Work Text:
Sejak awal Eunseok tau Sungchan itu Omega.
Walau Sungchan selalu memakai obat-obatan atau aromaterapi lain demi menutupi feromon manisnya yang memikat, Eunseok masih bisa menciumnya dengan baik, bahkan sampai merasa pusing karena Sungchan itu aromanya memabukkan bukan main.
Eunseok juga heran, bagaimana orang-orang tidak tahu kalau Sungchan itu Omega, sementara aroma feromonnya begitu semerbak, memabukkan setiap berdekatan?
Hari ini, Eunseok sangat pusing. Pasalnya, aroma feromon Sungchan lebih semerbak dari sebelumnya. Aroma susu vanila bercampur bunga Sakura yang begitu kentara seolah lelaki Jung itu baru saja berendam di kolam susu dalam waktu yang lama. Aromanya memancing sisi liar Alpha miliknya.
Benar.
Eunseok itu Alpha, dan ia tidak menyembunyikannya seperti yang dilakukan Sungchan selama ini.
Entahlah, padahal Wonbin dan Sohee juga Omega dan mereka tidak menyembunyikannya dari yang lain, tapi Sungchan kekeuh mengatakan kalau dirinya adalah Beta.
BETA TIDAK SEMANIS INI AROMANYA, JUNG SUNGCHAN! Kira-kira begitulah batin Eunseok berkata nelangsa dan frustasi. Sungguh berada di dekat Sungchan selama beberapa hari ini seperti sedang menguji kesabarannya.
Sekali lagi, aroma Sungchan yang memabukkan, memanggil-manggil nafsu Eunseok untuk bangkit. Serius, Eunseok tidak bisa bohong, apalagi kala ia melihat mata bulat bak Rusa milik seorang Jung Sungchan. Senyumnya yang tampak sangat manis melebihi madu, atau suara tawanya yang menggelitik hati, menebar perasaan aneh dalam relung batinnya tersendiri. Gumpalan pipinya yang penuh, merona entah untuk alasan apa. Semuanya menjadi sangat detail dan menyenangkan untuk Eunseok.
Astaga, sebenarnya apa yang salah dengan dirinya?
Eunseok mengembuskan napas dengan kasar. Ia membuang muka lantaran mencoba untuk mengabaikan eksistensi Jung Sungchan yang baru keluar dari ruang ganti, dengan jaket merah dan rok hitam sepanjang lutut, yang pastinya juga dipadukan celana panjang. Semua staff memuji Sungchan dan ia terlihat tampan ketika mengenakannya, tapi mengapa di mata Eunseok, Sungchan kelihatan lebih jauh lebih manis dari sebelumnya?
Rok panjang itu memang terlihat cocok dengan Sungchan.
Sangat cocok sampai Eunseok berpikiran untuk mendatangi Omega yang berkamuflase itu lalu menciuminya secara brutal. Bagus. Sekarang, pemikiran Eunseok mulai melewati batas kewarasan.
Hari ini, aroma Sungchan yang menebar dan menggelitiki indera penciuman Eunseok nyaris membuatnya kehilangan fokusㅡhm, sebenarnya sudah sih.
Ucapkan terima kasih kepada staff yang meminta merekaㅡSungchan dan Eunseokㅡberdiri bersisian sambil berpegangan tangan. Eunseok memekik dalam hati, aroma Sungchan semakin terasa semakin jelas, semakin lebih harum lagi hingga membuat Eunseok ingin mendusel padanya segera, mungkin menciumi Sungchan sebadan-badan juga.
Kan.
Terkutuklah pemikiran kotor Eunseok.
“Eunseok?”
Sial. Eunseok menelan umpatannya ke dalam kerongkongan manakala dirinya berhadapan dengan Sungchan di kamar tidur mereka. Kebetulan mereka sekamar saat ini.
Lelaki Jung itu berada tepat di hadapannya, dengan ekspresi wajah yangㅡtak bisa terkatakan sebenarnya, mungkin frustasi?ㅡmasih dengan pakaian sebelumnya, yang menjadi fokus Eunseok hari ini; rok hitamㅡtanpa lapisan apapun lagi di tungkai kakinyaㅡdan, kali ini atasannya berupa kaos lengan panjang warna putih. Terduduk di atas lantai kamar, mengeluarkan seluruh isi tas, sepertinya tengah mencari sesuatu yang penting, tapi tidak menemukannya, maka dari itu Sungchan kelihatan frustasi bahkan sampai ingin menangis?
Ya, benar. Mata Rusa yang cantik itu berkaca-kaca.
Eunseok berusaha untuk fokus, tapi aroma Sungchan yang menyerbak ini menggodanya lagi, kali ini semakin kuat. Sisi liar dari Alpha-nya mengatakan untuk melempar Sungchan langsung ke ranjang dan menyetubuhinya secara brutal, menandainya, membauinya sesuka hati. Lihat kan, betapa gilanya Eunseok sekarang dihadapkan dengan Omega yang aromanya semanis wajahnya Jung Sungchan?
Eunseok menepis pikirannya, mengerutkan hidung agar kewarasannya tetap terjaga. “Ya, Sungchan?”
“Gimana ini? Gimana? Akuㅡobatnya ga ada. Obatnya beneran ga ada.” Sungchan mengadu seperti anak kecil yang benar-benar kesulitan. Saking paniknya, anak itu bahkan tidak bisa berkata dengan benar.
Eunseok mengernyit bingung. “Hah? Obat apa?”
“Eunseok, aku heat!” bisik Sungchan, entah sadar atau tidak anak itu baru saja mengungkapkan statusnya kepada orang yang selama ini berpura-pura tak tahu. “Tolong, obatnya ga ketemu, Eunseok. Aku yakin banget udah dimasukin ke tas ini tadi.”
Kali ini, Eunseok tersadar. Apalagi saat mendapati rona merah muda yang menebar di wajah Sungchan yang seputih susu sampai tulang selangkanya yang terekspos. Aroma feromon Omega manis itu menyebar dalam satu penjuru. Tentu saja, semuanya terjadi karena Sungchan sedang di masa heat.
Eunseok masih mematung di tempat saat Sungchan tiba-tiba merangkak ke arahnya.
“Tolong aku. Panas banget, Eunseok. Sakit. Aku ga sanggupㅡini sakit.” Sungchan sudah di tahap kesakitan sampai tidak bisa lagi berdiri. Ia bersimpuh di hadapan Alpha itu, memegangi kedua kaki Eunseok yang berlapiskan celana hitam, meremasnya kuat sambil merengek meminta tolong, menangis terisak.
Gila. Gila. Gila.
Harusnya Eunseok merasa iba, bukan ikut merasa panas.
“Sial, Jung Sungchan!”
Eunseok memekik kuat, lalu mengangkat tubuh Sungchan untuk membawanya ke dalam ciuman kasar sebagai pelampiasan dari rasa frustasinya yang bertubi-tubi menyiksa batin.
Sungchan yang lebih dulu meminta tolong, maka jangan harap Eunseok memberi ampun pada Omega itu.
---
Frustasi.
Eunseok sangat frustasi.
Selama seminggu penuh pikiran Eunseok hanya terfokus pada Sungchan, Sungchan dan Jung Sungchan. Tak bisa berpikir dengan baik karena aroma Omega itu semerbak bagai parfum yang disemprotkan setiap menit hingga manisnya memenuhi seluruh penjuru, seolah sengaja memang niatnya menggoda, seolah memang ingin menghitung berapa banyak kesabaran Eunseok untuk menahan nafsu.
Padahal nyatanya, Eunseok tidak bisa. Ia sudah sangat tertunduk dengan sisi liarnya. Sungchan datang dengan mudahㅡyang Omega itu tak tahu kalau ia baru saja jatuh ke dalam jebakanㅡmembuat Eunseok tak bisa melepaskannya lagi sampai kapan pun.
Anggaplah Eunseok terobsesi, akalnya tak lagi bisa diajak kerja sama. Salahkan aroma Sungchan yang mengundang. Salahkan Sungchan yang ceroboh hingga kehilangan suppressant saat sedang heat.
“Eunㅡhahㅡseok! Pelanㅡmhh! Tolong, pelan-pelan, ㅡmhh!” Setengah tubuh Sungchan telungkup di atas ranjang terlonjak-lonjak ke depan. Kedua kaki yang berada di lantai bergetar hebat akibat hujaman Eunseok dari belakangnya. Terlalu kasar, terlalu cepat hujamannya sampai tak membiarkan Sungchan bernapas dengan baik, sampai Sungchan lupa bagaimana caranya berbicara.
Dan, apakah Eunseok merasa iba dengan Omega yang menangis dan merintih itu?
Jawabannya tidak.
Eunseok terobsesi dengan tangisan Sungchan. Dengan wajah manis Omega itu yang basah, dipenuhi cairan air mata, memerah sepenuhnya sampai ke telinga. Suara isak tangisnya yang lemah dan yang harusnya menyayat hati itu malah membuat nafsu Eunseok semakin terbakar, terlebih lagi bercampur dengan suara tamparan kulit keduanya yang terdengar sangat cabul.
Sungchan menjeritㅡentah untuk berapa kali. Lubangnya terasa seperti sengaja hendak disobek dan niatnya hendak dihancurkan sedemikian rupa. Kejantanan Eunseok yang besar menghujami titik kenikmatannya berkali-kali, memberi sengatan seperti disetrum hingga tubuhnya melengkung, kesadarannya tercecer.
Kini tak ada lagi atasan yang menutupi dada dan perut. Kaosnya dihancurkan Eunseok dalam sekali tarikan, sementara rok hitamnya tersibak ke atas, mempertontonkan bongkahan bokongnya di hadapan si Alpha Song dan telah mendapat banyak tamparan keras.
Lalu, Eunseok masih dengan pakaian sebelumnyaㅡminus hanya celana beserta dalamannya yang terlepas.
Sungchan menangis sejadi-jadinya. Dengan wajah yang terbenam di bantal putih, ia cengkram semakin kuat, kadang kala tak sengaja tergigitnya saat Eunseok menyakiti lubangnya.
“Fuck!” Eunseok mengumpat, sekali lagi menarik pinggul Sungchan yang dirasa menjauh dan hampir sepenuhnya telungkup, kemudian dicengkramnya kuat di kedua sisi. Ia mendengar suara rengekan dari Omega di bawahnya, dan ia menggeram rendah ketika merasakan kehangatan yang didapati dari bagian bawahnya, rasanya seperti dipijat, diberi ribuan kenikmatan yang membuatnya lupa akan dunia. Tak habis pikir, Omega ini masih perawan hingga rasanya nikmat bukan main. “Enak banget, sayang. Lubangmu enak banget.”
Sementara Sungchan tidak akan pernah tahu kalau pengalaman pertamanya malah digunakan seperti seorang budak. Ia seorang Omega, dirinya tak menampik kalau ia suka dengan statusnya, ia menerimanya tapi tidak ingin orang-orang tahu. Aneh bagi orang lain kala memandang Sungchan saat tahu dirinya adalah Omega. Begitu aneh pandangan orang saat ia berpendapat kalau ia berharap suatu saat menemukan Alpha yang menyayanginya, menjaganya sekaligus memperlakukannya dengan lembut. Salahkah? Karena pandangan aneh itu pula, Sungchan menutupi statusnya dari lingkungan barunya.
Dan, tak dapat ia sangka kalau orang pertana yang mengetahuinya adalah Eunseok.
Ini salahnya memang. Karena kecorobohannya.
Bayangan dan impiannya menemukan Alpha yang baik, yang akan menjaganya, memperlakukannya dengan lembut pun hancur dalam sekejap mata akibat tamparan Eunseok.
“Argghㅡ Eunseok!” Dan sekarang, Sungchan sedang mendesahkan nama orang itu. Nama Alpha yang tak memberinya kenikmatan sedikitpun dalam bercinta, mengikuti hawa nafsu yang membuatnya merasa keji dan sakit.
Sungchan bahkan tidak yakin untuk menyebutnya bercinta. Ini lebih sakit.
Eunseok menunduk, menyatukan dadanya pada punggung Sungchan yang bergetar dan berpeluh banyak. Ia memberi ciuman dan gigitan kecil di pundak Omega itu, memberikan banyak tanda kepemilikan di sana. Kedua tangannya menangkup dada Sungchan dari bawah, meremasnya kuat-kuat, memainkan putingnya dengan ibu jari dan telunjuk yang membuat Sungchan semakin berisik; mengeluarkan desahan dan jeritan. Eunseok suka. Eunseok semakin suka dan bernafsu kalau Sungchan berisik seperti ini, Sungchan yang berantakan dan tak punya kuasa untuk melakukan apapunㅡkarena disini ialah yang berkuasa.
“Ahh, bagus. Lanjutkan, cantik. Teruslah mendesah.” Jemarinya dengan nakal mencubit puting Sungchan, menggaruknya kemudian menariknya kasarㅡtak peduli kalau perbuatannya itu akan membuat dada sang Omega bisa lecet. Eunseok tak peduli. Ia sudah dikuasai nafsu yang mengais kenikmatan di lubang si lelaki manis Jung itu.
Air mata Sungchan berjatuhan, merasakan perih di bagian dadanya. Kuku Eunseok mengenai bagiannya yang paling sensitif.
Alpha Song itu pun memberi kecupan lagi, kali ini di atas daun telinga Omega itu sebelum mempercepat gerakan di bawahnya. Satu tangannya menurun ke bawah; ke perut Sungchanㅡmenekan tepat di mana kejantanannya begitu terasaㅡyang mana pergelangan tangannya ditahan tangan Sungchan. Otomatis Omega itu langsung telungkup sepenuhnya di atas ranjang, dengan kejantanannya yang menegak tergesek selimut secara kasar. Sungchan mengerang lemah karenanya.
“Jangan ... Eunseokㅡngh, please,” lirih Sungchan yang putus asa. Tak tahu lagi bagaimana cara untuk membuat Eunseok memperlakukannya dengan baik. Tubuhnya sudah sepanas api, tapi tak ada sedikitpun nafsunya tersalurkan akibat rasa tersiksa yang diberikan si Alpha.
Masih saja tak berhasil, Eunseok tak sedikitpun memberi jeda ataupun memelankan tempo gerakannya yang brutal, sampai kejantanan lelaki itu di dalam lubangnya kian membesar, hujamannya begitu dalam dengan kasar hingga beberapa kali dan cairan putih memenuhinya.
Sungchan merasa penuh, merasakan perutnya hangat. Eunseok keluar begitu banyak hingga rasanya ada yang mengalir dari pahanya ketika mengeluarkan penis dari lubangnya.
Si Alpha yang baru saja mendapatkan puncak kenikmatan pun menyelipkan wajahnya di balik perpotongan leher Sungchan, menghirup aromanya dengan rakus. Jemarinya masih sibuk memeta setiap tubuh telanjang lelaki Jung itu, dengan gerakan seduktif.
“Sungchan?” panggil Eunseok usai beberapa menit mereka berdiam diri, yang membuat Sungchan terkesiap dengan deru napas memburu. Bibirnya bergetar lagi kala tangan si Alpha mengelusi surai belakangnya. “Damn, i'm so sorry, Sungchan.“ Eunseok mengumpat keras, tersadar akan perbuatannya setelah nafsu liarnya bak hewan tersalurkan dan menyakiti Sungchan tanpa disengaja.
Tangis Sungchan yang semula menghilang kini timbul lagi. Wajahnya terbenam di bantal sepenuhnya saat Eunseok ingin memutar tubuhnya, sedangkan ia tak mau karena tak ingin menatap lelaki Song itu. Bagian bawahnya kebas bukan main, apalagi dengan lubangnya, tapi di sini hatinyalah yang paling hancur.
Sepertinya Eunseok tahu, karena itu ia tak memaksa, dan memilih untuk menciumi punggungnya dengan begitu lembut diiringi bisikannya yang menyebut kata 'maaf' berulang kali.
Menghabiskan waktu setengah jam lebih, dan Eunseok tak berhenti memberikan ciuman serta elusan sebagai bentuk permintaan maafnya, hingga Sungchan akhirnya mau berbalik badan.
Ia mengukung Sungchan yang masih sesegukan, berbaring dengan mata bulat berhiaskan air mata. Bibir merah muda itu merekah, bergetar hebat, mengeluarkan lirihan dan gumaman 'sakit'.
“I'm sorry, Omega.” Terkutuk memang nafsu Eunseok yang membludak itu, yang tak bisa tertunduk pada akal sehat, yang tak bisa memikirkan perasaan orang lain saat sedang bercinta. Pada dasarnya, Eunseok yang frustasi akan aroma sang Omega Jung akan membuatnya menjadi seorang yang kasar, dan ia baru menyadari hal itu sekarang.
“You hurt me, Alpha.“
Sungchan mengadu dengan lirihan kecil, tak berdaya, dengan bola matanya berwarna coklat karamel, memandang sayu padanya, membuat Eunseok tak bisa berkutik selain menggumamkan permintaan maaf sembari mengelus surai si Omega. “Maaf. Maaf, aku harus apa biar kamu berhenti nangis?”
Anak rambut yang lepek dan basah itu Eunseok singkap dari kening Sungchanㅡagar ia bisa membubuhkan ciuman lembut di sana, demi menyalurkan kasih sayangnya dan berharap ketakutan Omega itu berangsur-angsur menghilang.
Sungchan tak menolak saat Eunseok menciumnya, maka bibir lelaki Song itu turun ke pipi, mengecup sebelah kini dan kanan berkali-kali secara lembut. Eunseok juga mencium hidung bangir Sungchan yang memerah, lalu bibirnya.
Hanya kecupan singkat karena tidak ingin membangkitkan ketakutan Sungchan lagi.
Mata Rusa Sungchan pun terkunci pada pandangan mata Eunseok saat lelaki itu mengusap sebelah pipinya menggunakan ibu jari, membersihkan sisa air mata di sana.
“Kenapa kasar sama aku?” Pertanyaan itu terlontar saat Sungchan merasakan kenyamanan setelah semua perbuatan lembut si Alpha.
Ya, sejujurnya Eunseok tak yakin akan ada Alpha yang berperilaku lembut saat mendapati Omega yang mengemis di kaki mereka, apalagi ini Omega yang semanis Jung Sungchan.
“Maaf, aku ga bisa nahan diri.” Dan, hanya itu yang bisa Eunseok ungkapkan karena ia mulai memahami perasaan Omega di bawahnya ini.
“Seterusnya, aku janji bakal main lembut.”
Eunseok menepati janji.
Setelah pengalaman pertama yang buruk, Eunseok membalasnya dengan perlakuan lembut bukan main.
Tubuh Sungchan yang terduduk pun bergetar hebat, diberi kenikmatan dan kehangatan saat kejantanannya dilingkupi mulut lelaki Song itu.
“A-Alpha ...” Kepala si Jung mendongak, bersamaan dengan kedua kakinya yang mengangkang lebih lebar lagi. Matanya memejam, jemarinya bergerak di antara surai Eunseok yang tenggelam di selangkangannya.
Lidah Eunseok menjilati batang penis si Omega sebelum dihisapnya kuat-kuat, menimbulkan jeritan lirih dari si jelita Jung.
Sungchan keluar setelah beberapa menit Eunseok mengulum miliknya, setelah perasaan baru yang membuatnya seperti terbang. Cairan putih yang kental itu mengotori mulut si Alpha.
Bukannya jijik, Eunseok bangkit dari posisi berlututnya sambil menjilat ibu jari yang baru saja mengusap bibir bawahnya bernoda spermaㅡpemandangan yang membuat nafsu Sungchan terpantik usai membuka mata, memandangnya lekat-lekat; mendapati rambut Eunseok yang berantakan akibat ulahnya, anehnya lelaki itu semakin bertambah tampan.
“Eunseok.”
“Hm?” Lelaki Song itu berdeham kecil saat ia merangkak ke atas ranjang, mencapai Sungchan yang juga ikut memajukan tubuhnya.
Ciuman lembut diberikan. Tepat di bibir. Satu sama lain sibuk mengisap, saling memberi lumatan, saling memberi kenikmatan yang membuat sejuta kupu-kupu terbit di perut masing-masing.
Eunseok memberi jeda pada ciumannya untuk melihat bagaimana si Omega jelita itu menunjukkan tatapan cerahnya dan senyum kecil sebagai respon. Kali ini ia memegang dagu Sungchan dan kembali menyatukan bibir mereka.
Sungchan memeluk pinggang Eunseok yang kemudian menidurkannya lagi di atas ranjang lalu menindihnya dengan penuh gairah. Kali ini tak ada pemaksaan, tak ada kekasaran seperti sebelumnya; saat ia dihempas ke ranjang seperti barang rongsokan.
Song Eunseok pun baru menyadari kalau Sungchan sangat suka diperlakukan lembut begini. Saat ia menyentuh sang Omega dengan hati-hati, memberinya ciuman kupu-kupu di seluruh wajah dan reaksi yang diberikan adalah kekehan lembut. Gemas. Ia gemas sekali pada tingkah polah Sungchan padahal anak itu masih di masa heat.
Sial.
Eunseok terkekeh tanpa sadar begitu mendapati Sungchan yang merengek saat dirinya mendusel-kan rambutnya di wajah anak itu.
“Geli.” Sungchan protes dan Eunseok menghentikan aksinya, memberi kecupan lagi di bibir. Sepertinya Eunseok mulai candu menciumi Sungchan.
Ia menatap pada bagian dada Sungchan, dan yang benar saja puting itu tampak lecetㅡakibat ulahnya beberapa jam lalu.
Menurunkan posisi wajah, Eunseok menyetarakan mulutnya dengan dada Sungchan. Memasukkan salah satu puting itu ke mulutnya usai dijilatnya penuh nafsu.
“Eungg!” Napas Sungchan tercekat mendapat perlakuan yang begitu tiba-tiba. Tanpa sadar, satu tangannya menekan kepala Eunseok agar tidak lepas dari dadanya. Desahannya menguar kala Eunseok menyedot putingnya seperti seorang bayi yang kelaparan. Di bagian pentingnya adalah aroma Sungchan semakin menyerbak lembut, berpadu dengan feromon milik Eunseok yang segar. Aroma wood yang menenangkan batin Sungchan, juga sisi Omega-nya.
“Ah, Eunseok!”
“Ya, sayang?” Eunseok terkekeh pelan saat dirinya melepas diri dari memanjakan dada Sungchan untuk berpindah ke sisi satunya. Ia mengecup sebelah pipi si Omega dengan gemas.
“Eung.” Sungchan bergelayut manja sambil tersenyum malu-malu, entah ini berasal dari sisi Omega-nya atau memang begini adanya saat ia sedang tersipu akibat Eunseok yang memanggilnya demikian.
Eunseok yang menyaksikan hanya bisa tersenyum lebar. “Kamu tau, aku udah bener-bener ga bisa nahan lagi,” ungkapnya jujur. Meninggalkan kedipan heran dari si Omega yang kemudian satu tungkainya diangkat dan diberi ciuman di paha dalamnya.
Mata Eunseok mulai memberi tatapan tajam saat melirik Sungchan selagi ia membuat tanda kepemilikan di sana.
“Jadi, Omega ... maukah kakimu dibuka lebih lebar lagi buat Alpha-mu ini, hm?”
