Actions

Work Header

a thousand times

Summary:

in another lifetime
i would never change my mind
i would do it again
a thousand times

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

#1

Mark tidak ingat sejak kapan ia mulai menyadari pola berulang yang selalu ia temui tiap reinkarnasi. Tapi ia ingat jelas kali pertama ia bertemu Donghyuck.

Bulan itu bulan Mei, dan rintik hujan menemani langkahnya dibawah payung untuk menuju salah satu restoran yang sudah disepakati teman-teman kerjanya sore tadi. Mark harusnya ikut pergi bersama saat jam kantor selesai beberapa jam yang lalu, tapi karena satu dan lain hal, iya harus bertahan di kantor lebih lama dan memutuskan akan menyusul kemudian.

Suasana restoran itu ramai saat ia meniriskan payungnya untuk disandarkan di teras, mungkin memang karena ini jam makan malam. Pada hari Jumat malam pula, semua orang punya energi lebih untuk menyambut akhir minggu dan melepas penat setelah bekerja selama lima hari terakhir. Apalagi besok libur, mereka bisa minum sedikit lebih banyak.

“Hey, udah pada lama nunggu gue ya,” Sapa Mark sambil mengambil tempat di kursi kosong antara Jeno dan ah, siapa namanya? Mark lupa. Ada anak intern baru yang masuk ke kantor Mark sejak awal minggu ini. Ia ingat anak baru itu diantar oleh bos mereka untuk berkenalan ke semua staff divisi, tetapi karena Mark banyak menjalankan tugas dinas keluar kantor dalam beberapa hari terakhir, ia tidak banyak berinteraksi dengan anak intern baru tersebut. Mark jadi merasa sedikit bersalah karena tidak bisa mengingat namanya.

“Mark, lo pesen deh mau makan sama minum apa. Tadi kita semua udah pesen,” Jungwoo, yang duduk di seberang Mark, menyerahkan buku menu. “Oh iya, Donghyuck juga jangan malu-malu sama kita, mah,”

Mark melihat lelaki di sampingnya mengangguk sopan menanggapi perkataan Jungwoo, “Iya kak Jungwoo, ini habis kak Mark pesen, saya ikutan juga, kok,”

Oh, ya. Namanya Donghyuck. Mark mencatat nama itu baik-baik di otaknya.

Mark membolak-balikan buku menu di hadapannya sebelum memutuskan ia akan memesan apa, lalu menyerahkan buku menu itu ke Donghyuck disebelahnya. “Ini, kamu liat dulu mau pesen apa. Nanti kita panggil bareng pelayannya biar sekalian,”

“Oh iya kak Mark, sebentar ya, kak,” jawab Donghyuck, dan saat ia menoleh untuk menjawab saat itulah Mark akhirnya bisa melihat jelas wajah Donghyuck dalam jarak dekat. Ada satu hal yang sempat membuatnya sedikit terkejut : Donghyuck terlihat sangat muda sekali? Apakah yakin dia sebenarnya sudah masuk usia pencari kerja?

“Eh Mark, gimana tadi pas lo dipanggil sama pak Kim?” pertanyaan Jeno menyelamatkan Mark sebelum dia malu karena ketahuan menatap Donghyuck terlalu lama. Ia pun larut dalam obrolan yang dipimpin Jeno, meletupkan tawa riuh saat ia menceritakan omelan pak bos yang harus ia hadapi sebelum menyusul yang lain tadi.

Mark baru saja ingin menanggapi percakapan lain saat ia merasa ada yang menarik sisi bajunya perlahan dari samping, dan tentu saja saat ia menoleh ia dihadapkan dengan wajah (manis) Donghyuck. “Kak, saya udah selesai milih. Kak Mark mau panggil pelayannya sekarang?”

Saat pelayan sudah pergi untuk membawa pesanan mereka, barulah Mark menyadari Donghyuck yang sedari tadi diam, hanya memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Sesekali tersenyum, sesekali menanggapi ucapan senior-seniornya dengan malu-malu. Mengingatkan Mark di waktu awal-awal dia masuk perusahaan tempat ia bekerja ini. Masih malu-malu, masih ragu-ragu, masih sungkan-sungkan. Tapi untungnya saat itu dia masuk ke kantor tersebut bersama Jeno, jadi dari awal sudah ada teman sependeritaan.

“Masih kagok ya, Hyuck, sama dunia kerja?” Mark tiba-tiba bertanya, yang sepertinya membuat Donghyuck sedikit terkejut melihat bagaimana mata bulatnya membuka lebih besar. “Eh sorry, sorry kaget, ya. Gue boleh manggil Hyuck, kan?”

Donghyuck menggeleng cepat, “Iya, kak, emang panggilan saya itu, kok,” Ia tersenyum singkat, “Yah kalau dibilang kagok sih, mungkin, kak. Baru pertama kali ini dan masih fresh graduate banget.”

“Tenang aja,” Mark meneguk birnya sekali, “Untung kamu pilih di perusahaan ini,

sejauh ini, sih, gue liat baik-baik orangnya. Gue aja betah. Walaupun pak bos kadang suka aneh- aneh, tapi ya biasa lah. Kalau ada butuh bantuan apa-apa, nggak usah sungkan minta, ya,”

“Kak Mark udah lama kak kerja disini?”

Mark terdiam sebentar, otaknya bekerja mengingat dan menghitung lama kerjanya disini. “Kayaknya.. sudah 3 tahun? Sekitar segitu kurang lebihnya. Barengan masuknya sama si Jeno kemaren,”

Donghyuck manggut-manggut, dan percakapan bisa saja berlanjut tapi sayang saja dipotong dengan datangnya makanan pesanan mereka berdua. Ia melirik makanan pesanan Donghyuck, satu wadah besar kimchi jjigae. “Sebenernya ya, Hyuck, kimchi jjigae disini tuh ga gitu enak.”

“Eh beneran, Kak?”

“Iya, ada tuh deket kantor kita yang enak banget. Gue sering banget kesana. Nanti minggu depan gue ajakin lo kesana deh pas makan siang,” Ucap Mark, yang seketika kemudian langsung menyesali. Kenapa dia jadi asal nyeblak gini ya? Duh, semoga Donghyuck nggak mikir dia keganjenan atau apa deh.

I'll hold onto that promise then, kak Mark. Selama ini cuma makan di kantin kantor soalnya nggak tau wilayah sini..” Donghyuck, yang entah hatinya baik banget atau memang nggak peka, tertawa. “Kalau sampai nggak lebih enak, kak Mark yang bayarin ya,”

“Ah, itu mah kecil. Challenge accepted!”

Mereka menghabiskan makanan mereka sambil mengobrol lebih lanjut, terkadang diselingi tawa, atau hanya diam memandang hujan diluar sana melalui jendela kaca besar dekat meja mereka. Donghyuck bisa jadi teman mengobrol yang asik, adalah kesimpulan Mark saat mereka mengucapkan salam sebelum berpisah untuk hari itu. Hujan sudah berhenti dari 15 menit yang lalu, meninggalkan kubangan-kubangan kecil yang cukup mengesalkan karena Mark baru saja menyemir sepatu kerjanya 2 hari lalu.

Mark masih berdiri di depan pintu restoran, memandangi punggung kecil Donghyuck yang berjalan berdampingan dengan Jungwoo— karena rumah mereka ternyata satu arah.

“Cuy,” suara Jeno membangunkan Mark dari lamunannya, ia merasakan rangkulan lengan temannya itu di pundaknya. “Gue denger-denger tadi ada yang mau makan siang bareng ya hari senin? Sama si anak intern baru?”

“Apasih, Jen.” Mark melepaskan diri dari rangkulan Jeno dan berjalan beberapa langkah lebih dulu daripada Jeno. He really doesn't mean it but his face is probably red right now, dear God. Suara tawa Jeno masih terdengar seiring temannya itu berusaha menyamai langkahnya. “Nggak usah salting gitu dong, Mark. Anaknya manis kok memang. Kan gue cuma seneng, akhirnya begitu, loh, temen gue mau buka hati lagi,”

Mark hanya memutar matanya, tidak menanggapi godaan Jeno lebih jauh. Tapi kalau dipikir-pikir, Donghyuck memang tidak buruk kok. Ia manis, pekerja keras, rajin, teman mengobrol yang asik, lucu, imut. Dan seiring malam semakin larut, ternyata Donghyuck orangnya rame juga. Mungkin di awal-awal ia hanya memang benar masih kagok dengan dunia pergaulan kantoran. Ah tapi tidak tau lah, Mark tidak mau terlalu cepat menyimpulkan.

Mungkin di kedepannya dia akan suka, mungkin akan jatuh cinta, atau mereka akan berteman biasa saja. Tidak ada yang tahu. Tapi untuk sekarang, Mark mau fokus dulu dengan membuktikan ke Donghyuck kalau memang kimchi jjigae yang dekat kantor itu lebih enak daripada restoran yang mereka kunjungi tadi!

 


 

#2

Kedua kalinya mereka bertemu, Mark hanya bisa memandang dari jauh.

Ia dibangunkan dengan tepukan ringan di pipinya, dan disambut dengan wajah familiar ibunya. “Minhyung,” panggil ibunya dengan nama kecilnya, “Bangun, nak. Sudah pagi. Hari ini kamu yang bertugas menyajikan sarapan pagi untuk keluarga kerajaan,”

Masih setengah sadar, Mark hanya mengikuti ibunya dengan patuh keluar dari asrama

para pelayan yang ada di sayap belakang kastil keluarga kerajaan. Mendekati waktu makan pagi, sudah banyak orang yang berlalu lalang di dapur utama. Koki dan pelayan kesana kemari mengambil piring dan bahan makanan, di satu sisi ada yang memotong sayur-sayuran, di sisi lainnya sedang menyeduh teh untuk dituangkan ke cangkir- cangkir indah khas keluarga kerajaan.

Mereka berhenti di satu sisi dapur, dan ibunda Mark menyerahkan satu apron beludru warna merah maroon dengan pinggiran keemasan, warna kerajaan, dan juga sepotong roti lapis. “Pakai ini, dan makan ini dulu untuk sarapanmu. Hari ini kau akan menyajikan sarapan untuk Pangeran Muda,”

Jam sudah hampir menunjukkan pukul 07.30 saat dua pintu besar yang membagi antara area keluarga kerajaan dan area pelayan terbuka, menampilkan beberapa penjaga kerajaan dengan senjata tajam di genggamannya, siap melawan siapa saja yang nekat menyakiti keluarga kerajaan. “Keluarga Kerajaan sudah berkumpul di ruang makan dan siap untuk sarapan. Bagi pelayan yang mendapatkan tugas melayani keluarga kerajaan hari ini, dimohon untuk berbaris dalam satu barisan,”

Mark bergegas mengambil barisan dengan yang lain. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ada Jeno berdiri beberapa baris di depannya, teman masa kecilnya sampai akhirnya mereka sama-sama bekerja di istana. Mark baru saja ingin memanggil temannya itu tetapi niatnya harus ia urungkan karena satu pelayan lain menyerahkan nampan besar berisi menu sarapan hari keluarga kerjaan pagi itu.

Mereka keluar melalui pintu besar untuk menuju ruang makan. Mark sudah berkali-kali bermain di istana, tapi tidak pernah lebih dari dapur. Hari ini adalah hari pertamanya mendapatkan tugas di dalam istana. Setiap jengkal interior istana membuatnya terpukau. Bagaimana semuanya didekorasi sebaik mungkin dengan memperhatikan bahkan detail terkecil sekalipun.

Ruang makan keluarga kerajaan tidak kalah menakjubkan, dengan meja besar panjang di tengah ruangan yang mungkin dapat menampung seluruh keluarga besar Mark.

Dan, hanya sekedar informasi, keluarga besar Mark itu banyak sekali.

Lelaki yang duduk di ujung meja adalah Sang Raja, ditemani oleh wanita cantik dengan aura keibuan disampingnya yaitu Sang Ratu. Tidak lupa putra pertama mereka. Sang Putra Mahkota, Pangeran Doyoung melemparkan senyuman saat matanya bertemu dengan Mark. Mereka pernah bertemu beberapa kali di sekolah rakyat, dan Mark cukup sering berbincang dengannya. Satu-satunya yang belum pernah Mark temui adalah Sang Pangeran Muda, atau adik dari Pangeran Doyoung. Kabarnya, Pangeran Muda memang belum diizinkan untuk tampil di publik karena usianya yang belum mencapai usia dewasa. Sejauh ini ia hanya menjalani pendidikan di dalam istana untuk persiapan menyapa rakyat saat usianya menginjak 20 tahun.

Pangeran Muda adalah anggota keluarga kerajaan yang harus dilayani Mark untuk hari ini.

Tiba-tiba, pintu di belakang kursi Sang Raja terbuka, dan seorang laki-laki masuk dengan nafas terengah-engah. Mahkota kecil bertengger manis di kepalanya, bersinar di bawah sinar matahari pagi yang masuk dari jendela. “Maaf Ayah, Bunda, Kakak, Donghyuck terlambat datang untuk sarapan,”

“Donghyuck?” Mark tidak sadar ia mengucapkannya cukup keras sampai seseorang menyikutnya dari samping. Saat ia melihat ke sekelilingnya, beberapa pelayan sudah menatapnya dengan pandangan panik.

“Kenapa kalian menatap—“ belum menyelesaikan pertanyaannya, nampan yang sebelumnya Mark pegang langsung diambil alih oleh orang lain. Dan penjaga kerajaan yang sebelumnya memandu mereka ke ruang makan menyeret Mark keluar. Mark sempat melihat pandangan kasihan dari pelayan lain sebelum pintu menutup.

Ketika mereka sudah cukup jauh dari ruang makan, penjaga tadi melepaskan Mark. “Engkau pasti adalah pelayan baru di istana. Tapi baru ataupun tidak, harusnya kau tahu untuk tidak memanggil Pangeran Muda dengan namanya. Hal tersebut sangatlah tidak sopan dan kau akan dianggap tidak menghormati,”

Jadi, Donghyuck adalah Sang Pangeran Muda?

“Kau beruntung Sang Raja tidak mendengar, atau kau bisa-bisa hanya tinggal nama,” Si penjaga tersebut berbicara kembali, “Tapi kau tetap tidak akan lepas dari hukuman.

Pergi potong dan rapikan rumput di taman belakang. Kau hanya akam bisa mendapatkan makan siang apabila kau sudah menyelesaikan hukumanmu,”

Mark meregangkan badannya entah untuk kesekian kalinya dalam dua jam terakhir, untung saja matahari pagi ini tidak terlalu terik atau penderitaan Mark akan berkali-kali lipat. Ia baru saja selesai merapikan rumput didekat teras barat saat tiba-tiba pintu kaca istana terbuka, dan Pangeran Muda Donghyuck keluar dengan wajah sendu.

Pangeran Donghyuck duduk di salah satu kursi yang menghadap ke danau, memandang ke kejauhan. Jarak antara Mark dan Donghyuck tidak dekat, tapi bahkan dari jarak yang ada pun Donghyuck masih terlihat sangat manis. Masih sama seperti pertama kali Mark lihat malam itu, di bulan Maret.

Donghyuck yang tiba-tiba berdiri sedikit mengejutkan Mark. Ia kira Donghyuck akan kembali masuk ke dalam istana, tapi ia malah naik ke atas kursi, melambungkan tangannya ke atas dan.. Oh.

Oh.

He's dancing.

The Young Prince is dancing.

Pandangan Mark terpaku pada figur Donghyuck yang terus bergerak dari satu gerakan ke gerakan lainnya. Matanya terpejam, mulutnya bergerak seperti menyanyikan lagu yang sedang berputar di kepalanya, menghayati kemana kaki dan tangannya mengajaknya pergi. Tidak ada musik yang mengalun untuk menemani dan juga tidak ada panggung megah yang menjadi tempatnya berdiri, tapi Donghyuck tetap bersinar dalam caranya sendiri.

Mark tidak tahu sudah berapa lama ia menonton Donghyuck dari tempat persembunyiannya di balik semak-semak (ia hanya tidak ingin Donghyuck jadi berhenti menari karena melihatnya) saat tiba-tiba Donghyuck berhenti karena seseorang memanggilnya. Mark tidak bisa melihat seseorang yang berbicara dengan Donghyuck, tapi ia bisa melihat perubahan ekspresi sang Pangeran Muda dan mendengar Donghyuck berkata, “Baik, saya akan temui beliau sebentar lagi,”

Donghyuck menghela nafas panjang setelah lawan bicaranya itu pergi, sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh taman, dan tidak sengaja bertemu mata dengan

Mark. Mark, yang tidak ingin membuat Pangeran Muda tersinggung, langsung membungkukkan badannya.

“Anda menari dengan sangat indah, Pangeran Muda,”

Pernyataan Mark membuat Donghyuck sedikit terkejut, jelas tidak menyangka akan ada penonton dalam pertunjukan solonya tadi. Tetapi, tidak lama kemudian, senyuman kecil muncul di wajahnya. Perasaan bangga muncul dalam diri Mark, karena berhasil merubah wajah sendu Donghyuck menjadi cerah kembali.

“Terima kasih. Ini pertama kalinya aku mendengar pujian tersebut,”

 


 

#3

Mark tidak ingat saat itu adalah pertemuan yang keberapa, tapi ia ingat saat pertama kali ia sadar jika ia jatuh cinta dengan Donghyuck.

Your attention please. Dear passengers of Korean Air, with flight number KE 8207 leaving for New York. Please board the aircraft immediately through gate number 87A. Thank you.

Mark menyeruput kopinya sampai habis, sebelum akhirnya berdiri dan mengambil tas punggungnya. Dipandangnya paspor dan boarding pass yang ada di genggamannya, keputusannya benar-benar nekat.

Singkat cerita.

Mark adalah mahasiswa tingkat dua di salah satu universitas di Seoul. Ia berhasil masuk kesana karena beasiswa mahasiswa berprestasi, hasil kemenangannya di berbagai kejuaraan fencing yang sudah ia jalani sejak kecil. Awalnya, Mark tidak ada masalah dengan kuliahnya. Malah, bisa dibilang ia cukup menikmati hari-harinya sebagai mahasiswa. Tapi ketenangan itu hanya bertahan sampai tahun pertama.

Disaat pelajaran demi pelajaran di perkuliahan sudah menjadi sulit, diikuti dengan turnamen fencing yang tak henti-hentinya harus ia jalani, batasan nilai yang harus selalu ia capai untuk mempertahankan beasiswanya, dan segala tetek bengek lainnya, membawa Mark sampai ke suatu titik.

Titik jenuh.

Kehidupannya menyeimbangkan kedua aspek penting dalam hidupnya membuatnya semakin merasa tidak bisa bernapas. Terkadang ia iri dengan teman-temannya, yang bisa bersantai-santai sore hari pasca kuliah, sementara dia harus pergi latihan. Atau teman-temannya yang bisa pergi jalan-jalan ke Everland di akhir minggu, tapi dia harus tinggal di asrama karena harus mengejar ketertinggalan mata kuliah. Percaya tidak, kalau Mark bilang dalam 21 tahun ia hidup di Seoul, lahir dan besar di Seoul, tapi dia tidak tau bagaimana bentuk Apgujeong Rodeo?

Hidupnya hanya berkutat di sekitar kuliah - fencing - rumah orang tua - asrama - kuliah - fencing - rumah orang tua - asrama. Tidak pernah berubah dalam 10 tahun terakhir.

Sampai suatu malam dimana insomnia menyerangnya, dan pikirannya berkelana jauh. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, apakah benar semua ini adalah hal yang ia inginkan? Atau hanya sesuatu yang ia lakukan karena memang ia tidak pernah tahu ada pilihan lain di luar sana?

Pertanyaan itu terus ada di dalam kepalanya, tidak pernah hilang, tapi juga tidak pernah ia temukan jawabannya. Ia mencoba bercerita dengan teman satu asramanya, Jeno, dan satu saran Jeno menggerakkan hatinya.

”Lo mungkin dari kecil sudah terbiasa hidup teratur, Mark. Orang tua lo udah mastiin jalan hidup lo supaya lo bisa hidup nyaman nantinya. Nggak salah sih, namanya juga orang tua. Tapi lo jadi nggak pernah dihadapkan dengan pilihan, juga mengambil risiko dan tanggung jawabin pilihan lo.”

“Jadi gue harus gimana, Jen?”

“Hmmm,” Jeno diam sebentar, berpikir. “Lo ada duit tabungan gak?”

Mark mengernyitkan dahi, bingung kenapa pembicaraan mereka sampai kesana. “Ada, apa hubungannya?”

“Travel is the purest form of rebellion, gue pernah baca itu. Saat lo pergi ke suatu tempat yang bukan zona nyaman, lo nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi dan apa pilihan yang akan lo hadapi. In a way, it helps you to grow. In another way, it helps you to find yourself.”

“Maksud lo gue harus kabur gitu?”

Jeno tertawa, “Ya nggak kabur, Mark. Lo ambil cuti kuliah, lalu lo pilih satu destinasi. Tempat yang agak jauh sekalian supaya bener-bener asing. Sesampainya disana, lo cobain aja apa yang mau lo coba, bebas. Mau coba belajar masak? Mau coba belajar ngedance? Mau coba belajar musik? Cobain semuanya, sampai hati lo ngomong ‘ah, gue mau seriusin hal ini.' Sampai misal pada akhirnya lo merasa nggak ada yang cocok dan lo mau balik fencing, nggak apa. Yang penting lo nggak ada penyesalan kalau lo belum pernah coba hal lain selain fencing.”

“Lo punya ide nggak kira-kira gue harus kemana?”

“New York,” Jeno menjawab pasti, “Jangan kira gue nggak pernah sadar kalau lo selalu terpana nonton musikal dan kadang nyanyi-nyanyi di shower. Disana ada broadway, gue juga denger orang-orang suka busking di taman. Mungkin lo bisa mulai dari nonton salah satu pertunjukan? Mungkin sudah saatnya lo nyanyikan sendiri lirik lagu yang lo tulis di buku catatan lo?”

Dan disinilah Mark, 2 minggu kemudian, duduk di salah satu kursi dalam penerbangan yang akan membawanya jauh ke negeri Paman Sam. Setelah perdebatan panjang dengan kedua orang tuanya, akhirnya mereka mengalah dan mengizinkan Mark pergi untuk sementara. Dengan syarat, dalam 6 bulan ia harus kembali ke Korea. Tidak ada alasan. Mark memejamkan matanya, memangnya ia bisa bertahan selama itu jauh dari tanah kelahirannya?

“Permisi,” suara seorang laki-laki membuat Mark membuka matanya. “Saya yang duduk di kursi deket jendela,”

“Oh iya,” Mark dengan sigap berdiri untuk memberi jalan bagi orang yang akan menjadi teman duduknya beberapa belas jam ke depan tersebut. “Terima kasih,” ucap lelaki tersebut, lengkap dengan senyuman.

Persiapan penerbangan berjalan dengan lancar, Mark berusaha mengalihkan perhatiannya ke penumpang yang lalu lalang menuju kursinya. Ia sedikit bersyukur, sampai pengumuman bahwa pintu pesawat akan ditutup, kursi di sebelah kanannya masih kosong. Lumayan ada space tambahan untuk tidur nanti.

Pesawat mulai bergerak untuk keluar dari parking spot, Mark memutuskan untuk tidur dan memikirkan nanti apa yang akan ia lakukan sesampainya di New York. Baru saja ia menutup matanya, sebuah sentuhan dingin tiba-tiba menyelimuti tangannya yang bersandar di pembatas kursi.

Saat ia menoleh, ia melihat lelaki yang tadi sedang memejamkan matanya dan mulutnya bergerak cepat seolah-olah merapalkan doa. Wajahnya pucat, dan bulir-bulir keringat turun dari pelipisnya. “Hei, kamu nggak papa?” Tanya Mark, sedikit khawatir.

Lelaki tadi membuka matanya saat mendengar suara Mark, dan segera melepaskan genggamannya di tangan Mark. “Ya ampun, maaf. Maaf banget. Aku refleks nyari pegangan tadi. Maaf, maaf banget kalau panik bawaannya jadi begini,”

“Ini pertama kalinya kamu naik pesawat?”

Lelaki tersebut hanya memberikan Mark senyum tipis, sambil mengangguk pelan. “Baru pertama kali dan naik pesawat sendiri, dengan perjalanan selama ini?”

“Hehe...” Lelaki tersebut mengangguk lagi, “Ini sudah menjadi rencana sejak lama selepas SMA, untuk pergi backpacking. Aku tidak mau rencana itu gagal hanya karena aku takut karena tidak pernah naik pesawat,”

Rasa kantuk Mark mendadak hilang, digantikan oleh rasa penasaran yang tinggi. Hitung-hitung membantu untuk mengalihkan perhatian lelaki ini dari ketakutannya. “Dan New York? Mengapa harus New York?”

“Tidak ada tujuan khusus,” lelaki itu mengedikkan bahu, “Aku hanya memutar bola dunia, menutup mataku, dan secara acak menunjuk ke satu tempat. Dari pertama, jariku memilih New York,”

“Kamu bilang tadi kalau kamu baru saja lulus SMA, memangnya kamu tidak ingin kuliah?”

“Bukannya tidak ingin, tapi aku hanya masih belum tahu apa yang kuinginkan. Untuk apa aku memaksakan diri untuk kuliah, yang nantinya akan aku sesali karena tidak cocok denganku?”

Untuk sejenak, Mark terdiam. Jawaban laki-laki tadi seperti menghujam tepat di dadanya. Seperti mengomentari keadaan Mark sekarang, alasan mengapa ia berada di pesawat ini at the first place. Menyadari diamnya Mark, laki-laki tersebut melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Mark. “Eum, maaf.. apakah aku ada salah ngomong?”

“Ah, tidak..” Dengan cepat, Mark menggeleng. “Hanya saja.. mengingatkanku pada diriku sendiri. Aku adalah contoh orang yang kamu bicarakan tadi, yang menyesalkan jurusan yang diambilnya,”

“Oh?”

“Aku mengambil cuti sejenak dari perkuliahanku karena aku merasa tidak berkembang,” Mark tidak tahu apa yang mendorongnya bercerita ke orang yang baru saja dikenalnya, bahkan dia belum tau namanya ya Tuhan. “Temanku menyarankanku untuk pergi sejenak, untuk mencari apa yang benar-benar aku inginkan,”

”Wah.... pasti itu adalah keputusan yang cukup sulit dibuat. Tapi aku meng-applause keberaniamu untuk mengambil langkah itu,”

“Tapi aku sendiri belum tau apa yang harus aku lakukan di New York... sama sekali.... ”

Lawan bicara Mark itu diam, seperti menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Kau mau ikut denganku?”

“Apa?”

“Aku, kamu, kita berdua. Kalau bisa dibilang tujuan kita sama; yaitu mencari apa yang benar-benar kita inginkan. Kita juga sama-sama memulainya di New York. Mencarinya bersama-sama juga tidak salah bukan? A companion never hurts? Kalau memang nanti salah satu dari kita memutuskan bahwa kita tidak lagi sejalan, yah kita bisa berpisah. Bagaimana?”

Hal itu tidak terdengar buruk...

“Kalau kita bosan di New York, kita bisa pindah tempat. And we can take turns! You can choose first, then i choose the next one, then you choose again for the next one. Gimana?”

Mark membiarkan pikirannya berputar; menimbang-nimbang pro dan kontra dari proposisi ini. Satu-satunya poin kontra yang muncul di kepala Mark adalah apabila lelaki di sebelahnya ini ternyata adalah seorang serial killer yang sedang mencari mangsa untuk mencari organ-organ tubuh segar untuk dijual. Tapi hal itu agak sedikit tidak mungkin? Mengingat lelaki di sampingnya bahkan tidak terlihat seperti ia berusia diatas 20 tahun dengan baby face nya itu? Atau memang penjahat zaman sekarang bisa semanis lelaki di sampingnya— tidak ada lagi image penjahat garang dengan tato di seluruh badannya?

Lagipula kalau memang ia serial killer yang mau macam-macam denganmu, tinggal kau tendang saja Mark. Kau ini atlet, kan, bagian rasional otak Mark menimpali.

Mark menarik nafas panjang, he's about to make decision; that's either can change his life, or end his life. It's only between those two. “Okay, count me in. Tapi dengan syarat,”

“Syarat?”

“Kamu harus beritahu dulu namamu. Apakah kamu sadar dari tadi kita mengobrol tapi tidak mengetahui nama masing-masing?”

Lelaki di sampingnya ini tertawa, membuat mata lebarnya hilang menjadi garis dan rambut ikalnya bergoyang mengikuti getaran tubuhnya. “Benar juga,” lelaki tersebut mengulurkan tangannya, “Donghyuck. Lee Donghyuck,”

”Donghyuck?” Mark mengulang nama tersebut, merasa familiar dengan nama tersebut tetapi tidak bisa memastikan mengapa. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Tapi Mark sama sekali tidak ingat wajahnya. Mark yakin mereka belum pernah bertemu, tapi mengapa satu nama ini membuat jantungnya berdegup sedikit lebih kencang?

“Mark, Mark Lee,”

“Siap. Sekarang kita sudah tahu nama masing-masing, apakah artinya perjanjian kita sudah bisa di sah-kan?”

Mark mengangguk mantap, ”I'm looking forward to our trip,”

”It's Mark & Donghyuck against the world!”

Di New York, Mark mengetahui bakat menyanyi terpendamnya dari suatu malam yang dihabiskan untuk karaoke. Tepukan riuh Donghyuck memenuhi ruangan yang hanya berisi mereka berdua, dan Mark masih tidak mempercayai nilai sempurna yang muncul di layar mesin karaoke malam itu. Di New York juga Mark tau bahwa passion Donghyuck sebenarnya adalah menyanyi dan menari, panggung pertunjukan adalah mimpinya.

Mereka berpindah dari New York setelah 2 minggu dan memutuskan bahwa mereka sudah cukup bosan disana.

Are you up for another long flight?” tanya Mark malam itu, dua hari sebelum mereka memutuskan untuk pergi dari New York.

I don't mind, I have you right by my side,” jawab Donghyuck dengan senyuman.

Mereka berakhir di sebuah pesawat menuju Reykjavik karena Mark teringat keinginan masa kecilnya untuk melihat aurora dengan mata kepalanya sendiri.

Di Islandia, Mark mengetahui betapa hangatnya tangan Donghyuck di dalam saku jubah panjangnya.

Di Kanada, Mark akhirnya mengetahui bahwa bermain salju juga bisa menyenangkan sembari melihat bagaimana bulir-bulir putih itu singgah di ikal rambut Donghyuck.

Di Verona, Mark mengetahui betapa gemasnya Donghyuck di kala mabuk. Bagaimana kedua pipinya akan bersemu merah seperti buah peach.

Di Paris, Mark menyadari betapa mungilnya Donghyuck dalam pelukannya saat mereka —secara bercanda— berpura-pura menjadi sepasang kekasih, all for the sake of being in the city of love.

Di Dublin, Mark menyadari betapa cantiknya mata Donghyuck dibawah lampu redup gedung konser; dengan Never Seen Anything Quite Like You Tonight oleh The Script sebagai latar dansa mereka malam itu.

Di atas samudera Hindia, dalam perjalanan mereka dari Dublin menuju Bali, Mark Lee menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan seorang Lee Donghyuck.

Di bawah langit jingga saat matahari terbenam di Bali, Mark mengetahui bahwa bibir Donghyuck ternyata lebih manis dari apa yang selalu ia bayangkan selama ini.

 


 

#4

Semuanya seperti berlalu dengan cepat. Rasanya seperti baru kemarin Mark ingat dirinya menangis sembari melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya yang berdiri di balik pintu keberankatan bandara, melepaskannya dengan berat hati ke Korea Selatan untuk memulai langkahnya menjadi trainee di SM Entertaiment. Rasanya baru kemarin Mark mengekor di belakang salah satu staff noona yang mengarahkannya ke salah satu ruangan, dan di dalam ruangan itu, ada satu anak laki-laki yang tingginya kurang lebih sama dengannya, senyumnya lebar sembari memperkenalkan diri.

“Hi, hyung. Aku banyak mendengar tentangmu. Mark Lee, kan? ” sapa anak tersebut lebih dahulu, akrab “Perkenalkan aku Lee Donghyuck,”

THE Lee Donghyuck.

God, Mark tidak tahu harus memulai dari mana apabila seseorang bertanya padanya sosok seperti apa Lee Donghyuck baginya. Donghyuck yang selalu mengganggunya setiap latihan agar mereka bisa pulang lebih cepat ke asrama. Donghyuck yang entah mengapa selalu ada di momen-momen memalukannya; seperti saat tertangkap basah membeli es krim di satu hari dimana Mark berniat untuk membangkang. Donghyuck yang dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca, memohon padanya untuk tidak keluar dari SM dan kembali ke Kanada, walau sadar betul keputusan itu hampir Mark buat karenanya.

Universe works in a mysterious way, they said.

Apabila kalian tanya pada Mark di tahun 2014, maka ia akan melakukan segala hal yang ia mampu untuk bisa tidak berada di ruangan yang sama dengan Donghyuck. Ia tidak menyangka ia akan merasakannya, apalagi mengingat apa yang mereka lalui di kehidupan sebelumnya. Tapi Mark usia 15 tahun saat itu sudah benar-benar muak.

But then, 7th sense unit happened, and Mark felt a bit guilty for debuting first. July 2016 happened, and Mark smiled to himself as he felt Donghyuck’s presence right by his side. August 2016 happened, and the name Haechan started to become more familiar.

When the world flashes right before their eyes under the bright lights of one stage of another, in the end of the day, it’s only Mark and Haechan inside the car as they move from one unit to another. Mark tidak akan bohong dan berkata bahwa semuanya itu mudah; ada hari dimana jarum infus sudah tidak lagi terasa sakit karena ia sudah terbiasa, ada hari dimana ia tidak bisa mengingat tanggal dan jam karena ia menjalani semuanya dengan autopilot, ada hari dimana ia hanya bisa duduk termenung di kamarnya setelah sebuah hari yang panjang; terlalu lelah untuk bahkan bisa jatuh tertidur.

But in the middle of it all, Mark starts to find comfort in the little escape he and Donghyuck made in the middle of their busy schedule to eat lunch or dinner (Mark never really a fussy person about food, he trusts Donghyuck and he just follows), in the little buskin that just comes naturally between them like they speak with notes and lyrics, in the shared earphones while watching movies as they fly over the Atlantic oceans in one of those flights that seems to never end, in the warmth of intertwined hand as they walk from the manager’s car to their apartment building when the night is just too cold and neither of them bring gloves, in the steady breathing that vibrates through the part of their torso that meets.. in betweenphotoshoots and filming--recharging; their own version of their little piece of heaven in the middle of chaos.

Apabila kalian tanya Mark di tahun 2023, maka ia akan berkata bahwa ia tidak akan bisa melakukan semuanya tanpa Donghyuck di sisinya.

Mungkin memang ada kekuatan dari ikatan yang mereka bagi lewat reinkarnasi.

He learnt it the hard way. 2022 was not an easy year for everyone, and that includes Mark and Haechan too. And when the turbulance along the way is becoming too hard to endure, sometimes a break is all that one needs to come back stronger than before. 2023 started without Haechan by his side, and Mark clasped his hands so tight wishing that it would never happen again.

Hari ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah Haechan kembali dari hiatus, dan mereka akan pergi ke luar negeri untuk sebuah jadwal festival.

Suasana di dalam mobil sunyi, beberapa member yang berada di dalam mobil yang sama dengan mereka masih berlayar dalam dunia mimpi; berusaha mendapatkan tidur sebanyak-banyaknya sebelum huru-hara yang datang dengan persiapan sebuah pertunjukkan nanti. Hal yang sama tidak berlaku untuk Mark, dan... Donghyuck.

Mark melirikkan matanya ke arah pintu keluar mobil, lebih tepatnya ke arah Donghyuck yang duduk di dekat pintu. Dengan jelas ia melihat pemuda yang 1 tahun lebih muda darinya itu fokus pada ponselnya, entah untuk apa.

Mark sempat tidak percaya bahwa dirinya akan bertemu dengan Donghyuck lagi di kehidupannya yang sekarang. Ia sudah pernah tinggal di Vancouver, pindah sementara untuk menetap di New York sebelum kembali ke Toronto. Tapi tidak pernah sekalipun ia menemukan petunjuk soal Donghyuck dimanapun. Sampai pada akhirnya sebuah audisi membawanya ke Korea Selatan, dan harapan Mark yang sudah hampir pupus, kembali mekar karena senyuman lebar bocah yang cerahnya menyaingi matahari itu.

Mark hampir saja berlari saat itu juga untuk membawa Donghyuck ke pelukannya seperti malam itu di bawah kerlipan lampu Eiffel Tower di Paris. Tapi, bagian rasional dalam diri Mark menahannya, mengingatkan bahwa ia dan Donghyuck hanyalah orang yang tidak mengenal satu sama lain di kehidupan yang sekarang, dan Mark benar-benar tidak ingin meninggalkan suatu impresi buruk.

Tatapan ramah tapi asing Donghyuck sore itu saat mereka bertemu pertama kali, menjadi pertanda bahwa, much to Mark's dissappointment, Donghyuck tidak mengingat apa-apa.

Ia kecewa, pastinya. Merasa tidak adil? Sedikit.

It hurts to be the only one remembering, with his feelings & the weight of their memories. A reminder of what they once were, even in previous lifetimes.

Tapi paling tidak, di dunia ini Mark bisa melihat Donghyuck mencapai mimpinya untuk bisa tampil di panggung. Tidak lagi di halaman belakang istana yang kosong, tidak lagi hanya di tengah Central Park dimana hanya sebagian kecil orang yang bisa menyaksikannya.

Mark: Ada yang membuatmu tidak nyaman? Kok tidak tidur?

Donghyuck: Tidak bisa hyung...

Mark: Kenapa? Nervous karena akan naik pesawat?

Donghyuck: :(

Mark: Nanti hyung duduk disampingmu.

Ia melihat Donghyuck menolehkan kepalnya ke arah Mark dengan pandangan memelas, sebelum menggerakkan mulutnya untuk mengucapkan terima kasih tanpa suara. Mark hanya tersenyum simpul. Sedikit mengagetkan bahwa dengan pengalaman keluar negeri yang tidak bisa dihitung banyaknya untuk konser ataupun agenda lain, Donghyuck masih sering gugup saat harus naik pesawat.

Mungkin juga karena sudah cukup lama Donghyuck tidak berada di tengah keramaian lagi.

Tanpa sadar, mereka sudah sampai di bandara. Semua member sudah dibangunkan kira-kira 5 menit sebelum sampai, agar bisa menyegarkan diri masing-masing. Mark sudah bisa melihat betapa ramainya di luar sana dari balik gorden jendela mobil yang terbuka sedikit. Manager mereka memberikan briefing terakhir, sebelum akhirnya pintu mobil dibuka.

Mark tidak ingat apa saja yang terjadi, yang ia ingat hanya keramaian, bodyguard di kedua sisinya, Donghyuck tidak jauh di belakangnya, dan berusaha keras tidak tersandung apapun sampai akhirnya mereka melewati imigrasi.

Airport experience is always wild.

Tapi semua kegilaan itu tidak mengaburkan senyum di wajah Donghyuck.

“Ada yang ketinggalan? Atau kau ada ditarik-tarik tadi?” tanya Mark pada Donghyuck yang duduk di sofa di seberangnya. Donghyuck mengangkat satu tangannya, gestur sebentar hyung sebelum..

Haaatchi!

Suara bersin Donghyuck cukup menggema di dalam ruang tunggu, membuat beberapa kepala mengarah padanya. Termasuk Doyoung, salah satu member grup mereka, yang langsung berpindah tempat ke samping Donghyuck dan meraba dahinya. “Flunya belum sembuh juga, ya?”

Mark hanya meringis melihat Donghyuck mencoba meraih tissue di dekatnya dengan kepala terangkat. “Aku ambilkan teh, ya, ?” Donghyuck mengangguk singkat, sebelum membersihkan hidungnya. “Terima kasih, hyung,”

Saat Mark kembali, Donghyuck sudah mulai meringkuk di sofanya. Matanya membuka lebar saat melihat Mark kembali dengan secangkir teh dan beberapa potong kue di atas piring kecil. Menaruhnya di depan Donghyuck, Mark lalu meraih backpacknya untuk mengeluarkan sesuatu. Sebungkus bye-bye fever dan obat flu.

“Makan dulu, lalu minum obat dan pakai ini. Aku tidak tau apakah akan membantu, tapi kombinasi kedua ini bekerja dengan baik untukku setiap aku flu,”

Panggilan untuk boarding datang pas ketika Donghyuck selesai dengan obatnya. Mark berusaha menyamakan langkahnya dengan Donghyuck, karena ia tau artisnya itu pasti masih gugup. Satu tangan Mark terangkat untuk memainkan telinga Donghyuck saat mereka menunggu giliran boarding, gestur yang ia ingat dari kehidupan sebelumnya, dan ia bisa merasakan Donghyuck lebih rileks.

Seperti yang ia janjikan di mobil, kursi Mark tepat di samping kursi Donghyuck yang bersebelahan langsung dengan jendela. Pikiran Mark membanwanya ke pertemuan mereka di pesawat menuju New York. Hanya kursi mereka yang sedikit berubah, tidak lagi di sempitnya kelas ekonomi, tapi di kabin mereka sendiri di kelas bisnis.

Mark lebih memilih kelas ekonomi sih. Lebih dekat.

Lebih sedikit jarak antara ia dan Donghyuck, seperti saat mereka masih rookie dulu dan Donghyuck biasa menyenderkan kepalanya di bahu Mark sepanjang perjalanan.

Mata Donghyuck sudah hampir menutup ketika pesawat akhirnya mulai berjalan menuju runway, efek kantuk dari obat flu yang Mark berikan tadi.

“Hyung,” panggil Haechan pelan, sembari menunjuk sesuatu di layar depan mereka yang sedang menanyangkan video petunjuk keselamatan. “Ada Mark hyung, hehe. Enjoy your flight,”

Mark hanya bisa tersenyum simpul melihat Haechan yang masih berusaha terlihat semangat menjetikkan jarinya mengikuti Mark di layar walau dengan mata setengah tertutup, “Istirahat, akan kubangunkan kalau sudah saatnya makan,”

Tanpa protes, Donghyuck akhirnya menyerah dengan kantuknya dan pergi terlebih dahulu ke alam mimpi.

Pesawat sudah berada di posisi, siap untuk take off, dan Mark meraih satu tangan Donghyuck untuk dia genggam.

Dingin.

“Tenang saja, seperti yang kamu bilang dulu, as long as i'm here. Right?

Mark tahu ia tak harusnya berharap banyak. Apalagi kehidupan mereka sekarang tidak akan semudah yang terdahulu. Tapi, selama Mark masih bisa tinggal dekat dengan Donghyuck, ia pikir itu cukup.

Mark rasa itu cukup.

 


 

#5

Mark merasakan dirinya mulai sadar dari tidurnya. Kamarnya mulai terasa terlalu terang karena cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden yang terbuka. Ia berusaha menggerakkan tangan kirinya, tapi ada sesuatu yang menahannya. Ia membuka matanya dan menoleh ke samping, disambut oleh kerlungan rambut coklat dengan ujung yang mencuat kesana-kemari.

Tidak lain tidak bukan, rambut suami kecilnya, Donghyuck. Mark membenamkan wajahnya ke kepala Donghyuck, menghirup aroma samponya yang familiar. Sekali lagi ia dibuktikan bahwa Ini nyata. Semua ini nyata.

Kadang Mark masih tidak percaya, akan ada saatnya dimana ia sampai di titik ini dalam satu lifetime. Satu lifetime dimana dia dan Donghyuck resmi menjadi pasangan sehidup semati, yang mengikrarkan janji mereka di depan kedua orang tua mereka, keluarga, dan teman dekat.

Mark bahkan sempat menyerah (lagi) mencari Donghyuck, karena bahkan sampai tahun kedua kuliah pun ia tidak pernah bertemu Donghyuck sama sekali. Sampai suatu saat, ia menerima ajakan Jeno untuk ikut kencan buta dengan anak universitas terdekat.

Tapi memang yang namanya takdir tidak bisa dibohongi, Mark menemukan dirinya duduk di seberang Donghyuck malam itu. Sebagai teman kencan butanya. Kencan buta hari itu berjalan lancar, dan Mark pulang dengan nomor ponsel Donghyuck tersimpan rapi di dalam ponselnya.

Butuh waktu tujuh hari bagi Mark untuk mengumpulkan keberanian untuk mengirim Donghyuck pesan. Itupun karena desakan dan ancaman (bohongan) Jeno bahwa banyak yang menaksir Donghyuck. Mau tidak mau, Mark harus kerja cepat.

Balasan Donghyuck datang tidak lama kemudian, dimana Mark berusaha tidak histeris di tengah kuliah oleh Professor Kim atau ia akan terancam mengulang mata kuliahnya lagi. (Pada akhirnya, Mark tetap mengulang. Tapi paling tidak, sekarang ada Donghyuck yang menemaninya belajar di perpustakaan).

Saling berkirim pesan setiap hari berlanjut menjadi berbicara di telepon mengenai hari- hari mereka sebelum tidur. Berlanjut menjadi menghabiskan waktu bersama di akhir minggu. Berlanjut menemani satu sama lain di wisuda masing-masing, dimana akhirnya Mark diperkenalkan Donghyuck secara resmi ke kedua orang tuanya.

Pada satu hari yang cerah di musim semi, 5 tahun sejak mereka pertama bertemu, akhirnya mereka mengikat janji sehidup semati.

Mark masih cukup asik dengan pikirannya sendiri sehingga ia tidak menyadari pintu kamar yang diketuk halus dari tadi. Suara itu membuat Donghyuck terbangun dari tidurnya, “Kak,” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Loh, kok, kamu bangun,” Mark bertanya, sedikit sedih karena Donghyuck bergerak menjauh darinya untuk bergelung lebih dalam di selimut mereka.

“Itu Chenle kayaknya udah bangun deh, makanya dia ngetok-ngetok pintu kita terus,” jawab Donghyuck dengan mata masih tertutup, siap melanjutkan mimpi indahnya bersama Lee Minhyung, idol terkenal favoritnya. Mark tidak perlu tahu soal ini, soalnya dia cemburuan.

Ah iya, Mark belum bicara soal Chenle.

Kim Chenle adalah malaikat yang datang di antara mereka sejak 4 tahun yang lalu. Mark dan Donghyuck baru menikah 2 tahun saat itu, tapi mereka sudah merasa siap dengan kehadiran anak di antara mereka. Panti asuhan demi panti asuhan mereka datangi, menemui banyak anak-anak dengan segudang latar belakang dan cerita.

Mereka bertemu Chenle di satu panti asuhan, masih bayi mungil yang sering menangis apabila telat diberi susu. Donghyuck langsung jatuh cinta di pandangan pertama.

Gedoran di pintu semakin kencang dan ditambah dengan suara Chenle yang semakin lama semakin kencang. Mark buru-buru turun dari kasurnya, takut apabila dibiarkan terlalu lama lagi Chenle akan menangis. Bocah kecilnya itu terkadang masih memiliki rasa takut ditinggalkan, padahal ia diletakkan di panti asuhan di usia yang masih sangat kecil dan Mark kira ia tidak akan ingat apa-apa soal hal tersebut. Donghyuck dan Mark berusaha sebaik mereka untuk meyakinkan Chenle bahwa mereka tidak akan pergi kemana-mana.

Chenle sudah berdiri di depan pintu kamar Mark, dengan satu tangan memeluk boneka nemo kesayangannya dan mata berkaca-kaca. Dengan cepat Mark menariknya ke dalam pelukannya, sebelum menggendongnya ke arah ruang keluarga agar tidak mengganggu Donghyuck yang ingin tidur lebih lama.

“Selamat pagi, Chenle-nya papa. Tadi malam tidurnya nyenyak?”

Chenle mengangguk dari tempatnya menyandarkan kepalanya di bahu lebar Mark. Dekapan papanya dan denyut jantung teratur papanya membuatnya hampir terlena kembali ke dunia mimpi. “Ada mimpi buruk? Atau mimpi indah?”

“Chenle nggak mimpi buruk, karena sebelum tidur sudah baca doa sama ayah!”

“Woah!” pekik Mark dengan antusiasme, “Pinter sekali anak papa! Karena Chenle pinter, hari ini Chenle boleh pilih sarapan. Chenle mau sarapan apa?”

Wajah Chenle berubah seketika, dengan kedua alis bertaut seakan ia sedang memikirkan masalah ekonomi dunia. Mark menunggu dengan sabar, sambil sesekali mendaratkan ciuman di wajah anaknya itu. “Sudah tau, mau sarapan apa?”

“Mau omelette! Atau sandwhich. Boleh ya pa, boleh?”

“Siapa tadi yang mau omelette atau sandwhich? Suara lain tiba-tiba bergabung dengan mereka, dan saat Mark melihat ke belakang sudah ada Donghyuck berdiri disana dengn lengan terbuka lebar ingin menyambut Chenle dalam dekapannya. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Chenle langsung turun dari pangkuan Mark dan berlari ke ayahnya.

“Kalau mau sarapan, cium ayah dulu!” perintah Donghyuck sambil memajukan pipinya. If there's one thing in this world that Chenle loves to do, it's kissing both of her parents. So he will always gladly do so when asked.

“Syarat kedua!” seru Donghyuck, yang disambut erangan Chenle. “Ayah!!!”

“Eits, dilarang protes! Syarat kedua harus sikat gigi dulu, baru ayah mau bikinin,” Mark hanya menahan tawanya melihat Chenle yang manyun di pelukan ayahnya, “Sini ayo sikat gigi sama Papa. Biarin Ayah masak, nanti selesai sikat gigi omeletnya udah jadi deh!” Akhirnya dengan berat hati, Chenle pindah ke pelukan papanya lagi.

“Kak, kopi kayak biasa?”

Mark mengangguk, “Iya, nggak usah kasih gula dulu, ya,” Donghyuck memberi tanda ‘ok' sebelum menghilang di balik lorong menuju dapur.

Dalam dua puluh menit, Mark dan Chenle sampai di dapur yang sudah dipenuhi dengan wangi kopi dan gurih yang menyeruak ke udara. Donghyuck masih sibuk di depan kompor, membolak-balikkan telur. Mark mendudukkan Chenle di kursi makannya, “Tunggu sebentar ya, pangeran. Ajudan akan ambilkan sarapannya tuan pangeran,”

“Hyuck, ini udah?” Mark menunjuk sepiring omellete yang ada di sebelah kompor, “Aku mau ambilin buat pangeran muda,”

Donghyuck terkekeh mendengar panggilan kesayangan Mark untuk Chenle, “Udah, Kak, ambilin aja dulu buat dia. Aku bentar lagi selesai, kok,”

Setelah memastikan bahwa jumlah sarapan anaknya cukup dan ia sudah menaruhnya di piring yang benar (piring sarapan di hari minggu adalah yang ada gambar Elsa dan Olaf!), Mark kembali ke meja makan dimana anaknya sudah menunggu.

“Ini sarapannya wahai Paduka Raja,” Mark berlagak seperti ajudan dengan membungkuk sopan sebelum meletakkan piring Chenle dan sendok garpu makannya. Mark mendekat untuk membisikkan sesuatu ke telinga anaknya, ”Papa ambilin baconnya ekstra buat kamu, diam-diam aja sama ayah, ya?”

Mendengar kata bacon, mata Chenle melebar kesenangan. Di saat seperti ini, Chenle sangat amat mirip dengan Donghyuck. Mark meletakkan satu jari di depan mulutnya, sebuah gestur rahasia! yang diikuti dengan gestur yang sama dari Chenle. “Dah, makan duluan aja, sayang. Papa nunggu Ayah selesai,”

Tidak perlu menunggu lama sampai akhirnya mereka bertiga duduk bersama di meja makan kecil mereka. Donghyuck bergerak bergantian; menyuapkan sarapan ke mulutnya dan membantu Chenle memotong kecil-kecil omelletenya. Mark memandang pemandangan di depannya dengan senyum di wajahnya.

“Kenapa senyam senyum, Kak? Serem banget aku liatnya dari sini,”

“Nggak papa toh senyum, kan senyum ganteng,” Jawab Mark asal, yang direspon dengan putaran mata Donghyuck, kesal. Tapi tautan kaki mereka yang semakin erat di bawah meja berkata lain.

Mark belajar bahwa bahagia itu sederhana. Tidak selalu harus rumah besar, mobil mewah, atau jet pribadi yang siap dipakai kapan saja. Hal di hadapannya ini bukan sesuatu yang ia bisa beli dengan uang. Dan Mark akan melakukan segala macam yang ia bisa, agar bisa terus melihat senyuman di wajah Donghyuck dan Chenle.

 


 

#6

Mark melonggarkan kancing jasnya, udara di dalam venue sudah semakin sesak dengan mulai berdatangannya undangan. Beberapa tamu berhenti untuk menyapa Mark, memberinya sedikit pep talk, dan beberapa menggodanya. Semua hanya ia tanggapi dengan senyuman, dirinya terlalu nervous untuk menjawab.

Ia akhirnya berhasil menyelinap ke arah area ruang tunggu sebelum dicegat oleh orang lain lagi. Mark berjalan ke salah satu pintu di paling ujung. Pintunya sedikit terbuka, dan terdengar suara Donghyuck dari dalam sana.

”Astaga astaga semuanya lancar kan? Tamu sudah datang? Bunga udah sampai? Makanan udah— kak Mark!!!” ucapan Donghyuck berhenti ketika matanya bertemu dengan Mark yang baru saja masuk ruangan. Dalam hitungan detik, Donghyuck sudah melemparkan dirinya ke pelukan Mark.

“Kenapa panik?” Mark tertawa, “Tenang, semuanya udah beres kok di luar sana. Tamu-tamu sudah mulai datang, udah mulai duduk,”

“Beneran, Kak?”

Mark mengangguk lalu membawa Donghyuck ke sofa terdekat. Donghyuck hanya panik, bagaimanapun ia akan menjadi suami seseorang dalam beberapa menit lagi dan ia hanya ingin semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. They've been planning this for months. “Iya semua udah beres, aku udah bilangin jangan berani macam-macam soalnya suami Donghyuck ini.. Gatau sih jago apa,”

Candaan itu memecahkan sebuah senyum di wajah Donghyuck; pipinya memerah. Donghyuck terlihat sangat bahagia, dan hal ini pun mempengaruhi Mark juga. “Udah, sekarang jangan panik. Everything will be allright. Kamu nggak ada rencana untuk melarikan diri kan, kayak di film-film?”

“Nggak lah, Kak!” jawab Donghyuck sewot, “Kakak percaya sama aku,”

You look very beautiful today, Donghyuck. Can't wait to see you walking down the aisle.” puji Mark lembut, merasakan emosinya mulai bergemuruh. Ia harus cepat- cepat pergi sebelum ia menangis di tempat (yang akhirnya akan membuat Donghyuck menangis juga).

“Terima kasih, Kak.”

“Haaahh...” Mark menghela nafas, lalu melirik ke arah jam dinding. “Acaranya sebentar lagi mulai, kakak pergi dulu ya? Nanti papa kamu jemput kamu disini pas upacara sudah dimulai,”

“Kak Mark bakal disana, kan? Ngeliatin aku?”

“Pasti. Kakak nggak akan kemana-mana. Memangnya kakak pernah ninggalin kamu selama ini?”

Donghyuck menggeleng pelan. “Kak, aku min—“

“Udah, Donghyuck. Kita nggak usah bahas itu disini ya? Kita disini rayain hari bahagia kamu. Kakak pergi dulu, ya,”

Setelah satu pelukan erat, Donghyuck akhirnya melepaskan Mark pergi.

Mark mengambil tempatnya berdiri di sebelah altar, bersama groomsmen lainnya. Ia bertatap muka dengan Jeno, calon suami Donghyuck yang juga sahabat karibnya.

Jeno berdiri tegap di altar dalam balutan tuksedo putih-hitam yang sudah dipilih dengan baik oleh Donghyuck. Mark tau, karena ia selalu ada menemani Donghyuck fitting.

Is he okay?” tanya Jeno tanpa suara.

Perfect,” Jawaban Mark sepertinya memberikan suatu kelegaan bagi Jeno.

Upacara segera dimulai dan Mark kembali memfokuskan dirinya ke acara. Nafasnya tercekat saat melihat Donghyuck berjalan menuju altar beriringan dengan ayahnya.

Senyuman lebar tidak berhenti muncul di wajah Donghyuck, sekali-kali ia mencuri pandangan ke Jeno yang telah menunggunya.

”Apakah anda, saudara Lee Jeno, menerima saudara Lee Donghyuck dan siap bersamanya dalam keadaan suka dan duka?”

”Saya terima.”

Luka itu masih baru.

Dan segala hal yang terjadi hari ini hanya membuka kembali luka yang Mark kira sudah sembuh.

”Apakah anda, saudara Lee Donghyuck, menerima saudara Lee Jeno dan siap bersamanya dalam keadaan suka dan duka?”

”Saya terima.”

Mark sadar, sekeras apapun ia berusaha untuk mengikhlaskan, ia tidak bisa membohongi rasa perih yang ia rasakan di dadanya.

”Dan dengan kuasa yang telah diberikan kepada saya, saya nyatakan kalian sebagai pasangan suami. Semoga pernikahan kalian selalu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. And now, you may kiss the groom.”

Satu hal yang pasti, some things are just not meant to be.

 


 

#7

Hal pertama yang Mark rasakan saat kesadarannya mulai penuh adalah rasa nyeri di punggung bawahnya. Tipe nyeri yang muncul apabila ia tidur di posisi yang salah dalam waktu yang lama. Posisi yang salah dalam kasus ini adalah tidur dengan posisi kepala di atas meja, dan punggungnya melengkung mengakomodasi perbedaan tinggi tubuhnya dan tinggi meja. Suasana di sekitar Mark sepi, telinganya hanya menangkap suara kekehan halus dari kiri dan kanan yang Mark tidak tau alasannya.

“Tidurnya nyenyak, Mark Lee?” tanya seseorang yang Mark tidak bisa lihat siapa. Ia meluruskan badannya, sedikit mengerang ketika satu persatu tulang belakangnya kembali ke tempat.

Seseorang mencoleknya dari samping dan itu adalah Jeno.

“Kenapa Jen?” Mark bertanya sambil menguap, menjadikannya 11:12 saja dengan kuda nil menguap. Bukannya menjawab, Jeno malah makin terlihat gelisah di kursinya. Matanya bergerak ke samping, seperti memberikan sinyal ke Mark. ”Liat ke depan, cuk,” sinyal Jeno tanpa suara.

Mark mengikuti sinyal Jeno dan dihadapkan dengan Pak Han, guru matematika killer di sekolahnya, yang sudah berdiri di depan mejanya dan tersenyum sangat amat manis kepadanya. “Tidurnya nyenyak, Mark Lee?”

“Saya minta maaf, Pak!” Seru Mark cepat, otaknya berjalan ratusan kilometer per jam untuk menemukan alasan paling rasional. “Saya—“

“Sepertinya kamu mengantuk, berarti saya harus kasih kamu penyegaran dulu. 30 putaran di lapangan!”

Mark merasakan kakinya mulai menyerah di putaran ke 15. Ia bisa bertahan latihan berjam-jam pada saat ia hidup sebagai member NCT, atau berlatih berhari-hari saat ia menjadi atlet fencing; tapi sekarang ia merasa ingin mati saja. Untung saja hanya tersisa 15 menit sebelum jam sekolah habis, ia berharap bisa kabur saat itu.

Bel sekolah berbunyi saat Mark berada di putaran ke 19, bersamaan dengan kakinya yang akhirnya menyerah. Mark melemparkan dirinya ke rumput, tidak memperdulikan apakah tanah akan menempel ke seragam putihnya atau tidak. Matahari terletak persis diatasnya, yang sangat tidak membantu keadaannya sama sekali. Dari kejauhan, ia mendengar suara derap sepatu, penanda bahwa jam sekolah sudah selesai dan seluruh siswa sudah bubar perlahan. Tapi Mark tidak peduli, ia bahkan tidak punya energi untuk duduk, apalagi berjalan menaiki tangga ke lantai 3 untuk menuju kelasnya dan mengambil tasnya.

“Kakak bakal dehidrasi kalau kelamaan disitu,”

Kan, Mark yakin dia dehidrasi berat sampai berhalusinasi. Baru saja ia mendengar suara Donghyuck, padahal ia belum sama sekali bertemu dengannya di kehidupan ini. Bukan Mark tidak ingin mencari, tapi memorinya masih segar soal sebelumnya.

Lucu sekali kalau dia mati karena dehidrasi berat sebelum ia bisa bertemu Donghyuck.

“Kak, ini Donghyuck bawain minum,” suara itu semakin mendekat, sebelum sebuah benda dingin ditempelkan di pipinya yang membuat Mark terkejut. Ia terbangun dan matanya berusaha melihat bayangan manusia yang ada di atasnya. Mata Mark menangkap patch nama di seragam putih manusia di hadapannya, Lee Donghyuck.

“Donghyuck?”

Hidup memang suka lucu. Disaat Mark tidak ada usaha sedikitpun mencari, disinilah Donghyuck. Muncul dengan sendirinya.

“Kak Mark, minum dulu ini,” Donghyuck menyerahkan botol minum dingin itu sebelum duduk di samping Mark, yang masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya. “Kok kamu tau nama—“

“Jelas tau lah, aku selama ini kan nyari kakak,”

Sebentar.

“Kamu ingat?”

Donghyuck memandang lurus jauh ke depan, “Ingat yang mana dulu? Yang kita ketemu di pesawat, atau yang kakak jadi mana–“

“Astaga, kamu ingat.”

Donghyuck menundukkan kepalanya, “Maaf, ya, Kak, aku baru ingat semuanya sekarang. Aku benar- benar tidak ingat sama sekali di kehidupan-kehidupan kita sebelumnya,” Ia diam sejenak, “Pasti berat buat Kakak. Terutama yang terakhir,”

“Tapi sekarang kamu ingat. That's all that matters,” Mark is feeling over the moon right now. Heavens are really doing him great this time.

“Ingatan aku masih kabur-kabur kak, kadang aku nggak tau mana yang beneran mana yang cuma sekedar mimpi,” Donghyuck menoleh ke Mark, “Kakak ada waktu? Aku mau tanya-tanya,”

“Sekarang? Ada! Ada! Ayo!” Jawab Mark dengan semangat sambil berdiri cepat, tidak sadar kalau dirinya baru saja pulih dari dehidrasi. “Kak, hati-hati nanti jatuh,”

Mereka berjalan berdampingan menuju kelas Mark untuk mengambil tas Mark terlebih dulu, “Mau sambil makan kimchi jjigae?”

Mendengar kata kimchi jjigae, mata Donghyuck membuka lebar dengan semangat. “Mau kak!”

“Masih sama ternyata,”

“Eung?”

“Masih sama, kayak kamu yang dulu,”

“Beneran kak? Aku suka apa lagi?”

“Banyak, kamu suka dance, kamu nggak terlalu suka makanan barat, kamu suka banget makan samgyeopsal, kamu diem-diem suka nonton girlgroup dan hafal sama lagu-lagu mereka, kamu—“ Mark berhenti saat ia menyadari bahwa ia sudah berbicara terlalu banyak, “Aku kedengeran aneh, ya?”

“Hah? Enggak, enggak, Kak!” Donghyuck membantah cepat, “Aku cuma.. takjub aja kak Mark masih inget itu semua,”

“Nanti aku cerita lebih banyak lagi,”

“Hehe, ayo kak! Aku udah nggak sabar!”

 


 

FIN. 

Notes:

Thank you for reading!!! :) I really hope you like it. Jangan lupa tinggalkan komen yaa! Atau bisa kirim ke cc aku disini : https://curiouscat.live/summerboys9900 !! <3