Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-06-16
Words:
1,995
Chapters:
1/1
Kudos:
42
Bookmarks:
3
Hits:
725

EULWANGRI

Summary:

"Just you and me."

Work Text:

Chenle terkesiap ketika tangan kanannya diraih dalam balutan hangat tangan lebar laki-laki yang berdiri disebelahnya.

 

"K-kak?" bisik Chenle tercekat, ia menatap si lawan bicara dengan tatapan nanar.

 

"It's okay, kamu berdirinya deketan lagi sini."

 

Chenle menurut, merapatkan diri sampai bahunya tidak sengaja bersinggungan dengan bahu Jaemin.

 

"Kamu ngerasa nyaman, gak?" tanya Jaemin sembari memasukkan tangannya yang menggenggam tangan Chenle kedalam saku padding coat-nya, berbagi kehangatan.

 

Chenle mengangguk "agak takut dikit," ucapnya jujur.

 

Jaemin terkekeh pelan.

 

"It's okay baby doll, kalau denganku kamu pasti aman. Kamu percaya, kan?"

 

Chenle mengangguk lagi, kali ini sambil membalas rematan tangan Jaemin ditangannya yang tersembunyi di dalam saku coat lelaki itu.

 

"Huft~ ……" Jaemin menghela nafas panjang, melakukan perenggangan kecil pada kakinya yang agak sedikit kaku karna berdiri ditepi pantai yang menghembuskan angin dingin.

 

Chenle menoleh sebentar kearah Jaemin "Kita udahan yuk kak?"

 

"Loh, lihat sunsetnya udahan?"

 

Chenle bergidik pelan karna angin yang tiba-tiba berhembus agak kencang "aku laper, hehehe"

 

Jaemin tersenyum kecil dibalik maskernya "oke, kita ke resto seafood yang biasanya ya?"

 

"eung!"

 


 

"Loh, cuma berdua kali ini?"

 

Jaemin tersenyum ramah "iya bibi, yang lain sedang sibuk."

 

"Ah... Jadi idol memang susah ya dapat waktu senggangnya. Kalian makan yang banyak ya, supaya pulih lagi tenaganya untuk bekerja. Selamat menikmati."

 

"Terimakasih bibi," sahut Jaemin dan Chenle hampir bersamaan.

 

Si bibi penjual meninggalkan meja yang Jaemin dan Chenle tempati setelah meletakkan hidangan terakhir yang mereka pesan.

 

Jaemin mengambil alih penjepit panggangan, secara otomatis mengajukan diri menjadi pemanggang berbagai seafood yang mereka pesan.

 

"waaahh kak, lobsternya besar."

 

Jaemin hanya merespon dengan senyum, ia tampak serius menyusun seafood keatas pemanggangan. Sementara Chenle menggigit ujung sumpitnya sambil memandangi pemanggangan, sangat tidak sabar untuk mulai mencicipi.

 

"Kak, itu kerangnya udah matang tuh. Sini kasih ke aku."

 

"Sabar sayang,"

 

TANG!

 

Sumpit dari tangan Chenle terjatuh begitu saja keatas meja, netranya bergerak lasak untuk memeriksa situasi sekitar.

 

Beberapa pelanggan resto tampak tetap sibuk dengan urusan masing-masing.

 

Melihat respon Chenle jujur saja membuat Jaemin merasa bersalah.

 

"ini makan, maaf ya buat kamu gak nyaman, kakak keceplosan." Jaemin meletakkan kerang yang telah matang ke mangkuk nasi Chenle.

 

Chenle merengut, kemudian menghela nafas, dalam hati meraung merapalkan doa agar tidak ada siapapun yang mendengar ucapan sembrono Jaemin tadi.

 

"Aku gak mau ngomong,"

 

"Iya, kamu fokus makan saja."

 

Hening.

 

Chenle fokus makan, sementara Jaemin fokus meletakkan seafood yang matang ke mangkuk Chenle dan ke mangkuknya sendiri.

 

"ini cobain kak, kerang jenis ini lebih manis ketimbang yang ini." suara Chenle tiba-tiba terdengar memecah keheningan diantara mereka.

 

Chenle mana bisa diam sih dalam jangka waktu yang lama, kecuali saat sedang tidur. Itupun kadang dalam tidurnya dia mendengkur atau mengoceh bak orang mengigau.

 

Jaemin diam-diam tersenyum, tangannya bergerak antusias mencomot daging kerang yang Chenle maksud.

 

"mm bener, ini lebih manis dan segar ya."

 

"bener, kan? Aku suka deh kak, kalau resto ini dekat dari tempat tinggal kita, aku bakal makan kesini setidaknya tiga kali dalam seminggu."

 

Jaemin meletakkan lebih banyak seafood ke mangkuk Chenle "makan sepuasnya kalau gitu, karna jadwal kita mulai padat minggu depan, kamu bakal sangat sulit untuk mencicipi menu resto ini lagi."

 

"Okeiii,"

 

Chenle mengunyah makanannya dengan lahap, membuat Jaemin tersenyum senang.

 


 

"Capek?"

 

Chenle mendusel semakin dalam kepelukan Jaemin.

 

"capek, tapi lebih banyak senengnya" balas Chenle tidak jelas karna wajahnya bersembunyi di dada Jaemin.

 

"Oh ya? Baguslah, makasih udah nemenin jalan-jalan."

 

Chenle mengangkat wajah, sedikit mendongak agar bisa mempertemukan tatap dengan Jaemin yang juga tengah menatapnya.

 

"Aku yang harusnya bilang makasih, makasih ya kak karna sudah ajak aku jalan-jalan dan traktir aku makanan enak, hehehe"

 

Cup.

 

Jaemin mencium kening Chenle sekilas "terima kasih kembali." tuturnya lembut.

 

Chenle tersenyum dan kembali menyembunyikan wajah dipelukan Jaemin, menikmati harum lelaki itu sepuasnya.

 

Jaemin dengan gemas memberikan kecupan dipucuk kepala Chenle, menyalurkan semua afeksi yang sempat tertahan karna mereka sedang berada di tempat umum sebelumnya.

 

Sekarang keduanya sedang berada di kamar Jaemin, di rumah orang tuanya yang jaraknya sangat dekat dari pantai yang tadi mereka datangi. Mereka memutuskan menginap, dan pulang besok pagi-pagi sekali ke Seoul.

 

Di tempat tertutup seperti apartemen Chenle dan kamar Jaemin, mereka mempunyai ruang untuk diri mereka sendiri. Tidak perlu khawatir akan diketahui orang lain seperti paparazi.

 

“maaf untuk yang di resto,”

 

Chenle lagi-lagi mengangkat wajah “asli ya kak, jantung aku rasanya mau copot waktu kamu tiba-tiba bilang sayang kayak gitu.”

 

Jaemin memperhatikan gerak bibir Chenle yang memulai sesi mengocehnya.

 

“kalau lagi bareng member yang lain sih aku gak masalah, karna orang-orang bakal mikir itu candaan sesama kita atau justru ngasih pencitraan ke publik kalau kita tuh akrab loh sesama member, tapikan tadi kita cuma berdua, aku gak ngerti deh orang yang denger mikir apa.”

 

Chenle memeluk leher Jaemin erat dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher lelaki yang lebih tua “hubungan kita tabu kak, mungkin ada banyak orang yang akan mendukung kita tapi pasti akan lebih banyak yang menghujat, apalagi kita idol, akan ada banyak orang yang terluka, terutama para member dan keluarga kita.”

 

“iya, kakak paham.”

 

Chenle mencium kilat rahang Jaemin “I love you kak Jaemin.”

 

“I love you too, Zhong Chenle. Love you, love you” bisik Jaemin berulang-ulang sembari mengusap belakang kepala Chenle dengan lembut, dengan penuh kasih, tangannya yang lain menepuk punggung Chenle pelan-pelan.

 

Chenle semakin mengeratkan pelukannya, Jaemin selalu berhasil menyingkirkan rasa khawatirnya dengan afeksi dan presensi lelaki itu.

 

Tok.

 

Tok.

 

“Jaemin-ah, ayo ajak Chenle ke ruang makan, mama memasak banyak daging.”

 

“iya ma, kita datang” jawab Jaemin sedikit keras agar ibunya mendengar.

 

Chenle segera bangkit dari atas tubuh Jaemin yang berbaring dibawahnya, lelaki yang lebih tua ikut bangkit.

 

“kamu gak bilang mama kak kalau kita tadi udah makan malam?”

 

“udah, tapi mama memang gitu, kalau datang ke rumah ya wajib makan walaupun ngaku kenyang dari luar.”

 

Jaemin turun dari atas kasurnya, merapikan sedikit piyamanya yang agak berantakan, Chenle menyusul disebelahnya.

 

“yuk,”

 

 


 

 

Ny. Na meletakkan daging ke atas mangkuk nasi Jaemin dengan sumpitnya yang langsung di sumpit lagi oleh Jaemin dan di pindahkan ke mangkuk Chenle.

 

Ny. Na mengulangi lagi hal yang sama dan Jaemin juga kembali melakukan hal yang sama.

 

Ny. Na tersenyum kecil, akhirnya memutuskan untuk meletakkan daging ke mangkuk Chenle saja, toh kalau ke mangkuk Jaemin ujung-ujungnya akan berakhir di mangkuk Chenle juga kan? Tapi Ny. Na segera melirik Jaemin sinis ketika anak tunggalnya itu justru mengambil daging yang baru saja Ny. Na letakkan di mangkuk Chenle, di masukkan ke mulutnya dan meraih daging baru untuk diletakkan ke mangkuk Chenle, tidak lupa membalas tatapan Ny. Na dengan raut wajah tengil.

 

Astagaaaaa!

 

“mama gak makan?” suara Chenle tiba-tiba memecah keheningan dan juga perang tak kasat mata diantara ibu dan anak itu.

 

“enggak sayang, kalian saja yang makan, orang tua seperti mama tidak bisa lagi makan di jam larut seperti ini. Makan yang banyak ya, jarang-jarang kan kalian makan masakan rumah seperti ini.”

 

Chenle mengangguk “makasih ya ma, masakan mama enak semua.”

 

Ny. Na mengulurkan tangan untuk mencubit pelan pipi Chenle yang menggembung karna berisi makanan “sama-sama anak manis. Besok-besok kalau mampir kesini kamu sendiri aja ya, jangan bawa anak nakal ini.”

 

“Loh, ini kan rumah aku ma? Aku yang anak mama” sahut Jaemin tidak terima.

 

“ya kamu mau datang kapan aja ya terserah, tapi kalau Chenle datangnya kalau bisa tanpa kamu, biar mama bisa ngobrol berdua atau Chenle lebih seneng ketemu mama di luar saja? Nanti mama ajak ke resto favorit mama, kita makan berdua.”

 

Chenle mengangguk dengan senyum sumringah “nanti aku cocokin sama jadwalku ya ma.”

 

“iya anak manis, kabarin mama kapan pun kamu ngerasa ada waktu luang, oke?”

 

Chenle mengangguk lagi.

 

Jaemin diam-diam tersenyum melihat interaksi ibunya dengan Chenle, meskipun raut wajahnya segera berubah cuek ketika ibunya menatapnya.

 

“Chenle kenapa bisa mau ya pacaran sama kamu?”

 

Uhuk!

 

Jaemin dan Ny.Na kompak mengulurkan gelas berisi air putih ke hadapan Chenle yang tengah terbatuk keras. Terkejut mendengar pertanyaan Ny. Na barusan.

 

Chenle tanpa pikir panjang meraih gelas yang Ny.Na sodorkan, membuat Jaemin menatap sinis ibunya yang tersenyum kemenangan.

 

“Mendingan?” tanya Jaemin khawatir, tangannya tidak berhenti mengusap punggung Chenle.

 

Chenle mengangguk kecil.

 

“Makannya pelan-pelan ya nak, semua dagingnya punya kamu, kalau kurang, mama masakin lagi.”

 

Chenle meringis malu, bukan karena makan terburu-buru dia tersedak.

 

“Chenle kaget denger pertanyaan mama itu, makanya jadi keselek” ucap Jaemin yang seolah sepemikiran dengan Chenle.

 

“Kenapa kaget? Bukannya kalian memang pacaran? Jangan bilang kalian menjalin hubungan tanpa status?”

 

“Wow-wow-wow,.... stop nyonya Na” ucap Jaemin sembari cengengesan “memangnya mama kira aku ini laki-laki seperti apa sampai mau menjalin hubungan tidak jelas?”

 

Ny. Na mendengus malas “ karena itu mama bertanya, kenapa Chenle harus kaget mendengar ucapan mama tadi? Mama tau kamu dari lahir ya Jaemin, sifatmu itu persis seperti ayahmu, selalu terobsesi dengan sesuatu hal yang kamu sukai, gak bisa cuma sekedar suka.”

 

Jaemin mengangguk-angguk setuju dengan ucapan mama-nya.

 

“Chenle?”

 

“...... huh? Oh iya ma?”

 

“Kenapa melamun?”

 

“Enggak ma, Aku--”

 

“Atau jangan-jangan kamu di paksa ya sama Jaemin buat jadi pacar dia?”

 

“Ma~~~!” protes Jaemin tidak terima dengan tuduhan ibunya.

 

“Enggak ma, kak Jaemin gak maksa aku.”

 

“kasih tau mama kalau kamu merasa terpaksa menjalin hubungan dengan Jaemin, mama akan bantu kamu lepas dari anak aneh ini.”

 

Chenle mengangguk kikuk.

 

“MA~~!”

 

Ny. Na tertawa puas meski aura elegan tidak hilang dari pembawaannya. Wanita paruh baya itu tetap tampak cantik dan berkelas.

 

 


 

 

“Sudah bangun?”

 

Chenle mengangguk, langkahnya dia bawa mendekati Ny. Na yang tengah menyeduh teh tradisional “kita mau balik pagi ini ma, menghindari macet.”

 

“hm, padahal mama sudah semangat mikirin mau masakin apa untuk kalian.”

 

Chenle tersenyum penuh rasa bersalah “maaf ya ma, nanti kalau ada hari libur lagi, aku sama kak Jaemin janji bakal ke sini lagi.”

 

Ny. Na memasang wajah sok galak “janji ya?”

 

“iya ma,”

 

Ny. Na tersenyum hangat “mau teh?”

 

“boleh ma, sekalian nunggu kak Jaemin selesai siap-siap.”

 

“duuh, itu anak emang santai banget, heran. Sabar-sabar ya kamu sama Jaemin.”

 

Chenle terkekeh kemudian memasang wajah serius ketika sudah sudah cukup yakin untuk menanyakan hal mengganjal di hatinya “mm,... ma?”

 

“iya?”

 

“mm.....”

 

“Gapapa Chenle, katakan saja apa yang mau kamu katakan, mama gak akan marah” tutur Ny.Na sembari menydorkan satu gelas teh pada Chenle.

 

Chenle menatap gelas teh dalam genggamannya lamat-lamat, baru kemudian mendongak untuk menatap Ny.Na “mama gak masalah... mm,... tentang aku dan kak Jaemin?”

 

“kenapa harus masalah?”

 

Chenle kembali menunduk “.... ka-karena hubungan kami tabu ma, apalagi kak Jaemin kan anak tunggal. Mama pasti berharap ada penerus keluarga Na dari—“

 

“Mama gak masalah Chenle” potong Ny. Na

 

Wanita paruh bayah itu dengan lembut menggengam satu tangan Chenle “mama tidak masalah dengan apapun keputusan Jaemin asal anak mama bahagia. Hal yang paling penting untuk mama adalah kebahagian Jaemin. Kehadiran Jaemin adalah kebahagiaan untuk mama, mama tidak pernah memimpikan seorang anak yang berbakat dan bisa mengatur hidupnya dengan baik, dulu yang mama inginkan hanyalah kehadiran seorang anak yang sehat, tidak lebih. Dan ternyata mama di berikan anak yang sempurna seperti Jaemin. Mama tidak butuh keturunan jika hal itu tidak membuat Jaemin bahagia. Sekarang ini cukup Chenle, Jaemin bahagia dan melakukan semua hal yang dia senangi, mama bahagia. Jadi, jangan berkecil hati ya anak manis. Hubungan kalian, kamu dan Jaemin yang jalani dan kalian tidak membutuhkan pengakuan orang lain untuk itu.”

 

Bibir Chenle bergetar, siap menumpahkan tangis. Sangat tidak menyangka bahwa akan ada orang yang mendukung hubungan tabunya dengan Jaemin.

 

loh,.. loh,.. pacar Jaemin kenapa mau nangis gini ma? Mama jahatin ya?” tanya Jaemin membombardir Ny.Na yang hanya bisa merotasikan mata malas.

 

Chenle segera masuk ke pelukan Jaemin dan menumpahkan tangisnya disana.

 

“kamu bilang Chenle anak yang nakal dan berisik, tapi lihat ini...?”

 

Jaemin tersenyum “pacar Jaemin ini memang suka sok kuat ma, aslinya manja dan cengeng aduh aduh-ampun sayang“  ringis Jaemin di akhir kalimat akibat cubitan Chenle di perutnya.

 

Ny. Na geleng-geleng kepala “jaga Chenle baik-baik, jangan buat dia menangis. Awas aja kamu!”

 

“siap Nyonya, saya akan menjaga tuan Chenle sepenuh hati!”

 

Chenle kembali menangis, kali ini lebih kencang, membuat ibu dan anak itu benar-benar dilanda panik.

 

“sayang, Chenle,... ada apa?”

 

“gapapa— kak— a-aku— seneng,” kata Chenle putus-putus akibat sesegukan, membuat Jaemin gemas setengah mati.

 

“Lihat kan ma, gimana Jaemin gak sayang?”

 

“hm, mama juga jadi semakin sayang pada Chenle”

 

“ya gak boleh dong...! Chenle pacar Jaemin!”

.

.

.

.

.

END