Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-06-03
Words:
1,300
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
83
Bookmarks:
7
Hits:
4,227

Airplane seatmates

Summary:

Saat ini, Wonwoo dan Soonyoung tengah berada di dalam penerbangan malam menuju Tokyo—titik keberangkatannya ada di Korea Selatan—, dan perjalanan sudah berlangsung selama 45 menit.

Artinya, masih tersisa sekitar satu setengah jam bagi sepasang anak adam tersebut untuk melakukan apa pun yang mereka kehendaki; termasuk kegiatan yang melibatkan penis Wonwoo dan tangan mungil Soonyoung.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Lagi nggak?” bisik Soonyoung, tepat di telinga Wonwoo yang kini sedang terengah di sisinya. “Mumpung masih pada tidur.”

Yang ditanya tidak serta-merta memberikan jawaban lantaran tengah mengais sebanyak-banyaknya oksigen untuk disalurkan ke dalam paru-parunya. Manik di balik kacamata berbentuk bulat tak sempurna itu pun masih terpejam, mengingat si pemilik masih sibuk menikmati euforia orgasme pertamanya dalam diam—dirinya patut berterima kasih kepada Soonyoung dan tangannya yang begitu piawai memanjakan selatannya.

Saat ini, keduanya tengah berada di dalam penerbangan malam menuju Tokyo—titik keberangkatannya ada di Korea Selatan—, dan perjalanan sudah berlangsung selama 45 menit. Artinya, masih tersisa sekitar satu setengah jam bagi sepasang anak adam tersebut untuk melakukan apa pun yang mereka kehendaki; termasuk kegiatan yang melibatkan penis Wonwoo dan tangan mungil Soonyoung.

Pemandangan pertama yang menyambut Wonwoo manakala dirinya membuka mata adalah Soonyoung, dengan terlampau rileks, tengah menjilati lumuran cairan putih pada satu per satu jemari kurusnya. Si manis sama sekali tidak memiliki intensi menggoda, namun selatan Wonwoo justru berpikir sebaliknya.

Dari jarak yang kian dekat, Wonwoo juga dapat melihat bagaimana bercak mani miliknya mengotori sebagian kecil wajah Soonyoung—terutama bibir dan dagunya—, dan potongan adegan tersebut seketika melenyapkan kemampuannya untuk berpikir jernih.

Laki-laki berkacamata tersebut kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan mayoritas penumpang kini tengah terlelap—kecuali Hansol yang justru asyik menonton film pada layar di hadapannya dengan telinga yang terhalang AirPods Max. In a nutshell, everyone’s completely oblivious to their surrounding.

Keadaan yang cukup kondusif—setidaknya begitu menurut pengamatan amatirnya—dan tangan Soonyoung yang mulai kembali menyusuri paha bagian dalamnya di bawah sana pada akhirnya mendorong Wonwoo untuk menyetujui ajakan nakal si kekasih. Dirinya sekali lagi menarik selimutnya naik—ujungnya kini mencapai perut— agar dapat menutupi pergerakan tangan Soonyoung, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengikis jarak di antara keduanya.

“Mau,” balas Wonwoo, sesaat sebelum mencuri sebuah ciuman di pipi Soonyoung. “Kalo kamu sekarang minta itu di kamar mandi pun rasanya bakal aku sanggupin, Nyong.”

“Kalo itu sih, justru aku yang nggak berani. Takutnya ada yang kebangun, terus nyadar kita berdua ilang for God knows how long.” Soonyoung mencibir. “Kamu kan suka lupa waktu.”

“Terus gimana?”

“Mau ngocokin kamu lagi aja,” tutur Soonyoung, membuat Wonwoo tanpa sadar menelan ludah.

Laki-laki yang lebih muda lantas meraih tangan Soonyoung di balik selimut berwarna biru kelasi yang ada di pangkuannya, kemudian sekali lagi meninggalkan ciuman manis untuk kekasihnya—kali ini bibir si Gemini yang menjadi sasarannya. “Then I’m all yours to play.

Perkataan Wonwoo barusan seolah menjadi bahan bakar yang memotori tindakan Soonyoung selanjutnya. Tanpa membuang waktu, Soonyoung lalu meludah tepat di telapak tangannya sendiri—baik dirinya maupun Wonwoo tidak membawa cairan pelumas hari itu—, semata-mata untuk memudahkan dirinya dalam memanjakan penis Wonwoo yang sudah kembali mengeras dalam genggamannya.

Soonyoung sengaja mengawali sesi tersebut dengan berlama-lama meraba sekujur ereksi Wonwoo; bantalan jemarinya dengan perlahan menyusuri guratan urat yang timbul dari pangkal hingga mendekati bagian kepalanya yang kian memerah. Bohong apabila Soonyoung mengaku tidak menginginkan Wonwoo di dalam dirinya saat ini, karena faktanya, lubangnya yang berkedut di bawah sana seolah berkata lain.

Selagi menjalankan aksinya, perhatian Soonyoung sama sekali tidak teralihkan dari gestur si kekasih; bagaimana Wonwoo memejamkan mata ketika ibu jari Soonyoung mengusap bagian ujung penisnya, napasnya yang mulai terasa berat—Wonwoo tanpa sadar beberapa kali menahannya—, hingga pinggulnya yang sesekali terangkat dalam upaya mendapatkan friksi yang lebih dari sekadar sentuhan ringan seperti yang tengah Soonyoung berikan.

Wonwoo tidak memiliki opsi lain selain takluk di bawah permainan tangan pujaan hatinya—setidaknya tidak di sini, di mana dirinya diharuskan untuk menahan desah di tengah kehadiran banyak orang. Lagi pula, bukankah Wonwoo sendiri yang telah memberi Soonyoung izin untuk bermain? Karena itu, selama konsekuensinya sepadan dengan nikmat yang ia terima, Wonwoo akan berupaya untuk tidak melayangkan protesnya sama sekali.

Pergerakan tangan Soonyoung kini semakin menjadi-jadi; keempat jemarinya tengah memompa ereksi Wonwoo, sementara ibu jarinya sesekali mengusap lubang pipis si wira yang kini kembali memejamkan mata. Tempo kocokannya sama sekali tidak konsisten; mulanya lambat, kemudian akan begitu saja dipercepat ketika Soonyoung menyadari kebolehan Wonwoo dalam mengendalikan ekspresi wajahnya, lalu kembali melambat tatkala Wonwoo sudah mendekati puncaknya.

Malam itu, Soonyoung memperlakukan Wonwoo bak human speedometer. Tujuannya hanya satu: melihat pertahanan Wonwoo runtuh di bawah permainannya, sekaligus memamerkan kendali yang tak biasanya jatuh ke tangannya.

Lampu kabin yang kini padam dan letak kursi keduanya yang berada di baris paling belakang kian memudahkan Soonyoung untuk semakin leluasa memijat kejantanan Wonwoo. Selimut tebal yang menutupi kegiatan cabul keduanya bahkan beberapa kali nyaris melorot akibat permainan Soonyoung yang berantakan.

“Wonu,” panggil Soonyoung, membuat lawan bicaranya lantas membuka mata dan awas memandang sekitar.

“Hah? Aduh, bentar… gitu enak, Nyong.”

“Ada pramugari lagi ke sini,” imbuh si manis, namun sama sekali tidak menghentikan kocokannya di bawah sana.

Kepala Wonwoo pening bukan main. Fokusnya belum sepenuhnya kembali. “Mana?”

Yang ditanya lantas menunjuk ke arah objek pembicaraan yang tengah berjalan ke arah mereka, sesaat setelah mengambil tas selempang miliknya untuk diletakkan di atas pangkuan Wonwoo; dirinya hendak menutupi tonjolan yang kentara dari balik selimut.

Soonyoung kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Wonwoo, memejamkan matanya, dan berpura-pura tertidur, sementara teman sebangkunya tengah berjuang mempertahankan ekspresi wajah datar agar tidak dicurigai oleh si awak kabin. Kocokannya pada penis Wonwoo kini kembali diperlambat, mengingat dirinya yang harus membatasi gerak—setidaknya hingga pramugari tersebut menghilang dari jarak pandangnya.

“Udah lewat belum, Nu?”

“Udah barusan.” Wonwoo membawa telapak tangannya untuk menutupi wajahnya yang ia yakini tengah memerah, sementara yang lain masih setia mengepal di atas pangkuannya. “Nyong, aku bentar lagi keluar kalo kamu mainin terus ujungnya begitu.”

“Beneran udah deket?” tanya Soonyoung yang dijawab Wonwoo oleh anggukan kepala. “Hehe. Oke.”

Setelah memastikan bahwa keadaannya memungkinkan, Soonyoung tiba-tiba menunduk hingga wajahnya kini hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari selatan Wonwoo di balik selimut. Tindakan tersebut sontak membuat manik Wonwoo melebar—dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa permainan mereka malam itu akan melibatkan mulut si kekasih.

Napas hangat Soonyoung yang berulang kali menyapu ereksinya membuat Wonwoo tercekat, dan Wonwoo bersumpah, butuh kendali yang luar biasa agar dirinya tidak menyemburkan putihnya segera sesaat merasakan bibir empuk Soonyoung melingkari ujung penisnya.

Kedua tangan Wonwoo kini berada di atas kepala Soonyoung; mengusapnya dengan sayang saat Soonyoung memanjakan penisnya, dan menjambak rambutnya—tidak sampai menyakiti Soonyoung—ketika si Gemini meningkatkan intensitas cumbuan.

Lidah Soonyoung berkali-kali mengitari kepala penis Wonwoo yang kian memerah akibat ulahnya, sementara tangan kirinya memompa bagian pucuk dan meremas testis Wonwoo secara bergantian. Sesekali Soonyoung akan mengisap cairan praejakulasi yang merembes keluar, lalu dirinya akan kembali meninggalkan jilatan-jilatan kecil—tingkahnya persis menyerupai anak kucing—yang selalu berakhir dengan mengeratnya genggaman Wonwoo pada rambutnya.

Bagi Wonwoo, permainan Soonyoung selalu terasa bak ekstasi.

Distimulasi dengan begitu hebatnya selama beberapa menit terakhir membuat Wonwoo pada akhirnya menyerah; lanang berkacamata tersebut menyemburkan putihnya ketika bagian ujung ereksinya masih tenggelam di dalam rongga hangat Soonyoung.

“Sayang maaf, aku lupa bilang,” kata Wonwoo dengan suara yang menyerupai bisikan—membangunkan Jun dan Joshua yang masih tertidur di sisi sebelah kiri mereka adalah hal terakhir yang ia inginkan.

“Mmmm.” Soonyoung menjilat jejak sperma si kekasih yang menodai bibirnya, kemudian tersenyum manakala menyaksikan Wonwoo yang sedang repot membersihkan dan merapikan celananya seperti sediakala. “Dimaafin, soalnya kamu enak.”

“Gila kamu mainnya, Nyong. Tadi bilangnya mau ngocokin aku doang, tau-tau main nunduk aja.”

“Tapi enak nggak?”

“Ya bohong kalo aku bilang gak enak.”

Laki-laki yang lebih tua tergelak. “Kalo gitu daripada protes, mending say thank you ke aku nggak sih?”

Yang diajak bicara hanya menggelengkan kepala, kemudian membawa Soonyoung ke dalam sebuah ciuman singkat—tautan bibir tersebut berakhir dengan senyum bodoh pada wajah keduanya.

“Makasih, Sayang,” ujar Wonwoo. “Nanti lanjut di hotel gak?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

Soonyoung nyengir. “Nanti pas flight balik dari Jepang, aku boleh kayak tadi lagi nggak?

“Tergantung,” balas Wonwoo.

“Tergantung apa?”

“Kamu kuat berapa ronde malem ini.” Dan setelah melepas kacamatanya, Wonwoo sekali lagi mengunci bibir si pujaan hati dalam ciuman yang tak kalah manis dari sebelumnya.

Notes:

this story has been uploaded on medium (and twitter). feel free to send feedbacks through tellonym: 615studio 🖤