Work Text:
Chailo yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya segera menaruh ponsel yang awalnya sedang ia genggam untuk kemudian berjalan mendekati Jericho yang tengah asik berenang, "Emangnya gak capek, Mas? Baru pulang kerja langsung berenang." Tegur Chailo sambil mendaratkan bokongnya di tepian kolam. Tak peduli jika bathrobe yang sedang ia pakai akan basah karena hal itu.
Jericho yang baru saja memunculkan kembali kepalanya di seberang kolam langsung tersenyum mendapati Chailo yang sedang menatap ke arahnya, dia kembali masuk ke dalam kolam untuk berenang mendekati Chailo yang kemudian muncul tepat di hadapan suami kecilnya itu.
Chailo yang awalnya menaruh niat untuk marah kepada Jericho perihal dia yang terlalu sibuk bekerja tentu saja langsung luluh ketika wajah sang suami muncul dengan begitu tampannya dari dalam kolam. Chailo luluh ; amarahnya kini hilang begitu saja digantikan dengan elusan lembut di kepala Jericho.
"Gak capek?" Ulang Chailo yang masih belum mendapatkan jawaban.
Jericho menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum, "Nggak, seger malah."
Chailo menatap Jericho dengan sayu, elusannya kini turun ke pipi kurus milik pria kelahiran februari itu, "Jangan terlalu capek lah Mas, jangan maksain sampai gak pulang kayak kemarin, kasih jeda juga buat istirahat, Adek yakin Granpa pasti paham." Kata Chailo khawatir. Tak bisa dipungkiri, walaupun wajah suaminya itu tetap tampan di segala keadaan, namun Chailo juga bisa melihat guratan lelah di sana.
Chailo khawatir. Ia tak ingin jika suaminya itu sampai sakit.
Jericho sedikit menyunggingkan senyum sebagai balasan dari rasa khawatir Chailo, "Mas sama sekali gak capek sayang, kemarin Mas sengaja lembur sampai gak pulang biar bisa cepet-cepet punya waktu buat kamu, maafin Mas ya karena hampir lima hari ini kerja mulu." Ucap Jericho tulus. Dia menarik tubuhnya untuk semakin mendekat dan berada di tengah-tengah kedua kaki Chailo yang terbuka.
Tubuh Jericho yang kini berdiri dengan tegak membuat kedua matanya bisa beradu tatap dengan iris tenang milik Chailo, tangan besarnya ia arahkan dengan sengaja untuk menarik tali yang melingkar di sepanjang pinggang yang terhitung ramping milik suami manisnya, tak butuh waktu lama, dalam sekali tarikan tanpa tenaga, tali itu berhasil terurai ; melepaskan pertahanannya hingga kini bathrobe yang tengah Chailo kenakan terbuka dan sedikit menampilkan tubuh polosnya.
Suasana ini. . .
Perasaan ini. . .
Bahkan sampai cara Jericho menatap padanya. . .
Chailo mengenali semuanya dengan sangat baik, dan dia tau betul apa yang akan terjadi dalam beberapa jam kedepan.
Oh, tidak, Chailo sama sekali tak keberatan jika hal 'itu' memang akan terjadi malam ini, lagipula untuk itu lah mereka sampai jauh-jauh datang ke negeri ginseng ini kan? Yang Chailo sayangkan hanyalah kurangnya persiapan untuk hal ini, sebenarnya Chailo membawa beberapa 'pakaian dinas' yang diberikan oleh Airel beberapa waktu lalu di dalam kopernya, namun karena mood Chailo yang tak bagus sebelumnya jadilah dia berakhir hanya dengan bathrobe seperti ini, mau kembali untuk melakukan beberapa persiapan pun rasanya kurang tepat saja, nanti malah dia dan Jericho keburu turn off jika dia merusak suasana yang sudah susah payah di bangun seperti saat ini.
Karena itu lah Chailo lebih memilih untuk mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami bersamaan dengan kakinya yang kini ikut melingkar di pinggang Jericho.
Dan Chailo pula lah yang pertama kali memiringkan kepalanya sambil mendekat pada Jericho untuk menyatukan bibir mereka berdua yang saat ini sudah mulai saling melumat. Chailo memejamkan matanya diikuti oleh Jericho, ritme ciuman keduanya yang masih sangat teratur seakan memancing ribuan kupu-kupu untuk berterbangan di perut Chailo. Ciuman ini romantis! Tapi juga membuat suhu tubuh Chailo semakin panas.
"Mmhh cpkhh shhh Masss." Lirih Chailo yang tiba-tiba saja merengek di sela-sela ciuman mereka.
Jericho melepaskan tautan keduanya untuk membiarkan Chailo bernapas, lalu setelah itu ia kembali menyambar bibir Chailo dan memberikan lumatan dengan tempo yang lebih cepat dan kasar daripada sebelumnya, tangan Jericho juga menekan tengkuk leher Chailo untuk memperdalam ciumannya saat ia sendiri tengah sibuk melumat kedua bilah bibir Chailo yang seakan berebut minta di hisap.
Suara kecipak basah yang berasal dari lumatan bibir keduanya mulai terdengar di tengah-tengah suasana kamar hotel yang syahdu ini, Jericho menarik tubuh Chailo agar semakin mendekat padanya dan membiarkan insting membawa tangannya untuk masuk ke dalam bathrobe yang tengah Chailo kenakan untuk mengelus punggung Chailo hingga empunya sedikit melenguh manja, lidah mereka saling bertaut seakan penasaran dengan rasa manis yang menguar dari bibir masing-masing, saliva pun bertukar kepemilikan hingga rasanya mereka akan sama-sama menggila.
Chailo sudah amat sangat basah dibawah sana, sedangkan celana renang yang baru saja dibeli oleh Jericho juga mengibarkan bendera putih tanda bahwa kain itu sudah tak mampu menyembunyikan gundukan penis tuan-nya yang semakin membengkak.
Pasokan oksigen untuk keduanya sudah mulai menipis sehingga mau tak mau Jericho harus melepaskan ciumannya, namun sebelum itu dia malah menggigit bibir bawah Chailo lalu tersenyum dengan tampannya setelah di lepas.
"Cantik." Pujinya setelah melihat penampilan Chailo yang sedikit berantakan karena ulahnya, "Ilo-nya Mas selalu cantik." Sambungnya lagi yang semakin membuat Chailo tersipu.
Chailo memeluk tubuh basah Jericho untuk menyembunyikan wajahnya yang semakin panas dan memerah, tak pernah ia sangka bahwa menikah dengan Jericho itu akan membuat jantungnya berdetak tak karuan seperti saat ini.
Jericho terkekeh pelan melihat reaksi yang Chailo berikan, ia balas mendekap tubuh suami kecilnya itu dengan erat dan hangat, aroma segar khas buah strawberry menguar dari perpotongan leher Chailo, dapat Jericho tebak bahwa itu berasal dari sabun hotel yang sialnya sangat cocok dengan tubuh Chailo sehingga kini Jericho tak kuasa untuk menahan dirinya, dia menciumi leher Chailo dan sesekali akan menggigitnya lalu menghisapnya sampai meninggalkan ruam merah keunguan disana.
"Sayang, nanti beli sabun yang wanginya kayak gini juga ya?" Ucap Jericho ketika melepaskan pelukannya.
Chailo hanya menjawab permintaan Jericho dengan anggukkan semata, dilihat dari gundukan penis Jericho yang semakin besar dan keras sih sepertinya dia lebih bernafsu jika Chailo memakai wewangian strawberry seperti ini ya.
"Wangi banget emang, Mas?" Tanya Chailo iseng.
Jericho mengangguk, kedua iris matanya nampak semakin gelap karena nafsu, "Wangi, wangi banget, Mas suka." Jawab Jericho lalu kembali memberikan kecupan-kecupan kecil di leher Chailo.
Dengan sengaja Chailo mendongakkan kepalanya, satu sisi bathrobe nya kini sudah sedikit melorot sehingga menampilkan efek jenjang untuk lehernya yang membuat Jericho tampak sangat puas.
Kecupan yang Jericho berikan semakin intens, deru napasnya semakin berat, ia benar-benar dibuat menggila oleh Chailo.
“Mas!” Jerit Chailo melengking karena terkejut bersamaan dengan tubuhnya yang bergelinjang tatkala Jericho memainkan jari-jarinya di liang vagina Chailo tanpa permisi.
Chailo meringis pelan sambil menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya berpegangan pada bahu kokoh Jericho ketika merasakan sensasi dingin dari jari-jari suaminya itu, sedangkan Jericho hanya tersenyum miring menikmati ekspresi yang tengah Chailo keluarkan, sorot tajam matanya yang dipenuhi oleh nafsu kembali bersitatap dengan sorot mata Chailo yang kini semakin sayu.
Kecupan demi kecupan kembali Jericho bubuhkan di sekitar leher Chailo, lalu tak lama kemudian semakin turun ke arah dadanya.
“Mnhhh Masss a-ahhh!”
Chailo merem melek keenakan di buat oleh pria-nya, kini lidah panas Jericho bermain di sekitar areola Chailo tanpa menyentuh putingnya sama sekali, begitupun jari-jarinya, Jericho hanya melakukan gerakan memutar sambil sesekali mengusap naik turun untuk memancing cairan bening milik Chailo agar keluar semakin deras.
“Mas. . . pleaseee.” Rengek Chailo lemas.
“Please apa, sayang? Kamu mau apa, hm? Sini bilang yang baik sama Mas.”
“Emnhhh masukin Mas, please masukin.” Pinta Chailo dengan tubuh yang semakin bergerak gelisah.
“Coba bilang sama Mas apa yang harus di masukin?”
“Jarinya, Mas! Masukin jarinya ke memek Adek!”
Jericho terkekeh pelan melihat Chailo yang sepertinya mulai tak sabaran, “Kayak gini, sayang? Memeknya mau di colok kayak gini sama jari Mas, hm? Sempit banget memek kamu Dek, ngejepit jari Mas banget.” Bisik Jericho sambil menghentakan jarinya sekaligus.
“Ahhhhh!” Desah Chailo yang kemudian mengangguk ribut, “Iya sayang iya nghhh kayak gitu, Mas! Kobelin memek Adek terus ahhh enak banget jari Mas nusuk sampai dalem ouhhhh fuckhhhh.”
Pride Jericho sebagai seorang dominan tentu saja naik seketika saat melihat Chailo yang langsung tunduk dalam kendalinya seperti saat ini, berbagai aksi yang dapat memancing desahan Chailo untuk semakin nyaring sudah Jericho lancarkan, mulai dari lidahnya yang menggelitik puting susu Chailo, lalu jari-jarinya yang terus menyerang bagian tersensitif milik Chailo di dalam sana.
“Fuck, sempit banget Dek, jari Mas sampai di jepit kayak gini sama memek kamu.” Ucap Jericho sambil menatap jarinya yang masih keluar masuk di dalam vagina Chailo yang semakin lama semakin basah karena cairan lubrikasinya sendiri.
“Shhh wait, Mas! Ahhh dalem banget sayang masuknya!” Kata Chailo dengan suara yang memberat karena nafsu.
Jericho tentu saja tak mengindahkan perkataan Chailo, kalimat larangan sama saja seperti kalimat perintah untuknya, jarinya keluar masuk semakin cepat hingga mengundang tangan Chailo untuk menahannya.
Chailo menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan memohon, “Please Mas, shhh tunggu, ahhh nanti Adek pipis duluan.” Pinta Chailo dengan tangan yang kemudian dihempas oleh Jericho.
Kedua tangan yang sebelumnya di hempaskan dengan mudah oleh Jericho itu adalah tangan yang sama dengan tangan yang dipakai Chailo untuk memukul lawan-lawannya, namun tenaga yang selama ini Chailo pakai mendadak hilang jika dihadapkan dengan suaminya.
Merasa tak berhasil dengan cara yang pertama, Chailo berusaha untuk merapatkan kedua kakinya yang kemudian mendapat hadiah sebuah tamparan yang cukup perih juga di pahanya.
“Suruh siapa kakinya ditutup, hm? Udah berani ngelawan sama Mas?”
“Nggak Mas. . . ampun, ampun, ahhh ampun Masss shhh!” Tubuh Chailo hampir saja terhuyung ke belakang jika saja ia tak buru-buru menahan menggunakan kedua tangannya.
Jericho mulai mengeluarkan senjatanya, senjata yang sejauh ini tak dapat Chailo lawan dan akan langsung membuatnya pasrah tak berkutik. Satu tangan Jericho yang menganggur dipakai untuk menahan kaki Chailo agar tak bergerak semakin gelisah dikala lidahnya sudah menyapu liang vagina si cantik dari atas ke bawah yang membuatnya bergetar, jari-jari Jericho masih aktif menggaruk liang vagina Chailo di dalam sana, sementara lidahnya kini sedang menjalankan tugas yang tak kalah penting untuk menggoda tubuh Chailo, sang tak bertulang yang bergerak lihai dan seakan sudah piawai Jericho berikan pada klitoris Chailo yang mulai menegang, gelenyar nikmat yang bercampur geli hinggap di tubuh si sagitarius, ia benar-benar kalah sekarang, Chailo tak akan bisa melawan jika Jericho sudah menggunakan mulutnya.
“A-ahhh! Mas, astaga!” Desah Chailo dengan kepala yang mendongak nikmat, tangan mungilnya kini ia gunakan untuk meremat rambut basah milik sang suami agar bisa menekan kepalanya untuk memberikan service yang lebih daripada ini.
Chailo benar-benar diajak terbang ke langit ke tujuh oleh Jericho, apalagi ketika kedua tungkai lemasnya semakin bergetar tatkala Jericho yang dengan sengaja ‘menyeruput’ klitoris bengkaknya.
“Anghhh enak Masss, itil Adek jangan di gituin!” Ujar Chailo tak konsisten.
“Slrphhh enak itilnya di kenyotin sama Mas gini, Dek? Suka kamu memeknya di makan sama Mas? Enak banget sayang, memek kamu selalu legit slrphhh mphhh.”
Chailo menggelengkan kepalanya kuat dengan mata yang merem melek keenakan, “No, Mas! Please stop, ampun Mas nghhh Adek bisa pipis cepet kalau di lamotin terus ahhh ahhh udah Mas udahh jarinya berhenti aduhh itil Adek ahhh.”
Permintaan yang disampaikan Chailo dengan suara yang lirih seakan tak sampai pada Jericho yang malah semakin mempercepat gerakan jari serta lidahnya, dan benar saja, tubuh Chailo semakin menegang dengan liang vagina yang semakin menyempit, lalu tak lama kemudian jeritan melengking Chailo kembali terdengar.
CURRR CURRR CURRR
“Ahhh Mas Jeriii ahhh ahh shhh maaf Mas, Adek ngompol, Adek ngompol Mas, nghhh lontenya Mas ngompol nghh shhh memek Adek bocor.” Desah Chailo dengan suara yang terisak.
Chailo menangis saking nikmatnya sambil mengeluarkan cairan squirt tepat di wajah tampan sang suami, sedangkan Jericho hanya terkekeh pelan sambil terus mengusak gelambir vagina Chailo yang sudah semakin benyek sekarang.
Jericho tersenyum miring sambil menyisir rambutnya yang basah kuyup ke belakang, dia membiarkan Chailo yang masih melayang-layang sehabis pelepasannya sementara Jericho keluar dari dalam kolam renang.
“Nakal ya Adek, ngompolin wajah Mas, gak sopan, harus dikasih hukuman itu, Dek.” Kata Jericho lalu menarik celana renangnya ke bawah sampai penisnya yang sudah tegak mengacung menampar perutnya sendiri.
“Sini sayang, sepongin dulu kontol Mas.” Ujarnya lembut sambil menuntun kepala Chailo agar mendekat pada penisnya.
Chailo yang baru saja tersadar setelah pelepasannya langsung membawa tubuhnya untuk menungging di hadapan Jericho, tangan bergetarnya yang basah karena keringat Chailo tuntun untuk menggenggam penis tebal itu yang membuat Jericho meringis ngilu.
“Shhh ngilu Dek, masukin ke mulut coba.” Perintah Jericho untuk yang kedua kalinya.
“Sebentar Mas, ini keras banget kontolnya.” Kata Chailo sambil menatap penis itu dengan matanya yang nampak amat sangat berbinar.
Satu tangan kecil Chailo kini ia gunakan untuk menggenggam penis besar milik Jericho, Chailo kocok penis itu naik turun hingga membuat empunya meringis ngilu, bau jantan yang keluar dari penis besar ini semakin tercium tatkala Chailo semakin mendekatkan kepalanya, lidahnya terjulur ; menjilati precum Jericho dengan gerakan yang sensual, lalu setelah itu Chailo tersenyum sambil mengedipkan satu matanya genit pada Jericho.
Oke, Jericho paham bahwa keadaan kini sudah diputar balik oleh suami kecilnya.
“Shhh sayang, di masukin dong cepet, jangan cuma dikecupin aja, ngilu.”
Chailo tersenyum miring sambil terus membubuhkan kecupan-kecupan ringan di pangkal penis Jericho yang sudah amat sangat memerah dengan precum yang terus menerus keluar.
“Mau di sepong sama Adek ya, Mas? Coba bilang dulu yang baik sama Adek.” Ucap Chailo mengerjai Jericho dengan cara mengatakan hal yang sama ketika dia memohon pada Jericho tadi.
Deru napas Jericho memburu, penisnya sudah sekeras batu, dia hanya ingin segera keluar! Di dalam mulut atau di wajah Chailo itu terserah, yang penting muatan dalam penisnya sedikit berkurang.
“Adek, sepongin Mas ya?”
“Loh? Please nya mana, Mas?” Tagih Chailo sambil terus mengocok penis Jericho dengan gerakan yang lambat.
“Adek. . . please?” Pinta Jericho dengan putus asa.
Chailo tersenyum penuh kemenangan, ia kulum kedua bola kembar Jericho sambil sesekali ia hisap, lalu setelah itu Chailo menjulurkan lidahnya untuk menjilat batang penis yang keras itu dengan lubang vagina yang sesekali berkedut membayangkan batang keras ini akan segera mengobrak-abrik vaginanya.
Jericho mengerang. Astaga! Chailo benar-benar sedang menguji kesabarannya, dan ketahuilah bahwa Jericho tak sesabar itu!
“Uhuk, uhuk, M-mas! Hoekkk.” Tubuh Chailo sedikit tersentak karena terkejut, wajahnya memerah, ia berusaha untuk memberontak dan melepaskan cengkraman Jericho di kepalanya.
Bagaimana Chailo tak terkejut jika tiba-tiba saja Jericho menarik kepala Chailo hingga penis tebal miliknya kini mentok di dalam mulut Chailo.
“Shhh, anget banget mulut kamu sayang ahhh.”
Chailo mulai berusaha untuk menyesuaikan diri dengan penis besar tersebut, ia tarik penis Jericho hingga kembali keluar dari dalam mulutnya, lalu Chailo akan menjilat dan sesekali menghisapnya sampai kedua kaki Jericho sedikit bergetar, apalagi ketika Chailo memainkan lidah panasnya di lubang kencing Jericho, rasanya si pria kelahiran februari itu langsung terbang ke awang-awang saking nikmatnya.
“Shhh fuck, sayang! Mulut kamu anget banget, muka kamu juga nyangein banget kalau lagi nyepong, bikin Mas pengen pejuin muka kamu.” Racau Jericho seraya mencengkram rambut Chailo dengan erat untuk mengambil alih permainan.
“Grkhhh mnhhh hoekkk nghhh.”
“Aduh, Mas gak tahan sayang, Mas ewein sekarang aja, ya?” Izin Jericho yang sebenarnya hanya basa-basi.
Jericho menarik kepala Chailo dengan cepat hingga penisnya yang masih menegang dengan sempurna keluar dari dalam mulut suami kecilnya. Chailo mendongak, tatapan matanya semakin terlihat sayu dengan lidah yang terjulur membuat Jericho semakin bernafsu, dengan cepat Jericho melucuti bathrobe Chailo dan meninggalkannya dengan asal sementara dia berdiri sambil membawa Chailo di gendongannya, Jericho sedikit mengangkat Chailo untuk mempermudahnya melakukan penetrasi, kepala penis yang sudah berlumuran cairan precum itu sengaja ia gesekan sebelum akhirnya masuk dalam lubang favoritnya.
“A-ahhh, Masss shhh pelan-pelan nghhh ngilu bangettt.” Ringis Chailo sambil meremat kuat bahu suaminya.
“Mmhhh iya sayang ini udah pelan.” Jawab Jericho sambil terus berusaha untuk menerobos masuk.
SLEB
“AKHHH MASSS.”
Si dominan kini ikut meringis ngilu tatkala penis besarnya sudah benar-benar masuk ke dalam vagina Chailo, rupanya penyebab ringisan itu bukan hanya karena otot-otot vagina Chailo yang menjepit kuat penisnya, namun juga karena gigitan serta cakaran yang diberikan Chailo pada bahunya, dan Jericho memakluminya, wajar saja Chailo bereaksi seperti itu karena ini adalah seks pertama mereka setelah beberapa bulan ini.
Cup. . .
Jericho membubuhkan satu kecupan yang lembut dan penuh kasih sayang pada dahi Chailo yang mulai berkeringat, Chailo membuka matanya yang berkaca-kaca, ia kalungkan tangannya pada Jericho sebelum menuntun pria itu untuk masuk ke dalam sebuah ciuman yang memabukkan.
“Mmhh.” Lenguh Chailo ketika merasakan penis Jericho yang ikut bergerak ketika si empunya berjalan demi membawa punggung Chailo ke arah jendela kaca besar yang langsung terhubung dengan indahnya kota Seoul.
Tautan keduanya terlepas digantikan dengan nikmat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, demi tuhan, penis keras Jericho yang keluar masuk di dalam vaginanya dalam posisi seperti ini membuat Chailo sangat menggila.
“Nghhh enak Mas enak ahhh enak banget! Kontol Mas masuk dalem banget di memek Adek ngghh jangan di mentokin! Ahhh ahhh Mas, Mas Jeriii.” Jerit Chailo dengan nama Jericho yang tak luput dari desahannya.
Jericho semakin bersemangat menggempur vagina kesayangannya ini, Jericho menangkup kedua bongkahan pantat Chailo hanya untuk dia remas sampai memerah, gerakan pinggulnya juga semakin cepat dan brutal sampai tubuh Chailo ikut terhentak-hentak ke atas.
“Mas, Mas, Mas ahhhh Mas pelan-pelan mnhhh ahhh pengen pipis Mas akhhhh Jericho nghhh Mas Jericho jangan di gituin nanti Adek muncrat.” Racau Chailo di kala Jericho terus mendorong penisnya hingga mentok sembari mengusak klitorisnya yang menegang.
CLOCK CLOCK CLOCK
“Mnhhh ahhh Dek shhh memek kamu jangan di sempitin! Ahhh gila ngejepit banget.”
“Muncrat, Mas! Adek muncrat! AHHHHH!”
CURRR CURRR CURRR
Jiwa Chailo sebenarnya masih melayang-layang setelah mendapatkan pelepasan keduanya, namun dengan cepat Jericho malah membawa tubuh si submissive untuk berpindah ke atas kasur, Jericho baringkan tubuh Chailo di ujung ranjang dengan kedua kaki yang sengaja Jericho tumpukan pada bahu kokohnya.
Si aquarius menegakkan tubuhnya sambil memeluk kedua kaki Chailo, penis besarnya yang masih menegang kembali ia hentakan tanpa ampun di dalam vagina Chailo sampai membuat Chailo menggeleng kuat dan melolongkan kata ampun yang sialnya tak didengar.
Jericho memejamkan matanya, kepalanya mendongak saking nikmatnya jepitan otot-otot vagina Chailo, “Shhh sayang ahhh Mas ewein ya? Mas ewein kamu sampai besok ahhh anjir enak banget, Dek! Memek kamu gak ada duanya!” Puji Jericho yang semakin membuat dinding vagina itu menyempit.
“Nghhh ampun Mas ahhhhh memek Adek masih sensitif shhh gak bisa pipis lagi ahhh ampun, ampunnn nghhh.” Lirih Chailo sambil memegangi tangan berotot Jericho dengan mata yang berderai.
Chailo menangis, namun Jericho malah semakin bernafsu, ia tekan perut Chailo ketika penisnya sedang menyembul dari dalam sana.
“Mentok, Dek! Ahhh Mas keluar! Fuck, fuck, fuck memek enak, enak banget ahhh.”
CROT CROT CROT
Tubuh Jericho tumbang di atas Chailo setelah memuncratkan sperma hampir sepuluh kali tembakan, napasnya terengah-engah, peluh membanjiri tubuh keduanya.
“Makasih ya cantiknya, Mas.” Bisik Jericho lalu mengecup pipi Chailo.
Chailo memeluk tubuh Jericho, wajahnya sengaja ia benamkan di perpotongan leher sang suami, “Habis ini udah ya, Mas? Adek capek.”
“Sekali lagi aja ya, sayang?”
Dan kata-kata itu terus Chailo dengar hingga lima kali banyaknya sepanjang malam.
