Actions

Work Header

danusan

Summary:

Danusan Hanbin gak laku dan Jiwoong mau beli semuanya, tapi dia minta ada bonusnya.

Work Text:

Hanbin bisa dibilang mahasiswa yang lumayan aktif. Bahkan jika ditanya, ia akan menjawab pengalamannya selama menjadi anggota BEM justru menyenangkan. Katanya, selain menambah pengalaman; dirinya mendapat banyak teman dari sana dan lumayan untuk mengisi waktu luangnya selama kuliah walau sebenarnya ia pun tak punya banyak waktu luang. Capek jelas capek, terlebih lagi kalau sedang ada program kerja yang harus segera diselesaikan. Dalam satu minggu, ia bisa menghabiskan lebih banyak waktunya di ruang sekre daripada kelas atau kosnya sendiri.

Cuma satu hal yang Hanbin kurang suka dari tugasnya di BEM. Danusan.

Bukan apa-apa, ia hanya kurang suka aja. Ia tidak merasa punya jiwa pengusaha, tapi walau begitu ia tak bisa menolak perintah ketuanya, bukan? Lebih baik Hanbin keliling kampus bawa-bawa keranjang isi risol mayo daripada harus dimarahi di depan kakak dan adik tingkatnya.

Sudah sekitar dua minggu ini Hanbin mulai danusan. Lumayan sih ya banyak yang beli, walau perlu ngerayu dikit-dikit. Sebenarnya dia heran, kirain mahasiswa udah pada bosen sama risol mayo karena berapa tahun dia kuliah danusannya risol mayo terus. Tapi ternyata masih laku aja, masih pada suka aja. Ya, malahan kalau sisa 2 tuh suka Hanbin sendiri yang beli. Iyasih ya, dia juga kenapa masih suka aja.

Tapi hari ini, gak tau deh, kayaknya temen kelas Hanbin juga udah mulai muak jajan risol mayo mulu hampir dua minggu penuh. Keranjang yang biasanya udah kosong tiap Hanbin bawa balik ke sekre, sekarang masih nyisa lumayan banyak. Biarin deh, nanti suruh anak BEM sendiri aja yang beli.

Hanbin masuk ke sekre dan tumben-tumbenannya ruangan itu kosong hari ini. Ya, emang sih sekarang masih jam 10 pagi alias masih banyak yang di kelas atau bahkan baru banget masuk kelas. Harusnya Hanbin juga di kelas sih tapi tadi kelasnya dimajuin jadi sekarang dia udah selesai aja.

Tapi ternyata gak kosong banget, ada satu orang yang lagi duduk selonjoran di pojok ruangan. Jiwoong. Kakak tingkatnya yang satu itu emang langganan nongkrong di sekre sih. Hanbin juga heran, kenapa dia seneng banget di sini. Padahal setau Hanbin, kos dia deket dan dia juga bawa motor jadi kenapa gak pulang aja? Tapi yaudah lah, Hanbin gak mau ambil pusing. Dia mau selonjoran juga.

“Daritadi, Kak?” sapa Hanbin basa-basi.

“Oit, Bin. Gak, baru juga kok.” Hanbin manggut-manggut mendengarnya.

“Tumben masih banyak risolnya,” lanjut Jiwoong, kali ini ia yang basa-basi. Soalnya aneh aja gak sih masa berdua di ruangan tapi gak ngobrol?

“Iya, udah pada bosen dah temen gue makanin risol. Beli dong, Kak. Borong kalau bisa,” Hanbin langsung menyerocos, kayaknya jiwa-jiwa penjualnya udah mulai merayap di tubuhnya.

“Buset, ngeborong buat apaan gue.”

Hanbin ketawa. “Biar gak perlu beli makan sampe besok?”

“Mabok risol gue yang ada.”

Dua-duanya ketawa renyah.

Lalu hening. Jiwoong yang kembali fokus sama ponsel di tangannya, dan Hanbin yang sekarang ikut selonjoran di salah satu bangku sambil tangan sebelahnya main hp dan sebelahnya lagi makan risol mayo.

Keduanya sibuk sama kegiatan masing-masing sampai pria yang lebih tua nyeletuk, bikin Hanbin nyaris lempar ponselnya.

“Bin.”

“Hm?”

“Gue borong deh risolnya.” Hanbin langsung natap Jiwoong yang masih di posisinya, jauh di depan Hanbin.

“Bercanda aja gue, Kak. Gak usah lah.” Nolak, karena yang bener aja? Buat apa dia borong coba? Nanti kalau beneran mabok risol gimana? Kan gak lucu ya.

“Gapapa, gue beli semua. Tapi—”

Tapi?

Jiwoong berjalan mendekat ke Hanbin. Jujur Hanbin ngerasa takut tiba-tiba dideketin begini, masalahnya Jiwoong natap dia tajem banget. Alarm di kepala Hanbin reflek bunyi, seolah ngasih tau bakal ada bahaya yang datang. Tapi, tubuh Hanbin kaku. Dia gak bisa gerak, jadi cuma diem sambil tetep ngelihat Jiwoong yang sekarang udah berdiri di depannya. Nutupin sebagian pencahayaan yang masuk dari jendela ruangan di ujung sana.

“Tapi gue minta bonus.”

“Bonus?” Hanbin bingung. Jiwoong mau ngebeli semua risol danusannya, yang sekarang masih ada sekitar 15-an. Tapi dia minta bonus? Ini orang beneran mau mabok risol kali ya.

Jiwoong mengangguk. “Bonus sepongin gue.”

Brengsek.

Harusnya Hanbin udah tau dari gimana cowok itu natap dia dari tadi. Sekarang dia sadar, itu tatapan sange. Seolah sekali ia mengiyakan, maka Jiwoong akan langsung menerkamnya.

“Kak? Lu gila ya. Ini di sekre? Di kampus?” Hanbin buru-buru duduk tegak.

“Terus? Kita pernah ngewe di toilet sama parkiran kalo lu lupa.”

Hanbin reflek ngerapetin pahanya denger ucapan frontal Jiwoong. Kepalanya langsung memutar sekilas perbuatan amoral keduanya di lingkungan kampus beberapa waktu lalu.

Sialan, Kim Jiwoong sialan. Sekarang memek Hanbin jadi basah karena nginget hal tersebut.

Sadar bahwa yang lebih muda ngegesek pahanya sendiri bikin Jiwoong menyeringai. “Mau apa gak, Hanbin?” Lututnya sekarang menyelip diantara paha Hanbin untuk membukanya lebar.

Hanbin menggigit bibirnya. Kalau udah kayak gini Hanbin bisa apa. Tubuhnya itu sensitif banget sama sentuhan Jiwoong. Salah, sensitif sama semua tentang Jiwoong. Memeknya bisa basah cuma karena lihat Jiwoong fokus main game sambil ngerokok, atau kayak barusan, Jiwoong bahkan cuma ngomong satu kalimat frontal tapi dirinya udah ngerasain basah di bagian selatannya.

Jiwoong gak salah setiap ngatain Hanbin itu lonte. Soalnya emang iya, Hanbin jadi lonte kalau sama Kak Jiwoong-nya.

“Mmh—” Bukannya menjawab, Hanbin malah melenguh tertahan. Pasalnya lutut Jiwoong sekarang makin deket sama selangkangannya.

“Tolol, kalau ditanya tuh jawab.” Jiwoong mencengkram rahang Hanbin dengan satu tangannya. Bikin Hanbin meringis kesakitan. Diangkat wajah Hanbin biar mendongak dan menatap matanya.

“Ahh, m-mau.. Mau sepongin K-kakak.” Tutur katanya terbata-bata, kepala Hanbin sudah mulai kosong hanya dengan sedikit sentuhan dari Jiwoong.

Jiwoong tersenyum mendengar jawaban Hanbin. Terus tangannya bergerak ke belakang kepala yang lebih muda, dijambak rambutnya dan ngedorong kepala Hanbin buat ngedeket sama kontolnya yang masih tertutup rapi oleh celananya. “Go ahead.”

Tangan Hanbin baru mau naik nyentuh celananya tapi langsung ditepis. “Pake mulut,” ucap Jiwoong.

Layaknya anak anjing yang diperintah oleh tuannya, Hanbin menurut. Tangannya turun dan disimpan di atas pahanya. Lalu, mulutnya ia bawa mendekat pada celana Jiwoong. Giginya menarik resleting celana itu turun, begitu ia lakukan sampai kontol berurat besar yang masih setengah tegang milik Jiwoong terbebas dari sangkarnya. Langsung menampar wajah Hanbin pelan, buat si korban kembali melenguh.

Mulut kecil Hanbin langsung meraup milik Jiwoong setelah sebelumnya mengecup ujung kepalanya. Perbandingan ukuran kontol Jiwoong dan mulut Hanbin menjadi sebab tak muatnya benda itu masuk seluruhnya. Baru setengahnya tapi mulut si yang lebih muda sudah penuh.

Masih dengan tangan yang mencengkram rambut Hanbin, Jiwoong mendorong pinggulnya hingga hampir seluruh batang kontolnya masuk, membuat yang duduk tersedak dan air mata mulai bergelinang di matanya. Sakit, perih, tapi Hanbin suka.

Hanbin mengerang sebelum mulai memainkan kontol Jiwoong di dalam mulutnya. Lidahnya yang sudah ahli bermain di lubang kecil pada ujung kontolnya, sesekali naik menjilat batangnya, kepalanya digerakkan maju dan mundur, memberi sensasi nikmat tiada tara bagi Jiwoong. Sang empunya merem melek menikmati sensasi kontolnya dilingkupi rongga hangat dan kecil seperti mulut Hanbin.

“Mulut lu emang gunanya buat ini kan. Buat nyepong doang. Enak disumpel kontol, Bin?” Jiwoong mengontrol pergerakan kepala Hanbin; maju, mundur, terus begitu sampai si pemilik mulut terbatuk.

“Nghh, mmh—!” Tak bisa memberikan jawaban verbal, Hanbin mengangguk dan menatap Jiwoong dari bawah sana dengan air mata yang sudah membasahi sudut matanya.

Tangan Hanbin yang semula berada di atas paha kini terselip diantara kedua pahanya, jari telunjuknya menusuk-nusuk memeknya dari luar celana. Buat memeknya semakin basah, ia yakin dalamannya pasti sudah sangat basah.

Jiwoong menyadari tangan Hanbin yang aktif bergerak seirama dengan pekerjaan yang dilakukan mulutnya. Dengan kasar, ia menjambak rambut Hanbin. Dan menarik kontolnya keluar dari rongga mulutnya.

“Siapa yang nyuruh lu colmek?” Hanbin merapatkan kembali pahanya tanpa memindahkan tangannya, menjepit jari telunjuknya di bawah sana.

Jiwoong menatapnya marah, alisnya menukik, rahangnya mengeras. Tangannya melepas cengkraman pada rambut Hanbin, lalu ia jongkok, berhadapan langsung dengan kaki Hanbin. Dengan kasar ia tarik kedua pahanya, buat Hanbin mengangkang. Kini ia melihat bagian tengah celana Hanbin sudah sedikit basah.

“Tolol.” Jari telunjuknya menoyor kening Hanbin pelan. “Cuma nyepong doang udah sebasah ini?”

“Gimana kalo gue kontolin memek lu, Bin? Bakal sebasah apa? Bocor kali ya. Gak berenti keluar.” Semua kata frontal keluar dari bibir Jiwoong tanpa malu, buat Hanbin terisak.

Entah menangis karena dilecehkan atau… Meminta lebih?

Niat awal Jiwoong yang hanya meminta disepong hancur total. Kalau bisa dapatkan yang lebih, kenapa Jiwoong harus menolak? Tangan menarik turun celana beserta dalaman Hanbin hingga sebatas lututnya. Menampilkan memek merah basah milik Hanbin, berkedut merasakan angin dari pendingin ruangan yang menerpa kulitnya. Atau berkedut karena dilihat dengan tajam oleh yang lebih tua? Entah.

Tanpa banyak kata, Jiwoong langsung membuka lipatan memek Hanbin, menyelipkan jari telunjuk dan tengah di sana. Digosok, dikucek, digoda sedemikian rupa itilnya. Buat Hanbin kelojotan, badannya bergetar, air matanya terjun membasahi pipinya bercampur dengan keringat di pelipisnya, pinggulnya sesekali terhentak naik, semakin menyentuh jari-jari besar milik Jiwoong. Desahan yang semula ia tahan sudah tak dapat dibendung lagi, ia keluarkan dengan cukup keras. Toh, ruangan ini kedap suara.

“Anhh, Kak.. Kak J-Jiwoonghh, udah.. Udaah. M-mau bucat, Kak. M-mau..” Belum selesai ia berbicara, Hanbin bucat. Cairannya menyemprot keluar. Membasahi jari-jari Jiwoong, pahanya, serta sedikit terpapar pada baju serta celana keduanya.

Jiwoong melepaskan jarinya dari sana, menjilati cairan milik Hanbin yang terkena jarinya. “Harusnya isi risolnya gak usah pake mayonais, Bin. Pake ini aja,” iseng. Jiwoong mencolek memek Hanbin lagi, mengambil cairannya sebelum kembali dijilat.

Hanbin sendiri lemas, tubuhnya bersandar pada sandaran kursi, dan kakinya masih bergetar.

“Gue belum keluar nih, Bin. Gimana?” Tangan Jiwoong menggoyangkan kontolnya hingga mengenai tangan Hanbin.

Hanbin pusing. Jujur, dirinya sudah tidak bisa berpikir sama sekali. Kalau saja Jiwoong tidak menarik tubuhnya bangun, mungkin ia sudah jatuh terlelap dalam alam mimpi. Sayangnya, si kakak tingkat kini mengambil tempat duduknya dan menarik Hanbin untuk duduk di atas pangkuannya.

Celana yang Hanbin kenakan sudah jatuh, tersangkut di mata kakinya. Buat Jiwoong lebih leluasa memainkan bagian selatan Hanbin. Pahanya dibuka lebar, hingga Hanbin kembali mengangkang. Sebelum ia menjerit, merasakan kontol besar Jiwoong berusaha masuk ke lubang kawinnya.

“Ahh, tolol, Kak. Bilang-bilang dulu kek, nghh.” Protesnya sebelum membantu agar seluruh batang kontol Jiwoong masuk ke dalamnya. Jiwoong sendiri menggeram merasakan hangat, sempit dan basahnya liang Hanbin melingkupi kontolnya.

Penuh. Hanbin penuh sekali. Dengan posisi seperti ini buat kontol Jiwoong masuk begitu dalam hingga sekali ia bergerak langsung menyentuh prostatnya. Buat Hanbin yang masih sensitif semakin lemas tak berdaya di pangkuan Jiwoong.

Jiwoong menghentakkan pinggulnya ke atas dengan kencang, menusukkan kontolnya dalam-dalam. Keluar, masuk, naik, turun, sesekali pinggul Hanbin dibuat memutar juga, menciptakan rintihan keenakan dari bibir yang lebih muda.

“Bayangin kalo Hao tau lu danusan risol tapi dibayarnya pake kontol.” Jiwoong membisikkan kata-kata jorok dan frontal, Hanbin mengerang. Tak suka dengan rangsangan tambahan yang ia terima.

“Nanti kalo dia minta setoran uangnya, lu ngangkang aja, Bin. Tunjukkin memek lu yang penuh sama sperma gue. Hm? Mau kan gue penuhin memeknya pake sperma gue?”

“M-mau.. Anhh!”

“Mau apa? Mau tunjukkin memek lu yang luber ke Hao?”

Hanbin menggeleng kuat, mana mungkin ia berbuat demikian pada ketua divisinya. Iya lah, Hanbin kan anak baik di mata teman organisasinya. “Mau.. Ahh, mau dipenuhin sama sperma Kakak.. Mau, mau… Mau dibikin hamil…” Namun, nyatanya Hanbin hanyalah seorang lonte di depan Jiwoong.

Jiwoong tertawa meremehkan. “Iya? Mau dibikin hamil?” Hanbin mengangguk sambil sesenggukan.

Jiwoong menyeka keringat yang membasahi pelipis Hanbin, menyisihkan helai rambutnya yang menutupi kening si cantik. “Gerak sendiri.”

Sekali lagi Hanbin menurut, meski tubuhnya sudah sedemikian lemasnya, namun diperintah begitu oleh Jiwoong buat dirinya langsung duduk. Tangannya tersimpan di paha Jiwoong sebagai tumpuan, lalu ia menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Pelan, pelan, lalu cepat dan tak beraturan. Mengejar pelepasannya dan Jiwoong. Ingin dapatkan apa yang dimaunya. Ingin sperma Jiwoong memenuhi liangnya hingga perutnya kembung. Hingga dirinya hamil.

Jiwoong menyimpan kedua tangannya di belakang kepala, menikmati pemandangan tubuh Hanbin dari belakang yang bergerak mencari kenikmatannya sendiri dari kontolnya.

“Good boy— or girl? Girl kali ya, kan pengen dihamilin.” Ledek Jiwoong. Sebelum melanjutkan, “Good girl. Take my cock so well, cantik.”

Dipuji begitu justru bikin Hanbin makin mabuk kepayang, tubuhnya bergerak semakin cepat. Memeknya sudah berkedut-kedut tanda akan muncratkan cairan lagi. Ia juga dapat rasakan kontol Jiwoong yang makin membesar dan berkedut di dalamnya.

“Ahhh, Kak… K-kakak. Mau bucat, aku mau bucat lagi, nghh. Kak Jiwoonghh—!” racau Hanbin yang diakhiri dengan teriak memanggil nama si kakak tingkat saat dirinya bucat untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya bergetar, cairannya keluar begitu banyak. Diikuti Jiwoong yang menggeram dan tembakkan spermanya dalam-dalam pada perut Hanbin. Buat perut Hanbin penuh, sesuai dengan keinginannya. Meski beberapa luber dan membasahi kursi yang mereka dudukki.

Hanbin hempaskan tubuhnya pada tubuh Jiwoong, dirinya sungguh lemas. Tak sanggup bahkan untuk sekedar melepas penyatuan keduanya. Pinggangnya masih terhentak-hentak sedikit, masih dalam pasca ejakulasinya.

“Thanks, cantik. Nanti gue transfer uangnya, kasih tau aja berapa.”

Sialan. Diberi ucapan seperti itu buat Hanbin merasa seperti ia baru saja menjual tubuhnya.

“Atau beneran mau ngangkang aja di depan Hao?” timpal Jiwoong usil sekali lagi. Keduanya sudah melepas penyatuan dan Jiwoong membantu Hanbin mengenakan celananya lagi.

“Tolol, emang mau gue dipake Kak Hao?” balas Hanbin masih terengah-engah. Tau bahwa si kakak tingkat sedikit posesif dengannya.

“Kan dia liat doang, yang make ya gue. Gue entot lu di depan dia kalo perlu.”

Hanbin menendang kaki Jiwoong pelan. Mulut lelaki di depannya itu memang suka sembarangan. Walau Hanbin suka mendengarnya.