Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-01-05
Words:
3,932
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
43
Bookmarks:
5
Hits:
425

Enchanted

Summary:

Mingyu adalah chef dan food vlogger suka bikin video masak. One day temanya my boyfie as my sous chef tapi Jeonghan ada aja salahnya ya motongnya kegedean, ngupas kentang ketebelan, motong bawang nangis jadi Mingyu marah-marah ngomel mulu tapi kalo dicium Jeonghan diem.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:


Written by: Mingoogie

Hari itu adalah Minggu, karena Jeonghan ada di apartemennya pada jam segini—pukul 10 pagi, di mana dihari lain dia sibuk berkutat dengan laptopnya di kantor atau meeting di sebuah café untuk menemui client , bukan malah bersama figur tampan dengan tubuh semampai yang sibuk kesana kemari memeriksa apakah semuanya sudah lengkap.

Ekspresi wajahnya serius, menambah kadar kerupawanan pada si pemilik kulit tan tersebut, bibirnya menggumam mengabsen satu persatu bahan-bahan makanan yang sudah disiapkannya dari pagi, lalu beralih pada berbagai peralatan dapur yang sekiranya akan diperlukan, setelahnya dia mengubah posisi kamera—mengaturnya sedikit untuk mendapat posisi terbaik yang menurut Jeonghan tidak ada yang berubah.

Kim Mingyu dan segala keperfeksionisannya kadang membuat Yoon Jeonghan geleng-geleng kepala. 

Everything’s prepared right?” tanya pria itu, bukan pada Jeonghan namun dirinya sendiri. Ia menatap sekali lagi pada counter dapur di depannya.

Jadi hari ini Jeonghan bersama Mingyu—sang suami akan membuat sebuah cooking vlog. Ide ini berasal dari permintaan beberapa penonton setia channel Gyu’s KitchenYouTube channel milik Mingyu untuk mengunggah segala kegiatan memasaknya.

Yups betul, Mingyu adalah seorang chef yang gemar videografi dan menggunakan kedua bakatnya itu dengan sangat baik untuk menambah pundi-pundi uang selain dari restoran yang dia punya, Jeonghan sih tentu saja bahagia. Sebagai informasi saja, channel youtube Mingyu sudah memiliki 5 juta subscriber, pria itu juga termasuk salah satu food vlogger terkenal di Korea Selatan, setiap dia me review suatu makanan orang-orang akan berbondong-bondong untuk mencobanya. Di samping karena kelihaian tangannya saat memasak atau ketajaman lidahnya saat mencoba makanan, Jeonghan yakin visual suaminya itu amat sangat membantu kenapa orang-orang mau menghabiskan waktu untuk menonton channel-nya. Siapa coba yang nggak naksir Kim Mingyu? Jeonghan saja naksir berat.

Pada awalnya Mingyu menolak keras ide ini, karena Yoon Jeonghan itu hampir tidak mengenal yang namanya dapur. Menurut Jeonghan untuk apa dia menghabiskan waktunya di dapur jika punya seorang personal cook sejak dia masih remaja, yang dalam hal ini adalah Mingyu. Pernah waktu itu dia mendekati dapur, teflon kesayangan Mingyu menjadi korban akibat tak sengaja dia banting karena tangannya terciprat minyak saat menggoreng sosis. Saat ingin membuat ramyun , dia sukses merusak satu kompor elektrik—kesal karena tidak mau menyala padahal dia yang tidak bisa menyalakannya. Lain waktu dia berinisiatif membuatkan bubur untuk Mingyu yang sakit, nyaris membuat unit apartemen keduanya terbakar karena terlalu keasyikan melihat channel home shopping dan melupakan agenda masaknya . Sejak saat itu, area dapur adalah kawasan terlarang bagi Jeonghan.

Lalu kenapa sekarang Mingyu mengizinkannya untuk menginjak dapur pria itu? Tentu saja karena ia membujuknya. Untuk apa keahlian marketing Jeonghan jika membujuk Mingyu saja dia tak bisa.

Jeonghan sampai harus membuat analisis sekiranya berapa banyak penayangan yang akan mereka dapatkan jika memasak bersama. Jeonghan pernah muncul beberapa kali dalam vlog Mingyu untuk mencicipi hidangannya atau konten food reviewer, dan responnya memang bagus.

“Gemes banget sih kalian, banyakin konten bareng please.”

“Ternyata chef Mingyu kalo deket suaminya lucu banget ya jadi bawel, padahal kalo lagi masak kaya kulkas sepuluh puluh pintu.”

“Kak Jeonghan usil banget sih, tapi gapapa deh usilin chef gantengnya aja terus soalnya gemesin.”

“Bikin konten masak berdua aja gimana? Kak Han jadi sous chefnya, pasti pecah banget deh.”

Itu hanya sebagian komentar yang Jeonghan sertakan pada file presentasi yang dia buat, ia sampai merelakan waktu istirahatnya untuk membuat ini. Dan setelah tanya jawab yang cukup alot, akhirnya Mingyu menyetujuinya.

“Udah semua kok sayangku.” Jeonghan menghampiri suaminya itu, mengusap bagian punggungnya—suatu kebiasaan guna menenangkan yang lebih jangkung. “Ayo mulai,” ajaknya.

Wait, mic kamu miring.”

Nah kan mulai lagi.

Mingyu membenahi mic pada baju Jeonghan, entah itu menggesernya ke kiri atau ke kanan, ia tidak tahu pasti. “Udah, ‘kan?” ia memastikan lagi.

“Inget ya, kamu jangan aneh-aneh, nggak usah banyak inisiatif—ini bukan di kantor. Kamu kerjain yang aku suruh—“

Cup.

Omongan Mingyu terhenti karena Jeonghan mengecup bibirnya. Telinganya sudah tak sanggup lagi mendengar petuah Mingyu soal Do’s & Don'ts yang harus Jeonghan taati.

“What the—"

Enough Kim Mingyu, we need to start now,” kata Jeonghan, nadanya tak mau didebat. “I’ll hit the slate.”

Setelah hitungan ketiga, Jeonghan menjauhkan dirinya dari kamera, membiarkan Mingyu menjadi bintang utamanya. Ngomong-ngomong suaminya itu terlihat sangat tampan dalam balutan apron hitamnya, dibaliknya dia mengenakan kemeja berwarna putih yang lengannya digulung hingga siku dan memperlihatkan otot-otot tangannya. Senyum manis membingkai wajah rupawannya kala ia melakukan opening seperti biasa—memperkenalkan dirinya secara singkat dan menyapa penonton setianya.

“Hari ini saya nggak sendirian, tapi ditemenin sama—“ belum selesai Mingyu bicara, Jeonghan memotong perkataan pria itu.

“Halo semuanyaaaa, masih inget aku ngga?” Jeonghan masuk dan melambai pada kamera utama dengan wajah ceria. “Ini aku si Kakak Manis, Kakak Cantik, Mas Suami Usil, apalagi ya sebutan penonton kamu buat aku?” Ia beralih menatap Mingyu.

“Yoon Jeonghan.” Suaminya mengucap asal.

“Ih nggak seru,” balas Jeonghan dengan penekanan di kata terakhir, ia mengembalikan fokusnya pada kamera. “As your wish, aku di sini bakal jadi sous chef nya Mingyu dan ngebantuin dia masak yeaaaay.” Ia setengah berteriak sambil merangkul lengan kekar Mingyu.

“Ngga yakin deh bakal ngebantuin,” celetuk yang dirangkul, walaupun omongannya pedas tapi tatapannya lembut.

I will did my best, aku kemaren udah liat-liat video jadi sous chef yang baik tau.” Jeonghan membela diri.

“Iya baru 10 menit udah ketiduran.”

“Itu karena aku kecapean,” sanggahnya. “Ayo jelasin mau masak apa kita hari ini?” Ia cepat-cepat merubah topik, jika tak ingin rahasia gelapnya dibongkar.

Mingyu mengambil alih, menjelaskan jika keduanya akan membuat hidangan khas Korea yakni japchae—sebuah makanan yang terbuat dari dangmyeon1 yang dicampur dengan irisan sayuran berwarna-warni seperti wortel, paprika, jamur shiitake dan irisan daging. Japchae termasuk salah satu hidangan popular di Korea dan dijadikan sebagai lauk pendamping nasi putih. Ini terbilang hidangan yang simple dan mudah—mempertimbangkan fakta ada Jeonghan di sampingnya, karena menu yang biasanya Mingyu buat lebih rumit dan beragam.

Jeonghan membantu menyebutkan bahan-bahan yang mereka gunakan—dari sayuran, daging, mie, telor hingga bumbu walaupun kurang tepat.

“Itu jamur shiitake bukan enoki,” koreksi Mingyu saat Jeonghan memperkenalkan jamur berbentuk payung itu.

“Kapan ganti namanya deh?” Mingyu memutar matanya malas kala Jeonghan tertawa geli—gemas melihat ekspresi suaminya. “Kata Chef Mingyu shiitake ya guys jangan salah sebut nanti di side eyes loh,” godanya.

“Oke guys, give your attention here and let’s begin.”

 

***

 

Mingyu rela melakukan apa saja untuk Jeonghan—menuruti keinginan pria cantik itu untuk mengemudi selama 4 jam guna mengunjungi Jirisan 2 meskipun 30 menit kemudian sudah minta pulang. Merelakan semua paha ayamnya untuk dimakan Jeonghan padahal itu adalah bagian favoritnya. Kehilangan jam tidurnya untuk menemani Jeonghan mengejar deadline kerjaannya—tak lupa menyiapkan hidangan pendampingnya sembari mendengarkan gerutunya soal client yang banyak mau. Mingyu bersedia melakukan apapun untuk pria itu, asalkan dengan satu syarat—jauh-jauh dari dapurnya. Menurutnya, Jeonghan dan dapur adalah kata yang tidak pantas disandingkan.

Tapi disinilah pria itu sekarang—dapurnya, tengah mempromosikan sebuah merek minyak wijen dengan agak berlebihan, wortel yang belum selesai dikupasnya tadi terlupakan. Mingyu cepat-cepat menyingkirkan pisaunya, takut akan melukai suaminya yang agak ceroboh itu.

“Mingyu selalu pake yang merk ini, karena kandungannya 100% tanpa campuran minyak lain, jadi tuh rasanya kuat dan aromanya wangi, of course no pengawet ya dan aman buat dikonsumsi sama anak-anak juga, Bun. Banyak tersedia di minimarket atau supermarket, kalo males pergi belanja tinggal belanja online , banyak promonya juga loh.” Bosnya di kantor tak salah memang menganugerahi dirinya sales terbaik. Jujur, Mingyu juga sering kali terperdaya oleh mulut manisnya itu saat akan membeli sesuatu. Lihat saja kursi pijat yang berdebu di ruang santai itu karena jarang digunakan.

“Kamu sebenernya mau masak apa nge promote produk sih?” omel Mingyu, saat melihat Jeonghan kini sudah berganti mempromosikan merek sayuran organik yang menjadi penyuplai tetap restorannya. Padahal tadi sudah berjanji akan menyiapkan sayur.

“Sekalianlah sayang, biar iklannya makin banyak, makin kaya deh kita,” balas si manis itu. “Bisa cek link di bio ya kalo mau paid promote hehe,” lanjutnya, tak menyia-nyiakan kesempatan.

Mingyu cuma geleng-geleng, melanjutkan aktivitasnya memotong daging, membiarkan Jeonghan yang sudah melupakan tugasnya sebagai asisten chef dan kembali pada kehidupan marketing nya. Biasanya suasana syuting sangat tenang, hanya terdapat bunyi yang berasal dari proses memasak dan Mingyu yang menjelaskan stepnya, tanpa ada perkenalan produk secara berlebihan seperti ini. Mingyu juga biasanya akan ditemani oleh beberapa orang dari team -nya Chan—sepupu yang merangkap jadi asistennya serta Jaehoon sebagai cameraman , namun kali ini Mingyu hanya melakukannya dengan Jeonghan.

“Untuk beef nya bisa pake sirloin atau tender ya, pork juga bisa. Disesuaiin sama taste kalian aja,” kata Mingyu yang dengan lihai memotong-motong daging itu dengan ukuran yang hampir sama. “Tapi saya pribadi lebih suka pake beef karena menambah cita rasa si japchae,” tambahnya.

“Saya saranin kalo kalian masak japchae itu, siapin dulu bahan-bahan isiannya, baru terakhir noodles-nya.” Mingyu mengecek Jeonghan sejenak—thank God , suaminya itu sudah sadar.

“Ih bete ngga sih?” Belum ada 3 menit, Jeonghan sudah meninggalkan wortel itu lagi. “Nggak boleh kaya gini aja, ayo main game, yang kalah makan cabe.” Kumat kan ide-ide di luar nalarnya itu.

“Kamu di sini mau bantuin aku, ‘kan?”

Jeonghan mendengus sebagai respon pertanyaan Mingyu, kembali mengambil wortelnya. “Ya kan biar seru gitu sambil main game—oh iyaa.” Jeonghan tiba-tiba saja menjerit, membuat Mingyu yang tengah mencuci bayam tersentak. Dalam hati berdoa semoga tidak ada ide aneh lain yang hinggap di kepala suaminya itu.

“Jadi biar makin seru, kita masak sambil jawab pertanyaan kalian.” Pria cantik itu kembali dengan iPad di tangannya.

“Pertanyaan gimana?”

“Dua hari yang lalu aku bikin QnA di ig, yang nanya banyak banget tapi aku pick beberapa aja—yang seru.” Serunya Jeonghan dan Mingyu jelas berbeda, lihat saja raut usil di wajah cantik itu—pasti dia merencanakan sesuatu.

Fine, tapi gantian milihnya.” Jeonghan mengangguk setuju. “Dan tolong itu ngupas wortelnya buruan.” Satu wortel pun belum selesai dikupas, bagaimana Mingyu tidak naik pitam.

“Iya sayang iya. Oke first question, Chef Mingyu kalo tidur ngorok nggak?”

Kan sudah dia bilang.

“Ngorok sih nggak, cuma kadang dia suka ngigo sambil teriak FIREEEEE!”

“Ngarang banget, kapan aku kaya gitu?” seru Mingyu tak terima, ia meninggalkan sejenak bayam yang akan dia rebus.

“Namanya juga ngigo ya pas kamu tidur.”

“Ngga ah.” Mingyu bersikeras, merasa tidurnya normal saja. Bundanya juga tidak pernah bercerita apa-apa soal ini.

“Lain kali aku videoin deh biar kamu percaya.”

“Ngga mungkin.” Mingyu menolak percaya, tahu dengan jelas kelakuan suaminya itu yang kadang tidak bisa dipercaya.

“Dih yaudah kalo ngga percaya mah. Next question.”

“Aku yang pilih.” Mingyu merebut benda elektronik itu dari tangan Jeonghan, memindai isinya, mana sekiranya yang paling normal. “Chef Mingyu dari kapan belajar masak? Terus pernah ngajarin Kak Jeonghan masak ngga?”

“Dari dalem perut dia mah,” celetuk Jeonghan mewakili. “Ih beneran, Bunda kan cerita pas hamil kamu jadi doyan masak, itu pasti karena kamu yang pengen,” katanya lagi saat Mingyu mendelik padanya.

“Ngga inget kapannya sih, tapi dari kecil saya tuh suka ngerecokin Bunda di dapur, ngeliatin dia masak terus lama kelamaan nyobain sendiri and it was fun. Terus karena saya enjoy, Bunda jadi ngajarin bikin ini itu, beliin buku-buku resep dan saya cobain satu-satu,” cerita Mingyu, wajahnya tampak bahagia mengingat momen itu. “Awalnya emang just for fun doang, tapi setelah pikir panjang saya emang tertarik buat berkarir di dunia kuliner so i joined the Culinary Art Academy.”

Melihat air di panci yang sudah mendidih, Mingyu memasukan bayam yang sudah dia cuci. "Guys rebus bayamnya setelah air mendidih ya, 5 menit cukup.” Ia kemudian melirik Jeonghan, sekali lagi mengingatkan tugas inti pria itu tapi tak diindahkan.

Fyi ya guys Mingyu ga pernah ngajarin aku masak, malah suruh jauh-jauh dari dapurnya.”

Three times you in my kitchen, tiga-tiganya mau bikin dapur aku hancur.”

“Lebay ih, aku ngga separah itu ya.” Jeonghan membela dirinya, ia mengacungkan wortel yang akhirnya selesai dia kupas kepada Mingyu. “Nih liat aku bisa ngupas wortel, ‘kan?” ia menyombongkan diri, namun tak bisa lama-lama karena setelahnya kebingungan. “Ini dipotongnya gimana?” tanya si manis itu.

“Potong jadi tiga terus diiris tipis,” balas Mingyu yang kini beralih memotong jamur shiitake. “Oh iya kalau jamur shitake kalian nggak fresh baiknya direndam di air dulu ya around 10 minutes supaya bentuknya jadi ngembang gitu dan nggak layu.” Ia mengatakannya sambil melihat kamera.

“Gu kaya gini ngga sih?” Jeonghan bertanya lagi, dari kacamata Mingyu dia seperti berperang dengan pisaunya untuk memotong wortel, agak ngeri melihatnya.

“Emang kamu pernah makan japchae wortelnya segede itu?” Mingyu tidak habis pikir, tapi dia Jeonghan—Mingyu seharusnya tidak berharap apa-apa pada suaminya itu soal urusan dapur.

“Ngga pernah merhatiin sih,” balas Jeonghan dibumbui tawa diakhir.

“Udah deh kamu ngupas bawang aja sana.” Mingyu membuat gerakan mengusir.

Cup.

Jeonghan mengecup pipi Mingyu kilat, membuat yang lebih tinggi itu bengong sejenak karena kaget. “Jangan marah-marah mulu ih, gemes akunya.”

“Han kita lagi on cam loh.” 

“Tinggal di-cut.”

Mingyu sok menggerutu padahal dalam hatinya senang dapat kecupan dari si kesayangan. Ia kemudian mengambil alih pekerjaan Jeonghan untuk memotong wortel, yang tentu saja selesai dengan cepat. “Wortelnya dipotong kaya gini ya,” ucapnya agak penuh penekanan, menghasilkan sebuah dengusan dari pria cantik di sampingnya yang kini tengah berperang dengan bawang bombai.

“Eh lanjut lagi QnA. Kepo sama first meet kalian.” Jeonghan tertawa sejenak sebelum menjawab. “Seperti yang udah pernah di-mention sebelumnya—we know each other since high school, jadi waktu itu gue sama nyokap baru move ke Seoul, long story short nyokap kita itu bestie dari lama, gue sama nyokap visit rumah Mingyu, gue yang bete tuh akhirnya keliling lihat rumah sendirian dan ketemu Mingyu lagi masak di dapur. Gue iseng nanya dia lagi ngapain, eh dia bales “lo nggak bisa ngeliat?” pake nada sewot, ngeselin banget tapi untung dia ganteng jadinya gue maafin deh.”

Seperti halnya dengan Jeonghan, Mingyu mengingat dengan jelas momen itu, sebuah momen kala dia terpukau pada seorang yang asing dengan senyum paling manis yang pernah dia lihat, ia berbicara ketus untuk menutupi degup jantungnya yang tak normal hari itu. Mingyu tidak bisa tidur pada malam harinya karena terus memikirkan Jeonghan, ingin bertemu lagi dengannya.

“Kan udah jelas aku lagi masak ngapain ditanyain, coba kamu nanya lebih spesifik masak apa baru aku kasih tau,” balas Mingyu sambil mengangkat bayam yang tadi dia rebus, semoga pipinya tidak merah. “Tunggu dingin dulu baru dipotong ya, saya nggak nyaranin disiram pake air karena bakal ngerusak tekstur bayamnya,” tambahnya pada kamera.

“Ya kamu kan bisa langsung ngasih tau masak apa gitu tanpa perlu ditanya, namanya juga mau basa-basi.”

“Kalo nanya tuh yang jelas, jangan setengah-setengah.”

Jeonghan menatap kameranya. “Tuh guys dulu tuh persis kaya gini ngomelnya,” jelasnya.

“Kupas dulu bawangnya yang bener, and no more question.” Mingyu kembali mengingatkan akan tugas Jeonghan, sementara yang diingatkan menggerutu.

“Jujur deh kamu waktu itu udah suka aku, ‘kan?” “Ngarang.”

“Lihat pipinya merah guys berarti beneran!” Jeonghan mulai heboh.

“Ini karena uap panas.” Mingyu berdalih, menjaga ekspresinya tetap normal. “Masa?” goda Jeonghan lagi, mendekatkan diri pada Mingyu.

“Perlu aku ingetin tugas kamu di sini ngapain?” Mingyu sok galak, tapi Jeonghan tak gentar, si manis itu justru semakin mendekat pada wajahnya. Aroma vanilla menyeruak memenuhi indera penciumannya, pahatan Tuhan yang begitu sempurna itu terlihat jelas oleh kedua netranya, bibir pink alami itu mengundang untuk dikecup.

“Ngapain coba?” tanya Jeonghan dengan suara rendah, hampir membuat Mingyu kehilangan kewarasannya.

Pria itu berdeham, spontan menjauhkan diri dari si penggoda ulung. “Ngupas bawangnya buruan,” katanya kemudian.

“Padahal ngupas bawangnya bisa habis ciuman.”

“Ngomong apa?”

“Iya iya ngupas bawang nih.” Jeonghan memungut kembali bawangnya yang lama terabaikan.

Mingyu diam-diam mengatur napas, membuang pikiran tidak bergunanya, memberikan fokus pada dua buah paprika di depannya.

Next ke paprika, ini optional ya, saya pake yang warna kuning sama merah supaya rasanya agak manis, sementara paprika hijau rasanya agak pahit.” Tangan terampil Mingyu dengan cepat memisahkan paprika dengan bijinya, kemudian memotongnya tipis dan seukuran dengan bunyi teratur yang sangat memuaskan. “Tapi kalau soal kandungan vitamin sih lebih banyak di paprika hijau, cuma kan disesuaiin juga sama jenis masakan yang mau dibikin,” jelasnya lagi.

“Jangan pake paprika hijau guys, hidup udah cukup pahit,” timpal Jeonghan.

“Nah sambil nunggu bayamnya dingin, kita tumis dulu beberapa sayur yang udah dipotong tadi biar hemat waktu.” Mingyu mengambil teflon dari cabinet atas dapurnya, meletakkannya pada kompor. “Yang pertama wortel dulu, tumis pake minyak setengah sendok aja terus dikasih garam dikit, api kecil aja—“ Perkataan Mingyu diinterupsi oleh Jeonghan.

“Gu kok mata aku pedih ya.” Mingyu melirik suaminya, mendelik horror saat mendapati ukuran bawang bombay yang dipotong oleh Jeonghan, entah mendapat ide itu darimana. Sementara si pengupas tengah struggle menahan air matanya.

“Jangan diusap pake tangan nanti makin pedih,” seru Mingyu menahan tangan Jeonghan yang hendak menuju wajahnya, walaupun nadanya mengomel rautnya khawatir. “Kalo masih pedih mending cuci muka.”

Jeonghan menggeleng. “I’m okay.” Ia kembali mengambil pisaunya, namun ditahan oleh Mingyu. “Kamu numis sayuran aja, biar aku ngupas bawang, mana ada orang ngupas bawang lebih banyak yang dikupas.” Mingyu mengambil bawang bombai lain dari kulkas.

“Guys aku bukannya nggak bisa ngupas bawang ya, belum terbiasa aja. Karena Mingyu tuh selalu ngelarang aku buat deket-deket sama dapurnya.” Jeonghan membela diri, dia tidak pernah mau kalah.

“Ya liat aja ini kerjaan kamu kalo masuk dapur, mending gausah sekalian.” Mingyu membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh Jeonghan—sisa-sisa kulit wortel dan bawang yang terbuang berserakan di counter. Dia paling tidak bisa memasak dengan keadaan dapur berantakan, jadi selagi memasak dia langsung membersihkannya.

Jeonghan mendengus sebagai respon dari ejekan Mingyu. “Ini numisnya berapa lama?”

“Dua sampe tiga menit, pake api kecil, minyaknya setengah sendok.”

“Api kecil tuh segimana? Setengah sendok apa?”

Ketimbang menjelaskan, Mingyu mempraktekkannya secara langsung. “Got it ? Don’t forget put some salt ya.” Jeonghan mengangguk mengerti, dia lalu pergi dan kembali dengan ponselnya.

“Ngapain bawa HP?” tanya Mingyu.

“Mau pake timer, biar waktunya pas.”

Apa Mingyu bilang, Jeonghan dan dapur itu tidak seharusnya disandingkan.

 

***

 

Jeonghan senang menggoda Mingyu, karena pria itu akan terlihat sangat menggemaskan. Bibirnya maju satu senti dari biasanya, alisnya akan mengerut sementara tatapannya menajam. Dia memang mengomel, tapi tak pernah marah secara berlebihan pada Jeonghan. Seperti saat ini, Mingyu hanya bisa menggerutu melihat kekacauan yang Jeonghan buat di dapurnya. Mari kita absen satu persatu.

Menumpahkan minyak karena tersenggol tangannya, tapi malah minyaknya yang disalahkan. “Lagian kenapa minyaknya juga dipinggir sih, jadinya kesenggol kan.”

“Kamu yang naroh disitu, minyak nggak mungkin jalan sendiri.”

Kedua, dia memecahkan telor di atas counter dapur padahal niat awalnya hanya ingin membuatnya sedikit retak, tapi karena terlalu keras menghantamnya, telur itu pecah dengan mengenaskan. “Ini kayanya kulit telornya tipis banget deh, makanya pecah semua hehe.”

“Gausah nyalahin kulit telor, orang kalo mau ngeretakin tuh ya biasa aja jangan pake tenaga dalem.”

Ketiga, Jeonghan menghamburkan satu bungkus dangmyeon ke lantai dapur karena membukanya dengan ceroboh.

“Tadi soalnya susah banget dibukanya.”

“Kalo susah dibuka pake tangan, ada yang namanya gunting.”

Keempat, dia nyaris menghanguskan jamur karena terlalu asyik merekam coret menggoda Mingyu dengan kamera.

It's okay Gyu, kata Mama vitamin,” katanya sambil nyengir.

Mingyu hanya bisa menghela napas sembari memikirkan apakah ada yang bisa ditayangkan dari syuting hari ini.

“Ini udah boleh diangkat?” Jeonghan menunjuk mie di dalam panci mendidih. Mingyu mengangguk, berniat mengambil alih pekerjaannya namun pria itu melarang. “Aku aja.” Ia dengan hati- hati mengangkat mie dari panci menggunakan saringan dan menaruhnya pada mangkok besar.

Look, aku berhasil masak mienya, keren banget ngga sih?” Untuk seorang Yoon Jeonghan yang tidak mengenal dapur, ini jelas hal yang perlu dibanggakan, namun suaminya itu kurang mengapresiasi pencapaiannya dan sibuk dengan agenda chef nya, bahkan untuk menatap dia pun tidak sempat. Agak menyebalkan, tapi itu memang tugasnya.

“Ini mienya diapain lagi?” Jeonghan mencoba merebut perhatian Mingyu yang kini tengah membuat saus.

“Tunggu dingin dulu, nanti dipotong supaya ngga terlalu panjang,” balas Mingyu tanpa mengalihkan fokus dari mangkuk saus di depannya, membuat bibir Jeonghan manyun.

Mangkok saus 1 : Jeonghan 0

“Untuk kaldu jamurnya saya bikin sendiri, bahannya juga simple —jamur shiitake sama bawang bombay, actually ngga harus pake shiitake—tapi shiitake ini yang aromanya paling kuat.”

“Masa sih?” Jeonghan merebut botol berisi kuah kaldu, membaui aromanya lalu berpindah untuk membaui Mingyu. “Lebih kuat bau kamu deh.”

“Kamu ngapain sih?” Mingyu mundur selangkah saat Jeonghan mendekati wajahnya. “Lagi membuktikan kalo aroma shiitake bukan yang paling kuat.”

“Maksud aku dibanding mushroom lain shiitake yang paling strong.”

Mulut Jeonghan membentuk huruf O, sebenarnya dia tak sebodoh itu, dia hanya ingin merebut fokus suaminya dari kaldu jamur dan kali ini dia berhasil.

Kaldu jamur 0 : Jeonghan 1

Mingyu geleng-geleng sejenak sebelum melanjutkan, ia mencampur semua bahan-bahan untuk membuat saus dan mengaduknya hingga merata.

“Ada rules buat ngaduknya nggak? Harus searah jarum jam atau gimana?” tanyanya lagi untuk mencari perhatian.

“Ya tinggal diaduk aja sampe bahannya kecampur rata.” Mingyu mencicipi rasa dari saus itu, wajahnya tampak puas. Sial, Jeonghan iri.

Saus 1 : Jeonghan 0

“Mienya udah dingin itu, potong pake gunting.”

“Potong gimana?”

Mingyu mendesah lagi, lebih milih mengambil mangkok berisi mie ketimbang menjelaskan bagaimana cara memotongnya kepada Jeonghan.

Sial lagi.

Mie 1 : Jeonghan 0

“Nah lastly put all the ingredients in one bowl together, siram pake sausnya dan aduk pake tangan biar merata.” Mingyu mencampur semua bahan dan mengaduknya menggunakan kedua tangan yang sudah dilapisi sarung tangan.

Jeonghan mengerti kenapa jutaan orang mau melihat channel youtube Mingyu, karena pria itu nampak sangat tampan saat beraksi di dapur. Tangan yang begitu cekatan dan tahu tugasnya, mulutnya akan menjelaskan apa yang mereka lakukan, ditambah dengan visual luar biasa. Sudah 14 tahun dia mengenal Mingyu dan Jeonghan masih saja terpesona dibuatnya. Rasanya dia siap menonton ini selama berjam-jam sambil berpangku tangan.

“Terakhir, jangan lupa koreksi rasa.” Mingyu mengambil sejumput japchae yang telah selesai dibuat dan mencicipinya.

“Enak nggak?” Jeonghan bertanya.

“Cobain aja.”

Jeonghan melihat saus di ujung bibir Mingyu, senyum miring tercetak di bibirnya saat memikirkan sebuah ide. Bukannya mengambil japchae untuk dicicipi, tangannya mengusap saus pada ujung bibir Mingyu dengan jari kelilingkingnya lalu mengecapnya.

“Iya enak,” katanya menyetujui. “Tapi kayanya bakal lebih enak kalo makannya dari mulut kamu langsung.” Senyum menggoda nampak pada labiumnya.

You sure about that?” Ada peringatan dalam nada suara Mingyu, obsidiannya tampak lebih tajam dari biasanya, tapi Jeonghan tidak takut.

Why not?”

Mingyu terdiam sejenak sebelum mengambil beberapa helai japchae dan melahapnya, kemudian menyingkirkan sarung tangan plastiknya, mengikis jarak dengan Jeonghan dan sedetik kemudian bibir berbeda ukuran itu bertemu.

Jeonghan tersenyum senang, merasa menang.

Mingyu melumat bibirnya agak terburu-buru, seolah sudah menahan hasratnya selama ini. Pria berkulit tan itu mengigit bibirnya, sebuah kode agar ia membuka mulutnya. Jeonghan merasakan japchae dalam mulut Mingyu—pria itu mentransfer japchae disela-sela lumatannya, dan sesuai dugaan Jeonghan rasanya menjadi luar biasa enak. Jeonghan mau lagi.

Mingyu memojokkan Jeonghan ke arah counter dapur belakang untuk memperdalam pagutannya, sementara yang lebih kecil mengalungkan tangannya pada leher yang lebih besar guna merapatkan dirinya. Jeonghan selalu suka ciuman Mingyu, pria itu mahir menggunakan bibir dan juga lidahnya, bagaimana bibir itu melumat setiap inchi bibirnya dengan intens, bagaimana lidahnya menjelajahi mulutnya dan mengabsen giginya satu persatu, membuat Jeonghan tak ingin cepat-cepat mengakhirinya.

Tanpa melepas pagutannya, Mingyu mengangkat tubuh Jeonghan ke atas counter dapur, menjajah mulut Jeonghan tanpa ampun, membuat pria cantik itu mulai kewalahan untuk mengimbanginya, belum lagi tangan Mingyu yang tak bisa diam membuat Jeonghan makin kehilangan kewarasannya.

Kini bukan hanya Jeonghan yang sudah lupa akan tugasnya tapi Mingyu juga, mata pria jangkung itu sudah diliputi oleh gairah, sudah tidak peduli pada japchae yang tergeletak yang tak jauh dari tempat keduanya saling mencumbu, atau pada kamera yang masih menyala dan menjadi saksi mata kegiatan panas mereka, atau memikirkan bagaimana cara mengedit rekaman hari ini supaya layak ditonton.

“Eh bentar, japchae nya itu gimana?” Jeonghan memutus sepihak ciuman itu, menahan tangan Mingyu yang hendak membuka kancing bajunya.

Mingyu menyentuh bibir Jeonghan dengan lembut, membersihkan sisa-sisa perbuatannya. Bibirnya tersenyum miring, membuat Jeonghan menelan ludahnya.

I don’t wanna eat japchae, I wanna eat Jeonghan,” balas Mingyu dengan suara rendah yang menambah kadar ketampanannya, membuat Jeonghan kembali tersihir akan pesonanya.

Eat me then.”

Jeonghan berhasil menang mutlak atas japchae hari itu.


 

Notes:

1) Mie yang dibuat dari tepung ubi jalar khas Korea
2) Salah satu gunung tertinggi di Korea yang dijadikan sebagai taman nasional