Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-02-16
Words:
2,291
Chapters:
1/1
Comments:
9
Kudos:
102
Bookmarks:
4
Hits:
3,654

Shape of You

Summary:

“Buka baju lo, Kak. Malam ini, gue pengen jalan-jalan di atas badan lo yang cantik itu.”

 

Adalah bentuk kalimat yang diwujudkan Anton.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Buka baju lo, Kak. Malam ini, gue pengen jalan-jalan di atas badan lo yang cantik itu.

 

Adalah bentuk kalimat yang diwujudkan Anton.

 

Dalam beberapa waktu kemudian, tubuh Sungchan yang telanjang kini berbaring di atas kasurㅡah, tidak sepenuhnya telanjang sebenarnyaㅡmasih ada kemeja yang tertanggal di antara lengan dan kaos kaki putih yang menutupi sampai mata kaki. Tiap inci tubuh pun dijelajahi Anton seluruhnya tanpa celah. Dicium, disentuh dan diberi belaian oleh sang dominan seolah tak mengenal kata jeda.

 

Sungchan dibuat pusing dengan sentuhan yang penuh rangsangan itu, melupakan dunia nyata saat Anton memberinya kenikmatan surga dunia. Tubuhnya dipermainkan sedemikian rupa, diambil alih oleh Anton yang meng-klaim kepemilikan atas dirinya secara otoriter. Pun melukiskannya di atas kulit Sungchan yang seputih porselen.

 

Tak ada yang bisa Sungchan lakukan selain pasrah di bawah kuasa lelaki muda di atasnya itu. Walau hatinya berusaha menolak karena tau ini adalah kesalahan, namun tubuhnya tak bisa berbohong kalau ia merasa begitu bernafsu. Anton begitu lihai memanjakannya. Begitu hebat hingga bisa membuat Sungchan lupa akan daratan.

 

“Nghhㅡah~”

 

Sekarang, Sungchan hanya bisa mendesahkan nama Anton yang kini sedang menjilati putingnya sebelah kiri, sementara dadanya di sebelah kanan diberi pijatan lembut. Ia mendongak dengan pandangan memburam, bibirnya senantiasa terbuka; mendesah indah, melantunkan nama lelaki di atasnya dengan frustasi, gelisah, lalu menangis tak berdaya. Saraf tubuhnya terasa stagnan, bagai orang lumpuh yang tak memiliki kuasa pada dirinya sendiri. Anton menjilatinya seperti dirinya adalah sepotong es krim yang meleleh.

 

Suara kecupan terdengar begitu cabul kala Anton mengakhiri kegiatannya dan beralih pada puting satunya. Jari Anton yang berada di bawah; bermain dalam lubang anal Sungchan pun bergerak lebih cepat dari sebelumnya hingga si empunya tersentak dengan kedua kaki yang menegang.

 

“Antonㅡnggh! Hah... hah...”

 

Terkekeh sebagai balasan, tanpa melepaskan mulut yang sedang menyedot puting sang kakak, matanya melirik dari atas; mendapati wajah Sungchan yang pias, berhiaskan peluh bercampur air mata. Sungguh, keindahan tiada tara yang ingin sekali Anton puja dan menciuminya sepanjang detik.

 

Tak tahan dengan pesona sang kakak, Anton mengeluarkan jarinya setelah dirasa cukup puas bermain di sana. Ia sempat bangun untuk membalikkan tubuh Sungchan dan membuatnya bertahan dalam posisi menungging.

 

Kali ini giliran bagian belakang Sungchan yang Anton sentuh dengan jemari. Tangannya memeta pinggang, bibirnya mengecup pada tengkuk sebelum bergerak ke atas; kepada daun telinga Sungchan, memberi rangsangan lagi dengan berbisik, meniupinya lalu dijilatnya sampai si empunya merinding karena geli.

 

“Mmh...”

 

Anton tau di bagian inilah titik sensitifnya Sungchan. Begitu ia berbisik di sana, mengeluarkan desahan kecil dan hembusan napas, ia dapat merasakan tubuh Sungchan yang kini membusung ke depan. Wajahnya kian memerah dan menambah rasa frustasinya. Bahkan penis sang kakak kembali bangun walau sebelumnya sudah ejakulasi lebih dari sekali.

 

“Ahhh! Anton!”

 

Sewaktu Sungchan dimasuki, getaran di tubuhnya kian bertambah, hingga tak sanggup menahan bobot tubuh menggunakan kedua lengan. Hampir jatuh telungkup sepenuhnya kalau Anton tidak menahan pinggangnya, lalu menghujaminya tanpa ampun. Mulutnya terus meracau dengan air mata yang berdesakan keluar.

 

“Ah! Nggㅡah! Anton! Anton! Pelan, please.“

 

Rasanya tidak sesakit saat pengalaman pertama karena Anton membaluri kejantanannya sendiri menggunakan pelumas sebelum memasuki lubangnya. Akan tetapi, hujaman Anton langsung mengenai prostatnya berkali-kali, menghantarkan sengatan nikmat yang memecah kewarasan, yang mana Sungchan mendapati puncaknya tanpa bisa dicegah.

 

Dua tangan Sungchan mencengkram kain seprai hingga kusut saat cairan putihnya keluar dari kejantanan, mengotori seprai. Anton yang melihatnya pun terkekeh tanpa suara, memperlambat hujamannya untuk beberapa saat agar Sungchan bisa mengatur napas. Ia kemudian menundukkan tubuh guna memberi ciuman dan lumatan di punggung sang submisif, kembali meninggalkan tanda noktah merah.

 

“Udah keluar berapa kali, Kak?”

 

Napas Sungchan tersengal saat ditanya demikian, matanya pula mengerjap waswas. Dadanya naik-turun saat ia mengingat sudah berapa kali ia orgasme berkat sentuhan Anton beberapa saat lalu. “Nghhㅡd-dua?” ucapnya ragu.

 

“Oh ya?” Anton menyeringai saat mendengar nada keraguan itu. Tangannya mulai meremas dada sang kakak.

 

“Tiㅡtiga. Tiga!” kata Sungchan panik.

 

Anton tertawa karenanya. “Sensitif banget, hmm? Gue belum ada sekalipun keluar, tapi lo nya udah tiga kali. Ngga adil, ya?” katanya sambil berbisik di depan telinga Sungchan. Napasnya yang beraturan itu berhembus di atas kulitnya, lalu dikecup.

 

Nada suara Anton begitu lembut bagai kapas, ketika ia berbisik di telinga, bulu kuduk Sungchan meremang. Deru napasnya menghangat dan itu merembes sampai ke saluran nadi. Sungchan tak sanggup menahan segala rangsangan yang membuat kewarasannya tercecer sampai tak kuasa ditahan. “Aㅡah!”

 

“Gapapa. Berarti lo sendiri nikmatin permainan gue.”

 

Sungchan tersentak, hampir memekik karena ia belum siap saat Anton mengeluarkan penis dari lubangnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya di balik lagi, diangkat ke atas pangkuan Anton yang kini duduk bersandar pada dinding. Tanpa aba-aba dimasukannya lagi penis ke dalam anal Sungchan sampai lelaki yang lebih tua berjengit dan kelabakan akibat lubangnya terasa begitu penuh. Punggungnya melengkung, perut bawahnya pun menonjol.

 

“Anton! Anton!” Sungchan panik, menutup mulutnya dengan satu tangan untuk menahan jejeritannya. Penis gemuk Anton menyatu pada dirinya sampai ke pangkal ketika ia mendudukinya. Sungchan bahkan dapat merasakan bulu kemaluan si dominan yang menyatu di selangkangannya. Itu membuatnya malu setengah mati.

 

Sementara Anton hanya terkekeh menikmati ekspresi Sungchan yang begitu polos dan menggemaskan bersamaan dengan lelehan air mata. Kedua tangan memegangi sepasang kaki sang kakak agar tetap mempertahankan posisi, kemudian melangkah untuk menangkup bongkahan bokong yang padat itu.

 

“Gerak, Kak. Puasin gue.” Anton memberi titah yang membuat Sungchan menciut dengan nada suara rendah itu.

 

Meski begitu, tetap saja ia menggeleng ribut. “Ngga, Anton. Ngga bisa. Aku ngga bisa, Anton.” Jujur saja, tenaganya sudah tidak ada lagi setelah tiga kali pelepasan. Tidak mungkin Sungchan sanggup bergerak di atas Anton, ia bahkan skeptis dengan caranya.

 

“Ngga, Antonㅡ”

 

“Bisa.”

 

Satu kata terucap tanpa bisa dibantah. Sungchan menggigit jarinya sendiri sambil melirik ke bawah dengan ketakutan. Jantungnya bergemuruh kencang saking takutnya. Ia pun menegak ludah secara perlahan lalu meletakkan kedua tangan di atas bahu Anton sebagai tumpuan.

 

Pelan-pelan Sungchan mengangkat bokongnya lalu menurunkannya lagi dengan tempo yang lembut. Penis Anton yang ereksi itu keluar-masuk di lubangnya, memberi denyutan kenikmatan yang menyerang kepala. Ia pun melakukan gerakan yang sama, namun kali ini dengan menambah kecepatan dari sebelumnya. Lalu, Anton menikmati ekspresi Sungchan yang kesusahan mencari titik nikmatnya sendiri dan bergerak begitu pelan.

 

Sebenarnya tempo gerakan Sungchan begitu pelan sampai Anton tak bisa merasakan nikmat sedikitpun. Namun, ia sudah sangat puas mempermainkan kakak sambungnya itu. Pemandangan di mana seorang Jung Sungchan yang dadanya terekspos; kemeja putih bergantung di kedua lengan, rambut berantakan dan lepek berkat keringat, bertatap mata sayu, terengah-engah di atasnya, memberi kesan erotis yang membakar nafsu, darahnya mendidih, detak jantungnya pun kian berdentum dengan keras. Anton berani sumpah kalau Sungchan adalah salah satu bukti keindahan yang tak dapat tercela.

 

Beberapa kali sampai Sungchan benar-benar lelah dan tak sanggup lagi bergerak setelah ribuan kenikmatan menyerang hingga ke tulang punggung. Ia terisak, ambruk dengan menjatuhkan kening di perpotongan leher Anton sambil menangis parau. “Udah, Anton, udah. Akuㅡhiksㅡaku ngga sanggup lagi. Aㅡaku sanggup. Akuㅡaku udah capek banget, hiks.”

 

Anton yang lagi-lagi tertawa pun memeluk Sungchan. Tak bosan-bosan mengecupi daun telinga submisifnya yang dekat di atas bibir sambil berbisik, memberikan beberapa pujian dengan nada halus. Anton suka melakukannya, karena ia tau Sungchan menyukainya. Dengan bisikan itu pula, Sungchan mulai tenang. Tangisnya pun mulai memelan.

 

“Iya, iya. Gue yang gerak, ya Kak?” ujar Anton mengalah.

 

Mengambil alih permainan, Anton pun menggerakkan pinggulnya. Menghujam kejantanannya di anal Sungchan yang memberi pijatan panas di dalam sana. Lubang senggama itu memberinya banyak kenikmatan sampai rasanya akan terbang ke langit. Anton menggeram, mendesah keenakan di dekat telinga lelaki yang lebih tua.

 

Hujamannya lebih kencang lagi, dan semakin kencang di detik berikutnya. Tubuh Sungchan pun bergerak dengan liar di atas pangkuan. Desahan keduanya saling melengking nyaring, saling menyahuti satu sama yang lain.

 

“Ah! Ah! Antonㅡ”

 

“Mhhㅡlo enak banget, Kak. Lubang lo enak banget dari lonte-lonte yang pernah gue cobain.”

 

Sungchan diminta untuk tegak agar Anton bisa melihat wajahnya dengan puas. Wajah cantik yang berekspresi sensual itu, berpadu dengan kulitnya memerah bagai tomat dan basah total, sampai tidak bisa lagi dibedakan mana yang air mata dan mana yang air keringat. Desahan Sungchan dilantunkan seiring dengan gerakan pinggul Anton.

 

Ibu jari Anton menekan bibir bawah Sungchan agar terus terbuka, mengeluarkan desahan yang sangat disukainya. Sekali lagi, Anton tersenyum. Matanya melirik pada dua puting Sungchan merah muda yang mencuat, menggoda sekali untuk dikulum.

 

Maka dari itu, Anton mendekatkan bibir pada sebelah dada Sungchan. Dicium dan dimasukan ke dalam mulut, kemudian disedotnya dengan kencang dan kasar.

 

Sungchan memekik dan berjengit. Matanya langsung membulat. “Antonㅡah! Ngah! Ah!” Satu rangsangan lagi yang membuat kesadarannya terbang sampai ke awan. Tubuh Sungchan kian menegang dan punggungnya melengkung dengan indah. Di sisi lain, ia menolak, tapi tangannya justru menekan surai Anton, sesekali dicengkeramnya sebagai pelampiasan.

 

Tak berapa lama, Anton melepas kulumannya pada puting indah itu ketika dirasa akan mendapati puncak putihnya. Dalam beberapa hujaman kuat itu, ia pun menyemburkan seluruh spermanya di dalam Sungchan, lalu diikuti dengan sang Kakak di hitungan detik berikutnya. Anton menghela napas lalu menatap keadaan Sungchan dengan puas. Keduanya kini benar-benar kotor akan cairan putih milik masing-masing.

 

Sungchan benar-benar lelah sepenuhnya, menjatuhkan tubuh yang tak berdaya di dekapan Anton. Mencoba mengatur napas dan merasakan perutnya begitu hangat, begitu penuh. Sesuatu yang basah pun turut keluar dari lubang Sungchan manakala Anton mengeluarkan penis miliknya.

 

“Anton, udah. Udah, please.”

 

“Gue belum capek, Kak.”

 

Sungchan dibaringkan lagi dengan lembut lalu ditindih Anton. Dilihat wajah tampan dengan seringai lebar dan tatapan bernafsu itu tampak tak akan memberinya rasa kasihan. Kedua tangan Sungchan pun tak dapat menahan gerakan Anton yang memberi ciuman-ciuman ringan di atas lehernya.

 

“Antonㅡ” Sungchan mulai terisak lagi karena panik dan ketakutan akan nafsu Anton yang tak mengenal lelah, sementara dirinya sudah tak sanggup. “Anton, please. Aku capek bangetㅡhiks. Aku laper, Anton. Aku belum makan. Aku belum makan seharian iniㅡhiks. Tadi pagi aku telat ke sekolah, ja-jadiㅡjadi aku ngga sarapan, terus waktu siang, ada anak-anak di kelasku yang berantemㅡhiks. Aku laperㅡhiks. Tolong, aku ngga ada tenaga lagi.”

 

Sungchan tidak bohong. Anton tau itu saat melihat bagaimana wajah cantik kakaknya yang menangis seperti anak kecil; begitu lemah, begitu rapuh, begitu ingin dikasihani, begitu ingin dilindungi.

 

Dan, Anton suka.

 

Fakta akan Sungchan yang menangis memohon di hadapannya seolah dirinyalah berkuasa membuat ego Anton kian meningkat pada lelaki manis itu.

 

Okay.” Anton menyetujuinya. Ia berhenti dan mendekatkan wajah hingga hidung mereka saling menyatu. Sungchan mulai berhenti terisak. “Kiss me then,” katanya lagi, memberi syarat.

 

Meneguk ludahnya gugup, Sungchan pun hanya bisa menurut dan meraih pipi Anton dengan satu tangannya. Ia dorong wajah lelaki di atasnya dengan perlahan dan menyatukan kedua bibir mereka lalu memejamkan mata.

 

Tidak ada pergerakan sama sekali dari ranum merah tersebut. Selang beberapa detik, Anton yang memutuskan ciuman dan menatap Sungchan dengan dahi berkerut. Netra indah itupun terbuka, menampilkan tatapan bingung.

 

“Itu bukan ciuman. Lo memang ngga bisa ciuman, ya?”

 

Dengan jujur, Sungchan menganggukkan kepala. Ada semburat rona malu di kedua pipinya.

 

Anton mendengus tawa. “Julurin lidah lo, Kak.”

 

Sekali lagi, Sungchan menurutinya. Ia keluarkan lidahnya. Dagunya pun ditahan oleh dua jari Anton.

 

“Perhatiin. Gue ajarin lo gimana cara ciuman yang enak.”

 

Lidah Sungchan disesap Anton sedetik kemudian dengan begitu rakus dan cepat. Bibir mereka kembali menyatu dengan gerakan melumat yang dapat dikatakan terlalu menuntut.

 

Sungchan tak dapat mengimbanginya. Anton begitu lihai, memijat lembut bibirnya atas-bawah secara bergantian. Belum lagi lidahnya yang diajak beradu, kemudian dihisap kuat-kuat. Ciuman basah itupun meninggalkan saliva yang menetes dari dagu Sungchanㅡentah milik siapa.

 

Pasokan oksigen Sungchan mulai menipis tapi Anton tidak ada niat untuk berhenti. Kedua tangannya pun mendorong dan menepuk bahu adiknya beberapa kali agar tautan bibir mereka terlepas, namun tak kunjung berhasil.

 

Akhirnya, Anton melepas ciuman mereka, meninggalkan seutas tali tipis dari benang saliva yang membasahi bibir keduanya lalu jatuh dagu dan dada Sungchan. Ia mau berhenti saat mendengar suara perut lelaki di bawahnya berbunyi yang pertanda; meminta untuk diisi.

 

Sungchan mengalihkan pandangan lantaran malu, lalu Anton tertawa kecil. Dikecupnya hidung bangir sang kakak sebelum bangkit dari kasur dan mengambil kaosnya yang tergeletak mengenaskan di atas lantai.

 

“Mau makan apa, Kak? Biar gue pesenin.”

 

Netra Sungchan mengerjap beberapa kali tanda ia sedang berpikir. “Apa aja asal nasi,” jawabnya dengan bisikan pelan.

 

Anton mengangguk lalu keluar dari kamar Sungchan setelah memasang celananya lagi, meninggalkan si empunya kamar seorang diri tanpa menutup pintu.

 

Rasanya begitu kosong ketika ditinggalkan seperti demikian, rasanya seperti harga dirinya jatuh begitu saja. Sungchan menatap pintunya dengan nelangsa sebelum menggelengkan kepala, ia kemudian mencoba untuk duduk kembali. Dilepaskannya kemeja dan kaos kaki yang masih menempel, kini sepenuhnya telanjang, bersiap untuk keluar kamar dan mandi.

 

Sungchan lupa kalau dirinya sudah sangat lelah bahkan hanya untuk sekadar berdiri. Penisnya ngilu dan bagian bawahnya kebas. Kedua kaki pun tak dapat menopang beban tubuhnya. Maka, saat ia turun dari ranjang, Sungchan langsung jatuh telungkup dengan dahi membentur lantai terlebih dulu.

 

Anton datang dengan terburu begitu mendengar suara dentuman tersebut. Dilihatnya Sungchan yang meringis dan mencoba untuk bangun. Menghela napas sembari memutar bola mata dengan malas, Anton mendekat lalu mengangkat tubuh Sungchan di sebelah bahunya.

 

“Gue tinggal bentar buatin air hangat, lo nya banyak tingkah, Kak.” Anton mengeluh begitu keluar kamar, tapi kemudian terkikik geli. Begitu ia sampai di kamar mandi, diletakkannya Sungchan di dalam bak yang berisikan air hangat.

 

“Enak?” tanya Anton.

 

Tubuh Sungchan begitu rileks kala air hangat itu melemaskan saraf ototnya yang semula menegang. Dirinya mulai membenamkan diri dalam air, menikmati aroma sabun lavender yang dituang Anton. Perlahan, ia merasa nyaman kemudian menganggukkan kepala.

 

Rambut Sungchan mendapat elusan lembut dari Anton. “Take your time. Kalo udah siap, panggil gue aja. Gue mau beresin kamar bentar.” Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium kening Sungchan yang dilihatnya memerah akibat benturan tadi. Setelahnya barulah ia pergi.

 

Sekali lagi, meninggalkan Sungchan yang meninggalkan banyak tanda tanya di kepala akibat sikap Anton barusan.

 

Beberapa jam lalu, Anton terlihat begitu menyeramkan seperti seorang psikopat saat mengancamnya, tapi baru saja Anton terlihat begitu manis, begitu hangat memperlakukannya seperti sepasang kekasih, apalagi saat bercinta.

 

Sungchan memeluk tubuhnya sendiri. Merasa kebingungan setengah mati, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Notes:

Halooo, terima kasih sudah membaca tulisanku ^^ semoga kalian suka yaa 💕 boleh dong krisannya biar aku bisa perbaiki tulisanku buat kedepannya
https://curiouscat.live/baeblueyippee_