Work Text:
Suara detak jarum jam dinding bergerak mengiringi bisingnya air hujan yang menyentuh jendela. Sudah empat hari lamanya rumah itu tak berpenghuni, kecuali, entah dapat disebut sebagai manusia atau bukan, seorang pria yang sedang memejamkan matanya paksa seakan menyuruh tubuhnya pindah ke alam mimpi. Ia tak terlihat seperti makhluk hidup sejak beberapa hari yang lalu. Setidaknya ia masih memiliki pakaian diatas tubuhnya, meski kantung matanya terlihat jelas, dan mungkin itu satu-satunya hal yang masih membuat dirinya masih terlihat seperti manusia. Tubuhnya yang kurus itu semakin memperlihatkan susunan tulangnya. Dirinya sendiri saja sudah terlihat seperti mayat hidup, mana sempat ia memikirkan nutrisi pada makanannya ataupun pekerjaannya.
Ini pertengkaran terpanjang yang pernah ia lakukan. Meski sudah beberapa kali bertengkar kecil. Namun, ini yang pertama kalinya terasa fatal bagi seorang Mikage Reo.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Kepintaran dan kecerdikan otaknya seolah lenyap saat itu juga. Semua ilmu yang ia dapatkan dengan merelakan bertahun-tahun hidupnya terasa tidak berguna. Mungkin itu terjadi karena kekasihnya adalah seorang Chigiri Hyoma, atau itu hanya karena ia tidak merasa kesalahannya terlalu fatal, atau kasarnya, tidak terlalu merasa bersalah. Meski opsi kedua itu mustahil. Tak ada yang tahu isi pikiran Reo, ataupun bagaimana cara dirinya bisa bergulat dengan pikirannya sendiri.
Reo tak berminat 'tuk beranjak, sedari tadi ia hanya menggulingkan tubuhnya ke berbagai arah. Sebatas mengisi perutnya maupun membalut lukanya saja ia tak berminat. Ia mencintai kekasihnya. Namun, entah mengapa saat ini ia merasa hampa. Ia membutuhkan lelaki itu. Tapi ia tak bergerak sedikitpun. Kekasihnya pun tak memberikan perhatiannya setelah keduanya bertengkar. Reo merasa hati dan pikirannya buntu.
Setelah memantapkan pilihannya, ia beranjak dari ranjang mewah itu. Melemaskan beberapa ototnya sebelum melangkah menuju ke depan cermin yang berukuran sebesar tubuh manusia. Pantulan yang dilihat Reo membuat dirinya menghela napasnya. Ia terlihat seperti gelandangan yang biasa melepas penat dibawah jembatan dan duduk dengan dilapisi beberapa kardus. Intinya, Reo terlihat sangat amat buruk.
Ia berharap kekasihnya– Chigiri Hyoma, tidak akan menyadari setinggi apa tingkat kemalasannya. Walaupun ia tahu kalau Chigiri sudah sangat hapal seluk beluk tentang dirinya melebihi ia sendiri. Ia sedang menyiapkan mobilnya sebelum akhirnya ia mengingat sesuatu. Ia lupa memikirkan hadiah untuk kekasihnya, walau hal itu dihitung sebagai rayuan. Reo mengingat-ingat hadiah apa yang cocok untuk diberikan pada lelaki-nya itu. Meski ia tahu Chigiri akan menolak hadiahnya dengan alasan terlalu boros. Ia bahkan tersenyum kecil mengingat hal itu.
Reo mengendarai mobilnya sembari menatap jalanan yang hampir kosong karena bepergian diwaktu-waktu para manusia seharusnya beristirahat. Aspal yang dilewati terasa hampa, sama seperti dirinya. Hanya terdapat pencahayaan minim dan derasnya air membasahi jalanan tak berujung itu. Sempat mampir untuk membeli beberapa barang yang ia kira akan cocok bagi kekasihnya. Serta sebungkus nikotin. Tak tahu menahu bahwa hadiah pilihannya itu akan menghancurkan segalanya. Menghancurkan dirinya dan kekasihnya.
Dengan cepat ia berlari untuk menekan bel bangunan dihadapannya. Sebelum dirinya benar-benar dibasahi air hujan, kekasihnya dengan panik berlari sembari membawa sebuah payung. Ia tak menduga Reo akan datang hari itu. Bahkan pada pukul 1 malam. Ia tak habis pikir saat melihat kekasihnya yang setia tersenyum manis meski setengah jaketnya sudah basah.
Chigiri menggelengkan kepalanya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memberikan handuk serta menyediakan secangkir kopi hitam serta satu asbak untuk membuang sisa rokok Reo yang terbakar. Chigiri membawa Reo masuk kedalam rumahnya, bergerak untuk mempersilahkan Reo duduk disofa ruang tamunya. Keduanya terdiam.
Ruangan yang didominasi warna putih itu tak mampu membawa kedamaian bagi keduanya. Reo yang canggung dengan Chigiri yang menunggu kekasihnya itu berbicara. Karena ini pertama kalinya mereka bertengkar tanpa mengucap satu dua kata selama beberapa hari. Pertengkaran yang terburuk yang pernah mereka rasakan. Reo mengambil napas dalam-dalam. Mencuri pandang ke kekasihnya beberapa kali. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia merasa begitu gugup seperti saat ini. Ia merangkai kata-kata dan mengulanginya berulangkali diotaknya meski ia tahu itu tak berguna karena saat ini Chigiri sedang menatapnya dalam diam.
Reo menunda ucapannya. Ia mengambil kantung plastik yang ia genggam sejak tadi. Bergerak mengambil dua mangkok kecil serta dua sendok yang sama kecilnya. Kedua jenis benda itu memang sengaja dibeli karena diciptakan sepasang. Chigiri hanya diam mengikuti gerak pemuda disebelahnya itu. Tak terpikirkan apa yang sedang dilakukan pemuda surai ungu itu. Namun, Chigiri tetap berharap. Karena Reo selalu datang dengan hal-hal yang tak terduga.
Chigiri sudah tersenyum kecil saat sadar kekasihnya membawa sebuah ice cream. Yang ia duga sebagai kesukaannya. Ia sudah memaafkan Reo satu hari setelah keduanya bertengkar. Saat ini ia hanya harus kembali mendekatkan hubungan keduanya. Meski Chigiri masih mengingat pertengkaran mereka, ia sedang memikirkan bagaimana keduanya akan kembali berbincang lembut, saling menghangatkan satu sama lain, beraktivitas di bawah atap yang sama. Bertingkah layaknya pasangan yang telah terikat. Saling mengucap kalimat penuh kasih sayang setiap harinya. Bayangan Chigiri sudah sangat sempurna. Hingga akhirnya hancur didetik selanjutnya.
Chigiri menatap kemasan ice cream yang baru Reo keluarkan dari kantung plastik itu. Ia tak tahu harus merespon bagaimana. Namun ekspresi nya sudah terlihat jelas. Rasanya kecewa, marah, serta sedih. Semuanya tercampur. Chigiri menatap makanan itu dan Reo secara bergantian. Setiap menatap wajah bahagianya Reo, pemuda bersurai merah itu merasakan pedih. Rasanya ia dihancurkan sampai tak tersisa. Dan diamnya itu buat Reo kembali kebingungan. Tak menyadari kesalahan yang sudah ia perbuat. Atau tak ingin tersadar.
"Re. Aku gak pernah suka coklat," ujarnya membuang pandangannya dari ice cream tersebut.
Kalimat itu buat senyum Reo luntur. Pemuda itu menatap makanan yang ada digenggaman nya. Ia dengan kesadaran penuh sudah membawa ice cream dengan perasa coklat. Rasa yang selalu kekasihnya itu hindari. Rasa yang tidak pernah ia makan jika bersama Chigiri. Dan rasa yang selalu ia ingat karena menghabiskan beberapa tahun bersama seseorang dimasa lampau.
"Kamu lupa, ya? Aku Hyoma. Bukan Nagi."
Keduanya kembali saling bertatapan. Chigiri tersenyum, meski terasa perih. Dan Reo memberikan tatapan yang tak mudah dipahami maknanya. Chigiri tak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya. Lebih tepatnya, tak menyangka akan datang secepat ini.
"Hyo, aku lupa. Maaf. Ini aku buang. Aku beli lagi, ya?"
Reo menatap kedua mata jernih kekasihnya. Berharap dapat melihat kesempatan baru untuknya. Ia tahu ia kelewatan. Bahkan setelah pertengkaran lalu. Pemuda Mikage itu ingin meminta maaf berkali-kali. Namun, yang ia dapat bukanlah kesempatan. Yang Reo dapat karena perbuatannya adalah sesuatu yang mengerikan.
"Re. Kayaknya, kita sampai sini aja, ya?"
Reo dibuat panik dengan kalimat tersebut. Ia menggeleng dengan cepat. Menggenggam kedua tangan kekasihnya. Bergumam menolak semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Ia panik. Terlalu panik.
"Hyo, aku bener-bener minta maaf."
Reo menatap kekasihnya. Tatapan yang diberikan Chigiri membuat ia ikut merasakan sakit yang ia buat sendiri. Chigiri terlalu sabar selama ini. Padahal ia menghadapi sesuatu yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Reo yang paling tahu kalau ialah manusia paling tak tahu diri, karena setelah melukai Chigiri, ia terus berharap. Berharap agar ia masih bisa memiliki pemuda itu.
"Udah, ya, Re?"
"Hyo, stop. Aku gak mau. Aku mohon. Aku minta maaf. Maaf. Maaf. Maaf."
Tak ada yang bisa Reo ucapkan selain maaf. Ia terasa seperti hilang akal. Reo merasa sakit. Terlalu sakit sehingga lupa kalau ia bukanlah satu-satunya yang terluka. Kalau ia bukan yang paling tersakiti. Karena faktanya, Chigiri lah yang dirugikan melebihi siapapun.
"Hyoma. Please?"
"Reo. Kamu nolak aku– bukan. Kamu nolak hubungan kita, Re."
Ucapan tegas Chigiri buat Reo terdiam. Ia tak tahu harus berusaha sekuat apalagi. Kalimat itu sepenuhnya benar. Ia menyakiti kekasihnya. Dan ia menyakiti dirinya sendiri. Meski luka yang didapat Chigiri jauh lebih besar daripada dirinya.
Tanpa basa-basi ataupun ucapan perpisahan, Chigiri bergerak membuka pintu rumahnya. Meski diluar sangat gelap. Meski hujan masih terus membasahi bumi. Chigiri tetap pada keputusannya. Ia tak ingin melihat Reo. Ia tak ingin Mikage Reo terus berada di dalam pandangannya.
Dengan begitu selesai sudah. Perbincangan mereka dimalam itu, serta hubungan mereka. Hubungan yang baru berlangsung selama dua tahun. Yang Chigiri sadar tak ada apa-apanya dibandingkan hubungan Reo dan mantan kekasihnya, pemuda yang tak akan pernah luput dari pikiran serta perhatian Reo. Yang masih terus menjadi satu-satunya pusat dunia seorang Mikage Reo.
Hubungan mereka yang memang tidak utuh sejak awal. Karena Reo tetap akan memilih sang mantan kekasih. Karena hati Reo masih memilih pemuda itu. Karena bahkan dirinya bukan sebuah pilihan bagi Reo.
Chigiri tahu hari ini akan datang. Perpisahan yang begitu terasa sakit serta hampa. Penyesalannya hanya satu. Ia menyesal karena tidak mengakhiri hubungan keduanya jauh lebih awal. Karena, mungkin saja, ia tak harus menanggung rasa sakit sebesar ini jika ia dengan cepat menyelesaikan permasalahan hati nya dengan Reo.
Hubungan keduanya selesai. Pemuda itu bahkan belum sempat meminta maaf atas pertengkaran yang ia buat beberapa hari yang lalu. Atau kesalahan yang ia perbuat karena tindakan bodohnya. Namun, tak ada lagi kesempatan yang akan ia dapat. Karena keduanya sudah melewati masa-masa sulitnya perpisahan. Karena keduanya sudah berjalan dijalan dan dipilihannya masing-masing. Kisah mereka selesai bukanlah salah Chigiri, ataupun salah masa lalunya. Keduanya telah selesai karena apa yang Reo lakukan hari itu, sudah menghancurkan segalanya.
