Work Text:
Pagi tadi, Haechan terbangun di hotel dengan kondisi berkeringat. Sekarang lagi musim dingin di Amerika, tapi Haechan bangun seolah berada di puncak musim panas. Tubuhnya panas. Penghangat ruangan dimatikan, kemudian Haechan nyalakan pendingin, di tengah musim dingin di negeri Paman Sam.
Haechan kembali ke kasur, tidur menyamping dan menarik satu bantal, memeluknya di antara ke dua kaki. Haechan masih setengah mengantuk ketika kakinya tanpa sadar menjepit kuat bantal, kemudian menggerakan pinggul untuk menggesek bantal ke selangkangannya.
"Eungghh.."
Mata Haechan yang sudah setengah terpejam langsung terbuka lebar. Suara apa barusan yang keluar dari mulutnya? Apa ia baru saja mendesah?
Kesadaran pun langsung memenuhinya, Haechan merasa seolah tubuhnya disiram air dingin. Kantuknya hilang dan berganti perasaan cemas ketika menyadari selangkangannya terasa basah. Ponsel di meja kecil di samping tempat tidur ia ambil dengan gerakan terburu-buru untuk melihat aplikasi kalender.
Tidak, ini belum saatnya. Titik-titik merah di aplikasi kalendernya tidak menunjukkan hari ini sebagai hari ia akan mengalami heat dan Unconditional heat adalah hal pertama yang tidak boleh terjadi disaat jadwalnya sedang sangat padat. Haechan memejamkan matanya, masih berusaha menolak fakta bahwa dirinya heat ketika tubuhnya sudah sangat jelas menunjukkan gejalanya.
Hal yang selanjutnya dilakukan Haechan ketika sudah mulai bisa berpikir lebih tenang adalah membuka ponselnya dan mengabari Mark, alphanya, melalui pesan singkat bahwa dirinya heat.
Pesannya tidak kunjung berbalas, namun satu pesan dari Renjun di grup chat mereka muncul di notifikasi ponselnya, mengingatkan jadwal penerbangan mereka.
Haechan menghela napasnya. Jadwal padat sialan. Tubuhnya semakin panas, Haechan tidak bisa melawan kondisi alamiah yang dialami tubuhnya, tapi Haechan juga tidak bisa menolak jadwal yang harus dilaluinya.
Dengan malas Haechan bangkit dari tempat tidur kamar hotelnya, ia meraih tasnya dan mengambil dua botol obat berisi pil supressant dan scent blockers, kemudian menelan dua pil kecil itu sekaligus.
•••
"Aku mau duduk di sebelah Mark."
Haechan langsung memeluk lengan kiri Mark ketika semua anggota Dream berkumpul di loby hotel, menunggu mobil yang akan membawa mereka menuju bandara. Perkataannya yang barusan pun langsung disetujui dengan anggukan singkat oleh manajer mereka. Tapi Mark menatapnya bingung. Tidak biasanya Haechan bersikap manja, apalagi ketika mereka akan berhadapan dengan banyak kamera penggemar di bandara nanti.
"Kamu ga baca chat aku, ya?"
Helaan napas Haechan terdengar jelas begitu melihat ekspresi Mark yang sangat ketara menunjukkan bahwa ia tidak melihat pesan darinya. Haechan juga tidak bisa marah karena pacarnya ini pasti sibuk bersiap untuk terbang menuju lokasi jadwal mereka yang berikutnya.
"Aku heat." Haechan berbisik pelan tepat di telinga Mark dan belum sempat Mark menyuarakan keterkejutannya, mobil mereka datang.
Haechan duduk meringkuk di bangku paling belakang. Mobil mereka terisi penuh dengan Mark yang duduk di sisi kanan Haechan, kemudian Chenle dan Jeno di depan mereka, dan satu orang manajer duduk di sebelah supir yang merupakan orang Amerika.
Perutnya sakit sekali. Efek dari heat-nya. Mark yang melihat jelas Haechan menahan sakit pun mengulurkan tangannya, mengelus pelan wajah berkeringat Haechan yang terasa hangat. Sudah mulai demam, yang artinya Haechan benar-benar mengalami heat.
"Sakit banget?" tangan Mark beralih mengelus perut Haechan yang membalasnya dengan anggukan. Tubuhnya sedikit lebih rileks saat Mark menyentuhnya lembut.
Haechan memejamkan matanya, kepalanya bersandar penuh pada sandaran kursi mobil, ia menikmati elusan tangan Mark di perutnya. Tapi, tiba-tiba matanya terbuka lebar dan melirik tajam ke arah Mark ketika merasakan tangan Mark malah masuk ke dalam celananya.
"Mau apa?" Haechan berbisik pelan ke arah Mark yang terlihat santai dan tidak merasa melakukan kesalahan.
"Sebentar aja? Aku bantu biar kamu lega sedikit dan ga kesakitan banget."
Haechan menatap Mark ragu, namun tidak lagi menahan tangan alphanya yang semakin dalam memasuki celananya.
"Ahnghh.."
"Eummh.."
Haechan menggigit bibir bawahnya, berusaha sekuat tenaga menahan desahannya. Matanya terpejam dan tangannya membekap mulutnya sendiri. Kancing celananya sudah terbuka dan celananya turun sampai setengah pahanya. Haechan menolak ketika Mark ingin menurunkan celananya lebih jauh lagi.
Mark duduk menyamping menghadap Haechan. Tangannya bergerak di selangkangan Haechan, memijat lipatan vaginanya yang sudah becek.
"Anghh..!" desahan Haechan hampir tidak dapat ditahan ketika Mark menekan kuat klitorisnya, kemudian memasukkan satu jari ke dalam lubang vaginanya.
"Yang di belakang ngapain, sih?" itu suara Chenle, bertanya dengan nada sebal khasnya.
"Jangan lihat ke belakang, please!"
Gerakan tangan Mark terhenti, sedikit panik ketika pertanyaan Chenle barusan hampir membuat Jeno dan Chenle melihat area privasi Haechan.
"Haechan heat." lanjut Mark dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya dan membuat mobil gaduh dengan suara Chenle yang menjerit tidak percaya, manajer mereka yang terkejut, dan Jeno yang tertawa.
"Kalian nggak lagi sex di belakang, kan?" tanya Chenle dengan kepala yang tegak menghadap ke depan, sama sekali tidak berminat melihat kegiatan dua kakaknya di kursi belakang.
"No! I'm just.. fingering him" Mark menjawab Chenle dengan suara pelan di akhir kalimatnya. Jawaban yang kembali buat mobil mereka gaduh dengan suara Chenle yang menolak percaya dan Jeno yang cekikikan, menertawai teman dan anggota grup yang sudah ia anggap kakaknya sendiri di belakang.
"M-maaf udah ga bisa ditahan." Haechan bersuara dengan suara pelan dan serak akibat terus menahan desahan.
Haechan malu. Tapi mau bagaimana lagi, toh mereka sudah saling kenal sejak sekolah dasar. Hal alamiah seperti heat juga sudah menjadi hal biasa yang mereka bicarakan.
"Cepat selesaikan sebelum sampai bandara." suara manajer mereka menjadi final dari percakapan di mobil mereka dan membuat Mark kembali lanjutkan kegiatannya.
"Hmmpphh.." dan Haechan lebih berusaha untuk meredam desahannya yang sangat sulit ditahan.
Mark mempercepat kocokan jari yang ia mainkan di dalam liang vagina Haechan, sesekali menekuk jarinya, menggaruk dinding vagina Haechan tepat di titik manisnya sampai air mata Haechan mengalir ke luar bersamaan dengan orgasmenya.
Tepat waktu ketika mobil mereka belok ke arah Boston Airport.
Ketika turun, Haechan dan Mark terpisah. Mereka baru bertemu kembali ketika sudah melewati kumpulan penggemar juga reporter dan duduk di boarding lounge.
Haechan duduk di sebelah Mark. Bersandar lemas pada bahu lebar alphanya. Demamnya semakin tinggi dan pinggulnya semakin terasa pegal.
"Udah ga bisa ditahan lagi kalo gini." Jaemin tiba-tiba bersuara. Sekarang semua anggota Dream sudah tau kondisi Haechan. Dan Jaemin bangkit, mendekati tempat staff dan manajer mereka berkumpul, kemudian kembali membawa satu selimut yang pastinya milik staff perempuan mereka.
"Sini, cepat ditutupi pakai selimut."
"Hah gimana maksudnya?"
Semua anggota langsung menatap Jaemin bingung, tidak mengerti isi kepala pria berdarah AB tersebut.
"Kalian bisa quickie, kan?"
"Gila?"
"Serius mau suruh mereka gituan di sini?"
Jaemin dan ide gilanya. Mereka yang sudah menghabiskan waktu bersama selama 10 tahun pun masih suka tidak habis pikir dengan isi kepalanya.
"Ini serius. Haechan udah lemas banget. Mark juga gak mungkin jalan ke hadapan penggemar dengan penis tegang gitu."
"Oh, shit." Mark merapatkan kakinya begitu sadar penisnya sudah sangat tegang dan terlihat jelas dari luar celananya.
"Jaemin benar." Haechan mengangguk, menyetujui teman yang memiliki golongan darah sama dengannya.
Haechan memeluk Mark, kemudian naik ke pangkuannya.
"Hngghh.." kelamin mereka baru bertemu melalui perantara pakaian, tapi Haechan sudah merasakan vaginanya semakin basah.
Jaemin pun mengaitkan selimut sebatas perut Haechan, melilitnya sampai ke punggung belakang Mark. Sekarang semua orang hanya bisa melihat keduanya sebatas dada hingga kepala.
"Ya Tuhan, benar-benar sudah gila." Renjun mengalihkan pandangan dari lokasi Mark dan Haechan, kemudian memilih fokus pada ponselnya.
"Setidaknya lakukan di toilet sana!"
Jaemin mengedikkan bahunya, "Tidak ada waktu. Lagipula, di sini tidak begitu ramai."
"Annghh.." penis Mark berhasil masuk dan Haechan kelepasan mendesah, membuat seluruh anggota melirik ke arah mereka.
"Oh Tuhan, ampuni dosa-dosa kami."
Jaemin yang memulai ide gila ini hanya tertawa melihat reaksi teman-temannya yang lain, "Just try to make zero noise, guys!"
Haechan pun mengakui kalau desahnya tadi sangat fatal, maka sekarang Haechan beralih menggigit bahu alphanya yang tertutup pakaian sebelum mulai menggerakkan pinggulnya.
"I can't knot you here."
Anggukan Haechan beri sebagai jawaban, "Aku tau, hmmphh.." dan ia kembali menggigit bahu pacarnya untuk menutupi desahan ketika mulai menggerakan pinggul dengan ruang gerak yang sangat terbatas.
Mark memeluk tubuh Haechan yang berada di pangkuannya sekaligus menahan selimut agar tidak turun. Keringat terlihat membasahi wajah Mark yang mulai ikut memanas bersama Haechan. Bahu kecil omeganya menjadi tempat yang dipilih untuk ia sandarkan dahinya, menutupi wajahnya, dan meredam desahnya.
Haechan sangat berusaha, Mark juga berusaha, mengontrol nafsu dan membuat gerakan yang pelan dan pendek agar tidak mencuri perhatian orang lain. Tapi, gerakan pelan seperti ini pun sudah sanggup membuat Haechan menangis di balik bahu kekasihnya. Pertemuan kelamin dengan alpha di tengah siklus heat yang membuat tubuhnya jauh lebih sensitif ini benar-benar buat tubuh Haechan gemetaran merasakan nikmat.
Pemikiran bahwa dirinya sedang di tengah-tengah ruang publik sesekali memasuki kepala Haechan. Omega yang sedang berada dalam rengkuhan alphanya itu beberapa kali mengangkat wajah, melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang melihat ke arah mereka, kemudian kembali menggerakan pinggul. Adrenalinnya sangat terpacu, debaran jantung pun begitu terasa, melebihi ketika dirinya pertama kali menaiki panggung.
"Ahhngg.." suara desah Haechan begitu pelan, hanya sampai pada telinga Mark yang tepat berada di samping mulutnya. Tapi, Mark tau kalau Haechannya akan segera sampai.
Mark ingin ikut balas menggerakan pinggulnya, menusuk kuat dan dalam vagina omeganya, tapi tidak bisa. Mark hanya bisa mendorong pinggul Haechan dengan tangannya seiring pelepasannya yang juga sudah hampir tiba. Dinding vagina Haechan yang menjepitnya semakin kuat adalah pemicunya.
Haechan tidak lagi memperhatikan sekitarnya. Pelukannya pada tubuh Mark semakin kuat dan wajahnya yang basah akibat keringat dan air mata sudah benar-benar disembunyikan di bahu yang lebih lebar dari miliknya.
"Hngghh.."
"Ahhh.. Mark!"
Desah suara Haechan yang hanya bisa didengar oleh Mark semakin tidak terkendali. Mereka harus menyelesaikan ini segera, sebelum Haechan benar-benar hilang akal dan menjerit di tengah bandara.
Mark memeluk dan membantu memberikan dorongan pada pinggul Haechan. Dinding vagina Haechan semakin kuat menjepit penisnya,
"Ahh.. hnggh"
"Mark! Ahh.."
Penis Mark terasa seperti diremas kuat oleh vagina Haechan ketika omeganya itu mendapat orgasmenya. Mark memeluk kuat kepala Haechan di dadanya, menahan desahan omeganya agar tidak terdengar oleh orang lain. Ketika Haechan mulai tenang, Mark akhirnya balas memberikan dorongan, menusuk lubang vagina Haechan yang masih menjepit rapat penisnya, hingga kursi bandara yang didudukinya ikut bergerak, dan ia keluarkan banyak sperma di dalam rahim omeganya.
Napas keduanya berat dan bersahutan. Terengah-engah setelah melakukan kegiatan panas di area publik.
"Mark, di tas ada tisu." tangan Haechan menunjuk tas miliknya yang terletak tak jauh dari lokasi duduk mereka.
Tas Haechan di ambil dan susah payah dibuka oleh Mark yang hanya menggunakan satu tangan. Ketika mengeluarkan tisu, Mark lebih dulu membersihkan wajah Haechan. Masker hitamnya dibuka dan wajahnya diseka dengan tisu.
"Bibir kamu berdarah."
Haechan mengangguk, ia pun sadar tadi bibirnya terlalu kuat digigit untuk menahan desahan. Masker hitamnya kembali dipasang dan Haechan melepas penyatuan kelamin mereka, "Nanti saja, hngghh.. ahh.."
Beberapa lembar tisu Haechan ambil dan ia gunakan untuk membersihkan penis kekasihnya sebelum ia masukan kembali dalam celananya. Setelahnya, Haechan beralih membersihkan selangkangannya sendiri dan memasang celananya. Haechan pun turun dari pangkuan Mark dan melipat kembali selimut yang mereka gunakan sebelum dikembalikan.
Tepat pada saat itu, manajer mereka memanggil, menandakan waktu untuk mereka terbang menuju lokasi tour mereka yang berikutnya dan selama satu jam empat puluh lima menit di pesawat, Haechan hanya memaksa dirinya untuk tidur dan mengabaikan rasa tidak nyaman di selangkangannya.
•••
