Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-01-27
Words:
1,006
Chapters:
1/1
Comments:
10
Kudos:
187
Bookmarks:
13
Hits:
5,354

anak kita

Summary:

eunseok mungkin suka sungchan; dan seperti mencelupkan jari ke wajan untuk memastikan minyaknya sudah panas atau belum, eunseok tanpa sadar sudah menggesekan selangkangannya ke paha sungchan untuk mengetahui hal itu.

Work Text:

eunseok salah makan.

tapi dia belum belajar apakah efek salah makan selain mual gak berkesudahan adalah tiba-tiba pengen manja sama temen sendiri.

gak sampai tiga kali dering sampai sungchan angkat panggilan teleponnya. "kenapa sayang?"

salah. eunseok tambah mual dengar suara nyebelin sungchan.

"seok jangan dimatiin dulu, please. tadi kenapa gak kelihatan seharian?" balas sungchan, menghentikan gerakan tangan eunseok yang hampir melempar ponselnya ke tembok.

"gak ngerti, tiba-tiba mual," akhirnya eunseok menjawab.

"oh… 'jadi' kali itu anak kita, seok."

suara sungchan terdengar tenang seperti mereka pasusu yang sudah menunggu momongan dua tahun. sementara eunseok cuma bisa beri reaksi kejedot tembok yang suaranya terdengar jelas oleh sungchan.

"seok?" sungchan mengabsen.

"ah tai, lagi gak mood ngobrol sama orgil," jawab eunseok sambil mengusap-usap belakang kepalanya yang panas.

"yaudah deh, mau dibawain apa?"

"gue gak hamil."

"demam gak? tadi udah minum obat? bubur mau?" 

"jangan pake kacang."

sungchan diam sebentar. kemudian ada suara tawa yang tipis namun cukup buat ditangkap oleh telinga eunseok. "tempat yang biasa kan? biasanya di sana rame. dedeknya bisa nunggu kan?"

"GAK ADA YANG HAMIL, ANJIIIIING."

sungchan harus stop main rumah-rumahan sebelum eunseok kepengen berumahtangga betulan sama cowok itu.

 


 

mungkin ini juga efek salah makan, atau segalanya memang terasa begitu domestik di mata eunseok. dua mangkok bubur kotor (iya, sungchan juga ikutan makan) yang diletakan di atas meja, sendok plastik yang menjadi saksi bisu bahwa siang itu eunseok nurut aja disuapin bubur ayam sama sungchan walau cuma habis setengah mangkok.

mungkin ini bukan efek salah makan, tapi eunseok yang mungkin suka sungchan. maka dari itu eunseok ingin sentuh sungchan, maka dari itu eunseok ingin rasakan apakah bibir itu selembut kelihatannya, atau bagaimana rasanya kalau eunseok naik ke atas sana—tubuh sungchan (yang cuma dilapisi kaos tipis), dan setengah bersandar ke tembok dengan mata terpejam.

eunseok mungkin suka sungchan; dan seperti mencelupkan jari ke wajan untuk memastikan minyaknya sudah panas atau belum, eunseok tanpa sadar sudah menggesekan selangkangannya ke paha sungchan untuk mengetahui hal itu.

eunseok suka sungchan. "mmh… chan…" ia mempercepat gerakannya. enak. sungchan masih kenakan jeans panjangnya, eunseok suka sensasi panas menggesek kulitnya.

"huks—sungchan…" eunseok remat-remat kasurnya hingga sprainya lepas di sana dan sini. gerakannya tambah kacau dan berantakan, perutnya melilit lagi tapi eunseok yakin yang ini bukan karena salah makan.

sungchan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bersuara, "eunseok?"

jantung eunseok rasanya turun ke perut. "sungch—ahh…" eunseok belum sempat bicara, tangan sungchan sudah tahan pinggulnya.

"eunseok ngapain sama paha sungchan?"

air mata eunseok hampir jatuh, "m-maaf…"

perasaan bersalah tiba-tiba hinggapi dadanya, dia gak seharusnya begini sama sungchan. eunseok brengsek. sungchan boleh putus pertemanan mereka kalau ia mau, sungchan boleh—

"kenapa gesek-gesek sendiri? emang enak? gak mau sungchan kocokin aja?"

eunseok gak tahu sungchan juga suka eunseok.

eunseok mengangguk, kemudian membawa tubuhnya ke posisi telentang, sambil membuka lebar pahanya buat sungchan.

lelaki bulan september itu tertawa. dia gak pernah menyangka eunseok bisa senurut ini. "pinternya, langsung ngerti harus ngapain." 

"udah basah banget ini ya," sungchan menepuk-nepuk penis eunseok dari luar celana. sementara eunseok melenguh kencang sebagai jawabannya.

gak pakai basa-basi, sungchan langsung urut penis eunseok yang sudah setengah keras itu dari luar celana. tangannya dingin, buat eunseok berjenggit kaget kemudian merengek pelan.

"ukh… sungchan pelan…" suara eunseok terdengar putus asa.

wrong move. sungchan anggap yang barusan seksi, maka ia cepatkan tempo kocokannya hingga pinggul cowok itu naik-naik ke atas.

"stay still, eunseok. yang anteng," sungchan mainkan ujung penis eunseok dan cowok di bawahnya itu sekarang cuma bisa nangis dengan liur menetes di dagu.

eunseok menggeleng frustrasi, tangan sungchan masih belum masuk ke celana dalamnya dan dia kepengen lebih. dia mau sungchan pegang penisnya dan masukin analnya.

"kenapa sungchan gak mau… uhh… pegang kontol aku? eunseok udah mandi sungchan… eunseok gak jorok…" eunseok sudah gak tahan lagi. ia hampir menyentuh penisnya sendiri jika tangan besar sungchan gak tahan gerakannya.

"kalau aku bilang jangan, ya jangan," garukan kuku sungchan di lubang kencing eunseok cowok itu keluarkan lenguhan panjang, sebelum sensasi ingin kencing gerogoti pinggulnya.

"sungchan aku mau keluar… lepas celananya please…" eunseok merengek, berharap sungchan mau turuti permintannya. celana dalamnya sudah lembab karena precum dan rasanya gak nyaman.

"kenapa sih rewel banget, eunseok? beneran ada dedeknya ya di perut?"

eunseok menggeleng lagi, "makanya sungchan masukin eunseok biar ada dedeknya," ia pikir ia cukup pintar buat mengerti bahwa laki-laki gak punya rahim. tapi kenapa sekarang eunseok kepengen banget panggil sungchan ayah?

sungchan gak punya sisa kewarasan yang cukup banyak buat tahan dirinya keluarkan penis dari celananya. penisnya yang juga sudah keras itu dia tekan-tekan ke lubang anal eunsok.

"nghh, gatel, sungchan…"

ia rogoh sakunya dan gak temukan apa yang dicari di sana, "eunseok… kita gak punya kondom."

eunseok hampir saja menangis kalau sungchan gak buru-buru menawarkan solusi, "kita gesek-gesek aja ya?"

eunseok mengangguk sebagai bentuk persetujuan. kemudian sungchan selipkan penisnya ke dalam celana dalam eunseok yang longgar. menggesek lubang anal eunseok yang ia bisa rasakan berkedut-kedut.

ini pertama kali buat eunseok dan dia merasa aneh. tidak dalam artian yang buruk, untungnya. ia gerakan pinggulnya hingga kulit mereka bergesekan, bakar kulit pantatnya yang mulus.

lenguhan berat keluar dari mulut sungchan, eunseok bisa rasakan penis besar itu berkedut-kedut diantara apitan pantatnya. maju, mundur. begitu terus dengan tempo yang berantakan dan asal-asalan.

cuma nafsu yang isi kamar indekos eunseok siang itu, hingga ke atap, mengetuk-ngetuk minta dilepaskan keluar.

"mhh… sungchan… mau keluar…"

ada hangat menyebar saat sungchan ciumi perut eunseok dari celah bajunya yang tersingkap, "iya… keluar sama aku ya, eunseok."

eunseok mencapai putihnya terlebih dahulu kemudian disusul oleh rengekan sungchan sebelum ia menyemburkan cairannya di dalam celana dalam eunseok. buat celana dalamnya isi mani di atas dan bawah. lengket dan hangat dimana-mana.

sungchan masih pejamkan mata dan atur nafasnya ketika dengar isakan terdengar dari bawah sana, "eunseok?"

"jorok, sungchan… lengket… sungchan sih, hiks. sungchan..." 

sungchan rebahkan badannya di sebelah eunseok yang masih merajuk, ia tertawa "cup, cup. nanti mandi sama aku, ya," katanya sambil bubuhi ciuman di dahi eunseok.

sungchan suka eunseok. sejak tujuh tahun yang lalu saat mereka duduk di bangku smp; dan kini ia gak perlu takut eunseok akan pergi kalau cowok itu tahu sungchan suka eunseok.