Work Text:
Kalau ada satu hal yang ingin Megumi syukuri dalam dua puluh lima tahun hidupnya, itu adalah bertemu dengan Itadori Yuuji.
Megumi dan Yuuji baru aja menikah, baru banget genap setahun. Tapi Megumi udah kenal Yuuji selama sepuluh tahun, dari awal mereka masuk SMA. Sebetulnya, Megumi udah naksir Yuuji dari beberapa bulan dia kenal sama anak itu. Tapi dulu Megumi masih malu-malu kucing, dan dia kira Yuuji ga tertarik sama dia. Udah mana waktu kelas satu SMA, Yuuji malah pacaran sama orang lain. Giliran Yuuji putus, gantian Megumi yang pacaran sama orang lain. Baru deh, di tahun ketiga mereka SMA, pas lagi sama-sama jomblo, Megumi coba beraniin diri menyatakan perasaan ke Yuuji. Yang untungnya disambut baik sama Yuuji. Mereka pun mulai coba pacaran.
Kalau orang-orang bilang masa awal pacaran indah, justru kebalikannya untuk Megumi dan Yuuji. Gak lama setelah mereka mulai pacaran, mereka lulus SMA dan harus berpisah jalan. Susah ketemu, komunikasi jarang, bikin Megumi mau jambak rambut saking kangennya sama Yuuji. Apalagi Yuuji ini tipe pasangan yang lumayan mandiri. Walau anaknya perhatian banget, tapi dia gak clingy. Megumi? Ya, saat itu dia masih pasang image sok cool dong…
Setelah setahun pacaran, baru lah mereka bisa memahami pace mereka masing-masing. Udah lebih saling paham gimana satu sama lain mau diperlakukan. Walau masih jarang ketemu, tapi komunikasi mereka udah jauh lebih lancar. Megumi juga udah bisa mengutarakan dengan jujur setiap dia kangen dan pengen ketemu sama Yuuji. Yuuji juga udah paham kalau Megumi, walaupun gak terlalu ekspresif, tapi ternyata lumayan sensitif.
Setelah lulus kuliah, Yuuji bekerja di biro arsitektur sebagai desainer interior junior. Megumi sendiri bekerja jadi budak korporat, lebih tepatnya bagian market research. Gak lama setelah mulai kerja, di usia 24 tahun, Megumi melamar Yuuji. Karena mereka sama-sama udah kebelet kawin, jadi mereka langsung nikah catatan sipil aja, ga ngadain acara besar, takut kelamaan nabung soalnya. Palingan cuma orang-orang terdekat aja yang mereka kasih kabar bahagia itu. Pokoknya mereka memang maunya simpel, intimate , dan cepat. Yang penting, udah bisa tinggal bareng—soalnya kakak-kakaknya Yuuji agak rese, Yuuji ga boleh kohabitasi sama Megumi.
Asam manis hidup udah dilewati bareng Yuuji. Gak cuma asam manis deh, pedas, pahit, asin juga udah. Megumi belum pernah bosan sama Yuuji, dan sepertinya emang gak akan pernah bosan. Selalu ada aja hal dari Yuuji yang bikin Megumi kagum. Mulai dari hal-hal mundane kayak betapa perhatiannya Yuuji, sampai hal-hal seksual seperti luar biasanya stamina Yuuji.
Iya, stamina.
Gini, gini. Kalau diceritakan dari awal tentang perjalanan seksual mereka, seperti pasangan pada umumnya, step pertama sih mereka cuma berani ciuman. Tapi selayaknya anak remaja yang lagi berada di puncak puber dengan hormon berlebih, ciuman malu-malu itu lama-lama berubah jadi panas.
Setelah lulus SMA, mereka jarang ketemu. Sekalinya mereka ketemu, biasanya berakhir dengan Yuuji menginap di apartemen Megumi—soalnya Yuuji masih tinggal di rumah orangtuanya saat itu. Megumi masih ingat, pertama kali Yuuji menginap dan tidur bareng di kamarnya. Saat itu, mereka pulang kencan dan ujan-ujanan. Tadinya Yuuji gak ada niat nginep, tapi karena ujan gak kunjung berhenti, jadi lah dia menghabiskan malam di apartemen Megumi.
Di sini lah step kedua dimulai. Setelah mengganti baju yang basah kena air hujan, mereka berdua selimutan di atas kasur Megumi yang saat itu ukuran single—kebayang dong, betapa sempitnya itu kasur menampung dua remaja yang badannya gak kecil. Tapi karena sempit, mereka jadi makin intim. Mereka pun mulai ciuman. Awalnya make out biasa aja, tapi sebelumnya mereka gak pernah make out di atas kasur, apalagi sambil tiduran. Jadi itu pertama kalinya Megumi merasakan penisnya bergesekan dengan punya Yuuji. Awalnya ga sengaja, karena posisinya Yuuji itu ditindih oleh Megumi. Eh, tapi lama-lama Yuuji malah gerak-gerak sendiri, gesekin punya dia ke Megumi. Malam itu berakhir dengan mereka masturbasi sambil cipokan. Ya, tapi masih masturbasi masing-masing aja.
Nah, step selanjutnya. Kalau gak salah saat itu mereka udah pacaran kurang lebih dua tahun. Megumi usia dua puluh, dan itu pertama kalinya dalam hidup dia, penisnya dipegang oleh orang lain—dalam maksud seksual ya.
Seperti biasa, Yuuji lagi nginep di apartemen Megumi. Saat itu, Yuuji mulai rajin banget ngegym. Badannya mulai buff, dan yang paling Megumi senangi adalah dada Yuuji jadi berisi. Megumi bukan tipe orang yang suka-suka amat sama payudara, tapi kalau ditawarin punyanya Yuuji? Ya mana mungkin Megumi nolak.
Mereka lagi nonton TV di ruang tengah, sambil duduk di sofa. Karena agak ngantuk, Megumi nonton dengan posisi tiduran, dan menjadikan pangkuan Yuuji sebagai bantal. Niat awalnya yang mau tidur jadi batal karena terdistraksi dengan dada Yuuji yang empuk dan kenyal. Megumi ngangkat kaos Yuuji, dan mulai grepe-grepe. Yuuji, yang masih fokus nonton, malah megangin kaosnya biar tetep keangkat, supaya Megumi bisa bebas grepe-grepe tanpa perlu sambil pegangin kaos Yuuji terus. Megumi pun mulai grepe-grepe brutal, dan berakhir dengan mainin puting Yuuji pakai lidah dan mulutnya. Sambil jilat-jilat dan hisap-hisap sedikit, sementara puting yang sebelahnya dia mainin pake jari.
Megumi kira, Yuuji masih fokus nonton dan ga terganggu. Yang Megumi gak sangka, tanpa aba-aba, Yuuji menurunkan celana yang Megumi pakai, sampai penisnya yang udah setengah ereksi itu keluar. Dan Yuuji mulai ngocokin Megumi. Iya, itu pertama kalinya Megumi merasakan hand job. Udahlah dikasih nenen, sambil dikasih hand job juga, pula. Gimana Megumi gak sayang?
Step keempat terjadi masih di malam yang sama. Setelah Megumi klimaks akibat hand job dan dada Yuuji yang mantap, Megumi berinisiatif untuk balas budi ke Yuuji. Yuuji masih duduk di sofa, tapi kali ini celananya udah melayang gak tau kemana dan kakinya dibuka lebar oleh Megumi, sementara Megumi duduk di lantai menghadap ke Yuuji. Lebih tepatnya ke selangkangan Yuuji. Dia pun memberikan blow job pertamanya. Awalnya Yuuji sempat malu-malu, dia nolak karena katanya kotor. Tapi baru dijilat kepala penisnya aja, Yuuji langsung desah-desah dan malah nahan kepala Megumi biar bisa dikasih lebih. Yaudah deh, malam itu berakhir dengan Yuuji orgasme di mulut Megumi. Yuuji yang merasa bersalah, malah mau kasih blow job balik buat Megumi. Tapi Megumi menolak. Bukannya gak mau, dia sih mau banget. Tapi kapan kelarnya kalau mereka malah saling balas budi begitu?
Nah, step kelima lah yang lumayan bikin Megumi deg-degan. Mereka udah sering make out sambil bugil, kasih hand job dan blow job ke satu sama lain. Tapi mereka belum pernah melakukan anal sex. Yuuji pernah nanyain sekali ke Megumi soal hal itu. Tapi Megumi ngeles, dia bilang nanti aja kalau Yuuji udah 21 tahun. Yuuji memang lebih muda beberapa bulan dari Megumi, jadi selama Yuuji belum berulang tahun, Megumi mikir keras gimana caranya mereka melakukan itu.
Masalahnya, mereka belum pernah berdiskusi soal siapa yang jadi top dan bottom. Kalau boleh milih, Megumi mau jadi top aja. Dia gak yakin bisa menikmati jadi bottom. Ukuran penis Megumi memang lebih panjang dari pada punya Yuuji, tapi secara diameter, punya Yuuji lebih gendut. Ya mirip lah sama bentuk badan mereka, walaupun Megumi lebih tinggi beberapa senti dari Yuuji, tapi badan Yuuji lebih buff. Jujur aja, kalau Yuuji minta Megumi jadi bottom, Megumi gak siap. Dan gak mau. Tapi dia takut, hal itu akan terdengar terlalu egois. Megumi sempat mikir, kalau memang Yuuji juga gak mau jadi bottom, mereka bisa kok menghabiskan kehidupan seksual mereka tanpa penetrasi, toh banyak pasangan gay di luar sana yang begitu. Opsi lainnya adalah, ya mereka switch aja. Tapi Megumi lebih sreg sama opsi pertamanya, sih.
Sampai lah mereka di ulang tahun Yuuji ke 21. Ulang tahun Yuuji dirayakan bareng orang-orang terdekat, bersama Nobara—teman SMA mereka—dan beberapa senior dari SMA juga. Malamnya, Yuuji pulang ke apartemen Megumi. Megumi kira, Yuuji gak akan nagih janji malam itu juga. Lagian, udah seharian di luar, melakukan banyak aktivitas, ya pasti capek, dong?
Tapi namanya juga Itadori Yuuji. Memang agak lain anak itu. Sesampainya di apartemen Megumi, Yuuji langsung nanya.
“Megumi, mau seks sekarang gak?”
Rasanya Megumi mau pura-pura pingsan aja, karena dia belum siap. Belum siap kalau ternyata Yuuji gak mau jadi bottom, terus ngambek sama Megumi, atau lebih parah, minta putus. Tapi bukan Megumi namanya, kalau gak sok cool. Dia pun mengajak Yuuji berdiskusi terlebih dahulu.
“Yuuji, kamu tau kan kalau seks itu ada bottom dan top?”
“Iya, tau.”
“Kamu tau kan, kalau realita itu tidak semudah film porno?”
“Maksudnya?”
“Untuk bisa anal seks, perlu dilakukan persiapan. Gak bisa tiba-tiba main masuk aja, yang ada sakit.”
“Ohh, iya kok tau. Makanya aku udah persiapan.”
Megumi bingung, persiapan apa yang dimaksud Yuuji? Seperti tau kebingungan Megumi, Yuuji tiba-tiba berdiri dari duduknya, dan mulai melucuti celananya. Dia membelakangi Megumi, kemudian menunduk sedikit sambil dua tangannya memegang pipi pantatnya, dilebarkan ke arah berlawanan. Menampilkan lubang Yuuji yang disumpal butt plug.
“Iya, aku udah persiapan, kok.”
JEDERRR
Kalau mereka hidup di dunia manga, pasti lah hidung Megumi sudah mengeluarkan darah mimisan ala-ala paman mesum. Gimana enggak? Di hadapannya terpampang jelas pemandangan yang dengan cepat membuat si Joni kebanggaannya berdiri tegak. Megumi menghela napas, berusaha menenangkan diri.
“Yuuji, siapa yang ngajarin?”
“Aku cari di internet, tanya-tanya di forum internet juga.”
TANYA-TANYA DI FORUM?
Hati Megumi terenyuh, membayangkan Yuuji yang sebegitu memikirkan agar mereka bisa melakukan seks dengan aman dan nyaman, melakukan riset, membeli berbagai perlengkapan, mempersiapkan lubangnya supaya penis Megumi bisa penetrasi. Si Joni juga jadi berdenyut, membayangkan Yuuji sebegitu maunya dipenetrasi sama Megumi sampai-sampai melakukan ini-itu sendiri.
Kalau begini caranya, Megumi siap mendedikasikan hidupnya untuk menjadi service top bagi Yuuji sampai akhir khayat. Tapi itu cuma angan-angan aja sih.
Soalnya, baru juga masuk, si Joni mengkhianati Megumi. Begitu merasakan hangatnya jepitan dinding anus Yuuji, Megumi langsung orgasme. Ya, namanya juga kehilangan perjaka untuk pertama kali. Megumi berkali-kali minta maaf ke Yuuji, Yuuji malah ketawa terbahak-bahak. Tapi ga butuh waktu lama untuk Megumi ereksi lagi, karena mantapnya pijitan anus Yuuji. Jadi lah, seks pertama mereka gak gagal-gagal amat. Megumi masih lumayan bisa menyelamatkan harga dirinya.
Step-step selanjutnya? Panjang lah kalau dijabarin. Ada pertama kali Yuuji minta creampie, ada pertama kali mereka shower sex, pertama kali cockwarming, pertama kali Yuuji kasih Megumi kejutan dengan pakai lingerie yang Ya Tuhan seksi banget. Tapi kali ini bukan itu yang mau Megumi bahas.
Yang mau dibahas kali ini adalah, stamina Yuuji yang ga ada habisnya.
Hari ini anniversary setahun mereka menikah. Seperti pasangan mesra pada umumnya, mereka mau merayakan dong. Mereka sepakat untuk enggak merayakan dengan makan di restoran mewah atau jalan-jalan ke luar negeri. Mereka lagi nabung untuk masa depan yang lebih baik, soalnya. Mereka mau merayakan dengan simpel aja di rumah. Jadi mereka berdua cuti.
Di mulai dengan Megumi yang kasih kejutan untuk Yuuji di pagi hari, yaitu breakfast in bed. Sungguh simpel, bukan? Tapi Yuuji senang banget. Dia dengan semangat melahap toast bikinan Megumi, sambil suap-suapin Megumi dan curi-curi cium dari Megumi. Sungguh pasangan suami-suami yang romantis.
Begitu selesai makan, Yuuji meletakkan piring kotor di nakas samping tempat tidur. Dia memanjat naik ke atas Megumi yang lagi posisi duduk sambil senderan di headboard, dan memulai sesi ciuman panas. Tangannya menuntun tangan Megumi untuk memainkan dada Yuuji, sementara Yuuji bergerak naik turun, menggesekan penis Megumi ke belahan pantatnya.
“Gumi, aku mau seks.”
Yuuji minta langit diturunkan pun, Megumi akan kabulkan. Apalagi kalau minta seks.
Tangan Megumi meraih ke laci di sampingnya, mengambil lube. Dia mengeluarkan cairan gel itu banyak-banyak di telapak tangannya, dan mulai mempersiapkan lubang Yuuji. Yuuji desah-desah keenakan saat merasakan jari yang dingin karena lube itu mulai memasukinya.
Jujur deh, kalau Megumi bilang lubangnya Yuuji masih aja rapat, itu bukan gombalan dari seorang suami agar pasangannya ga insecure belaka. Ini tuh, udah sampai titik dimana Megumi heran. Kok bisa, padahal lubang Yuuji udah berkali-kali dihajar sama Megumi. Tapi setiap kali mereka udah lama ga melakukan penetrasi, Yuuji jadi harus disiapkan lagi.
Megumi mulai memasukan dua jari, dan membuat gerakan menggunting. Jarinya juga dia tekuk-tekuk di dalam, sengaja gak mengenai spot yang sudah Megumi hapal betul. Hal itu membuat Yuuji mendesah frustasi. Dia mulai bergerak sendiri, gerakin pinggulnya biar jari Megumi bisa kena ke spot kesukaannya. Dan dia berhasil, jari Megumi kena prostatnya, bikin Yuuji menekuk punggungnya, keenakan.
“Udah?” tanya Megumi, memastikan. Yuuji mengangguk semangat.
Megumi pun mulai mengeluarkan jarinya, dan menggantinya dengan penisnya yang sudah mengeras. Tadinya sih, Megumi mau bergerak ya. Tapi mana mungkin Megumi menolak, saat Yuuji dengan semangatnya mengambil alih pace mereka, bergerak naik turun di atas penis Megumi. Jadi Megumi cuma bisa pasrah megangin pinggang Yuuji yang ramping—walaupun badan Yuuji sangat buff, tapi pinggangnya bisa kecil begitu, bikin Megumi mabuk kepayang.
Waktu Yuuji lagi asik naik turun, tiba-tiba dia menarik kepala Megumi, mendekapnya di dada. Awalnya Megumi bingung, dia kira Yuuji cuma mau meluk dia aja. Sampai Megumi sadar, ini maksudnya Yuuji minta putingnya dimainin juga?
Siapa sih, yang akan nolak?
Megumi pun mulai melumat habis puting kanan Yuuji, sementara puting kirinya dicubit-cubit. Gerakan Yuuji makin heboh, bikin putingnya sempat lolos dari mulut Megumi, tapi dengan cepat Megumi tangkap lagi.
“Yuuji,” desah Megumi di sela-sela adegan nenen. “Aku udah mau keluar.”
Megumi merasakan si Joni berkedut tidak karuan di dalam Yuuji. Yuuji malah bergerak makin heboh. Tanpa disangka, ternyata malah Yuuji yang keluar duluan, membasahi perutnya sendiri dan perut Megumi, bahkan sampai muncrat ke dada Megumi. Yuuji orgasme cuma dari anal dan putingnya yang dimainkan. Hal itu tidak membuat Yuuji berhenti bergerak naik turun, dan Megumi pun makin semangat memainkan dan menghisap puting Yuuji, sampai dirinya sendiri orgasme di dalam Yuuji.
Megumi masih mengatur nafasnya pasca orgasme, sementara Yuuji sudah bergerak mencabut penis Megumi dari lubangnya. Megumi bisa lihat bagaimana bekas spermanya mengalir dari dalam lubang Yuuji, turun ke pahanya yang besar dan seksi itu.
Sungguh pemandangan yang membuat Megumi bersyukur ia diberi pengelihatan 20/20 oleh Tuhan.
Yuuji seperti menyadari Megumi memperhatikannya. Dengan sengaja, Yuuji menyumpal lubangnya dengan jari telunjuk. Matanya menatap lurus ke mata Megumi, sedangkan wajahnya merah.
“Sayang ya, kalau kebuang?”
HNGGGHHHH.
Ronde pertama selesai, Yuuji memutuskan untuk mandi duluan. Tadinya Megumi mau ajak Yuuji mandi bareng, tapi Megumi rasa mereka malah gak akan berujung mandi, deh. Jadi dia memilih untuk mandi setelah Yuuji.
Megumi pun masuk ke kamar mandi setelah Yuuji selesai. Baru aja dia asyik mengguyur kepala dengan air dingin dari shower, pintu kamar mandi dibuka. Muncul Yuuji yang masih belum berpakaian.
“Kenapa Yuuji?” tanya Megumi. Dia kira ada barang Yuuji yang tertinggal. Tapi Yuuji malah masuk ke bilik shower, terus meluk Megumi. Yuuji membenamkan wajahnya di ceruk leher Megumi, kemudian bergumam sesuatu.
“Kenapa?” tanya Megumi lagi, tidak menangkap apa yang Yuuji katakan. Yuuji pun menarik wajahnya dari ceruk leher Megumi, kemudian memandangi wajah Megumi dari jarak yang kelewat dekat. Masih memeluk Megumi, Yuuji jinjit dikit—dikit aja, karena tinggi mereka ga beda jauh—dan mengecup bibir Megumi. Sungguh gestur yang sangat inosen, bukan?
“Aku kangen.” gumam Yuuji.
Hati Megumi meleleh, melihat suami pujaan hatinya ini jadi clingy mampus. Megumi pun membalas pelukan Yuuji, bahkan dia mempererat pelukan mereka. Dia menghujani wajah Yuuji dengan kecupan-kecupan di dahi, ujung hidung, pipi, kemudian bibir. Tahu begini, tadi dia mandi bareng aja sama Yuuji?
“Kamu mau aku sepongin, gak?”
“Hm?”
Yah, harusnya Megumi sudah paham betul sih sama kelakuan Yuuji.
Sekali lagi, Megumi ini siapa sih, sampai beraninya menolak tawaran blow job dari Yuuji?
Sesi mandi Megumi pun berakhir dengan dia orgasme di dalam mulut Yuuji. Dan ditelan habis oleh Yuuji. Damn.
“Emang rasanya enak, apa?” tanya Megumi, saat mereka sudah keluar dari kamar mandi dan sedang berpakaian. Mereka mau cari makan di luar, sekalian belanja bulanan.
“Engga.” Jawab Yuuji singkat. “Tapi semua yang dari kamu sih, aku siap telan.”
TAHAN JON, TAHAN batin Megumi kepada si Joni yang sedikit bereaksi denger ucapan Yuuji. Untunglah si Joni nurut.
Mereka memutuskan untuk makan junk food di area salah satu pusat perbelanjaan, biar sekalian ke supermarket. Sesudah selesai makan, tadinya mereka mau langsung belanja bulanan. Tapi Yuuji minta ke toilet dulu. Megumi pun dengan sabar menunggu di luar area toilet, sambil main handphone.
Tiba-tiba handphone-nya bergetar, tanda ada telepon masuk. Megumi sudah mau berprasangka buruk, dia kira bosnya menghubungi dia di hari cuti. Tapi begitu membaca caller ID, Megumi dibuat bingung. Dia pun mengangkat panggilan.
“Halo, ada apa Yuuji?”
“Megumi, cepet masuk ke toilet! Urgent!”
Megumi panik. Takutnya Yuuji kenapa-kenapa. Kalau takut Yuuji diisengin orang sih, enggak ya. Secara, Yuuji jago berantem. Dia lebih takut Yuuji kepeleset atau terluka. Begitu masuk ke toilet, Megumi tidak menemukan siapa-siapa di area urinal.
“Yuuji?” panggil Megumi.
“Di sini!”
Megumi menghampiri satu-satunya bilik yang tertutup, walau tidak dikunci. Dia mendorong pintu, jantungnya sudah berdegup tidak karuan. Tapi begitu pintu bilik dibuka, yang dia lihat cuma Yuuji yang lagi duduk di atas kloset yang ditutup, tidak mengenakan celana.
“Kenapa, sayang?” tanya Megumi, khawatir.
“Aku tiba-tiba horny.”
Kalau lah, seandainya, Megumi tidak sayang-sayang amat sama Yuuji, pasti Yuuji sudah ditinggal sama Megumi. Karena Megumi terlalu sayang sama Yuuji, jadi yang Megumi lakukan adalah mencubit keras dua pipi Yuuji sampai pipinya memerah.
“Aduh!” pekik Yuuji kesal, kemudian mengelus pipinya sendiri.
“Aku khawatir banget. Kamu bilang urgent.”
“Ini tuh urgent!”
Megumi menghela napas. Dia menutup pintu di belakangnya, kemudian menguncinya. “Terus, kamu mau ngapain?”
Yuuji tersenyum nakal. Dia mengubah posisinya, berbalik menghadap tembok dan bersedeku di atas kloset yang ditutup, memamerkan pantatnya kepada Megumi. Lebih tepatnya, memamerkan lubangnya ke arah Megumi. Lebih tepatnya lagi, memamerkan lubangnya yang disumpal dengan butt plug.
“Gak bisa dong. Gak ada lube di sini.”
“Kata siapa?”
Jari Yuuji bergerak, mencabut butt plug nya, meninggalkan lubang yang sedikit menganga. Megumi jadi bisa melihat jelas, bahwa masih ada bekas-bekas sperma Megumi di dalam Yuuji.
Sekali lagi semuanya, Megumi ini siapa sampai menolak Yuuji yang sudah menawarkan dirinya begini?
Megumi pun menghajar Yuuji habis-habisan di dalam bilik toilet itu. Beruntung, selama proses brutal itu, tidak ada orang lain yang masuk ke area toilet. Kalau ada, habislah sudah mereka dilaporkan ke polisi dan dicap sebagai orang mesum. Ya, walaupun memang benar, sih.
(jangan ditiru ya teman-teman, sangat tidak higienis having sex di toilet umum) (lah, jadi nasehatin orang)
Padahal mereka keluar cuma tiga jam, tapi Megumi kok rasanya lelah banget?
Sesampainya di rumah, Megumi dan Yuuji langsung membereskan belanjaan mereka, karena kalau dientar-entar keduanya keburu malas.
Perut sudah kenyang, to do list sudah dicoret. Megumi melirik jam yang menunjukkan pukul dua siang. Waktu yang tepat untuk tidur siang, bukan?
Yuuji lagi di ruang tengah, tadi sih lagi ngelipetin pakaian mereka, sementara Megumi sedang tiduran di kamar. Matanya udah merem melek nahan ngantuk. Ditambah angin sayup-sayup dari pendingin ruangan bikin matanya makin susah diajak melek. Dia pun memasrahkan diri. Toh, mumpung lagi cuti, kapan lagi dia tidur siang di weekday.
Baru aja dia mau memasuki dunia mimpi, tiba-tiba dia merasa geli di selangkangan. Refleks, Megumi membuka mata dan melihat ke bawah.
Bener aja, di bawah sana ada Yuuji lagi ndusel-ndusel mukanya ke selangkangan Megumi.
“Kamu ngapain, sayang?”
Yuuji baru sadar Megumi kebangun. Bukannya jawab, dia malah cengengesan, terus lanjut ndusel-ndusel.
“Kamu horny lagi?”
Mendengar pertanyaan Megumi, Yuuji malah cemberut. Dia menjauhkan wajahnya dari selangkangan Megumi, kemudian pindah posisi untuk duduk di samping Megumi.
“Lagi ? Kok kamu tanyanya gitu?” ujar Yuuji, makin manyun. “Bukan lagi, tapi emang dari tadi aku horny terus! Emang kamu gak gitu?”
Megumi bingung mau jawab apa, takut salah jawab. Jadi dia diem dulu, membiarkan Yuuji melanjutkan ucapannya.
“Aku tuh, senang banget soalnya hari ini anniversary kita. Apalagi akhir-akhir ini kita ganti-gantian lembur mulu, tiap malam jarang ketemu. Kita juga udah semingguan gak have sex. Mumpung lagi cuti dan gak ngapa-ngapain seharian, emang kamu gak kepikiran apaaa gitu? Gak kepikiran mau ngapainin aku?”
Mau ngapain? Emang dari tadi kita belum ngapa-ngapain?
Megumi merentangkan tangannya, isyarat biar Yuuji masuk ke pelukannya. Yuuji pun menurut, dia membenamkan dirinya di dada Megumi yang tepos itu. Megumi mengelus-elus rambut Yuuji, tangan satunya menepuk-nepuk punggung Yuuji.
“Memangnya, kamu mau ngapain?”
“Mau ituuuu.”
Megumi terkekeh mendengar Yuuji merengek. Bukannya gak pernah, tapi Yuuji tuh jarang manja-manja dan clingy begini. Biasanya yang lebih clingy malah Megumi, yang ngintilin Yuuji kemana-mana setiap saat. Jadi, melihat Yuuji lagi begini, pertahanan Megumi pun runtuh.
“Yaudah, tapi sekali aja, ya? Habis itu kita tidur siang.”
“Kenapa harus tidur siang?”
“Kan tadi kamu sendiri yang bilang akhir-akhir kita lembur melulu? Biar kita bisa istirahat, sayang.”
“Oke, tapi gak usah pake kondom, ya.”
“Deal.”
Siapa juga yang bakal nolak?
Megumi bangun dari tidur siangnya. Dia mengerang merasakan badannya pegal-pegal. Matanya melirik ke arah jam dinding, dan agak kaget saat melihat sudah hampir jam enam sore. Dia melirik ke sebelahnya, ia kira akan menemukan Yuuji di sana. Tapi kosong, hanya ada seprai yang sudah acak-acakan di sebelahnya.
Ingat kan, perjanjian Megumi dan Yuuji tadi siang? Nyatanya, Yuuji malah ingkar janji.
Perkiraan Megumi, dia dan Yuuji bisa dapat tidur siang barang sejam atau dua jam, bangun jam lima sore, kemudian masak makan malam bersama.
Tapi, setelah Megumi orgasme sekali di dalam Yuuji, Yuuji malah merapatkan lubangnya, seakan tidak memperbolehkan Megumi mengeluarkan penisnya. Megumi pun mengerang kesakitan.
“Yuuji, yang bener aja. Sakit, tau.” protes Megumi. “Kamu mau bikin penis aku patah?”
“Sekali lagi dong, please.”
Mereka lagi posisi missionary, posisi mereka kalau lagi mau vanilla aja. Megumi baru aja orgasme, dan disusul oleh Yuuji. Harusnya, setelah ini mereka tidur siang, sesuai kesepakatan. Tapi liat aja, Yuuji malah nahan Megumi biar gak bisa keluarin penisnya.
“Tadi kan kamu udah janji.”
“Pleaseee Gumi. Sekali lagi aja, ya?”
“Yuuji, jangan gini dong.”
“Pleaseee, sayang.”
HNGHHH.
Sungguh licik apa yang dilakukan oleh Yuuji. Yuuji itu jarang panggil Megumi pakai panggilan sayang. Akibatnya begini nih, sekalinya dipanggil sayang Megumi jadi ga bisa nolak. Apalagi Yuuji dengan sengaja menggerak-gerakan otot anusnya, memijat penis Megumi yang lama-lama mulai bereaksi lagi.
Mau menolak, tapi kok rasanya gak bisa?
Jadi lah, Megumi mulai menggenjot Yuuji lagi, sementara Yuuji di bawahnya desah-desah keenakan lubangnya diisi penuh.
Ga butuh waktu lama untuk keduanya orgasme yang kedua kali—kalau dihitung dari pagi sih, ini bukan cuma yang kedua kali. Dan lagi-lagi, Megumi orgasme di dalam Yuuji, mengisi Yuuji dengan sperma. Baru saja Megumi mau bergerak memisahkan tubuh mereka, tangan Yuuji bergerak, mengelus-elus bagian bawah perutnya, yang sedikit menggembung karena diisi sperma dan juga penis Megumi. Megumi khawatir.
“Kenapa? Sakit?”
Wajah Yuuji memerah, dan tangannya menekan bagian bawah perutnya yang menggembung itu, memberikan sensasi nikmat kepada penis Megumi yang masih ada di dalamnya, serta membuat sperma keluar bleber dari sela-sela lubangnya dan penis Megumi yang masih jadi satu.
“Engga, lucu aja liat perut aku jadi kayak hamil muda.”
Wah, minta digempur lagi anak ini.
Jadi lah, bukannya satu ronde, atau dua ronde. Mereka selesai di ronde kelima. Itu pun akhirnya berhenti karena Megumi benar-benar mengantuk kelelahan. Liat aja, saking lelahnya, Megumi malah baru bangun jam enam begini.
Megumi keluar kamar, mencari Yuuji, dan langsung menemukan suaminya yang gemas itu di dapur. Megumi mencium bau masakan, dan dia pun menghampiri Yuuji yang sedang sibuk depan kompor. Megumi memeluk Yuuji dari belakang.
“Selamat pagi, sleeping beauty.” ledek Yuuji. Megumi menggerutu kesal, dan membenamkan wajahnya di antara bahu dan leher Yuuji.
“Pagi apanya? Baru juga mau malam.”
“Lagian, kamu tidur lama banget.”
“Gak lama, sejam juga gak sampai. Kamu sendiri, gak jadi tidur?”
Yuuji menggeleng. “Engga, tadi pas kamu ketiduran, aku langsung ke kamar mandi, bersihin lubangku. Takut sakit perut. Abis itu aku siapin makan malam, deh.”
Megumi menciumi leher Yuuji, sebelum bergumam. “Tuh kan, harusnya pakai kondom.”
“Gak masalah, kok. Lagian enak kalau kamu keluar di dalem, berasa anget.”
Mulai, deh…
“Udah sana, kamu siapin alat makan aja. Ini aku udah mau selesai masak.”
Megumi pun menurut. Dengan gontai ia berjalan ke arah rak piring dan menyiapkan meja makan. Megumi heran dengan Yuuji yang tidak terlihat kelelahan sedikit pun. Megumi aja, yang udah sempat tidur, rasanya masih lelah banget. Lah ini Yuuji, udah mandi, wangi, bersihin dirinya sendiri, masak makan malam pula. Megumi jadi merasa sedikit bersalah.
Tak lama, Yuuji menghidangkan makan malam. Semangkuk nasi hangat, daging hambagu dengan saus bikinannya, dan sup miso. Makan malam yang simpel dan sederhana, tapi kalau dimasak oleh Yuuji rasanya jadi mewah. Apalagi kalau dimakan bareng Yuuji.
Mereka pun menyantap makan malam sambil berbincang. Awal mulanya ngomongin soal kerjaan, gosipin rekan kerja. Megumi ngedumel tentang atasannya yang gak ada abisnya ngerjain dia, sementara Yuuji curhat tentang atasannya yang agaknya kelewat mandiri sampai-sampai Yuuji sering overthinking takut dirinya useless. Habis itu jadi ngebahas kabar keluarga satu sama lain. Yuuji pun ngajak Megumi untuk mengunjungi Kak Tsumiki, mau belajar bikin kue katanya. Terus obrolan jadi merembet ke makanan pencuci mulut, dan Yuuji yang lupa menyiapkan dessert untuk mereka malam itu.
Sesudah makan, Megumi mencuci semua piring dan panci kotor yang digunakan Yuuji untuk memasak. Biasanya, kalau Yuuji yang masak, Megumi yang akan cuci piring kotornya. Begitu pun sebaliknya. Mereka ini memang selalu bagi rata tugas. Sementara Yuuji masuk ke kamar, katanya mau mengganti seprai yang sudah berantakan dan kotor. Heran, gak ada lelahnya si Yuuji.
Selesai beres-beres dapur, Megumi berniat mau santai-santai di ruang tengah sambil baca buku, sembari nunggu Yuuji selesai beresin kamar. Baru aja dia buka cover buku, Yuuji manggil-manggil dari dalam kamar. Perasaan Megumi mulai ga enak.
“Gumiii~”
Panggil Yuuji untuk kesekian kalinya, karena Megumi gak kunjung menyahut. Megumi pun berjalan dan membuka pintu kamar.
Benar kan.
Betul sih, sekarang seprai sudah diganti jadi kembali wangi dan rapi. Berantakan-berantakan lain di sudut kamar juga udah gak nampak. Tapi nih ya, tapi. Begitu masuk kamar, Megumi disambut dengan Yuuji yang udah bugil. Dia tiduran di atas kasur dengan posisi telentang dan kaki terbuka lebar. Oh, gak cuma itu. Tepat di ujung dada Yuuji terdapat tumpukan whipped cream , menutupi area areola-nya. Masih ada lagi. Lubang Yuuji dibawah sana juga terlihat penuh dengan putih-putih alias whipped cream .
He’ll be the death of me.
“Enjoy your dessert, sayang.”
Megumi dan Yuuji itu bukan tipe yang suka dirty talk kalau di kamar. Malah, mereka suka ketawa dan geli sendiri kalo lagi sok mau dirty talk. Tapi yang kali ini sih, berhasil bikin urat kesabaran Megumi putus.
Dengan perlahan, Megumi menaiki kasur, kemudian mengurung Yuuji di bawahnya. Dia menunduk, kemudian menjilat area di antara dua dada Yuuji. Rasanya asin. Tapi Megumi suka-suka aja. Kemudian dia meninggalkan hisapan-hisapan di area dada, dengan sengaja menghiraukan gundukan whipped cream yang kelewat menggoda itu.
“Hnggh Gumi~” erang Yuuji, membusungkan dadanya. Rasanya lucu, karena whipped cream dingin menutupi putingnya, memberikan sensasi yang nanggung. Tapi Megumi malah sengaja mengabaikan santapan enak itu.
Karena tidak sabar, Yuuji menjambak rambut Megumi, kemudian mengarahkan mulut Megumi ke gundukan whipped cream di sebelah kanan. Megumi menjilati whipped cream, sengaja memberikan jilatan-jilatan kecil agar lidahnya hanya mengenai whipped cream saja, tanpa mengenai puting Yuuji. Pastinya itu bikin Yuuji makin frustasi. Tapi lama kelamaan whipped cream pun habis, dan permukaan lidah Megumi yang agak kasar bertemu dengan puting Yuuji yang sudah mengacung. Yuuji makin membusungkan dadanya, dan menekan kepala Megumi agar semakin mengenai putingnya.
Setelah whipped cream di sebelah kanan sudah sepenuhnya habis, kini Megumi inisiatif untuk berpindah ke yang sebelah kiri, dan memperlakukannya sama persis seperti yang di sebelah kanan. Awal mulanya pelan-pelan, saat whipped cream sudah habis dia langsung berubah menjadi kasar, bahkan meninggalkan bekas gigitan di puting Yuuji. Tapi tak apa, soalnya Yuuji malah suka.
Dua spot whipped cream di dada Yuuji sudah habis bersih, meninggalkan bekas-bekas gigitan merah serta dua puting yang bengkak dan jadi kelewat sensitif. Pandangan Megumi turun dari dada Yuuji, kemudian ke perutnya. Agak kaget, karena Megumi melihat cairan putih di perut Yuuji. Ternyata tadi Yuuji sudah orgasme, tanpa disadari oleh Megumi. Tapi sekarang penis suaminya itu sudah setengah ereksi lagi.
At this point, Megumi sih HERAN. Kok gak ada habisnya sih, si Yuuji ini…
Megumi pun bergerak turun, memposisikan badannya di antara kedua kaki Yuuji. Ia meletakkan kedua paha Yuuji di pundaknya, kemudian merendahkan wajahnya sehingga ia bertatapan langsung dengan lubang Yuuji yang dipenuhi whipped cream. Apa ini gak jadi lengket, nantinya?
Tapi bodo amat, dengan rakus, Megumi mulai menjilati lubang Yuuji yang otot cincinnya agak longgar dan bengkak, karena seharian digempur oleh Megumi dan dimasuki butt plug. Megumi menjilat dan menghisap, mengejar rasa manis dari whipped cream. Dua paha di sisi wajah Megumi mulai menjepit kepalanya, tidak membiarkan ia pergi kemana-mana sampai si empunya klimaks. Dua tangan Megumi ia gunakan untuk membuka lebar-lebar pantat Yuuji, agar proses makan whipped cream ini jadi lebih lancar. Ia pun mulai memasukan lidahnya, membersihkan sisa-sisa whipped cream yang bisa ia raih. Megumi merasakan badan Yuuji menegang, kemudian bergetar hebat, kemudian kembali rileks. Yuuji sudah orgasme lagi.
Oke, Megumi jadi punya rencana baru. Kalau memang Yuuji ini gak ada capeknya, Megumi akan menghabiskan tenaga Yuuji dengan memberikan si rambut pink orgasme sebanyak-banyaknya. Ingat kan, Megumi bilang dia akan menjadi service top untuk Yuuji?
Megumi mengerang kesal entah sudah keberapa kali pagi ini. Lagi, dia mematikan paksa alarm di handphonenya. Tidak lama, terdengar suara pintu kamar terbuka. Megumi terlalu lelah untuk membuka mata, tapi dia tahu itu pasti Yuuji.
“Selamat pagi, Gumi~”
Megumi membuka sedikit matanya, dan mendengus kesal melihat Yuuji yang sudah berpakaian rapih, siap berangkat kerja. Dan yang paling menjadi tamparan keras untuk Megumi, Yuuji terlihat membawa semangkuk sereal di tangannya.
“Ini aku bawain sarapan,” Yuuji duduk di sisi kasur dekat Megumi, kemudian meletakkan mangkuk di nakas samping kasur. Yuuji menunduk untuk memberikan kecupan di dahi Megumi. “Kamu hari ini ke kantor?”
Ingin rasanya Megumi mengumpat, teriak ‘lo pikir!?’ . Tapi tenaganya sudah benar-benar habis. Jadi Megumi hanya menggeleng pelan, kembali memejamkan matanya.
“Oke, aku berangkat dulu ya.”
Lagi, Yuuji menunduk dan memberikan kecupan di dahi Megumi. Megumi hanya bergumam pelan, menjawab Yuuji. Tapi Yuuji gak kunjung pergi, dia malah masih duduk sambil ngeliatin Megumi. Megumi pun membuka matanya lagi, penasaran kenapa Yuuji masih di situ.
“Gumi, kamu marah ya?” tanya Yuuji, terlihat lesu. “Maaf ya, aku mainnya gak kira-kira. Habisnya, kan sudah lama kita gak seks. Udah lama juga gak seharian berdua. Ditambah kemarin kita anniversary, aku jadi kebawa suasana.”
Megumi cuma menghela napas berat.
“Gumi, ada yang sakit, ya? Maaf ya?”
Ini kenapa malah jadi kayak Megumi yang bottom dan Yuuji yang top ?
Ingat rencana Megumi semalam untuk bikin Yuuji capek? Yup, gagal total.
Setelah berkali-kali bikin Yuuji orgasme, suaminya itu malah gak ada capeknya. Akhirnya Megumi terpaksa menggunakan kembali si Joni yang udah agak overused itu. Tapi dihajar berkali-kali pun, Yuuji gak kunjung capek.
Malahan, mereka berubah posisi, jadi Yuuji yang di atas. Dan dengan semangat menggunakan penis Megumi untuk mencapai pelepasannya. Rasanya baik Megumi maupun si Joni udah gak ada harga dirinya.
Sampai-sampai Megumi bilang ke Yuuji. “Yuuji, sini kamu dudukin muka aku aja. Aku makan lubang kamu, tapi please jangan ganggu Joni lagi. Udah gak ada yang bisa keluar, sayang.” Iya, Megumi udah diperah habis sama Yuuji.
Megumi gak ingat banyak, yang jelas dia sampai ketiduran saking lelahnya. Terus dia sempat kebangun tuh, sekitar jam empat pagi. Dan dia menemukan Yuuji yang udah terlelap di sampingnya, udah bersih, kayaknya udah mandi lagi juga. Bahkan bekas-bekas sperma di badan Megumi juga kayaknya diseka sama Yuuji. Yang lebih absurd lagi, bahkan seprei juga diganti lagi sama Yuuji, saking udah acak-acakan dan kotor. Gimana coba caranya, Yuuji ganti seprai dengan Megumi yang tertidur di atas kasur? Sungguh kelewat canggih Yuuji ini.
Terus waktu alarm pagi mereka bunyi, Yuuji bangun seakan gak ada apa-apa. Dia siap-siap, pakai baju, bikin sarapan, berusaha bangunin Megumi berkali-kali. Bahkan dia bawain sarapan untuk Megumi, sebelum berangkat kerja.
Service top? Aduh, cuma angan-angan aja.
Megumi merentangkan tangannya, berusaha meraih ujung kepala Yuuji. Dia mengusap-usap rambut Yuuji, meyakinkan suaminya itu bahwa Megumi gak marah.
Iya lah, mana bisa dia marah ke Yuuji yang sekarang lagi natap dia kayak anak anjing dibuang begitu?
“Aku gak marah, Yuuji.”
“Yakin?”
“Yakin.”
Yuuji tersenyum lebar, kemudian kembali melayangkan kecupan di kening Megumi. Megumi tersenyum, hatinya penuh.
“Oke, aku berangkat dulu ya. Oh iya, aku udah masak kare buat kamu makan siang nanti. Um, terus nanti malam kemungkinan aku makan malam di luar sih, soalnya mau ketemu client . Nanti kamu angetin aja karenya buat makan malam lagi. Kalau ada yang mau dititip telpon aku aja ya. Bye!”
Dengan itu Yuuji pun pergi. Megumi terheran-heran.
Yuuji, dan staminanya yang gak habis-habis.
