Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Juli Kopulasi
Stats:
Published:
2023-07-02
Words:
676
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
224
Bookmarks:
18
Hits:
14,193

Eneng dan Abang

Summary:

Abang kuli perkasa yang sering menggoda para perawan.
Eneng janda kembang berbudi luhur penuh keadilan.

Ini cerita sederhana.

Notes:

Dibuat untuk prompt hari kedua Juli Kopulasi.

Warung dan Kuli.

Work Text:

Abang ketakutan. Ini bukan suatu hal yang biasa dia katakan. Terutama karena tubuh Abang tinggi menjulang dan proporsinya mampu membuat pria lain iri bukan kepalang. Segala macam pekerjaan berat pernah Abang lakukan. Mulai dari membangun gedung bertingkat sampai segala komoditas pasar Abang angkat. Abang juga berani menghajar preman. Si Otong yang sering malak warga di perempatan pun terkenal kalah beringas. 

 

Abang ini laki yang sangar. Dadanya bidang dan bahunya lebar. Seratus persen pria dominan. Terlihat jelas terutama saat Abang rebah di kasur tanpa kutang. Segala bagian privat cuma ditutup sehelai kolor bodong. Paha Abang diikat paksa. Diatur Eneng sedemikian rupa agar kakinya terus terbuka. Kontol Abang kedut-kedut penasaran. Eneng masih sibuk menyimpul tali entah untuk apa. Abang berusaha menarik kaki kiri. Eneng menampar bokong keras sekali. Abang terkesiap. Suara yang keluar dari mulutnya tinggi dan memalukan. Seluruh badan tegang kelonjotan. 

 

Abang ketakutan. Pentilnya yang nggak ditutupi pakaian mulai berdiri kedinginan. "Eneng.. Eneng..," panggil Abang tertawa canggung, "Ini, ini Abang mau diapain, 'Neng?" 

 

Eneng nggak menjawab. Cuma tersenyum kelihatan puas. Mungkin apapun yang Eneng lihat sekarang mampu membuat hatinya senang. Abang ogah memikirkan posisinya sekarang. Paha diikat kuat dengan posisi vulgar. Kontol mulai penuh sesak. Ujung celananya basah karena cairan. Pre-ejakulasi. Padahal Eneng nggak menyentuhnya sama sekali. 

 

"Abang." Sentuh jemari Eneng di paha membuatnya sadar dari lamunan. "Abang 'ngerti nggak, kenapa eneng giniin Abang?"

 

Tentu saja Abang nggak paham. Dia membuka mulut ingin protes sebelum terkunci oleh telapak Eneng yang lihai membelai bola dan kontol. Bahkan dari balik kain kolor pun nikmatnya sungguh laknat. Abang cuma bisa membuka tutup mulut macam orang tolol. Colek ujung kulup, lalu bolanya diremas brutal. Tidak tertebak. Begitu caba.


Eneng tiba-tiba berhenti. Menjauhkan tangannya. Membuat Abang menyodok pinggang ke udara. Abang melenguh frustasi. Pelepasannya tinggal sebentar lagi. Geraman dikeluarkan, berusaha mengintimidasi. Eneng mendengus nggak peduli. Pipi abang diberi sanksi.

"Abang." PLAK.
"Inget." PLAK. "Nggak boleh bucat sebelum Eneng kasih izin." Entah ini yang ke berapa. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tanpa henti. Sampai panas rasanya. Sampai air menggenang di pelupuk mata. Sampai Abang mengangguk gemetar. Sampai kontolnya makin gusar. Barulah Eneng berhenti. Menghadiahi satu kecupan. Di pipi yang memerah. Di hidung. Di dagu. Di kening. Jantung Abang yang berdebum tak karuan sedikit demi sedikit mulai tertata. Tenang menyelimuti seluruh raga.

"Pinter. Abang cuma boleh bucat kalau..?"

Abang sesenggukan. Nggak mau lagi memberikan jawaban mengecewakan. Abang mau membikin Eneng bangga. Biar Eneng lagi dan lagi bisa memujinya. "Kalau Eneng kasih-- kasih izin...."

Akhirnya Eneng melepas kolor sesak sebagai hadiah. Abang mendesah penuh berkah. Kontolnya resmi tegak berdiri. Eneng tersenyum manis. Abang ingin diperlakukan lebih sadis.




Eneng kegirangan. Siapa yang menyangka rencana jangka panjangnya berhasil pada akhirnya? Semua bermula sejak Surti yang mendatangi rumahnya. Menangis penuh trauma. Katanya, Abang menggodanya di pinggir pasar waktu malam. Padahal Surti cuma ingin pulang dengan tenang. Ini nggak bisa dibiarkan. Kalau Surti saja yang permata desa bisa digoda, bagaimana dengan perawan lainnya? Eneng harus menyelesaikan masalah ini dengan tangan sendiri. Semua dibangun dengan hati-hati.

Eneng nggak akan kalah dari para gadis belia. Justru sebagai janda, Eneng lebih paham cara mengumbar pesona. Mulai dari kemben rapat yang menunjukkan bohay pantat. Hingga membuka tiga kancing kemeja 'agar teteknya terkena udara'. Segala dilaku untuk mengundang Abang ke ranjang. Buat Abang percaya kalau dia yang punya kontrol matang.

Semua terbayar saat ini. Melihat liang Abang menelan satu terong ungu segar dari warung depan tanpa resistansi. Eneng harus memuji Bi Imas. Kualitas sayurannya sungguh terbukti ganas. Mungkin ujung lengkungnya persis menghujam prostat.Terbukti dari lolong nikmat yang dari tadi nggak berhenti keluar dari mulut Abang. Dari tadi, air matanya nggak berhenti mengalir deras. Eneng lupa sejak kapan. Mungkin sejak dia memasukkan tiga jari dan Abang belum juga boleh ejakulasi. Penisnya berdiri marah. Otot-ototnya terlihat jelas menahan muncrat. Tentu saja, Eneng nggak bisa percaya sepenuhnya pada kontrol Abang. Dengan berbaik hati Eneng membantu Abang menahan diri. Lubang kulupnya dimasukkan tongkat ngaji punya anaknya yang sebelumnya sudah dilapisi pelumas. Ujung kecil kuning terlihat menyembul dari penis tegang.

Eneng memegang ponsel. Membuka kamera hendak mengambil potret. Untuk dikirimkan pada Surti. Agar dia tidak perlu ketakutan lagi. 

Series this work belongs to: