Work Text:
Seperti kebanyakan remaja usia tanggung lainnya. Keinginan dan rasa ingin tahu yang kerap memuncak, melewati batasnya. Membuat kebanyakan remaja susah sekali mengendalikan diri. Sibuk mengikuti nafsu dan keinginan sesaatnya. Dan karena ikuti nafsu mereka yang menggebu, maka disinilah Haechan berada, di sebuah kamar hotel bintang 5 bersama cowok bulenya itu.
Well, Mark adalah anak salah satu orang kaya tajir melintir Ibu kota. Dengan paras campuran antara Indo dan Kanada. Paras rupawan dan uang yang berlimpah, what a perfect combination.
Haechan dan Mark baru saja selesai menghadiri acara perpisahan sekolah menengah atas mereka. Bersekolah di Sekolah Internasional yang cukup tersohor di ibukota, membuat kebanyakan dari mereka menganut budaya luar. Budaya-budaya kebebasan. Budaya dimana having sex adalah sebuah hal yang biasa. Mark dan Haechan sudah beberapa kali melakukannya, mengingat nafsu dan stamina Mark yang sedang membara dan Haechan yang centil, dengan senang hati meladeni kekasihnya.
Dan karena budaya itulah, Mark dan Haechan ada di kamar ini, untuk yang ketiga kali.
Tadi siang, Mark dan Haechan masih kenakan setelan jas hasil karya desainer-desainer ternama. Tapi sekarang, hanya Mark saja yang masih mengenakan setelan jas nya. Sedangkan, Haechan sudah berganti pakaian. Haechan mengganti setelan jasnya dengan kebaya. Kebaya brokat berwarna emas dengan kain batik khas berwarna senada. Haechan juga kenakan heels berwarna emas di kakinya. Sangat cocok, sangat sesuai untuk Haechan.
Kebaya brokat tanpa dalaman itu Haechan kenakan. Tanpa dalaman pula. Kain kebaya langsung menyentuh kulit tan-nya yang elok. Transparan. Membuat kulitnya samar-samar terlihat. Membuat putingnya yang Mark begitu sukai itu, juga terlihat mengintip malu-malu.
Haechan senang bersolek. Mendandani dirinya dengan pakaian-pakaian cantik. Haechan suka dipuji cantik. Haechan suka menjadi cantik.
Dan apalah daya Mark, mana mampu dia tolak hobi kesenangan Haechan yang satu itu. Yang ada Mark malah senang dan suka sekali dengan hobi Haechan yang itu. Karena setiap kali Haechan ingin dipuji cantik, merasa cantik, Haechan akan datang kepada Mark lengkap dengan pakaian-pakaian cantik yang baru dibelinya dan muka berpoles di selipi senyuman centil dan kedip mata untuk kekasihnya.
Jika sudah dihadapkan dengan Haechan yang seperti itu, maka yang Mark bisa lakukan hanyalah memuja-muja pacar cantiknya itu lalu mencumbu tubuh Haechan rakus, memiliki Haechan untuk dirinya sendiri. Dan terkadang, meninggalkan tanda merah gelap di area leher Haechan —jika ingin pamer kepada orang-orang— atau di area puting Haechan —untuk mark foto lalu simpan dalam file hidden di galerinya dan jadi koleksi pribadi Mark.—
“Am I pretty? Wearing kebaya? And this heels?” Haechan bertanya dengan mata sayunya pada Mark yang tengah duduk di ujung kasur. Lengkap dengan muka cantiknya dan tatapan innocent, bak anak anjing.
Fuck, yes.
Mark mengangguk dengan tatapan mata yang memandang Haechan lekat, “Yes. So fucking pretty. My prettiest Haechan.”
Mark amati tubuh cowok cantiknya itu dari bawah ke atas. Mimik mukanya terlihat ingin memakan Haechan
Mesum, batin Haechan.
Haechan bergerak menuju ke arah depan cermin besar, di dekat pintu kamar mereka. Berpose centil di depan cermin itu. Sibuk mengamati lekuk tubuhnya yang tercetak elok lewat kebaya yang kelewat pas di tubuhnya itu.
Haechan terlihat sexy dan montok. Ya, walaupun setiap hari Ia memang terlihat begitu. Namun, dengan setelan kebaya yang ngepas banget itu, tubuhnya yang singset semakin tercetak jelas. Memanjakan mata Mark. Rambutnya yang berwarna coklat gelap itu Ia sengajakan panjang, tidak terjamah oleh gunting dan teman-temannya selama 6 bulan. Pacarnya suka sekali dengan rambutnya yang panjang ini, omong-omong. Jadi maka dari itu, Haechan biarkan saja rambutnya. Dadanya yang cukup berisi itu tercetak, lekuk pinggangnya yang ramping pun demikian, dan pantatnya yang berisi juga masih tampak menonjol walaupun tertutup rok batik. Membuat Mark, dengan nafsu menepuk pantat Haechan.
Plak
“Aduh, sayang..” Haechan mengaduh, berpura-pura kesakitan. Lalu mereka tertawa setelahnya. Dan Mark malah meremas pantat sekal pacarnya itu. Haechan hanya menerima dengan senang hati kelakuan senonoh pacarnya itu.
Tubuh Haechan masih menghadap ke depan cermin, saat tangan Mark tiba-tiba melingkari pinggangnya dari belakang. Mark telusupkan mukanya di leher Haechan, Ia beri kecupan disana lalu naik dan turut beri kecupan di telinga Haechan.
“Pretty. You look so pretty, sayangku..” Bisik Mark persis di telinga Haechan.
Haechan tersenyum geli setelahnya dan mengarahkan badannya menghadap Mark. Mereka saling berhadapan setelahnya. Dengan tangan Haechan yang melingkar di leher Mark dan tangan Mark yang masih setia melingkari pinggangnya, sambil curi-curi untuk remas pelan pantat pacarnya.
Mark cumbu bibir tebal Haechan, yang juga Haechan pakaikan lip gloss clear saat itu. Buat kilau lip gloss itu juga tercetak di bibir tipis Mark. Dan Mereka terkekeh setelahnya. Lalu Haechan kembali cium bibir Mark. Menyatukan bibir mereka dengan penuh kasih, saling mengecup, mengecap rasa bibir masing-masing. Mark yang pertama kali ajak lidahnya untuk bermain dalam mulut Haechan dan Haechan hanya mampu membalas permainan lidah Mark setelahnya. Ciuman yang awalnya dilandasi cinta itu, sekarang berganti dilandasi nafsu. Jelas, karena tangan Mark sedari tadi sudah tidak bisa diam. Tangannya yang nakal itu sibuk meremati pantat montok Haechan lalu dengan perlahan dan pasti beranjak naik ke punggung Haechan. Dan berakhir Mark letakkan tangannya di dada Haechan.
Mark’s favorite.
“Mhh.. Mark..” Haechan hanya mampu melenguh di sela ciumannya, kala tangan Mark sibuk remasi dadanya yang cukup berisi itu dari luar kebaya. Mainkan putingnya yang sekarang sudah menegang, tegak berdiri dengan eloknya. Mengacung. Mark suka sekali kalau puting Haechan sudah mengacung tegak seperti itu, apalagi karena ulahnya.
Dan rencananya, di sesi mereka kali ini, Mark akan ngentot Haechan dengan setelan kebaya cantiknya.
Lagian, suruh siapa cantik banget dan nyangein begitu pas pake kebaya?
Pagutan itu Mark sudahi. Mark angkat badan Haechan, Ia gendong ala koala pacar cantiknya itu. Pandangan mereka masih tertuju ke satu sama lain.
Ya wajarlah. Lagi kesemsem.
Mark baringkan Haechan di kasur.
Haechan terlentang setelahnya.
Mark tindih Haechan dibawahnya, Ia lanjutkan pagutan yang tadi sempat terputus. Kembali mencumbu rakus bibir Haechan, dengan posisi badannya yang hampir menindih badan ramping Haechan.
Sementara itu, dibawah sana tangannya perlahan mengangkat kaki Haechan dan membuka kaki Haechan. Membuat kaki jenjang cantik itu mengangkang untuknya. Membuat rok yang Haechan kenakan tersingkap sampai lutut. Lalu, tangan Mark yang kasar itu menelusup masuk ke dalam rok Haechan yang tersingkap. Meraba-raba paha Haechan, meremat pelan. Memancing nafsu Haechan. Haechan remat pelan rambut pacarnya.
Tangan Mark sampai di pangkal paha pacarnya, bergeser sedikit ke samping, dan dapat Mark rasakan langsung pepek cantik pacarnya yang agak lembab itu..
“Fuck. Ga pake celana dalem kamu?” Tanya Mark kaget.
Haechan tersenyum dengan centilnya, “Suka?”
Senyum miring Mark timbul,
“Ah! Mark lee —hh..” Haechan mendesah dengan manja saat tiba-tiba Mark cubit klitorisnya.
“Nakal”
Dan Mark beralih meremas dadanya, kebaya itu benar-benar tidak Mark buka sama sekali. Kancing kebayanya pun masih tersemat rapi.
Mark sibuk mainkan puting pink kecoklatan tegang punya pacarnya itu dari luar kebaya. Puting Haechan itu sensitif sekali. Cepat menegang. Mark sibuk kenyot puting mencuat pacarnya. Tanpa buka kebaya Haechan sama sekali. Buat Haechan sedikit meringis, karena putingnya begesekan dengan kasarnya kain kebaya yang Haechan pakai.
“Pelan—hh sayang…” Haechan keenakan sebenarnya tapi pacarnya itu terlihat sangat tidak sabar. Daripada putingnya lecet, mending Haechan peringati dahulu pacarnya yang sange mampus itu.
“Pentil kamu enak banget dikenyot sayang.. bisa gak kalo ini ngeluarin susu juga, jadi aku bisa nenen setiap hari..” Mark berucap di sela-sela kegiatan menyusunya.
“Ah.. gak keluar susu juga hampir tiap hari kamu mainin, kamu kenyot. Di sekolah juga begitu kamu—mhh mah.. ih pelan… susu aku tambah gede nantihh” Haechan kesusahan menjawab karena remasan dan kenyotan Mark yang begitu berlebihan buatnya.
Mark terkekeh pelan, “Gapapa makin gede. Biar orang-orang tau, kalo susu kamu tiap malem dikerjain terus sama aku.”
Haechan menjewer pelan telinga Mark buat Mark hentikan kegiatan menyusunya sementara dan meringis pelan.
“Ih mesum banget, tai.” Keluh Haechan.
Mark hanya tertawa ganteng. Selepas jeweran itu Haechan lepas, Mark kembali lanjutkan kegiatannya. Menyusu pentil Haechan yang tegak. Menyedot-menyedot seakan air susu benar-benar akan keluar dari pentil Haechan. Yang efeknya buat Haechan keenakan, kewalahan, dan becek dibawah sana.
Di tengah Haechan yang kewalahan itu, Mark malah semakin liar, Ia telusupkan kembali salah satu tangannya ke dalam rok Haechan yang kini tersingkap semakin tinggi.
Mengelus pelan pepek tembem tanpa bulu Haechan, dari atas kebawah. Buat Haechan merinding setengah mati.
“Ahh..” Haechan remat kembali rambut hitam lebat Mark itu.
Dengan mulut yang masih mengenyot pentil tegang Haechan dan tangan yang menepuk-nepuk pepek Haechan pelan.
Memek Haechan terasa sangat lembab di tangan Mark, cairannya keluar tipis-tipis dari sana. Kentara sekali kalau Haechan udah sange mampus.
Kaki Haechan yang masih berbalut heels itu bergerak resah hingga tanpa sengaja menyenggol gembungan di tengah celana Mark. Haechan langsung menoleh ke arah Mark setelahnya dan menyengir merasa bersalah.
“Hehe.. Sorry..”
Mark abaikan Haechan setelahnya dan kembali mengerjai Haechan. Kepalanya Ia bawa ke arah selangkangan Haechan. Singkapan rok itu semakin tinggi dibuat Mark. Hingga dengan jelas bisa Ia lihat pepek tembam pacarnya yang sudah becek itu.
“Udah becek banget, sayang. Sange banget ya, kamu?” Mark meledek Haechan yang mukanya sudah merah dengan mata yang kelewat sayu.
Kalau kata Mark sih, mata sangenya Haechan.
“Huum… Mau dicium..” Balas Haechan manja.
Alis Mark menukik, “Apanya?”
Haechan pasang mata genitnya, “Pepeknya. Pepek aku mau dicium sama kamu. Boleh ya.. Please…” Dan meminta kepada Mark dengan nada yang begitu manja.
Dan tanpa perlu repot membalas kalimat Haechan, Mark langsung arahkan mulut tipisnya ke arah memek Haechan. Beralih menyedot memek Haechan yang sudah kelewat becek itu. Tangannya membuka labia Haechan. Membuat klitoris Haechan yang juga mencuat tegang seperti putingnya itu, terlihat jelas di mata Mark. Mark hampir ngiler dibuatnya.
Anjing anjing anjing.
Mark beri kecupan-kecupan di pepek becek Haechan yang tembam dan pink itu, lalu Ia gunakan lidahnya untuk menjilat memek Haechan. Dari bawah keatas. Ia acak-acak memek Haechan dengan lidahnya. Menusuk-nusuk lubang Haechan yang becek. Buat Haechan gelinjangan diatas sana.
Haechan mendesah dengan centilnya, jari telunjuknya letakkan di depan bibirnya, sibuk mencubit pelan bibir tebalnya. Mata Haechan sudah merem melek. Badannya bergerak resah, mencoba menahan cairan yang ingin keluar dari pepeknya.
Haechan sudah tolol, bahkan sebelum dientot.
Ah, Haechan memang sesensitif itu.
“M-hh.. Mau pipis.. Markhh.. Mau pipis!!!” Adu Haechan kepada Mark yang masih sibuk lamot pepek Haechan rakus.
Mark yang dengar omongan Haechan malah makin bersemangat untuk membuat Haechan terkencing-kencing. Mark masukkan jari tengahnya ke dalam memek Haechan. Dan benar saja, Haechan langsung kencing setelahnya. Tidak banyak, tapi muncrat-muncrat.
“Ah…Hh— ..Mhh—“ Napas Haechan tersendat setelahnya. Perut dan pinggangnya naik turun setelahnya. Kakinya bergetar cukup kencang, dadanya membusung.
Haechan menangis. Selalu begini. Tiap kali Haechan habis squirt, keenakan.
“Emh… Hiks.. Hh.. Hiks..” Haechan terisak. Karena Setelah dirinya squirt pun, Mark tak keluarkan jarinya dari lubang pepek Haechan.
“Shh… Cup cup.. Udah, jangan nangis…” Tangan kiri Mark yang menganggur, Mark arahkan ke kepala Haechan. Mark usap-usap pelan rambut Haechan. Dan cium kening Haechan. Mencoba membuat pacarnya itu merasa tenang.
Mark berbaring menyamping, badannya sejajar dengan Haechan. Tangannya yang masih bertengger di kepala Haechan ditarik Haechan kearah Mukanya, untuk menutupi mukanya yang sudah memerah dan ikut basah karena air mata.
Mark terkekeh, merasa gemas dengan kelakuan pacarnya yang seperti anak kecil itu.
“Udah. Gapapa, you did well, okay.. Haha kenapa sih kamu”
“…Malu…” Haechan menjawab dengan suara pelan.
“Yeu, kaya baru pertama aja lu. Biasanya juga muka aku kamu dudukin, kamu kencingin.”
“Ih diem! Ya orang malu, kenapa sih? Emang gak boleh?”
“Ya kamu malu kenapa sayangku”
“Malu abis ngompol..”
“Dih? Ngompol apanya. Muncrat itumah, squirt. Lagian gapapa. Aku suka kalo kamu udah muncrat muncrat gitu.”
Haechan hempaskan tangan pacarnya itu, merengut sebal.
“Kamu mah—MHHH!!! MARKHH… ih—mh..Ah..ADUH!!—hhh”
Haechan belum sempat selesaikan kalimatnya dan Mark tanpa aba-aba langsung maju-mundurkan jari tengahnya yang sedari tadi masih berada di dalam pepek tembam Haechan.
Haechan mendangak, mulutnya terbuka membentuk huruf o. Dengan mata yang tertutup dan dada membusung saat Mark tambahkan jarinya untuk masuk ke dalam lubang pepek becek Haechan.
Mengobel memek Haechan dengan dua jarinya lalu bertambah menjadi tiga jari secara bertahap.
“AHH…. Pelan-hh.. Mark ih.. Jangan kenceng-kenceng…hhh—Mhhh—“ Haechan gigit bibir bawahnya. Berusaha menahan desahannya yang menurutnya akan terlalu kencang jika Ia suarakan dengan lantang.
Mark sibuk pandangi Haechan yang keenakan dari sampingnya. Mencoba menahan nafsunya juga dengan mengigit bibirnya.
“Desah aja, sayang. Gapapa, ga ada yang bakal marahin.” Bisik Mark pelan di telinga Haechan yang merem melak keenakan.
“Mh… Gamau.. Nanti digrebek gimana..Ih—Mhh.. Ahh..” Haechan yang keenakan itu masih sempat-sempatnya menjawab Mark dengan asal. Mana bisa Ia berpikir kalo udah enak begini.
Mark terkekeh dengan jari yang sibuk keluar masuk di lubang pacarnya, jempolnya sesekali menekan klitoris Haechan.
“Ga akan digrebek sayang, kan hotelnya bintang 5. Udah desah aja, yang kenceng gapapa.” Mark sematkan kecupan dan sedikit gigitan di telingan Haechan.
Setelah itu Mark kencangkan kobelan tangannya di memek Haechan. Pacarnya itu kayanya mau pipis lagi, pinggulnya dari tadi udah gak bisa diem. Bergerak kesana kemari, resah. Roknya bahkan udah gak karuan letaknya. Kakinya yang masih memakai heels itu bahkan sudah menendang-menendang udara.
“Ahh… Mhh….Ah!! Ah!!! Aku mau kencing lagi…MHHH!!! Gapapa?” Tanya Haechan dengan patah-patah.
“Gapapa. Kencingin aja kasurnya.” Dan Mark kecup pipi pacarnya sebelum dengan sengaja Ia hentakkan pelan jarinya yang berada di dalam pepek pacarnya.
Kaki Haechan semakin lebar mengangkang.
“AH!!! AHH… MMARK!!—HH”
Badannya naik, membusung kelewat tinggi. Kakinya bergetar dengan kencang. Bahkan hampir seluruh badannya bergetar.
“KENCING HHH——NGOMPOL… AH!!! Haechan ngompol…Hh!! lagi…” Haechan muncrat banyak sekali. Pacar Mark itu benar-benar mencapai puncaknya hanya dengan jari-jari panjang Mark. Haechan mendesah dengan lantang dan putus-putus. Nafasnya kembali susah, tersengal, dengan pinggul dan perut yang bergetar. Kakinya yang sudah mengangkang lebar itu pun juga bergetar dengan kencang. Dan Haechan menangis lagi.
Mark yang tau pacarnya keenakan, segera tenangkan pacarnya. Ia tahan dada Haechan yang membusung itu lalu keluarkan jarinya yang berada di dalam pepek Haechan.
“Shh…Udah. Cup-cup ah, jangan nangis, Sayang. Udah kok ini udah, ga dikerjain lagi memek Haechannya. Udah ya” Mark beri kecupan di dahi Haechan cukup lama, Haechan yang masih setengah sadar itu pegang tangan Mark yang menganggur diatas perutnya. Tangisannya sudah cukup reda namun nafasnya masih tersengal, patah-patah.
“Hh—Enak.. Enak bangethh..” Bisik Haechan di telinga Mark.
Mark terkekeh lalu usap rambut Haechan dan cium bibir tebal Haechan yang sudah bengkak.
“Iya, sama-sama sayangku.” Balas Mark dengan senyum gelinya.
“Hehe… Makasih, ganteng” Ucap Haechan dengan centil dan kali ini suaranya sedikit lebih keras.
Mark tersenyum setelahnya dan tepuk pelan memek tembam Haechan.
“AH! MARK LEE” Haechan berteriak sebal. Dan Mark segera bawa Haechannya ke pelukannya.
“Haha. I love you, Sayang” Bisik Mark di telinga pacarnya yang telusupkan kepala di dada Mark. Dan Haechan hanya balas Mark dengan cubitan pelan di perut pacar bulenya itu.
