berdiri di tempat yang asing, pada sebuah halaman dari rumah yang Jimin tak tahu milik siapa. Cat dindingnya putih, tapi setelah diperhatikan lebih jauh, tidak ada apa pun di sekitar mereka selain sebuah kursi kayu dan dinding putih yang tanpa batas.

“Kamu cantik kalau lagi bingung begitu,” kata Jungkook, suaranya terdengar merdu. Rasanya sudah lama sekali sejak Jimin mendengar Jungkook bicara, tapi entah kenapa Jimin tak pernah lupa warna suaranya.

Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Jimin yang penuh sesak. Mendadak, ia merasa bisa merasakan dan melihat segalanya. Tubuhnya yang kaku, senyum Jungkook yang teduh, semilir angin yang entah datang dari mana, wangi apel dari pelembut pakaian Jungkook, debar jantungnya, dan harapan yang perlahan mekar dalam hatinya.

Apa surat dariku masih kamu simpan?

Apa kamu masih sering kesepian sejak ibu meninggal?

Apa kak Seokjin sudah menikah? Masih ingat tidak, dulu Taehyung sering bilang ingin jadi kakak iparmu dan menikah sama kak Seokjin?

Apa kamu masih jago masak?

Kenapa orang yang tidak suka repot kayak kamu ikut himpunan mahasiswa?

Apa playlist kamu masih penuh sama Hatsune Miku? Mungkin harusnya aku enggak kembalikan kartu memori kamu waktu itu, biar ada yang bisa aku simpan sebagai kenang-kenangan.

Kaos ‘I Love Jeju’ yang kamu belikan buat aku masih aku pakai jadi baju tidur sampai sekarang, padahal sudah kekecilan.

“Kenapa diam terus?” Jungkook bertanya. “Kamu memangnya enggak kangen aku?”

Jimin tidak menjawab. Matanya terasa panas dan keinginan untuk memeluk Jungkook membuat dadanya mendadak sesak. Dia ingin mengangguk, tapi kepalanya tidak bisa bergerak. Dia ingin berteriak, berjalan ke arah Jungkook, dan mengikat laki-laki itu dengannya agar baik waktu maupun keadaan tidak bisa memisahkan mereka.

“Aku juga kangen kamu, Jimin.”

.

Jimin bangun dengan pipi yang basah. Ini bukan kali pertama Jungkook muncul dalam mimpinya, tapi ini kali pertama Jimin menangis sewaktu terbangun. Jantungnya masih terasa sakit, dan harap yang semula memenuhi dadanya berangsur lenyap seperti asap.

Barangkali memang benar Jimin masih berharap, pada Jungkook yang tidak pernah menoleh sejak lelaki itu memutuskan melangkah pergi sepuluh tahun yang lalu. Boleh jadi memang Jimin — meski dia tidak mau mengakui — masih menyimpan perasaan pada Jungkook, untuknya terus menunggu orang yang Jimin tahu takkan pernah kembali. Mungkin saja memang hatinya tidak pernah berhenti mencintai Jungkook, meski beberapa kali sempat singgah untuk Jeongyeon, untuk Jongin, dan untuk orang-orang yang hilir mudik datang ke hidupnya selama sepuluh tahun belakangan.

Mimpi-mimpi itu tidak datang untuk membuat Jimin kembali mengingat Jungkook. Mimpi-mimpi itu datang untuk mengingatkan Jimin bahwa hatinya belum — dan mungkin — tidak pernah pulang sejak Jimin menyerahkannya pada Jungkook belasan tahun yang lalu.

 

 


 

tidur dan jatuh di atas bunga-bunga; tentang jimin dan mimpi-mimpinya— selesai