Work Text:
“Taeyong!” Suara sang kakak yang melengking tinggi seketika membuat bulu kuduk si adik meremang. “Cara ngerjainnya tuh nggak kayak gini! Gimana sih?”
Taeyong meringis. Ia sebenarnya masih membutuhkan waktu untuk memahami penjelasan kakaknya, Jaehyun, tentang tugas kuliah yang sekarang sedang dikerjakannya. Ia tidak bodoh. Ia hanya butuh waktu lebih untuk mencerna materi baru.
Kalau ia memang lamban, maka seharusnya ia sudah tertinggal di semester-semester lalu. Atau yang paling parah, sudah mengundurkan diri. Namun nyatanya, 'kan tidak begitu. Malahan, Taeyong pernah mengikuti perlombaan antar perguruan tinggi, mewakili program studinya—walaupun pada akhirnya tidak membawa pulang piala. Namun, tetap saja, ia tidak sebodoh itu.
“Heran deh.” Jaehyun menghela nafas berat. Duduk di samping dirinya, pemuda itu juga melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa kamu nggak bisa secepat yang lain sih buat mahamin materinya?”
Lagi-lagi, Taeyong meringis. Bukan masalah cepat atau lambat dalam menyelesaikan teka-teki tugasnya. Akan tetapi, ia mempunyai cara belajar sendiri yang sebenarnya jauh lebih efektif daripada ditekan seperti ini terus. Belum lagi perihal watak Jaehyun yang mudah marah juga ikut mempengaruhi kepercayaan dirinya.
“Ya sudah.” Kali ini, figur yang lebih muda itu mengalah. Ia memandang Jaehyun sambil merengut. Semangat belajarnya sudah terlanjur menguap seiring berjalannya waktu. “Kenapa kakak nggak lanjut tutor temen-temenku aja? Aku juga nggak minta kakak ajarin, 'kan? Aku hanya nanya satu soal untuk mastiin jawabanku sudah benar atau masih salah!”
Taeyong selalu kesal setiap kali kakaknya itu mengungkit-ungkit kegiatan tutoring bersama teman-temannya. Jaehyun memang dikenal ramah dan baik hati jika dimintai tolong. Namun sayangnya, hal tersebut justru bertolak belakang dengan sifat pemarah pemuda itu. Jaehyun seringkali membandingkan adiknya dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain karena mereka berdua memang berkuliah di jurusan yang sama. Ditambah dengan fakta bahwa dirinya adalah seorang pemenang olimpiade juga membuat anak sulung itu menaruh harapan yang besar terhadap adik perempuannya.
Kalau kakaknya pintar, masa adiknya bodoh? Begitu yang kira-kira Jaehyun pikirkan selama ini. Mau seberapa keras Taeyong berusaha, Jaehyun akan tetap bisa menemukan kekurangan pada dirinya. Mengetahui hal itu, ia lantas jarang meminta bantuan kakaknya untuk mengerjakan tugas-tugasnya kalau sedang tidak dalam situasi terdesak, seperti sekarang ini. Teman-temannya belum menjawab pesan singkatnya sedari tadi.
“Heh!” Kursi Taeyong mendadak ditarik mendekat ke arah Jaehyun, membuat tubuh si cantik tersentak kaget. Wajah mereka kini nyaris terantuk satu sama lain saking dekatnya. Dari jarak mereka sekarang, Taeyong bahkan sanggup memperhatikan lentiknya bulu mata sang kakak dengan lebih jelas. Begitu juga dengan bibir merah mudanya yang tebal. Tidak seharusnya kata-kata kasar terlontar dari rupa seindah itu.
Diam-diam, ia seringkali mengasihani hidup kakaknya. Hidupnya sudah nyaris sempurna jika saja ia bisa meredam sifat buruknya. Pemuda setampan dan secerdas itu tidak semestinya mempunyai masalah dalam pengendalian emosi.
Dan mungkin, masalah kemunafikan juga.
“Tapi kenyataannya masih salah juga, 'kan? Kalau kakak nggak periksa semua soalnya sekalian apa tugasmu masih bisa diselamatkan? Apalagi ini mata kuliah Professor Kim. Beliau itu tegas, Taeyong!”
Gertakan Jaehyun yang diutarakan tepat di depan wajah Taeyong membuat jantungnya berdegup cepat. Namun, ia diam saja. Ia memilih diam karena ucapan pemuda tersebut ada benarnya, walaupun tidak sepenuhnya.
“Memang ada beberapa soal yang sengaja belum aku selesaikan, kak. Aku mau simpan soal-soal itu untuk bahan diskusi sama teman-temanku yang lain,” terangnya.
“Halah. Ngapain nunggu teman-temanmu segala kalau ada kakak di rumah?”
“Ya, karena kakak nggak pernah sabar ngajarin aku!”
“Kamu nggak usah banyak omong dan sok pintar lah! Jangan bikin kakak nyesel punya adik kayak kamu!”
Oh?
“Kak?” Ekspresi Taeyong pecah detik itu juga. Ia langsung mengalihkan pandangannya tepat ke wajah kakaknya. “Apa sih?!” Ia balik membentak Jaehyun. “Hanya karena tugas kuliah sampai segininya?”
Getir. Hatinya langsung terasa getir. Belum pernah sekalipun seseorang berkata demikian, bahkan oleh kedua orang tuanya yang sudah merawat dirinya sejak lahir.
Taeyong tidak habis pikir. Ia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi kakaknya selain balik membentak pemuda itu untuk membela diri.
“Ya, itu lihat tugas kamu! Nyaris salah semua!”
“Itu bukan salah semua, kak!” Suaranya bergetar. Butuh berapa kali penjelasan sih sampai kakaknya itu mengerti? Kedua matanya sekarang mulai terasa panas. “Kan sudah aku bilang kalau memang ada yang belum aku lanjutin lagi. Itu bahkan belum hasil akhirnya!”
Alih-alih mendengarkan penjelasan adiknya, sang kakak hanya tertawa mengejek. “Udah lah. Banyak alasan aja.”
“Jeong Jaehyun, lu brengsek!” Taeyong seketika melampiaskan amarahnya dengan layangan telapak tangan yang mengenai tepat di pipi Jaehyun, membuat figur yang lebih tua itu langsung mematung di tempatnya.
Ibarat gasing yang dilempar dengan kasar, otaknya juga berputar sama cepatnya. Ia sudah muak dimarahi terus-menerus hanya karena masalah sepele atau karena bertingkah tidak sesuai dengan kehendak kakaknya.
Sebenarnya, ia tidak sedendam itu terhadap kakaknya. Di dalam keseharian, Jaehyun masih bertingkah layaknya seorang anak sulung normal pada umumnya. Ia hanya merasa kesal jika dirinya disinggung perihal kecerdasan atau masalah akademik terus-menerus. Akan tetapi, kalau amarah sang kakak sudah merembet ke hal lain, maka sudah tiba saatnya bagi Taeyong untuk berani membela diri.
“Kamu berani tampar kakak, Taeyong?” tanya Jaehyun dengan suaranya yang teramat pelan, namun disaat yang bersamaan juga terdengar dingin.
“Kenapa nggak? Kakak sering nyakitin aku pakai omongan, 'kan?”
Tanpa disangka Taeyong, Jaehyun dengan cepat kembali menarik kursinya mendekat dan mengunci kedua kakinya. Pun, kedua tangannya juga tidak luput ditekan dengan kasar oleh pemuda itu—membuatnya tidak bisa bergerak lagi.
Taeyong langsung meringis kesakitan. Teriakannya memekakkan telinga, bahkan di telinganya sendiri. Semakin lama, tekanan yang diterimanya juga semakin besar. Ia meronta-ronta diposisinya sekarang. Namun, berada di bawah kuasa kakaknya membuatnya tidak sanggup melawan balik karena fisiknya yang jauh lebih kecil.
“Kak, lepasin, kak!” Ia memohon. “Kak, udah!”
“Kamu barusan juga nyakitin kakak pakai omongan, 'kan? Hm?” Setiap perkataan yang dilontarkan Jaehyun, diselaraskan juga dengan tekanan yang diperbuat olehnya di telapak tangan dan pergelangan tangan si adik. Teriakan Taeyong juga semakin mengeras. Sampai sejauh ini, ia belum memberi pengampunan barang sedikitpun kepada adiknya.
Kalau saja kedua orang tua mereka ada di rumah, sudah pasti Jaehyun dan Taeyong dipisahkan sedari tadi, terlebih lagi dengan teriakan si adik yang semakin kencang. Suasana rumah yang sedang sepi tentunya mendorong Jaehyun untuk berani mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Salah satu tangan Jaehyun kini beralih ke wajah Taeyong untuk menangkup dagunya, memaksa si adik untuk memandang lurus kedepan.
“Sakit, 'kan dimarahi kakak terus? Sakit, 'kan dibentak kakak terus?” Genggaman tangan Jaehyun yang semakin mengencang kian memancing air mata Taeyong untuk mengalir lebih deras. Kedua tangannya juga sudah memerah.
“Rasa sakit itu juga yang kakak rasain saat lihat ruam-ruam di lehermu sepulang latihan lomba sama mantanmu itu. Kamu bohongin kakak, 'kan? Kamu pikir kakak nggak sadar?”
Hatinya mencelos. Ia benar-benar terkejut setelah mendengar pengakuan kakaknya barusan. Untuk beberapa saat, rasa sakit di tubuhnya tidak begitu dipikirkannya.
“Kak Jaehyun." Ia menelan ludahnya. "Aku nggak bohong, kak. Aku beneran belajar sama dia.”
“Bohong. Kakak nggak suka dibohongi, Taeyong."
Taeyong semakin terisak, masih berusaha meyakinkan kakaknya. “Beneran, kak!”
Jaehyun menyeringai. “Kalau mau bohong, harusnya tutup pintu ruangan 214 yang rapet sekalian biar desahanmu nggak bocor sampai keluar ruangan.”
Kini, giliran Taeyong yang membelalakkan kedua matanya.
Jadi, selama ini, kakaknya tahu? Kakaknya tahu kalau dirinya sudah sering bermain dengan laki-laki lain?
Ada setitik kekhawatiran yang mengikuti. Sekarang, ia jauh lebih takut kalau kakaknya justru akan menyebarkan rahasia kecilnya itu. Rahasia yang selama ini dipendamnya rapat-rapat. “Aku bisa jelasin. Kak, tolong dengerin aku dulu!”
“Coba kamu bayangin, Taeyong.” Jaehyun kembali melanjutkan perkataannya sembari terus mengencangkan genggaman di wajah cantik si adik, membuat gadis itu semakin meringis. Ia tidak menaruh perhatian pada penuturan adiknya beberapa detik yang lalu. “Coba kamu bayangin perasaan kakak saat tahu kalau adik cantiknya sudah dirusak orang lain.”
“Papa mama selalu nitipin kamu ke kakak, tapi kelakuanmu malah kayak gini di belakang kami.”
Sementara itu, tangan Jaehyun yang lain juga perlahan merayapi paha Taeyong—meremas gaun tidur yang sedang dikenakannya sembari sesekali menyingkapnya. Secara refleks, Taeyong lantas mengapit kedua kakinya.
“Kakak kecewa, Taeyong.” Tangan Jaehyun yang semula berada di sekitar dagu Taeyong sudah mendarat di pipi si adik, mengelusnya lembut.
“Kakak kecewa karena kakak kecolongan, sayang.”
“Kalau aja kakak tau dari awal kamu suka menyelinap buat ngentot di sana-sini, harusnya kakak yang lebih dulu nyicipin badan kamu dibanding orang lain.”
“Dan kamu nggak usah bohong berkali-kali buat jaga diri di depan keluarga kalau sebenarnya kakak bisa jebolin kamu kapan aja."
Belum sempat Taeyong mencerna situasi yang sedang terjadi dengan sebaik-baiknya, tiba-tiba saja bibirnya sudah dicium oleh Jaehyun. Detik berikutnya, ia tentu saja mencoba mendorong pemuda itu. Namun sayangnya, gigitan yang diterima di bibir bawahnya itu membuatnya tidak sengaja membuka mulut lebih lebar, mengundang sang kakak untuk lebih leluasa menyusuri lebih dalam.
Serangan panik terus menggoncang kesadaran dirinya. Ia terus memukul dada Jaehyun sebelum pada akhirnya, ia juga ikut tenggelam dalam ciumannya.
“Kak Jaehyun!” Nafasnya terengah-engah karena Jaehyun mulai menggerayangi tubuhnya. Kedua payudaranya diremas bersamaan hingga membuatnya berbisik lirih. Kedua telapak tangan Jaehyun yang besar terasa begitu sempurna menangkup kedua buah dada Taeyong. Masing-masing putingnya yang menonjol karena ketiadaan bra di sana pun tak luput dimainkan juga oleh Jaehyun.
“Kak! Berhenti!”
“Diam, Taeyong. Nurut sama kakak kalau nggak mau dimarahin lagi.”
Taeyong hanya bisa pasrah demi menuruti setiap perintah kakaknya supaya dirinya tidak dimarahi lagi.
Usapan-usapan itu perlahan melelehkan benaknya. Bibir, pipi, leher hingga dada Taeyong telah menjadi tempat pelampiasan nafsu kakaknya. Jaehyun kemudian membopong tubuhnya ke kasur dan merebahkannya di sana.
Taeyong bingung. Ia tidak seharusnya ikut larut dalam pusaran kegilaan yang tengah terjadi. Namun nyatanya, ia tidak bisa menampik fakta bahwa sentuhan demi sentuhan yang dibubuhkan di tubuhnya, perlahan menghidupkan desir terlarang dalam dirinya.
Untuk beberapa waktu, mereka berdua hanya bertatap-tatapan dengan deru nafas yang masih beradu. Di dalam kesunyian itu, Taeyong dapat menangkap sorot kehangatan yang terpancar dari kedua netra Jaehyun.
“I've been waiting for this, Taeyong.” Jaehyun mengecup dahinya. “Tell me you want this too.”
Perubahan sikap kakaknya tentu membuat dirinya merasa kebingungan. “Kak Jaehyun…”
“Kamu selama di rumah sering pakai gaun tipis tanpa bra. Kamu juga sering ganti baju di kamar kakak. Belum lagi sering minta tolong ambilkan handuk kalau lupa bawa ke kamar mandi. Kamu memang sengaja mancing kakak, 'kan?” Jaehyun meremas pahanya.
Pikiran Taeyong lantas melesat ke kenangan-kenangan itu. Ia sebenarnya tidak berniat menggoda Jaehyun. Ia hanya senang bergerak secara leluasa di rumah. Namun, kalau selama ini kakaknya, yang adalah seorang lawan jenis, ternyata mempunyai pandangan bahwa dirinya terlihat menarik, maka senanglah hatinya.
Terlepas dari Jaehyun adalah seorang kakak kandungnya, siapa yang tidak senang dianggap cantik oleh pria setampan Jeong Jaehyun? Terlebih lagi, kakaknya itu juga terlihat pandai dalam menyenangkan hati perempuan dengan belaiannya.
Sebuah ide lantas terlintas dalam benaknya. Taeyong kemudian menjilat bibirnya sendiri. “Kak, let's play a game.”
“What is it?”
“What do you want from me, kak?”
“What do I want from you?” Jaehyun mengulang pertanyaannya. Tangan kanannya lalu bergerak turun ke arah selangkangan Taeyong, mengusap bagian terdalamnya yang sudah berlendir hingga si adik berjengit. “This, I want this.”
Yah, tentu saja. Apa lagi yang diinginkan oleh seorang pemuda yang sudah terang-terangan menginginkannya?
Sentuhan jemari Jaehyun membuat Taeyong meloloskan lenguhan nikmat. Gerakan tangan kakaknya yang memutar, dan juga diselingi dengan penekanan di bawah sana berhasil mengalihkan perhatiannya sesaat.
“I'll give you everything if you let me do whatever I want with your body, dek,” bisik Jaehyun pelan sembari terus menggesekkan dua jari di sekitar klitorisnya. Sesekali ia juga menelusupkan jemarinya ke dalam liang senggama si adik, dan menggaruk dinding vaginanya.
Taeyong mengerang kencang. Erangannya itu kemudian disusul oleh orgasme yang juga menyapanya seperti gelombang. Cairan bening itu seketika membanjiri selangkangannya serta tangan kakaknya.
Yang biasanya ia melakukan adegan masturbasi seorang diri, kini giliran kakaknya yang mengambil alih. Sensasinya tentu berbeda karena jemari Jaehyun dapat menjangkau area vaginanya lebih dalam. Untuk beberapa saat, ia hanya sanggup memandangi kakaknya yang menarik keluar tangannya dari dalam liangnya, dan menjilati satu persatu jari-jari tersebut secara bergantian.
“Mau, dek?”
Taeyong menggeleng.
Gila. Mereka berdua sudah tidak waras.
Taeyong menelan ludahnya. “Kak?”
“Ya?”
“Kenapa aku? Aku, 'kan adikmu,” bisiknya.
“Terus kenapa kalau kamu adikku?”
Taeyong memandang kakaknya lekat-lekat. “Ya, nggak boleh, 'kan? Hal ini tuh dilarang.”
“Siapa yang ngelarang?”
“Agama? Norma masyarakat?”
Jaehyun hanya menyambut pandangan si adik dengan kedua alisnya yang terangkat.
“Kamu masih mikirin apa kata agama dan norma kalau kamu sendiri udah ngentot di publik?”
“Kamu memangnya masih mikirin apa kata agama dan norma pas lagi digenjot dari belakang sama mantanmu itu?”
Lagi-lagi, Taeyong terdiam seribu bahas. Sementara itu, muncul seulas senyuman puas pada paras Jaehyun. Seringaian yang menjadi tanda kemenangannya telak.
“Okay,” ucap Taeyong setelahnya. Jantungnya berdegup tidak karuan. "Kalau gitu, let’s play a game, kak.”
“Kakak boleh cium aku asal berhenti marahin aku.”
“Kakak boleh pegang-pegang badan aku asal berhenti banding-bandingin aku.”
“Kakak boleh ngentotin aku asal bantuin perkuliahanku berjalan mulus sampai seterusnya.”
Entah apa yang mendasari pernyataan Taeyong barusan, namun kalau sudah terlanjur basah, mengapa tidak sekalian menenggelamkan diri? Toh, ia tidak sendirian. Ada Jaehyun yang juga ikut terseret dalam arus permainan kotor ini. Dan ide perjanjian ini bisa menguntungkan mereka berdua.
Jaehyun tersenyum. Jenis senyuman yang jarang Taeyong temui akhir-akhir ini. Kedua lesung pipinya juga tercetak dengan jelas di wajahnya. Manis, teramat manis sampai Taeyong bertanya-tanya dalam hati apakah setelah ini ia bisa mencium sepasang ceruk itu.
“Deal.”
Perjanjian mereka disegel dengan sang kakak yang kembali mencium bibir ranum adiknya. Kali ini, Taeyong menyambut ciumannya dengan antusias, berusaha melupakan fakta bahwa mereka berdua adalah sepasang kakak adik yang tidak sepatutnya melakukan hal seperti ini.
Selagi kedua bibir mereka masih bertautan, Jaehyun dengan cekatan melepas pakaiannya sendiri serta gaun tidur adiknya. Kakaknya tidak membuang waktu banyak untuk segera mencicipi tubuh adik cantiknya itu. Taeyong pun sudah siap untuk menyambut pemuda itu dengan membuka kedua kakinya lebar.
“Kira-kira enakkan digenjot kakak atau mantanku, ya?” Tanya Taeyong usil.
Pertanyaannya tersebut membuat Jaehyun menampar kedua payudaranya keras. Alih-alih merasa nyeri, putingnya justru semakin mengeras. Dari dulu, tubuhnya memang mudah sekali terangsang oleh sentuhan.
“Kalau dia jago ngenakin kamu sih harusnya nggak secepat itu jadi mantan.”
Bertepatan dengan itu, Jaehyun langsung memposisikan penisnya di depan liang kewanitaannya, dan menghujamnya sekaligus. Pergerakannya itu lalu membuat si adik yang berada di bawah kungkungan pemuda tersebut tersentak kaget.
Dinding vaginanya lantas menjepit setiap senti batang berurat itu. Taeyong sebisa mungkin menikmati setiap pergerakan yang terjadi karena jauh di dalam hatinya, ia juga merindu untuk dipuaskan seperti ini.
Jaehyun kemudian perlahan menggerakkan pinggulnya, menyesakkan lubang kelamin milik Taeyong yang belum pernah dimasukinnya. Setiap genjotan kakaknya juga semakin menggundang desahan yang tidak lagi dapat ditahannya.
“Kak… Ah…”
“Hm?”
“Mentokkin lagi, kak.”
Sekarang, giliran sang kakak yang menuruti permintaan adiknya itu. Penisnya menekan bagian terdalam liang kepunyaan si cantik hingga akhirnya Taeyong melenguh nikmat tanpa henti.
“Ngh…” Taeyong membawa wajah Jaehyun mendekat untuk direngkuhnya. Ia mencium bibirnya penuh nafsu, dan langsung dibalas dengan lumatan yang tidak kalah kuatnya. Ciuman mereka pun semakin memanas.
Si adik kemudian melingkarkan kedua tungkainya pada pinggul sang kakak, memberi akses lebih leluasa untuk Jaehyun menggenjot liangnya tanpa ampun. Tubuh kedua insan itu bergerak seirama dengan desahan cabul mereka yang saling bersahutan. Pun, bunyi kecipak nyaring yang dihasilkan menjadi penanda jika Jaehyun memang lihai menyetubuhi seorang perempuan.
“Kak, enak, kak,” Racauan tidak jelas mulai menyeruak keluar dari mulut Taeyong setelah ia menyudahi ciuman mereka. Alih-alih merasa nyeri karena liangnya terus diusik oleh penis kepunyaan Jaehyun, tubuhnya justru menyambut sensasi nikmat yang dihasilkan dari persetubuhan mereka berdua.
Jaehyun hanya terkekeh pelan. “Enak, ‘kan dientot sama kakak sendiri?”
Taeyong mengangguk singkat. “Entotin aku terus, kak."
“Please kontol kakak enak banget,” ucap Taeyong kembali sembari salah satu tangannya turun untuk ikut mengucek klitorisnya sendiri. Di bawah sana, vaginanya sudah basah dengan lendirnya yang membasahi tangan. “Memek aku jadi hangat dan penuh."
Dapat dipastikan jika urat malu Taeyong sudah putus. Ia sekarang tidak lagi malu mengakui nikmatnya bercumbu bersama kakaknya. Jika sebelumnya ia sering merasa kesal kepada Jaehyun, kali ini ia justru meminta untuk dipuaskan terus-menerus. Kalau saja perjanjian mereka sudah dirumuskan sejak lama, hubungan mereka seharusnya ikut membaik seiring berjalannya waktu.
“Kontolin memek aku terus, kak.” Taeyong mendesah frustasi saat Jaehyun mulai meremas kedua payudaranya. Secara refleks, ia lalu membusungkan dadanya, mempermudah kakaknya untuk memilin putingnya. “Enak banget jepitin kontol kakak pakai memek sempit adek. Apalagi kalau dirojokin pakai lidah kakak juga.”
“Cabul banget mulutmu, dek.” Jaehyun menangkup dagu Taeyong tiba-tiba, memaksa si cantik untuk balik memandang kakaknya. “Siapa yang ngajarin?”
“Mantanku.”
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Taeyong. Kedua matanya lantas terbuka lebar.
“Nggak usah bahas-bahas mantanmu lagi lah,” bentak Jaehyun. “Sekarang giliran kakak yang ngentotin kamu sampai jadi lacurnya kakak seorang."
Amarah yang terbendung dalam perkataan Jaehyun itu lalu dilampiaskan ke aktivitas mereka. Pemuda itu semakin menghentakkan tempo permainan hingga membuat Taeyong mengerang kencang. Rasa nyeri dan nikmat lalu bercampur menjadi satu. Semakin dalam penisnya terbenam pada vagina Taeyong, semakin berkabut juga pikiran si adik.
“Buka mulut, Taeyong,” desak Jaehyun. Entah apa maksudnya, mau tidak mau, Taeyong pun segera membuka mulutnya karena tangan sang kakak yang masih bertengger di dagunya.
Jaehyun seketika meludah ke dalam mulutnya. Pemuda itu mengulang hal tersebut sebanyak tiga kali sebelum akhirnya kembali memerintah, “Telan ludahnya.”
“Sekali lagi ungkit-ungkit mantanmu, kakak ludahin lagi mulut kotormu sampai penuh liur kakak.”
Taeyong merintih pelan. Mulutnya sekarang dipenuhi dengan liur hangat dari kakaknya yang bercampur dengan miliknya sendiri. Di bawah tatapan tajam kakaknya, ia kemudian menelan cairan tersebut.
“Good girl.” Jaehyun lalu mencium bibirnya kembali sembari melanjutkan aktivitasnya. Setelah itu, mulutnya juga tidak tinggal diam untuk turun ke arah leher dan dada Taeyong, menyisakan ruam kemerahan di sana-sini. Dan kali ini, kedua payudaranya yang sedari tadi hanya dimainkan dengan kedua tangannya, perlahan mulai dihisapnya dengan penuh semangat.
Dihajar dari atas dan bawah tentu membuat tubuh Taeyong semakin menggeliat tidak karuan. Saat ini, kakaknya sedang menyusu di kedua buah dadanya layaknya bayi yang membutuhkan air susu. Lidah, bibir, dan giginya beradu dalam memberi kenikmatan yang Taeyong belum pernah rasakan sebelumnya.
“Oh... Kak... Kak Jaehyun...”
“Hm?”
“Geli, kak,” jawab Taeyong sambil meremas rambut Jaehyun. Sebenarnya, ada perasaan ingin menyudahi isapan pemuda itu di payudaranya. Namun disisi lain, ia juga masih ingin mempertahankan posisi mereka.
“Tapi enak, 'kan?”
“Enak sih.”
Jaehyun terus melumat payudaranya untuk beberapa menit. Setelah dirasa puas, ia kembali memusatkan perhatian ke selangkangan si adik. Didorongnya penis yang semakin menegang itu ke titik paling sensitif kepunyaan Taeyong. Taeyong pun ikut menggoyangkan pinggulnya sendiri untuk menyamakan ritme permainan.
“Kak,” ucap Taeyong lemas pada akhirnya. Vaginanya terasa semakin berkedut. “Aku kayak mau pipis, kak." Peluh kian membasahi sekujur tubuhnya. Rasanya ia sudah berada di puncak tertinggi, dan ia ingin segera menuntaskan orgasmenya.
“Pipis aja, sayangku.”
Jaehyun yang sudah menangkap sinyal bahwa si adik akan segera orgasme lantas menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Rasanya, penis tersebut kian menegang dalam pijatan vaginanya. Diberi tekanan seperti itu, Taeyong hanya bisa menjerit keras dengan posisi tubuhnya yang sudah melengkung.
Tidak lama berselang, tubuh si cantik kemudian bergetar hebat saat pelepasannya tiba. Sedangkan Jaehyun sendiri masih terus menyetubuhi tubuh sintal adiknya sampai ia melepaskan satu hentakan yang keras dan dalam untuk terakhir kalinya. Cairan sperma sang kakak lantas membanjiri rahim adiknya itu hingga mengalir keluar dari dalam liangnya.
