Actions

Work Header

Kulon

Notes:

re-upload work by teteh aliviaazlyn

Work Text:

“Ini langsung mulai aja, Kak?”

“Ah, iya, silakan kalau kedua kelompok sudah siap langsung dimulai aja. Jangan lupa ketua kelas mengatur presensi mahasiswa kelas saya ya.”

“Baik, Kak.”

Sore itu, kelas dimulai.

Perkenalkan, dosen yang baru saja berbicara tadi namanya Haechan, lelaki cantik berusia 24 tahun. Masih muda, namun dengan segala keberuntungannya ia berhasil menjadi dosen berpengaruh di kampus yang sama dengan kekasihnya yang sedang memeluknya dari belakang saat ini.

Jangan dikira bahwa mereka adalah sepasang dosen, keduanya adalah sepasang dosen dan mahasiswa. Kenapa bisa? salahkan Haechan yang tergoda dengan ketampanan Mark, hartanya juga sih. Dan lagi, umur tidak menentukan kualitas permainan ranjang, bukan?

Yang jelas, Mark tidak pernah mengecewakan Haechan sejak pertama kali.

“Kalau yang ini bisa langsung dimulai juga gak, Kak?” Haechan menggeliat geli merasakan sentuhan Mark pada belahannya. Mark senyum, tangannya semakin gencar mengelus naik turun vagina Haechan.

“Sange banget ya? baru dipegang doang udah banjir memeknya” Haechan jadi tidak fokus dengan kegiatan di laptopnya. Ia buru-buru memeriksa microphone dan kamera laptopnya, memastikan bahwa keduanya tidak aktif.

Ia terlena, pinggulnya ikut bergerak maju mundur. Sesaat kemudian ia merasakan kepala sang pacar ada di hadapan vaginanya.

Di balik rok pendek yang Haechan kenakan, ada vagina tembam yang terus menerus mengeluarkan cairan pelicin. Kedua jari telunjuk Mark masuk ke sela-sela underwearnya, jari itu mengelus naik turun pipi vagina Haechan. Sesekali jari panjang itu menyentuh klitorisnya.

“Memek kamu gerak-gerak, yang. Pengen banget dimasukin ya memeknya?”

“Ah..” Haechan mendesah ketika vaginanya ditepuk, nafsunya semakin tinggi. Kakinya yang tadi mengangkang kini diluruskan oleh Mark, “coba copot dulu sempaknya, biar keliatan memek basah punya dosen cantik aku”.

“Liat deh, seprai kamu ikutan basah. Padahal belum aku ewe loh memeknya” pinggul Haechan semakin bergerak, memutar, maju-mundur, merasakan sentuhan demi sentuhan Mark di perut hingga punggungnya.

Vagina basahnya menganggur, tidak dimainkan oleh jari-jari Mark, namun lubang itu ters menerus mengeluarkan cairan, seakan memberi tahu bahwa ia sudah cukup siap untuk diperkosa.

Mark bisa merasakan kegelisahan Haechan tanpa sentuhannya pada vagina si cantik, dengan cepat Mark mencolek cairan licin itu kemudian mengoleskannya pada bibir Haechan, “Jilat, yang” tanpa menunggu lagi, Haechan langsung melahap habis bibirnya sendiri.

“Buka mulutnya” titah Mark, sambil memasukkan dua jarinya ke dalam mulut Haechan, “Ahh, anget banget sih mulut kamu, pantes aja kontol aku betah disepongin”

kecipak basah semakin terdengar seiring dengan nafsu Haechan yang semakin tinggi. Berkali-kali Mark mencolek vaginanya kemudian memasukkan jari itu kembali ke dalam mulutnya.

“Nghh.. enakk .. suka diginiin ayang - mmnhh”

“Iya lah suka, memeknya aja sampe banjir begini.” Masih dengan mata terpejam menikmati jari Mark di mulutnya, Haechan tersenyum. Ia sendiri merasakan bahwa vaginanya semakin detik semakin banjir.

“Ah, memek kamu kayaknya gak perlu aku kontolin lagi deh, yang. Ini aja udah licin banget. Udah puas kan kamu?” Mark melepas jarinya dari mulut Haechan, direbahkannya Haechan perlahan di bawah kungkungannya. Matanya menatap wajah cantik penuh nafsu milik Haechan. Tangannya turun mengelus-elus vagina Haechan.

“Ahh~ ayangg pentil aku isepin”

Dengan senang hati Mark menuruti, diciumnya pipi Haechan, turun ke leher, hingga kini mendarat di dada Haechan. Tanpa basa-basi, puting kecoklatan itu dikecupnya, dijilat, kemudian diisap.

Lidah lihai Mark memutar di atas areola Haechan, jari telunjuknya bermain tepat di pinggir lubang memek Haechan yang sudah berkedut tidak sabaran.

Diperlakukan seperti itu membuat Haechan ingin marah namun tidak bisa karena ia sendiri tenggelam dalam buaian Mark. Tubuhnya bergerak gelisah, kakinya tidak bisa diam, cairannya sudah membasahi paha dalamnya.

“Ayang, mau dimasukinn memeknyaa”

Mark mendongak, “Bilang yang bener coba” kemudian kembali menjilati puting Haechan.

Haechan membuka matanya perlahan, tangannya memegang kepala Mark untuk menatapnya. “Pengen dimasuk-nghh ahh” ujar Haechan berbisik, karena jujur saja, jari Mark tidak henti-hentinya menekan klitorisnya.

“Ngomong yang bener, suaranya mana”

“Shh .. ayanggh, pengen dimasukin memeknyaa, udah licin banget”

“Dimasukin apa? dildo? jari?”

“Nggg-” Haechan menggeleng berkali-kali. Kakinya berusaha ia gerakkan, “Ng-gaa, mau dimasukin iniii, memeknya pengen diperkosa pake iniiii” ucapnya sambil menggesekkan lutut pada penis Mark.

Mark tersenyum, “kan lagi kuliah, masa mau ngewe,”

spontan Haechan mencubitnya, “ya terus kamu kenapa mainin memek aku sampe basah gini kalo gamau ngewein akuu, ah ngeselinn bangeet, gatau aah aku mau dieweeee” rengek Haechan.

“Gemes banget sih kalo sange gini” balas Mark sambil mencubit pipi gembil Haechan.

Selanjutnya, Mark membuka risleting celananya, Haechan bisa melihat dengan jelas, di dalam boxer berwarna abu-abu muda itu ada benda keras yang akan menghantam lubangnya, memuaskannya sampai kasurnya basah lagi. Basah karena diewe sampe pipis keenakan.

“ayangg gede banget” ucap Haechan polos ketika Mark melepas boxernya. Mark hanya bisa terkekeh pelan, bukan sekali dua kali Haechan mengatakan itu.

“sshh ahhh” desahan Haechan terdengar ketika ujung penis Mark menyentuh lubang vaginanya.

“ayaaangggg” Mark tersenyum geli mendengar rengekan Haechan, “pengen dimasukin ituuuu, jangan dimainin aah, memek aku gatel, yaang” ucapnya sambil menggerakkan pinggangnya, berharap gerakan itu bisa menyentuh penis Mark.

Mark memegang penisnya tepat di hadapan lubang kecil nan basah milik Haechan, digesekkannya kepala penisnya dari lubang hingga klitoris Haechan. Cairan hangat terasa membasahi penis Mark, cairan Haechan keluar lagi hanya karena gesekan barusan. What a-

“Kenapa diem?”

Tangan Mark diremas kuat, “Memeknya sakiit, ahhh ayangg nmhhh”

“AHHHH Ay-hmmhh”

“Katanya memeknya gatel pengen dimasukin? Kenapa baru masuk aja udah desah-desah gini? Hm?” Mengumpulkan setengah kesadarannya, Haechan berusaha menjawab, namun baru saja mau membuka mulut, Mark memutuskan untuk menghentakkan pinggulnya, alhasil Haechan kembali terpejam merasakan penis Mark menyentuh bagian sensitifnya di dalam sana.

“Kok diem? Sakit banget ya? atau mau diewe yang kuat? memek kamu makin basah loh, yang.”

“Enaakk, mau diewe yang kuat, disodok sampe pengen pipis...”

Mark menuruti, penisnya kembali ia gerakkan dengan tempo yang lebih cepat dan kuat.

“Ahhh ayangg memeknya makin gateel, sshhh .. aahhh”

Haechan menyilangkan kakinya di pinggul Mark, sekuat tenaga ia merapatkan otot vaginanya demi memanjakan penis Mark di dalam sana, “Yang, memek kamu anget banget”

Semakin Haechan merapatkan, semakin ia merasa gatal pada lubangnya. Gatal itu didapat akibat gesekan penis besar Mark di lubang sempitnya. Ah, intinya seperti itu lah. “Ahh hnmhh enak banget ay, ahhh mau keluaar, pelanin - nghh”

“Memek kamu di dalem anget banget yang, kerasa cairannya keluar keluar”

“Ahhh iy-hmmhh, udahan dulu ngewein akunya please, memek aku sesekk”

Dengan berat hati, Mark mengeluarkan penisnya, keluarnya penis Mark diiringi semburan lahar putih nan lengket dari vagina Haechan. Seperti air terjun, batin Mark. Bagaimana tidak, cairan itu keluar dari lubang menganga Haechan, kemudian mengalir perlahan menuju belahan pantatnya hingga menetes pada seprai bersihnya yang kini sudah tidak bersih lagi.

Mark beralih ke samping Haechan, dirapikannya rambut berantakan Haechan, kemudian ia kecup hidung dan bibir lelaki itu. “Udah capek? hm?”

“Mau istirahat dulu, boleh?” tanyanya pelan, “Sure” jawaban Mark disertai senyuman manis dan satu kecupan hangat di dahi Haechan.

“Mau dibersihin dulu gak?”

“Hngg.. biarin aja, aku suka kalo memeknya basah, terus nanti biar gampang juga buat diewe lagi, hehee”

“Das-”

“Halo, Kak?”

“Mohon maaf, Kak. Diskusi kita udah selesai.”

“Halo, Kak, are u there?”

Mark terkikik pelan melihat reaksi Haechan yang kalang kabut memasang baju. “Yang, kan bisa on mic aja. Gak usah pake baju lagi.” ujar Mark.

Haechan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, iya juga ya.

“Sebelumnya, maaf saya harus off-cam karena ada suatu hal,”

“Abis gue ewe dosen lu pada” ucap Mark pelan yang ternyata bisa didengar oleh Haechan. Haechan menatapnya tajam, memberi sinyal untuk tetap diam.

“Oke, terima kasih ya untuk dua kelompok diskusi hari ini, terima kasih juga untuk mahasiswa sekalian yang sudah berpartisipasi. Selanjutnya, ketua kelas silakan laporkan hasil absensi.”

“Interupsi, Kak. Izin menyampaikan hasil absensi hari ini. Alhamdulillah 21 orang hadir, satu orang izin, dan satu orang tanpa keterangan atas nama Mark Lee. Sebelumnya sudah saya coba untuk hubungi namun-”

“Ah, iya tidak papa. Nanti saya yang tanyakan langsung ke Mark, ya.”

“Baik, Kak. Sekian laporan dari saya.”

“HAHAHAHA” tawa Mark menggelegar seketika setelah Haechan meninggalkan ruang meeting virtual itu.

“Anak-anak lain kalo gak masuk mata kuliah kamu harus bawa surat keterangan kan ya?”

“Iya”

“Oke, abis ini aku mau videoin kamu lagi diewe ya”

Haechan tertawa, “Nakal banget, buat apa?”

“Buat keterangan kenapa gak masuk kelas.”

Series this work belongs to: