Actions

Work Header

sesi istimewa teruntuk suguru

Summary:

gojo satoru adalah pemuas pria milik bersama

Notes:

bagian dari au harem!gojo, sepotong narasi bagian sugusato dan mentioned!tojigo

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Titik konsentrasi Suguru lebur kala menangkap suara daun pintu dibuka. Melalui ekor mata ia lihat Satoru tiba mengenakan celana dan jas kebesaran, rambut sedikit berantakan. Setelah melempar pandang ke hidangan di atas meja hasil buatannya barusan, Suguru kembali lempar pandangan ke depan. Amati gerak celoteh dosennya di layar, lengkap dengan suara dari speaker mengisi sayup ruangan.

Ketika mendengar derit kaki kursi ditarik mundur, Suguru kira Satoru sudah bersiap nikmati hidangan malamnya. Bukannya malah merangkak di bawah meja, melebarkan kedua paha miliknya, dan tahu-tahu menggesek wajah tepat di tumpul selangkangannya.

Mengirim sinyal protes, Suguru tahan bahu lelaki yang kini kepalanya muncul naik di tengah-tengah kaki. Sempat beri pelototan satu detik karena bukan ide bagus untuk menghisapnya saat terang-terang Suguru tengah digempur sesi konsultasi skripsi. 

Satoru, ia terkekeh tanpa jauhkan wajah barang se-inchi. Dihirup bawah Suguru dalam-dalam, membaui kelelakian Suguru meski aromanya samar dari luar helai pakaian.

"Paham, Pak,"

Setengah hati Suguru tarik sebagian rambut belakang Satoru agar menjauh, begitu sadar si nakal belum juga menyerah menggodanya. Yang respon setelahnya malah berhasil buat Suguru tergoda. Yaitu mulut menganga juga julur lidah, ditambah gerak bibir yang Suguru yakin benar mengucap 'mau kontol' tanpa suara.

Disuguhi pemandangan itu, mata memohon serta mulut terbuka minta dirojoki itu…

"Baik, Pak, akan saya gunakan sebagai literatur tambahan,"

Ketika suara di seberang kembali menyerocos panjang, Suguru mencuri waktu untuk mematikan mikrofon dan menunduk dekati Satoru. Ke mulut yang betah terbuka itu, ia meludah dua kali. Disambut senyum girang, jelas senang.

"Belum puas lo dapet satu kontol malem ini?"

Satoru melempar geleng kepala sembari tertawa. Nampak riang menangkap gerak gerik Suguru yang akhirnya menurunkan celana dan bebaskan kejantanan setengah keras kepunyaannya. 

Buang ludah satu kali lagi, barulah Suguru lesakkan kelamin hingga hidung Satoru terbenam diantara helai-helai pubisnya. Tidak digerakkan, hanya ditenggelamkan mengisi rongga tenggorokan Satoru yang menerimanya tanpa perlawanan.

"Diem, tunggu gue beres."

Di kaki meja, Satoru terduduk manis dengan kondisi mulut disumpal penis. Nikmati bagaimana Suguru mengeras dan menebal di tenggorokan. Sukarela dijadikan penghangat kelamin selagi lelaki satunya bimbingan.

Ketika tengah menyamankan posisi usai membuka jaket, tanpa sengaja Satoru terbatuk, tersedak ludah sendiri. Ia hendak memundurkan kepala ketika sontak sebelah tungkai kaki Suguru melipat naik dan ditumpukan ke lutut satunya, otomatis buat betis tekan belakang kepala Satoru hingga posisi mulut menempel kembali, ke pangkal kegagahan Suguru.

"Tolol, ngerti diem gak?"

Kini kepalanya dikunci diantara lipatan kaki, ditahan selagi Suguru fokus mencatat arahan revisi.

Susah payah Satoru telan rasa gatal di tenggorokan akibat batuk yang tertahan sumpalan. Kondisi disuap kontol penuh begini, buat saliva meruntai turun basahi dagu hingga leher sendiri. 

"Baik, Pak, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk sesi konsultasi malam ini. Sehat selalu."

Suara speaker lantas tak lagi menggema. Satoru beranikan diri melirik dari bawah untuk bertubrukan dengan mata Suguru, yang kini juga menatapnya. Dilihat dari senyum tipis si laki-laki, ia nampak puas rupanya.

"Pinter." lalu lipatan kaki yang mengunci kepala Satoru dilepas. Diberikan beberapa waktu untuk Satoru menarik napas. "Di kamar mandi. Sekalian bersihin peju bekas Toji."

 


 

Tidak seperti Nanami dan Sukuna, Toji tidak bisa memberikan banyak waktu untuk Satoru bebersih diri. Biasanya karena Megumi sering datang lebih awal tiba-tiba, bahkan beberapa kali ketika keduanya belum selesai di sesi panas mereka.

Malam ini salah satu buktinya.

Satoru menungging, dada menempel penuh pada bilik shower berbahan kaca. Penisnya sendiri sudah keras luar biasa dari sejak menghisap Suguru hingga tersedak. Paha melebar, mudahkan akses ruas jari Suguru yang masuk mengorek liang anal beceknya.

"Nnah…"

Cair kental di dalam anal, Suguru mainkan dengan dua jari. Bukannya dikeluarkan, malah dimasukkan kembali dengan bantuan dorongan ujung jemari. Entah sejak kapan tapi Suguru mulai menyukai versi lubang Satoru bekas disetubuhi. Masih melonggar, masih sensitif merespon segala bentuk stimulasi.

"Beneran belum puas pake satu kontol, ya? Mau dikontolin lagi, Sat? Kedutan cepet banget ini."

Meremas pinggiran bilik kaca, Satoru mengerang terima tusuk cepat tepat di prostat. 

"Mau! Mau- ahh.. mau dikontolin- Suguru, gatell nh.. pake kontol.."

Mendengar itu, Suguru cepat mengganti jari dengan penis. Sambil meremas gemas sisian pinggang Satoru, dihentaknya liang senggama licin itu hingga timbulkan suara kulit saling beradu. Tanpa melewatkan satu detik pun, Suguru tatapi betapa mudah tonggaknya keluar masuk mengobrak-abrik lubang kawin Satoru.

"Iya- ngh! Enaak.. gatell- ahk!"

"Apanya yang gatel? Bilang."

Turunkan intensitas hentak, Suguru tekan penuh kelaminnya dalam-dalam. Sembari digoyang memutar seakan ingin cumbu setiap sudut dinding anal milik Satoru. Meskipun Satoru cukup melebar di titik bukaan, namun masih rapat di lapis dalam. Dan Suguru sangat bersedia untuk melebarkannya hingga ke dalam.

"Lobang- gatel, Sugur-u ahh.."

Prostat kenyal Satoru didera berulang-ulang. Kadang sekedar ditempelkan, kadang ditusuk kencang. Dihujam Suguru semena-mena sekehendaknya.

Alun lenguh nikmat Satoru terpaksa terhenti ketika telapak tangan Suguru tanpa aba-aba, mencekiknya dari arah belakang. Reflek buat posisinya jadi menyandar ke dada bidang Suguru, mendongak senderkan belakang kepala ke bahu. Penyempitan jalur pernapasan itu berefek domino pada ketat cincin yang kian menjepit Suguru. 

"Rapetin yang bener. Udah tau longgar bekas diewe Toji."

Bulir pre-ejakulasi keluar bersusulan dari ujung penis Satoru yang sejak awal diabaikan. Tidak hanya Suguru, birahinya sendiri ikut bergulung setiap kali dicekik saat dikawini. Persepsi bahwa napasnya sekalipun berada di bawah kuasa orang lain, seringkali tarik libidonya meninggi.

"Ehng- "

Satoru bisa merasakan kakinya melemas efek dari sirkulasi oksigen yang berkurang ke area kaki. Jika tidak ada lengan kiri Suguru di perut, dan telapak kanan Suguru di leher, mungkin ia akan merosot ke lantai kamar mandi. Di tengah kondisi lemas itu, ia pasrah anusnya dilebarkan semakin menjadi. Mengingat Suguru bergerak sembarangan sesuka hati. 

"Sebentar lagi. Tahan."

Menangkap raga Satoru yang melemah, Suguru makin cepat kejar pelampiasan. Desah berat keluar di telinga Satoru yang kini cuping merahnya ia sapukan dengan lidah. 

Satoru menyandar lemah, tanpa perlawanan terima hujam kasar benda yang mengaduk rektumnya. Nampak tak lebih dari sekedar boneka pemuas alat kelamin pria.

Suguru tiba di puncaknya, tumpah menambah genangan sperma di dalam Satoru. Cengkraman di leher dilepas, buat Satoru menyusul tumpah lebih serupa muncrat agak bening ke lapis kaca. Lemas bukan main, digenggamnya leher Suguru sebagai pegangan tambahan. Kini sibuk mengatur napas selagi merasa kembung efek mulut bawahnya dua kali diberi makan.

"Lagi? Udah?"

Satoru tak kunjung menjawab sementara Suguru kini sibuk hujani kecup sebelah bahunya. Masih di posisi yang sama, tumpukan sebagian besar bobot badan ke pria di belakangnya. 

"Capek ya? Kita mandi baru habis itu istirahat."

Notes:

find me on twitter.com/@cattowlu