Work Text:
Ada peribahasa yang mengatakan, 'jangan menilai isi dari sampulnya saja'.
Peribahasa ini sangat cocok untuk menggambarkan situasi Sungchan dan Anton selama mereka hidup sebagai saudara yang berjarak tiga tahun.
Banyak orang yang mengatakan kalau wajah Sungchan terlihat galak saat ia sedang diam, tapi nyatanya ia memiliki sifat yang sangat periang dan ramah. Dibandingkan adiknya, Sungchan lebih sopan, tutur katanya juga lembut. Sungchan yang berpendidikan tinggi dan kepintarannya yang di atas rata-rata pun lebih memilih untuk bekerja sebagai guru di sekolah dasar karena kesukaannya terhadap belajar dan mengajar. Selain itu, Sungchan juga sangat menyukai anak-anak.
Sementara Anton adalah kebalikannya, wajah tampannya disebut lebih cantik dari Sungchan, dan hampir menyerupai wajah malaikat saking lembutnya kesan pertama yang diperlihatkan.
Tidak mencerminkan wajahnya, sifat Anton lebih berjiwa bebas. Ia sendiri telah banyak melakukan kenakalan di usia remajanya, sehingga orang tuanya sudah sangat muak terhadap sifatnya yang keras kepala.
Maka dari itu, tidak heran kalau perbedaan Sungchan dan Anton diibaratkan dengan koin yang memiliki sisi berlawanan.
“Kamar kamu yang di sana, ya?” Sungchan menunjuk pada salah satu pintu ruangan yang tertutup setelah Anton berjalan masuk ke dalam apartemen sembari menarik satu koper. Di sana, Anton disambut dengan senyuman yang terpatri di bibir ranum sang kakak, juga aroma peppermint yang begitu harum dan nyaman.
Sungchan sekali, pikirnya.
Ini hari pertama Anton tinggal dalam apartemen yang sama dengan Sungchan.
Sama seperti alasan Sungchan dulu—karena tuntutan pekerjaan—Anton pun memilih untuk keluar dari rumah dan mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat kerjanya sebagai seorang editor di sebuah penerbitan buku. Dan, orang tua mereka menyarankan agar Anton tinggal bersama Sungchan demi menghemat pengeluaran.
Untung saja, Sungchan tidak keberatan untuk berbagi apartemen yang telah ditinggalinya selama lebih dari dua tahun itu.
“Makasih, Kak.” Anton berdeham, jemarinya meremat pegangan koper lalu menoleh pada Sungchan. “Ini beneran gapapa kan, gue tinggal di sini?” tanyanya pelan.
Lantas, Sungchan terkekeh. “Ya, gapapa, santai aja kali. Lagian ngga enak juga sendiri,” balasnya, menepuk bahu sang adik dengan main-main. “Aku udah masak, kalo udah selesai ngerapihin bajunya, makan ya?”
“Ya, oke.”
Tinggal bersama Sungchan tidak terlalu sulit sebenarnya. Anton juga tahu Kakaknya tipe orang yang tidak suka mencampuri urusan pribadi. Mereka saling menghormati privasi masing-masing, saling berbagi jadwal untuk memasak dan membersihkan rumah. Kadang kala berbelanja bersama agar tahu berapa banyak kebutuhan rumah yang perlu dikeluarkan sehingga mereka dapat membaginya dengan adil.
Ya, seperti Anton bilang, tidak sulit tinggal bersama Sungchan.
Asalkan rumah tetap dalam kondisi rapi dan bersih, Sungchan tidak akan protes tentang apapun itu.
Walaupun ada kalanya, Anton sepulang dari bekerja tidak langsung ke rumah, melainkan minum-minum di bar, menginap ke hotel setelah bertemu dengan seseorang untuk menghabiskan malam dan baru kembali saat subuh hanya untuk mandi, berganti pakaian lalu berangkat bekerja, Sungchan juga tidak akan mengatakan apa-apa, ataupun mengadu pada orang tua mereka.
Sungchan pikir, Anton yang berjiwa bebas tidak akan mungkin bisa ia atur dengan sesuka hati, jadi ia pikir membiarkannya mungkin lebih baik selagi masih mempertahankan batasan.
Terhitung sudah sebulan Anton tinggal di apartemennya, dan sejauh ini semuanya baik-baik saja.
Anton kembali ke apartemen ketika malam mulai menjelang, kira-kira sekitar pukul tujuh. Ini malam minggu sebenarnya, tapi entah mengapa ia tidak berniat untuk pergi ke bar atau nongkrong bersama temannya seperti biasa. Tiba-tiba mood-nya sedang tidak bagus sehingga memilih untuk langsung pulang dan beristirahat.
Tapi, Anton menemukan Sungchan di dapur dalam kondisi yang tidak biasa. “Kak?” gumamnya terpekur untuk beberapa saat usai matanya menangkap kondisi di mana sang Kakak sedang menangis sambil memegang sendok sayur di hadapan masakannya yang sedang dipanaskan. Lantas, dengan impulsif, Anton melangkah ke hadapan Sungchan yang memalingkan wajah—sibuk mengusapi wajah dengan kasar—tapi Anton langsung meraih wajah Sungchan untuk ditangkupnya menggunakan kedua tangan, menghadapkannya agar mereka bisa saling bertatapan.
Dan yang benar saja, Sungchan memang ketahuan sedang menangis. Pipinya terdapat lelehan air mata, dengan mata bundar berwarna coklat hazel yang berkaca, hidung memerah dan bibir yang melengkung ke bawah. Sukses membuat Anton panik bukan main, walaupun sisi lainnya mengatakan kalau sang kakak tampak begitu manis dari biasanya. “Kak, lo kenapa?” tanyanya spontan.
“Ah ... ” Sungchan menghela napas, terkekeh dengan parau sambil menyeka air matanya sendiri. “Gapapa, Anton. Ngga sengaja nangis ini,” katanya beralasan. Dan, ayolah ... seorang Jung Sungchan tentu saja tidak cocok dengan sifat pandai berbohong.
“Kak, kenapa? Ayo cerita.” Anton mendesak, sekali lagi bertanya dengan sungguh-sungguh lantaran khawatir mendapati Sungchan yang tiba-tiba menangis seperti sekarang.
“Gapapa, Anton. Serius.” Dan, Sungchan terus berkilah, mencoba untuk mengalihkan perhatian Anton. “Tumben cepat pulang? Ini kan malam minggu? Ngga nongkrong?”
Anton tidak menjawab. Ia terus menatap Sungchan yang menjauhkan tangannya dengan perlahan. Lalu, perhatiannya teralihkan pada sekotak coklat dan setangkai bunga mawar merah yang tergeletak di atas meja. Dalam beberapa detik, Anton sudah bisa menebak apa yang terjadi pada lelaki di hadapannya itu.
“Lo ditolak, Kak?”
Malu.
Sungchan sangat malu ditanya begitu sampai kedua pipinya memanas dan meninggalkan rona merah yang begitu kentara. Apalagi ini Anton yang langsung menembak pertanyaan dengan nada datar, tapi sukses menyakiti perasaannya yang masih sangat sensitif. Emosinya terpantik, sehingga matanya melirik tidak senang.
Anton tidak salah. Sungchan memang baru saja menerima penolakan dari sosok yang ia sukai tadi sore, sepulang dari sekolah, temannya dulu. Dan, itu sangat membuatnya merasa sangat sakit hati hingga akhirnya ia menangis begitu sampai di apartemen.
“Bisa diem ngga sih?!” Tanpa sadar, Sungchan menaikkan suara—sesuatu yang tidak pernah dilakukannya apalagi di hadapan anggota keluarganya sendiri—yang mana membuat Anton terpekur. Lirikan mata Sungchan yang berkaca-kaca itu tampak begitu menyedihkan di mata yang lebih muda. “Iya, aku baru ditolak! Jadi, sekarang diem!”
“Okay, i'm sorry.” Anton mengangkat kedua tangan, mengalah agar emosi Sungchan tidak lebih parah lagi. “Sekarang, tenang. Sini biar gue aja yang masak. Lo istirahat gih.”
Pelan-pelan Anton meraih sendok sayur yang masih berada di pegangan Sungchan. Ia mengambil alih masakan yang sempat terabaikan lantaran perseteruan yang terjadi di antara mereka.
Sungchan yang terpekur tidak menolak saat Anton menyentuhnya, mendorongnya dengan begitu perlahan dari posisinya yang berhadapan dengan kompor sebelum masakan dalam panci jadi mendidih. Perasaan bersalah seketika menyeruak ketika sadar ia baru saja bersikap kasar, tidak seperti biasa. Dan, bukannya marah, Anton malah membalas dengan lembut, membuat Sungchan semakin merasa tidak enak. “Anton, maaf.”
Anton tersenyum simpul usai mengangguk pelan, tampak tak mempermasalahkan. “Gapapa, Kak. Udah, lo beres-beres aja. Mandi atau tidur, kalo ini udah siap, gue panggil.”
Maka, Sungchan pun menuruti. Ia mandi dan beristirahat sejenak di kamar, memainkan ponselnya dengan menggulir layar di sosial media berharap menemukan sebuah postingan lucu atau menggemaskan yang bisa membuat perasaannya lebih baik lagi. Karena jujur, Sungchan masih merasa tak enak setelah membentak Anton. Setidaknya, saat keluar nanti, ia ingin perasaannya baik-baik saja.
Namun, tidak sesuai ekspetasi, Sungchan malah menemukan postingan berupa gambar dari seorang gadis yang ia sukai kini sedang berkencan dengan seorang pria. Di postingan tersebut diperlihatkan sebuah foto di mana gadis itu sedang makan es krim dan dirangkul oleh seorang pria dengan mesra.
Hal itu membuat Sungchan langsung melempar ponselnya dengan sembarang dan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Hatinya kian memanas, rasanya sakit sekali sampai Sungchan tak dapat menahan isak tangisnya.
Bukannya semakin membaik, perasaan Sungchan semakin gundah.
Makan malam kali ini lebih canggung dari biasanya. Sungchan tidak mengatakan sepatah kata pun, membalas ucapan Anton saja hanya berupa anggukan dan deheman pelan. Jujur, ini membuatnya sedikit frustasi, ia harus memutar otak untuk memikirkan sebuah ide agar Sungchan dapat membaik seperti sebelumnya.
Dan, otaknya berhasil mendapatkan satu ide jahat yang membuat Anton langsung meletakkan sendoknya di atas meja. “Kak, ayo nonton.”
“Hah?” Sungchan mengerjap bingung lantaran tak fokus hingga tak tahu apa yang baru saja dikatakan oleh sang adik.
“Nonton.” Anton mengulang katanya sekali lagi. “Ayo nonton bareng gue, ada film yang bagus, kali aja bisa buat lo mendingan.”
“Oh, oke.” Tanpa basa-basi, Sungchan mengiyakan dengan mudah. Walaupun ia juga tidak terlalu suka menonton, tapi ya, ia juga tidak enak menolak adiknya mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Jadi, usai makan malam, mereka sama-sama duduk di sofa panjang, bersisian dan menonton film yang sedang Anton putar.
Di menit-menit awal terlihat biasa saja, Sungchan sendiri tidak terlalu fokus dengan adegan yang ditampilkan di layar kaca televisi sebab dirinya masih merasa sedih. Namun, beberapa menit kemudian fokusnya pun teralihkan pada alur film yang menurutnya cukup bagus dan membuat penasaran.
Rasa antusiasnya yang begitu kentara membuat Anton tersenyum kecil ketika meliriknya sebentar, kemudian menyantap popcorn yang kebetulan ia siapkan sebagai salah satu cemilan (jaga-jaga) agar Sungchan tidak rewel.
Dua puluh menit kemudian, adegan pun berganti di mana sepasang kekasih kini sedang saling berciuman dengan begitu panas. Sungchan tampak kaget, matanya berkedip lucu. Punggung lelaki Jung itu seketika menegak dan mencoba biasa saja karena dilihatnya Anton tidak bereaksi sama sekali; hanya fokus menonton dengan mulut yang mengunyah perlahan.
Tapi, Sungchan tetap tidak bisa tenang karena adegan berganti di mana sepasang kekasih itu kini melakukan adegan intim di atas ranjang dalam kondisi tak lagi berbusana. Rasa panas menghantarkan kulit, membuat jantungnya berdegup gugup dan malu. Sungchan tidak pernah melihat orang lain dalam keadaan telanjang, jadi bisa dipastikan ini kali pertama ia menonton film dewasa.
Rasa panas yang menjalar itu membuat duduknya kian gelisah. Bagian selatannya terasa sedikit terangsang manakala aktor dalam film itu kini menyentuh penis lawan mainnya, memainkannya dengan seduktif, yang mana desahan dari kedua pemain itu saling bersahutan, begitu kuat dan mengundang hawa nafsu.
Oh, tidak. Penis Sungchan bangun karenanya.
Ia tidak ingin mengelak, adegan itu sukses membuatnya terangsang. Sungchan meringis dalam hati, menekan selangkangannya sendiri dengan bantalan sofa yang kebetulan berada di sebelahnya.
“Ouh ... “
Sungchan heran, bagaimana bisa Anton tetap duduk dengan tenang menonton adegan panas tersebut tanpa merasakan yang sama sepertinya? Apa karena Anton sudah sering menonton film seperti ini?
Tak bisa lagi menahan diri, Sungchan segera bangkit dari sofa, yang mana membuat Anton menoleh kepadanya, “A-aku mau tidur,” ujarnya gugup, kemudian melarikan diri dengan masuk ke kamar sebelum Anton mengucap sesuatu untuk menahannya agar tetap menonton. Sungguh, Sungchan tak lagi bisa menahan ereksinya ini. Rasanya sangat tidak nyaman.
Sungchan menutup pintu dengan tergesa lalu berbaring dengan posisi meringkuk di atas ranjangnya yang berukuran sedang. Matanya mulai berkaca-kaca dan bibirnya mengeluarkan desisan rendah manakala mencoba untuk menahan rasa sakit dari bagian selatan yang ia sendiri tak paham bagaimana cara menuntaskannya. Sungchan menggesek bagian bawahnya sendiri yang telungkup di atas kasur, menyebabkan penisnya terasa semakin perih.
Tidak. Ia tak bisa menyelesaikannya sendirian. Apa yang harus dilakukan Sungchan agar penisnya tidak bangun lagi?
Sungchan pun mengubah posisinya menjadi duduk. Ia meneguk ludah dengan gugup sembari menurunkan celananya pelan-pelan bersamaan dengan dalaman yang dikenakannya. Begitu ia sudah setengah telanjang, celananya pun berada di sudut ruangan, ia menatap penisnya yang sudah menegang sempurna kemudian menyentuhnya.
“Eungh ... ” Sungchan tidak pernah tahu bagaimana caranya memuaskan diri dengan jari. Ia juga tidak tahu apa yang dilakukannya ini bisa membuatnya merasa lebih baik, jadi jemarinya itu bergerak dengan kaku; naik-turun mengusap batang kejantanannya sendiri demi mencari kenikmatan. Setetes air mata turun ke pipi, bibir bawah ia gigit guna menahan tangisnya yang frustasi.
“Kak, mau gue bantu ngga?”
Sungchan dengan panik menolehkan kepala ke belakang; mendapati Anton yang berdiri di ambang pintu dengan senyum kecil. Oh, astaga. Terlalu panik dan tergesa membuat Sungchan lupa untuk mengunci pintu. Alhasil, Anton berhasil masuk dan berjalan mendekati ke arah ranjangnya.
“Kak ... ” Anton memanggil, dengan nada pelan dan sedikit mendayu seolah tengah mencoba menggoda Sungchan. Saat lelaki yang lebih tua memalingkan wajah, Anton meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kamera yang diarahkan lurus ke arah mereka. Anton pun menaiki ranjang, merangkak demi mendekati sang kakak yang sedang termangu dengan tatapan sayu. Anton mengulurkan jari, mengusap pipi Sungchan, gerakannya begitu perlahan dan seduktif, “Jangan nangis dong.”
Tersadar, Sungchan menjauh lagi dan menggelengkan kepala. “Ngga, Anton. Kita kakak-adek.” Ia menolak.
Anton berdecak. “Saudara sambung. Orang tua kita nikah, makanya kita bisa jadi saudara, tapi bukan berarti kita sedarah.” Ia meralat sekaligus berusaha mendekati Sungchan yang terus beringsut hingga punggungnya bersandar di dinding.
“Tetap aja—”
“Shh!” Anton menginterupsi, dan tanpa aba-aba menarik badan Sungchan agar tidak ada jarak di antara mereka yang mengganggu. “Percaya ama gue, gapapa gue bisa bantu.”
Sungchan termangu dalam beberapa saat. Di sisi lain, ia membutuhkan bantuan untuk menuntaskan rasa frustasinya, namun logikanya masih bertahan.
“Ini rahasia kita berdua, Kak. Jangan kasih tau siapa-siapa, ya?” Anton berbisik dengan nada rendah, nada suara yang begitu lembut hingga bulu kuduk Sungchan meremang bak rayuan Iblis penggoda untuk tunduk pada hawa nafsu. Memposisikan diri dengan duduk di belakang lelaki yang lebih tua, melingkarkan lengannya di perut, kian menghapus jarak di antara mereka sehingga Sungchan turut masuk dalam pelukan, terkunci di dua lengan Anton, si dominan.
Sungchan bergerak dengan takut. “Rahasia kita?” gumamnya meragu, yang kemudian dibalas dengan dehaman panjang Anton sebelum pelipis sebelah kanan dibubuhi kecupan. Sungchan benar-benar jatuh kali ini, hingga dengan impulsif mengangguk, memberi persetujuan yang mana merekahkan senyum kemenangan di bibir dominan.
“Okay. Relax ya, Kak? Gue janji bakal buat lo senyaman mungkin sampe lupa sama rasa sedih lo,” kata Anton lalu dibalas dengan anggukkan kepala dari Sungchan. Dirasa sudah mendapatkan lampu hijau, tangan Anton bergerak ke bawah, mengelilingi batang kejantanan sang Kakak. Saat berada dalam genggaman, diurutnya dengan perlahan, diberikan pijatan sehalus mungkin kian merangsang Sungchan.
Tentu saja, tubuh Sungchan seketika menegang dengan hawa panas yang merengkuh setiap inci kulit. Desahan pun keluar dengan malu-malu, “Aㅡah, Anton.”
Yang dipanggil berdeham panjang di perpotongan leher Sungchan, mengembuskan napas panasnya. “Ya, cantik?” Punggung lelaki Jung itu kian menegang dengan kedua jemari kaki yang tertekuk. Satu tangan Anton mempercepat gerakan tangannya.
“Anton! Ah! Ah!” Dirasa begitu berisik dan tak bisa menahan suaranya yang memalukan, Sungchan menutupi mulut dengan menggigiti jari-jarinya. Arah matanya memandang penis miliknya yang ujungnya sudah memerah. Jemarinya yang lain tak sengaja melingkupi pergelangan tangan Anton.
Mengetahui suara deru napas Sungchan dihalangi oleh jari sendiri, Anton pun mengangkat dua jari dari tangannya yang terbebas, menyingkirkan tangan Sungchan dari mulut agar bisa memasuki miliknya. Sedangkan ia menambah kecepatan di bawah sana.
Napas Sungchan tercekat. Bola matanya yang cerah pun terbelalak kaget saat dua jari itu dengan sengaja mengacak-acak isi mulutnya, bermain dengan lidahnya sampai air liur lolos dan menetes; membasahi bibir bawah.
Sentuhan dari Anton berhasil menambah gairah Sungchan, ibaratnya api yang disiram bensin. Nafsunya kian bergejolak, penisnya semakin berkedut-kedut dengan panas.
Suara tertahan Sungchan menyebut nama adiknya berulang kali, pertanda ia ingin segera keluar. Memahaminya dengan baik, Anton memberi kecupan di pipi Sungchan dan semakin mempercepat kocokannya.
Bola mata Sungchan bergulir ke belakang manakala ia mencapai puncak kenikmatan. Penisnya mengeluarkan sperma dengan jumlah yang cukup banyak, membasahi perut, seluruh selangkangan serta jari-jemari Anton.
Masih menikmati euphoria yang tak pernah ia rasakan sebelumnya pun Sungchan mencoba mengatur napas, mencoba mengumpulkan segala kesadarannya yang sempat tercecer. Dadanya bergerak naik-turun dengan cepat dan ia masih mendapati dua jari Anton masih bersarang di mulutnya, tak lagi bergerak.
“Enak, Kak?”
Pertanyaan yang dilontarkan Anton cukup memalukan untuk Sungchan jawab. Rasanya hampir ingin menguburkan diri sendiri lantaran ia baru saja keluar akibat ulah tangan adiknya sendiri. Sungchan tak pernah memikirkan kalau hal ini akan terjadi.
“Kak Sungchan.”
“Iya, Anton.” Sungchan membalas dengan suara parau dan tak jelas karena dua jari Anton masih di sekitar mulut. Kepalanya pun menoleh ke samping, bersitatap dengan sang adik yang kini memandangnya dengan senyum simpul.
“Apanya yang iya, Kak?” Sepertinya Anton benar-benar menuntut jawaban yang sesungguhnya dari lelaki itu.
Maka, dengan mengumpulkan keberanian serta menelan rasa malunya berkali-kali, Sungchan membuka bibir tebalnya, mengeluarkan suara yang teramat kecil. “Enak, Anton.”
Dua kata yang dicetuskan pun melebarkan senyum Anton. Kesekian kalinya ia mengecup sisi wajah Sungchan. “Coba liat ke cermin, Kak. Lo cantik banget deh berantakan gini,” ujarnya melirik ke sisi lain yang berada tepat di sebelah ranjang.
Tak dapat Sungchan sangka, saat kepalanya menoleh ke sebelah yang dimaksudkan Anton; ternyata ada sebuah cermin dari lemari miliknya. Cermin besar itu cukup besar untuk memantulkan dua manusia yang sedang melakukan sesuatu tak senonoh. Dengan Sungchan yang berantakan, setengah telanjang dan kedua kaki hampir mengangkang lebar, berkeringat dan dikotori oleh spermanya sendiri.
Rasa malu Sungchan kian bertambah hingga ia kembali memerah menyala. Wajahnya pun berpaling, memejamkan mata erat-erat dan tanpa sengaja bersembunyi di perpotongan leher Anton yang kemudian tertawa karena perbuatan spontannya itu.
Tolong, siapa saja kubur Sungchan di mana pun!
Anton yang masih senantiasa tertawa pun membubuhkan kecupan di wajah Sungchan yang kebetulan dekat dengan bibirnya.
Kecupan lembut itu pun membuka mata Sungchan kembali. Mereka sempat bertatapan untuk beberapa saat sebelum Anton melepas pandangannya dan jatuh ke bibir Sungchan yang mengilap berkat air liur.
Jari Anton pun dikeluarkan, bergantian dengan bibirnya yang mengulum milik Sungchan. Ciumannya menuntut dan cukup kasar sehingga Sungchan tidak tau bagaimana cara membalas. Ini ciuman pertamanya. Wajar, Sungchan tidak tau apa yang harus dilakukannya, ia pun bersikap pasif, menerima segala sentuhan menggoda Anton di bibirnya.
Lelaki yang lebih muda menjilat bilah bibirnya sebelum disesap lagi dengan nafsu, dengan sengaja memasukkan lidah ke dalam mulut, mengeksplor segala isinya dan membelainya lihai. Sungchan dibuat begitu terbuai, begitu menikmati sentuhan Anton yang memberi ribuan rasa menggelitik di perut.
Sungchan hanya tak sadar kalau dua jari Anton yang basah dengan air liur itu kini menuju bagian bawahnya. Tanpa aba-aba, Anton memasukkan satu jarinya ke dalam lubang anal Sungchan usai dibelainya dengan gerakan lembut.
“Ah!” Spontanitas ciuman keduanya terlepas karena Sungchan meringis pada area bawahnya yang terasa perih karena dimasuki jari panjang itu. Rasanya sakit sampai ia menggelengkan kepalanya panik. “Antonㅡah! Anton, perih! Anton, keluarkan!”
Ternyata Sungchan cukup berisik, Anton menyadari itu tapi ia enggan mengeluarkan jari di dalamnya, malah menambah satu jari lagi. Teriakan Sungchan kian nyaring dengan air mata yang bercucuran keluar.
“Anton, sakit! Ah! Ah! Anton!” Tangan Sungchan memegangi pergelangan Anton lagi dan meremasnya kuat, berharap dapat mengeluarkan dua jari dalam bagian bawahnya yang ia rasa seperti dilonggarkan dengan paksa. “Anton, please ...”
“Kalem, Kak. Gue cuman pengen ngenakin lo aja.” Satu tangan Anton kini menangkup sebelah dada Sungchan, yang mana ia berikan remasan lembut, membelah fokus dari si empunya. “Tenang, hm?”
Sungchan tidak bisa tenang. Tidak bisa. Dadanya dielus saat masih terlapisi dengan kaos warna putih lalu jari Anton yang bergerak di bawahnya, diberi gerakan seperti menggunting seolah sengaja untuk melebarkan diamaternya.
“Anton!” Sungchan merengek, suaranya terlampau menciut seperti anak kecil lalu membanting kepalanya ke bahu Anton. Belum sampai di situ, ia memekik kaget manakala Anton mencubit putingnya dari luar kaos lalu memelintirnya menggunakan ibu jari dan telunjuk.
Anton tertawa. “Kak, punya lo bangun lagi tuh.”
Oh, tidak. Terkutuklah Anton! Sungchan semakin bergetar hebat dibuatnya.
Dirasa sudah cukup puas membuat Sungchan siap untuk dimasuki, Anton pun bertanya, “Lo punya pelumas ngga, Kak?”
“Hah? Itu apa?”
Lagi, Anton hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan Sungchan. Dua jarinya pun bergerak semakin brutal di bawah sana, bersamaan dengan jari yang bermain di salah satu puting yang mencuat, menyebabkan sang kakak kembali menjerit, menyandarkan punggung di dadanya tak berdaya.
Sial. Sungchan yang polos. Sungchan yang suci. Sangat menggoda iman Anton untuk menghancurkannya menjadi tak berbentuk.
“Anton ... eungh ... iㅡitu lagi ...” Gerakannya pun melambat mendengar desahan lembut Sungchan. Lelaki Jung itu perlahan mulai menikmati permainannya ketika jari Anton menusuk tepat di titik nikmatnya, dan ia belum menyadari itu.
“Iㅡitu apa, Anton?” tanya Sungchan, menatap bingung pada Anton dengan nada suara terbata.
“Well, itu sweet spot lo, Kak. Suka ngga dijorokin gini?”
“Eumh ...” Sungchan tak tahu bagaimana menjawabnya. Tapi, sepertinya ia mulai menikmati. Ketika dadanya diberi pijatan lembut, sesekali putingnya dimainkan, diberi kenikmatan hingga kepalanya terasa kosong melompong.
Dari ekspresi Sungchan yang memejamkan mata dan mengalunkan desahan, Anton tau kakaknya benar-benar sudah siap untuk dimasuki.
Ia pun mengeluarkan jari dari lubang Sungchan yang dikiranya sudah merenggang, meninggalkan rasa kekosongan yang teramat asing bagi lelaki yang lebih tua.
“Eung, kenapa dikeluarkan, Anton?”
Tak mendapat jawaban, Sungchan malah dibaringkan di atas ranjang. Di bawah kepala dan pinggangnya diberi masing-masing satu bantal. Sungchan menyamankan diri sebelum membuka matanya dengan sempurna, mendapati Anton yang bangkit dan membuka kaos, dan celana beserta dalamannya sendiri hingga menunjukkan kejantanannya yang berukuran dua kali lebih besar dan tebal dibandingkan miliknya. Sungchan begitu kaget sampai tak sengaja melebarkan matanya.
“Anton.”
“Kak, gue ngga ada pelumas. Jadi, sorry,” kata Anton yang kemudian memposisikan dirinya di atas dada Sungchan, menahan bobot tubuhnya menggunakan lutut lantaran takut membebani si submisif. Ia mengarahkan kejantanannya di hadapan mulut Sungchan lalu mengelusi pipi milik sang kakak.
“Anton, ngga. Terlalu besar, ngga bakal muat.” Sungchan menggeleng panik lantaran benaknya dilingkupi dengan rasa takut saat melihat penis milik adiknya sendiri.
Senyum teduh pun dipamerkan di bibir Anton, memberi kesan hipnotis dengan raut lembutnya bak malaikat. “Ngga. Pelan-pelan aja. It's okay.“
Lagi, Sungchan yang terjatuh dalam pesona sang adik pun mulai membuka mulutnya selebar yang ia bisa. Dan, ketika ujung penis Anton memasuki rongga mulutnya, Sungchan rasanya seperti didesak untuk terbuka lebih lebar lagi sehingga bibirnya terasa kelu.
“Mmmh.”
“Begitu, cantik. Ayo mainin pake lidahnya.”
Walau rasanya aneh hingga dahinya berkerut tak nyaman dan matanya mulai meneteskan cairan bening, tapi ia menurut pada kalimat Anton seperti ucapan lelaki muda itu bak mantra sihir yang membuatnya tertunduk dan tak bisa menolak.
“Oh, nikmatnya.” Anton menggeram dengan menggigit bibir bawah manakala setengah kejantanannya yang masuk ke dalam mulut Sungchan dibelai menggunakan lidah, gerakannya masih terlalu kaku, masih terlalu amatir, tapi kehangatan yang melingkupi dari batang kemaluannya itu benar-benar mengirimkan rasa nikmat yang merangsang nafsu.
Anton mendesah penuh nikmat. “Bagus, cantik. Ayo, mainin lagi pake lidahnya.”
Sekali lagi, Sungchan menurut. Dua tangannya berpegangan di kaki Anton, pelan-pelan mengisapnya secara spontan, yang membuat tangan Anton meremas surainya sebagai pelampiasan.
“Okay, cukup. Gue ngga mau keluar di mulut lo.”
Anton tiba-tiba mengeluarkan kejantanannya dari mulut Sungchan setelah dirasa begitu basah dengan air liur. Seketika benang saliva menjuntai dari ujung penis dan jatuh ke bawah dagu Sungchan. Lalu, si dominan turun, menunduk ke arah selangkangan Sungchan.
“Gue tau ini bakal sakit, Kak. Tapi, tahan, ya? Sakitnya ngga bakal lama,” ujar Anton lagi.
Oh, tunggu. Apa penis Anton yang ukurannya besar itu akan memasuki lubangnya?
“Anton ... memangnya muat?” tanya Sungchan secara spontan.
Tapi, Anton menyeringai lebar, cukup membuat Sungchan merinding ngeri hingga matanya melebar horor. “Kita lihat aja nanti.” Lalu, ia memegangi kedua paha Sungchan, melebarkannya demi memberi akses untuknya berbuat lebih.
“Lo takut, Kak?”
Sungchan mengatupkan bibir kemudian menggelengkan kepalaㅡberbohong, dan Anton tau itu dengan jelas. Ingat Sungchan bukan tipe yang bisa berbohong.
Sembari terkekeh, Anton memajukan tubuh ke wajah Sungchan. Ia membubuhkan sebuah kecupan di kening, berusaha menebar ketenangan dan kenyamanan dengan menciumi seluruh sisi wajah Sungchan dengan lembut dan ringan.
“Eung ... ” Lagi-lagi Sungchan dibuat terbuai dengan ciuman mesra Anton. Yang lebih muda mengulum bibir bawahnya, kemudian memberi pagutan lembut yang menghapus ketakutannya di benak, tergantikan rasa yang bergelora dalam relung batinnya. Terlebih lagi kedua tangan Anton bergerilya di atas tubuhnya, mengusap perutnya yang merambat masuk ke dalam kaos, meraba hingga naik ke dada.
Ciuman Anton turun, membebaskan bibir Sungchan yang sudah basah dan merekah, mengeluarkan lenguhan nikmat kala bibir Anton menyesap pelan kulit lehernya.
“Ah, Anton ...”
Satu tanda kepemilikan muncul di atas kulit Sungchan, berwarna merah keunguan dan dikecup lagi oleh Anton sebelum ia menekan bagian bawahnya pada lubang Sungchan hingga mengeluarkan lenguhan dari bibir yang lebih tua.
Belum sampai di situ, Anton mengecup daun telinga Sungchan dan meniupnya beberapa kali.
“Anton, geli!” Sungchan terkikik pelan.
Barulah Anton berhenti dan kembali naik untuk mencium kening Sungchan. “Kak, sumpah lo cantik banget. Lo yang paling cantik di dunia ini.”
“Antonㅡahh! Anton!” Belum ada dua detik Anton melantunkan pujian, dan Sungchan yang hendak melayangkan protes seketika dibuat menjerit kesakitan lantaran sesuatu yang tebal dan besar memasuki lubang analnya dengan paksa. Kedua tangan Sungchan pun mencengkram bahu Anton sekuat mungkin hingga tak sengaja kukunya menancap di atas kulit yang lebih muda, matanya terpejam, merasakan sakit yang luar biasa seolah tubuhnya hendak dibelah.
“Anton, sakit! Keluarkan, please. Berhenti, Anton! Sakit. Sakit ㅡmhh!” Rengekan Sungchan teredam berkat ciuman yang melingkupi bibir ranum yang merekah bagai warna bunga mawar. Air mata terus-menerus mendesak keluar, menyatu dengan peluhnya yang membasahi wajah akibat rasa ngilu dari bagian bawahnya.
Pekikannya kian menguat dalam ciuman karena Anton terus memaksa miliknya untuk masuk lebih dalam lagi. Kedua kaki Sungchan bergerak gelisah di atas kasur, menyebabkan seprai yang semula rapi menjadi kusut akibat gerakannya yang tak karuan, karena sumpah demi apapun ini sangat menyakitkan. Sungchan benci rasa sakit.
Anton melepaskan bibir Sungchan dari lumatannya yang menuntut kala penisnya sudah tertanam sempurna di lubang surgawi itu. Ia mendesah nikmat, menggerakkan pinggulnya dengan begitu pelan.
“Saㅡsakit ...”
“Sorry.” Anton mencium pipi Sungchan, menjilati setiap air mata beserta jejaknya yang terlukis di pipi si manis, kemudian mencium kelopak matanya. Untuk mengalihkan perhatian, Anton memainkan jarinya pada salah satu puting Sungchan yang mencuat.
Ketika bibir Anton menciumi tulang selangka, jarinya memainkan puting dengan lihai, fokus Sungchan menjadi terbelah. Sejenak, ia lupa dengan rasa sakit di lubangnya lantaran kenikmatan yang diberikan Anton kepada tubuh bagian atasnya, terutama pada dadanya yang terus-terusan dimanjakan, diremas, putingnya dipelintir lalu diusap lagi.
Permainan Anton pun berhasil membuat Sungchan serasa dibawa ke langit, kenikmatan bergerumul dalam kepala, melupakan segala perasaan sedihnya, kini di pikirannya hanya ada Anton, si dominan.
Isak tangis yang sebelumnya pun berganti menjadi lenguhan tertahan, kuku jari yang sempat mencakar bahu Anton pun berubah menjadi cengkraman lembut, juga sentuhan sensual, menjadikan sebuah pertanda untuk Anton menggerakkan pinggulnya dengan tempo perlahan.
“Ah ...”
Respons lembut Sungchan pun menerbitkan senyum Anton untuk menambah kecepatan.
Anton menegakkan tubuhnya, menahan kedua paha Sungchan untuk mempertahankan posisi mengangkangnya dan memberi hentakan lebih kencang, lebih cepat sampai suara tamparan pada kulit mereka bersama suara decitan ranjang, dan suara Sungchan yang menjerit penuh kenikmatan saling bersahutan.
Penis Anton kembali mengenai titik manisnya, menghujamnya berkali-kali sampai pandangan Sungchan memburam berkat air mata. Punggungnya melengkung tanpa disadari.
“Enak kan, Kak?” tanya Anton yang disahuti Sungchan dengan desahan tak jelas. “Kak Sungchan?”
“Ah, iya! Enak. Enak, Anton! Lagi ... Please, lagi.”
Suara tawa Anton keluar dengan begitu pelan karenanya. Tak ingin menyia-nyiakan tubuh cantik yang seputih porselen itu, itu yang bergetar dan terlonjak-lonjak ke atas mengikuti hujamannya, ia pun menunduk, menjilat sebelah dada Sungchan dengan seduktif lalu mengecup putingnya yang terlihat menegang.
“Ah! Ah!” Sungchan memekik lebih kencang dengan dada yang kian melengkung kala Anton memasukkan putingnya ke dalam mulut dan menyedotnya kuat-kuat. Jemarinya pun berada di surai sang dominan, dielusnya dan sesekali ditekannya guna pelampiasan.
Penis Sungchan yang begitu terangsang dan kini memerah hebat akibat segala permainan Anton pun tak dapat menahan kuasa untuk bertahan. Sekali lagi, ia mendapatkan orgasme-nya, memuncratkan cairan putih nan lengket hingga mengenai perutnya dan juga perut Anton.
“Keluar tanpa permisi, ya?” Anton terkikik geli. Tempo hujaman yang sebelumnya cepat kini menjadi lebih cepat lagi dan semakin berantakan demi mengejar kenikmatan, sukses mengagetkan Sungchan hingga ia tersedak air liurnya sendiri.
“Anton!” Sungchan berteriak lagi.
“Ya, Kak. Sebut nama gue terus. Cuman nama gue yang boleh lo desahin. Cuman gue yang bisa buat lo keenakan sampe lupa dunia kek gini.” Anton menggeram, merasakan penisnya direngkuh dalam kehangatan, dipijat dengan segala kenikmatan dari lubang senggama itu. Satu jemari Sungchan pun dicengkeramnya dengan tangan miliknya, menahannya tepat di sisi bantal sang kakak.
Sungchan benar-benar dibuat lupa akan dunia sesuai dengan apa yang diucapkan si dominan. Bahkan melantunkan nama Anton dengan desahannya tanpa tahu malu.
Anton melesakkan miliknya lebih dalam lagi manakala dirinya mulai berada di puncak kenikmatan. Penisnya menyembur banyak cairan yang membuat perut Sungchan terasa hangat, lubangnya penuh.
“Hah, you're so great, Bambi.”
Sungchan hanya bisa terengah mendengar pujian itu, walau tak dapat dipungkiri tentang hatinya yang berdebar tak karuan. Kedua kakinya terbebas, dan kini Anton menciumi bibirnya sekali lagi.
“Capek.” Sungchan mengeluh ketika Anton melepas tautan bibir mereka, pun bagian bawah keduanya. Sungchan menatap sayu dan berkedip lemah, menikmati bagaimana wajah sang adik yang menyunggingkan senyum di atasnya; tampak sangat lembut hingga jantungnya berdegup kencang. Ia sudah hendak akan tidur akibat begitu letih dan tenaganya sudah habis terkuras.
“Tapi, gue belum,” balas Anton santai. Tanpa ragu, ia melepaskan kaos yang melekat di tubuh Sungchan, menjadikan yang lebih tua benar-benar telanjang sama seperti dirinya.
“Anton.” Sungchan belum siap saat lelaki itu menjauh dan kini membalikkan tubuhnya menjadi telungkup tanpa aba-aba. Bokongnya dinaikkan dan diremas kuat-kuat oleh kedua tangan Anton, menimbulkan pekikan lemah darinya.
“Anton, mau apaㅡah! Ah! Ah! Anton, stopㅡah!”
Setelahnya, sepanjang malam menjelang, Sungchan tidak berhenti menyanyikan nama Anton yang menyetubuhinya tanpa jeda.
Hari berikutnya, saat kesadaran Sungchan benar-benar terkumpul dan fakta menampar perasaannya dengan keras. Ingatannya pada malam itu menjadi sebuah penyesalan terbesar dalam relung batinnya.
Anton adalah adiknya, itu fakta yang membuat hatinya berkecamuk. Mau bagaimana pun, mereka telah menjalin hubungan keluarga selama lebih dari 10 tahun.
Tidak sepantasnya mereka melakukan hubungan seksual itu. Sungchan berkata ia menyesal melakukannya, tapi dalam hatinya ia tak bisa menolak kalau kejadian malam itu sangat membekas.
Jujur, itu malam yang indah baginya, tapi ini salah. Ya, kesalahan!
Mereka tidak boleh melanjutkan hubungan yang sudah salah ini.
Jadi, Sungchan menghindari Anton.
Ia datang ke sekolah lebih pagi, dan pulang larut malam atau lebih cepat, kemudian mengurung diri di kamar. Sungchan tak sanggup kalau bertemu dengan Anton yang membuatnya teringat pada malam itu.
Terhitung sudah tiga hari, Sungchan tidak pernah berbicara ataupun berhadapan dengan Anton. Ia berhasil, dan adiknya itu mungkin tau, tapi Sungchan mencoba untuk bersikap tak peduli.
Pada sore hari, Sungchan kembali ke apartemen setelah kembali dari sekolah. Ia berpikir akan langsung makan kemudian mengunci diri dalam kamar lagi sampai pagi menjelang. Akan tetapi, begitu ia tiba, Sungchan mendengar sesuatu.
Suara desahan.
Itu suaranya.
“Ah, Anton, berhenti!”
Mata rusa itu terbelalak, dan Sungchan berlari ke asal suara. Tepat di ruang tengah, di mana televisi menyala, menampilkan rekaman video dirinya dan Anton yang sedang bercinta, tepatnya posisi Sungchan yang menungging dan Anton menghujaminya dari belakang. Suara kulit yang beradu cepat, dipadukan dengan desahannya yang melengking penuh nafsu itu membuat Sungchan panik dan kaget sampai menutup mulutnya sendiri.
Matanya memanas, hatinya berdesir pilu dengan pandangan yang tertuju pada layar kaca.
“Itu bagian kesukaan gue, Kak. Desahan lo kenceng banget sampe gue rasanya mau gila.”
Suara Anton terdengar mengalun berikutnya, mengalihkan pandangan Sungchan pada sofa panjang, di mana sosok sang adik duduk sambil menonton dengan santai. Pandangan mereka bertemu ketika Anton memalingkan wajah padanya, menunjukkan ekspresi lembut meski matanya berkilat tajam.
“Antonㅡ” Sungchan yang dibuat emosi pun mematikan televisi dengan mencabut kabel. Ia mengeluarkan flashdisk yang terpasang di port tersebut dan menginjaknya berkali-kali, berusaha menghancurkannya sekuat tenaga, tapi Anton sama sekali tak berkutik.
“Ya, ya. Hancurkan aja. Gue masih punya banyak salinannya kok.”
Perkataan Anton lantas memanaskan hati Sungchan, giginya bergemelatuk. Matanya yang sudah berair kini memandang sang adik dengan tatapan nelangsa dan putus asa. Ia pun mendekat, dengan cepat dan tergesa mencengkram kerah kemeja Anton, memaksanya untuk berdiri.
“Kenapa kamu tega sama aku? Aku salah apa sama kamu, Anton?!”
“Lo ngehindarin gue.” Anton berkata dan tersenyum culas. “Gue tau lo bakal ngehindar. Tapi, gue cuman mau lo jadi milik gue. Gue seorang yang boleh nyentuh lo,” sambungnya lagi sambil menyentuh pipi Sungchan, yang mana dibalas dengan tepisan kuat.
Sungchan memundurkan langkah. “Kita saudara, Anton!”
Tatapan Anton berubah nyalang karenanya. “Kita ngga sedarah, Jung Sungchan! Orangtua kita cuman nikah, dan bukan berarti kita langsung sedarah. Dan selama ini, lo ngga pernah gue anggap sebagai keluarga!” balasnya membentak. “Gue sayang sama lo. Dan, apapun yang gue mau, itu harus jadi milik gue apapun caranya, termasuk lo.”
Bulu kuduk Sungchan dibuat meremang akibat ketakutan karena ucapan Anton yang terdengar mengerikan. Siapa yang menyangka, Anton yang wajahnya begitu lembut bak malaikat bisa berkata demikian?
Senyuman lebar pun turut ditunjukkan Anton. “Lo pilih mana? Jadi milik gue, atau rekaman video itu gue sebar?” ucapnya kemudian, secara tak langsung memberi ancaman.
Kaki Sungchan seketika melemas dan tak kuat menopang beban tubuhnya sendiri, sehingga ia meluruh di atas lantai. Kedua tangannya mencoba untuk menopang dengan lesu, dan Anton yang menatapnya pun mendekat kemudian berjongkok di hadapannya.
“Bayangin, sekolah tau tentang rekaman ini. Anak-anak didik lo yang selalu kagum, sayang sama lo bakal mandang lo sebagai lonte yang ngga pantes ngajarin mereka. Bayangin juga, orang tua kita tau, lo sanggup, Kak?” bisik Anton bak memanah langsung tepat di ulu hati lelaki yang lebih tua.
Itu kelemahan terbesar Sungchan, seperti kartu AS bagi Anton untuk menjatuhkannya telak. Tentang orangtua, tentang anak-anak didiknya yang ia suka dan senangi. Sungchan tidak bisa menghancurkan dua hal itu di hidupnya.
Anton menertawakan air mata Sungchan yang jatuh tanpa diminta. Itu adalah pemandangan yang membuat ego Anton kian meninggi, seperti pertanda kemenangan terbesar baginya. Segera, jarinya terulur, menyeka cairan basah itu dari pipi kakaknya. “Belum gue apa-apain, lo udah nangis gini, Kak. Tapi, sumpah, lo tetap cantik meskipun lagi nangis sekalipun, gue suka liatnya.”
Mata Sungchan pun tertuju pada wajah Anton yang sumringah, seketika dirinya bergidik takut manakala menyadari adiknya sudah hampir menyerupai psikopat dan ia tak bisa lagi mengelak dari jebakannya.
“Kamu mau apa, Anton?”
Ungkapan Sungchan yang tak berdaya itu menandakan tubuhnya kini telah menjadi milik Anton tanpa bisa diganggu gugat.
Lelaki yang lebih muda pun mengelusi pipi Sungchan dengan lembut sebagai rewards atas pilihannya barusan.
“Buka baju lo, Kak. Malam ini, gue pengen jalan-jalan di atas badan lo yang cantik itu.”
Anton ...
... dia benar-benar iblis berwajah malaikat.
