Chapter Text
Hoseok memandang dengan sedih wajah ibunya yang tidur di sampingnya. Ia melihat raut wajah wanita berusia lima puluh tahun yang telah melahirkannya itu, tampak lelah dan mata sebabnya tak kunjung hilang. Wanita itu bernafas tak beratur dalam tidurnya, Hoseok menggengam tangan ibunya. Ia mengusap sisa-sisa air mata di wajah cantik wanita itu.
Sudah hampir dua minggu sejak kematian adik laki-laki Hoseok, tetapi ibunya belum berhenti bersedih, sejak hari dimana Jung Yejun ditemukan meninggal secara mendadak di kamarnya pada pagi hari oleh sang ibu sendiri.
Hoseok sendiri adalah seorang pangeran alpha berusia dua puluh tujuh tahun yang kelak akan menjadi seorang raja masa depan, yang akan menggantikan ayahnya memimpin kerajaan Utara ini. Ia mempunyai dua orang adik. Seorang adik laki-laki alpha Jung Yejun dan adik perempuan omega bernama Jung Yerim, yang masing-masing terpaut usia dua tahun diantara mereka.
Ibu Hoseok, tidak berhenti menangis dan keluar kamar sejak hari itu. Ia tidak mau makan selama tiga hari penuh, kematian Yejun benar-benar membuatnya terpukul sejauh itu. Baru setelah hari keempat, ia mau makan meskipun hanya sedikit, itupun atas paksaan dari Hoseok dan Yerim. Setelah makan ia akan diam memandang keluar jendela, menangis, merenung atau hanya duduk tanpa sedikitpun berbicara sampai hari ini.
Hoseok bersandar di sandaran kayu tempat tidur, ia mengantuk, badannya pegal-pegal akibat aktivitas di siang hari, tapi ia tidak ingin tidur sebelum matahari terbit. Ibunya sering mengigau dan menangis dalam tidurnya, ia akan menenangkannya setelah itu ibunya akan tidur kembali.
Yerim menawarkan untuk menggantikan sang kakak di tengah malam, namun ia tidak mau adiknya jatuh sakit karena kurang tidur, apalagi Yerim sedang disibukkan dengan latihan menari yang akan ditampilkan di istana sebulan lagi. Sungguh menyedihkan, upacara peringatan ulang tahun kerajaan tahun ini tanpa Yejun.
Raja, ayah Hoseok tidak terlalu perhatian pada istrinya namun juga tidak bersikap acuh. Alpha bernama Jung Hajun itu akan menengok dan menanyakan keadaan istrinya dalam beberapa hari. Hoseok kecewa dengan sikapnya, namun ia sudah terbiasa akan hal ini sejak ia masih kecil. Ayahnya mempunyai dua orang selir lain yang telah melahirkan empat orang anak, saudara tiri Hoseok. Namun mereka tidak diizinkan untuk menguasai tahta karena mereka keturunan selir yang tidak bisa menggantikan posisi ibu Hoseok sebagai ratu, istri sah, apalagi ada Hoseok yang seorang alpha yang akan memimpin masa depan. Meski begitu mereka juga mempunyai kedudukan yang tinggi dalam mengurus sistem pemerintahan kerajaan ini. Raja bersikap adil pada mereka sesuai tatanan dan aturan yang telah ditentukan sejak lama.
Cahaya matahari menyinari ruangan itu dari balik tirai jendela dengan samar, menandakan pagi hari telah tiba. Hoseok hampir tertidur ketika suara ketukan pintu bergema di telinganya. Ia ingat, ia menyuruh penjaga untuk melakukan itu malam sebelumnya, agar mengingatkan bahwa hari ini ia harus bangun pagi untuk menghadiri undangan di kerajaan tetangga. Meskipun faktanya ia tidak tidur semalaman. Lingkaran di bawah matanya terlihat jelas, ia tidak tidur dengan benar. Ia hanya tidur di siang atau sore hati ketika dia bisa. Atau sesekali sambil duduk di samping ibunya atau di meja sebelahnya sembari membaca buku.
"Tidur yang nyenyak eomma" katanya sambil mengecup kening sang ibu dan melepaskan genggaman tangannya.
Hoseok segera keluar kamar, seorang dayang pribadi ratu segera masuk ke kamar untuk berganti menjaganya. Ia segera kembali ke kamarnya dan melakukan kebersihan. Wajahnya terasa segar, perasaan kantuk perlahan menghilang. Ia memakai baju yang sudah tertata rapi di lemari miliknya, baju dinas kerajaan, baju yang semua orang sangat mengidamkannya, baju yang dibuat khusus untuk para keluarga kerajaan.
Ia merapikan rambutnya ke belakang dengan sisir, menatap dirinya di kaca di depannya. Dia harus berpenampilan menarik bukan?
Seharusnya dia mempunyai seorang dayang atau pelayan untuk mengurus semua itu, namun pangeran menolak, ia tidak suka ada orang yang menjangkau ranah pribadinya, ia lebih suka melakukannya sendiri. Ia hanya akan membiarkan pelayan masuk ketika membersihkan kamarnya saja atau membawakan sesuatu yang memang permintaannya.
Ia menghela nafas sejenak, membuka pintu, memaksakan senyumnya. Ia sendiri sama seperti ratu yang sangat terpukul kehilangan adiknya, namun ia harus tetap kuat demi kerajaan ini. Sang ayah telah memberikan sebagian tugasnya kepadanya karena usia Hoseok dirasa sudah cukup layak untuk menggantikannya.
"Permisi pangeran, sarapan sudah siap, silakan, raja sudah menunggu" seorang pengawal memberitahunya, ia hanya mengangguk lalu pergi ke ruang makan.
Di sana sudah ada banyak anggota keluarganya. Raja tampak sedang bermain dengan satu-satunya cucunya saat ini yang menggeliat tertawa di pangkuannya, bayi perempuan cantik berusia sekitar setahunan dari anak selir pertama. Raja duduk di samping neneknya, diapit oleh kedua selirnya di sebelah kanan dan kiri, Hoseok tersenyum pahit melihatnya, biasanya sang ibulah yang duduk di tempat itu. Namun tidak apa-apa, sejauh ini mereka semua rukun. Suka tidak suka, seorang raja memang diizinkan mempunyai selir.
Di kursi lain di sebelah selir pertama ada dua orang saudara tirinya, alpha pria dan seorang gadis omega, ibu dari bayi tersebut dan di sampingnya ada suaminya. Di sisi lain, ada selir kedua dan kedua putra alpha yang usianya sedikit jauh di bawahnya.
Pangeran Hoseok menyapa mereka semua lalu duduk di kursi biasanya. Selir kedua menanyakan bagaimana keadaan ratu dan ia menjawabnya dengan jujur. Mereka semua tampak prihatin dan bersedih.
Setelah selesai makan, pangeran menuju aula istana untuk bersiap berangkat bersama beberapa pengawalnya. Ia hendak naik ke kereta saat matanya tidak sengaja melihat siluet seorang pria omega yang sedang membawa dua kantong sampah di tangannya. Seorang omega yang sangat ia benci.
Min Yoongi, seorang pelayan tidak berguna yang telah membuat adiknya meninggal.
Hoseok mengepalkan kedua tangannya, meredam amarahnya, matanya dengan tajam menatap omega itu sampai sang supir sekaligus pengawalnya bertanya padanya, apakah sudah siap berangkat.
"Jalan" katanya.
Perlahan kereta itu menjauh dari istana, membawa sang pangeran pergi menjalankan salah satu tugasnya.
