Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-12-22
Words:
1,142
Chapters:
1/1
Comments:
7
Kudos:
137
Bookmarks:
10
Hits:
13,021

penasaran aja sih, tapi...

Summary:

ini cerita soal mark yang menghampiri pacarnya sehabis ia selesai manggung di festival kampus

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

mungkin seharusnya mark memikirkan lagi keputusannya sepuluh menit yang lalu. 

 

sebenarnya itu tidak ada maksud apa. normal saja 'kan ia ingin berkunjung ke ruang tunggu belakang panggung sehabis "pacar" nya perform di acara festival kampus. mark sendirinya adalah panitia, namun dia memilih masa bodoh dengan pekerjaannya ketika ia melihat adanya sebuah kesempatan untuk kabur sebentar saja dan melihat bahwa pacarnya sudah berjalan turun panggung sehabis penampilan sepuluh menit mereka. 

 

tanpa pikir panjang mark segera mengejar, di kepalanya hanya ada park wonbin, park wonbin, dan betapa ia harus mengatakan seberapa kerennya pemuda itu di mata mark tadi 

 

kemungkinan tidak begitu memikirkan apa yang wonbin pikirkan juga saat baru saja turun punggung. 

 

akan bagaimana efek dari mark yang memegang pundak anak itu dengan sayang, akan bagaimana senyuman cerah nya membangkitkan sesuatu dari diri yang lebih muda yang saat ini ditengah-tengah adrenalin pasca perfomance-nya yang intens itu.

 

membuat mereka berakhiran disini, di ruang tunggu belakang panggung sesaat setelaj sapaan ramah mark padanya dibungkam dengan sebuah ciuman menuntun dari wonbin hingga membuat anggota band yang lain salah tingkah, tak terkecuali pun juga mark yang hanya bisa bengong ketika habis dicium tiba-tiba. tapi melihat jelaga hitam wonbin menatap kearahnya dan sedikit berkedip lambat, penuh keinginan yang tidak bisa diucap, mark segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

 

mengiyakan dan membiarkan wonbin kembali menciumnya dengan putus asa dibalik pintu yang terdebam keras di belakang mereka. 

 

"santai, santai, bin." walau bilang begitu, rasanya sedikit sia-sia juga karena indra pendengaran wonbin seperti tertutup dan gerakan tangannya meremas beberapa bagian tubuh yang lebih tua bukannya malah jadi pelan malah semakin kasar hingga mungkin saja sudah lecek dibalik telapak tangannya. 

 

oh astaga dasar tidak pengertian sekali kamu mark. pacarmu sedang intens-intensnya isi kepalanya kamu malah datang begini dan mengacau begini? sekarang tahu rasa 'kan? 

 

ya well, 

 

he never said he didnt like this kind of wonbin though.

 

"gak kemana mana... aku gak kemana mana—ngh." hela napasnya berat, begitupun juga dengan wonbin. untuk kali ini anak itu akhirnya berhenti, menarik napasnya sembari menatap mark yang terkunci di dekapannya, "maaf kak... aku .... tadi soalnya lagi seneng banget... aku jadi nggak tahan."

 

"karena shownya sukses?"

 

anggukan pelan, "karena ketemu kakak juga... "

 

mark tanpa sadar tertawa, lengannya diletakkan pada pundak wonbin makin mempererat dekapan mereka, "keren loh tadi kamu."

 

mata wonbin mengerjap antusias, "iya? kakak lihat tadi?"

 

"iya." kekehnya, ada pikiran jahil terlintas di pikiran yang lebih tua saat melihat bagaimana reaksi wonbin saat dipuji. matanya mengedar ke bawah, mulai bergerak mengambil jemari tangan wonbin yang ada di pinggangnya, "you look great and also makes me wonder."

 

i never knew you were that good when using your fingers.

 

awalnya wonbin tidak paham namun senyuman yang lebih tua membuatnya segera mengerti apa yang ada di pikirannya, "memang apa yang kakak penasaranin?"

 

endikan bahu, cengiran makin melebar, "i don't know... maybe it also do good on somewhere else other than the gui—oh... "

 

mark terkesiap, jemari yang dipeganginya kini sudah turun ke bawah. ke tempat yang sedari tadi memang sudah ia inginkan sekali untuk disinggahi oleh wonbin. kecupan yang lebih muda kini berlanjut ke rahang yang lebih tua saat ia menengadah karena permainan jemarin wonbin yang semakin berani di bawah sana—memutari fabrik, menekan-nekan pelan di bagian tengah, dan menggeseknya maju dan mundur—membuat paha mark merapat bergesekkan tidak nyaman satu sama lain, otomatis menjepit tangan wonbin di bawah sana.

 

"gila, kak. langsung kerasa rembes-nya."

 

ketika mark membuka matanya ia sudah merasakan celana kainnya sudah perlahan ditarik ke bawah, dan begitu sudah lepas sepenuhnya turun—tanpa basa basi, satu kakinya ia lingkarkan ke pinggang yang lebih muda, wonbin yang melihatnya tak kuasa menahan tawanya, "kak... apa kakak gak dicariin nanti?"

 

"make it fast then."

 

wonbin kembali terkekeh, mencium pipi yang lebih tua sembari menariknya untuk berpegangan padanya selagi ia menggendongnya, "kak i dont really know whats on your mind right now, about my fingers and everything else, but ill try my best on fulfilling that."

 

tubuh yang lebih tua dibawa menuju sofa, dibuat untuk merebahkan dirinya sendiri. jarak mereka yang semakin intim ini jelas merupakan sebuah kesempatan yang digunakan dengan baik oleh wonbin untuk semakin merapatkan diri mereka berdua, membuka paha yang lebih tua dan tentu saja melihat bagaimana celana dalam krem milik kakak pacarnya itu sudah meninggalkan jejak jejak basah yang ketara sekali disana.

 

"—ngh, bin! "

 

di saat itu lah juga wonbin melancarkan apa yang menjadi permintaan dari mark, mengobeli kelamin tembam-nya dengan jemarinya — menyingkap celana dalam nya hingga kemungkinan akan longgar sedikit karetnya sehabis mereka menyelesaikan ini. kepala mark mendangak ke atas, kaget dengan stimulasi namun secara lucunya, menyukainya hingga membuat ia perlahan-lahan merasakan bagaimana kepalanya makin kosong dan kosong seiring dengan suara becek becek memenuhi pendengarannya, "ah-ah-ah, wonbin—e-enak banget. k-kelua—bany-nyak! ah!" 

 

dirasakannya bibir kelamin itu makin menyesak, tapi tetap wonbin biarkan saja dan terus saja menyodok-nyodokkan jemarinya hingga ia bisa merasakan rembesan cairan di balik telapak tangannya dan juga suara jengah patah-patah mark di bawahnya. "bin, bin—bin, ngh!"

 

namun tidak berhenti disana karena rupanya wonbin masih ingin lebih. lebih, dan lebih merasakannya lagi—tidak tahan melonggarkan celananya sembari jempolnya memutar-mutari klitoris dari yang lebih tua yang masih kelojotan pasca orgasmenya, masih sensitif bukan main dan dia menangis karena itu. 

 

"cantik banget deh kakak begini." wonbin memajukan dirinya, mencium mesra mark di bibir, "bentar ya kakak cantik, aku entot dulu bentar."

 

benar saja, sehabis cumbuan mereka lepas. mark dapat merasakan bagaimana penis besar milik wonbin melesak ke dalam vaginanya—sontak membuat badannya terguncang ke belakang dengan hebat, dan cepat cepat ia mencari pegangan di bantalan sofa sebelum wonbin kembali menghantamnya lagi di dalam sana, membuatnya makin lemas bukan main di dalam kukungan pemuda itu dan hanya bisa menarik napasnya dan menjengahkannya dengan selipan nama yang lebih muda disana. 

 

butuh beberapa kali hujaman sampai akhirnya ia berhenti, mengeluarkan penisnya dari kelamin becek milik mark, peju ia keluarkan di tepi mulut kelamin, sengaja agar tidak kebablasan, namun juga tak hayal ia ingin persentase kemungkinan yang sedikit itu— sperma akan tetap masuk dan bisa membuahi walau cuma dilumuri di bagian bibir— akan terjadi pada kakak pacarnya. sebuah keinginan bodoh tapi tetap saja dilakukan setiap saat. 

 

"bin, bin... " mark membuka matanya sedikit. sepertinya sudah hampir turun dari orgasmenya,

 

"hm?"

 

"bin, aduh lemes banget. keknya nggak bisa ngejar acara deh."

 

kekehan, "yaudah disini dulu, nanti kalau ditanyaiin, bilang lagi sama aku aja."

 

diam sebentar, lalu mark mencicit, "ketahuan kalau habis ngewe dong."

 

"... memang kalau kakak bilang ketemu sama aku, berarti langsung diasumsikan ngewe gitu?"

 

"tapi kan... "

 

"udah itu aku aja yang ngurus kak."

 

wonbin memakaikan kembali celana kain yang tadinya tercecer di lantai, kemudian menepuk-nepuk pipi yang lebih tua yang masih memerah, "kakak tidur aja dulu."

 

kerjapan mata sebelum anggukan, "oke... tapi jangan bilang ngewe loh."

 

"iyaa."

 

ya tapi kan walau wonbin tidak bilang sekalipun. tapi kalau mereka nantinya akan melihat bagaimana cara jalan mark menjadi aneh tentu saja bakal mikir yang aneh-aneh 'kan?

 

 

Notes:

ini pertama kali saya pakai penulisan semacam ini, mohon dimaafkan jika sedikit terasa cringe. terima kasih 🙏🥰