Chapter Text
Ada begitu banyak orang asing di rumahnya, Lebih tepatnya rumah kedua orang tuanya. Tentu saja….tidak masalah. Mereka semua ada disini karena ada alasannya, Pikir Mark. mereka semua diundang. Tapi ada sesuatu yang membuat mark sedikit aneh, mendengar bagaimana orang-orang tersebut membicarakan ayahnya membuat Mark juga merasa seperti orang asing.
Itulah sebabnya Mark mendapati dirinya bersembunyi di kamar mandi lantai atas, kamar mandi yang sama tempat ia kehilangan gigi pertamanya, tempat bubu melatihnya untuk bisa buang air kecil/besar sendiri, tempat ia membaca majalah dewasa pertamanya dan tertangkap basah oleh sang ayah. Mark ingat sang ayah tidak marah, Jaehyun hanya tertawa dan menepuk pundaknya kala itu, dan entah kenapa mengingatnya membuat Mark marah, seorang ayah seharusnya berteriak pada hal semacam itu, ketika anaknya melakukan hal yang tidak seharusnya, seorang ayah seharusnya peduli, seorang ayah-
Tanpa sadar Isak tangis keluar dari tenggorokannya.
Mark benci ini. Ayahnya tidak seharusnya mati, tidak seperti ini, belum. Apa pun yang Mark rasakan tentang hubungannya dengan sang ayah, apa pun yang mereka katakan satu sama lain, seharusnya tidak berakhir seperti ini—
Tiba-tiba pintu kamar mandi tersebut terbuka dan nampak seorang anak lelaki yang Mark ingat selalu berada di sekitar ayahnya.
Sebenarnya lelaki yang sekarang ada di hadapannya tersebut tentu bukan anak-anak lagi, namun Mark ingat lelaki itu masih kecil ketika ia mulai sering datang ke workshop sang ayah beberapa tahun silam, pastilah sekarang ia sudah berumur dua puluh tahun atau semacamnya, he’s a proper grown-up now.
Mark dan Taeyong belum membaca surat wasiat yang ditinggalkan Jaehyun, tapi ia sudah tahu bahwa Jaehyun mewariskan workshop kesayangannya untuk lelaki tersebut. He’d said as much on his deathbed.
The deathbed Mark hadn’t even known about until it was too late.
"Oh." lelaki bernama Donghyuck tersebut berkedip karena terkejut. "Maaf, saya pikir kamar mandinya kosong—"
"It’s okay." Mark berkata sembari mulai beranjak dari tempatnya dan hendak melewati Donghyuck untuk keluar dari ruangan itu, tapi lelaki yang lebih muda menahannya.
“Mark...I’m so sorry…” ucap Donghyuck dengan suara bergetar menahan tangis.
“It’s okay.” ia berbohong lagi, tetapi suaranya juga bergetar, dan tanpa diminta, air mata mulai mengalir dari matanya.
Donghyuck merengkuh tubuh Mark, tubuhnya yang lebih kecil menempel erat pada Mark. “He loved you. Your father loved you, Mark.”
Mark mendorong tubuh Donghyuck ke arah wastafel. “Don’t,” ucap mark dengan suara tegas, namun tidak ada ketakutan yang nampak pada diri Donghyuck, mungkin itulah yang membuat Mark semakin merapatkan tubuhnya pada Donghyuck hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya.
“Don’t say that. I don’t want to hear anymore about my father.”
Donghyuck tidak bergeming, tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Mark dengan matanya yang berkaca-kaca. Itu membuat Mark marah, jadi dia melakukan satu-satunya hal yang muncul di benaknya
Mark menciumnya, ia mencium Donghyuck.
Ciuman keduanya tidaklah hebat tapi juga tidak buruk, dan tidak satupun dari mereka yang berusaha menghentikannya. Donghyuck yang pertama melepaskan pagutannya, lelaki itu kemudian berbalik menghadap cermin, menurunkan celananya dan menatap Mark dari cermin. Lelaki yang lebih muda dengan sabar menunggu Mark yang sedang membuka kancing celananya , Donghyuck meraih kejantanan milik Mark dan mengocoknya sebentar hingga mengeras, dan dalam hitungan detik milik mark sudah berada di dalam Donghyuck. Keduanya mulai bergerak dan melenguh, terbawa oleh nafsu yang menyelimuti ruangan tersebut.
Mark mengerang cukup keras sebelum akhirnya menghabiskan cairannya di dalam lubang hangat milik Donghyuck yang juga terkejut ketika ia merasakan Sperma Mark mengaliri liangnya. Setelah beberapa saat Mark mulai menyadari apa yang telah ia lakukan, lelaki itu mencabut miliknya dengan cepat dan memasukannya kembali ke dalam celananya.
“Ma-maafkan aku,” Mark berkata cepat dengan nada yang gugup
“It’s okay—“ Donghyuck kini sudah berbalik kembali menghadap Mark yang melihat sekeliling kecuali dirinya.
“I don’t know what I was doing—“
“—Mark—“
“—are you okay?”
“—it’s okay, Mark, I’m fine—“
Mark dengan tergesa keluar dari kamar mandi. Dirinya tidak tahu mengapa ia melakukan hal itu.
Just…fucked Donghyuck like that. Just because he was there.
But that’s not it, is it? suara di kepalanya mengejek. Itu karena ayahmu menyayangi Donghyuck lebih dari ia menyayangi kamu, Mark.
Mark menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan suara tersebut dan bergegas keluar dari rumah.
“Mark?” ia mengabaikan panggilan bubu. Mark masuk ke mobilnya dan mengemudi dengan cepat, sampai ia kembali ke kota, kembali di antara gedung-gedung dan kerumunan orang, dan baru setelah itu ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
.
Two Months later
.
“I don’t fucking care what he thinks,” bentak Mark ke telepon. “He’s signing or we don’t have a deal!”
Hendery tanpa rasa bersalah menghubunginya hanya untuk menyampaikan masalah mengenai Klien mereka. Rekan kerjanya itu benar-benar menguji emosinya dengan mengusiknya di jumat malam, ia memang tidak memiliki rencana apapun, tapi tetap saja ia lelah dan yang saat ini ingin ia lakukan adalah menutup telepon dan menuangkan segelas scotch untuk dirinya sendiri.
Ponselnya berkedip menandakan ada panggilan lain masuk, Mark melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. “Dery? Sepertinya ada panggilan masuk dari mereka.”
"Mereka siapa?" Tanya hendery, tapi Mark menutup dengan segera memutus panggilan Hendery dan menjawab panggilan masuk.
“This is Jeong Mark.”
“Mark.” Itu jelas bukan kliennya. Itu suara lelaki muda, lembut dan pemalu.
“Ya?”
Terdengar hembusan nafas di seberang. “Ini Donghyuck.”
“Donghyuck…?”
“Lee Donghyuck--aku bekerja di bengkel ayahmu,” katanya dengan sedikit kesal.
Oh, sial, Donghyuck itu. Donghyuck yang melakukan hubungan seks yang sangat aneh dengannya di hari pemakaman ayahnya.
"Maaf," ucap Mark, benar-benar bersungguh-sungguh. “I...I wasn’t expecting to hear from you.”
"Yeah." Suaranya kembali lembut "Aku tahu. Um ... dengar ... aku tidak tau bagaimana cara mengatakannya..tapi…ummm….kamu lagi sendirian kan?”
Mark mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemennya. "Y-yeah."
"Oke. Um...look…ingat saat kita...berhubungan seks?”
God, how is he going to forget that? “Tentu saja aku ingat.”
Donghyuck terdengar mengambil napas dalam-dalam lagi. “Well, we didn’t use condom and...i know we, i…wasn’t thinking and …and…..umm…Mark…. I’m pregnant.”
And that’s when Mark’s sleek, brand new Phone slips to the ground and shatters.
