Chapter Text
“So you guys have to work together now? As in kerja sama. Bekerja bersama-sama???” ucap renjun dengan pertanyaan yang sama sejak tadi. Mencoba mengkonfirmasi apa yang baru saja dia dengar dari temannya, Haechan.
“Bisa gak, lo gak usah menekankan bagian ‘ bekerja bersama-sama ’ nya? And yes. We’re gonna work together. Gue akan kerja bareng sama Mark Lee selama 3 bulan ke depan.” jawab Haechan jengah sambil memasang wajah malas dan kini merebahkan dirinya ke kasur milik renjun, sambil menenggelamkan wajah frustasinya ke boneka moomin besar milik sahabatnya.
Dan mendengar ucapan frustasi sahabatnya, renjun pun tanpa permisi mulai tertawa terbahak-bahak. Bak baru saja melihat komedi paling apik yang pernah renjun saksikan di hidupnya.
“Hahahahaha. Sumpah. Hidup lo seru banget! Ihh, gue mau dong seproject sama lo. Apa gue request pindah project aja yaa biar bisa ngeliat gimana komedinya interaksi lo sama Mark Lee? Duhhh pasti seru banget.” ucap renjun semangat, yang spontan membuat Haechan semakin pusing.
Bagaimana tidak pusing. Mark Lee, orang yang baru saja disebut oleh sahabatnya, adalah orang yang selama ini selalu Haechan hindari. Orang yang sebisa mungkin ingin Haechan lenyapkan dari kehidupannya. Orang yang selalu membuat Haechan berakhir menjadi nomor dua, alih-alih nomor satu di setiap pencapaian hidup Haechan. Dan jujur, Haechan benci menjadi nomor dua.
Sejak duduk di bangku SMP, SMA, hingga di bangku perguruan tinggi, baik Haechan dan Mark, keduanya selalu berakhir di sekolah, kelas, bahkan jurusan yang sama. Keduanya selalu dihadapkan dengan persaingan sengit untuk memperebutkan siapakah murid atau mahasiswa terbaik. Dan Haechan, selalu kalah akan Mark. Sekeras apapun Haechan berusaha, Haechan selalu berakhir menjadi nomor dua. Lagi, lagi, dan lagi.
Butuh 10 tahun bersama, hingga akhirnya Haechan benar-benar bisa melepaskan dirinya dari bayang-bayang Mark. Dan kini, setelah tiga tahun Haechan hidup bebas dengan tidak adanya Mark di sekitarnya, hari-hari Haechan kembali dirusak dengan kabar buruk dari atasannya yang mengatakan bahwa mulai minggu depan, kantor mereka akan mendapatkan support dari salah satu external consulting firm ternama. Dan sialnya, ketika Haechan melihat jajaran nama consultant yang akan bekerja bersamanya nanti, Haechan dapat melihat nama Mark ada pada jajaran nama tersebut.
Kebencian Haechan semakin meningkat kala mengingat nama consulting firm yang menjadi tempat Mark bekerja saat ini. Neo & Company, Consulting firm yang selalu menjadi tujuan utama Haechan ketika ia baru lulus dari bangku kuliah. Haechan’s dream company, yang sampai sekarang masih belum bisa Haechan gapai karena ia selalu gagal di tahap akhir rekrutmen yang diadakan oleh Neo & Company.
Dan sekarang, ia dihadapkan oleh fakta bahwa Mark, orang yang selalu membuat Haechan merasa kalah sejak SMP hingga kuliah, ternyata masih berhasil membuat Haechan merasa kalah bahkan di dunia kerja. Mark lagi-lagi berhasil mendapatkan apa yang selalu menjadi mimpi Haechan.
Apakah takdir Haechan memang akan selalu kalah oleh Mark Lee? Entah. Haechan pun tak tahu. Namun yang pasti, Haechan benar-benar kesal saat ini.
“Gue resign aja kali ya?” tanya Haechan lemas
“What? Euhh. So unprofessional!” – ejek renjun kepada Haechan – “Lagian kenapa sih lo masih kesel sama dia? Udah lewat 3 tahun juga chan. Siapa tahu sekarang Mark lebih chill. Dan menurut gue, mulai sekarang lo harus mengakhiri segala rivalry di antara kalian. Karena ya udah gak relevan aja. Be friend with him, and who knows dia bisa jadi referral lo di masa depan buat pindah ke Neo & Company.” lanjut renjun panjang, mencoba masuk akal sembari menenangkan sahabatnya.
Renjun benar. Dan Haechan setuju.
Their rivalry, Haechan jujur setuju kalau sudah tak relevan lagi rasanya menyimpan rasa kompetitif untuk orang yang selama tiga tahun sudah tak pernah Haechan temui. Belum lagi ada kemungkinan kalau Mark, musuh bebuyutannya selama ini, mungkin sudah berdamai dengan masa lalu dan tak peduli sama sekali dengan keberadaan dan kabar terbaru dari Haechan.
Haechan setuju dan sadar bahwa mempertahankan kebenciannya pada Mark merupakan hal yang sangat kekanakan-kanakan. Namun tetap saja, Haechan tak bisa. Rasa benci Haechan terhadap Mark sudah mengalir sempurna di setiap aliran darahnya. Ada hal yang orang lain tak pernah tau tentang Mark dan Haechan. Satu hal yang bahkan renjun, sahabat terdekat Haechan, pun tak tahu. Hal yang membuat Haechan sebegitu bencinya pada Mark dan membuat rasa tak ingin kalahnya akan Mark semakin besar.
Rasa tak suka Haechan terhadap Mark, bukan hanya sekedar rasa tak suka karena selalu menjadi nomor dua dari setiap kompetisi yang telah mereka lalui. Lebih dari itu, ada penyebab lainnya yang membuat Haechan menjadi sebegini kompetitifnya terhadap Mark.
Saat itu, Haechan kecil baru saja menginjakan kaki di sekolah barunya. Meskipun sudah belasan tahun berlalu, semua kenangan mengenai hari pertamanya di bangku SMP masih teringat dengan sangat jelas di kepala Haechan.
Ingatan mengenai bagaimana dirinya yang baru saja lulus dari sekolah dasar, berjalan malu-malu menuju aula sekolah untuk mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Ingatan tentang dirinya yang tak berani membuka percakapan dengan siapapun, karena kebetulan Haechan baru saja pindah ke kota ini saat dirinya lulus SD, jadi tak satupun siswa-siswa baru tersebut berasal dari SD yang sama dengan Haechan.
Sampai akhirnya, seorang anak laki-laki ramah yang sejak tadi berbaris di samping Haechan membuka suaranya terlebih dahulu. Orang yang masih Haechan ingat dengan jelas sebagai orang pertama yang ia kenal di sekolah barunya. Dan orang itu adalah Mark Lee. Ya, orang yang sama yang saat ini mendapatkan gelar sebagai orang yang paling Haechan hindari.
Kesan pertama yang Haechan dapatkan dari Mark pada 13 belas tahun silam sejujurnya sangatlah bertolak belakang dengan kesan Mark Lee yang Haechan kenang saat ini. Mark Lee 13 tahun lalu, yang Haechan temui pada hari pertama penerimaan siswa baru, merupakan Mark Lee yang sangat ramah. Sosok anak baik yang dengan ramahnya membuka percakapan terlebih dahulu pada Haechan yang masih malu-malu.
Haechan bahkan masih dapat mengingat dengan jelas bahwa Mark pada saat itu sempat membagi bekal makan siangnya kepada Haechan karena dengan bodohnya Haechan meninggalkan kotak makannya di rumah saat sekolah sudah menghimbau seluruh siswa baru untuk membawa makanan masing-masing agar dapat dimakan bersama-sama dengan seluruh siswa.
Intinya, pada saat itu, Haechan menaruh kagum pada Mark yang sangat baik dan juga ramah karena mau membuka percakapan lebih dulu dengannya.
Namun semua kebaikan Mark seketika luntur di hari kedua masa orientasi siswa.
Kala itu, Haechan baru saja tiba di sekolahnya. Masih dengan pakaian putih biru dongker yang nampak baru dan bersih, Haechan memasuki aula sekolah tempat dimana siswa baru selalu berkumpul sebelum memulai kegiatan orientasi mereka. Haechan yang dari jauh mampu melihat Mark pun berjalan semangat mendekat. Namun belum Haechan berhasil mencapai Mark, Haechan melihat segerombolan anak laki-laki mendekat ke arah Mark dan duduk bergabung membentuk kerumunan.
‘Oh? Mark udah punya banyak temen? Kayanya kemaren Mark seharian sama aku terus. Dan Mark juga dari luar kota kan? Hmm, kalau social butterfly emang beda ya.’ batin Haechan merasa takjub melihat bagaimana Mark tiba-tiba dikerubungi oleh banyak orang dan semuanya nampak tertawa bersama dengan Mark.
Mencoba memberanikan diri sambil bertekad bahwa dia juga harus menjadi berani seperti Mark, Haechan kecil pun memantapkan langkahnya dan berjalan mendekat ke arah Mark. Lima langkah tersisa dan Haechan baru saja hendak memanggil Mark untuk menyapanya, sebelum samar-samar Haechan mendengar namanya disebut-sebut dalam percakapan yang sedang dilakukan oleh Mark dan teman-teman barunya.
“Tapi gue kayanya yakin sih kalau Haechan itu suka sama lo” ucap salah seorang anak berperawakan gempal dengan kulit yang sangat putih.
“Gue pikir malah Mark yang lagi naksir sama anak itu. Soalnya kalian kemaren kaya deket banget dan nempel berdua kemana-mana. Pake acara sharing bekal makanan segala lagi.” ucap seorang anak laki-laki dengan perawakan tinggi ikut menimpali
“Nggak lah. Mana mungkin gue suka sama Haechan.” kini Mark yang menjawab sambil tersenyum miring. Dan senyuman itu spontan membuat Haechan menghentikan langkahnya dan menggeser dirinya agak ke samping. Mencoba mendengarkan lebih lanjut percakapan mereka, namun tak mau jika dirinya tertangkap basah sedang menguping.
“Kenapa nggak mungkin? Lo berdua keliatan deket.” kini seorang anak laki-laki berambut ikal ikut melempar tanya.
“Ya kan deket bukan berarti suka. Lagian gue kasian sama anaknya kemaren. Kaya yang sendiri gitu. Kalau gak gue ajak ngobrol, mungkin sampai sore tu anak bakal sendirian mulu. Jadi yaudah gue temenin aja. Nanti kalau anaknya dateng, jangan digangguin ya. Agak pemalu soalnya. Ajak dulu aja sampe dia ada temennya.” ucap Mark enteng.
Namun, Haechan yang sejak tadi mendengar percakapan itu, merasa harga dirinya sedang diinjak-injak. Apa barusan yang Mark katakan? Kasihan? Mark ramah pada Haechan karena dia merasa kasihan pada Haechan? Apa Haechan tak salah dengar? Memangnya Mark pikir Haechan tak bisa mencari teman?
Ya Haechan memang agak sedikit malu-malu kemarin. Namun bukan berarti Haechan tak bisa berteman sama sekali kan? Bukan berarti Haechan juga butuh dikasihani. Memangnya apa yang Mark pikirkan tentang Haechan? Anak culun yang tak tahu bagaimana caranya bergaul? Enak saja Mark membuat penilaian seenaknya tentang Haechan. Ya meskipun penampilan Haechan memang mungkin agak sedikit culun dengan kacamata tebalnya dan baju yang kebesaran, tapi tetap saja kan Mark tak boleh menganggap remeh orang lain?
Dan sejak itu, Haechan pun memutuskan menghindar dan meminimasi segala percakapan dengan Mark. Meski selalu berada di satu kelas yang sama, Haechan selalu enggan untuk mengobrol atau bertegur sapa dengan Mark. Belum lagi ditambah dengan Mark yang ternyata selalu mendapat peringkat pertama, sementara Haechan di urutan kedua, seakan-akan semesta pun setuju bahwa Mark dan Haechan harus tetap saling membenci dan berkompetisi satu sama lain.
Jam sudah menunjukan pukul 8.30, dan Haechan dengan berat hati menyeret kakinya ke kantor dan harus pasrah menghadiri meeting pertama kantornya dengan tim neo and company jam 9.00 hari ini.
Haechan sudah mencoba. Haechan sudah mencoba berbagai cara untuk melobi bossnya agar membiarkannya untuk bertukar project dengan orang lain. Namun sesuai dugaan Haechan, bossnya menolak mentah-mentah apa yang Haechan ajukan.
“Our new business line, idenya dari lo. Kalau sekarang kita butuh bantuan consultant buat bikin strategi untuk penetrasi produknya ke new Market, you're the one who should directly in charge with this project, Haechan.” ucap boss Haechan semalam. Yang jujur Haechan pun setuju dengan ucapan bossnya tersebut.
Yaa, jadi begitulah nasib Haechan pagi ini. Duduk manis dengan memasang senyum korporat kebanggannya, dan sudah standby 30 menit sebelum jadwal meeting dengan neo & company dijadwalkan.
“Dude, you look like shit. Kantong mata lo serem amat.” bisik Stella pada Haechan, salah satu rekan kerja Haechan, setelah memasuki ruang meeting dan mengambil posisi duduk di salah satu kursi kosong di sebelah kiri Haechan.
Haechan yang tau betul kantong matanya terlihat mengerikan pun memutuskan untuk kembali mengutuk Mark Lee di dalam hatinya. Ya, kantong mata Haechan ada karena semalam ia tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan betapa beratnya hari ini. Dan memikirkannya saja sukses membuat Haechan terjaga semalaman dan hanya berhasil tidur 2 jam.
Haechan benar-benar layaknya zombie. Jika saja Haechan tidak menggunakan pakaian yang layak dan tatanan rambut yang rapi, mungkin Haechan bisa diusir dari kantornya karena wajahnya saat ini nampak seperti wajah orang penyakitan yang tak memiliki semangat hidup.
“Morning Haechan, Stella.” sapa seorang wanita di penghujung umur 30an sambil berjalan masuk dan mengambil posisi duduk di samping kanan Haechan, membiarkan jejeran kursi di seberang mereka tetap kosong.
“Tim N&C udah sampai Mba Ev?” tanya Stella sambil melihat jam di ponselnya.
“Udah di bawah tadi katanya. Ntar lagi juga paling nyampe.” Jawab evelyn sambil menyesap kopi yang ia bawa.
“Eh bentar deh, Haechan kok lo pucet banget? Are u okay?” tanya evelyn melihat wajah pucat dan kantong mata anak buahnya.
“Aman mbak. Begadang doang kemaren. Keasikan nonton drakor.” jawab Haechan enteng membual
“Besok-besok, put some make up on lah. Biar agak enak dikit diliat client. Do you bring some makeup?” tanya evelyn tiba-tiba dan spontan membuat Haechan menganga dan mempertanyakan apakah dirinya memang terlihat semengerikan itu.
“Mba….. yang client itu kita. We hire them as our consultant. Jadi yang harusnya dressup dan memastikan kalau penampilan mereka meyakinkan itu ya anak-anak N&C, bukan kita. Mba kalau mau dateng meeting pakai daster juga gapapa kali mba.” jawab Haechan malas.
“Bisaan banget yaa lo kalau jawab. Ya kan tiap hari tetep harus on point chan. Gimana kalau jodoh masa depan lo ternyata salah satu consultant yang dateng hari ini? You never know Haechan, jadi better lo harus siap dan cetar di segala situasi.” balas evelyn sambil memberikan ekspresi yang menggebu-gebu dan dibalas tawa oleh Stella. Pasalnya, boss Haechan yang satu ini memang gencar sekali ingin mencarikan jodoh untuk anak buah kesayangannya.
“Gak makasi mba. Gue gak berencana cari jodoh. Nih mending Stella aja deh suruh cari jodoh.” balas Haechan sambil menunjuk Stella yang sejak tadi sudah sibuk merapikan rambutnya dan tak henti melihat pantulan dirinya dari kamera depan ponselnya.
“Ohh tenang aja. Gue emang berencana menel ke consultantnya sih. Gue denger dari temen gue yang anak N&C, consultant yang support kita, si Mark tuh top tier visual di kantor mereka.” ucap Stella dan tanpa sadar semakin membuat Haechan mual.
‘Ya selama kegiatan menel lo gak ganggu project kita aja. Jangan sampai kegiatan menel lo bikin project kita makin lama kelarnya’ batin Haechan dalam hatinya sambil tanpa sadar memutar matanya malas.
Di luar dugaan. Ternyata meeting kali ini berjalan sangat lancar. Satu setengah jam berlalu dan semua pembicaraan terasa mudah bagi Haechan. Mark yang sejak awal bertingkah seakan-akan tak kenal dengan Haechan, entah mengapa memberikan rasa syukur kepada Haechan karena secara tak langsung membantu Haechan untuk kembali berubah ke mode profesional dan menanggalkan segala urusan personalnya dengan Mark.
“Oke, saya rasa dari sisi kita all clear. Mulai minggu depan kita bakal coba gather semua data dulu yang ada dari perusahaan Ibu Evelyn. Give us time to analyze first dan nanti Thomas bakal bantu share juga semua timeline untuk project ini.” ucap Mark sebagai penanda usainya percakapan mereka sambil bangun dari duduknya, diikuti laki-laki bernama Thomas yang juga bangun dari duduknya.
“Oke all good. Moving forward kamu bisa share semuanya ke Haechan ya. He’ll lead the project untuk yang pihak kita. If you need anything, just ask him. Saya kemungkinan besar gak akan bisa sering join meeting kalian. Jadi saya percayain sisanya sama Haechan.” ucap evelyn menimpali Mark dan menyodorkan tangannya pada Mark untuk ia jabat.
Semuanya berjalan sangat baik sejauh ini. Haechan rasa jika Mark mampu terus-terusan bersikap seperti ini, Haechan akan siap dengan apa pun yang akan terjadi kedepannya. Ia memutuskan berdamai dengan segala egonya. Melihat Mark yang nampak jauh lebih santai dan tak memusingkan hal-hal yang tak penting, spontan membuat Haechan merasa sedikit lebih yakin bahwa mereka bisa bekerja dengan baik selama 3 bulan ke depan.
Namun, sayang sekali. ketenangan yang baru saja Haechan agung-agungkan, kini nampaknya tak bertahan lama. Saat Haechan bergantian menyalami tangan Mark dan hendak melepaskan jabatan tersebut, tangan Haechan ditahan oleh Mark dan sebuah senyum yang Haechan selalu benci muncul dari sudut bibir Mark. Sebuah senyuman miring yang serupa dengan senyuman yang Haechan ingat 13 tahun lalu di hari ke dua masa orientasi siswa. Senyum yang sama yang membuat Haechan membenci lelaki di depannya mati-matian.
“Oh, ibu evelyn ga perlu khawatir. Saya juga percaya Haechan will do good and help us a lot in this project. I know Haechan better than everyone else in this room. Saya dan Haechan kebetulan teman satu sekolah di SMP, SMA, dan bahkan waktu kuliah. It’s nice. Working with old friend really excites me.” ucap Mark masih sambil menjabat tangan Haechan erat, namun pandangannya kini beralih pada Evelyn, sambil memberi senyuman yang sangat ramah. Bak berbanding terbalik dengan senyum miring yang barusan sempat Mark berikan pada Haechan.
“Oh ya? Wow! I didn’t know you guys are friends.” ucap evelyn semangat.
Dan Haechan yang tak terima dengan gelar teman yang tiba-tiba disebut Mark pun langsung membuka suaranya sambil menarik tangannya kasar dari genggaman erat Mark
“We’re not friends.” ucap Haechan cepat dengan nada yang sama sekali tak terdengar ramah.
Mencoba mengatur emosinya, Haechan pun mencoba menarik 2 nafas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suaranya, “Mba Ev, gue harus pergi buat lanjut meeting lagi sama tim fraud. Gue duluan ya.”
“Dan pak Mark, Pak Thomas, maaf saya pamit undur diri lebih dulu. Kalau ada apa-apa, bisa kontak saya via email atau slack. I think IT bakal set slack account buat kalian nanti, so feel free to reach me out from slack or email.” ucap Haechan sopan sambil membungkuk dan meninggalkan ruang meeting lebih dulu.
Dan setelah berhasil menjauh dari ruangan meeting tersebut, Haechan pun langsung menuju toilet terdekat dan mencoba menenangkan segala emosi dan kekesalan yang muncul pada dirinya saat ini.
Haechan tak menyangka bahwa Mark masih sama menyebalkannya dengan Mark yang Haechan kenal selama ini. That smirk, Haechan benar-benar ingin memukul Mark tepat di wajahnya agar lelaki tersebut dapat berhenti memberikan senyuman seakan-akan meremehkan Haechan. Dan sialnya, mulai hari ini, Haechan harus bertahan selama 3 bulan untuk bekerja bersama dengan orang yang paling menyebalkan yang pernah Haechan kenal.
Ting!
From : +628172619xxx
To : You
Hey Haechan, ini Mark.
IT team belum selesai set slack buat gue dan Thomas. So Mba Ev gave me ur number. Well, i just want to say hi to you karena tadi lo ambil jurus kaki seribu setelah meeting kita.
Oh iya, gue tau kerja bareng sama orang yang selalu bikin lo ngerasa kalah pasti sulit ya? But i can't do anything about it. I try my best buat sesekali nyoba ngalah sama lo, but gue selalu tetap berakhir menang. Mungkin we’re just on diff level. So, kalau lo ga nyaman, just bear with it, oke? ;)
Dan jangan tanya Haechan bagaimana emosinya saat ini setelah membaca pesan Mark. Demi Tuhan Haechan berjanji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti, Haechan akan menonjok Mark dengan tangannya sendiri. Kalau bisa tepat di bibirnya, agar Mark tak bisa lagi memberikan senyum meremehkan pada Haechan. Tiga bulan. Tiga bulan Haechan akan menahannya, dan setelah itu, Haechan akan meladeni segala bendera perang yang Mark kibarkan pada dirinya.
To Be Continued ~
