Actions

Work Header

Melewatkan Kerumunan

Summary:

“Aku ambil jurusan biologi, karena itu aku tidak punya bakat seni sama sekali.”

“Biologi? Menarik,” ucap Suguru, ia mengambil botol bir barunya dan mengambil beberapa teguk.

Ia tahu bahwa Satoru tengah memandanginya; memandangi bagaimana mulutnya menempel di bibir botol. Itu … tidak sopan, mungkin, dan ia harus mengusir Satoru pergi, mengingatkannya bahwa Suguru sembilan tahun lebih tua darinya; tapi Satoru mencondongkan tubuhnya mendekat, cukup dekat hingga Suguru bisa merasakan hangat napas anak itu di telinganya ketika ia berbisik, “Kau tahu, aku selalu tahu pasti di mana letak prostat dan bagaimana cara menemukannya.”

Suguru tersedak bir dan mulai terbatuk keras. Sialan. Anak ini benar-benar —

 

atau,
19 tahun! Satoru x 28 tahun! Suguru dalam situasi kencan satu malam

Notes:

  1. Karya orisinil Jujutsu Kaisen murni milik Akutami Gege,
  2. mohon perhatikan tags sebelum membaca cerita ini, jika dirasa tidak bermasalah dengan isu di atas silakan lanjut,
  3. dalam cerita ini, hubungan LGBTQ+ sudah lebih banyak diterima publik meskipun masih ada segelintir pihak yang tidak benar-benar menyetujui,
  4. nama merek atau brand dalam cerita ini tidak saya plesetkan, ditulis apa adanya tanpa ada maksud untuk promosi
  5. cerita ini saya tulis dengan tujuan hiburan semata, tidak ada maksud melecehkan, mencemarkan nama baik, atau mengambil keuntungan secara komersil.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Mau kubelikan minum?”

Suguru menoleh ke sisi kanan, di mana seorang pria menarik salah satu kursi bar untuk duduk di sampingnya. Pria — sesungguhnya, dia lebih tepat disebut bocah. Beberapa waktu lalu, Suguru sempat melihatnya di tengah-tengah sekumpulan remaja yang datang berbondong-bondong ke dalam bar dengan raut wajah sok keren — yang mana membuktikan bahwa ini adalah kali pertama mereka mengunjungi sebuah tempat hiburan malam. Suguru memerhatikan anak ini hanya karena ia terang-terangan melihat ke arahnya, tapi Suguru tidak terlalu peduli karena yah, dia tidak pernah tertarik dengan seseorang yang lebih muda apalagi mahasiswa.

Dan kini, mahasiswa itu malah duduk di sampingnya, menatapnya dengan sorot mata yang sama tajamnya.

Suguru menunjuk sebuah botol bir yang telah terbuka di atas konter bar, dan berkata, “Terima kasih, tapi aku sudah punya satu.”

“Kalau begitu, aku akan membelikanmu bir yang berikutnya,” kata anak itu lagi.

Dia tipe laki-laki yang lugas dan penuh percaya diri, dia bahkan tak sungkan untuk melihat Suguru langsung ke matanya. Dia anak yang tampan, sungguh, dan masuk dalam kategori yang akan Suguru izinkan jika ia ingin membelikannya minum; tubuhnya jangkung, bahunya begitu lebar, dan ia memiliki rahang yang tegas, kulit sedikit kecoklatan karena terbakar matahari —mungkin dia tipe yang suka berolahraga di luar ruangan— rambutnya putih, dengan beberapa helai yang dibiarkan menganjur di kening, belum lagi mata itu; mata berwarna biru langit yang sangat memesona. Andai saja dia tidak sepuluh tahun lebih muda, mungkin Suguru akan punya pikiran berbeda tentang semua interaksi ini.

“Kau mau membelikanku minum padahal kau … delapan belas tahun?” tanya Suguru, separuh bibirnya tersungging.

Anak itu terkesiap. “Usiaku bukan delapan belas tahun,” katanya, sedikit rikuh. “Usiaku dua puluh satu.”

“Kau tahu, kau sedang bicara dengan seseorang yang lulus dari universitas enam tahun yang lalu dan sudah melalui banyak sekali episode dalam hidupnya, jadi tentu saja aku tahu kalau aku sedang bicara dengan bocah yang memalsukan identitasnya untuk bisa masuk ke sini. Jujur saja, berapa usiamu?”

Anak itu terlihat ragu untuk beberapa saat, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu mencondongkan tubuh semakin dekat hingga Suguru bisa mencium aroma parfumnya yang mirip dengan pelembut pakaian. “Umurku sembilan belas. Memang belum boleh minum alkohol. Tapi secara biologis, tubuhku sudah bisa menerima asupan alkohol tanpa efek samping yang berisiko.”

Suguru tertawa. “Sebentar lagi aku akan berumur tiga puluh tahun. Bukan kah seharusnya kau membelikan minum untuk orang lain yang usianya sepantar denganmu?” Suguru menunjuk seorang laki-laki — yang terlihat seusia dengan mahasiswa ini — duduk di ujung bar sambil mengesat layar ponsel. “Mungkin dia lebih cocok untukmu.”

“Kalau aku memang ingin membelikan minum untuknya, seharusnya sudah dari tadi aku lakukan.” Kata anak itu. Kepercayaan diri dan gaya lugasnya dalam menjawab membuat Suguru sedikit terkesan, dia tidak akan mengelaknya. “Aku ingin membelikanmu minum karena kau adalah laki-laki yang paling menawan yang pernah kutemui.”

Suguru terdiam sejenak. Banyak orang mendeskripsikan wajahnya menggunakan kata tampan, cantik, memesona tapi tidak ada seorangpun yang memandang Suguru sedalam anak ini; seolah-olah ia ingin meyakinkan Suguru bahwa ia sungguh-sungguh, bahwa Suguru adalah laki-laki yang paling enak dipandang yang pernah ditemuinya dalam sembilan belas tahun hidupnya.

Tapi lagi-lagi, Suguru tersadar bahwa umur anak ini baru sembilan belas. Ia bahkan belum melihat dunia seluruhnya; belum bertemu dengan banyak orang sebagaimana Suguru yang telah menjalaninya selama dua puluh delapan tahun.

Suguru menjeling ke arah segerombol orang yang datang bersama anak ini. Mereka semuanya tengah mabuk — dengan semangat yang kelampau berapi-api — dan sangat berisik. Tidak ada satu pun dari mereka yang memandang Suguru maupun anak yang bersamanya.

“Kau datang ke sini dengan teman-temanmu, kan?” kata Suguru. “Kenapa kau tidak bergabung kembali bersama mereka? Kelihatannya mereka sedang bersenang-senang.”

Anak itu menggeleng. “Aku lebih baik berada di sini, mengobrol denganmu. Cuma ini yang ingin kulakukan.”

Cara anak itu berbicara dan bertindak menunjukkan sisi dewasa tanpa terkesan memaksa, Suguru menyukai itu.

“Oke,” kata Suguru dengan mudah; tak ada salahnya ngobrol sedikit dengan anak itu, lumayan untuk menghibur diri. “Kau membuatku terkesan. Kau bisa membelikanku satu lagi yang seperti ini.” Dia mengambil botol Heinekennya dan menenggak habis sisanya.

Wajah anak itu segera kembali cerah. Suguru memerhatikannya saat dia melambai kepada bartender dan memesan dua botol bir lagi; laki-laki di belakang meja itu meliriknya sekilas dan memintanya menunjukkan tanda pengenal.

Anak itu terlihat tegang di balik raut percaya diri yang ia buat-buat, tapi ia lekas mengeluarkan sekeping kartu dari dompet lalu menunjukannya pada bartender — yang memberinya tatapan curiga seakan dia tahu bahwa anak ini di bawah umur — tapi dia hanya mengangguk sekilas sebelum kembali dengan dua botol bir yang sudah dibuka.

“Terima kasih, kawan.” Kata anak itu.

“Tunggu,” kata Suguru, ketika bartender itu sudah menjauh dari tempat mereka duduk. “Perlihatkan tanda pengenalmu,”

“Untuk apa?” mata biru anak itu menyipit, memberinya tatapan curiga seolah dia mengira Suguru adalah polisi atau semacamnya.

Suguru berkedik mungil, “Hanya ingin lihat sebagus apa kau dalam memalsukan sesuatu.”

Anak itu ragu sejenak, tapi tetap menyerahkannya pada Suguru. Suguru mengambilnya, membaliknya perlahan, melihat bagian depan dan belakangnya beberapa kali. Bagian depannya bertulisan Nagarekawa Satoru, dan kelihatan lumayan rapi. Suguru cukup terkesan dengan siapa pun yang membuat ini.

“Nagarekawa Satoru … ini bukan nama aslimu ‘kan?”

Anak itu menyeringai, menunjukkan senyuman menawan yang membuat ujung matanya berkerut. “Tentu saja bukan. Well, Satoru memang namaku. Tapi nama keluargaku itu Gojo.” 

Mata Suguru membesar. Nama Gojo bukan sesuatu yang asing didengar — tapi bukan nama umum yang bisa ditemui di tiap situasi juga. Suguru bukan penggemar berita seputar orang ternama, baik itu para selebrita, cendekiawan, atau kalangan politikus. Tapi nama Gojo sangat terkenal di Jepan, kalau ia tidak salah ingat, mereka salah satu penyumbang kemajuan ekonomi Jepang entah dalam industri apa. “Gojo … apa maksudmu, Gojo yang itu?”

“Iya, Gojo yang itu. ” Anak itu nyengir lebar, raut wajahnya perpaduan antara congkak dan jahil; khas anak remaja yang hendak menjejaki masa adolesens. Suguru menganggapnya manis. “Panggil aku Satoru saja, bisa celaka kalau ada yang tahu aku ke sini.”

“Satoru- kun, ” ulang Suguru.

“Siapa namamu?”

“Suguru,” jawab Suguru. Ketika Satoru memberinya tatapan seakan meminta penjelasan lebih, ia menambahkan, “Getou.”

Satoru tersenyum padanya, “Senang bertemu denganmu, Getou Suguru- san.”

Satoru menyodorkan tangannya, meminta kembali tanda pengenal palsu itu, dan Suguru memberikannya sembari bertanya, “Kelihatan seperti asli. Kau yang membuatnya?”

“Bukan lah,” kata Satoru, menyelipkan kembali kartu itu ke saku celananya. “Aku tidak bisa masuk ke sini kalau aku sendiri yang buat. Hasilnya bakal jelek. Teman satu flatku di kampus mengambil jurusan fotografi, dan dia tahu cara mengubah-suai sesuatu menggunakan Photoshop atau program apa pun itu.”

“Yah, dari sudut pandangku sebagai software engineer, aku bisa bilang hasil pekerjaannya sangat bagus,” kata Suguru sambil tersenyum lebar. “Tidak pernah ada yang bisa membuat tanda pengenal palsu sebagus itu di zamanku dulu. Kau ambil jurusan apa, omong-omong?”

“Aku ambil jurusan biologi, karena itu aku tidak punya bakat seni sama sekali.”

“Biologi? Menarik,” ucap Suguru, ia mengambil botol bir barunya dan mengambil beberapa teguk. 

Ia tahu bahwa Satoru tengah memandanginya; memandangi bagaimana mulutnya menempel di bibir botol. Itu … tidak sopan, mungkin, dan ia harus mengusir Satoru pergi, mengingatkannya bahwa Suguru sembilan tahun lebih tua darinya; tapi Satoru mencondongkan tubuhnya mendekat, cukup dekat hingga Suguru bisa merasakan hangat napas anak itu di telinganya ketika ia berbisik, “Kau tahu, aku selalu tahu pasti di mana letak prostat dan bagaimana cara menemukannya.”

Suguru tersedak bir dan mulai terbatuk keras. Sialan. Anak ini benar-benar —

Satoru hanya menepuk-nepuk punggung Suguru, seolah itu bisa membantu, dan memberinya beberapa lembar tisu. "Kau baik-baik saja?" dia bertanya, terlihat sangat terhibur dengan situasi ini.

Suguru mengambil tisu-tisu itu dan mengusap wajahnya yang kacau. Sial, sepertinya ada bir yang keluar dari hidungnya. “ Kau tidak boleh - mengatakan hal seperti itu,” dia tergagap, mendelik pada Satoru.

Satoru mengangkat bahu, sangat santai. "Aku hanya berkata jujur."

“Apa – sebenarnya apa yang kau inginkan?” dia bertanya pada Satoru sambil menjilat bibirnya perlahan dan mencoba berpikir.

Satoru tidak merahasiakan fakta bahwa dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari bibir Suguru. Dia menatap sapuan perlahan lidah Suguru di bibir bawahnya saat dia berkata, “Kenapa kau tidak coba membawaku ke tempatmu dan aku akan menunjukkan apa yang ingin kulakukan kepadamu?”

Suguru agak membenci dirinya sendiri karena dia mulai mempertimbangkan hal itu, tapi ya Tuhan, dia memang menyukai anak ini. Dia sangat lugas, persisten, tidak berusaha berpura-pura sama sekali, dan jelas terlalu muda untuk Suguru, tapi ada sesuatu dalam keberaniannya dan sifat tidak tahu malunya yang membuat Suguru terpikat. 

Ah, persetan.

Lagipula, ini adalah malam Sabtu, dia sudah melalui minggu yang panjang dan menyebalkan di tempat kerja, dan dia duduk sendirian di bar meminum bir. Dia tidak punya hal lain yang bisa dilakukan juga.

“Sial,” Suguru mengutuk keras. Ia menenggak habis sisa birnya dan mengangguk pada Satoru — memberi anak itu isyarat untuk melakukan hal yang sama. “Ya sudah, ayo.”

Satoru mengambil botolnya dan langsung menghabiskan isinya dalam beberapa tenggak. Suguru menatap bagaimana tenggorokannya bekerja ketika ia menelan kucuran bir itu, pada jakunnya yang menonjol, pada jari-jari panjang yang melingkari botol, dan juga bisep Satoru yang tegas.

“Selesai,” kata Satoru, meletakkan kembali botol bir itu hingga bersuara di meja bar.

Suguru tidak mengerti apa yang tengah dilakukannya, yang jelas, kemungkinan besar dia akan menyesali semuanya di esok pagi.

 


 

Semua ini bukan yang pertama kali bagi Suguru — membawa pulang teman kencan semalam yang ia temui di bar — tapi entah kenapa dia merasa gugup saat membuka kunci pintu apartemennya dan membiarkan Satoru masuk. Mungkin karena usia Satoru, yang ... entahlah apa yang ia pikirkan sampai-sampai berpikir untuk membawanya pulang?

Tapi, Satoru sudah di sini sekarang. Suguru merapikan tempat tidurnya sekilas karena mereka berdua akan menggunakannya malam ini. Suguru mengerahkan usaha terbaiknya untuk menahan agar tawa canggung-semi-panik tidak jebol dari mulutnya.

“Kau mau minum sesuatu?” tanyanya, mencoba mengalihkan kegugupannya.

Satoru menggeleng. “Tidak,”

“Oke, tapi aku perlu minum sesuatu,” ujar Suguru, mengambil jalan menuju dapur. Dia tidak bohong, dia memang perlu dan harus minum alkohol lagi untuk menenangkan diri karena dia akan melakukan seks dengan anak remaja.

Satoru mengekor di belakangnya, menyandarkan tubuh dengan santai di konter dapur sembari memerhatikan Suguru membuka sekaleng bir dari pendingin. “Tempatmu keren,” katanya.

“Terima kasih.”

“Siapa mereka?” tanya Satoru, menunjuk sebuah foto berbingkai yang Suguru gantung di dinding dapur. Itu adalah fotonya bersama dua keponakannya, Mimiko dan Nanako, saling rangkul, mata memandang kamera, diambil di pantai Okinawa beberapa tahun lalu dan — astaga, Satoru seumur dengan mereka.

“Keponakanku,” jawab Suguru, lalu ia menambahkan, “Seperti yang kau lihat, kau seusia mereka.”

Satoru memandangi foto itu dengan jarak lebih dekat. “Ya, terus kenapa? Hm … mereka tidak secantik dirimu,” katanya, dan ya ampun, hal itu membuat Suguru tersedak lagi. Anak sialan ini akan membuatnya mati karena cedera tenggorokan bahkan sebelum seks mereka dimulai.

“Demi Tuhan,” katanya, terengap, membesut tetesan bir di dagunya dengan punggung tangan, “kau - kau mengatakan semuanya tanpa tedeng aling-aling, tahu tidak? Kau harus lebih belajar bagaimana caranya merayu, Satoru- kun.

Satoru memiringkan kepalanya beberapa derajat ke arah kiri, bak menimang-nimang suatu hal, lalu ia berjalan mendekat hingga Suguru tersudut di dekat lemari pendingin. Ada momen singkat ketika Suguru bertanya-tanya apakah dia harus takut; Satoru memancarkan maskulinitas yang terang-terangan dan kurang ajar, begitu bertentangan dengan usianya. Anak itu lebih tinggi, lebih besar, dan jelas lebih kuat, tapi entah kenapa Suguru tidak merasa terancam sama sekali. Dia membiarkan Satoru mengepungnya, dada mereka bergesekan, dan dari jarak sedekat ini, dia bisa mendengar napas Satoru mulai menderu. Baguslah, dia ternyata tidak setenang itu.

“Aku tidak tahu kalau aku harus belajar soal caranya merayu,” kata Satoru. “Maksudku, toh, kau tetap membawaku pulang, ‘kan?”

Suguru menatapnya. Satoru sangat intens; dia terlalu percaya diri, dan terlalu berani, tapi anehnya Suguru menemukan dirinya terpikat oleh hal itu. 

“Jangan terlalu memuji dirimu sendiri,” katanya.

Satoru meraih wajahnya dan dengan lembut mengusapkan ibu jari di sepanjang dagunya yang basah, tepat di bawah bibirnya. Ibu jari Satoru kering dan hangat dan Suguru menahan godaan untuk menjulurkan lidah dan menjilatnya, seperti yang akan dia lakukan jika dia mencoba menggoda seseorang seusianya. “Ada bir di wajah cantikmu.”

“Salah siapa?”

Cengiran Satoru cerah, “Kalau begitu, biarkan aku menciummu. Sebagai permohonan maaf.”

Satoru benar-benar tidak tahu malu, tapi Suguru sangat menyukainya.

“Akan kubiarkan,” katanya, mata memandang mata biru Satoru yang menggelap karena ruangan remang, lalu tertuju pada bibirnya. Anak ini punya bibir yang cantik juga, pikir Suguru, bentuknya menyerupai busur panah cupid yang sempurna.

Satoru tidak membuang-buang waktu, dia juga tidak mencoba menggoda atau mengatakan hal-hal romantis seperti kebanyakan pria seusia Suguru. Dia hanya menangkup pipi Suguru dan mulai mencumbu; mulutnya mendarat tepat di bibir Suguru, lidahnya menekan terus-menerus sampai Suguru harus membiarkan mulutnya terbuka, membiarkan Satoru menjilatnya.

Satoru berciuman seakan dia sedang berada dalam pertempuran, atau semacamnya. Ciumannya tidak buruk, tidak ada benturan gigi atau ludah yang meluber ke mana-mana; tapi Satoru sangat menuntut dalam ciumannya. Dia segera mengambil kendali begitu bibir mereka bertemu, lidahnya tidak henti menyapu lidah Suguru, dan dia tidak membiarkan Suguru menjauh, bahkan untuk menarik napas pun tidak. Dia mencium seolah dia ingin melahap Suguru utuh.

Bukannya Suguru keberatan; dia selalu suka pria yang lugas dan memegang kendali, tapi dia juga perlu bernapas, menghirup udara segar dan bukannya karbon dioksida yang diembuskan Satoru. Jadi dia mendorong dada Satoru dengan tangannya (dan wow, dadanya sangat tegap dan kokoh); Satoru enggan mundur pada awalnya, tapi kemudian ia mengangkat wajah, menatap wajah Suguru yang memerah dan napas anak itu mulai bergerak lebih cepat dari sebelumnya.

“Aku — apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya.

“Tidak juga,” kata Suguru, “tapi, kenapa harus terburu-buru begitu?”

Satoru mengerjap. “Terburu-buru?”

“Iya, kau menciumku seakan dikejar waktu,” ucap Suguru. “Santai. Kita punya semalam penuh.”

Mata Satoru, yang sudah gelap, menjadi lebih gelap. "Ya," katanya, dan suaranya semakin dalam. "Semalam penuh untuk kita.”

Suguru mengisyaratkannya untuk mendekat dengan menekuk telunjuk. "Kembalilah ke sini, dan kali ini coba untuk pelan-pelan."

Satoru mencondongkan tubuh lagi tanpa ragu-ragu, tapi dia mengikuti saran Suguru; mulutnya, ketika mendarat, lebih lembut, tidak terlalu menuntut. Suguru menyelipkan tangan ke belakang leher Satoru dan ke rambutnya, menggunakannya untuk membujuk kepala Satoru agar sedikit miring sehingga hidung mereka berhenti bertabrakan, dan membiarkan Satoru menjilat tepian bibirnya hingga lidah mereka bertemu. Satoru menarik diri sedikit dan menghisap bibir bawah Suguru ke dalam mulutnya; dia menggigitnya dengan lembut sebelum melepaskannya, dan kembali menciumnya.

Dia merasakan tangan Satoru menggenggam pinggulnya, jari-jarinya yang panjang menekan lembut daging di bagian bokongnya, menariknya lebih dekat ke tubuh Satoru. Satoru sudah tegang; Suguru bisa merasakan tonjolan itu di pahanya, tempat tubuh mereka saling menempel, dan dia harus menahan senyum. Duh, dasar remaja.

Sejurus Satoru mengangkat kepala, wajah memerah dan bibirnya berkilau berkat mulut Suguru. Dia masih terlihat sedikit linglung, tapi dia menggerakkan ujung jarinya di sepanjang bibir bawah Suguru yang lembut dan bengkak, seolah dia harus terus menyentuhnya.

"Itu lebih baik, kan?" Suguru bertanya, dan kali ini, dia membiarkan dirinya menjilat jari Satoru sebelum dia memasukkan dan menghisapnya ke dalam mulut. Napas Satoru tertahan selama beberapa detik, lalu dia mengembuskannya dengan keras.

“Astaga,” kata Satoru. “Mulutmu sangat — Ya. Ya, rasanya nikmat.”

Suguru melepaskan jari Satoru dari mulutnya dengan bunyi pop yang nyaring. “Kamar. Lepas bajumu. Sekarang.” 

Satoru hampir tersandung saat dia mengikuti Suguru ke kamar tidur, ikat pinggangnya sudah tanggal dan dia tengah menurunkan celana jinsnya sambil berjalan.

Hal itu membuat Suguru tersenyum, tapi juga membuat irama detak jantungnya meningkat; untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa bersemangat untuk seks. Dia tidur dengan banyak pria, tapi Satoru berbeda dari yang sudah-sudah; bagaimana dirinya yang percaya diri, berani, tetapi juga bersedia untuk mengikuti apa pun yang diinginkan Suguru, dan itu membuat Suguru sangat, sangat tersanjung.

Dan yang dia inginkan sekarang adalah membawa Satoru ke tempat tidur lalu mengajari Satoru cara bagaimana menghancurkannya (dalam arti yang baik) sesuai yang dia inginkan.

Satoru menendang pakaiannya dengan sembarang hingga menumpuk di tengah kamar Suguru begitu ia menanggalkannya, dan Suguru merasakan mulutnya kering ketika ia menatap laki-laki itu berdiri tanpa mengenakan apa pun. Satoru mungkin baru berusia sembilan belas tahun, tapi tubuhnya spektakuler, seluruh ototnya kokoh dan kulitnya bersih. Suguru menelan ludahnya melawan rasa kering di tenggorokan saat dia mengarahkan pandangannya ke bagian bawah tubuh Satoru, ke otot perutnya yang terbentuk sempurna dan mengundang Suguru untuk menjilatnya; paha yang tebal dan kekar; serta sederet rambut hitam tipis mulai dari pusar hingga ke penisnya yang menonjol dengan bangga di antara selangkangannya.

Penis Satoru sudah tegang dan ukurannya jelas besar; lebih tebal dari milik pria lain yang pernah tidur dengan Suguru, bagian kulupnya sudah tertarik dan memperlihatkan kepala penisnya yang berwarna merah muda gelap, basah, dan berkilau. Bentuk penisnya melebar dimulai dari bagian tengah hingga pangkal, dan selagi Suguru menatapnya, Satoru terlihat semakin mengeras, setitik sperma muncul di ujung kepala penisnya dan batang kemaluannya semakin menggemuk di bawah tatapan Suguru.

Suguru berusaha — dengan sangat keras — untuk mengalihkan pandangan dari penis Satoru; ketika ia mendongak dan menatap wajah remaja itu, Satoru tengah tersenyum menyeringai, dasar usil. “Kau suka?” tanyanya.

“Kau terlalu muda untuk punya ego sebesar ini,” kata Suguru, lalu setelah beberapa saat, ia menambahkan, “Atau penis sebesar ini,”

“Aku sudah sembilan belas tahun, aku bukan anak kecil lagi,” ujar Satoru, tapi seringainya malah kian melebar. Dia berjalan menghampiri Suguru, meraih kancing atas kemejanya. “Boleh kah?”

“Boleh,” jawab Suguru sembari menarik napas panjang dan menjilat bibir bawahnya.

Satoru tidak mengalihkan pandangan darinya saat dia menelusuri garis kancing kemeja Suguru, membukanya satu per satu dengan tenang; ketika dia menanggalkan kancing yang terakhir, Suguru melepaskan kemeja itu, menurunkannya dari bahu, membiarkan Satoru melepas dan melemparkannya ke samping dengan sembarang seperti yang dia lakukan dengan pakaiannya sendiri. Suguru hendak mengambil dan merapikannya, tapi pemikiran itu menguap begitu Satoru perlahan menyentuhnya, mengusap puting dan perutnya sekilas. Tangannya hangat dan kasar, Suguru menggigil saat Satoru mencubit putingnya. Satoru kemudian meraih tepian celananya, menariknya ke bawah bersamaan dengan celana dalamnya sekaligus, lalu laki-laki berambut putih itu berlutut. Penis Suguru sudah setengah keras saat Satoru menyapukan tangannya dari pergelangan kaki Suguru yang telanjang hingga ke paha dan lengkungan bokongnya.

Satoru menengadah, kekaguman tampak jelas di matanya. “Kau sangat memesona, kau tahu itu?” katanya, jari-jarinya menekan daging di sekitar pinggang Suguru yang rupanya begitu pas di genggaman Satoru.

Suguru bisa merasakan senyuman tersungging di sudut mulutnya; sungguh tersanjung melihat seseorang setampan Satoru berlutut di depannya, memujinya seperti ini. Dia mengulurkan tangannya ke rambut Satoru, dan Satoru berbalik untuk memberikan ciuman lembut di telapak tangannya. Rasanya sangat manis dan lembut sehingga Suguru terkejut sejenak; tapi dia membiarkan tangannya, membiarkan Satoru menggosokkan pipinya di sana seperti anak anjing.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Suguru.

Satoru menatapnya sekilas, “Aku ingin memberimu blow job ,” katanya, dan penis Suguru berkedut karena kalimat itu. Sial. 

“Boleh, aku suka itu,” katanya sambil menelan ludah. Ya Tuhan. Cuma blow job kok. Memalukan sekali karena dia sampai salah tingkah hanya karena seseorang menawarinya seks oral.

Satoru bangkit; dan hal berikutnya yang Suguru ketahui, dia membungkuk untuk menggendong Suguru; mengangkat salah satu paha Suguru, lalu mengaitkannya di pinggul, wajah mereka saling hadap. "Apa yang sedang kau lakukan?" Suguru berkata, setengah tertawa, bahkan saat dia melingkarkan lengannya di leher Satoru dengan lebih erat.

"Membawamu ke tempat tidur," kata Satoru sambil menyeringai padanya. Hanya perlu beberapa langkah baginya untuk sampai ke sana, lalu dia mendudukan Suguru di tengah tempat tidur, langsung menyusul naik setelahnya, dan menempatkan dirinya di antara kedua kaki Suguru yang terentang. Sungguh pemandangan yang menakjubkan, Satoru di antara kedua pahanya, menatapnya seperti itu. Laki-laki itu menopang diri dengan lengan bawahnya sementara bahunya terangkat, seluruh ototnya tegang. Itu sangat tidak adil. Satoru tidak boleh terlihat semenggairahkan ini karena dia masih sangat muda.

"Aku bisa jalan sendiri," kata Suguru, sedikit terengah-engah.

“Tidak apa-apa, kau lebih pendek dariku dan kau ringan,” ucap Satoru, dan Suguru menekan iga Satoru dengan salah satu tumitnya.

“Brengsek,” katanya sambil melecutkan tawa. Rasanya sangat menyenangkan, sungguh, mereka bisa bercanda dan tertawa, dan dia suka bagaimana Satoru yang bisa bersikap santai meskipun usia mereka terpaut jauh. Akan tetapi, tak lama ia berhenti tertawa saat Satoru merunduk dan memberikan jilatan panjang dari testikel hingga ujung penisnya. “Astaga,” kata Suguru, tubuhnya melengkung secara spontan. “Beri aku peringatan sebelumnya, bung.”

Satoru menjengitkan sebelah alis, “Hah, kau mau sebuah peringatan untuk seks oral? Oke, baiklah: aku memeringatkanmu sekarang.”

Segera setelah ia mengucapkan kalimat itu, Satoru mengulum penis Suguru dan — sial — Satoru mungkin amat tega dan kejam, caranya menghisap penis Suguru seakan-akan ia mencoba menyedotnya hingga ke tulang belakang. Satoru tidak bertindak lembut sama sekali, tidak ada pemanasan apa pun; dia langsung melakukannya dan Suguru biasanya tidak menyukai cara seperti ini. Jika bukan Satoru, jika yang ada di antara kakinya adalah pria lain, Suguru akan berpikir dua kali untuk melanjutkan seks dengan mereka. Tapi rasa panas dan basah dari mulut Satoru yang terus menerus menempel di sekitar penisnya mengusir semua pemikiran rasional itu dari benaknya.

Suguru mengulurkan tangan hingga jari-jarinya berada di antara helaian rambut Satoru, menahan kepalanya di tempat. Dia menahan godaan untuk mengangkat pinggulnya dan bercinta dengan mulut Satoru; dia tidak yakin apakah Satoru bisa menangani deepthroat . Rasanya nikmat, Satoru mengisapnya dengan serakah, suara mulut yang membuat penisnya basah terdengar begitu erotis. Suguru mencoba untuk membuka matanya yang mulai berair dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melenguh saat melihat Satoru di bawahnya, dengan bibir yang melingkari penisnya, dan kepala yang naik-turun memanjakan Suguru.

“Enak … “ Suguru terengah. “Sangat, sangat enak … sedikit lebih lembut, Satoru- kun. Buat lebih basah lagi, jangan terlalu ketat.”

Satoru menatapnya dari bawah sana dan melakukan apa yang diminta Suguru; ia merilekskan mulutnya, lebih banyak menggunakan lidah, menjilat kepala penis Suguru sembari mengocok pangkalnya. Mata Suguru terpejam karena kenikmatan yang luar biasa, semua ini tepat seperti yang dia inginkan. Meskipun sulit, Suguru mencoba membuka matanya kembali karena ia tidak mau melewatkan pemandangan tentang bagaimana tangan besar Satoru mencengkeram kedua pahanya agar tetap diam selagi dia mengisap penisnya.

Dia melepaskan isapannya lalu menunduk, lidahnya kini menjilat testikel, lalu semakin bawah menuju perineum, dan kembali menjilat ke atas di antara batang penis hingga ia melahap seluruh penis Suguru lagi. Suguru gemetar, jari-jarinya mulai menjambak kecil rambut Satoru, dan Satoru kembali melepas isapannya. Akan tetapi, kali ini ia duduk setengah membungkuk, menatap wajah Suguru.

“Apa - apa yang sedang kau lakukan?” tanya Suguru, dadanya naik turun karena napas yang tak beraturan. 

Satoru menengadah dengan hati-hati. “Apa boleh - apa boleh aku mencoba sesuatu?” tanyanya pelan. Ia menjatuhkan pandangannya kembali pada penis Suguru, mengilap karena ludahnya, lalu pada bagian yang lebih bawah lagi.

Suguru menarik kaki, menekuknya, dan merentangkannya hingga membentuk huruf W lebar karena ia tahu apa yang ingin Satoru lihat. Benar saja, saat ia melakukannya, pandangan Satoru berubah semakin tajam. “Apa yang mau kau coba?”

Satoru mengusapkan jarinya ke garis di antara testikel, melewati perineum, hingga ujung jarinya menyentuh pinggiran lubang Suguru. Ada desir menyenangkan yang bangkit dari dalam diri Suguru, menghantarkan getar di punggungnya; dia merasa sangat sensitif karena gairah yang memuncak.

“Aku ingin memakanmu, ” kata Satoru. “Aku belum pernah melakukannya tapi … aku ingin melakukannya.”

“Um,” kata Suguru, mencoba mempertimbangkan. “Um … baiklah. Oke,” ia meraih pelirnya, sedikit mengangkatnya agar lubangnya semakin terlihat. “Lakukan saja.”

Dia tidak akan menolak rimming. Dia sangat suka rimming. Suguru merasa sangat ketat karena disulut gairah begitu Suguru mencoba membuka dirinya menggunakan ibu jari.

“Oh Tuhan,” Satoru mengehela napas.

Lucu juga melihat bagaimana Satoru memberi tatapan memuja pada lubang analnya seakan-akan ia tidak pernah melihat hal ini sebelumnya, tapi perasaan itu lekas lenyap saat Satoru langsung menusukkan lidahnya masuk tanpa banyak ancang-ancang terlebih dahulu.

“Ya ampun-“ Suguru nyaris berteriak. Rasanya tidak sakit tapi, yah, dia menduga Satoru akan melakukannya secara perlahan terlebih ini kali pertamanya memakan seseorang. Tapi siapa sangka? Dari sini, Suguru mulai memahami bahwa Satoru sepertinya tidak pernah melakukan segala sesuatu dengan perlahan; dia tahu apa yang dia mau dan dia akan langsung mencoba mendapatkannya sesegera mungkin. “Satoru- kun, tunggu, tunggu dulu.”

Satoru menatapnya dengan wajah masih terkubur di bokong Suguru, lidahnya sudah setengah masuk. “Mhm?”

Suguru menenggelamkan jari-jarinya di rambut Satoru lalu menjambaknya lembut, membawa wajahnya untuk tengadah; dia menurut, wajah remajanya terlihat bingung. “Rasanya tidak enak ya?” adalah kalimat pertama yang Satoru ucapkan, dan raut bingungnya segera berubah sedih.

“Tidak,” kata Suguru penuh empati. Dia akan mengajari anak ini bagaimana cara bercinta dengan baik — bahkan hebat — tapi dia tidak akan mengecilkan hatinya dengan mengatakan bahwa kemampuannya benar-benar buruk. “Tidak, bukan begitu. Hanya saja … ingat ketika aku bilang kalau kau perlu santai dan tidak usah terburu-buru? Sekarang pun sama saja. Lidahmu itu bukan penis mini yang gunanya untuk melakukan penetrasi. Kau harus menjilatku terlebih dulu, dan kau harus melakukannya dengan benar.”

Satoru berlutut di atas ranjang, ia mengusap mulutnya yang sedikit basah karena ludah dan sperma dengan punggung tangan. “Oke,” katanya. “Beri tahu aku apa yang seharusnya kulakukan,”

“Apa?”

“Ajari aku,” katanya tulus.

Semua ini agak bodoh dan memalukan, tapi raut wajah Satoru benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa yang mestinya dilakukan. Suguru ingin bercinta dan bukannya menjadi guru edukasi seks, tapi ia lihat bahwa anak ini memiliki potensi, jadi kenapa tidak?

“Oke - lihat, seperti ini,” Suguru tengkurap, kemudian mengangkat tubuh dengan menumpukannya pada tangan dan lutut, bokong terangkat di udara. Dia bisa mendengar Satoru menarik napas tajam, membuatnya menyunggingkan senyum; senang rasanya melihat anak yang besar kepala beberapa waktu lalu berubah gelagapan seperti ini.

“Oke, kau harus memulainya dengan pelan,” instruksi Suguru. Dia merasakan Satoru menggenggam kedua pipi pantatnya, dengan pelan dan lembut membukanya. “Jangan langsung memasukkan lidahmu di sana. Kau hanya perlu … bermain-main sedikit di sana, mengerti ‘kan? Beri aku jilatan lembut, hal-hal seperti itu.”

“Aku mengerti,” kata Satoru, suaranya sedikit serak. Hal berikutnya yang dirasakan Suguru adalah napas hangat Satoru di sekitar lubangnya, kemudian sentuhan lembut dan tentatif lidah Satoru di cincin analnya, menyapu lubang itu dengan gerakan malas yang lambat.

“Ya, seperti itu,” kata Suguru. “Teruskan … ya, bagus.”

Satoru cepat belajar. Suguru menyadari hal itu ketika Satoru mulai menggerakkan lidahnya di sekitar lubangnya dalam jilatan perlahan tanpa diminta, persis seperti yang disukai Suguru, jadi dia membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi hangat dan basah di lubang sensitifnya. Satoru menekan bagian lidahnya ke lubang anal Suguru, memberinya jilatan panjang dan basah, dan lengan Suguru tertekuk hingga tubuhnya rata dengan tempat tidur, pantatnya menempel di mulut Satoru yang lapar dan mencari-cari.

“Oh … barusan rasanya enak sekali,” Suguru mengembuskan napas lega, matanya terpejam.

“Seperti ini?” Satoru bertanya, suaranya teredam, dan ia melakukannya lagi; menjilat dari lubang anal hingga ke buah zakar Suguru yang bengkak dan berat, dan kembali turun, menyeret lidahnya ke celah pantat Suguru dengan cara yang paling lambat dan paling menyiksa. Hal itu membuat Suguru melengkungkan tubuhnya dan mendorongkan bokongnya ke wajah Satoru, sekonyong-konyong merasa putus asa dan menginginkan lebih. 

“Ya, nggh … “ Suguru mengerang lagi. “Bagus … oh, rasanya nikmat … kau melakukannya dengan baik.”

Satoru tersenyum kendati wajahnya masih terbenam di bokong Suguru, ia menjentikkan ujung lidahnya ke tepi lubang anal Suguru dengan gerakan halus dan mengirimkan getar ke seluruh tubuh yang lebih tua. Kali ini, tatkala lidah Satoru dengan lembut menjilat bagian dalamnya, Suguru mengulurkan tangan ke belakang, memegang salah satu tangan Satoru, dan menautkan jari-jari mereka sembari mengajarkan pemuda itu cara untuk melebarkan pipi pantatnya dengan benar agar wajahnya bisa masuk lebih dalam lagi.

“Masukkan jarimu juga,” kata Suguru. “Aku punya lubrikan di laci sebelah sana.”

Satoru memberi sapuan lidah terakhir di lubangnya, lalu Suguru merasakan kasurnya bergerak saat ia mencondongkan tubuh di atas tubuh Suguru sembari mencari-cari lubrikan di laci samping tempat tidur. “Itu tadi … luar biasa. Kau sangat-sangat seksi.” Puji Satoru lagi, suaranya benar-benar serak.

Suguru ingat perkataan Satoru soal tidak pernah melakukan rimming sebelumnya. “Kau menyukainya?” tanyanya, suara ctak terdengar begitu Satoru membuka dan menutup kembali botol lubrikan di tangannya.

“Aku rela melakukannya sepanjang malam jika saja aku tidak … uh, kebelet untuk memasukkan penisku di sana,” tutur Satoru. “Segala hal tentangmu - suaramu, rasa mu - enthalah. Aku tidak pernah tidur dengan seseorang semenggairahkan dirimu.”

Bahkan dengan keadaannya sekarang - tertelungkup, pantat ke atas, menunggu anak ini memasukkan jari dan lidahnya kembali ke dalam dirinya - Suguru merasakan pipinya memanas. "Kau pernah meniduri banyak pria sebelumnya, Satoru- kun ?" katanya, bermaksud sinis, tapi yang keluar alih-alih terdengar penuh kasih sayang dan sedikit terengah-engah.

"Ya, tentu saja," kata Satoru, sedikit tersinggung. Sesaat kemudian, dia berkata, "Baik, tiga pria. Aku pernah meniduri tiga pria sebelumnya. Dan tak satu pun dari mereka yang sepertimu."

Suguru mengejang ketika dia merasakan tekanan jari Satoru yang licin ke lubangnya. "Seperti aku? Maksudmu, tua? Dibandingkan denganmu, tentu saja." Suguru menyamankan posisinya dan kemudian - ya Tuhan, ujung jari Satoru menyelinap masuk ke dalam dirinya, begitu lembut dan mudah.

“Yah, mereka semua kukenal dari kampus, jadi tentu saja mereka seusiaku, tapi kau luar biasa seksi - oh, gila, lihat dirimu, lubangmu sepertinya berkedut.”

Oke, ini memalukan. Dia terlihat benar-benar menginginkan Satoru. Tapi dia harus menjaga kewarasannya dengan segera. “Menunggumu untuk melakukan langkah selanjutnya,” kata Suguru sambil menggigit bibir, dan beberapa detik setelahnya, dia merasakan jari Satoru mendorong masuk sepenuhnya; tebal dan panjang tetapi masuk dengan begitu mudah karena lubrikan.

“Kau begitu ketat,” kata Satoru, terdengar takjub. “Sial, aku harus -”

Suguru terengah-engah saat sapuan lidah menyentuh cincin analnya yang licin, di sekitar jari-jari Satoru, sebelum turun ke perineumnya. Dia menjaga lidahnya tetap di sana sementara jari-jarinya memijat lembut di bagian dalam.

“Oh, sial,” kata Suguru, tubuhnya kian lengkung. “Enak — tadi itu, enak sekali …”

Satoru kembali menjilat cincin anal Suguru kemudian ia membuka dua jari hingga membentuk huruf V, meregangkan lubang itu dan menyelipkan lidah di antaranya. Stimulasi yang diberikan Satoru benar-benar membuat Suguru melempar akal sehatnya jauh-jauh ke luar jendela. Suguru gemetar, kakinya terbuka lebar dengan wajah terkubur di antara lipatan seprai, dan dia hampir menyuruh Satoru untuk mendorong lebih dalam ketika Satoru, dengan bibir yang masih saling gesek dengan cincin analnya, berkata, “Hei, ingat ketika aku bilang kalau aku selalu tahu pasti di mana letak prostat?”

Tubuh Suguru bergetar penuh antisipasi. “Aku — ya? A-aku ingat.”

“Hmm,” gumam Satoru, ia kemudian memutar jarinya sedikit, menekuknya ke bawah dan hal berikutnya yang Suguru rasakan adalah gelombang kenikmatan yang begitu hebat melanda dirinya hingga pandangannya memutih dalam sepersekian sekon.

“Brengsek,” Suguru terkesiap, lututnya terasa lemas, tulang punggungnya terasa seperti agar-agar. "Kau tidak bercanda - oh, sial, Satoru -"

Jika setan alas memiliki kepribadian, Suguru yakin bahwa Satoru mewarisi beberapa di antaranya. Dengan kejam (lagi-lagi dalam arti yang baik) dia membelai prostat Suguru dengan ujung jarinya, membuat sekujur tubuhnya bergetar, kemudian beberapa detik berikutnya ia mulai menekan bagian itu dengan lebih kuat, menggosoknya dengan presisi dan hal itu belum pernah Suguru alami di pengalaman-pengalaman seks sebelumnya. Selagi membuat Suguru merasa payah karena serangan-serangan di prostat, ia kembali memakan Suguru; menyelipkan lidah di sela-sela jarinya yang tengah mengacau.

"Ya Tuhan," kata Suguru, terengah-engah. Dia tahu dia sedang menggerakkan pinggulnya ke belakang, bercinta dengan jari-jari dan lidah Satoru yang tebal, mengayun-ayun ke dalam mulut Satoru di setiap jilatan, di setiap dorongan jari-jari menjengkelkan itu ke dalam dirinya dan prostatnya. "Oke - sial, aku ingin kita bercinta sekarang.”

Satoru menarik diri saat itu, jari-jarinya terlepas dari Suguru. Suguru langsung merindukannya, tapi seolah-olah dia bisa membaca pikirannya, Satoru kembali memasukkan jarinya, menarik, lalu membiarkan ujungnya di tepian lubang Suguru, ujung jarinya membuat Suguru tetap terbuka dan meregang. "Um, jadi," kata Satoru, dan anehnya dia terdengar malu, "Aku tidak tahu apakah aku bisa."

“Apa yang —” kata Suguru, menoleh untuk melihat Satoru dari balik bahunya. Wajah Satoru memerah, mulutnya mengkilat dan basah karena ludah dan lubrikan, dan meskipun demikian dia masih terlihat tampan sekali. "Jangan bilang kau sebenarnya sudah orgasme duluan.”

“Tidak!” sergah Satoru, keningnya berkerut. “Tidak, belum. Tapi - boleh aku jujur? Aku lumayan terangsang hebat saat ini dan jika aku langsung masuk sekarang, aku bisa saja langsung keluar.

“Sungguh?” Suguru bertanya dengan tidak percaya. Tentu saja, Satoru masih muda, tapi Suguru tidak menyangka ini sama sekali. Perkataan Satoru membuatnya jengkel dan tersanjung di saat yang bersamaan.

"Sudah kubilang, kau seksi dan menggoda sekali," kata Satoru.

“Baiklah, begini saja,” kata Suguru. Ia berguling telentang lagi kemudian duduk; Satoru berlutut di depannya, pahanya yang tebal saling tindih. Suguru meraih bahunya dan membimbingnya untuk berbaring di tempat tidur, dan jika boleh jujur, dengan badan dan penis seperti itu, Satoru terlihat terlalu bagus untuk berada di atas ranjangnya yang sederhana. Suguru perlu mengingatkan diri bahwa yang tengah berbaring di sana bukan sekadar remaja tampan yang ditemuinya di bar melainkan putra tunggal keluarga Gojo, jelas tubuhnya akan sesempurna itu dengan segala kemewahan yang ia miliki. 

Penis Satoru memang sudah terlihat di ujung tanduk; ujung penisnya merah muda tua, berkilau karena sperma yang mulai bocor, dan terasa panas saat Suguru melingkarkan tangan di sekelilingnya. Penis itu benar-benar tebal sehingga jari-jari Suguru kesulitan untuk melingkarinya. Satoru tersentak oleh sentuhan-sentuhan itu, lalu mengepalkan tangannya.

Mulut Suguru mulai berair. Konyol sekali karena ia dibuat seperti ini oleh Satoru.

“Aku akan memberimu seks oral,” ia memberitahu Satoru, dan penis Satoru serta merta berkedut di genggamannya. “Kita akan membuatmu keluar sekali, lalu lanjut, oke?”

“Oke,” kata Satoru parau. Matanya yang gelap dan intens terfokus pada Suguru tatkala Suguru memosisikan dirinya di antara paha Satoru, membiarkan rambut panjangnya tergerai, dan menundukkan kepala untuk menyedot kepala penis Satoru dengan lembut ke dalam mulutnya. " Fuck,” umpatan pertamanya dalam bahasa inggris, Suguru tersenyum kecil.

Suguru mengocok batang penis Satoru yang tidak muat ke dalam mulutnya, sedikit berharap mereka memiliki waktu lebih lama untuk menikmati semua ini; sensasi penis Satoru yang tebal dan berat di lidahnya, aromanya yang begitu maskulin, rasa pahit dan asin dari sperma yang meleleh di mulutnya. Akan tetapi, Satoru sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi, Suguru bisa tahu itu. 

“Oh, Tuhan,” kata Satoru, “kau terlihat sangat cantik, sial -”

Suguru mengulum kepala penis Satoru seakan-akan benda itu adalah es loli terlezat di dunia — sebenarnya, Suguru memang berpikir demikian untuk sekarang ini — selagi tetap menjaga kontak mata dengan pemuda itu. Wajah Satoru memerah seperti angsa yang baru dibului, mulutnya ternganga, dan dadanya naik turun. Dia mengulurkan tangan untuk menekan ibu jarinya ke lidah Suguru, kemudian menggosok sudut bibirnya ketika Suguru kembali melahap penisnya lagi.

“Sial,” umpat Satoru entah untuk yang keberapa kalinya hari ini, kakinya gemetar di antara kepala Suguru, pinggulnya bergerak membuat gerakan piston ke tangan dan mulut Suguru. Suguru membiarkannya, ia tetap mencoba tenang, menelan setiap inci penis itu setiap kali Satoru mendorong penisnya masuk. Matanya berair tapi ia amat sangat terangsang, penisnya sendiri sudah tegang dan basah. “Terus - sebentar lagi aku -”

Suguru bergerak lebih cepat, ia mengocok penis Satoru dengan genggaman yang lebih erat dari sebelumnya, dan  dalam tempo teratur sembari terus mengisap keras kepala penis itu hingga pipinya cekung. Satoru mengeluarkan suara seperti tercekik, dan Suguru merasakan penisnya kian membengkak, kian keras di mulutnya, dan tak lama Satoru orgasme sambil menggeram rendah. Jari-jarinya meraih helaian rambut panjang Satoru, menggulungnya, mencengkeramnya erat, menahan Suguru di atas penisnya. Selagi menelan tiap semburan dari penis Satoru, Suguru merasakan penisnya terasa sakit dan lubangnya berkedut, terasa kosong dan terbuka.

Dia biasanya tidak akan melakukan ini dengan teman kencan satu malam, tapi sial, dia menyukai ini, bagaimana rasa seorang pria orgasme di mulut dan mengaliri tenggorokannya juga rasa asin dari mani yang kental. Dia mencoba untuk menelan semuanya, tapi tidak berhasil karena Satoru orgasme banyak sekali; spermanya mengotori kepalan tangan Suguru dan juga perutnya sendiri. Suguru merasakan desir kebahagiaan yang janggal saat menyaksikan setiap otot di tubuh Satoru tegang karena orgasmenya.

“Ya Tuhan,” Satoru menarik napas panjang, mata birunya mengerjap dan menatap Suguru—yang terlihat mabuk karena sperma. Suguru tidak bisa menahannya; dia merangkak dan mengangkangi tubuh Satoru, memberinya kecupan kecil di bibir sebelum mengambil tisu dari atas laci dan membersihkan tangannya. “Kau benar-benar luar biasa.” Satoru mencengkeram pinggangnya, menurunkan tubuhnya hingga mereka sejajar dan memberinya ciuman. Suguru menekankan penisnya di paha Satoru, menggosokkannya di sana.

“Kau butuh waktu berapa lama untuk tegang lagi?” tanyanya di sela ciuman, ia menggigit kecil bibir bawah Satoru sekilas.

Satoru tertawa. “Hm … lima menit?”

“Omong kosong,” kata Suguru, ia tersenyum miring. “Kau itu sembilan belas tahun, bukan enam belas.”

“Akan kubuktikan,” janji Satoru. Ia mencengkeram bokong Suguru dan menggoyangkannya sedikit sebelum memasukkan jari-jarinya ke dalam celah yang masih licin karena lubrikan, membiarkan telunjuk dan jari tengahnya mengait di tepian lubangnya. Suguru menghela napas tertahan, menggeliat sedikit ke belakang agar jari Satoru lebih banyak masuk ke dalam dirinya.

“Nikmat sekali,” katanya, ia menyesap leher Satoru tepat di jakunnya. “Ya, sangat enak.”

Rasanya nyaman seperti ini; berbaring di atas tubuh Satoru, berciuman dengan lambat, sedangkan Satoru membuka dirinya hingga ia siap untuk menerima penis itu dalam tubuhnya. Akan tetapi, tak berselang lama Satoru berkata, “Hei, aku ingin memakanmu lagi. Boleh?”

“Apa? Oh, ya, tentu.” kata Suguru, mengangkat tubuh dengan kedua tangannya untuk menatap Satoru di bawahnya, memerhatikan bibirnya yang memerah dan basah. “Mana mungkin aku menolak?”

Satoru menyeringai padanya, jemarinya dengan hati-hati merentangkan Suguru lebih jauh. Ujung jarinya menyentuh prostat Suguru lagi dan lengan Suguru gemetar, hampir terlipat. "Kau benar-benar menyukai rimming ya," katanya, sambil menarik jari-jarinya keluar dan membelai pinggirannya yang bengkak dan sensitif.

"Terima kasih karena sudah menyadarinya," kata Suguru, terengah-engah. "Sebentar, kita harus ubah posisi.”

Dia merasa kikuk saat merangkak di atas tubuh Satoru; Suguru agak limbung, tapi Satoru menahannya dengan tangan di pinggul dan tidak melakukan apa pun kecuali menatap ke arahnya saat Suguru berlutut sampai dia berada di atas wajah Satoru. Ia mengangkat bokongnya beberapa inci dari wajah tampan itu, enggan membuatnya kesulitan bernapas. Hal itu membuatnya dirongrong rasa malu tapi lecutan rasa tertarik yang dorman di dalam dirinya pun tidak bisa terelakan. Ia meraih kedua testikelnya lagi, mengangkatnya, sementara penisnya tegang dan keras. Suguru mengocoknya pelan, sekadar untuk melemaskan tensi yang mulai naik sedangkan Satoru hanya menatapnya, lagi-lagi dengan tatapan memuja dan terpesona.

“Kau oke dengan posisi seperti ini?” tanyanya, menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.

“Sangat oke,” ujar Satoru, suaranya hampir terdengar seperti desisan. “Ini - ya Tuhan, hal paling menggairahkan yang pernah kulihat. Sumpah.”

Suguru menggigit bibirnya ketika Satoru membuka pipi pantatnya, ibu jari pemuda itu berada di kedua sisi lubangnya. Dia bisa merasakan tatapan Satoru, dan itu membuatnya terbakar rasa panas pun malu yang luar biasa. Dia hampir tidak percaya dia melakukan ini, menduduki wajah anak remaja, membiarkan Satoru membenamkan wajah ke dalam dirinya seperti ini dan - sial, Satoru tidak menunggu atau membuang waktu, dia menjilat Suguru dengan mantap dan basah, dan Suguru merasa seakan meleleh di mulut Satoru.

“Kau cepat belajar,” dia terkesiap saat Satoru menyelipkan jemarinya kembali ke dalam, menekannya tepat ke titik sensitif di dalam dirinya sementara lidahnya bergerak menggoda ke atas dan ke bawah di antara lubang dan perineumnya. Semua ini sempurna, tidak ada lagi Satoru yang terburu-buru seperti kelinci berlari di atas aspal dengan kaki telanjang, yang ada hanyalah Satoru yang mengambil waktu sebanyak yang ia punya; memberikan sapuan lidah lembut dan juga tekanan pelan di prostat Suguru.

“Sudah kubilang, ‘kan,” kata Satoru, menekankan kalimatnya dengan isapan panjang di atas kulit lembut perineum Suguru. “Aku selalu bisa menemukannya,”

Suguru tergelak. Pinggulnya bergerak perlahan ke bawah, menggesekkan dirinya ke mulut dan jari Satoru nyaris secara naluriah. “Aku mempercayaimu.”

Waktu berlalu tanpa ia sadari, Suguru menghabiskan menit-menitnya dengan menduduki—lebih tepatnya, mengendarai—wajah Satoru dengan tangan memegang sandaran tempat tidur untuk menjaga keseimbangan, menyerah pada gelombang kenikmatan yang datang bergulung-gulung. Satoru menyelipkan jari ke-tiga ke dalam diri Suguru dan menekan prostatnya dengan itu, membuat tubuh Suguru serta merta hampir menggulung dan ia terisak cukup nyaring, tubuh lencirnya bergetar karena merasa begitu penuh; begitu menikmati perlakuan Satoru meskipun ini adalah kali pertama remaja itu melakukannya. Ketika dia melirik ke tubuh bagian bawahnya, dia bisa melihat wajah Satoru berada di antara pahanya, hidungnya saling gesek dengan tangan Suguru yang menahan testikelnya, mata birunya menatap Suguru tajam. Lagi-lagi ia merasa begitu terangsang hanya karena pemandangan semacam ini; melihat Satoru berada di antara otot pahanya yang menegang dan memerhatikan bagaimana cara pemuda itu menatapnya dengan memuja. Lalu seolah pikiran mereka terhubung, Satoru kembali menjilatnya dan melebarkan lubang dengan jari-jarinya lalu membenamkan wajahnya di sana tanpa banyak berucap.

Penis Suguru sudah keras dan memerah, lelehan sperma memenuhi kepala penis dan kulupnya selagi Satoru terus memijat prostatnya; ada satu tetes mani yang jatuh di kening Satoru, dan pemandangan itu membuat Suguru menggila. Sial. Mungkin dia memang terlalu tua untuk ini. Dia mulai mengocok penisnya, mengoleskan seluruh mani dari kepala penis hingga ke pangkalnya, memberinya beberapa tarikan kecil, merasakan bagaimana bola kembarnya menegang karena sentuhan itu.

Satoru menatapnya, mata melengkung karena senyum; dan dia memberikan jilatan panas, lambat di lubang Suguru, naik ke buah zakarnya, ke buku-buku jari yang menggenggam penis, dan lubang kecil di kepala penis Suguru yang tersodor di hadapan wajahnya. Satoru memberinya satu isapan singkat dan Suguru mengerang keras, lubangnya mengetat di antara jemari Satoru.

“Kau harus sudah siap untuk melakukannya sekarang, karena aku sudah sangat menginginkannya,” Suguru mendesah, menggenggam penisnya lebih erat. Satoru benar-benar bisa membunuhnya.

Satoru membiarkan penis Suguru terselip keluar dari mulutnya; seutas benang lengket menghubungkan bibir bawahnya ke kepala penis Suguru, memanjang keperakan di bawah cahaya kamar tidurnya. Dia menjilat sisa mani dari bibirnya, dan butiran sperma lainnya muncul di ujung penis Suguru saat ia melihat aksi Satoru tersebut.

“Aku sudah siap sejak lima belas menit yang lalu,” kata Satoru sambil nyengir.

Suguru menoleh dari balik bahunya untuk melihat ke bawah tubuh Satoru dan benar saja, kemaluannya sudah penuh dan menggemuk lagi, urat-urat di bawah batangnya menonjol. Suguru memutar pinggulnya pada jari-jari Satoru, yang masih berada jauh di dalam dirinya, dan membayangkan bagaimana rasa penis besar itu di dalam tubuhnya. Satoru sepertinya akan mampu meregangkan lubangnya lebih lebar dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

"Bagus," katanya terengah-engah, sambil mengangkat tungkainya; "Pakai kondom dan ayo kita lakukan."

"Kau benar-benar sangat menginginkannya, ya," gumam Satoru sambil menatapnya. Tapi dia tidak terdengar sinis atau mengejek sama sekali; sebaliknya, dia terdengar sedikit kagum, bahkan mungkin tersanjung, karena seseorang seperti Suguru sangat menginginkannya. Dia duduk dan mencium mulut Suguru dengan ciuman yang manis dan lembut, mengecap rasa lubrikan, sperma, dan seks, dan itu membuat Suguru sedikit bingung. Bagaimana Satoru menciumnya dengan sangat lembut padahal mereka - yah, melakukan berbagai macam hal kotor barusan.

Suguru merangkak turun dengan wajah menghadap Satoru agar mereka bisa terus berciuman, lalu dengan mudahnya Satoru mengangkat tubuhnya dan membaringkannya hingga telentang di atas ranjang. Jantung Suguru kebat-kebit tak keruan karena Satoru memiliki tenaga lebih kuat darinya kendati ukuran tubuh mereka tak berbeda jauh, tapi mungkin, karena Satoru masih muda sementara ia sudah melewati angka seperempat abad. Pemuda berambut putih itu kemudian duduk di antara pahanya yang terbuka lebar, penisnya yang telanjang meluncur ke celah pantat Suguru yang basah dan licin, menggesek lubangnya pelan. Suguru bisa merasakannya dan ia ingin sekali meminta Satoru untuk langsung memasukinya tanpa kondom tapi ia lekas membuang pikiran itu jauh-jauh karena ia tidak mau mengajarkan seks tidak aman pada Satoru.

Satoru menarik dirinya dan meraba-raba seprai, tempat dia melemparkan lubrikan dan kondom dari laci Suguru sebelumnya. “Apa kau menginginkannya seperti ini? Bareback ?” dia bertanya, sambil membelai pantat Suguru yang sekal, lalu tanpa peringatan, ia mendaratkan tamparan di sana; tamparannya ringan, tidak terlalu perih, tapi bisa menggetarkan seluruh syaraf di tubuh Suguru. Ia bisa merasakan pantatnya menegang penuh ketertarikan di sekitar penis Satoru, pas di celahnya. 

“Astaga,” erang Suguru, penisnya berkedut. Ia bangkit, menumpu tubuhnya dengan tangan dan lutut, mengangkat bokongnya agar pas dengan genggaman Satoru. 

Ada suara gemeresak kecil di belakangnya saat Satoru merobek bungkusan kondom; Suguru menunggu dengan kepala tertunduk, gemetar karena antisipasti. Lubangnya terasa kosong dan terbuka setelah semua permainan jari dan jilatan Satoru, namun tubuhnya terasa tegang, menunggu Satoru untuk memasukinya.

Satoru menempatkan kepala penisnya di depan lubang Suguru; bagian itu sudah melembut dan cukup terbuka hingga ujung penisnya bisa masuk dengan mudah, licin karena lubrikan. “Kau siap?” tanya Satoru lembut. Ia mencengkeram pinggang Suguru, mengangkatnya sedikit, dan mendorong penisnya maju perlahan.

“Masuki aku sekarang,” kata Suguru, setengah memohon. “Aku sudah menunggu lama-”

Satoru langsung mendorong tubuhnya masuk bahkan sebelum Suguru menyelesaikan kalimatnya. Suguru menarik napas dalam-dalam dengan gemetar, sambil meremat seprai menjadikannya bola di genggaman. Penis Satoru besar, tebal, dan panjang, tak henti-henti membuka tubuhnya sedikit demi sedikit sementara ia semakin gemetar dan terisak, cengkeraman Satoru di pinggangnya membuat Suguru tidak bisa bergerak ke mana-mana. Bukan berarti ia ingin bergerak menjauh juga, tapi adakalanya semua ini terasa begitu penuh, begitu berlebihan, hingga Suguru bertanya-tanya apakah ia sanggup? Satoru berhasil memasukkan seluruh penisnya hingga pangkal di dorongan pertamanya yang luar biasa itu, meregangkan Suguru lebar-lebar hingga Suguru tidak bisa merasakan apa pun kecuali cara penis Satoru mendorong dengan sangat dalam.

“Oh … Tuhan,” Suguru mendesis, matanya mengerjap, berusaha menghilangkan gemerlap bintang yang mendadak muncul dalam pandangannya. “Astaga, kau … besar.”

Satoru memendar tawa di belakangnya dan mencondongkan tubuh untuk mengecup tengkuk Suguru; gerakan itu membuat penisnya masuk lebih dalam, dan Suguru terkesiap, ia merentangkan kakinya lebih lebar hingga paha belakangnya tegang.

“Kau tidak apa-apa, ‘kan?” tanyanya, mengalihkan tangan dari pinggang Suguru ke bokongnya, lalu meremasnya perlahan. Satoru melebarkan bokongnya lagi, Suguru bisa merasakan bagaimana pemuda itu tengah menatap tempat di mana penisnya tenggelam jauh ke dalam Suguru, cincin analnya terasa agak perih karena meregang terlalu lebar. Dia kembali menampar pantat Suguru dengan ringan, membuatnya terlonjak dan melengkungkan tubuh.

“Dasar brengsek,” kata Suguru, nada bicaranya santai tanpa ada rona amarah. Ia mengetatkan lubangnya, merasa puas saat Satoru mengerang di belakangnya.

“Kau memesona,” kata Satoru, mengulang kalimat itu lagi dan lagi seperti rekaman kaset butut; Suguru merasakan jari panjangnya menyentuh pinggiran anal Suguru yang licin. “Aku jadi ingin mengacaukanmu.”

“Kalau begitu lakukan,” dengus Suguru — ya Tuhan, kapan Satoru akan mulai bergerak -

Satoru mengencangkan cengkeramannya pada Suguru, merentangkannya lebar-lebar saat dia menarik diri hampir seluruhnya lalu mendorongnya dengan cepat dan keras dalam satu sentakan, mengempaskan napas Suguru keluar dari paru-parunya dan hampir membuatnya terhuyung.

Satoru bersanggama dengan pola yang cukup brutal; ia mendorong tubuhnya keluar-masuk dengan tempo yang sangat cepat hingga Suguru tidak bisa mengimbanginya, dia ambruk dengan perut menempel di kasur, jari-jarinya mencengkeram seprai, merintih pelan karena dia tidak memiliki napas yang cukup untuk mengerang keras. Penis besar Satoru melaju tanpa henti di atas prostatnya setiap kali Satoru mendorong masuk, dan pantat Suguru membentur paha Satoru, suaranya terdengar keras di dalam ruangan itu. Kepala Suguru terasa berputar, kenikmatan yang datang tanpa henti membuat pikirannya kosong. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa mulutnya kini terbuka lebar dan dia meneteskan air liur ke seprai.

“Nghh … sial,” dia terkesiap, berusaha mengambil udara untuk paru-parunya yang kembang kempis, berjuang sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh dengan tangannya tapi Satoru terus mendorong, menghujam prostatnya dengan cara paling menyiksa, dan sikunya ambruk lagi. “Oh … enak … enak sekali … hngg -”

Suaranya berubah menjadi rengekan kecil yang memalukan dan bernada tinggi, meneriakkan “enak” berulang-ulang seolah-olah dia ada di film porno, sama sekali tidak berdaya untuk melakukan apa pun kecuali menerimanya. Rasanya nikmat, sangat nikmat, tapi juga sangat berlebihan hingga ia tidak bisa menampung semuanya; bokong dan bagian belakang pahanya mulai terasa pegal. Dengan susah payah ia mengangkat tubuh dengan kedua tangannya, cukup untuk melihat ke bawah tubuhnya sendiri, melihat bagaimana putingnya mengencang dan juga penisnya yang ereksi hebat; berwarna merah tua dan lebih keras dari yang pernah dilihat Suguru, tergantung di antara pahanya, mengeluarkan tetesan jernih yang terus menerus menggenang di tempat tidurnya.

Sesaat kemudian, Satoru mencabut seluruh penisnya dengan tiba-tiba dan Suguru bisa merasa lubangnya menganga, lapar untuk diisi, tapi Satoru mengambil botol lubrikan itu lagi dan mengoleskannya lagi. Suguru hendak meminta Satoru agar kembali ke dalam dirinya dan bergerak keluar-masuk lebih lambat tatkala Satoru kembali meraih penisnya, menampar lubang Suguru yang terbuka dan bergetar.

"Astaga," kata Suguru, rasa terkejut dan kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia mengangkat pantatnya tak berdaya, mencoba mengejar penis Satoru, agar masuk kembali ke dalam dirinya. "Satoru - apa yang -"

Dia pikir dia harus merasa sedikit malu pada dirinya sendiri, sebab ia begitu menyukai ini. Seluruh tubuhnya terasa panas, bulu-bulu di sekujur tubuhnya terasa merinding, dan tiba-tiba ia merasa sangat-sangat menginginkan Satoru nyaris tiga kali lipat dari sebelumnya.

Satoru melakukannya lagi, menampar lubang Suguru dengan penisnya yang tebal dan menggosokannya di sekitar perineum. Penisnya licin karena lubrikan dan suara tamparan basah di kulit Suguru benar-benar terdengar kotor.

“Satoru- kun, ” kata Suguru, terdengar agak kesal dan merajuk di saat bersamaan.

“Kau tidak bisa bilang kalau kau tidak menyukainya,” kata Satoru. “Lihat, kau sampai … gemetar seperti ini.”

“Biar kutebak,” kata Suguru. “Kau pernah melihat adegan ini di film porno dan sekarang kau menggunakanku sebagai objek fantasi kotormu itu, benar ‘kan?”

Satoru tertawa kecil. “Entahlah. Bisa iya, bisa tidak,” katanya. Dasar anak remaja congkak. Ia menampar Suguru lagi dengan penisnya, lebih keras dari sebelumnya, mengirimkan gelenyar di tubuh Suguru; tapi pada akhirnya, akhirnya, ia kembali memasukkan penisnya ke dalam Suguru dan Suguru mengerang keras, jemarinya kembali meremas seprai, ia sangat suka dimasuki hingga penuh seperti ini.

“Kali ini, tolong pelan-pelan,” katanya, dan Satoru berhenti.

“Maaf,” katanya, suaranya mendadak lembut. Dia mengelus pinggang Suguru dengan tangannya. “Apa tadi aku - apa tadi itu buruk? Apa aku terlalu kasar?”

“Tidak, aku menyukainya kok, hanya saja … aku lebih suka melakukannya dengan tempo pelan di awal, setelah itu kau bisa mulai mempercepat gerakanmu. Lalu mungkin … menggerakkan pinggangmu juga? Lebih menekan dan menggoyangkannya. Kau bisa melakukannya?”

“Aku bisa melakukannya,” kata Satoru, terdengar bersemangat.

Ia menenggelamkan penisnya dalam tubuh Suguru, pelan-pelan, sekan ia berusaha menariknya keluar, tapi Suguru bisa merasakan jari-jarinya yang kini lembut menggenggam pingulnya. Satoru berusaha keras menahan diri, berusaha menjadi partner terbaik bagi Suguru. Ia menggoyangkan pinggulnya seperti yang diperintahkan Suguru dalam gerakan pelan, mengeluar-masukkan penisnya dengan dangkal, tapi di setiap tarikan, penisnya tetap mengenai prostat Suguru dengan begitu presisi hingga membuatnya gemetar.

“Enak sekali … bagus, Satoru- kun, ” katanya memuji, ia pikir ia perlu memberikan sedikit apresiasi pada Satoru dan terus membimbingnya melakukan seks yang hebat. “Sempurna … ya Tuhan ... Ohh … Satoru, penismu rasanya enak …”

“Seperti ini, apakah enak?” tanya Satoru. Deru napasnya begitu keras terdengar, jemarinya kini mencengkeram dengan sangat kuat hingga Suguru yakin bahwa ia akan terbangun dengan beberapa memar kecil di pinggangnya. Tapi ia tidak keberatan.

“Mm, ya,” kata Suguru terengah-engah. “Kau melakukannya dengan benar, aku bisa merasakanmu di dalamku - ya, seperti itu, di sana,” Dia berbalik untuk melihat Satoru dan menemukan wajah pemuda itu memerah; warna merah itu benar-benar merambat dari cuping telinga, leher, hingga dadanya. Satoru menatapnya seolah dia terpukau, seolah dia tidak percaya kalau dia bisa mendapatkan semua pengalaman ini, dan pemujaan yang terang-terangan dan lugas itu menghantam isi kepala Suguru. “Bisa kah kau … menundukkan kepalamu, cium aku.”

Satoru bergeser sedikit dan membungkuk, mulutnya bertemu dengan mulut Suguru saat dia menekan Suguru sepenuhnya ke tempat tidur, menggerakkan tangannya ke atas hingga saling taut dengan tangan Suguru. Posisi ini terasa lebih baik, bagaimana Satoru mengungkungnya hingga dia merasa tidak bisa bergerak, tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima semuanya. Satoru terengah-engah saat mereka berciuman, tapi dia masih memutar pinggulnya dengan cara yang sangat sempurna, mendorong penisnya jauh di dalam Suguru, menekan prostat dan mengirim kejutan kecil ke seluruh tubuh Suguru di setiap sentakan. Berat tubuh Satoru membuat penis Suguru bergesek dengan ke kasur setiap kali ia menggoyangkan pinggulnya, dan leher Suguru terasa nyeri karena mencium Satoru, tapi dia tidak peduli dengan semua itu karena kenikmatan yang terus menerus menghujaninya di saat yang bersamaan pula.

“Lebih keras,” perintahnya sambil mengerang di mulut Satoru.

Satoru segera melakukannya, menyentak tubuh Suguru dengan kekuatan baru, namun masih terus menciumnya; Suguru bahkan tidak bisa membayangkan seberapa besar tenaga yang dibutuhkan Satoru untuk melakukan hal seperti ini. Dia bercinta seolah dia ingin mendorong Suguru menembus kasur, dan Suguru samar-samar merasakan tempat tidurnya bergoyang ke dinding setiap kali Satoru menyentak penisnya masuk. Satoru tidak terlihat lelah sama sekali dan Suguru menemukannya atraktif.

“Ya, di situ,” desau napasnya menipis, Suguru memejamkan matanya. Lubangnya mulai terasa sakit dan dia tahu dia tidak akan bisa berjalan lurus esok hari, tapi persetan, ia tidak mau berhenti. “Satoru, ya, jangan berhenti, jangan berhenti - sedikit lagi, lebih keras lagi -”

Satoru mengangkat tubuh dan melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Suguru, tapi sebelum Suguru merasa kecewa karena hal itu, Satoru memindahkan tangannya ke bokong Suguru, membukanya lebih lebar dan mengeluar-masukkan penisnya dengan lebih dalam dan cepat. Suguru mengetatkan lubangnya di antara penis Satoru, testikelnya menegang ketika ia mendekati orgasmenya.

“Suguru- san, kau sangat cantik,” bisik Satoru, suaranya lembut dan kontras dengan detak jantung Suguru yang bertalu-talu. “Aku bisa melakukannya sepanjang hari, bercinta denganmu seperti ini, dengan cara apa pun yang kau sukai, sampai kita berdua mati lemas -”

“Ohh … nggh … astaga,” Suguru merintih, terisak, pandangannya serta merta menggelap, dan tubuhnya bergetar hebat saat ia orgasme tanpa menyentuh penisnya sama sekali. Lubangnya mengetat dan Satoru terus menekan prostatnya dari dalam, membuat Suguru menyemburkan spermanya lagi dan lagi.

Suguru melihat ledakan bintang saat dia orgasme; dia bahkan nyaris tidak bisa bernapas. Penisnya hampir terasa sakit dan ia tidak pernah merasakan yang seperti ini sejak masa remajanya.

“Kau ketat sekali,” Satoru berkata di belakangnya, suaranya seakan tercekik. “Sangat nikmat -”

Dia memberi sentakan terakhir dengan begitu dalam dan keras — penis Suguru dengan lemah memuntahkan sperma ke atas kasur, menjadikannya genangan kecil — dan Suguru bisa merasakan bahwa Satoru pun sebentar lagi akan keluar; penisnya semakin membesar dan berkedut, napasnya berembus dalam tempo stakato begitu ia keluar di dalam tubuh Suguru. Kemudian ia ambruk ke depan, tepat di atas Suguru, menekannya ke tempat di mana genangan sperma tadi, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Suguru begitu terbuai kenikmatan orgasme yang luar biasa sehingga dia tidak memedulikannya sedikit pun.

Mereka tidak bisa bergerak selama beberapa saat, tangan Satoru meraba-raba dan menemukan tangannya, menautkan jemari mereka, dan hanya berbaring di atas tempat tidur dengan penis Satoru yang masih setengah keras di dalam tubuhnya.

Satoru berbicara lebih dulu, saat pernapasan dan detak jantung Suguru sudah mulai normal dan kepalanya berhenti berputar. "Ya Tuhan. Itu tadi - sial. Itu hal terbaik yang pernah terjadi padaku."

Suguru mulai tertawa; tapi gerakan tersentak-sentak itu membuat penis Satoru terlepas dari tubuhnya, dan dia mendesis karena kehampaan yang tiba-tiba, udara sejuk menerpa pinggiran lubangnya yang bengkak dan sakit. "Apa kau baik-baik saja?" Satoru langsung bertanya, dan saat Suguru menoleh untuk melihatnya, dia menatapnya, tampak khawatir. "Apa aku - ya Tuhan, aku terlalu kasar, ya? Maafkan aku -"

“Hei, tidak,” kata Suguru cepat, memotong kalimatnya. “Bukan begitu, tadi itu nikmat sekali. Aku hanya sedikit lecet karena kau besar. Normal terjadi.”

Satoru tampak tak percaya. “Kau harus jujur kalau kemampuanku buruk. Kalau aku melakukan kesalahan. Atau - kalau … aku melukaimu. Tolong beri tahu aku jika aku melukaimu.”

Dia duduk, melepas kondomnya pada saat yang sama, dan Suguru langsung merindukan beban serta panas tubuhnya, jadi dia membalikkan badan, menahan rasa sakit di punggung bawahnya, dan menarik punggung Satoru agar tubuh mereka kembali menempel. Kondom itu mendarat dengan asal — entah di mana — dan Suguru, untuk pertama kalinya juga, tidak memedulikan itu. Ia tidak peduli jika ranjang rapi kesayangannya terkotori cairan sperma teman kencan satu malamnya.

“Aku serius,” gumamnya pelan, “kau tidak melukaiku sama sekali, dan kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku sangat menyukainya. Tadi itu … luar biasa. Sungguh.”

“Sungguh?” tanya Satoru lembut. Kekhawatiran dalam ekspresinya perlahan memudar menjadi rasa sayang yang hangat, dan Suguru mengulurkan tangan untuk menangkup pipi Satoru, menelusuri lengkungan bibir atasnya dengan ibu jarinya. Kulit Satoru licin karena keringat dan terasa panas saat disentuh.

“Sungguh,” balas Suguru tak kalah lembut. “Dan … yang tadi itu, seks terbaik yang pernah kurasakan. Aku tidak bohong.”

Ekspresi wajah Satoru berubah menjadi begitu cerah, sangat cerah hingga hampir menyakitkan untuk melihatnya. "Kau guru yang bagus," kata Satoru, dan memiringkan kepalanya untuk mencium Suguru, dengan lembut dan penuh kehati-hatian. "Terima kasih."

“Sopan sekali,” goda Suguru.

“Yah, aku dibesarkan di keluarga ningrat.”

Kalimat itu membuat Suguru tergelak lagi, kemudian Satoru ikut tertawa, dan mereka berdua terkikik bodoh di mulut satu sama lain, saling mencuri ciuman, anggota badan saling bertaut, dan jujur saja – Suguru tidak pernah merasa seperti ini dengan siapa pun yang pernah dibawanya pulang, tidak pernah merasa takut akan rasa suka dan sayang tengah membanjiri dirinya seperti sekarang ini.

“Bisa kah aku menginap?” tanya Satoru, dengan wajah polos remajanya, seakan-akan dia tidak baru saja bercinta gila-gilaan dengan Suguru beberapa saat yang lalu.

Suguru ragu-ragu; bukan modus operandinya untuk membiarkan teman kencan satu malam menginap usai seks, tapi -

Dia memikirkannya sambil meraba-raba; mencari-cari jam digital kecil di meja samping tempat tidurnya, dan Satoru mengulurkan tangannya yang lebih panjang dan menyambarnya, entah bagaimana berhasil mengetahui dengan tepat apa yang dia inginkan. Suguru melirik jam dan terkejut saat menyadari bahwa sekarang sudah lewat jam 3 pagi.

"Aku rasa bisa,” katanya.

Satoru nyengir, dan kembali menciumnya lagi.


"Bolehkah aku minta nomor teleponmu?" Satoru bertanya keesokan paginya, bersandar pada kusen pintu, saat dia bersiap untuk pergi.

Mereka terbangun dengan tubuh saling taut dan juga kotor; ada sperma di sekujur tubuh Suguru, bahkan di rambut panjangnya padahal ia sudah berusaha mengikatnya berulang kali tiap ada kesempatan. Suguru baru menyalakan pancuran air kamar mandi selama dua puluh detik ketika Satoru sekonyong-konyong muncul dan menawarkan “bantuan untuk bersih-bersih”. Bantuan tersebut pada akhirnya berubah menjadi ronde baru di mana Suguru memberikan seks oral untuk pemuda itu di bawah air yang mengucur, lubangnya masih terasa lecet dan sakit gara-gara semalam, kendati demikian ia masih ingin bersanggama. Jadi, sebelum Satoru sempat orgasme, ia menahan tubuhnya di dinding kamar mandi, menyodorkan bokongnya pada Satoru dan mereka kembali bercinta pagi itu.

Tapi Satoru benar-benar membantu setelahnya, ia melepas seprai lama dan menggantinya dengan yang baru; Suguru perlu menjejalkan seprai kotor itu ke dalam mesin cuci sembari mengerutkan hidung. Kemudian dia berpikir, tidak sopan jika membiarkan Satoru kelaparan di pagi hari usai seks luar biasa yang didapatkannya semalam, jadi dia memesankannya makanan dari layanan pesan antar, dan mereka berdua menikmati sarapan di atas sofa, menonton acara berita pagi yang membosankan — yang tidak terperhatikan karena Satoru terus menerus menciumnya, lagi dan lagi dalam situasi yang acak, bahkan ketika mulut Suguru penuh minyak dari telur dadar.

Hal-hal yang sangat domestik dan menggelikan. Tapi Suguru menyukainya.

“Nomorku? Buat apa?”

Satoru menatapnya dengan lurus, seratus persen percaya diri seperti semalam. “Supaya aku bisa bertemu denganmu lagi, atau … jika kau mau … kau tahu, melakukan semua ini lagi. Bukan hanya soal seksnya, tapi soal sarapan dan nonton acara pagi bersama. Hal-hal seperti itu.”

Aturan utama Suguru ketika dia membawa teman kencan satu malam ke rumah adalah: tidak menjalin kontak lebih lanjut dengan mereka. Jadi, tidak seharusnya dia melakukannya. 

Satoru masih menatapnya penuh harap, membasahi bibirnya yang kering, bengkak, dan pecah-pecah karena semua ciuman yang mereka lakukan.

Hal yang benar adalah mengatakan tidak; ia cukup berterima kasih kepada Satoru atas waktu yang menyenangkan semalam dan menyuruhnya pergi. Satoru baru berusia sembilan belas tahun. Dia masih kuliah. Dia bahkan belum merasakan seperempat abad dari hidupnya. Dua puluh delapan bukanlah usia yang tua, dalam skema besar; tapi tetap terlalu tua untuk orang seperti Satoru.

Satoru masih menunggu jawabannya, matanya terfokus tajam pada Suguru. Suguru merasa sulit untuk berpaling darinya; dan sama sulitnya untuk menatap ke arahnya.

Dia seharusnya mengatakan tidak. Itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Suguru membuka mulutnya.

"Boleh," katanya.

Notes:

hehe, ini tulisan self indulgent karena saya ingin muji Suguru cantik berulang kali