Actions

Work Header

dreamly abyssal

Summary:

A story about you - who suddenly finds yourself stranded in the middle of nowhere - and your friend; a monster.

Notes:

This is just something that I write during my internship and I feel bored lmao, based on the ai bots that I created on c.ai. Fearless, if I say so.

Chapter 1: first encounter

Chapter Text

Entah apa yang merasukimu.

No, you’re not singing right now.

Kamu benar-benar kebingungan, menatap “sosok” yang berdiri tegap di hadapanmu dengan kepala yang penuh akan berbagai pertanyaan.

Apakah kamu masih hidup? Kamu di mana sekarang? Siapakah “sosok” di depanmu ini? Terlebih …

Mengapa ia memiliki rupa layaknya cerita rakyat yang kerap disebarkan mulut ke mulut oleh masyarakat sekitarmu?

Badannya yang terbungkus setelan jas rapi, sarung tangan kulit berwarna hitam, serta sepatu pantofel mengkilat – dengan beberapa bercak lumpur – menghiasi “sosok” tersebut. Ia memang terlihat seperti manusia pada umumnya, namun … tubuhnya yang menjulang hingga hampir 3 meter tentunya bukanlah hal yang manusiawi. Ia bahkan tidak punya mata!

Dengan takut-takut, kamu perlahan menyeret tubuhmu ke belakang, berusaha menghindari “sosok” tersebut. Dan, oh … lihat bagaimana ia membuka mulutnya, menunjukkan deretan giginya yang tajam, serta lidah panjangnya yang menjuntai bak lidah ular. Salivanya yang menjuntai dari lidah dan gigi tersebut … kamu tidak ingin melihatnya lagi saking mengerikannya dan mengocok isi perutmu.

Kamu terus mundur … terus menerus … hingga punggungmu menabrak sesuatu. Sebuah dinding. Kamu terjebak.

Dan “sosok” tersebut terus menerus berjalan mendekatimu … hingga akhirnya ia benar-benar menghapus jarak antara dirinya dengan tubuh bergetarmu. Ia mendekatkan wajah tanpa matanya padamu, dan kamu bisa berasakan bagaimana bulu kudukmu seketika berdiri setelah merasakan hembusan napasnya di wajahmu.

“Si … apa …?”

Hah?

“Nama … Siapa …?”

Oh, dia menanyakan namamu.

“Allyssa,” kamu menjawab dengan cepat.

Oh, tentu saja. Kamu tidak ingin merusak mood “sosok” tersebut. Bisa habis kamu nanti.

“Dreamly.”

Untuk “sosok” yang terlihat mengerikan, nama tersebut sangat berbanding terbalik dengan dirinya. Sangat tidak cocok.

Namun kamu tentunya tidak akan mengatakannya secara langsung. Punya nyali sebesar apa kamu untuk berbicara bahkan tanpa ia minta?

Kamu menggangguk, mengerti. “Dreamly,” beomu, memantik anggukan kecil dari “sosok” tersebut.

Maaf, maksudnya Dreamly.

Oh astaga, rasanya sangat tidak enak di lidahmu.

“Ma … ngan,” ia menyerahkan sekeranjang buah – sepertinya baru saja ia petik, entah dia petik di mana – padamu, “afel.”

Makan. Apel. Oke.

Kamu perlahan mengambil sebuah apel dari keranjang dan mengambil gigitan pertama sembari melirik ke arah Dreamly. Ia terlihat tenang – senang malah, terlihat dari seringaiannya yang amat lebar, kamu mungkin bisa memasukkan seluruh kepalamu di mulutnya – sambil memainkan jari jemarinya. Entah apakah itu kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi mengerikannya.

Dreamly perlahan duduk di sampingmu, membungkukkan badannya agar wajahnya selevel denganmu. Ia memang tidak mempunyai mata, namun kamu sangat yakin ia sedang memperhatikanmu mengunyah apel di genggamanmu, dengan wajahnya yang menghadap ke arahmu seluruhnya.

“En … yak?” ia bertanya, “Eny … ak?”

Apa mungkin maksudnya “enak?”

Kamu dengan cepat mengangguk, “Enak.”

Tidak bisa dipungkiri, apel yang dibawa Dreamly memanglah enak. Kemanisannya pas, krispi, namun tidak terlalu berair. Entah di mana ia menemukan pohon apel dengan buah se-perfect ini.

Dan keheningan pun langsung menyelimuti kalian, ditemani dengan suara krauk kriuk dari kamu dan Dreamly memakan apel.

“Ka … vin, aq … qu,” monster tersebut membuka percakapan kembali, tangan besar nan panjangnya sembari menunjuk ke belakangmu.

Oh, dia punya tempat tinggal. Sebuah hal yang menarik dari seorang monster.

Tidak, hampir seluruh hal mengenai Dreamly sangat unik.

“Kamu … tinggal di sini …?” tanyamu takut-takut. Dijawab dengan anggukan singkat.

“Kese … fian ….” Helaan napas dapat terdengar dari mulut besarnya yang cemberut.

Lucu.

Alright, why the heck did you just think that’s cute?

“Tidak ada teman?” tanyamu, “Hewan, monster, atau … manusia …?”

Dreamly kembali menggeleng.

Kamu mengeluarkan suara “oh” pelan, menatap apel di genggamanmu sambil menunduk. Entah mengapa kamu merasa sedih dan empati dengan keadaannya sekarang. Tidak memiliki teman memang biasa, namun apakah terdapat sebuah entertainment di hutan ini? Tebakanmu hanya ada manusia-manusia yang hilang, hewan liar, dan pepohonan. Tidak ada yang seru.

Wajar sekali monster itu merasa kesepian.

“Te … man …?”

Kamu segera terputus dari mimpi siang bolong – jika saja memang betul siang, entahlah – dan segera menoleh ke arah Dreamly dengan gelagapan. “I-iya …?”

“Mau … teman …?” monster tersebut mengadup kedua telapak tangannya, “mohon ….”

Oh, astaga.

“T-teman …?” beomu sambil kebingungan, “K-kenapa …?”

“Kese … fian … butuh teman ….” Dreamly menunduk, “tinggal … bersama.”

Oh, astaga indeed.

“T-tinggal bersama?!” tanpa sadar kamu memekik, mengundang rasa terkejut dari sang monster. Kamu mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara kembali, “M-maaf … aku tidak bermaksud untuk berteriak. Jadi … maksudmu, kita tinggal bersama dalam kabin milikmu ini?”

Ia dengan cepat mengangguk.

“A-apakah … terdapat syarat …? M-maksudku … apakah aku harus melakukan sesuatu sebagai imbalan atau rasa terima kasihku padamu?”

Ia dengan cepat menggeleng.

“Pertanyaan terakhir,” kamu menelan ludah sebelum melanjutkan kalimatmu, “A-apakah … kamu akan … berbuat sesuatu padaku …?”

Ia terdiam sejenak, sebelum menjawab dengan gelengan kuat-kuat.

Oh, syukurlah.

Setidaknya ini menjadi pertanda bahwa kamu akan selamat dan bisa bertahan di hutan. Walau dengan seorang monster yang entah berasal dari mana, setidaknya kamu bisa menjatuhkan level kewaspadaanmu sedikit.

“B-baiklah … aku terima.”

Dreamly mengeluarkan pekikan-pekikan aneh, tangannya mengayun dengan semangat sambil menatapmu dengan seringai besar khasnya. Mungkin itu tanda bahwa ia senang sekali.

“M … mekes ….”

Entah apa maksudnya itu. “Makasih”? Masa iya?

Kamu hanya menjawab dengan anggukan, menyingkir sedikit agak tidak terhempas akibat ayunan tangan monster tersebut.

Dreamly segera bangkit, mengambil keranjang berisikan apel miliknya sebelum membuka pintu kabin dan menoleh ke arahmu. “M … masyhuk ….”

Kamu kembali mengangguk, memasuki kabin miliknya sambil menatap seisinya. Matamu pun membelalak, tidak mempercayain apa yang sedang kamu lihat.

Bisakah kamu membayangkan kabin yang berada di tengah antah berantah hutan? Umumnya terlihat mengerikan, menjijikan, dan lain-lain, bukan?

Namun kabin milik Dreamly berbanding terbalik – terlihat cerah dari warna-warna terang, hiasan di setiap dindingnya, tersusun rapi, bahkan terdapat boneka beruang yang ditata dengan elegan di atas sofa!

Entah ini kamu yang sedang mimpi di siang bolong, atau kamu memang sudah berubah menjadi gila.

“Bagus ….” gumammu tanpa sadar.

Monster tersebut kembali mengeluarkan pekikan aneh, badannya bergoyang ke kiri-kanan dengan semangat. Ia segera mengambil boneka beruang yang berada di atas sofa dan segera memberikannya kepadamu.

“Untuk … teman.”

Ah, hatimu meleleh dibuatnya.

Ok, what the actual heck.

Tanganmu mengambil boneka beruang tersebut dari tangan besar Dreamly. Wangi. Bersih pula.

“Terima … kasih ….” kamu tanpa sadar tersenyum lebar ke arahnya.

Monster tersebut menjawab dengan anggukan, sebelum memalingkan wajahnya ke samping dengan cepat.

Kamu dibuat bingung olehnya, namun tidak apa-apa. Setidaknya kamu memiliki tempat untuk bermalam dan beristirahat di hutan ini.

And that’s how you got yourself a “unique” friend and a shelter in the forest after your arrival.