Work Text:
Chapter 1 : How this feeling just growing up.
Tak!
Mata yang semula berfokus pada game di ponselnya melirik pada kotak bekal yang kini teronggok di mejanya. Menge-pause game yang sejak tadi ia mainkan pun melepas sebelah earphone yang dipakainya, pemuda dengan surai brunette itu mendongak dan mengangkat satu alis pada sosok serupa tapi tak serupanya yang asik mengunyah permen karet dengan santai sembari duduk di mejanya.
"Buat lo, gue udah makan tadi sama Ruka."
Si brunette memutar bola mata, dalam hati mencemooh pemuda yang sialnya adalah kembar tak seirasnya.
"Lagi? Azura juga effort bikin bekal buat lo, seenggaknya makan sedikit buat hargain dia, Ren."
Jarendra Juan Wirayudha, kakak beda sepuluh menitnya itu mendengus, "Kalau lo gak mau, kasih aja ke orang. Tapi ntar kotak bekalnya balikin sendiri ke Ara," ucapnya seraya menepuk bahu si kembaran sebelum berjalan keluar kelas dengan santainya, "tolong, ya, Adik!"
Si brunette — Nalendra Jean Wirayudha— menghela napas kesal. Menatap nanar kotak bekal di hadapannya, kembali helaan napas ia hembuskan sebelum membuka penutup kotak tersebut.
Oseng brokoli-tahu juga ayam goreng dan sosis sebagai pelengkap nasi bercetak bulat yang ditaburi bawang goreng di atasnya. Lalu, sekat kecil di dalam kotak juga diisi dengan buah melon segar sebagai pencuci mulut yang diberi tusukan berbandul karakter kucing sebagai pemanis.
Bekal yang buat siapapun pasti tergiur dari tampilan juga aroma yang enak. Sayang, Jalen dengan tak tahu diri menolak untuk memakan menu bekal yang harusnya dibuat untuknya.
Mendengus, Nalen mengambil sendok dan mulai melahap bekal tersebut dengan khidmat. Sudahlah, makan saja. Toh, ia juga belum sempat makan karena malas untuk sekedar jalan ke kantin.
'Rejeki, mana boleh ditolak,' katanya dalam hati. Anteng makan dengan lahap selama dua puluh menit ke depan hingga kotaknya bersih dan habis. Setelah itu, sambil menge-play kembali game-nya sambil sesekali menyuap potongan melon segara sebagai pemanis.
“Lah, dicariin dari tadi ternyata di sini lo. Nalen gak asik banget!”
Tak diacuhkannya rengekan yang tiba-tiba menggema di ruang kelas yang memang sepi. Membuat si pemilik suara yang seorang gadis mendengus.
“Kenapa gak ikut ke kantin? Padahal tadi gue sengaja minta bekal agak banyakan ke Mama, supaya kalian berdua bisa makan juga,” tanya si gadis setelah mendudukan diri di sebelah Nalen.
Menyamankan duduknya, gadis itu mengernyit kala mendapati kotak makan yang sudah kosong, menyisakan bumbu-bumbu yang tertinggal juga tusuk gigi serta sepasang sendok-garpu di dalamnya.
“Bunda Nia masak?”
“Na?”
Hening. Nalen masih asik menggerakkan kedua jempol tangannya untuk mengontrol game yang tengah ia mainkan. Membuat si gadis berdecak kesal dan merampas kasar ponsel milik kawannya itu untuk kemudian membantingnya ke lantai.
“Nalendra! Kalau gue ngomong tuh dengerin coba?!”
Nalen akhirnya menoleh juga, menatap tanpa arti sosok gadis yang terengah marah di sebelahnya.
“Itu hp ke tiga yang gue beli dan lo banting lagi selama dua bulan ini, El,” ucapnya diluar konteks apa yang si gadis, Arunika Bestari Adiyaksa, gadis yang akrab dipanggil Ruka — teman masa kecilnya yang sampai sekarang masih rapat dan menempel baik dengan dirinya maupun Jaren — ucapkan.
Ruka sendiri tak ambil pusing, justru melipat kedua tangan dengan dagu terangkat menantang, “So what? That’s the consequence. Berapa kali lo abaikan gue ketika ngomong? Lo tahu benar, Na, gue paling benci diabaikan.”
Nalen mengangguk, mengamini perkataan temannya. “Yeah, I wouldn’t mind, to be honest. Tapi, lo berlebihan Ru. Kali ini gue harus pakai alasan apalagi ke Bunda?”
“Not my business, and gue gak akan minta maaf. Lo duluan yang mulai. Ngeselin, sih.”
Nalen mendengus. Membungkuk untuk mengambil ponsel yang layarnya sudah retak parah. Membuktikan seberapa keras bantingan yang Aru beri.
“Okey, balik ke topiknya. Lo gak ikut Jaren makan di kantin karena Tante Dania udah bikinin bekal. Tapi, kalau lo bawa, harusnya Jaren juga bawa.” Ruka kembali melontarkan kata mengandung tanya, secara tidak langsung.
“Gue gak bilang bekal ini bikinan Bunda,” sahut Nalen. Sedang Ruka kembali mengerutkan dahi mendengar pengakuan si kawan.
“Ck, lihat kotak bekalnya. Bunda mana mau ngasih kepercayaan ke gue dengan membuatkan bekal pakai Tupperware kesayangannya yang bakal punya risiko ngilang sebab gue selalu sembarangan naruh,” ujar Nalen sambil berdecak, “lagian, lo tahu sendiri Bunda ada pergi ke luar kota buat seminggu ini.”
Ruka menepuk kening sebagai respons, “Iya juga, sih,” beonya pelan, “terus, itu bekal lo dapat dari mana?” tanyanya kembali,
Nalen memutar bola mata malas, menutup kotak bekal yang sudah kandas isinya itu dan memasukkannya ke kolong meja. “Dari mana aja. Lo gak perlu tahu,” jawabnya sambil kembali duduk dengan kasar di kursinya, tangannya dilipat dan kepalanya pun bertumpu di sana.
“Dah, sana balik kelas lo. Makasih, berkat lo gue gak ngerti harus ngapain selama tiga jam ke depan sampai pulang dan beli hp baru.” Sambil memejamkan mata, Nalen menggerutu.
Mengabaikan total kehadiran Ruka yang menekuk wajah. Gadis itu menghela napas, mengintip kotak bekal berwarna ungu muda yang tersimpan apik di kolong meja Nalen dengan sorot sendu.
“Itu buatan sendiri, kah? Enak gak, Na?”
“Iya.”
Jawaban pendek Nalen buat hati Ruka ngilu tanpa sebab. Gadis itu kembali menghela napas, bangkit dari duduknya dan pamit pergi. Berjalan menyusuri koridor kelas sambil melamun.
‘Nalen lebih suka kalau bekalnya buatan tangan sendiri, ya? Iya, sih, bakal kerasa lebih tulus juga.’ Gelisah hatinya dibuat karena pemikirannya sendiri.
‘Tapi siapa? Siapa dia yang berani ngasih bekal buat Nalen, dan dia mau makannya? Ini Nalendra Jean Wirayudha, lho! Cowok yang bahkan dekat cewek aja gak pernah kayaknya sejak putus sama Yoanna,’ pikirnya sambil terus melangkah pelan.
Asik bertanya-tanya sendiri pada batinnya membuat gadis itu tak memperhatikan sekitar. Hampir menabrak orang di depan jika saja tangannya tak segera ditarik ke belakang.
“Kalau jalan lihat depan, bego. Nabrak terus nyungsep, malu sendiri.”
Ruka mengerjap, memandang pergelangan tangannya yang digenggam oleh tangan besar milik seseorang. Mendongak, gadis itu berkedip satu-dua.
“Jaren?”
***
Nalen terbangun tepat ketika bel pulang sekolah berdering nyaring tiga kali. Cowok itu terdiam sejenak guna mengumpulkan nyawa yang masih setengah terkumpul. Satu, dua, lima detik terlewati begitu saja. Nalen masih tidak bergerak, selanjutnya, melirik kanan-kiri. Mendapati teman-teman sekelasnya yang tampak membereskan barang-barang mereka dan memasukkannya dalam tas.
Bagus, dia tertidur selama dua mata pelajaran penuh. Berdoa saja tidak ada oknum guru yang berani melaporkan kelakuannya kepada sang ibunda tercinta karena tertidur saat jam pelajaran berlangsung.
Walau ia 95% yakin tidak akan ada guru yang berani melapor.
“Baiklah, pelajaran hari ini Ibu tutup sampai sini. Jangan lupa kerjakan rangkuman kalian dan kumpulkan di meja Ibu Rabu depan. Selamat Sore.”
Guru bertubuh semampai dengan kacamata yang selalu tersemat di antara hitungnya itu melenggang pergi, diikuti bubarnya murid-murid kelas lain.
Tak dianggapnya sapaan dan ucapan sampai jumpa yang dilontarakan gadis-gadis sekelasnya, Nalen masih duduk di bangkunya bahkan ketika kelas sudah sepi tiada penghuni selain dirinya.
Sore ini cerah, bias kekuningan menembus melalui jendela kelas. Hantarkan sisa hangat yang masih terasa karena sang surya masih bertahkta di ufuk sana.
Beberapa menit duduk diam sambil menikmati hangat serta cahaya sore, Nalen akhirnya memilih bangkit, menenteng tas sekolahnya, mengambil kotak bekal di kolong meja, dan berjalan malas keluar kelas seraya menguap.
Meniti langkah menuju parkiran sekolah di mana ia letakkan mobilnya. Sampai lapangan, hanya tinggal lima meter jalan lurus dan tiga meter belok kiri, Nalen hentikan langkah kakinya kala mendapati eksistensi sosok mungil yang duduk menunggu di gazebo timur lapangan.
Menatap kotak bekal di tangannya, Nalen memutuskan untuk berjalan mendekat.
“Belum pulang, Ra?”
Merasa dipanggil, si pemilik nama menoleh. Agihkan senyum kecil kala mengetahui Nalen yang datang menyapa. “Hehe, iya, nih. Maunya bareng Jaren, dia bilang mau antar pulang hari ini. Tapi katanya Bunda kalian nitip untuk ambil kain di butik sekalian jemput beliau. Jadi, yah, harus nunggu adik yang ada ekskul dulu.”
‘Si Brengsek!’ Nalen membatin. Pejamkan mata untuk menetralkan emosi yang tiba-tiba baluti hati, Nalen mendengus dan mendudukan dirinya di samping Azura, nama si gadis yang kini menatapnya bingung.
“Dari kapan si Tolol pulang?”
“Eh? Gak lama, sih. Baru aja. Kayaknya gak ada lima menit sebelum lo datang, dia pamit ke gue,” jawab Azura kikuk ketika mendengar sebutan yang diucapkan Nalen untuk si kembaran.
Lagi-lagi dengusan culas ia keluarkan, walau tipis dan tak begitu nampak.
“Lo sendiri, gak cepat pulang, kah? Soalnya Jaren bilang hari ini Bunda ulang tahun. Duh, gue baru tahu, tolong sampaikan salam buat Bunda, ya? Maaf gitu, selama ini belum bisa ketemu langsung dan main ke rumah, kasih hadiah.” Azura putuskan untuk membuka percakapan. Mengusir rasa canggung dan hening yang sudah dua menit berlalu sejak Nalen bertanya.
‘Lancar bener si Tolol bohongnya,’ gerutu Dikta sambil mengepalkan tangan geram.
Mana ada bunda ulang tahun? Perayaan ulang tahun wanita yang telah melahirkan keduanya ke dunia itu bahkan sudah lewat satu bulan yang lalu.
“Nalen? Lo gak apa-apa?”
Segera Nalen menoleh ketika Azura bertanya sambil menatapnya cemas, takut salah bicara.
“Gak. Santai aja, Bunda udah seneng walau lo ucapin doang, kok. Nanti gue sampaikan,” jawabnya sambil menarik sudut bibir, mencoba tersenyum untuk meyakinkan Azura. “Oh, ya, si To…, maksud gue si Jaren tadi nitip ini. Kelupaan dia di kolong meja tadi,” ujarnya kemudian sambil menyodorkan kotak bekal ungu muda kembali pada Azura.
Menerima kotak tersebut, senyum Azura merekah.
Cantik.
Gadis itu selalu cantik sejak ketika Dikta arahkan pandangan matanya tak sengaja untuk kali pertama bertemu sosoknya saat penerimaan siswa baru dua tahun lalu.
Senyumnya seolah mengandung sesuatu yang adiktif. Membuat Dikta tak bisa lepaskan pandangnya. Caranya tersenyum dan tertawa bahkan bicaranya yang lembut dan ramah, selalu buat seolah sesuatu menggelitik perutnya.
Nalen masih ingat ketika gadis itu menolongnya yang habis terhantam bola basket pasca latihan untuk persiapan class meeting saat kelas 10 dulu. Hantaman bola yang gagal ia tangkap itu terlalu keras mengenai hidungnya hingga mimisan, saat itu Azura yang kebetulan tergabung dalam PMR di sekolahnya-lah yang membantunya untuk mengobatinya hingga keduanya saling berkenalan walau hanya nama. Padahal saat itu mereka sebelumnya mereka tidak saling kenal, mungkin, hanya Nalen yang mengetahui sosok Azura sedang gadis itu sama sekali tidak mengenalnya. Well, terkadang, mereka berpapasan walau tak sering. Karena, hei, jumlah siswa yang masuk saat angkatannya saja berjumlah lebih dari 250 siswa yang dibagi menjadi total 10 kelas. Kesempatan untuk saling mengenal dekat dengan orang beda kelas sangat jarang terjadi jika tidak berkawan sejak SMP atau saling kenal di luar sekolah.
Satu setengah tahun, Dikta hanya bertahan memperthatikan dari jauh atau sekedar mengobrol ketika tak sengaja bertemu dan menemukan bahasan yang cocok, membuat mereka tampak akrab untuk dikatakan sebagai seorang teman dekat untuk berbagi cerita.
Sebelum pada tahun kedua, pada pertengahan semester ke empat di SMA-nya, semua hal sialan mulai terjadi.
Menggeleng pelan, Dikta putuskan untuk tidak mengingatnya lebih jauh. Hanya ada amarah yang semakin menumpuk di hati ketika mengingatnya.
“Jaren ada bilang sesuatu soal masakan gue gak, sih, semingguan ini? Kayak kurang asin atau kurang pedas, atau kurang pas rasanya? Atau ada sesuatu yang pingin dia makan?” Senyum Azura mengembang, senang ketika mendapati kotak bekal yang dibawakan olehnya enteng dan ringan. Tanda bahwa makanan yang dia masak habis di makan. “Senang deh, kalau masakan gue dihabisin. Sebelumnya dia juga bilang kalau masakan gue selalu enak,” lanjutnya dengan gumam kecil, walau Nalen masih dapat mendengarnya dengan jelas.
Senyum getir serta dengusan miris untuk diri sendiri Nalen hadirkan sambil membuang muka. “Gak ada. Dia selalu lahap dan kelihatan puas setiap makan bekal dari lo,” ucapnya pelan. Dalam hati lontarkan kata maaf pada Azura lantaran kembali berbohong.
Lewat lirikan matanya, Nalen dapat melihat bahwa senyum Azura semakin merekah dengan pipi merona. Lucu, cantik, manis. Azura yang malu-malu selalu membuatnya gemas, namun prihatin di saat yang bersamaan.
Samar tak lama setelah mengamati Azura, Nalen dapat melihat motor sport hitam dengan corak kuning melaju melewati lapangan menuju pagar keluar sekolah. Hapal betul siapa pengendaranya juga sosok gadis yang menumpang di jok belakangnya. Tangannya terkepal geram, gatal ingin melampiaskannya dengan menonjok segera wajah si pengendara.
“Eh, kata Kahvi masih lama eks — ,”
“Ra!”
Secepat Azura menoleh lantaran mengira itu suara motor sang adik yang menjemputnya, secepat itu pula Nalen berseru sambil menahan bahu gadis itu agar tak berbalik.
Buat Azura terkejut dan mengerjap heran, “Ke-kenapa, Na?”
Nalen dibuat kikuk, tanpa sadar mencengkram pundak si gadis terlalu erat hingga mengaduh. Refleks ia lepas segera setelah merasa motor itu keluar dan jauh dari jangkauan matanya.
“G-gak, tadi ada ulat bulu jatuh,” jawaban acak yang lewat di otak dan dirasa paling masuk akal tervokalkan dengan gagap.
Azura pun lantas menjengkit kaget, gadis itu refleks mendekat pada Nalen dan mencengram kuat lengan pemuda itu, “U-udah jauh, ‘kan, ulat bulunya?” cicitnya takut, lebih kepada geli.
Nalen terdiam, sejenak kemudian berusaha menahan tawanya seketika, menghembuskan napasnya, ia tersenyum dan mengangguk, “Aman udah, udah gue lempar jauh.”
Menghela bapasnya lega, Azura berangsur membuat jarak kala menyadari tubuh keduanya yang merapat, “Ma-maaf, habis geli gue sama makhluk yang badannya lunak gitu,” lirihnya malu sambil bergidik.
“Iya, santai aja.”
Detik setelahnya mereka lalui dengan hening. Azura yang sibuk merutuk malu perkara gerakan refleksnya yang akan terlihat seolah ia tengah memeluk Nalen apabila dilihat dari sudut tertentu, juga Nalen yang pada dasarnya bukanlah tipe orang yang akan memulai konversasi lebih dulu dengan lawan bicaranya.
“Eum, lo gak jadi pulang?” Pada akhirnya Azura memilih membuka kembali percakapan di antara mereka ketika rasa malunya dirasa sudah hilang.
“Nanti.”
Azura memainkan ujung roknya canggung. Menelan ludah karena kehabisan bahan pembicaran. Duh, awkward banget! Keluhnya dalam hati.
Kembali hening hampiri keduanya. Azura sudah menyerah, otaknya tak dapat menemukan obrolan yang kiranya menarik untuk dibahas dengan Nalen.
“Adik lo, masih lama?”
Azura menoleh cepat, cukup terkejut saat Nalen duluan yang justru melontarkan tanya. “Eh, ung? Gak tahu juga, ya. Tapi, Kahvi bilang mungkin bakalan lama, karena ada sparing sama SMA sebelah,” jawab Azura sekenanya.
“Adik lo, anak Neo, ‘kan? Baru masuk tahun ini?”
“Iyap, betul. Kahvi baru masuk tahun ini. Tapi, dia ada di gedung baru. Tahu, ‘kan? Adik kelas tahun ini ruang kelasnya pada di sana, dan lagi, lapangan basket indoor kita juga ada di sana, jarak gedung lama ke gedung baru juga lumayan, sih, walau cuma 5 menitan jalan kaki.”
Azura mengayunkan kedua kakinya yang menggantung karena jarak dudukan gazebo ke tanah lumayan tinggi untuk kaki-kaki pendeknya. Gadis itu menatap lurus ke depan, mengamati lapangan yang sudah sepi. Menyisakan beberapa murid yang mungkin menunggu jemputan atau masih mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yang memang aktif setiap hari Sabtu.
“Anak basket, ya?” Nalen bergumam kecil, “bareng gue, mau? Bakal lama kalau lo nungguin adik lo selesai. Sparing biasanya gak selesai dengan satu kali pertandingan.” Nalen memberi penawaran.
Bukannya apa, ini sudah sangat sore, hampir pukul 5 karena sekolah mereka adalah salah satu sekolah elit dengan program full day school, yang mewajibkan setiap siswanya hadir pukul delapan pagi hingga pukul setengah lima sore.
Area sekitar sekolah juga sudah sepi, bukannya mau meragukan keamanan sekolah yang biaya SPP perbulannya tidak main-main, hanya saja, tidak elok membiarkan Azura yang notabane seorang gadis menunggu sendirian saat hampir malam begini. Terlebih, Nalen lebih dari sanggup untuk menawarkan sebuah tumpangan.
Sementara Azura sendiri justru terdiam. Gadis itu bimbang antara menerima tawaran pulang bersama yang dengan baik hati sudah Nalen berikan, atau menunggu adiknya dengan konsekuensi tidak pasti kapan akan selesai ekskul.
Di satu sisi, Azura ingin sekali menerima tawaran tersebut karena memang ia sudah lelah dan ingin segera istirahat. Tapi di sisi lain, Azura berpikir apakah benar jika ia menerima tawaran Nalen untuk pulang bersama, sedangkan posisinya adalah kekasih dari kembaran pemuda itu sendiri?
Terlebih, kedua anak kembar ini lumayan famous karena miliki tampang yang di atas rata-rata juga orangtua mereka yang merupakan donatur terbesar di sekolah. Fans-fans mereka banyak dari kalangan siswa-siswi sekolah, baik dalam maupun luar.
Aduh, dari awal masa pendekatan hingga kini menjalin hubungan, Azura berulang kali mendapat lirikan sinis juga omongan pedas dari para penggemar Jalendra. Meski tidak semua, tapi tetap saja, mengingatnya sanggup buat Azura merinding. Alasan yang membuat keduanya sepakat memutuskan untuk menyembunyikan hubungan mereka. Hanya ada beberapa orang yang tahu.
Apa kabar dirinya nanti jika ada gosip yang membicarakannya dekat juga dengan kembaran Jaren? Duh, tak tenang tahun terakhirnya di sekolah.
“Ra?”
“Eh, iya?”
Mata Azura berkedip polos sebagai respons panggilan namanya di tengah lamunan. Gadis itu terlihat linglung sejenak dengan wajah tanpa dosa yang jatuhnya gemas. Kembali bimbang menggigit bibir bawahnya seraya mata cantiknya memincing berpikir.
Nalen terkekeh kecil, tangannya kontan terangkat untuk mengusak lembut puncak kepala Azura, “Soal Jaren, kah? Gampang, nanti biar gue yang bilang, kalau lo nebeng gue pulang ini.” Seolah mengerti isi pikiran si gadis, Nalen berucap. Luput dari matanya ketika Azura mematung di tempat, dengan rona sewarna buah persik yang menyebar pelan hangatkan pipi tembamnya.
“Bentar, lo tunggu di sini aja. Gue ambil mobil di parkiran.”
Tanpa persetujuan, Nalen lantas melenggang pergi setelah menepuk pelan kepala Azura. Tanpa tahu, seberapa cepat jantung Azura berdetak gugup. Nalen tidak akan pernah tahu, bahwa kala itu Azura dilanda dilema hati. Perihal gestur sederhana yang Nalen berikan pada kepalanya, menepuk dan mengusapnya dengan sayang, yang Nalen sekalipun bahkan tak pernah lakukan lagi sejak enam bulan hubungan mereka berjalan.
Seharusnya tidak boleh begini. Jantungnya harusnya tidak boleh berdetak tak karuan, kalut, hanya ketika Nalendra berikan sedikit sentuhan kecil.
Tidak boleh.
Tidak ketika Azura adalah kekasih saudara kembar pemuda itu. Tidak ketika hatinya sudah dimiliki dan memiliki seseorang.
Azura merasa bersalah. Tapi tak dapat bohongi diri bahwa hati merasa tersentuh. Degup jantungnya tak dapat didustakan, bahwa Azura senang dan seolah kupu-kupu berterbangan di perutnya, menggelitik menyenangkan.
Menggeleng guna sadarkan diri, Azura menepuk kedua pipinya cukup keras. Pertegas rona kemerahan yang kini bertambah karena efek tabrakan kulit telapak tangannya yang saat ini menangkup pipinya sendiri. Memutuskan dan meyakinkan diri, bahwa ia hanya sedikit terkejut karena tak pernah dapatkan perlakuan serupa lagi sejak lama.
‘Benar, cuma efek kaget.’
***
Dua hari setelahnya, tepat hari Senin pukul 10 pagi. Azura mematut diri di depan cermin. Memutar tubuh mungilnya ke kanan-kiri. Tersenyum puas saat merasa pas dan nyaman dengan outfit yang ia kenakan untuk hari ini.
Sebuah sweater kuning pastel yang dipadukan dengan rok payung cokelat selutut. Cuaca yang cukup dingin lantaran hujan seharian kemarin buat Azura mantap kenakan sweater kesayangannya.
Poleskan bedak tipis pada wajah, juga bubukan sedikit perona pipi dan liptint agar bibir nampak lebih segar, Azura siap dengan tas selempang kecil juga flatshoes cokelat muda sebagai alas kakinya.
Semalam, Jaren mengirim pesan, akan mengajaknya menonton bioskop untuk mengisi hari libur mereka. Kebetulan juga Azura lumayan penasaran dengan film yang akan mereka tonton. Guardian of The Galaxy Vol. 3 yang sudah cukup lama Azura tunggu jadwal tayangnya.
Azura semalaman tidak bisa tidur saking senangnya. Pikiran lugunya mengira-ngira, apa saja kiranya yang akan mereka lakukan besok setelah atau bahkan sebelum menonton film. Ini juga kali pertama mereka keluar lagi setelah sekian lama.
Ajakan kencan! pekiknya sambil terpejam gembira.
Riang gadis itu keluar kamar, menuruni anak tangga untuk segera keluar setelah mendapat kabar bahwa Jaren menunggu di depan.
“Lo mau kemana?”
Pertanyaan sang adik buat Azura mengulum senyum malu. Gadis itu tak langsung menjawab, mematut diri sekali lagi pada kaca besar yang retletak di samping TV di ruang keluarga, di mana sang adik tengan berkutat dengan video gamenya.
“Ada janji sama Jaren, hehe,” jawabnya kemudian, sembunyikan senyum gembira yang berusaha ia tahan. Tanpa menyadari raut tak suka yang langsung Kahvi — sang adik — tunjukkan setelahnya.
“Kakak masih sama Bang Jaren?”
Pertanyaan Kahvi buat Azura mengerutkan kening, “Kok pertanyaannya gitu?”
Kahvi mendesah gusar, pemuda itu mengusak rambutnya yang sudah berantakan karena memang bangun tidur. “Kak, gue bilang berkali-kali soal ini, jangan sama Bang Jaren. Dia gak cukup baik buat lo.”
Azura diam, raut wajahnya penuh keheranan, meminta penjelasan atas alasan mengapa Kahvi begitu tak suka akan hubungannya dengan Jaren sejak pemuda masuk sekolah yang sama dengannya.
“Kenapa?”
Lidah Kahvi terasa kelu ketika lontaran tanya bernada ingin tahu itu Azura suarakan. Ah, sungguh, Kahvi tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan satu itu. Kahvi tidak bisa memastikan apa yang ia dengar samar-samar dari kebanyakan siswa sekolah, dan lagi, Kahvi tidak sanggup jika Azura murung dan memikirkan pernyataan tanpa bukti yang sudah sejak awal masuk sekolah ia dengar.
Helaan napas Azura terdengar lelah, “Kamu selalu kicep setiap Kakak tanya alasannya,” katanya lirih, “udah, ya, Kakak pergi dulu. Tadi udah izin sama Ayah dan Ibu, kok.”
Azura berlalu menuju pintu keluar tanpa menunggu balasan sang adik. Meninggalkan Kahvi yang masih tercenung di tempatnya berdiri sambil memandang nanar punggung mungil sang kakak yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu yang tertutup.
***
“Hai! Salam kenal! Gue Arunika, tapi lo bisa panggil gue Ruka. Biar keren, kayak ada aksen Jepang gitu, hehe.”
Azura mengerjap, menatap pada uluran tangan yang dimaksudkan untuknya. Merasa tak segera disambut juga kepalang gemas pada raut kikuk gadis mungil di depannya, Ruka, orang yang mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Azura, lantas mengamit paksa telapak tangan Azura. “Duh, kok bisa-bisanya orang seimut ini temenan sama lo, Ren?! Siapa nama lo, hm?” pekiknya dengan gemas. Sebelah tangannya yang bebas menjawil pipi tembam Azura yang mendadak terbengong, berusaha memproses hal demi hal.
Bukankah seharusnya mereka berkencan? Lantas kenapa ada Nalen juga tambahan seorang gadis yang ia agaknya tahu siapa.
“G-gue Azura, Ruka bisa panggil Ara aja. Salam kenal juga, Ruka.”
Pada akhirnya Azura dengan kikuk membalas, mengerjap satu-dua dan menoleh pada Jaren di sebelahnya. Mencoba meminta jawaban lewat lirikan mata.
“Udah, Ru. Kasihan anak orang sawan ditempelin tiba-tiba gitu.”
Jaren terkekeh geli mendengar celetukan si kembaran, menepuk kepala Azura di sebelahnya, “Ra, Ruka ini teman kecil gue sama Nalen. Anak IPS 5,” ucapnya memperkenalkan. Membuat Azura mengangguk dan mulai agihkan senyum, baru ia akan membuka mulut guna menanggapi, Azura terdiam selanjutkan ketika mendengar lanjutan kalimat yang Jaren lontarkan.
“Nah, Azura ini teman bimbel gue waktu kelas 11.”
Azura terpaku untuk beberapa saat. Hatinya agak sakit saat Jaren mengatakan bahwa mereka hanya teman bimbel pada Ruka. Walau memang benar kenyataannya mereka pernah berada satu bimbel Matematika lantaran nilai keduanya yang anjlok pasca ujian akhir semester 3 kala itu, yang mana mengharuskan mereka mengikuti bimbel perbaikan nilai agar bisa melanjutkan pembelajaran di semester 4 nanti. Dari sana juga mereka akhirnya saling kenal sebelum akhirnya menjalin hubungan.
Apakah pada Arunika yang notabene-nya teman kecil si kembar, Jaren bahkan masih ingin menyembunyikan hubungan keduanya?
Maksudnya, oke, Azura dapat memaklumi apabila Jaren ingin backstreet di lingkungan sekolah. Karena memang Azura pikir, satu sekolah tidak perlu tahu jika mereka sepasang kekasih, yang terpenting mereka sama-sama saling mengerti dan menjaga perasaan satu sama lain.
Tapi di luar itu, haruskah Jaren juga tidak mengakuinya? Terlebih Arunika tergolong orang paling dekat Jarena karena sudah mengenal sejak kecil. Pasti juga dianggap keluarga, bukan? Apa sebegitu tidak inginnya Jaren perkenalkan Azura dengan orang-orang terdekatnya?
Kalau dipikir-pikir, hampir setahun lebih terhitung sejak mereka dekat hingga menjalin kasih, Jaren tak pernah sekalipun kenalkan Azura pada keluarganya, atau minimal orangtuanya, selain Nalen yang memang Azura kenal juga.
Belum ada waktu, atau waktunya lagi gak tepat.
Atau; kedua orangtuanya sangat sibuk hingga jarang ada di rumah.
Selalu itu alasan yang Jaren berikan setiap Azura bertanya perihal kenapa Azura tak pernah sekalipun dibolehkan berkunjung ke rumahnya ketika ia sendiri menawarkan.
“Ra? Kok malah bengong, si Gemes?”
Celetukan Ruka yang entah sejak kapan tanggannya berpindah jadi memeluk lengan kanan Azura membuat gadis manis itu tersentak pelan. Mengerjap satu-dua sebelum menggeleng pelan dan terkekeh canggung.
“Eh, enggak, kok. Cuma kepikiran aja … ngomong-ngomong, berarti kelas kita depan-depanan, dong? Gue IPA 2.”
“IHH?! Kenapa gue baru tahu?! Lo anak Neo juga! Astaga, harusnya kita bisa ketemu lebih cepet! Kok bisa gue gak tahu lo!” pekik Ruka sambil menggonyakan tubuh Azura heboh, sontak menjadi perhatian para pengunjung taman yang mereke kunjungi karena area bioskop sendiri terdapat pada lantai 3 pusat perbelanjaan yang berjarak tak jauh dari taman tempat mereka sekarang.
Tapi mana mau Ruka peduli. Gadis itu kepalang kesal, kenapa bisa dirinya tidak bertemu Azura lebih cepat padahal kelas mereka berhadap-hadapan.
“U-umh, ya, mungkin karena siswanya banyak? Gue juga jarang keluar kelas kalau gak ke kantin atau ke perpus, sih.” Azura terbata, cukup terguncang akan sikap bar-bar Ruka pada tubuhnya.
Tambah keras pula seruan gemas Ruka ketika mendedngar jawabannya. Lihatlah! Bagaimana lugu dan menggemaskan wajah Azura yang terlihat bingung di hadapannya!
“Astaga! Gimana ceritanya lo bisa segemes ini?! Lihat nih, pipi lo udah mirip bakpau yang suka gue beli di bakery!” serunya sambil menarik kedua pipi Azura hingga memerah. Dalam hati Azura membatin, energi sosial milik gadis bernama Arunika ini pasti tumpah ruah. Lihatlah dari sikapnya yang seakan mereka sudah berteman bertahun-tahun, padahal nyatanya mereka baru bertemu beberapa menit lalu.
“Duh-duh, gak bisa! Kita harus temenan!”
Heboh Ruka mengamit lengan Azura dan membawanya duduk di salah satu bangku yang tersedia. “Nah, yuk duduk sini aja dulu. Kita harus ngobrol banyak biar cepat akrab!” Duduk nyaman di kursi kayu bawah pohon besar dan mulai mengobrol random. Dimulai dari lontaran tanya kegiatan seputar sekolah dari Ruka ketika ia ingat bahwa ia penah sekali-dua berpapasan dengan Azura.
Azura sendiri langsung merasa klop dengan Ruka. Pembawaan gadis itu yang ceria membuat Azura tak merasa canggung ketika berbicara dengannya. Keduanya kurang lebih miliki selera drama dan musik juga hal-hal lain tentang gadis remaja yang sama. Membuat mereka tak butuh waktu lama untuk cepat akrab. Meski pembicaraan seterusnya didominasi oleh Ruka yang bercerita tentang kisah masa kecilnya dengan si kembar hingga aib-aib kedua pemuda itu yang didengarkan antusias olehnya.
Azura jadi tahu kalau Ruka adalah sahabat zaman orok si kembar. Membuat ia maklum ketika sebelum-sebelumnya banyak mendengar nama gadis itu keluar dari mulut Jaren sebagai alasan ketika mendadak membatalkan janji dengannya.
Ruka jauh lebih lama mengenal Jaren dari pada dirinya yang meskipun berstatus kekasih pemuda itu. Membuatnya mencoba memahami bahwa Ruka merupakan salah satu prioritas pemuda itu sejak lama.
Tentu saja, teman harus selalu didahulukan, bukan?
“Haduh, asli sih Ra. Gue sampai sekarang masih belum bisa move on dari drama itu. Sampai sekarang masih ngarepin mereka main drama bareng lagi!”
Azura mengangguk setuju. Drama Snowdrop yang diperankan oleh Jisoo Blackpink memang ciamik! Azura sampai kagum-kagum sendiri selama menonton drama romansa satu itu.
“Masih lama mau ngobrolnya?”
Serempak mereka menoleh ke arah kanan. Mendapati si kembar yang duduk menopang dagu di sana dengan empat gelas kopi yang sama-sama hampir kosong. Aduh! Mereka sampai lupa eksistensi kedua pemuda itu saking asiknya mengobrol.
Ruka mengecek jam di pergelangan tangannya. Sudah pukal 11 kurang sepuluh menit. Artinya sudah hampir setengah jam mereka bercengkrama ditemani boba milk yang sempat mereka pesan sebelumnya.
“Eh iya! Udah kok ini. Yuk, Ra. Buru habisin minumnya, biar kita bisa keliling dulu sebelum filmnya dimulai.” Ruka berujar guna memecah hening yang menyapa jeda setelah beberapa saat.
“Memang Ruka ambil yang jam berapa?”
“Eum, kemarin gue boking yang jam satu lebih empat puluh. Biar kita bisa jalan-jalan dulu. Senang banget gue pas Jaren bilang kalau ada temannya yang juga nunggu Vol. 3 dan mau join nonton bareng, cewek lagi. Gue sampai udah bikin planning kita harus ngapain aja seharian ini saking senangnya,” celetuk Ruka menjawab dengan semangat dan sumringah, seolah sudah menantikan hal ini sejak lama.
Azura yang melihatnya jadi tertular senyum, “Jadi gak sabar. Udah lama gue gak main keluar juga. Gue bakal menanti apa aja yang bakal kita lakuin hari ini,” tutur Azura begitu lembut ketika mengatakannya. Binar matanya yang antusias tak berbohong, tulus menyampaikan maksud hatinya.
Ruka terdiam beberapa saat. Terpana akan bagaimana binar mata Azura seolah punya kilat gemintang di dalamnya. Azura adalah gadis yang cantik, ia sudah tahu sejak awal menatap wajahnya.
Antusias yang terpancar tidak dapat bohong lewat mata Azura. Mata gadis itu seolah dapat memberi tahu hal apapun yang ada di dalam pikiran juga hatinya, perasaanya.
Tipikal orang yang tak bisa berbohong, hanya mengatakan apa yang menjadi pikiran dan yang dirasakannya.
Dalam hati, Ruka ucapkan terima kasih. Terima kasih akan respons antusias Azura yang tak pernah ia dapatkan dari teman-temannya ketika ia membicarakan rencananya.
Dorongan kuat dari hatinya akan rasa gembira juga haru, Ruka dengan sergap menerjang tubuh mungil Azura untuk ia peluk erat. Hingga buat Azura bingung mengerjap satu-dua, sebelum tertawa kecil dan balas memeluk balik tubuh Ruka dengan hangat.
Sedang Jaren dan Nalen hanya diam sebelum saling tatap. Mendecih, Nalen memilih buang muka. Geram sebab mengingat pembicaraan mereka selama menunggu Ruka juga Azura yang mengobrol jarak dua bangku dari mereka sebelumnya.
***
Ruka dengan energinya yang selalu penuh segera menyeret Azura untuk berjalan duluan ke pintu masuk mall sambil menunggu si kembar yang menyusul kemudian. Mendapati keduanya mendekat, Ruka bergegas menggandeng tangan Azura untuk kembali menyeretnya ke tempat pertama yang harus mereka kunjungi.
“Ra, suka nail art gak, sih?”
“Suka banget! Cuma udah lama gak ke salon lagi, paling cuma kutekan atau pakai fake nail.”
Jawaban Azura buat senyum sumringah Ruka makin lebar, “Pas banget! Gue tahu tempat salon kuku yang bagus di sini, kesana yuk? Sekalian bikin nail art baru!” cetus Ruka gembira, yang dibalas anggukan setuju.
“Boleh-boleh, ayo!”
Keduanya tertawa setelahnya, dan bergandengan tangan berjalan menaiki eskalator menuju lantai dua sambil mengomentari apa yang tertangkap pandangan mata. Lagi-lagi melupakan dua pemuda yang ikut hadir di belakang mereka. Hanya sama-sama diam mengikuti tanpa berniat membuka percakapan.
Begitu sampai di salon yang dimaksud, Ruka berbalik ketika mengingat bahwa si kembar turut mengikuti mereka sejak tadi. “Lo berdua kalau mau mencar dulu gak apa-apa. Kita kayaknya bakal lama, masih tiga jam lagi juga filmnya,” ujarnya sambil menatap baik Jaren maupun Nalen yang saling menatap.
“Gue nunggu di sini aja.” Nalen lantas membuka pintu kaca salon tersebut dan masuk lebih dulu. Jaren sendiri mengangkat bahu, menyusul saudara kembarnya, “Entar kalau lo berdua hilang, bisa berabe.”
Meninggalkan kedua gadis yang terdiam beberapa saat sebelum Azura tertawa kecil ketika mendengar gerutuan Ruka sambil membuka kasar pintu kaca dan masuk. Mereka berjalan kearah konter dan disodorkan katalog contoh desain yang tersedia, pegawai salon yang akan melayani mereka juga mengakatakan bahwa untuk desain bisa custom jika memang ingin.
Azura membuka lembar kian lembar dengan pelan, sambil berpikir mana kiranya yang menarik hati dan cocok untuk menghiasi kukunya selama beberapa minggu ke depan. Matanya berhenti pada desain dengan tema bunga matahari, senyumnya merekah, gadis itu mendongak, berniat meminta pendapat Ruka. Namun urung ketika melihat bagaimana Ruka menggerutu ketika ia meminta saran pada Jaren yang entah sejak kapan berdiri di sisi kanan Ruka padahal terakhir ia melihat kekasihnya itu duduk bersama Nalen di ruang tunggu dekat pintu masuk.
Tidak, bukan masalah Ruka yang meminta saran. Azura hanya bingung, terpaku ketika menyadari bagaimana mata kekasihnya itu tak kunjung lepas menatap Ruka yang kembali sibuk dengan katalog setelah desain yang dipilihnya dikatai tak cocok untuknya. Matanya tak mungkin salah ketika melihat senyum kecil tersungging di wajah tampan kekasihnya ketika memperhatikan Ruka yang menggerutu dan mengomel pelan.
Ah, bolehkah ia cemburu? Azura lupa apakah pernah Jarendra menatapnya dengan binar memuja seperti ia menatap sahabat kecilnya itu.
Tepukan di bahunya segera menyadarkan Azura, menoleh dan mendapati Nalen yang juga tak tahu kapan sudah berdiri di samping kirinya yang berikan senyum tipis, “Desainnya bagus. Simple dan cocok sama lo, si paling yellow,” katanya sambil menunjuk desain yang dimaksud dengan dagu.
Azura mengerjap, menghela napas tipis, “Eh, iya kah? Tapi kalau minta bunga mataharinya gak usah ada daunnya kira-kira bisa gak, ya? Biar cuma kelopaknya aja di bagian jari manis.” Azura pilih untuk segera alihkan pikirannya.
‘Gak baik cemburu sama Ruka. Dia teman masa kecilnya, wajar ‘kan?’ pikir Azura mencoba positif.
“Bisa, Kak. Kalau misal mau beberapa bagian desain diubah tapi mau tetap pakai tema sunflower seperti digambar juga boleh banget, kok.” Si pegawai menyahut, memberikan penawaran pada Azura yang nampak tertarik.
“Ih, udah nemu aja lo, Ra. Gue masih bingung, huhu, ini bagus semua.”
Keluhan Ruka membuat Azura menoleh dan terkekeh kecil. “Lo bilang suka sama beruang imut, ‘kan?” Azura membalik lembar katalog yang dipegangnya, mencari halaman yang sempat ia lewati karena merasa tak cocok. “Mau yang ini, kah? Gak begitu color full tapi lucu, ada gambar teddy bearnya juga, nuansanya cokelat pastel lagi, cocok buat lo.”
Ruka dengan wajah merajuknya menerima katalog yang disodorkan Azura, seketika senyumnya terbit ketika melihat desain yang Azura tawarkan.
“Ini yang gue cari! Mbak, mau yang ini!”
Si pegawai mengangguk dan memanggil satu kawannya, mengajak Azura dan Ruka untuk duduk di kursi yang di sediaan selagi pegawai itu menyiapkan perlengkapan dan juga alat untuk memulai dekor kuku yang diinginkan pelanggan mereka. Sedangkan Nalen dan Jaren diminta untuk menunggu di sofa ruang tunggu di dekat pintu masuk, tempat awal mereka menunggu tadi.
Satu jam setengah jam penuh mereka habiskan untuk mendekor kuku dan menunggu kering. Begitu keluar dari salon, Ruka sumringah menatap kukunya. “Makasih udah bantuin pilih desain, Ra! Ini cute banget sumpah!” pekiknya riang
“Justru gue yang makasih. Kenapa dibayarin, sih. Jadi gak enak guenya.”
“Hush! Udah, ini tuh traktiran sebagai tanda awal mula pertemanan kita!” tukasnya sambil meletakkan kedua telapak tangan di dada dramatis. Membuat Azura lagi-lagi tersenyum geli.
Melirik arloji yang melingkar manis di lengan kanannya, Ruka tampak berpikir sejenak. “Ra, temenin gue ke bagian kosmetik, yuk? Gue mau beli liptint sama bedak yang udah habis, nih. Ada sisa satu jam lagi sebelum filmnya mulai. Ya? Ya?”
Anggukan yang Azura beri, lekas buat pekikan girang Ruka terdengar. Gadis itu menyeret lengan Azura kelewat antusias, tak dihiraukannya si kembar yang menatap tak percaya pada mereka. Serius! Satu setengah jam mereka digunakan tanpa melakukan apapun selagi menunggu keduanya mempercantik kuku-kuku mereka. Bahkan sempat si kembar kompak tertidur saking bosannya. Lalu kini, harus menemani mereka untuk memilih kosmetik yang si kembar jamin akan memakan waktu lebih dari tiga puluh menit. Terlebih, keduanya mengeti benar tabiat Ruka yang suka sekali kalap soal make up, skin care, dan tetek bengek kecantikan lainnya.
“Anjir, alamat pegal dah ini kaki,” gumam Jaren sambil mendengus jengkel. Walau pada akhirnya dia juga menyusul Nalen yang lebih dulu berjalan di depannya.
Sesuai dugaan, Ruka kalap membeli make up, mulai dari segala jenis lip produk yang entah apa saja dengan berbagai shade warna, perbedakan, dan segala jenis make up lain yang tak tahu apa namanya. Bahkan Azura sekalipun butuh waktu dua puluh menit hanya untuk menimang warna apa yang harus ia beli dan cocok untuk bibirnya disaat bagi Nalen yang menemani gadis itu memilih adalah sama.
“Itu cocok, kok.”
“Itu juga bagus.”
“Sama aja, Ra.”
“Gak tahu, Ra. Gak ngerti gue di mana bedanya.”
Azura mengerjap, lalu tertawa kecil. Perutnya tergelitik geli ketika melihat wajah pias Nalen yang terus ia mintai pendapat mengenai warna shade dari lip produk yang ingin dibelinya. Gadis itu kembali disibukkan memilih hingga pada akhirnya memutuskan untuk membeli dua warna yang terakhir ia mintai pendapat pada Nalen.
Begitu mendapat nomor antre untuk membayar di kasir nanti, Azura berbalik, dan seketika Azura menyesal. Sungguh, demi Tuhan, rasanya ngilu ketika melihat lagi-lagi kekasihnya menempel pada Ruka. Bagaimana Jaren terlihat sama sekali tak keberatan ketika Ruka menyuruhnya mengulurkan tangan untuk melihat warna dari tester produk lip matte yang akan di beli. Atau bagaimana mata sipit si sulung Wirayudha tak lepas menatap lembut gadis di hadapnnya.
Maksudnya, sebenarnya siapa yang menjadi kekasih Jarendra di sini? Dirinya atau Arunika? Bahkan orang yang hanya sekedar lewat pun akan menyadari betapa pemuda itu nampak jatuh hati dari tatap matanya pada Ruka yang nampaknya juga sama sekali tak sadar tengah diperhatikan.
Menggeleng, Azura putuskan untuk mendekat, diikuti Nalen dibelakangnya.
“Ruka, udah milihnya? Kalau udah, yuk bayar.” Azura langsung menyampaikan maksud, melirik pada Jaren yang bahkan tidak repot untuk melepas arah pandangnya.
Ruka di sana cemberut, gadis itu melirik keranjang kecil yang hampir penuh, berisi semua make up yang berniat ia beli pada sesi belanja kali ini. “Ra~ Gue bingung, deh. Ini gue harus ambil warna apa? Yang ini bagus, tapi yang ini gue belum punya warnanya!” Ruka merengek, gadis itu mengadu kepada Azura pada kalimat selanjutnya. “Si Jaren juga dimintai saran malah iya-iya aja. Rese, deh!”
Azura menghela napasnya pelan, “Yang menurut lo paling lo butuhin, mana?” tanyanya, mencoba memberikan penyelesaian yang diminta Ruka.
“Ugh, ga ada sih sebenarnya. Gue cuma pingin beli aja.” Ruka mencicit saat menjawab, melarikan pupil matanya ketika mendapati wajah Azura yang menampakkan ekspresi terperangah. Terlebih setelah melirik keranjang belanjanya.
“Lo beli dua-duanya juga gakan bikin lo miskin kali, Ru.”
Celetukan Jarendra sanggup buat ubun-ubun Ruka mendidih. Gadis itu mengerang jengkel dan menggeplak kening Dipta keras-keras. “Lo tuh ya! Diam aja deh, kalau enggak ngasih penyelesaian!” sungutnya menggebu. Tidak peduli pada pegawai toko yang nampak terkejut di sudut sana.
“Hush, Arunika! Gak enak dilihatin orang.” Azura memukul pelan pundak Ruka, “Sini coba, mana warna shade yang bikin lo bingung.”
Dengan wajah kesalnya, Ruka menyodorkan tiga buah lip matte dengan beda warna yang lekas Azura terima. Gadis itu membuka satu per satu tutupnya dan mengoleskan masing-masing swacth warna pada tangan kirinya. Matanya berkedip satu-dua memperhatikan warna apa kiranya yang cocok untuk Elle.
“Nih, yang ini kalau menurut gue. Lo belum punya warnanya, ‘kan? Dan ini warnanya juga cocok buat daily daripada dua warna lainnya.”
“Iya, sih. Tapi-tapi! Gue juga jatuh cinta sama yang ini, Ra! Ish, gue beli dua-duanya aja deh!”
Azura menganga ketika Ruka lekas berlari menemui pegawai toko untuk mendapat nomor antre setelah mengambil dua produk yang ia maksud. Lalu menyusul gadis itu untuk bersama-sama menuju kasir. Menulikan telinga ketika jelas ia mendengar Jaren mengatakan bahwa Ruka menggemaskan dan tak pernah berubah walau hanya gumaman kecil.
***
Mereka keluar dari bioskop pada pukul setengah empat sore. Memutuskan untuk mencari makan di area foodcourt yang teletak satu lantai dari lantai di mana bioskop berada. Memasuki area eskalator, Azura mendadak punya hasrat untuk buang air kecil, sebab suhu dingin ruang ber- AC yang mereka tempati sebelumnya. Gadis itu menoleh, menatap Jarendra yang berjalan di samping kanannya.
“Ren, antar—,”
“Astaga! Tas gue ketinggalan!”
Seruan Ruka yang panik memotong perkataan Azura begitu saja. Begitu pula dengan perhatian Jarendra dan Nalendra yang langsung teralih pada sosok sahabat kecil mereka yang celingukan gelisah.
“Kok, bisa sih, Ruka?”
“Huaa! Disitu ada hp, dompet, sama kartu-kartu penting! Damn! Ceroboh banget!” Tak mengunggu tanggapan saking paniknya, Ruka lekas berbalik masuk ke area bioskop guna mencari tasnya. “Lo berdua duluan. Gue nemenin Ruka dulu, ntar ketemu di bawah.” Adalah apa yang Jaren ucapkan sebelum bergegas menyusul Elle dan menghilang di antara kerumunan orang. Meninggalkan Nalen yang mendengus culas, juga Azura yang hanya dapat terpaku di depan tangga eskalator.
Sejak tadi, ketika Azura berusaha mendekat—entah mengajak bicara atau berdiri, berjalan di sebelahnya—seolah Jaren ciptakan jarak. Pemuda itu sibuk dengan Ruka, lebih memilih terus mengganggu dan merusuhi Ruka hingga gadis itu berseru jengkel daripada berjalan di sisinya seperti biasa dan seharusnya. Seolah Azura tak ada. Dalam diamnya, Azura bertanya;
Ada apa? Apa yang salah?
Bahkan rasa-rasanya sejak tadi, justru Nalendra-lah yang menemani. Yang mau ia tanyai pendapat, yang berjalan di sisinya.
“Ra, lo baik?”
Pertanyaan Nalen hanya dibalas anggukan kaku olehnya. Membuat Nalen merutuki diri sendiri perihal pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
Jelas Azura tidak baik-baik saja.
Mana ada orang yang baik-baik saja ketika kekasihnya sejak tadi hanya fokus pada orang lain.
Mendesah pelan, Azura menoleh ke belakang, menatap Nalen yang juga menatapnya sejak tadi. “Na, anterin gue ke toilet yuk? Gue udah kebelet dari tadi.”
Anggukan didapat, Azura hembuskan napas kecil sebelum mengenggam erat tali tas selempang yang ia kenakan dan melangkah cepat menuju toilet untuk segera menuntaskan hasratnya.
Sudahlah. Lupakan saja, Azura menata pikiran. Mungkin, Jarendra tak mau meninggalkan Ruka karena khawatir gadis itu sudah kepalang panik. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, melalui banyak hal bersama sejak kecil. Jadi, wajar, ‘kan?
Selagi menunggu Azura selesai dengan urusan toiletnya, Nalen menunggu di luar sambil bersandar pada dinding dengan tas selempang Azura tersampir di bahunya. Pandangannya lurus, datar menatap hilir mudik orang-orang yang mengunjungi dan meramaikan pusat perbelanjaan hari ini.
Pikirannya berkelana, merenungi, juga tak dapat lupakan ekspresi yang Azura selalu tunjukkan seharian ini. Sekalipun gadis itu agihkan senyum manis, matanya yang punya pendar gemintang tak bisa bohongi Nalen yang selalu perhatikan dan kagumi sejak dulu. Ada gurat sedih, kecewa, juga heran yang nampak samar ketika Azura tersenyum.
Terlebih, ketika di bioskop tadi. Nampak jelas bahwa gadis itu cukup kecewa juga terluka ketika Jaren lebih memilih duduk dengan Ruka ketimbang dirinya. Benar, mereka mendapat seat tempat duduk yang berbeda perdua orang, sebab Ruka yang ternyata hampir kehabisan tiket ketika memesannya secara online pagi tadi. Dan Jaren sama sekali tak menolak ketika Ruka meminta untuk ditemani di seat belakang. Bahkan saat Nalen menawarkan diri, Ruka menolak, dan kukuh meminta Jaren saja yang menemani.
“Gak asik kalau duduk di sebelah lo. Kayak duduk sama patung alih-alih manusia, gak bisa diajak diskusi soal film.”
Adalah apa yang Ruka katakan sambil mencebikkan bibir. Lantas mengamit begitu saja lengan Jaren untuk segera duduk di kursi mereka.
Mengapa tak membiarkan Azura untuk duduk saja dengan Ruka dan si kembar di kursi lainnya? Jawabnnya adalah karena Ruka malu dan sungkan. Gadis itu mengatakan bahwa ia tak mau menganggu konsentrasi Azura pada film dengan segala ocehannya mengomentari sepanjang film diputar di saat mereka baru berteman. Ia takut Azura malah tak tahan dan risi dengannya.
Azura membuat Ruka nyaman dalam berteman, dan Ruka tak mau Azura risi karena sifatnya dan berakhir menjauhinya disaat Ruka ingin Azura menjadi teman baiknya dengan mengenal gadis itu lebih jauh...
Atas pemikiran itulah, Ruka rasa duduk bersama Jaren adalah pilihan terbaik untuk sekarang. Hanya pemuda itu yang mau-mau saja mendengarkan dirinya yang suka mendadak jadi komentator saat melihat film. Bahkan tak jarang pemuda itu menanggapi ocehannya.
Kembali pada Nalen, ia masih dengan jelas teringat bagaimana Azura menatap sakit hati pada punggung Jaren dan Ruka. Gadis itu helakan napas, lalu tersenyum tipis dan mengajaknya untuk segera duduk juga. Sepanjang film, Nalen tahu Azura memilih untuk mencoba fokus dengan film. Walau nyatanya gadis itu malah banyak melamun, dan terlonjak ketika akhirnya Nalen tawarkan popcorn untuknya.
Sialan! Seharusnya Jaren tak boleh bersikap seperti itu disaat Azura bersama mereka. Tidak ingatkan Jaren kalau Azura masih kekasihnya saat ini? Perlakuannya mencerminkan sebaliknya. Lagi pula, kenapa hari ini Ruka akrab sekali dengan Jaren disaat biasanya gadis itu akan berseru heboh dan berteriak kesal, merasa gerah dan terganggu meski pemuda itu hanya berada dalam radius satu meter saja dengannya.
‘Bajingan!’ batinnya mengumpat sambil meninju geram tembok di belakangnya. Benar, Ruka juga tak mengerti apapun. Percuma saja mempermasalahkan sikap Ruka di sini. Karena semua masalah adalah pada Jarendra, yang sekali lagi, sialnya merupakan saudara kembar tersayangnya sendiri.
***
Nalendra akan mengakui kalau ada yang mengatakan bahwa ia adalah cowok brengsek. Dia bukan laki-laki yang baik. Maksudnya, Nalendra pikir ia bukanlah tipe orang yang memikirkan masalah hati. Walau dikata Nelendra punya beberapa mantan kekasih sebelumnya, tapi jika diberi pertanyaan, apakah ia menyukai atau mencintai sosok yang menjadi kekasihnya itu?
Tidak juga.
Paling lama dia berpacaran adalah satu tahun lebih tiga bulan, baru putus beberapa bulan lalu. Yoanna namanya. Gadis cantik yang berada satu kelas dengannya dan satu kelompok saat masa orientasi siswa dulu.
“Na, aku suka kamu.”
Nalen terdiam, menatap gadis bertubuh semampai yang menunduk menyembunyikan rona merah pada wajahnya. Gelagat gugup kentara ketika melihat jemari lentik si gadis yang meremat ujung roknya gugup.
Hari Kamis, sore itu cerah dengan kumpulan awan kumulus yang menggumpal layaknya domba gemuk. Selepas aktivitas ekstrakulikuler yang sudah dimulai sejak sebulan lalu, tepatnya dua minggu setelah masa orientasi. Yoanna, teman sekelas yang cukup akrab dengannya tiba-tiba meminta waktunya di taman sekolah yang masih ada lalu-lalang siswa maupun staff sekolah. Nalendra tak mengira bahwa gadis itu akan menyatakan perasaannya.
“Nalen?”
Nalendra mengerjap, berdeham sebagai respons, “Ok, lalu? Lo mau gue gimana?”
Yoanna tersentak sesaat, sebelum dengan gugup ia melarikan arah pandangnya asal tak terjebak pada manik kelam si bungsu Wirayudha yang menatapnya lekat, menunggu jawaban.
“K-kalau kamu gak keberatan, mau gak, kalau kita coba kencan? Umh, jalanin dulu aja. Siapa tahu, kita sama-sama cocok.”
Tak langsung menjawab, Nalen kembali perhatikan gadis dihadapannya. Menelaah sosok si gadis dari atas sampai bawah, lalu berhenti pada raut wajah si gadis yang nampak sudah ingin menangis lantaran ia tak kunjung memberi tanggapan.
“Oke.”
Jawaban itu spontan keluar dari mulutnya, hingga ia rasakan tubuhnya dipeluk riang serta ucapan terima kasih yang tak ia balas.
Yoanna adalah gadis manis yang baik. Selama menjalin hubungan dengan gadis itu, effort yang diberikan tidak main-main. Mulai dari menemaninya latihan basket, membawakan bekal walau bukan bikinan sendiri, mau repot datang ke rumahnya ketika ia sakit, memberi semangat, mencoba memahaminya dan mencoba membuat Nalen setidaknya menunjukkan gelagat bahwa cowok itu juga akhirnya beri renjana untuknya.
Tapi nyatanya, sia-sia. Nalen memang memperlakukanya dengan baik. Tapi bukan seperti ini yang Yoanna mau. Hampir satu setelah tahun mereka menjalin hubungan, tidak pernah sekali pun Nalen membalas perkataan cintanya. Cowok itu hanya akan tersenyum kecil dan menepuk puncak kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Dibandingkan seorang kekasih, Yoanna lebih merasa diperlakukan seperti seorang adik.
Simpati.
Nalendra hanya menerima cintanya karena faktor kasihan dan bentuk apresiasi kepada gadis itu yang berani mengungkapkan perasaannya.
Terlebih, ketika akhirnya Yoanna menyadari. Bahwa sampai kapan pun, hati Nalen tak akan pernah bisa ia buka.
Nalen sudah jatuh cinta pada sosok hawa lain lebih dulu, bahkan disaat cowok itu tak menyadarinya.
Karena Yoanna-lah, Nalendra menyadari rasa yang ia punya untuk Azura. Walau saat itu ia sudah terlambat.
Seandainya ia bukan pengecut.
Seandainya ia lebih tegas melarang Jaren dan teman-temannya untuk menyepakati taruhan itu.
Seandainya Nalen lebih cepat menyadari perasaanya.
Seandainya….
___________________________
“Azura, ya? Anak IPA 2?”
Lontaran tanya abstrak yang diberikan Yoanna saat mereka berkencan di penghujung bulan Januari itu buat Nalen menoleh dengan sebelah alis terangkat.
“Azura Lianna. Aku kenal karena kita ada di komunitas melukis yang sama. Dia anak yang baik, manis, lugu, lucu, dan cantik. Siapa pun yang kenal dia, pasti bakal suka dan gemas pas berinteraksi. Orangnya hangat walau agak kikuk. Auranya positive vibes banget.”
Yoanna menoleh, tersenyum kecil ketika mendapati raut keheranan kekasihnya. “Mukanya cantik, walau kadang suka bikin eskpresi cengoh yang jatuhnya malah gemesin. Iya, gak?”
Menghela napas, Yoanna tegakkan tubuhnya yang semula meringkuk memeluk lutut sembari memandang mentari yang sebentar lagi tenggelam di hadapannya. Menatap lekat pada Nalendra yang masih memasang ekspresi bingung.
“Na, ayo putus,” ucapnya mantap, “gak ada gunanya kita pacaran kalau kamu sukanya sama orang lain.”
Walau gurat kecewa dan kesedihan ada di balik matanya, gadis itu menguatkan diri. Dia sudah memikirkan ini dari hari-hari lalu. Bahwa hubungan mereka sebaiknya diakhiri saja.
Percuma ia memaksakan diri untuk mengetuk sebuah pintu yang enggan dibuka oleh pemilik rumah.
“Sakit, sih. Tapi aku juga gak mau kalau cuma aku yang mendayung perahu sendirian ke arah hulu, sedangkan kamu diam ditempat sebelum memutuskan untuk mendayung ke arah hilir. Gak akan sampai. Lagi pula, aku cukup senang walau kamu gak pernah balas perasaan aku selama terjebak hubungan pacaran ini.
“Makasih. Makasih atas satu tahun tiga bulan yang mau kamu jalani buat aku. Makasih karena kasih aku kesempatan buat isi hari-hari kamu sama aku. Dan, maaf. maaf karena pada akhirnya, aku milih buat menyerah. Menyerah untuk terus bertahan sama perasaanku yang sepertinya enggan kamu balas.
“Kamu baik, Na. Tapi bukan ‘baik’ yang begini yang aku mau. Kamu tahu, Na? Akan lebih baik sebenarnya kalau kamu tolak aku dari awal … tapi, it’s okey. Nggak jadi sosok spesial di hati kamu, seenggaknya kamu masih anggap aku teman kamu, sahabat kamu. Karena itu, sekali lagi, makasih.”
Nalen tertegun, tak menanggapi apapun atas paragraf panjang yang Yoanna ucapkan.
“Azura adalah gadis yang baik. Aku harap, kamu bisa sampaikan perasaanmu dengan tulus ke dia. She deserve to be loved. Aku harap kamu bisa nemuin arti rasa suka kamu ke dia dengan lebih cepat dan lebih baik, Na.”
Selesai.
