Actions

Work Header

Sulung

Summary:

Hoseok punya sahabat, Sulung yang paling kuat.

Notes:

Just wanna write this for my best friend. The strongest Sulung I have ever know.

Work Text:

SEOUL, 2016


Kaki Hoseok melangkah terburu-buru menuruni satu demi satu anak tangga. Entah hanya perasaannya saja, atau mendadak jarak antara satu lantai dengan yang lainnya mendadak menjadi terasa begitu panjang. Kalut memenuhi kepala, dan debar jantungnya ikut menggila. Baru beberapa menit lalu Jiyeong menghajar Hoseok dengan berbagai teguran tegas perkara acara fakultas yang jadi tanggung jawabnya; berkata bahwa ada banyak sekali hal yang harus dibenahi. Dan sekarang, Hoseok sudah total lupa segalanya.

Kim Namjoon: Ayah gue udah gak ada, Seok.

Hoseok menyetop taksi di depan kampus. Dadanya naik turun terengah-engah, dahinya penuh oleh peluh. Sopir taksi bertanya hendak ke mana, dan Hoseok hanya menjawab singkat, “Nanti saya tunjukkan jalannya, Pak,” sebelum kembali fokus memandangi laman pesan pribadinya dengan Namjoon; berharap huruf-huruf di sana berubah menjadi sesuatu yang sedikit kurang memilukan.
Tapi huruf-huruf itu, dan pesan yang dibawanya, akan selamanya berbunyi sama. Mereka akan dengan menyakitkan tinggal di dalam ingatan Hoseok sampai entah kapan.

 

.

 

Namjoon dan Hoseok saling mengenal di semester dua, sewaktu keduanya sama-sama tergabung dalam organisasi pers mahasiswa. Alasan menunggu waktu wawancara tahap akhir, perut yang terus berbunyi minta diisi, dan obrolan mengenai minat keduanya perkara kopi membuat Namjoon dan Hoseok sepakat pada rencana pertemuan-pertemuan lanjutan.


Terlepas dari semua teman yang Hoseok dapat di Fakultas Pertanian, atau orang-orang yang mengenal Namjoon di Fakultas Ilmu Komunikasi, keduanya tetap menjadi orang terdekat bagi satu sama lain. Namjoon akan menumpang di kamar sewa Hoseok setiap kali lelaki itu punya jadwal kosong di sela-sela kelas, dan Hoseok kerap mampir ke rumah Namjoon untuk menginap setiap kali ia rindu pada rumah.

Mungkin karena itu, karena kedekatan mereka itulah, Hoseok merasa hatinya seperti sedang dirobek sewaktu dia menemukan Namjoon menunduk di kursi tunggu rumah sakit. Lelaki yang dua tahun dikenalnya dengan baik itu tertunduk lesu dengan tangis meluruh tanpa henti di kedua pipi.

Tiap langkah yang kaki Hoseok ambil terasa berat. Air matanya ikut turun tanpa diminta. Namjoon, sahabatnya itu, masih terlalu muda untuk jadi tulang punggung keluarga. Keluarga Namjoon pun bukan datang dari orang yang serba ada. Ayahnya hanya seorang sopir taksi biasa, yang hari ini secara tiba-tiba berpulang di tengah kegiatannya menunggu penumpang.

“Joon....” Hoseok memanggil lirih sewaktu hanya ada jarak dua langkah yang memisahkan mereka berdua.

Namjoon mengangkat wajah. Jejak air mata di pipinya terlihat jelas, matanya merah, dan Hoseok merasa tidak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan yang membekas di wajah yang biasanya ramah itu. Tanpa aba-aba, Namjoon bangkit berdiri, lantas menghambur ke pelukan Hoseok sebelum terisak hebat di perpotongan lehernya. Suara tangis lelaki itu terdengar pilu, remasan tangan Namjoon di jaket Hoseok terasa ikut mencengkeram hatinya.

“Ayah gue udah enggak ada, Seok....” lirih Namjoon di sela-sela isak tangis yang makin menjadi.

Hoseok melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh lelaki itu, menepuk-nepuk punggungnya sembari setengah mati menahan tangis sendiri.

“Gue bahkan gak ... sempet ada d-di samping dia, Seok. Mereka bilang dia lagi beli makan ... terus langsung jatuh gi-gitu aja.” Namjoon mengeratkan pelukan, bersandar pada bahu Hoseok yang kini basah oleh air matanya. “Ayah gue, Seok....”

Hoseok masih bungkam, masih setia mengusap punggung Namjoon yang terasa rapuh; seolah dia bisa hancur kapan saja. Lidah Hoseok terasa kelu, kepalanya mendadak macet sewaktu diajak berpikir. Hoseok belum pernah merasa kehilangan bagian penting dalam hidupnya. Harus bagaimana dia menghibur Namjoon, sementara Hoseok tahu luka yang datang dari kehilangan tidak akan pernah bisa ditambal sekalipun oleh ribuan pertemuan. Hoseok rasanya tak punya hati meminta Namjoon untuk tetap kuat, untuk tabah, untuk merelakan....

Luka yang tersisa dari kematian ayah akan selamanya membekas dalam hidup Namjoon, berdarah dari waktu ke waktu, tidak akan pernah kering. Dan tidak Hoseok, atau siapa pun, dapat memberi obat atas luka itu.

 

.

 

Upacara kematian ayah Namjoon dilakukan selama dua hari. Para kerabat dari Ilsan dan Gwacheon datang untuk memberikan penghormatan terakhir, dan Namjoon berdiri seperti mayat hidup menerima salam mereka dengan mata yang kosong. Adik perempuannya pingsan dua kali dalam kurun waktu dua belas jam pertama, sebelum duduk dengan ekspresi memilukan di barisan keluarga. Ibu Namjoon adalah orang yang paling tenang di antara mereka bertiga. Dia bolak-balik memastikan para tamu mendapat hidangan dan upacara berlangsung tanpa kendala.

Hoseok tinggal bersama Yoongi dan Seokjin sepanjang hari. Mereka pulang ke rumah, tidur, lalu kembali keesokan harinya untuk mengantar ayah Namjoon menuju peristirahatan terakhirnya. Hatinya perih tiap kali ia tangkap mata Namjoon memandang kosong pada jalanan dengan tangan memeluk pigura foto ayahnya. Hatinya perih setiap kali melihat tangan ibu Namjoon mengusap lengan anak lelakinya, mencoba menguatkan Namjoon meski mungkin saja hatinya kadung hancur berkeping-keping. Hati Hoseok perih setiap kali ia tangkap Namhee, adik perempuan Namjoon, menangis tersedu-sedu di samping kakaknya; terseok mengantar cinta pertamanya pergi.

You won’t be alone, Joon. Ada gue. I’ll face this world with you.” Hoseok berkata sewaktu Namjoon selesai meletakkan guci berisi abu ayahnya dalam krematorium.

Namjoon menangis lagi, berjongkok di depan gedung dengan bahu berguncang keras. Hoseok merangkul bahu lelaki itu, menemaninya menangis entah untuk yang ke berapa kali.

 

 


 

end.