Work Text:
“Lo seriusan gapunya temen lain apa gimana?” Gerutu Donghyuck saat melihat Mark Lee—sepupunya—dengan tampilan menyebalkannya mengajak untuk ke bar yang belum lama dibuka. “Gue beneran gak tertarik buat pergi ke tempat semacam itu. Seharusnya lo tau, kan dari dulu.”
“I know. I know you so well,” Mark justru tertawa melihat penampilan kuyu lelaki itu. Mark beneran pengen banget nyobain ke bar itu, sayang temen-temennya pada sibuk semua. Mau gak mau, ia harus nyeret seseorang yang tidak bisa minum untuk menjaganya. “Gue cuma butuh lo buat jagain gua. M’kay?”
Donghyuck mendecakkan lidahnya sebal. “You are not a five years old, Mark Lee. Gue tiga tahun dibawah lo, gue capek harus malsuin identitas terus. You should’ve think about this, okay?” Tetapi Mark tetap memaksanya. “Lo gatau gimana capeknya gue hari ini. Please, Hyuck. Temenin gue minum, sekali lagi aja. Habis itu gue gaakan lagi hubungin lo setahun, oke?” Pinta Mark yang membuat Donghyuck berdecak, lagi. Sekarang ia bingung, yang sebenarnya lebih tua di sini itu siapa? Tapi mau bagaimana lagi, kalau begini, ia cuma bisa mengiyakan.Segera setelah bersiap dengan pakaian seadanya, Donghyuck tau-tau sudah berada di mobil Mark dengan pemiliknya yang bersiul bahagia.
Donghyuck terus melamun selama di perjalanan, tahu-tahu ia bisa melihat plakat penanda lokasi bar itu. Pantulan lampu berwarna-warni turut serta menambah kesan ramai distrik kecil itu, seolah mengundang jiwa-jiwa nelangsa untuk mencari hiburan di sana. Tetapi Donghyuck tidak. Ia mendapat didikan yang ketat dari kedua orangtuanya. Jadi, ia tidak pernah terpikir untuk mencoba mabuk-mabukan seperti ini. Ia biasanya hanya menemani Mark, dengan memalsukan identitasnya—tentu saja. Karena Mark pernah kecolongan sekali waktu itu, dompetnya diambil. Jadi, ia lebih baik mengajak seseorang yang benar-benar tak berniat minum untuk menjaganya.
“Lo mau tunggu di mobil juga boleh, nih kuncinya,” Mark melemparnya, ekspresinya sumringah saat membuka pintu mobil. “Jam 12 seret gue pulang, ya? Please?”
Yang dimintai tolong hanya mengangguk sembari memutar bola matanya jengah. Lantas, ia harus apa selama empat jam ini? Mengendap di mobil sepupunya itu?
Akhirnya, ia pun memutuskan untuk turun dari mobil. Melihat-lihat sebentar juga bukan masalah. Donghyuck tahu benar seperti apa isi bar itu. Namun, demi mengusir kebosanan ia pun berniat masuk dan melihat hingar-bingar dunia malam yang sama sekali tak pernah ia sentuh.
Begitu masuk, alunan musik yang menggebu-gebu serta lautan orang-orang menyambutnya. Donghyuck sempat terkejut, untuk hitungan bar yang baru, pengawasannya tidak ketat. Tidak ada penjaga yang biasanya meminta kartu penduduknya. Lelaki Lee itu pun masuk, ketika ia memilih acak tempat duduk yang ada di dekat lounge, matanya menangkap wajah yang amat-sangat-tidak asing.
Huang Renjun.
Duh, Donghyuck benci setengah mati sama anak bandel itu. Lihat wajahnya saja sudah bikin muak. Lelaki yang suka berbuat onar di sekolah itu memang sudah lama sering mengerjainya dengan sengaja berbuat kenakalan agar Donghyuck mengurusinya. Itu terjadi sejak dua tahun yang lalu, dari awal dirinya menjabat menjadi Ketua OSIS sampai sekarang sudah purna.
Ia berencana kembali ke mobil milik sepupunya kembali—sebelum kedua mata mereka saling bertemu. Mata mereka saling menatap dalam diam, Donghyuck dan Renjun tidak saling melakukan apapun dalam beberapa detik. Namun, setelahnya Renjun mengambil sloki gelasnya. Sloki gelas yang di tangan sosok yang dibencinya diisi kembali dengan liquor yang Donghyuck bahkan tak tahu itu apa. Lantas, ia baru menyadari ia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ia rasakan. Ada perasaan tergoda melihat bagaimana cairan itu menetes di dagu hingga leher Renjun. Sejak kapan wajah menyebalkan dengan rona kemerahan itu nampak begitu membuatnya terkesima?
Sialan. Ia beneran gak mau dicap aneh-aneh, apalagi sama Renjun. Bisa aja itu jadi umpan meriam yang bikin citranya buruk di sekolah. Dirinya itu beneran gak mau berurusan sama Renjun! Jadi, ia pun langsung memalingkan muka dan berusaha pergi. Tanpa diduga-duga, Renjun ikut bangkit dari duduknya, berniat menghampiri lelaki itu dengan sempoyongan. Donghyuck meliriknya dari ekor matanya, pokoknya, ia harus benar-benar keluar dari sini!
Renjun berusaha meniti sosok itu dari lautan manusia, posisi mereka tidak begitu jauh yang membuat Renjun bisa melihat lelaki yang setiap bertemu akan selalu mengomelinya itu. Ia pasti tak salah lihat! Itu benar-benar Donghyuck! Untuk apa tetapi lelaki yang alim seperti itu mampir ke tempat ini? Di tengah pemikirannya, ia ditabrak oleh seorang lelaki berumur yang masih mengenakan kemeja kantorannya. Renjun mendesiskan umpatan, namun lelaki itu hanya menangkupnya dengan senyum yang sulit ia jelaskan.
“Hei, mau sama om hari ini, cantik?” Katanya dengan nada menggoda. Renjun menatapnya jijik dan menepisnya. Ia cukup sober, kok. Ia datang kemari hanya untuk minum dan meluapkan rasa kesalnya, bukan bermain dengan om-om tidak jelas seperti ini. Lagian, dia juga gak nafsu. “Iyuh! Lepasin, gak!” Pemuda itu berusaha melepas lengannya dari cekalan lelaki aneh itu. Badannya gemetaran, takut!
Donghyuck mendengar suara itu di tengah bisingnya suara musik DJ Koplo yang ada. Ia tidak begitu jauh dari posisi mereka berdua, sebenarnya, jadi ia cukup bisa melihat bagaimana pemuda itu dicekal oleh seorang lelaki berumur yang seperti om-om bejat itu. Lee Donghyuck bingung, ia harus bagaimana? Ia benci sama Renjun, setengah mati bencinya. Dari zaman ia masih menjabat sebagai Ketua OSIS sampai sekarang, lelaki itu terus membuatnya kesal. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mungkin kan diam saja melihat seseorang terang-terangan diseret oleh lelaki bejat seperti itu? Terlebih lagi, wajah Renjun itu manis. Sulit bagi seseorang untuk melepasnya begitu saja. Takutnya, beneran diapa-apain lagi.
Setelah perdebatan panjang dengan isi kepalanya sendiri, Pemuda Lee itu memutuskan untuk menghampiri mereka dan menarik Renjun darinya. “Maaf om, kalau mau cari yang cantik-cantik dan bisa digodain itu LC banyak.” Kata Donghyuck sembari merangkul Renjun yang masih gemetar. Lelaki itu begitu pas dalam rangkulannya, sangat kecil dan rapuh. Seolah-olah ia berbeda dengan Huang Renjun yang suka berbuat onar selama ini.
“Ah, iya...” Lelaki itu pun mundur, kelihatan sebel soalnya gak jadi mengambil mangsanya. Kemudian pergi entah kemana. Sementara Renjun diam saja di dalam kukungan Donghyuck, tak mengucap sepatah katapun. Tanpa diduga, Renjun berpindah menjadi menggelayuti dadanya. Wajahnya itu menatap Donghyuck dengan binal. “Seorang Lee Donghyuck bisa di bar baru kayak gini? Impressive.” Ia tertawa seolah kejadian sebelumnya bukanlah masalah besar. Sementara Donghyuck mengernyit ketika mencium bau alkohol yang menguar dari pemuda itu. “Gue di sini cuma nemenin sepupu gue, oke? Stop berasumsi. Dan, lo bau alkohol.”
“I know,” Renjun tetap tak melepaskan dirinya dari pemuda itu, malah mengusap-usap wajahnya ke dada bidang Donghyuck. “Gue masih sober, kok.”
Si Lee meliriknya skeptis. Mungkin, beberapa saat yang lalu Renjun masih sadar. Tetapi kalau sekarang, Donghyuck tidak yakin.
“Lo cakep deh.” Renjun menatapnya, kemudian mencekal dagu Donghyuck yang kebingungan. “Kalo aja bisa stop marah-marah.”
Mau stop marah atau enggak gue mah cakep dari lahir! Protes Donghyuck dalam hati. Namun, pandangannya terkunci pada pandangan sayu si Huang. Seolah mengundangnya untuk melakukan hal impulsif di kepalanya.
“Ganteng.” Renjun membisikkan kata itu tanpa sadar, Donghyuck hanya mengernyit dan berteriak, “Apa?!” Karena kebisingan yang membuatnya hanya bisa melihat pergerakan bibir si Huang. Itu membuat ide licik tercetus di kepala Renjun. Sekali lagi, ia masih amat sadar. Dan ia juga sadar bahwa pesona Donghyuck sejak lama memang membuatnya jatuh cinta. Oleh karenanya, ia selalu caper dengan berbuat onar pada lelaki itu. Selagi ada kesempatan besar sekarang, walaupun Renjun sedikit heran kenapa Donghyuck ada di sini, ia tak bisa menyia-nyiakannya, ‘kan?
“Deketan biar jelas.” Segera setelahnya, Renjun melingkarkan tangannya pada leher si Lee. Dan menariknya mendekat sampai-sampai napas satu sama lain menerpa wajah mereka. Donghyuck nampak kebingungan, “Apa yang lo—,” Belum sempat kalimat Donghyuck selesai, Renjun menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Donghyuck membeliak, ia berusaha melepaskan diri karena keterkejutannya. Namun, Renjun menahan tengkuknya. Bibir lelaki manis itu mencecapinya. Donghyuck menatap mata Renjun yang tertutup, bulu matanya yang panjang dan juga pipinya yang merona.
Siapa yang tahan coba kalau begini?
Fuck it, lah. Donghyuck masa bodoh, pikiran impulsifnya sudah terjadi. Ia melingkarkan lengannya di pinggang mungil Renjun, memperdalam ciumannya pada lelaki itu. Skillnya nol besar, kebanyakan cuma bekal dari film porno yang pernah dua tiga kali dia lihat. Ada bekas liquor yang Donghyuck tak tahu apa di bibir si manis, ia memperdalam ciumannya—memaksa Renjun yang kewalahan mengimbanginya.
Setelah beberapa saat Renjun mendorong lelaki itu dengan napas yang carut-marut. Wajahnya semerah tomat, ada ceceran saliva yang mengkilap di bibirnya. Donghyuck menjilat bibirnya. Gak, gak! Gak harusnya begini, gue kan cuma nemenin Mark!
“Lo jago juga ya, siapa sangka anak alim begini ternyata jago banget kissing,” Renjun tertawa, menampilkan wajah mengejeknya yang tengil. Biasanya, Donghyuck akan murka melihat wajah itu. Tetapi kali ini, ada suatu hal yang terbakar memanas di tubuhnya. Dan dirinya tahu kalau itu tak seharusnya terjadi.
“Wanna try it with me?” Renjun menempelkan tubuhnya pada Donghyuck, seolah memantik api yang siap berkobar pada si Lee, menggesekkan organ intim mereka yang masih berbalut celana. Donghyuck memalingkan mukanya yang memerah, emangnya boleh ya begini...?
“Ayolah, masa lo cupu sih. Tadi ciuman aja jago, gak yakin gue lo di ranjang masa gak jago.” lelaki berambut hitam legam yang sedikit acak-acakan itu menaik-turunkan alisnya menggoda. Ia memaksa agar Donghyuck menatap ke arahnya.
“Gue kesini cuma nemenin sepupu gue. Gak bisa ditinggal, nanti dia kecolongan lagi.” Kata Donghyuck tegas sembari menjauhkan Renjun yang masih menempelkan tubuhnya pada dirinya. Mendadak kebisingan distrik malam itu menjadi gaung di telinganya. Pesona Renjun memang bukan main, mampu meluluhlantakkan seluruh panca indranya. Ia jadi merasa tolol.
Sebenernya, Renjun juga bercanda. Dia gak beneran mau ngelakuin hal itu sama lelaki itu. Ia tahu betul orang seperti Donghyuck gak mungkin meruntuhkan temboknya buat hal receh kayak gini. Bahkan, setelah digrepe-grepe pun Donghyuck juga nggak tegak. Ia cuma suka melihat reaksi lelaki itu, sangat lucu. Ia hanya tersenyum jahil sebelum pura-pura kecewa dan melepaskan cekalannya dari lelaki yang Renjun bisa lihat memerah telinganya itu.
“Ah, iya juga. Ngapain gue percaya sama laki-laki alim kaya—,” Belum selesai lelaki bermulut besar itu bicara, mulutnya dibungkam oleh ciuman lagi. Kali ini ciuman itu kasar, bagaikan singa lapar yang sedang mencabik-cabik mangsanya dengan ganas. Renjun mengerang, seluruh tubuhnya terasa lemas kala bibir si Lee terus menerus meraup bibirnya, memaksanya untuk mengimbangi ritmenya. Renjun melemas, Donghyuck memegangi tengkuk dan punggungnya—memaksanya untuk tetap kokoh pada kedua kakinya.
“Donghyuck! Gue cuma bercanda, oke?! Kita—,” Lagi-lagi, ucapannya terpotong kala Donghyuck menutup bibirnya dengan tangannya. “Lo yang minta, kan? Oke, gue jabanin.” Tatapan Donghyuck menjadi tajam, tak seperti yang biasanya. Itu membuat Renjun meremang, hingar-bingar dunia malam itu bagaikan tak memenuhi telinga. Kedua tangannya ditarik keluar dari tempat itu, menuju hotel ecek-ecek yang ada di depannya. Sebenarnya, tempat itu sengaja dibangun tepat di depan hotel butut tersebut. Untuk memfasilitasi hunian penyalur hawa nafsu yang tak sempat diselesaikan di dalam bar tersebut.
Renjun berkeringat dingin kala Donghyuck memberikan kartunya ke resepsionis. Tunggu dulu! Bukankah ini termasuk kejahatan?! Mereka adalah anak sekolah!
“Donghyuck, tunggu dulu! Kita gak bis—,” Tubuh mungilnya dilempar pada kasur—yang cukup empuk sebenarnya, walau tidak seperti hotel bintang lima—Si Lee hanya melepas tasnya, menghela napasnya sebentar sebelum menatap makan malamnya di ranjang yang masih mencerna keadaan. Semoga Mark gak marah kalau dia samperin agak telat.
Donghyuck tidak benar-benar tahu soal sex. Apalagi, sesama pria. Bokep yang selama ini dia tonton tentang pria dan wanita, ia menatap Renjun dengan kaos putih polosnya dan celana jeans biru muda itu berbekal insting binatangnya. Kemaluannya sudah tegak sedari ciuman tadi, sebenarnya. Ia tau betul kalau tidak seharusnya mereka berdua ada di sini, bisa saja ia keluar dan meninggalkan lelaki itu, kemudian berusaha melupakan segalanya ketika bertemu kembali. Namun, tubuhnya mengkhianatinya.
Ia menatap Renjun lekat-lekat. Donghyuck tidak sadar, sejak kapan Renjun ternyata secantik itu? Lelaki itu memiliki tubuh yang ramping, pinggang mungil, serta pantat sekal dan juga wajah yang manis.Rambut hitam berantakan, bibir merah yang masih mengkilap karena ludah, dan juga wajah terengahnya mungkin adalah bonusnya malam ini.
Donghyuck menaiki ranjang, mendorong Renjun agar tetap terkukung di bawahnya. Wajah manis itu tegang kala Donghyuck mengusap wajahnya dengan telapak tangan lelaki itu. Donghyuck kembali menunduk, menyerbu bibir Renjun. Tiga kali mereka berciuman, dan tiga kali juga Renjun merasa pening. Kali ini, lelaki di atasnya itu yang menggesekkan tubuh mereka yang menempel erat. Si Huang merasakan bahwa ada sesuatu juga yang hampir meledak di dalam dirinya.
Sialan.
Ciuman Donghyuck turun, ke lehernya. Memberikan kecupan pelan yang tak meninggalkan bekas. Erangan pelan tanpa sadar lolos dari bibir Renjun, membuat Donghyuck tertawa pelan mendengarnya. “Yang keras, gue mau denger semuanya.”
Renjun memerah, ia berusaha untuk memalingkan wajahnya dari si Lee. Ini adalah hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya! Tiba-tiba lelaki itu menarik kaos putihnya, membuatnya setengah telanjang dengan celana jeans yang masih menyiksa bagian bawahnya.
“Lo ternyata cantik, ya.” Donghyuck mengecupi dadanya, sesekali memainkan dua tonjolan yang ada di sana. Renjun hanya mengerang, dia gak pernah tau kalau putingnya sensitif banget. Rasanya enak, apalagi saat Donghyuck dengan iseng mengulum salah satunya sementara satunya lagi diputar, dipilin, dan juga disentil. Dinginnya kamar juga menambah tegangnya tonjolan itu, yang membuatnya semakin mengerang.
“Ah—D, Donghyuck!” Ereksinya sakit karena terangsang hebat. Segala kenikmatan ini menumpulkan indranya. Belum apa-apa, isi otaknya udah berceceran kemana-mana. Donghyuck kembali tersenyum jahil, ia menjilat bibirnya, melihat hasil karyanya yang indah. Ternyata, insting binatangnya beneran bisa diandalkan. Buktinya, Renjun kelonjotan sekarang.
Ia melepaskan kancing celana si Huang, begitu dibuka, ia bisa melihat ereksi yang ditutupi oleh celana dalam. Ini pertama kalinya bagi Donghyuck melakukan hal-hal semacam ini, ia hanya mengandalkan nafsunya dan kinerja otaknya yang setengah berfungsi. Disuguhi lelaki setengah telanjang dengan suara desahan yang merdu membuatnya sedikit gelap mata. Ia ingin mencecapi lelaki ini tanpa sisa.
“Renjun, buka lacinya. Coba cari ada lubrikan gak di sana.” Perintah Donghyuck dengan suara seraknya. Renjun mulanya mau protes, tapi melihat Donghyuck yang nafsunya sudah di ujung tanduk begitu, ia beringsut dan membuka laci nakas di samping tempat tidur. Benar, ada lubrikan dan juga kondom di sana. Apa semua kamar di sini emang sengaja dilengkapi dengan ini?!
“Hng.. ini,” Renjun mengerang pelan kala memberikan lubrikan itu. Pasalnya, celana dalamnya tiba-tiba dibuka dan menampilkan ereksinya yang tegak. Jelas lelaki itu malu, apalagi dirinya sudah telanjang bulat dan lelaki di atasnya bahkan belum melepas satupun pakaiannya.
“T, Tunggu! Gak adil kalo cuma gue yang telanjang, kan...?” Renjun memohon, berusaha menyelamatkan wajahnya. Donghyuck awalnya kesal, namun itu ada benarnya. Ia bahkan baru nyadar kalau masih berpakaian lengkap sementara Renjun udah hampir telanjang bulat. Jadi, ia melepaskan pakaian atasnya, dan melucuti celananya hingga hanya tersisa dalamannya saja.
Renjun nampak berkedip sejenak melihat badan lelaki itu. Wow, just wow. Sexy banget, parah. Kayaknya, Donghyuck rajin ngegym deh, dilihat dari perutnya yang agak ngebentuk sixpack. Renjun gak nyadar kalo dia hampir ngeces liatnya. Ia belum pernah tertarik banget sama seseorang, tapi Donghyuck itu beda. Pesonanya bukan main, Renjun suka semuanya dari pemuda itu.
“Woi, lo masih di sini, kan?” Donghyuck melambaikan tangannya di depan wajah si Huang yang sibuk melamun. Renjun akhirnya seperti dikembalikan ke realita, ia menatap si Lee sengit. “Urgh, cepetan ngapa! Gue udah... gak tahan...,” Renjun mencicit di akhir kalimatnya, ia sebenarnya kepalang malu mengatakan hal itu. Namun, Donghyuck juga gak bakal tau, kan jikalau ia sebenarnya masih sadar? Walau itu bisa diragukan juga, lelaki mabuk mana yang masih sadar bisa berdiri saat melihat seseorang di depannya seperti ini?
“Gue bakal lanjutin, asal lo buat janji dulu sama gue,” Donghyuck menunduk, membisikkan sesuatu pada si Huang, “Jangan sampe kejadian hari ini bocor ke siapapun, kalau iya, lo beneran habis di tangan gue.”
Lelaki yang telanjang bulat itu menahan napasnya gugup, seluruh tubuhnya meremang mendengar ancaman itu. Ia memang sering diancam oleh lelaki itu, namun kali ini, rasanya berbeda. Dan itu menggetarkan sesuatu di hatinya. Ia hanya mengiyakan permintaan lelaki itu dengan anggukan cepat, tidak mau berkata apapun lagi.
Dengan segera Donghyuck akhirnya membuka lubrikan yang tadi Renjun berikan, ia melumuri seluruh tangannya dengan hal itu. Setelahnya, ia mendorong kaki Renjun agar mengangkang, memamerkan lubang yang dari tadi berkedut di antara dua gundukan pantatnya. Asli malu banget, cuma dia juga kepalang basah. Penisnya udah ngeluarin pre-cum dari saat ereksinya tegak diterpa angin pendingin ruangan. Mau gimanapun juga, ia perlu memuaskan dan dipuaskan.
Tangan kanan Donghyuck memegang penis si Huang, sementara tangan kirinya meraba-raba bagian luar lubangnya. Renjun terkejut, serangan itu bagai kejutan listrik baginya. Badannya tersentak, dadanya membusung. Suara-suara yang gak pernah dia keluarin sebelumnya tiba-tiba menggema gitu aja. Sentuhan di kemaluannya dan juga jari yang berusaha masuk ke lubangnya membuatnya pusing bukan main.
“Hngh... a, ah—!” Suara merdu si Huang mengalun, isi otaknya seakan carut-marut ketika tangan Donghyuck naik turun di penisnya, sementara ada satu jari yang menginvasi masuk ke dalam. Dia kelonjotan bukan main dengan semua ini, baru pertama kali dan rasanya enak bukan main! Siapa sangka bakal segini enaknya?
Renjun mendesis pelan sembari menatap lelaki yang sibuk mengobrak-abrik dirinya, pandangan sayunya berkaca-kaca dengan bibir yang sibuk megap-megap bagai ikan. “Donghyuck... a-ah... enak...”
Donghyuck menatap lelaki yang sibuk ia puaskan itu dengan senyum yang mengembang puas. Melihat wajah sayu itu membuatnya ingin terus menjahilinya seperti ini. Penisnya ikut sesak di dalam celana dalamnya melihat semua ini. Donghyuck merasa ajakan Mark itu tidak buruk juga. Karena jika ia tak menemani Mark, kejadian ini tak mungkin terjadi. Ia terus mempercepat tempo kocokannya, dan tak lama kemudian Renjun mencapai klimaksnya dengan napas tersengal hebat dan muka serta wajah merah merona.
“Udah puas, kan?” Celana dalam Donghyuck ia tarik turun, mempertunjukkan ereksinya yang tegak sempurna. “Sekarang giliran gue.”
Awalnya, Donghyuck mau ambil kondom di laci itu. Tapi liat Renjun yang lagi cantik banget pada afterglownya kayak gitu, dia beneran gelap mata. Ia mengambil sisa lubrikan, lalu mengocok penisnya pelan sembari menuang cairan itu. Kemudian, ia memposisikan penisnya pada lubang kecil si Huang. Sebenarnya, Donghyuck skeptis. Muat gak, ya? Ia sudah melakukan sama seperti apa yang film porno itu muat, penetrasi sebelum masuk. Tapi, ini lubang anus, bukan vagina. Apa bakal muat?
Donghyuck mencoba mendorong penisnya dengan memegangi pinggang mungil itu. Ia bisa merasakan Renjun menegang, hanya ada lenguhan pelan terdengar dari mulut yang sedari-tadi sibuk mendesah itu. Setengahnya bisa masuk, dan terjepit kuat di antara dinding lubangnya itu, Donghyuck mengerang nikmat. Ada perasaan yang sulit dijelaskan dari rasa ini, sementara Renjun nampak kesulitan menelan benda tak bertulang itu. Air matanya turun, membasahi pipinya dan juga bibirnya bergetar.
“Ugh... ah, sakit... g-gue gak bisa...” Renjun menutup matanya, membiarkan linangan air matanya semakin deras. Donghyuck akhirnya menangkup pipinya, memberikan ciuman pada bibir lelaki itu sembari menghentakkan pinggulnya agar seluruh penisnya bisa masuk. Itu berhasil, dan membuat Renjun melepaskan ciumannya secara sepihak. Lelaki itu menjerit sebelum kepalanya menengadah, memamerkan jakunnya yang naik turun dan kulit putihnya yang dipenuhi keringat. Ada rasa sakit yang nikmat di tubuhnya ketika menerima hentakan itu.
“Tuh bisa,” Donghyuck berkata pelan, ia memegangi pinggul lelaki itu, sebelum menghentaknya lagi. “Muat nih, muat banget malah.”
Sial, ini mah enak banget!
Darahnya seperti mendidih, jepitan Renjun pada kemaluannya membuatnya hilang akal. Sempit, basah, juga anget. Dia pengen terus masuk, mengobrak-abrik apa yang ada di dalem Renjun, bikin dia kelonjotan, dan terus mendesah dengan merdu. Lelaki yang ia masuki itu hanya bisa mendesah-desah saja bagai tak punya kosakata lain, isi kepalanya hilang bersamaan dengan tiap tusukan brutal di prostatnya itu. Dia gak pernah tau kalo Donghyuck sebrutal ini! Menghentaknya tanpa ampun, membuatnya cuma bisa merasa nikmat tanpa mikir apapun lagi.
“Hey,” Donghyuck menatap Renjun yang hilang fokus, wajahnya berantakan bukan main. Bercucuran air mata dan juga liur, cantik banget. “Sebut nama gue... please...?”
Renjun kepalang pusing sama stimulasi Donghyuck. Penisnya kaya mau ngeluarin semen lagi, lubangnya penuh. Di tengah kekacauan itu, dia cuma bisa mendesis pelan sembari menggulung bola matanya keenakan, “Ah... urgh... D-Donghyuck—dalem banget....!”
“Tapi lo suka, nih. Punya gue dimakan semua.” Donghyuck mencengkram kedua kaki jenjang bak kaki perempuan itu, mengangkatnya pada kedua pundaknya. Semua ini serasa nirwana, desahan Renjun yang menyebut-nyebut namanya serta suara kecipak basah kulit mereka bikin dia ngerasa terbang. Ini bahkan lebih baik daripada minum-minum sembari joget dengan musik DJ Koplo yang keras itu! Salah satu cecapan dari nirwana yang ia cicipi dengan nikmat saat ini.
“Donghyuck! Gue keluar—hng.. ah!” Renjun menyemburkan maninya, lagi. Donghyuck belum mencapai klimaksnya, ia menghentakkan pinggulnya lebih brutal, mengejar pelepasannya. Kemudian, ia menyemburkan cairannya di dalam lubang si Huang, kepalanya mendongak nikmat. Donghyuck mendesah panjang, dengan mulut menganga dan juga jakun yang naik turun. Tubuh mereka berdua basah oleh keringat dan juga semen mereka sendiri. Sprei kamar itu sudah gak berbentuk lagi, tapi mau gimana lagi? Donghyuck melepas penisnya dari lubang itu, membiarkan cairannya meluber bersamaan dengan lubang lelaki manis yang masih berkedut itu.
Renjun sudah tak bisa berkata apapun lagi, suaranya habis. Rasa nikmat membuat kepalanya kosong. Ia mengantuk, pandangannya pun mulai terdistorsi. Ini adalah pengalaman paling menakjubkan yang pernah ia alami. Lebih nikmat dari alkohol yang membasahi kerongkongannya.
Donghyuck memposisikan dirinya di samping si Huang, mendekap tubuh si manis yang sudah terlelap karena lelah. Sejenak, ia lupa dengan tujuan awalnya setelah pergumulan panas yang baru saja mereka lakukan. Mereka terlelap tanpa tahu bahwa waktu sudah menunjukan pukul lima subuh.
Mark Lee (Jangan Dibales)
Donghyuck lo di mana?! Untung gue masih waras, ayo pulang!
Send. 01:10 AM
Hyuck please lo yang bener aja ninggal gue ini? Kunci gue mana??? Lo pulang pake taksi apa gimana???
Send. 01:12 AM
22 Missed Calls
